Ramai Sunyi

Oktober 02, 2021

Baca Juga

Akhir pekan, saya mencoba berkunjung ke Jakarta. Menjajal temu dengan seorang sahabat. Sudah lama rasanya tak bercerita banyak hal dan berghibah sebagai sesama lelaki. Mungkin juga sekadar menghapus rasa senasib kami sebagai sesama perantauan dari daerah yang sama (meskipun saya sejatinya bukan dari sana).

Jakarta sebenarnya tak begitu jauh jika merentang jarak dari Kota Bogor. Bagi mereka yang berduit, tol menjadi jalan pintas. Bahkan, tak perlu menghabiskan waktu sejam untuk sampai ke pusat kota metropolitan itu. Tentu sangat berbeda dengan pengendara motor seperti saya, yang harus melintasi jalan-jalan besar dan salip-menyalip kendaraan di lampu merah.

Namun, saya juga tidak senekat itu memakai kendaraan roda dua ke Jakarta. Saya mesti berpikir dua kali. Lha wong, surat-surat kendaraan saya mati. Include SIM. 

Jadilah KRL sebagai alternatif paling masuk akal. 

Rel-rel yang panjang. (Imam Rahmanto)

Saya tetap menikmati perjalanan yang cukup lama dengan salah satu sarana transportasi massal ini. 

Seharusnya, saya bisa bangun pagi-pagi agar waktu pertemuan kami bisa sedikit lebih lama. Namun, namanya lelaki, rasa malas bangun paginya jauh lebih kuat. Sungguh, gravitasi kasur saya terlampau sulit untuk ditolak.

"Sudah kuduga," kata kekasih saya, yang sebenarnya sudah rutin membangunkan pagi-pagi sekali.

***

Waktu sudah menunjukkan tengah hari ketika saya menyambangi Stasiun Bogor. Kali ini, saya tak butuh surat-surat untuk bepergian dengan KRL. 

Sebulan lalu, saya sempat ditolak karena terikat aturan PPKM dari pemerintah. Bedanya, kini hanya butuh aplikasi "sejuta umat Indonesia" Peduli Lindungi untuk bisa lalu-lalang dengan KRL. Finally!

Ada sensasi berbeda ketika bepergian dengan kereta jarak dekat itu. Pun, saya senang saja meresapi pengalaman-pengalaman berputar di sekeliling stasiun. Mulai dari masuk parkiran, berjalan, hingga memandangi apa saja di sekitar stasiun. 

"Nak, bisa bantu isi saldo kartu ini disitu? Soalnya gak tahu caranya," sepasang suami-istri paruh baya tiba-tiba menghampiri.

Saya baru saja mengecek mesin top up saldo untuk kartu e-money. Saat berbalik, dua orang tua tampak linglung dengan memegangi dua kartu di tangannya. Sang suami, memegangi lembaran uang tunai. Meski baru pertama memakai mesin itu, saya (sok tahu) menyambut satu kartu itu untuk dijajal top up.

"Ini saldonya masih ada segini, Bu," tunjuk saya di layar mesin.

"Oiya, masih bisa dipakai ya seharusnya? Tapi gapapa, nak. Isi Rp20 ribu aja bisa?" tanya si ibu.

Saya mengamininya.

Mungkin, interaksi sosial semacam ini punya nilai berbeda di zaman yang sudah penuh dengan distraksi seperti sekarang. Orang-orang disibukkan dengan gadget. Mata selalu tertunduk kepada layar. Tak ada kesempatan sekadar memandangi orang-orang yang berpapasan.

Bagi saya, stasiun sudah menjadi miniatur perjalanan hidup. Segala jenis manusia bisa kita temui di sana. Orang yang berjalan cepat karena mengejar deadline pekerjaannya. Ibu-ibu yang menggandeng anaknya. Bapak-bapak yang menenteng tas di pangkuannya dengan wajah murung. Anak-anak muda yang penuh gairah dan bergaya masa kini. 

Yang paling men(y)enangkan; duduk sendirian di dalam gerbong kereta. Memutar playlist gratisan Spofity. Melempar pandangan keluar jendela kereta. Mengamati pohon-pohon yang berkejaran mundur dengan pemukiman warga. Sekali-kali, gedung menjulang akan menyapa di antara perumahan-perumahan kumuh di pinggir rel kereta. Seharusnya, saya menyempurnakannya dengan buku bacaan.

Sebenarnya, hal yang sama akan terasa ketika menunggu di bandara atau terminal sekalipun. Miniatur hidup yang sama...

Di waktu-waktu penantian itu, saya jadi punya waktu untuk berkontemplasi dengan pikiran sendiri. Merenungi banyak hal yang sudah berlalu. Saya jadi punya waktu berbincang dengan diri sendiri. Tak peduli, ada orang lain di kiri-kanan tempat duduk saya. 

Terkadang, mencari ketenangan itu tidak perlu dengan menepi ke tempat-tempat yang sepi. Saya seringkali sengaja mencari tempat ramai, sendirian, hanya untuk menenangkan pikiran. Sibuk dengan diri sendiri. Memandangi hal-hal yang tampak di depan mata. Menghitung hal-hal yang terlewat oleh waktu.

Perjalanan dengan kereta ini memberikan banyak kesempatan yang sama. Meski waktunya terhitung agak lama, saya nikmati saja.

"Tunggu ya, saya keluar dulu. Kirain lu masih lama tadi nyampenya," ujar teman saya dari seberang telepon, sesampainya saya di Stasiun Karet.

Ah, emang sial. 

Saya terpaksa mencari ojek online (ojol). Melipir sendirian di kafe yang pertama kali muncul di Google Maps. []

Hutan tengah kota. (Imam Rahmanto)




--Imam Rahmanto--


Catatan: tulisan ini pun saya buat di kala menunggunya sampai dua jam-an. Sial emang.

You Might Also Like

0 comments