Jodoh yang Nelangsa

Mei 10, 2020

Baca Juga

Kabar itu tiba beberapa minggu yang lalu. Kisah sedih yang seharusnya diceritakan lewat hangat secangkir kopi. Temu-temu rindu di hadapan meja kafe. Menutup diri dari bising dan polusi udara perkotaan. Dan seperti biasa, cerita-cerita itu seharusnya mengalir lewat rentetan senyum masam yang tertahan berhari-hari.

"Kau sudah tidak ada disini lagi bela. Padahal mauka curhat," ucapnya sembari tertawa. 

Ia sekaligus menanyakan kabar tentang saya yang "merantau" ke Kota Hujan. Tentang saya yang tak tahu akan kemana setelah ini. Lewat sambungan telepon yang tiba-tiba di pengujung malam itu pula ia mengirimkan sedikit kabarnya. Sayangnya, tanpa duduk-duduk di antara kepulan asap-asap kopi.

j
Kafe di Makassar, suatu ketika. (Imam Rahmanto)

"Sudah dua minggu lamanya dia tidak pernah menghubungi saya. Orang tuanya meminta dia untuk tidak lagi berhubungan dengan saya," teman saya memulai kisahnya.

Ia dan kekasihnya seharusnya bisa duduk di atas pelaminan tahun ini. Tabungannya sudah lebih dari cukup untuk menebus "panaik" gadis kelahiran Bugis itu. Kedua keluarga telah bersepakat menggelar pernikahan. Tersisa, menanti ijab qabul, yang seharusnya berlangsung selepas perayaan Idulfitri. 

Ternyata, segalanya berubah dalam waktu singkat. Benar-benar 180 derajat. 

Persoalannya sederhana. Teman saya tak lulus dalam seleksi CPNS di Kota Makassar. 

Orang tua pasangannya langsung memandang sebelah mata kepadanya. Lamaran yang sudah digelar dianggap tak ada harganya lagi. Mereka begitu saja menghasut anaknya agar tak melanjutkan masa depan bersama teman saya. Tentu, dengan menahan sesak di dada, perempuan itu hanya bisa menurut kepada orang tuanya.

Barangkali, ini kisah pilu yang benar-benar bisa saya rasakan begitu dekat. Sejak dulu, saya banyak mendengar kisah-kisah serupa. Hanya saja, tak ada unsur kedekatan di dalamnya. Saya hanya menjadi pendengar, pembaca, atau diam-diam menilai dari seliweran kisah itu. Kali ini, entah bagaimana caranya, saya ikut dibuat kesal dengan kelakuan keluarga calon mempelai itu.

"Apa keluarga mereka memang terlalu menghamba dengan ketenaran? Jabatan??" saya kesal dan menaruh protes lewat pesan singkat.

Saya ingat betul, kehawatiran itu pernah menjadi ganjalan baginya. Ganjalan, karena pacarnya itu sudah lebih dulu mereguk status PNS. Sementara hampir semua anggota keluarga pacarnya itu juga punya status yang sama sebagai abdi negara, meski dalam jabatan yang berbeda-beda. *Sampai di sini, antipati saya dengan PNS semakin menjadi-jadi.

"Makanya saya daftar CPNS dulu ini. Mereka minta saya daftar yang dekat-dekat saja (di Makassar) supaya tidak jauh kalau sudah menikah,"

"Padahal, ada sebenarnya tempat yang berpeluang sekali kalau saya daftar dosen disana," ia bercerita, ketika kami berjumpa dalam tegukan kopi di Jalan Pelita Raya Makassar. Hanya berselang beberapa bulan sebelum saya pergi dari kota Anging Mammiri itu, tepat ketika kami juga hanya menertawakan masa depan hidup masing-masing.

Kenyataannya, hubungan sembilan tahun yang dipupuk sejak zaman kuliah itu kandas begitu saja.

Saya tidak akan tahu rasanya pacaran sembilan tahun harus kandas begitu saja hanya karena alasan sepele. Namun, setidaknya saya paham, teramat sakit baginya dan akan selalu menjadi kenangan buruk. Bagi sebagian orang, hal itu akan menjadi mimpi buruk sepanjang ia mengatupkan kelopak matanya. Beruntung, teman saya laki-laki yang berusaha tegar dan memilih merelakan perpisahan itu.

"Baru kupahami semua, mam. Dia juga sakit sekali perasaannya," ucapnya. Ia mengirimi saya sepotong chat dengan kekasihnya itu.

Namun, nasi sudah menjadi bubur. Keluarganya telah memutuskan untuk tak melanjutkan kesia-siaan itu. Teman saya pasrah meski belum sempat bertatap mata dengan kekasihnya untuk terakhir kali. Gara-gara wabah Covid-19, beberapa daerah menutup perbatasannya. Ia kehilangan akal demi meminta sebuah penjelasan singkat dan masuk akal. Seharusnya, seperti yang sempat saya sarankan padanya, "Temui dia untuk terakhir kalinya. Baik atau buruk hasilnya, itu belakangan."

Penjelasan-penjelasan hanya bertebaran lewat chat dari kekasihnya. Tanpa perlu melihat secara langsung, ia tahu betapa air mata menggenang di pelupuk mata kekasihnya. Kenangan-kenangan masa lalu mencuat satu per satu, menghunjam ulu hatinya. Jarak mereka yang terpisah 260 kilometer semakin merenggang dan meranggang. 


***

Ia akhirnya terpaksa memendam luka itu sendirian. Sehari-harinya tetap menjalankan pekerjaan dengan berbalut tawa dan canda. Saya sampai sengaja terhubung dalam sebuah acara via Zoom di daerahnya hanya untuk memastikan sediki raut di wajahnya, beberapa hari yang lalu. Saya melihat ia masih bisa tertawa renyah dengan sedikit ledekan dari kami. Setidaknya, ia baik-baik saja.

Meski begitu, saya sangsi ia bisa melewati separuh malamnya dengan baik-baik saja. Barangkali, ia akan memutar Spotify playlist "Patah Hati" yang telah saya kirimkan tempo hari. Termasuk di dalamnya lagu "Harusnya Aku" Armada. Menyetel volume paling keras. Menggali-gali ingatan indah bersama mantan kekasihnya. Meraung-raung dalam lubuk hatinya. 

Sungguh, bagi lelaki manapun, tak mudah melupakan seseorang yang sangat berarti selama sembilan tahun lamanya. Tak ada salahnya jika ia ingin menangis. Luapkan saja. Toh, tak ada yang melihat. Cukuplah sakit hati itu sekaligus menjadi obat untuk menjadi pribadi yang baru.

It's okay not to be okay. Because, we're all human and still humans to the end.[]




--Imam Rahmanto--

You Might Also Like

3 comments

  1. Crazy. Alasannya hanya karena doi tidak lulus pns, padahal sudah 9 tahun pacaran. Deg! Nyeseknaaa

    BalasHapus
  2. Crazy. Alasannya hanya karena doi tidak lulus pns, padahal sudah 9 tahun pacaran. Deg! Nyeseknaaa

    BalasHapus