Kopi dan Tenda (1)

April 08, 2019

Baca Juga

Malam selalu bersenandung.

Bintang bertebaran di atas kepala. Tak ada purnama. Tak ada mendung. Hanya awan-awan yang bebas berarak menyeberangi untaian cahaya.

Saya menikmati momen semacam ini. Sudah lama rasanya tak merasa sebebas ini.

Bebas menatap langit dan gerak semesta; pepohonan yang melambai-lambai, angin sepoi, kabut berarak, hawa dingin yang menyengat, kaki yang menjejak tanah, jangkrik yang bersiul, dan kerlap-kerlip lampu kota dari kejauhan. Semuanya seolah menjadi slow motion dalam satu episode malam.

Teman-teman saya sudah terlelap di dalam tenda. Dua orang masih terdengar bercakap-cakap. Hanya sesekali mencari keberadaan saya, yang masih sibuk mengangkat tripod kesana-kemari. Ini momen langka yang selalu dirindukan. Arresto Momentum. Cekrek!

Setitik bintang di langit yang berawan. (Imam Rahmanto)

***

Saya bersama tiga orang teman menjelajah malam di sekitar Puncak Tinambung, Bissoloro, Gowa. Kami memang sudah merencanakannya sejak lama. Apalagi, kabupaten tetangga itu menjadi satu-satunya pilihan terdekat untuk menjajah punggung pedalaman hijau. Makassar tak pernah menyediakan hutan dan hijau yang sesungguhnya. Macet dan debu panas menyapa setiap hari.

"Kak, cari ki dulue tempat keren buat nge-camp disitu. Ada ji perlengkapanku bisa dipakai," tawar saya kepada seorang teman -- yang merupakan senior di lembaga kampus saya.

Saya sudah merencanakan perjalanan semacam itu sejak lama. Menyusur malam. Memanggul carrier besar. Memancang tenda. Menikmati langit malam. Berburu bintang. Stargazing. Mengabadikan seluruhnya tak hanya dalam angan-angan.

"Mau kah? Ayo nanti kita ke puncak Tinambung, Bissoloro. Ada ji juga rumah dekat sana," ujarnya, yang masih berdarah asli Gowa.

Berbekal tenda yang sudah kadung sekarat dimakan lumut, saya menyusun rencana. Bagaimana tidak, saya tak punya waktu yang melimpah. Semenjak bekerja di media populer, kepala saya sudah dijajah deadline. Waktu bukan lagi milik saya.

Sekadar menikmati pergantian senja pun teramat sulit. Saya malah sering tak menyadari guratan-guratan lembayung di langit yang sedang bergerak perlahan menyingkap gulita. Pergantian itu berlalu begitu saja dalam detakan jam digital.

Pada akhirnya, saya hanya bisa mencuri-curi waktu untuk mewujudkan momen itu. Kalau tidak sekarang, kapan lagi? Saya tak peduli jika hanya sendirian ditemani pemandu. Malah, seandainya saya sudah hafal rutenya, barangkali bisa berangkat sendirian. Paling tidak, begitu cara saya menekan "racun" kantor terhadap hidup yang monoton. Kondisinya sudah toxic.

Mulanya, ada enam orang yang akan bergabung dalam ajang dadakan itu. Sayangnya, dua orang terpaksa mengurungkan niat karena kesibukan masing-masing.

"Padahal sudah ma packing," sesal seorang teman dengan emoticon patah hati.

Saya semakin sadar bahwa waktu luang itu bukan sekadar ditunggu. Sejatinya, ia diciptakan. Hanya soal prioritas yang membuatnya berbeda.

Saya tak peduli dengan waktu kerja yang akan datang kembali menjajah keesokan harinya. Masa bodoh dengan rutinitas. Tak peduli hanya camping satu malam. Tujuannya memang untuk menikmati momen. Karena hal paling sulit adalah memulai. Let's begin!

Gemerlap kota. (Imam Rahmanto)

Perjalanan kami diselimuti gulita. Tersisa dua jam menyentuh tengah malam. Sebelumnya, saya mesti menghabiskan waktu "rapat-desk" di kantor. Beruntung, pemandu kami adalah teman yang memang lahir dan besar di daerah tersebut. Malah, kami sempat mampir di rumah keluarganya sekadar memasak nasi dan lauknya.

"Kalau begini, bukan camping namanya. Semi-camping," canda kami.

Rumahnya memang hanya berjarak kurang dari satu kilometer dari area camping. Menurut seorang temannya, mereka sudah sering bermalam di rumah itu. Bahkan, ia menyangka takkan ada tidur-tidur di bawah tenda. Hanya sekadar menikmati wisata hutan.

Nyala kompor dan bumbu sudah telanjur berpadu. Ya sudah. Anggap saja sebagai rejeki. Kami berbekal masakan ikan kering ke area camping. Paling tidak, perut tak kosong selepas memasang tenda. Kopi arabika juga sudah siap melengkapi hangatnya cerita.

Tendaku yang kuning itu loh. (Imam Rahmanto)

***

Saya menyangka, setengah perjalanan kami akan dilalui dengan hiking atau berjalan kaki. Ternyata, motor sanggup mendaki hingga gerbang lokasi camp. Bahkan, kendaraan roda empat leluasa mendaki sebagian jalanan yang belum diaspal itu.

Puncak Tinambung memang sudah menjadi lahan wisata yang dikomersilkan. Setiap orang yang ingin menggelar tenda di areal pepohonan pinus itu mesti merogoh kocek Rp15 ribu. Harga itu sebenarnya cukup masuk akal dengan fasilitas semi-modern yang disediakan pihak pengelola. Kamar mandi? Ada. Listrik? Ada. Warung makan? Ada, sedikit sederhana. Sinyal? Pesan Whatsapp masih sanggup berdering sesekali.

Puncak itu juga tak benar-benar perawan. Beberapa titik bertabur penerangan. Pagar bambu juga sudah melintang di sekitar areal camping. Areal itu merupakan lahan perkebunan warga. Sayangnya, tidak semua permukaan tanah bisa dipasangi tenda. Sebagian masih berundak. Kami tak bisa memilih lokasi sesuka hati.

Ada lahan luas di pinggir lereng yang sebenarnya lebih cocok dipasangi tenda, dengan pemandangan gemerlap lampu kota. Namun, lokasi itu dipatok sebagai tempat umum yang tak boleh dipasangi tenda.

Kedatangan kami juga bertepatan dengan acaras alah satu unit kegiatan mahasiswa asal UNM. Mereka menyewa separuh lahan untuk mendirikan beberapa tenda. Ada satu tenda besar (seperti pengungsian) yang dipasang. Tampaknya berfungsi dapur umum. Penerangan listriknya juga sangat melimpah.

Yah, kami tak begitu peduli dengan keramaian itu. Kami hanya ingin menggelar tenda satu malam. Sesuai rencana, kami akan berkemas-kemas keesokan harinya.

Menjauhlah kesibukan. (Hasim Arfah/ tripod)

....bersambung


--Imam Rahmanto--

You Might Also Like

0 comments