Jumat, 26 Januari 2018

Dua Perjumpaan

Kami sedang menyantap bakso langganan. Seperti biasa, saya hanya tahu warung ini diantara banyaknya jejeran warung yang ada di tengah kota. Karena belum menemukan pangsit atau bakso yang lebih enak, saya selalu mengajak teman untuk makan disini.

Seorang teman dari kecamatan datang ke pusat kabupaten. Sudah lama ia berada di kampung dan menghabiskan waktunya di rumah. Katanya, ia sementara menunggu pendaftaran Guru Garis Depan (GGD), usai menjalani salah satu rangkain program SM-3T, yakni PPG. 

Anak-anak di luar kependidikan takkan banyak mengenal apa itu SM-3T. Saya sendiri, yang merupakan alumni keguruan, sangat akrab dengan istilah-istilah itu. Di masanya dulu, malah menjadi penumbuh harapan bagi kami yang ingin berprofesi sebagai guru. Semua terasa menggiurkan, bersama detik-detik kami hendak melepaskan label mahasiswa. 

Meski berasal dari kampus yang berbeda, teman saya juga alumni keguruan. Keadaannya masih dalam penantian. Wajarlah, mereka yang sudah telanjur mengikuti program 1 tahun + 1 tahun itu tak ingin begitu saja bekerja sebagai guru honorer. Dipikir-pikir, gajinya tak seberapa?? Kehidupan masa dewasa tak sekadar pengabdian biasa-biasa saja.

"Kau pernah berpikir, ndak? Diantara kakak-kakakmu dan keluargamu, kau mengambil pekerjaan yang berbeda agar lebih variatif. Karena kau tentunya sudah lihat sendiri, kan, bekerja sebagai guru tak banyak mengubah keadaan yang ada dalam keluargamu," saya mencoba menggali ingatannya.

"Yaah, kalau mentok maunya sebagai guru juga, mbok ya lebih tinggi dikit, semisal jadi dosen gitu," lanjut saya lagi, dengan mulut masih mengunyah mi pangsit. 

Panasnya mi bercampur dengan hawa kota yang sudah mulai tak dicecar hujan. Kalau tak terbiasa, muka bakal dibanjiri peluh saban hari. Akan tetapi, cuaca yang sudah mulai lebih banyak tersenyum itu pertanda langit malam sudah bisa romantik kembali.

"Saya sebenarnya juga sempat berpikir seperti yang kau bilang. Tapi, ya ini juga sebentar lagi masa pendaftaran itu," jawabnya.

"Pasti kau berpikir bahwa penantianmu yang panjang, yang mengikuti tahapan lama-lama, sampai dua tahun segala, bakal sia-sia kalau tak sesuai jalur itu, ya?" potong saya berusaha menebak arah pikirannya. Dan memang, telak mengenai fokus kepalanya.

Saya berteman baik dengannya. Sangat dekat, malah. Masa-masa kuliah dulu, saya sering menghabiskan waktu di kosannya. Meski berbeda kampus, jarak kosan kami hanya dua rumah. Makanya, saya tak segan-segan bermalam hingga menghabiskan persediaan mi instannya.

Teman saya itu pernah bekerja sebagai marketing atau penawar kredit bank kenamaan di Makassar. Ia menjalaninya sembari kuliah. Salah satu penyebab ia telat lulus, ya juga karena kesibukannya itu. Tetapi bagaimana pun, dia lebih dulu menamatkan kuliah di kampusnya ketimbang saya. _ _"

Sayangnya, persoalan cepat-cepatan lulus kuliah memang tak pernah menjadi penentu seseorang mendalami dunia kerja. Karena iming-iming profesionalitas guru, banyak teman saya yang masih terombang-ambing menunggu program pemerintah itu. Diantara penantiannya, masih mencoba jadi guru. Ada pula yang sama sekali tak mendapatkan pekerjaan sebagai guru, meski sekadar honorer.

Mereka yang pasrah tentu menerima saja pekerjaannya, yang nyaris terlihat seperti sukarela. Siapa saja yang pernah menjalani honorer tentu paham apa yang saya maksud. 

(Foto: Imam Rahmanto)

Beberapa hari kemudian, seorang teman lainnya mampir di kota kami. Teman saya yang merupakan salah satu personel #Ben10 itu sedang menikmati masa-masa liburannya dari Papua. Disana, ia bekerja sebagai guru, yang merupakan bagian program dari kampus UGM; Penggerak di Daerah Terpencil. Ia justru terlihat bahagia. Masa liburnya sungguh jauh berbeda dengan guru lain.

"Beda memang, Mam. Kalau sekolah disana liburnya bisa sampai dua bulan. Makanya, harus dinikmati semaksimal mungkin," ungkapnya.

Tak heran ketika foto-foto liburannya ke berbagai tempat di kampung sendiri, kampung orang, Makassar, bertebaran di timeline facebook. Kunjungan ke Enrekang pun dalam rangka mencoba wahana-wahana baru di objek wisata yang sedang hits di tempat kami. Betapa ia sungguh menikmati liburannya setelah terkurung berbulan-bulan di pedalaman Papua.

Teman saya itu nampaknya bakal memperpanjang masa kontraknya disana. Kata dia, kontrak itu biasanya berlangsung dua tahun. Ia masih pikir-pikir, apakah akan memperpanjangnya atau tidak.

"Tapi kunikmati sekali mi itu mengajar anak-anak disana. Barangkali, kalaupun tidak mau kulanjut, tetap ka jadi guru," ucapnya lagi.

Seperti kedua teman saya, tak ada yang menyangka jika saya akan berakhir dalam rutinitas liputan - menulis - deadline. Seharusnya, saya menjadi seorang guru, berhadapan dengan senyum dan wajah para pencari ilmu. Menyusun silabus atau mengikuti rapat dengan seragam kebanggaan. Nyatanya, keinginan saya tak pernah sampai pada jalur-jalur itu. Bukan tak mampu, melainkan tak mau.

Bapak juga sudah mulai nrimo jika anaknya tidak menginginkan jadi abdi pemerintah lagi. Kehidupan, sesulit apa pun, sudah menjadi tanggung jawab yang harus diselesaikan sendiri. Setiap orang punya impian tertingginya. Tak peduli jika mesti berputar dulu menjadi hal lain sebelum mencapai keinginan-keinginan itu.

Teman-teman saya itu punya keputusannya masing-masing. Saya percaya, mereka sudah cukup dewasa memikirkan masa depannya. Saya tak perlu mencekokinya dengan apa yang saya inginkan bagi diri saya. Seperti kata pepatah, ukuran sepatu kita belum tentu cocok untuk orang yang lain. Oleh karena itu, cukuplah belajar memahami dan menghargai pilihan orang lain.

Oiya, terima kasih pula untuk sahabat #Ben10 yang menghadiahi saya buku catatan.
(Imam Rahmanto)


--Imam Rahmanto--

Tidak ada komentar:

Posting Komentar