Kamis, 19 April 2018

Menukar Pekerjaan

April 19, 2018

"Hei, sudah punya teman baru?"

Sebagai orang baru, saya hanya akan terus didera pertanyaan semacam itu disini. Perjalanan saya nampaknya masih akan cukup panjang. Bukan tak mungkin bisa menghabiskan lebih dari 12 purnama.

Karena semangat "orang baru" itu pula lah yang mendaratkan saya pada kegiatan sosial Kelas Inspirasi di Kabupaten Bone. Saya telah lama merindukan kesibukan di dunia komunitas. Berbaur dengan orang-orang karena visi yang sama. Berlelah-lelah hanya demi bisa menyumbangkan tawa satu sama lain.

Hidup tak sekadar memburu uang dan menciptakan hubungan-hubungan relasional berlabel pekerjaan, bung!. Saya yang mengenal orang lain karena anggapan narasumber. Atau orang lain mengenal saya karena kepentingan liputan. Padahal, hidup tak selugu itu, kan?

Kemunculan Kelas Inspirasi tentu menjadi jalan bagi saya mengenal lebih banyak orang. Bahkan, penawaran menjelajah sekolah di pelosok menyunggingkan senyum yang tak bisa ditahan-tahan. Sebagian kehidupan saya di Enrekang sudah cukup karib dengan pegunungan dan pedalaman. Jarak dua jam perjalanan tentu bukan soal jika dibandingkan jalan mulus daerah ini. Malah sebenarnya, kalau perlu tempat menginap di alam terbuka, tenda saya sudah siap buat sekadar camp. Sungguh sayang, tenda itu harus tergeletak tak berdaya di sudut kamar.

"Tahu kegiatan ini dari mana?" tanya seorang kawan.

Sebenarnya, saya mengenal komunitas itu sudah lama. Bak angin lalu. Terdengar kabarnya, tanpa pernah terlibat aktif di dalamnya. Angin sejuknya baru terasa ketika saya melihat pengumumannya di media sosial. Begitu lembutnya menginjak separuh kesadaran saya untuk menengok Kecamatan Cenrana.

Uniknya, semesta memang cukup "kurang ajar" berkomplot melengkapkan separuh perjalanan itu. Saya mendapatkan lokasi SDN 84 Watang Cenrana yang paling jauh dari akses utama. Kata orang, lokasinya berada di perbatasan kabupaten. Sekali lagi melangkah, Wajo sudah siap menyambut.

Perlengkapan yang sepennuhnya tak berlaku. (Imam Rahmanto)

***

"Satu mobil maki. Kakakku juga mau ikut besok pagi," ujar seorang teman.

Kami berjumpa dalam briefing Kelas Inspirasi, tepat detik-detik terakhir. Pun, saya mengenalnya sudah sejak lama. Kami terhubung dalam komunitas cabang media nasional di Makassar. Pertemuan di sela-sela penutup briefing merangkum kami dalam lokasi yang sama. Yah, mumpung kami juga kekurangan fotografer.

Hanya butuh beberapa jam keikutsertaan kakak perempuannya, yang juga seorang apoteker, bersama kami. Saya pun batal memulai berkendara motor dari malam hari menuju Cenrana. Lagipula, hujan dan kopi sudah cukup kuat menahan obrolan saya bersama seorang teman wartawan di warung kopi. Saya tak tega meninggalkannya karena sudah jauh-jauh menemui disana.

"Coba bayangkan, bagaimana jadinya kalau kita berangkat malam. Sementara hujan deras sepanjang jalan," kata teman saya lagi.

Ternyata hujan pula yang menahan saya hingga berjam-jam lamanya di depan tegukan kopi. Saya baru bisa pulang ke kosan menjelang pukul dua dini hari. Pun, saya tak memutuskan lelap. Saya lebih memilih menjaga kesadaran dengan menuntaskan novel terbaru dari Dewi 'Dee' Lestari. Karena saya punya penyakit akut yang sangat sulit disembuhkan; telat-bangun-pagi"

Sebelum mobil menjemput, saya sudah siaga di depan kamar. Kami harus memperkirakan tiba di lokasi sebelum upacara bendera dimulai. Artinya, perjalanan harus dimulai selepas subuh. Apalagi, ini juga pengalaman pertama kalinya teman saya yang berdarah asli Bone menjelahi ujung Cenrana.

"Kalau Cenrana, saya pernah ji kesana. Cuma kukira tidak ada mi kampung lain di ujungnya," ucapnya.

Perkiraannya benar-benar jauh meleset. Meski sudah berbekal Google Map dan pengetahuan terbatas sebagai warga pribumi, kami tetap berputar-putar jalan. Seandainya bisa menyeberangkan mobil dengan perahu di bawah jembatan, barangkali itu pilihan terbaik ketimbang kami memutar jauh hanya gara-gara kesasar. Ternyata, bertanya pada warga juga merupakan pilihan paling masuk akal.

Perjalanan menuju Cenrana ikut diwarnai hujan lebat. Kami membayangkan relawan lainnya yang berkendara motor. Barangkali, mereka bakal kuyup setiba di sekolahnya masing-masing.

Cenrana merupakan salah satu kecamatan yang masih ramai dengan lalu lintas sungai besarnya. Beberapa warga masih menggunakan perahu untuk aktivitasnya. Salah satu kecamatan yang juga masih terbilang pelosok di sekitar Kabupaten Bone. Wajar, kata teman saya, Cenrana jadi surga kepiting di kabupaten ini. Beruntungnya, saya bukan penggemar makanan yang kurang praktis di lidah itu.

Pemandangan sawah di sana juga masih lekat. Sebagian besar masyarakat nampaknya hidup dari bertani. Sejauh mata memandang, terhampar lahan yang belum ditanami padi. Di sisi lain, padi-padi menguning belum diarit. Sementara itu, saya juga didera kantuk karena belum tidur semalaman.

***

Anak-anak SDN 84 Watang Cenrana, Bone. (Imam Rahmanto)

Upacara belum dimulai ketika kami tiba di SDN 84 Watang Cenrana. Berbekal sambungan telepon, kami berhasil menjangkau sekolah tanpa perlu membuka peta apa pun. Nasib kami masih jauh lebih beruntung dibanding Kapolres dan Kepala Dinas Pendidikan yang juga masih sempat mengalami momen tersesat sebagai warga pribumi.

Oh iya, kami ternyata mendapatkan bantuan khusus dari kedua "relawan" tambahan. Tak disangka, sekolah di ujung kampung menjadi lokasi yang disambangi orang nomor satu kepolisian dan dinas itu. Mereka bahkan tak ingin ketinggalan ikut berbagi pengalaman mengenai pekerjaannya dalam satu-dua ruang kelas. Padahal, ada 9 sekolah di Cenrana yang sudah dibagi-bagi oleh panitia dan fasilitator.

Saya sempat kepikiran, kalau polisi juga ikut serta dalam Kelas Inspirasi, bisa habis "menjajah" persaingan kami yang profesinya tak pernah disebut-sebut anak kecil.

"Kamu mau jadi apa?"

"Polisi!"

"Tentara!"

"Dokter!"

"Guru!"

"Hokage!"

Mana ada yang pernah menyebut mau jadi wartawan? Hah? Hah!

Akan tetapi, saya menyadari, Kelas Inspirasi memang tak pernah membatasi profesi yang bisa berpartisipasi. Siapa saja boleh bergabung. Tak perlu punya pengalaman mengajar. Tujuannya semata-mata menunjukkan profesi masing-masing kepada para  siswa SD. Paling tidak, cita-cita mereka bisa bergeser dari pemahaman umum yang hanya membatasi pekerjaan pada bidang tertentu.

Saya pun menghargai teman-teman yang rela mengambil cuti sehari untuk bisa menginspirasi anak-anak. Profesi apa pun selalu punya peran dan nilai masing-masing untuk diperkenalkan pada anak-anak sejak usia dini. Tak terkecuali di kelompok kami yang membagi peran sesuai keahlian masing-masing; apoteker, perawat, fotografer, akuntan, hingga jurnalis seperti saya.

Hal-hal itu sebagai bukti kesibukan tak selalu harus menjadi kambing hitam bagi tekad orang-orang yang ingin melakukan sesuatu. Terlebih jika "sesuatu" itu menyentuh bagian kecil dari kehidupan orang lain. Hanya butuh sehari untuk bisa menginspirasi seumur hidup. Kita takkan pernah menduga, jikalau anak-anak itu menyimpan ingatan dalam kepalanya bahwa: saya ingin menjadi seperti kakak itu!

Tetaplah menginspirasi. (Imam Rahmanto)

***

Saya menyukai segala hal tentang perjalanan. Hal-hal yang terangkum di dalamnya selalu memberikan pemahaman baru dalam proses menggapai kedewasaan. Sejatinya, manusia takkan pernah bisa dewasa tanpa perjalanan. Manusia berdiam diri sekalipun, nyatanya menapaki perjalanan di antara batas usia yang bisa dihitungnya.

Anak-anak selalu memandang kehidupan melalui perjalanan itu. Mereka senang mencicipi hal-hal baru. Rasa penasaran masih melampaui batas ambisi. Tak ada beban yang terlampau berat hanya untuk menarik bibir mereka. Apa saja akan mereka kerjakan. Apa adanya mereka bisa tertawa.

Kedatangan kami justru menjadi pengingat kehidupan yang langka. Sambutan anak-anak jadi penggugah bagi kami yang kerap mengalami defisit motivasi menjalani kehidupan. Bukankah senyum polos anak-anak selalu meluluhkan lelah dan gundah? Saya akan menyimpannya untuk waktu yang cukup lama.





--Imam Rahmanto-- 


Kamis, 12 April 2018

Orang Baru

April 12, 2018
"Apakah kamu sudah berlogat?" pertanyaan yang akan selalu mampir bagi teman-teman di Enrekang.

Minggu lalu, saya masih menyempatkan diri pulang ke Enrekang. Hanya butuh 3-4 jam untuk menempuh jarak dari sini. Lagipula, saya masih menyisakan beberapa barang yang harus dikirimkan ke tempat domisli yang baru. Koleksi buku, misalnya. 

Terasa lucu kala saya melafalkan bahasa yang sudah dipengaruhi logat dari Bugis. Padahal, saya sama sekali belum paham dengan bahasanya. Diantara teman-teman yang berkomunikasi memakai bahasa itu, saya akan menjadi orang yang terbengong-bengong sendirian. Sedikit sekali saya bisa memahaminya. Sisanya lebih banyak saya tanggapi dengan ikut tersenyum dan mencatat istilahnya diam-diam dalam kepala. Besok-besok mencari teman yang akan menerjemahkannya buat saya.

Dicelupkan dalam hal yang benar-benar baru memang terasa menyegarkan. Awalnya, kita akan tergagap dengan segala adaptasi yang meyentuh bagian hidup kita. Selanjutnya, semesta akan bekerja sebagaimana mestinya. Seharusnya, proses adaptasi sudah turun-temurun menjadi bawaan setiap makhluk yang bisa bernapas.

Bagi saya, barangkali Bone selayaknya Jogja di Pulau Jawa yang kaya dengan budaya-budaya peninggalan masa lalu. Masyarakat masih kental dengan bahasa dan adatnya. Meski begitu, suasananya sudah bisa dikategorikan sebagai bagian dari perkotaan. Kata teman, masyarakatnya saja yang enggan menyetujui Bone menjadi konsep kotamadya.

Kadang kala, saya akan tertawa sendiri mengingat ketersesatan saya di jalan-jalan bercabang wilayah ini. Tertawa dalam hati mendengarkan orang-orang di seberang meja mengobrol dalam logat dan bahasa Bugis. Menelusuri iramanya menjadi kesibukan baru yang lumayan menyenangkan. Bahkan, tak hanya mendengar irama, saya juga semakin akrab dengan aroma. Serius. Entah bagaimana, orang-orang di tempat ini punya aroma yang sama.

Sebagai orang yang kadung penasaran dengan cerita-cerita dan sejarah, penempatan saya bukanlah suatu kesalahan. Bukan perkara tempat ini akan mempertemukan saya dengan sang mantan. Saya lebih menanti-nanti bertemu dengan cerita-cerita baru. Apalagi, saya sudah melihat bagaimana (fanatik) cinta orang-orang Bugis terhadap adat dan budayanya sendiri. 

Setiap hari adalah hal baru. Tempat baru. Teman baru. Pemikiran baru. Petualangan baru. Dan semoga, apa yang usang juga merupa wajah yang baru.

***

Meja favorit. (Imam Rahmanto)

"Biasanya nongkrong dimana?" tanya teman wartawan yang lain.

Tempat nongkrong teman-teman seprofesi biasanya ada di ujung jalan. Pertama kali menginjakkan kaki di Bone, saya diajak teman kesana. Tempatnya cukup luas dan populer. 

Akan tetapi, berbeda dengan tempat itu, saya lebih suka menyendiri di tempat lainnya. Tanpa sengaja, saya berjumpa dengan kafe kecil ini. Ukurannya hanya sepetak ruko. Agak sepi dari keramaian dan hiruk-pikuk kendaraan. Hanya saja, menjelang pertengahan malam, anak-anak muda akan membentuk keramaian dengan permainan game online di tangannya masing-masing. 

Bagi saya, suasana itu masih tetap terasa sepi. Saya menikmati kesendirian di meja terluar. Sesekali pemilik kafe akan menyapa karena sudah mengenali saya sebagai pelanggan tetapnya. Kami juga terhubung sebagai penggemar arabika. Sayangnya, dia masih sering melabeli panggilan saya dengan "Pak".

"Aduh, jangan ki panggil ka 'Pak', Kak. Kayaknya lebih muda ja dari kita'," tekan saya. Hanya saja, usulan saya itu masih mentah selama beberapa hari belakangan. 

Saya menemukan suasana sepi yang sesungguhnya ketika berada di tengah keramaian. Sepi yang benar-benar sepi bukan malah menyendiri dalam kamar, menutup pintu dan jendela. Keramaian semacam di kafe justru menawarkan irama hidup yang membuat saya menimbang-nimbang cara bersosialisasi yang benar. Telinga saya juga terhibur dengan obrolan-obrolan khas warung kopi meski sekadar menyaring tawa-tawa yang membahana. []



--Imam Rahmanto--

Rabu, 04 April 2018

Touchdown

April 04, 2018
Sudah dua kopi-susu yang mampir di atas meja saya. Padahal, cuaca sedang panas-panasnya. Tak ada pertanda suhu udara akan turun. Seharusnya, orang-orang normal lebih memilih minuman dingin, semisal jus, untuk cahaya yang telanjur menyilaukan mata.

Tempat saya menyeruput kopi juga tak begitu ramai. Satu orang di seberang meja sedang sibuk berulang-ulang membunyikan "enemy has been slained" dari gawainya. Meja di sebelahnya, empat orang berkumpul untuk membahas pekerjaan. Mereka tampaknya kerap menjadikan kafe yang tak begitu luas ini sebagai tempat mengobrol. Saya baru mengenali kafe ini dari sekian banyak pilihan yang diberikan Google Map, beberapa jam yang lalu.

Sementara itu, saya resmi baru sehari menjejakkan kaki di ibukota kabupaten Bone ini. Saya serasa kembali ke Makassar. Yah, suasananya tak jauh berbeda. Padat kendaraan, lampu-lampu kota, hiruk-pikuk anak muda, hingga kesibukan dari berbagai lintas pekerjaan. Bahkan, untuk menggeber roda dua di kota ini, saya mesti lebih banyak mengacu pada peta digital. Seharusnya, memang, kabupaten ini juga berstatus "kotamadya" seperti Parepare atau Palopo.

Pun, pekerjaan saya belum berjalan sebagaimana mestinya. Saya lebih memilih memanggul ransel ke salah satu warung kopi. Sambil mencari-cari ide liputan, sekaligus mencuri waktu. Barangkali, karena terbawa-bawa kebiasaan di Enrekang, saya butuh asupan "gizi" kafein. Ditambah lagi, saya juga belum mengenal siapa-siapa di kota semi-metropolitan ini.

"Kenapa tidak bilang-bilang kalau mau pindah?" tanya teman dari Enrekang.

"Tidak ada acara perpisahan?" tanya teman yang lainnya.

Dan hal itu, membuat saya harus terus mengingat (dan barangkali akan pulang) pada segala hal tentang lekuk gunung dan keelokan alamnya.

***

Di atas puncak Gunung Bambapuang. (Imam Rahmanto)

Beberapa hari lalu, saya menutup petualangan di kampung halaman dengan mendaki puncak Gunung Bambapuang. Saya akan menceritakannya lain waktu. Saya menganggap pengalaman itu sebagai bagian dari mengucapkan "sampai jumpa" untuk puncak-puncak eksotis di Kabupaten Enrekang. Aktiivitas menggendong ransel, menyeduh kopi di alam terbuka, hingga berbaring di bawah atap langit akan menjadi sesuatu yang benar-benar dirindukan. Saya tentu akan selalu bertanya-tanya, "Kapan lagi bisa menemukan waktu luang untuk bertualang seperti itu?"

Saya semakin percaya, apa pun yang digoreskan lewat secarik kertas akan menjadi kenyataan. Semesta bisa bekerja diam-diam untuk mewujudkannya. Tanpa disadari, kita akan takjub cara kerja Tuhan dalam meluluskan keinginan paling dasar manusia. Tak peduli lewat tangan orang lain atau dorongan yang tak diduga-duga.

Bambapuang, sebenarnya, bukan gunung-gunung yang tertinggi di tanah Massenrempulu. Hanya saja, gunung itu menjadi akar segala mitos yang berkembang di kalangan masyarakat. Disebut sebagai tangga yang mencapai puncak negeri dewata. Semua tebing dan gunung yang memanjang menuju Tana Toraja dianggap sebagai patahannya. Pun, ia patah karena manusia melanggar pantangan dewata.

Betapa gunung itu mengingatkan perjalanan saya bolak-balik Enrekang-Duri. Puncaknya tak pernah gagal mengambil alih fokus dalam perjalanan melintasi jalan poros. Bambapuang kerap begitu gagahnya memamerkan puncaknya, yang cenderung agak terjal, dari jalan poros.




Perjalanan di Enrekang memang harus ditutup dengan petualangan yang cukup berkesan. Petualangan itu biasanya berhubungan erat dengan kemah dan mendaki. Jangan heran, karena Enrekang memang selalu menawarkan banyak pegunungan atau perbukitan menawan. Sangat rugi rasanya jika seumur hidup tak pernah merasakan nikmatnya bermalam di bawah cahaya purnama dan rasi bintang.

Kampung itu bakal tetap menjadi muasal saya di mana pun berada. Bahkan, ketika orang bertanya-tanya tentang daerah asal, saya hanya perlu menjawab, "Saya orang Enrekang." Saya akan benar-benar merindukan momen-momen bertualang di alam terbuka.

"Kalau kamu mau pulang, pulang saja. Apa saja yang kamu bawakan, itu akan terasa spesial buat Bunda," kata Bunda, usai pamit di rumahnya dan disuguhi dengan Nasu Cemba. Membuat saya semakin berat. Beraaat, Dilan!

***

Matahari masih terasa panas. Sementara, tagihan liputan juga semakin mendesak untuk dituntaskan. Dan, Ya Tuhan, saya lebih memilih merampungkan satu postingan di blog ini.

Akh, saya ingat, bertugas di daerah tidak perlu tergesa-gesa. Segalanya harus dinikmati sesantai-santainya menginginkan waktu luang. Masih ada beberapa jam untuk menghabiskan setengah gelas kopi-susu di hadapan saya.


--Imam Rahmanto--

Rabu, 21 Maret 2018

Yang Akan Ditinggalkan

Maret 21, 2018
Hujan masih bertandang ke tempat ini. Piasnya berhamburan tak tertahankan. Jika berlangsung dua jam, genangan pasti muncul dari bongkahan aspal yang menganga di tengah jalan poros. Ada rasa sesal karena tak membungkus badan dengan jaket. Keluar rumah, kepala hanya dicekoki dengan ragam deadline.

Sebenarnya, banyak hal yang terlewat beberapa hari ini. Saya sendiri tak tahu harus memulai dari mana. Kebanyakan terlintas ibarat sekelebat bayangan. Tahu warnanya, tanpa mau repot-repot mendeskripsikannya. Hal semacam itu juga berlalu hampir setiap hari.

Beberapa hari yang lalu, saya sudah mendengar sekelebatan kabar tentang rolling penempatan jurnalis di masing-masing daerah. Hanya saja, kejelasannya masih simpang-siur. Barulah hari ini, saya mendapatkan kepastian yang ikut menyambar separuh perasaan. Bukan perempuan saja yang butuh kejelasan.

Keputusan rolling dari markas akan berlaku per 1 April mendatang. Anggap saja, saya sudah harus menyandang ransel, awal bulan depan. Rencananya, tempat berpijak yang baru berada di bumi Arung Palakka a.k.a Bone. Di sanalah saya akan memulai fondasi suasana baru, seumpama membangun kehidupan baru. Sayangnya, tetap seorang diri. Kasihan.

Ada perasaan berat meninggalkan Enrekang. Bukan seberat rindunya Dilan pada Milea. Entah kenapa, rasa rindu saya akan terus bersemayam di sini. Tak peduli jika 80 persen orang-orang yang saya temui sepanjang bertugas (tahun lalu) adalah orang-orang baru. Pada kenyataannya, saya merasakan sebenar-benarnya pulang di balik pelukan bukit dan lembahnya. Sebagian besar terus saja beririsan dengan kenangan masa silam.

Pemandangan dari bukit Mata Dewa, tak jauh dari pusat kota. (Imam Rahmanto)

Bagi saya, ada perbedaan mendasar antara kampung ini dan kabupaten lain. 

Kabupaten lain takkan pernah menawarkan rumah untuk pulang ke masa-masa kecil saya. Di tempat ini, saya seolah menjadi apa adanya masa lalu. Orang-orang masih mengenal saya sebagai anak bertubuh kecil yang selalu dielu-elukan sekolah, anaknya mas "ini", temannya itu, dan masih menawarkan pelukan untuk terus mengakrabinya. Logat saya juga masih tenteram dalam separuh kepribadian.

Ketika berada di kabupaten lain, saya takkan tahu lagi kemana tempat pulang. Makassar atau Enrekang bakal menjadi tempat yang asing. Seolah keduanya hanya jadi tempat persinggahan dari keping puzzle hidup saya. Disana, saya tak punya siapa-siapa lagi. Kelak, Enrekang hanya akan menyisakan bayang-bayang masa lalu bahwa: saya pernah besar disini dan mengalami segala hal menyenangkan dari tempat ini. 

Meski bapak dan ibu berada jauh di Jawa, berkumpul bersama keluarga besar yang lain, saya masih merasakan tanah Massenrempulu sebagai tempat pulang dan beristirahat yang paling baik. Kamar yang bukan milik saya, justru serasa rumah bagi kerinduan pada orang tua. Lelah saya, bisa luluh hanya dengan memandangi elok pegunungannya, yang sekali-kali mengantarkan perjalanan masa kanak-kanak. Senyuman bersahabat warga seolah merangkul dan menjadi pengganti keluarga yang berada jauh disana. Toh, kenalan-kenalan di dataran Duri pula yang menjadi penyambung kenangan bapak selama 25 tahun berada di Enrekang. 

"Kamu pernah  jalan-jalan ke rumahnya Bapak.....?"

"Sudah pernah kesana? Wah, itu dulu tempatnya bapak kalau menjual. Jalannya masih rusak? Atau sudah bagus?"

"Bagaimana sekarang kabarnya mereka? Kemarin baru nelepon dan nanya kamu,"

"Bapaknya anu meninggal. Kamu sudah melayat dari sana?"

"Eh, katanya Pak anu sudah dilantik jadi ketua ya? Pak anu tak ada lawannya?" sampai urusan politik juga berkembang dalam benak bapak karena pernah hidup bertetangga dengan mereka.

Masih ada nuansa yang menyejukkan, bahwa Enrekang adalah bagian dari kehidupan bapak dan mamak. Logat adik saya, justru masih menempel begitu lekatnya. Dia tak pernah peduli logat itu mencemari adaptasinya dalam berkomunikasi dengan teman-teman barunya di Jawa. Bagaimana pun, ia dan saya sadar, tanah ini adalah rumah kedua bagi keluarga kami.

Pagi dari atas Bukit Mata Dewa, Enrekang. Diantara rumah-rumah itulah saya menghabiskan deadline. (Imam Rahmanto)

Perjalanan di Enrekang memang terasa sangat sederhana. Tak banyak waktu untuk menjelajahi berbagai momen memanggul carrier dan memancang tenda. Waktu seolah berteriak pada saya, "Waktumu sudah selesai. Ganti pemain!" di saat saya belum menikmati semua keindahan perbukitan yang lain. Hanya puncak Pegunungan Latimojong yang begitu membekas dalam proses pencapaian terbesar saya selama belajar jadi anak gunung. 

Teman-teman silih berganti mengulurkan jabat tangannya. Segala rupa saya temukan dan sambut baik, yang ikut menyusupkan kebiasaan baru. Saya belajar kebiasaan baru itu dan mungkin tetap mengakar dalam perjalanan saya kelak; kopi, literasi, fotografi, dan mendaki. 

Saya akan tetap menasbihkan Enrekang sebagai tempat pulang. Sering-seringnya, saya harus bisa menyemai kenangan di tempat ini. Menyusurinya satu per satu. Membauinya perlahan seumpama menyesap kopi. Tak perlu sempurna. Cukup dengan hal-hal sederhana.

Einstein memang selalu mewanti-wanti soal relativitas waktu. Barangkali, karena telanjur menikmati bagian itu, saya abai mengamatinya, yang ternyata sudah berjalan terlampau cepat. Kenangan-kenangan tetiba melintas bak putaran roda. Setelah melihat jam di tangan, saya baru sadar, "Sial, bucket-wish-list saya masih banyak!" 

"Barangkali, karena masih banyak yang mau dieksplore, makanya kamu diarahkan kesana," ujar seorang kawan. 

Untuk hal itu, saya terpaksa mengencangkan ikat ransel, mengisinya dengan kopi kalosi, menyelipkan tripod, melipat tenda, hingga menguatkan tekad. Yah, kalau tugas "rakyat" sudah memanggil, kami mau apa. Jadikan saja jembatan tantangan. Semoga muncul hal baik untuk perjalanan bulan esok. 

(Foto: Imam Rahmanto)


--Imam Rahmanto--

Senin, 12 Maret 2018

Tengah Malam yang Tak Ada Kerjaan

Maret 12, 2018
Saya sedang berada di atas bukit memandangi lampu kota. Berlindung dalam tenda. Serius. Saat menulis bagian ini, saya sedang duduk dalam tenda dengan membiarkan separuh pintunya terbuka. Pemandangan kota di luar sana teramat sayang untuk diabaikan.

Udara berangsur-angsur menjadi lebih dingin. Kabut mulai menyebar dan melebar. Sementara lampu kota berkurang satu per satu. Wajar, sudah nyaris sepertiga malam ketika kami memutuskan tetap terjaga dari atas bukit yang dijuluki Mata Dewa ini.

"Ayo deh, kita ke atas. Untuk malam ini saja," ajak saya pada seorang teman.

"Bisa ji. Tapi saya tidur ja itu sampai di atas," balasnya.

Tepat tengah malam, kami naik ke atas bukit. Jaraknya tak begitu jauh dari pusat kota. Hanya 10 menit dengan mengendarai motor.

Saya mengambil barang seadanya dari kamar kontrakan, termasuk tenda. Saking buru-burunya, sampai lupa membawa sekadar sendok dan susu untuk teman minum kopi. Jadilah kompor dan kopi tak terpakai selama beberapa jam menghabiskan malam. Kalau sendok sih , masih bisa diakali. Sementara tanpa susu (atau gula), bagi saya, kopi pahit rasanya tak nikmat.

Kami sepakat hanya menghabiskan waktu hingga pagi. Tak peduli jika sekadar tidur. Pun, kami bertukar cerita hanya beberapa menit. Selepasnya, kami sibuk dengan aktivitas masing-masing. Saya yang berhadapan dengan layar notebook. Teman saya dengan game onlinenya. Bukit ini masih sangat-teramat bersahabat dengan jaringan seluler manapun.

Saya memang hanya butuh teman diantara kesunyian. Lagipula, tujuan saya hanya untuk mencoba suasana baru. Barangkali, saya bisa mendapat sedikit inspirasi jika menulis dengan berhiaskan lampu-lampu yang memudar. Pikiran saya juga tak hanya sebatas kesibukan-kesibukan yang kadang membuat pikiran semakin sesak.

Tak heran, notebook terlampir dalam penghabisan waktu kami yang sia-sia ini. Di kala orang-orang sedang berpikir untuk kembali bekerja, esok hari, kami justru tak ingin memikirkan apa-apa. Cukup nikmati saja waktu yang ada. Bergelung dalam tenda yang siap-siap diguyur hujan atau disambut cahaya matahari yang terbit dari ufuk timur.

Ujung-ujungnya nonton stok film. (Imam Rahmanto)

Ps: Waktu sudah menunjukkan pukul 02.07 Wita.


--Imam Rahmanto--

Minggu, 04 Maret 2018

Kiriman

Maret 04, 2018
"Waduh, maaf, Pak. Kalau powerbank kayaknya tidak bisa dikirim," ujar pegawai yang berhadapan dengan komputernya. Saya terpaksa menyisihkannya.

Saya harus mengirimkan gawai untuk adik saya. Sudah dua tahun lamanya gawai ini menemani perjalanan saya dalam tugas-tugas jurnalistik maupun keseharian sekadar menuliskan "hal-hal-tak-berguna". Sudah waktunya ia berpindah tangan, sebagaimana yang sudah saya janjikan.

Pun sebenarnya, adik saya juga masih memegang gawai hadiah masa-masa awal saya bekerja dulu. Hanya saja, kerap kali ia lebih banyak mengeluhkannya. Wajar, kualitas kadang tak pernah jauh-jauh dari harga.

"Tidak usah dipaksakan juga, Kak. nanti apa mupake?" tanyanya. Meski sudah lebih setahun hidup di Jawa, logat ketimuran adik saya masih terselip sesekali. Kelak, tetap saja bahasa Jawanya bakal lebih bagus dibanding kakaknya.

"Ada, kok. Lha kan saya bisa beli baru,"

Jika disuruh memilih, adik saya justru lebih menginginkan gawai itu. Ia tak lagi terobsesi untuk mendapatkan hadiah gawai baru, fresh from the open. Gawainya sekarang jadi pengalaman pahit bahwa "kakakmu tidak akan membelikan yang mahal-mahal". Haha...padahal, kali ini saya benar-benar berniat membelikan yang lebih bagus dibanding dua tahun silam.

(Imam Rahmanto)

***

Pada beberapa titik, saya sudah sewajarnya merayakan kebahagiaan. Membagikannya untuk keluarga terdekat. Untuk adik, yang masih akan menjadi orang paling "merepotkan" sedunia. Meski begitu, herannya, saya dengan senang hati saja bersedia "direpoti"nya.

Bapak pernah bilang, pemberian paling berharga itu adalah untuk orang-orang terdekat, yaitu keluarga sendiri. Karena di sanalah tempat kita akan pulang.

Saya belajar untuk mendaratkan sekecil-kecil pemberian untuk keluarga. Dulu, saya mengawalinya dengan hal-hal sederhana seperti pulsa, mesin jahit portabel, atau pengemas label yang saya pesankan lewat jejaring online. Setidaknya, hal semacam itu justru bisa menjadi sumber komunikasi yang menghubungkan keluarga. Bapak atau mamak jadi punya alasan untuk berkomunikasi via sambungan telepon. Meski sekadar ungkapan pembuka, "Barang itu kemarin kamu yang kirim ya?" yang berlanjut kabar-kabar pengingat dari jauh. Selama bapak juga bisa bilang, "Ya, itu kemarin sudah dipakai mamakmu. Bagus, kok," sudah sanggup membuat mata saya kepalang berkaca-kaca.

Kadang-kadang, saya memang masih terbiasa mengabaikan pembicaraan dengan bapak. Ada kalanya saya tak tahu hendak membicarakan apa, hingga saya menjawab saja seadanya. Tentu saja, telepon bakal ditutup hanya dalam hitungan menit.

Beberapa hari lalu, saya tanpa sadar menumpahkan air mata. Serius, baru kali ini saya kembali sesenggukan setelah sekian lama tak menangis. Pemicunya adalah salah satu adegan film Into The Wild. Ingatan saya langsung terbang ke masa-masa pernah menghilang (didn't want to be found) dari keluarga. Betapa saya sadar (dan tertampar), barangkali, ayah saya juga merasakan penyesalan yang sama dengan ayah sang tokoh utama dalam film itu? Memendam amarah yang membara, tetapi masih menyisakan ruang lain di dadanya dengan rindu yang teramat berat dan menyesakkan. Sudah Dilan bilang, kan, rindu itu berat.

Saya tak ingin menahan-nahannya. Saya biarkan saja air mata mengucur begitu deras dan bebas. Sudah lama tak merasai kesedihan semacam itu. Hidung saya sampai tersumbat. Beruntung, tak ada yang tiba-tiba datang ke kamar dan memergokinya. Selepas itu, saya merasa lega.

Kebahagiaan juga selalu datang dalam berbagai wujud. Tanpa kita tahu, ujug-ujug datang dalam bentuk limpahan materi. Di waktu lainnya lagi, berwujud petualangan-petualangan seru bersama teman. Di waktu berbeda lagi, sembuh dari sakit tanpa perlu obat dan dokter.

Kebahagiaan memang harus dibagi. Tanpa orang lain, kita hanya mencoba untuk berbahagia. Akan tetapi, sejatinya, kebahagiaan itu muncul ketika kita berusaha membahagiakan orang lain. Bukan semata-mata berharap dibahagiakan orang lain. Dan keluarga, seharusnya menjadi tempat berbagi kebahagiaan yang hakiki.

"Happiness only real when shared." [Into The Wild] 



--Imam Rahmanto--

Selasa, 20 Februari 2018

Kopi dan Candu

Februari 20, 2018
Saya baru saja menerima paket coffee grinder dari belanja online yang sudah dipesan beberapa waktu lalu. Bukan milik saya, karena saya hanya memesankan bapak tua pemilik warkop yang menjadi tongkrongan saban hari. Saya cuma prihatin melihatnya sudah memesan alat vietnam drip dengan harga yang jauh lebih tinggi dari realitas pasaran.

"Kalau begitu coba pesankan ka di online-online begitu, nak. Ndak pernah ka pesan begitu kodong," tuturnya, beberapa hari lalu. 

Soal harga, ia tak begitu pusing memikirkannya. Beda dengan saya yang harus berpikir berulang-ulang jika ingin memesan alat yang seharga dengan tas ransel gunung itu.

Gara-gara itu (dan setelah menunjukkan banyak contoh video dan gambar kopi modern dkk), sang bapak juga sampai ingin memesan mesin espresso. Harganya jutaan. Padahal, pemilik warkop itu masih belum banyak tahu tentang seluk-beluk sajian kopi. Ia hanya bertekad bisa mengolah sajian kopi terbaik untuk pelanggan-pelanggannya.

"Kalau mesin begituan, Om, bukan buat bikin kopi seperti umumnya. Mesin itu lebih cocok untuk bikin sajian jenis-jenis kopi modern, semisal cappuccino, latte, moka, dsb," jelas saya. Namun, blio tetap mau menghadirkan mesin modern itu di warkopnya.

***

"Sesempurna apa pun kopi yang kamu buat, kopi tetaplah kopi, yang memiliki sisi pahit yang tidak akan mungkin bisa kamu sembunyikan." [Filosofi Kopi, Dewi Lestari]

Kopi bukanlah hal esensial dalam kehidupan saya. Hanya saja, beberapa tahun terakhir sudah cukup lekat dalam kehidupan sehari-hari. Dimulai dari masa-masa kuliah, hingga merasai bagaimana cara yang "benar" dalam menikmatinya. 

Tanpanya, seolah ada yang kurang dalam memulai aktivitas atau pekerjaan. Aromanya, sering kali membuat saya lebih sadar ketimbang bau parfum yang diumbar-umbar kaum hawa. Lidah saya juga semakin sensitif dalam menebaknya; apakah itu instan-sasetan atau olahan-gilingan. Jangan heran ketika saya mendapatkan tawaran kopi di acara-acara tertentu, mata saya akan teliti memeriksa sumbernya. Jika tak sesuai keinginan, saya akan menolak halus atau bercanda, "Coba deh ke kosan. Kopi buatanku lebih enak."

Heran, dari mana saya begitu paham tentang perkopi-kopian? Saya baru setahun berkenalan intensif dengan kopi di daerah ini. Dulu, saya hanya jadi pengunjung yang rutin memesan kopi-susu (di warkop) dan cappuccino (di kafe modern) saat menjalankan tugas di Makassar. Beralih ke kampung, lha kok jadi "kurator kopi". Haha....

Terlepas dariitu, saya patut membanggakannya dengan waktu-waktu menjelajah di kampung. Saya punya kesempatan untuk berkenalan dengan banyak hal, termasuk kopi. Kalau dulu saya mengkategorikan kopi-pahit sebagai bagian yang paling kontradiktif dari kecintaan terhadap cappuccino, sekarang hal itu beralih agak positif. 

Saya seringkali disuguhi sajian manual brewing (yang hasilnya pahit) oleh teman lain yang juga pemilik kafe di daerah ini. Bahkan darinya, saya lambat-laun belajar tentang seluk-beluk kopi. Semenjak memulai perjalanan tugas di Enrekang, saya mulai menghentikan kebiasaan minum cappuccino sasetan. Bukan pula kopi sasetan yang bergambal kapal lau. Saya beralih dengan kopi yang sebenarnya, yang benar-benar diolah dari para petani kopi. 

Kopi apa yang manis? Kopinang dia dengan Bismillah. 

Sedikit demi sedikit, saya mengintip alat-alat modern di kafe. Bertanya hal-hal dasar tentang pengolahan menu kopi hingga penggunaan alat-alatnya. Malah, saya selalu punya kesempatan membuat cappuccino racikan sendiri jika berada di sana. Sedikit-sedikit, saya jadi paham mengoperasikan mesin espresso sederhana hingga melakukan frothing susu. Istilahnya berat ya? Oke, fix, kamu gak usah. Biar aku saja.

Saya pernah berharap punya sedikit momen cara-cara penyajian kopi yang bersetetika itu. Ternyata, harapan yang sudah jauh beberapa tahun itu merupa jadi kenyataan. Dari pengalaman-pengalaman di tempat ini, saya melengkapi "dapur pribadi" dengan alat-alat sederhana tentang espresso; moka pot. Dari pengalaman itu pula, saya menghasut beberapa teman untuk menikmati kopinya lewat moka pot. Toh, mereka juga baru menyadari bahwa kopi tak sekadar disiram air panas - ditambah gula - diaduk.

"Kopi boleh pahit. Hidupmu jangan," quote klasik dari film lokal Uang Panaik.

Sesungguhnya, kopi pahit, asal diolah dengan benar, justru punya cita rasa yang beraneka ragam. Khusus arabika. Teman saya membuktikannya lewat berbagai suguhan gratis manual brewing-nya. Bukannya mendapatkan rasa pahit, yang ada malah rasa hangat. Bukan pula, rasa-yang-dulu-pernah-ada.

Hangat dan kedamaian semacam itu banyak saya temukan di daerah-daerah dataran tinggi. Apalagi Enrekang surganya aroma arabika. Suhu yang dingin, cukup mudah dihalau dengan kopi dan senyuman yang hangat.

Saya pernah berkesempatan menginap di rumah salah satu petani kopi pedalaman. Sepulangnya dari sana, saya malah dititipi biji kopi yang sudah disangrai modern. Rasanya pengen nangis, mengingat saya yang sudah menambah sempit gubuknya yang ditinggali istri dan sembilan orang anaknya. Karena itu, momen menyesap kopi selalu berbaur dengan ingatan nasib petani kopi di perkampungan.

Pemandangan kebun kopi menjadi hal lazim di Enrekang. (Imam Rahmanto)

Momen menyeduh kopi juga punya seni tersendiri. Bangun pagi-pagi, badan langsung bergerak untuk menakar kopi. Membaui aromanya. Menyalakan kompor. Menuang air. Menjerangnya. Nyala api tak utuh waktu lama menaikkan suhu dan tekanan air agar menghasilkan kopi dan sedikit crema dari alat moka pot. Sayangnya, saya masih kekurangan alat untuk bisa menambahkan foam atau frothing susu. Besok-besok, bisa dicoba dengan french press.

Dari momen-momen sederhana semacam itu, kita diajarkan untuk menikmati proses. Ada proses yang indah dalam menyajikan kopi. Dan lagi, proses memang selalu lebih penting dalam perjalanan menggapai sesuatu.

Pada akhirnya, saya memang bukan pecinta kopi. Saya hanya menjadi salah satu penikmat yang ingin merasai berbagai pengalaman dari hal-hal yang menyertainya. Suatu waktu, mari berjumpa dengan saya, yang akan sukarela 'cerewet' tentang kopi sembari menyeduhnya dengan senyuman.

Sebenar-benarnya menikmati kopi adalah bagaimana kita mengingat jerih payah mereka yang sudah menanam dan merawatnya. Sebenar-benar menikmatinya, juga tentang bagaimana kita menghargai biji kopi tak melulu dari kisaran harga. Pun, proses membuatnya perlu dinikmati dalam-dalam.

Kopi, manual grinder, dan moka pot. Cobalah! (Imam Rahmanto)


--Imam Rahmanto--

Sabtu, 17 Februari 2018

Sepuluh-Sebelas

Februari 17, 2018
Saya mengira, hujan akan pergi dari Februari. Pada kenyataannya, hujan masih sering membasahi kampung kami. Ada kalanya sampai memberontak dan menumbangkan satu-dua tiang listrik di daerah rawan longsor. Jangan heran, kami harus rela bergelap-gelapan, setiap malam. Beruntung, pemadaman tak sampai menghabiskan satu lagu.

Seperti kata orang, bulan ini akan penuh dengan kasih sayang. Saya merasa biasa-biasa saja. Sejatinya, kasih sayang itu seharusnya ada setiap hari. Tuhan menyayangi kita setiap helaan napas. Kenapa mesti dibagi dalam satu hari saja? Saya tergolong orang yang diam-diam saja menyaksikan hari kasih sayang itu. Namun, tak perlu asal main haram juga. Lihat, kan, bagaimana orang-orang yang terlalu epik dan fanatik menolak adanya hari kasih sayang itu? Segalanya diperdebatkan antara "halal" dan "haram".

Adik saya sudah cukup baik menyampaikan kasih sayangnya, tujuh hari lalu. Saya hampir mbrebes mili membaca sekadar mention-annya di facebook. Padahal, saya memang sengaja tak memasang notifikasi yang selalu jadi andalan media sosial itu. Bagi saya, kebanyakan orang sudah mulai melupakan esensi "sedikit bekerja keras". Maunya yang instan-instan melulu. Mengingat tanggal kelahiran orang lain seharusnya memang digali dari dalam memory kepala. Bukan memory mesin. Apakah kita akan selalu menyerahkan segalanya kepada mesin?

Adik saya sukses mencatatkan hal itu. Bahkan, detail yang sebenarnya tak begitu saya ingat, sengaja dijabarkannya. Saya otomatis baru tahu kalau ternyata saya lahir tengah malam. Bapak juga pernah mencatat momen kelahiran putra pertamanya itu di sebuah buku catatan usang.

Momen itu justru saya nikmati dari atas ketinggian Enrekang. Seorang teman kembali mengajak camping. Jaraknya tak begitu jauh dari perkotaan. Pun, tak jauh dari jalan setapak yang kerap dilalui masyarakat. Dari atas lokasi itu, kami bisa menyaksikan kerlap-kerlip lampu kota dengan sempurna. Seperti musimnya, hujan membuat kami mempercepat berdirinya tenda. Oiya, besok-besok, saya sudah bisa menjelajah kemana pun karena sudah punya tenda sendiri. Yeay!!

Kebiasaan baru. (Imam Rahmanto)

Telepon adik saya juga sempat tembus hingga ke atas bukit. Ia menyambungkan telepon bersama salah seorang sepupu kami. Barangkali, adik sepupu saya itu sedang berada di Jawa. Sayangnya, belum sempat mengucapkan "hal penting", saya keburu menutup telepon karena sambungan sinyal agak buruk. Maka meluncurlah hal penting itu lewat status facebooknya.

"Semoga....bla-bla-bla,"

Orang-orang jadi latah mendoakan hal-hal lazim karena ucapan adik saya itu. Saya jadi tak tahu harus membalasnya dengan apa.

Sepertinya, saya memang tak punya terlalu banyak keinginan. Kenyataannya, Tuhan sedang berbaik hati selama saya berada di "kampung halaman" ini. Ia mewujudkan hampir semua keinginan saya. Oh, setidaknya, barang-barang yang sempat saya tuliskan di buku atau secarik kertas di dinding hadir dengan cara-cara yang mengesankan.

Dari hal-hal itu, saya dikembalikan pada ingatan yang lalu. Momen menuliskan "apa-yang-saya-mau" itu pernah berlangsung sangat konsisten. Saya punya buku jurnal yang di belakangnya tertuliskan segala hal. Materi atau sekadar keinginan. Bahkan, saya pernah merobeknya dan menyimpan dalam dompet agar terbawa kemana pun. Hingga pada akhirnya, kertas itu basah oleh hujan. Saya lupa bagaimana nasibnya sekarang.

Ternyata, menuliskan hal-hal yang diinginkan justru menjadi penghubung saya dengan semesta. Saya mempercayai hal itu. Semakin sering menenggelamkan diri dalam kesunyian di kampung ini, semesta juga akan semakin mudah bersinkronisasi dengan pikiran saya. Saya jadi punya kesempatan untuk berbicara banyak hal, dari (alam) hati ke hati. Membingungkan, bukan?

Anggap saja itu lebay atau berlebihan. Akan tetapi, menurut saya, bepergian ke tempat-tempat jauh justru membawa kita semakin dekat kepada alam bawah sadar. Realitanya, semesta takkan pernah berbicara pada kita. Hanya saja, ia akan menjembatani agar kita mampu dan mau berbicara pada diri sendiri. Karena untuk bisa merenung, kita butuh tempat-tempat yang tidak menciptakan bising.

"Apa yang kamu inginkan?"

Katakanlah, tidak untuk dilupakan...




--Imam Rahmanto--
  

Minggu, 04 Februari 2018

Bulan dan Momentum

Februari 04, 2018
*Catatan: untuk mematikan suara musiknya, silakan pause pada playlist di atas.

Arresto Momentum. 

Seandainya saya bisa membekukan waktu barang sejenak, mantra itu akan berguna. 

Pemandangan langit sedang indah-indahnya. Purnama kelihatan agak lebih besar dibanding biasanya, supermoon. Cahayanya menyebar di seluruh penjuru langit. Tak ada lagi taburan kerlip bintang yang menimpa kami. Entah bagaimana caranya, awan juga enggan mendekat. Ia membiarkan purnama terus menggelinding ke arah barat. Hingga kami tak lagi terjaga.

Dua teman perempuan sudah lebih dulu meringkuk ke dalam tenda. Satu teman lainnya juga sudah masuk ke tenda di depannya. Hanya menyisakan kami bertiga, yang masih betah beratapkan langit. Sleeping bag sudah membungkus sekujur badan saya. Meski cuaca tak sedingin dataran tinggi lainnya, udara malam tak patut diremehkan. Bisa-bisa, kami pulang dalam keadaan meriang. 

Acara ngopi-ngopi juga sudah tandas. Bekas api unggun masih membara. Tersisa, kami yang sudah harus lelap di pembaringan masing-masing. Akan tetapi, saya ingin menikmati lelap dari atas bukit ini. Untuk pertama kalinya, saya bisa berbaring langsung tanpa dibatasi sekat langit-langit. Namun, benar-benar langit. Utuh.  

Betapa momen ini teramat istimewa. Itulah kenapa saya butuh belajar melafalkan arresto momentumBerbaring beratapkan langit. Bermandikan cahaya rembulan, yang baru saja melewati fase gerhana. Bertemankan bintang. Berlantaikan rumput. Berselimutkan desau angin. Bersenandungkan siulan serangga malam. Tak ketinggalan, sapi-sapi di sekitar tanah gembala yang ikut bernyanyi lewat perkusi bel dari lehernya. 

Saya tak tahu, pada menit keberapa, lewat tengah malam, saya pulas menikmati mimpi...

Bunga tidur yang mekar sempurna. Penat luluh seketika.

(Foto: Imam Rahmanto)
   
***

"Kemana camping kali ini?" tanya saya. 

Teman saya sudah terbiasa menghabiskan akhir pekan dengan memanggul ransel dan mendirikan tenda. Kali ini, bukan edisi akhir pekan. Seluruh dunia sedang dihebohkan dengan fenomena tiga fase bulan yang menyatu dalam waktu bersamaan. Supermoon + Bloodmoon Eclipse + Bluemoon = Super blue blood moon. 

Momen itulah yang tak boleh lagi saya abaikan. Beberapa kali, saya selalu luput dari menikmati momen-momen astronomi yang datang berulang-ulang. Ajakan teman juga mampir tanpa bekas. Padahal, di daerah berjuta bukit tanpa polusi cahaya ini, langit malam adalah hal paling menyenangkan untuk diselami. Bukankah kesempatan tak datang berkali-kali?

Pertama kali menginjakkan kaki di Bukit Dulang atau Buttu Rata, samar-samar rembulan sudah menyambut kami dari balik awan. Malam sudah menyaput perjalanan kami, berenam, yang hanya packing seadanya. Hanya cemilan dan makanan yang diperbanyak. Pun, dua gadis yang turut dalam perburuan diajak tanpa rencana sebelumnya. Biar piknik tak terlalu sadis, kalau diwarnai gadis-gadis manis.

"Biasanya, ajakan yang sifatnya dadakan selalu menghasilkan momen yang keren-keren loh," sepintar-pintarnya saya beralasan. Halah.

Meski gelap sudah tiba, saya harus tersenyum lebar menapaki permukaan bukit ini. Barangkali, ini alasan teman saya (atau warga) menyebutnya Buttu Rata.

Sejauh mata memandang, kelok bukit hanya ditutupi rumput-rumput kecil. Mirip bukit yang selalu muncul dalam serial masa kecil dulu, Teletubbies. Lembah perkebunan warga terbentang di pinggirannya. Dari atas bukit ini, gunung-gunung yang dibelah lajur jalan poros juga terlihat begitu perkasa. Kelak, pagi berikutnya, saya bisa menyaksikan indah bayangannya yang berbaris begitu rapi.

Kami berjalan hingga ujung bukit. Dua tiang berdiri kokoh mengibarkan bendera berbeda.  

"Lebih penting kamera dulu dikeluarkan ketimbang pasang tenda," ucap salah satu dari kami.

Detik-detik fase awal super blue blood moon memang tersisa sebentar lagi. Kami harus berburu lebih awal jika menginginkan momen yang hanya terjadi dalam rentang 150 tahun itu. Faktanya, kalau sekadar gerhana bulan total bakal terjadi dua kali dalam tahun ini. Memancang tripod, memasang kamera, hingga melebarkan fokus pandangan ke cahaya paling terang di langit sana.

Lihat, kan? Betapa nyaris-tak beruntungnya perjalanan kami. (Imam Rahmanto) 

Sayangnya, detik-detik berharga itu dihalangi awan yang ramai-ramai berarak. Tak ada seberkas cahaya yang rela dilewatkannya. Kami tak menyangka hal itu, karena siang hari langit terlihat begitu cerah. Biru sebiru-birunya, dengan bintik awan-awan halus. Kenyataannya, langit sedang mengumpulkan pasukan untuk memerangi kunjungan kami di bawah kerajaannya.

Kami terpaksa menghibur diri dengan mendirikan tenda. Sambil menunggu awan menyerahkan rembulannya kembali, kami menghangatkan tubuh dengan bercangkir-cangkir kopi. 

Sebenarnya, tak hanya kami yang menantikan gerhana di atas bukit ini. Sekelompok warga asli juga datang dengan membawa satu tenda. Bahkan, salah satunya merupakan anak perempuan berumur empat tahun. Sepertinya, ia bersama sang ayah.

Saya mengenal anak perempuan yang lekat dipanggil Syafa itu. Saya pernah mewawancarai sang ibu, lantaran kegemaran anaknya yang masih kecil untuk mendaki gunung. Kami berjumpa di rumah sakit. Kalau tahu gunung apa saja yang sudah ditaklukkannya, barangkali kita bakal malu jadi orang yang lebih tua darinya. Sesuai dengan namanya, Asfarash Rezky Syandana Rinjani Latimojong, ia telah menaklukkan puncak Rante Mario

"Ini sudah jam berapa ya? Gerhana totalnya jam berapa? Kayaknya sudah lewat," teman saya risau menanyakan kabar. 

"Kubilang memang, tidak ada bloodmoon di Sulawesi Selatan," teman saya sok tahu. 

Penantian kami memang berlalu cukup lama. Awan begitu tebal menumpuk. Kami hanya bisa menyaksikan awan berkejaran tanpa memberikan celah untuk rembulan menampakkan diri.

Harapan kami nyaris pupus tatkala seberkas cahaya mulai memerah. Awan pun perlahan memberikan ruang untuk bulan yang sudah terlihat kemerah-merahan. Bulan tak lagi malu. Sang bulan justru gerah dan marah kepada awan yang menghalangi perjumpaan kami.


***

Meski fase bloodmoon hanya sebentar dan sebagian, rasa puas sudah tergambar dari wajah kedua teman saya. Berkali-kali melihat jepretan foto mereka, saya terpaksa dibuat menggerutu. Jepretan saya tidak lebih epik. Berkali-kali memotretnya, getaran tripod justru membuatnya buram. Dan lagi, sebenarnya, saya masih amatir dalam berburu landscape (m)alam. 

Setidaknya, saya tetap berusaha membungkus momen dalam perburuan malam itu. Tak ada yang begitu menyenangkan selain menikmati setiap momen dari mata sendiri. Menikmati sunyi dari atas bukit, yang baru pertama kali saya datangi. Saya juga sudah lama menginginkan sunyi seperti ini. Tak ada gangguan pekerjaan. Tak ada godaan internet. Meskipun sebenarnya sinyal dan jaringan internet masih sangat kuat dari atas bukit itu.

Sunyi malam mengajarkan kita untuk lebih banyak berkontemplasi. Cahaya purnama membuatnya fokus pada satu titik. Bintang yang bertebaran mengukirnya jadi sebuah sketsa. Hawa udara yang dingin mengajarkan cara untuk berbagi kehangatan. Lewat semua itulah kita baru bisa berbincang dengan semesta.

Karena dari semesta, hidup kita bertutur dan diatur....

Gambar ini diabadikan ketika pagi menjelang. (Drone: Ohe Syam Suharso)

***

Sepulangnya dari bukit, kota kami baru kembali diguyur hujan lebat. Esoknya, hujan masih datang bertamu. Pun demikian esoknya lagi. Detik ini pun, hujan masih menemani saya yang menyesap aroma kopi dari meja sebuah kafe. 



--Imam Rahmanto--

Minggu, 28 Januari 2018

Di Depan Kasir

Januari 28, 2018
Perempuan berjilbab itu nampak familiar. Saya menebak-nebak wajahnya. Mencoba menggali beberapa memori saya. Sayangnya, saya agak ragu. Dia pun sama sekali tak mengenali saya yang sedari tadi mengantri dua giliran di depan kasir minimarket.

Karena hendak membayar tagihan, ia menunggui antrian pembeli di kasir itu. Setelah habis dan menyisakan saya seorang, kasir mulai melayani permintaan pembayaran perempuan kecil itu. Saya masih mencuri-curi raut wajahnya. 

"Jadi, atas nama Fika....." ujar kasir berusaha mencocokkan data komputernya. 

"Iya..." jawabnya.

Saya tak begitu jelas mendengar nama lengkapnya. Cukup separuhnya, sudah berhasil sedikit meyakinkan saya bahwa: saya mengenalnya! Akan tetapi, saya sendiri heran, sedari tadi berjarak satu meter saja, ia juga tidak mengenali saya. Saya kembali ragu hanya untuk menyapanya.

"Jumlahnya......" sebut kasir itu lagi. Ia pun menyerahkan beberapa lembar uang sesuai dengan permintaan kasir. Tak ada kembalian. Karena menurut kasir, jumlahnya pas.

Tibalah giliran saya yang hanya menenteng satu barang. Hanya sebuah tabung gas 235 gram. Saya tak membeli banyak persediaan cemilan seperti biasanya. Di kamar, masih ada stok yang belum habis. Sementara satu tabung gas untuk kompor portabel itu jauh lebih saya butuhkan karena hendak menyeduh kopi dari moka pot.

"Gas begini memangnya ndak bisa diisi ulang disini ya?" sebenarnya ini adalah pertanyaan basa-basi.

"Iya, memang tidak bisa. Tidak ada lubangnya," jelas mbak kasir sembari membuka penutup kecil gas itu.

"Oiya, mbak tadi itu nama lengkapnya siapa ya? Fika ya?" ini baru pertanyaan utama.

"Namanya Fika....." jawabnya lagi, namun saya tak menyimak kembali karena terlalu panjang. Biasanya hanya orang-orang tertentu yang nama lengkapnya (dan panjang) bisa lekang dalam kepala saya. Pandangan saya langsung teralih ke luar minimarket. Perempuan itu masih berada di parkiran, mengecek sesuatu di gadget miliknya.

Tebakan saya tampaknya takkan meleset lagi. Lantas, kenapa dia tak begitu mengenali wajah saya? Apa saya sudah kelihatan sangat berubah semenjak zaman KKN (Kuliah Kerja Nyata) lima tahun silam ya? Satu-satunya yang berubah dari saya, cuma separuh gigi yang patah karena dihantam separator jalan, dua tahun lalu. Kalau soal berat badan, kan relatif. Lha wong saya memang orangnya tidak bisa gemuk meski makan sebanyak apa pun.

Saya meraih sepeda motor yang terparkir bersebelahan dengan perempuan itu. Dia baru hendak menyalakan motor ketika saya langsung menodongnya dengan pertanyaan, "Fika, ndak kenal sama saya?"

Ia langsung memendangi saya. Barangkali, disangkanya saya laki-laki yang sedang modus. Yaelah.

Agak lama pula ia memandangi saya sembari tersenyum kikuk. 

"KKN? Pangkep? Anak Doang? Tidak ingat, kalau di KKN dulu ada dua orang Enrekang lainnya juga?" tembak saya berusaha memberikan clue.

"Tunggu dulu..." ujarnya nampak memutar-mutar memorinya. Masih dengan tersenyum kikuk.

Karena masih kelihatan susah menebak saya yang-tidak-populer-semasa-KKN-dulu, saya kembali menjabarkan petunjuk lainnya. 

"Yang dulu paling sering tidak kelihatan di tempat KKN. Atau....mungkin paling banyak digosipkan di tempat KKN?" Saya harus tertawa menyebutkan kenyataan itu.

"Tunggu dulu, bukan kita ketuaku? Ketua waktu kegiatan lomba di masjid itu," tebaknya.

Saya sendiri lupa pernah menjadi ketua kepanitiaan semasa KKN itu. Tetapi, memang benar, karena kegiatan kepanitiaan itu pula yang menjadi titik-balik kepercayaan teman-teman untuk saya, yang awalnya lebih sering mengurusi organisasi pers kampus dan bolak-balik Makassar. 

"Imam....kan?" tukasnya, meski masih dibalut ragu.

Maka meluncurlah, pertanyaan-pertanyaan umum kawan lama yang baru bertemu. Meski tak berlangsung sampai lima menit, saya jadi tahu dia bekerja di kota ini sebagai guru TK. Dia jadi tahu dimana saya bekerja, yang awalnya mengira kalau saya juga bekerja kantoran, hanya karena mendengar kata "ditugaskan disini". 

Kami memang tak begitu akrab di masa KKN itu. Jalur kami berbeda meski disatukan dalam atap posko yang sama. Ia dan teman-temannya hanya menempuh jalur reguler karena bukan berasal dari jurusan kependidikan. Sementara saya dan beberapa teman lainnya, menghabiskan waktu sebulan lebih lama di Pangkep karena merangkap PPL. Lagipula, posko cowok dan cewek terpisah tiga-empat rumah dalam kompleks yang sama.

Hanya saja, pertemuan tanpa sengaja dengan teman KKN itu menggali separuh ingatan saya tentang cerita-cerita jelang tamat itu. Separuh ingatan tentang pengabdian masyarakat yang biasa-biasa saja. Separuh lebih banyak tentang benih semangat yang terus mendorong saya tetap tersenyum di tengah tatapan sinis teman-teman lain. 

Saya tak perlu menyangkal jika masa itu menjadi pengalaman yang cukup menyenangkan. Saya cukup mengesampingkan perasaan terkucilkan. Memakluminya sebagai konsekuensi "kebandelan" dulu. Toh, hingga kini, saya masih mengakrabi bagian puzzle-nya bersama anak-anak Einstein dan Aljabar. Terakhir kali, saya menjumpai kabar duka dari salah satunya.

Saya juga takkan pernah menyangkal, perasaan bahagia kala itu, berbunga-bunga, sesederhana apa pun, sesingkat apa pun, tetap menyumbangkan senyum yang teramat lebar. Karena sejatinya, tak ada sesuatu ataupun seseorang yang pantas dilupakan. 

Sampai sekarang, saya masih menyimpan seragam almamater yang penuh coretan iseng itu. :) (Collapse by me)


--Imam Rahmanto--

Jumat, 26 Januari 2018

Dua Perjumpaan

Januari 26, 2018
Kami sedang menyantap bakso langganan. Seperti biasa, saya hanya tahu warung ini diantara banyaknya jejeran warung yang ada di tengah kota. Karena belum menemukan pangsit atau bakso yang lebih enak, saya selalu mengajak teman untuk makan disini.

Seorang teman dari kecamatan datang ke pusat kabupaten. Sudah lama ia berada di kampung dan menghabiskan waktunya di rumah. Katanya, ia sementara menunggu pendaftaran Guru Garis Depan (GGD), usai menjalani salah satu rangkain program SM-3T, yakni PPG. 

Anak-anak di luar kependidikan takkan banyak mengenal apa itu SM-3T. Saya sendiri, yang merupakan alumni keguruan, sangat akrab dengan istilah-istilah itu. Di masanya dulu, malah menjadi penumbuh harapan bagi kami yang ingin berprofesi sebagai guru. Semua terasa menggiurkan, bersama detik-detik kami hendak melepaskan label mahasiswa. 

Meski berasal dari kampus yang berbeda, teman saya juga alumni keguruan. Keadaannya masih dalam penantian. Wajarlah, mereka yang sudah telanjur mengikuti program 1 tahun + 1 tahun itu tak ingin begitu saja bekerja sebagai guru honorer. Dipikir-pikir, gajinya tak seberapa?? Kehidupan masa dewasa tak sekadar pengabdian biasa-biasa saja.

"Kau pernah berpikir, ndak? Diantara kakak-kakakmu dan keluargamu, kau mengambil pekerjaan yang berbeda agar lebih variatif. Karena kau tentunya sudah lihat sendiri, kan, bekerja sebagai guru tak banyak mengubah keadaan yang ada dalam keluargamu," saya mencoba menggali ingatannya.

"Yaah, kalau mentok maunya sebagai guru juga, mbok ya lebih tinggi dikit, semisal jadi dosen gitu," lanjut saya lagi, dengan mulut masih mengunyah mi pangsit. 

Panasnya mi bercampur dengan hawa kota yang sudah mulai tak dicecar hujan. Kalau tak terbiasa, muka bakal dibanjiri peluh saban hari. Akan tetapi, cuaca yang sudah mulai lebih banyak tersenyum itu pertanda langit malam sudah bisa romantik kembali.

"Saya sebenarnya juga sempat berpikir seperti yang kau bilang. Tapi, ya ini juga sebentar lagi masa pendaftaran itu," jawabnya.

"Pasti kau berpikir bahwa penantianmu yang panjang, yang mengikuti tahapan lama-lama, sampai dua tahun segala, bakal sia-sia kalau tak sesuai jalur itu, ya?" potong saya berusaha menebak arah pikirannya. Dan memang, telak mengenai fokus kepalanya.

Saya berteman baik dengannya. Sangat dekat, malah. Masa-masa kuliah dulu, saya sering menghabiskan waktu di kosannya. Meski berbeda kampus, jarak kosan kami hanya dua rumah. Makanya, saya tak segan-segan bermalam hingga menghabiskan persediaan mi instannya.

Teman saya itu pernah bekerja sebagai marketing atau penawar kredit bank kenamaan di Makassar. Ia menjalaninya sembari kuliah. Salah satu penyebab ia telat lulus, ya juga karena kesibukannya itu. Tetapi bagaimana pun, dia lebih dulu menamatkan kuliah di kampusnya ketimbang saya. _ _"

Sayangnya, persoalan cepat-cepatan lulus kuliah memang tak pernah menjadi penentu seseorang mendalami dunia kerja. Karena iming-iming profesionalitas guru, banyak teman saya yang masih terombang-ambing menunggu program pemerintah itu. Diantara penantiannya, masih mencoba jadi guru. Ada pula yang sama sekali tak mendapatkan pekerjaan sebagai guru, meski sekadar honorer.

Mereka yang pasrah tentu menerima saja pekerjaannya, yang nyaris terlihat seperti sukarela. Siapa saja yang pernah menjalani honorer tentu paham apa yang saya maksud. 

(Foto: Imam Rahmanto)

Beberapa hari kemudian, seorang teman lainnya mampir di kota kami. Teman saya yang merupakan salah satu personel #Ben10 itu sedang menikmati masa-masa liburannya dari Papua. Disana, ia bekerja sebagai guru, yang merupakan bagian program dari kampus UGM; Penggerak di Daerah Terpencil. Ia justru terlihat bahagia. Masa liburnya sungguh jauh berbeda dengan guru lain.

"Beda memang, Mam. Kalau sekolah disana liburnya bisa sampai dua bulan. Makanya, harus dinikmati semaksimal mungkin," ungkapnya.

Tak heran ketika foto-foto liburannya ke berbagai tempat di kampung sendiri, kampung orang, Makassar, bertebaran di timeline facebook. Kunjungan ke Enrekang pun dalam rangka mencoba wahana-wahana baru di objek wisata yang sedang hits di tempat kami. Betapa ia sungguh menikmati liburannya setelah terkurung berbulan-bulan di pedalaman Papua.

Teman saya itu nampaknya bakal memperpanjang masa kontraknya disana. Kata dia, kontrak itu biasanya berlangsung dua tahun. Ia masih pikir-pikir, apakah akan memperpanjangnya atau tidak.

"Tapi kunikmati sekali mi itu mengajar anak-anak disana. Barangkali, kalaupun tidak mau kulanjut, tetap ka jadi guru," ucapnya lagi.

Seperti kedua teman saya, tak ada yang menyangka jika saya akan berakhir dalam rutinitas liputan - menulis - deadline. Seharusnya, saya menjadi seorang guru, berhadapan dengan senyum dan wajah para pencari ilmu. Menyusun silabus atau mengikuti rapat dengan seragam kebanggaan. Nyatanya, keinginan saya tak pernah sampai pada jalur-jalur itu. Bukan tak mampu, melainkan tak mau.

Bapak juga sudah mulai nrimo jika anaknya tidak menginginkan jadi abdi pemerintah lagi. Kehidupan, sesulit apa pun, sudah menjadi tanggung jawab yang harus diselesaikan sendiri. Setiap orang punya impian tertingginya. Tak peduli jika mesti berputar dulu menjadi hal lain sebelum mencapai keinginan-keinginan itu.

Teman-teman saya itu punya keputusannya masing-masing. Saya percaya, mereka sudah cukup dewasa memikirkan masa depannya. Saya tak perlu mencekokinya dengan apa yang saya inginkan bagi diri saya. Seperti kata pepatah, ukuran sepatu kita belum tentu cocok untuk orang yang lain. Oleh karena itu, cukuplah belajar memahami dan menghargai pilihan orang lain.

Oiya, terima kasih pula untuk sahabat #Ben10 yang menghadiahi saya buku catatan.
(Imam Rahmanto)


--Imam Rahmanto--

Jumat, 19 Januari 2018

Dari Laut, Kami Mendengarkan

Januari 19, 2018
"Matilah engkau mati, kau akan lahir berkali-kali..."

Saya sedang memutuskan melanjutkan hal-hal tertunda. Duduk sendiri di pojok kafe, mengamati hujan yang mengurai perlahan. Tak deras. Hanya rinai. Beberapa hari terakhir, instensitasnya sudah mulai berkurang. Tak cukup sebulan, barangkali hujan sudah akan mengucapkan "selamat tinggal" buat kami.

Sebuah buku tergeletak manis di pinggir notebook. Kebiasaan saya, menyelipkan satu buku (novel) kemana pun bepergian. Tak peduli jika ujung-ujungnya buku itu tak tersentuh mata sama sekali. Toh, ketika bosan, saya bisa membuka-bukanya, barang menamatkan 30-40 halamannya.

Sayangnya, saya tak sedang ingin membahas buku yang belum saya tamatkan itu. Sebaliknya, ada buku karya Leila S Chudori yang menjadi pembuka awal tahun kali ini. Laut Bercerita, yang baru rilis beberapa bulan lalu.

Saya sudah lama mengamati perkembangan rilis buku itu di timeline twitter. Tentu saja, saya tak boleh lupa, memasukkan buku itu sebagai salah satu daftar belanja buku sewaktu-waktu. Saya belum pernah dikecewakan dengan buku-buku Leila yang lalu. Yah, meskipun baru sebatas Pulang saja yang pernah saya tamatkan. Dan itu menjadi buku keren yang mengupas sejarah-sejarah tentang masa lalu.

Pun demikian dengan Laut Bercerita. Bedanya, isinya kali ini berputar tentang perjuangan para aktivis dalam meruntuhkan kekuasaan orde baru. Tentang Biru Laut dan kawan-kawannya yang dipaksa berpindah-pindah demi keselamatannya. Tentang bagaimana terjadinya penculikan 13 aktivis 1998, yang tak pernah diketahui statusnya hingga kini.

"Mungkin mereka yang diculik dan tak kembali telah bertemu dengan para malaikat." [hal. 265]

Buku Laut Bercerita. (Imam Rahmanto)

*Saya kemudian menyetel video klip dari SID, Sunset di Tanah Anarki. Mendengar lagu itu, selalu membuat saya merinding.

Saya mulai menyukai cerita-cerita yang berlatar sejarah. Itu mengubah sebagian pola pikir saya, yang sejak sekolah dijejali pengetahuan satu arah. Ketimbang membaca buku-buku asmara atau percintaan, biasanya saya akan lebih tertarik menyelami yang mengupas sejarah, secara ringan dan lugas. Buku-buku roman atau kisah asmara biasanya hanya sebatas hiburan.

Apalagi, kami yang merupakan generasi era 90, tentu hanya bisa mendengar kilasan-kilasan informasi terkait masa-masa kejatuhan Soeharto. Di zaman mahasiswa ramai-ramai menggeruduk gedung MPR, saya masih santai-santai melap ingus dan menghabiskan waktu minggu pagi menonton film kartun di depan tivi. Jarak kami, yang sangat jauh dari perkotaan, tentu sangat kekurangan informasi.

Bisa dibilang, sebagian besar buku Leila memang mengupas tentang sejarah. Buku ini pun tersusun dari beberapa riset atau penelusuran yang dikembangkan sendiri oleh penulis. Saya membaca beberapa referensi yang menjadi pedoman penulisan buku ini. Termasuk berita-berita atau kabar tentang penculikan 13 aktivis masa orba itu.

Laut, ceritanya, merupakan salah satu dari ke-13 aktivis yang hilang itu. Ia telah menjabat sebagai Sekjen Winatra kala orang-orangnya diburu pemerintah karena dianggap membahayakan. Winatra adalah salah satu organisasi kampus yang mendudukkan banyak mahasiswa dalam pertemuannya. Mereka membahas apa saja, mulai dari pemerintahan hingga karya-karya Pramoedya Ananta Toer, yang tidak disebarkan luas kala itu. Saya tidak begitu menyimak, apakah Winatra ini organisasi pers kampus atau semacam diskusi saja. Tetapi, sebagian anggotanya ada yang erat berkaitan dengan pers mahasiswa.

Bagaimana pun cara Winatra menyembunyikan kegiatannya dari mata pemerintah, mereka tetap terendus aparat. Demi sebuah informasi, aparat melakukan penyiksaan bagi aktivis yang tertangkap. Mulai dari penyiksaan ringan, hingga yang paling keji.

Kisah Laut tak hanya berjalan monoton. Ada Anjani, yang menjadi salah satu titik tolak kisah asmara di dalamnya. Adik Laut, Asmara, juga menjadi salah satu bagian sudut pandang bercerita dalam buku ini. Kita akan paham, bagaimana sebuah kisah dipaparkan dari mereka yang mengalami penyiksaan, hingga mereka (keluarga) yang ditinggalkan, tanpa tahu bagaimana nasibnya.

"Sudah lama aku hidup bersama suara, napas, dan air mata ini: penyangkalan. Penyangkalan adalah suatu cara untuk bertahan hidup. Menyangkal bahwa mereka diculik dan menyangkal kemungkinan besar bahwa mereka sudah dibunuh." [hal. 239]

Nampaknya, penulis memang ingin menunjukkan bagaimana perasaan para keluarga yang ditinggalkan oleh mereka yang "dihilangkan". Perasaan yang campur-aduk, karena tidak tahu nasib sebenarnya anak-anak atau saudara mereka. Ingin menyebutnya mati, tetapi mereka tak pernah menemukan dimana jasad sesungguhnya. Ingin menyebutnya masih hidup, namun mereka tak pernah pulang ke rumah sekadar menyunggingkan senyum.

Pergolakan batin itu yang ingin ditunjukkan Leila melalui tokoh Asmara. Adik perempuan satu-satunya Laut, yang berprofesi dokter itu, harus terseleubung imajinasi kedua orang tuanya karena kehilangan Laut. Saban hari, bapak dan ibunya tetap menunggu kepulangan Laut dengan menyediakan satu piring di meja makan. Padahal, sejatinya, ayah Laut dan Asmara merupakan jurnalis di masa orde baru. Ia pun tak berkutik tentang keberadaan anaknya.

"Ketidaktahuan dan ketidakpastian kadang-kadang jauh lebih membunuh daripada pembunuhan." [hal. 256]

Katanya, beberapa orang yang membaca buku ini terbawa perasaan dengan menitikkan air mata. Meskipun saya tak mengalaminya, namun saya bisa paham bagaimana rasanya mereka yang ditinggalkan. Saya kemudian merasa tak ada apa-apanya dibanding para mahasiswa orde baru itu. Terlalu kecil. Zaman mahasiswa dulu, kami tak "sekeras" seperti itu. Apalagi sampai membantu langsung masyarakat yang hendak digusur tanahnya oleh pemerintah. Yang bisa dilakukan mahasiswa zaman sekarang hanya berkoar-koar dengan toa, menghalangi jalan, tanpa ada aksi nyata membantu masyarakat yang benar-benar butuh uluran tangan.

Buku ini sekaligus menjadi pembuka yang cukup manis bagi saya. Pemikiran-pemikiranya, kisah-kisahnya, hingga sejarah yag dituangkan di dalamnya. Pada dasarnya, kisah menghilangnya 13 aktivis (yang termasuk di dalamnya Wiji Thukul) adalah kejadian nyata. Meskipun kisah-kisah di dalam Luat Bercerita ini dibuat sebagai fiksi, yang merujuk pada berbagai kesaksian sejarah terkait kejadian itu. 

Nama tokoh seperti Laut pun hanya fiksi, yang entah merujuk kepada siapa diantara 13 aktivis hilang tersebut. Jika didalami, barangkali kita akan menemukan kesamaan atau representasi siapa-siapa saja yang menjadi cerminan 13 aktivis dalam buku ini. 

Membaca buku setebal 380 halaman ini, kita juga dihadapkan pada beberapa alur yang saling berseberangan waktu. Sesekali, saya harus mencocokkan waktu bercerita yang kadang kala melompat jauh ke depan, hingga melompat lagi ke belakang, atau tiba-tiba sampai ke tengah. Saya tak menemukan kesulitan saat mendalami kisah dari sudut pandang Asmara. Hanya saja, karena sudut pandang Laut juga berada dalam "kematian", maka alurnya sedikit terkesan kesana-kemari. 

Terlepas dari itu, saya tetap suka dengan gaya berceritanya. Alur itu toh tidak mengganggu saya untuk kembali menyantap buku-buku lain dari Leila S Chudori. 

***

Hujan sudah menyisakan aroma-aroma petrichor di pinggir jalan. Kafe ini berseberangan langsung dengan keramaian lalu-lalang kendaraan. Meski bukan jalan poros, dua-tiga motor tetap terlihat melintas dan menyisakan gerungannya.

Dan saya harus kembali dalam pekerjaan yang sebenarnya belum saya tuntaskan hari ini. Duduk sendirian di pojok kafe, bukan berarti saya hanya punya pekerjaan membuka-buka dunia maya. Deadline harian juga mesti disentuh. Sebelum kotak Sent di email terisi dengan barisan baru, saya masih akan memikirkan banyak materi lainnya. 

Kebetulan saja, buku ini menjadi salah satu favorit yang sangat sayang untuk diabaikan. Beberapa orang kerap bertanya pada saya, "Buku apa yang bisa kamu rekoemndasikan?" 

Saya perlu menjawabnya dengan membuka listing resensi di "rumah" ini. Ketika saya hanya menjatuhkan daftar bacaan itu dengan mencentang Read pada akun Goodreads, buku itu masih dalam taraf wajar seadanya dan cukup menghibur. Sebaliknya, saya akan pulang pada rumah ini untuk bersantai dan mengutarakan bahwa "Buku inilah yang pantas kamu baca!"

***

"Aku selalu menyangka itu memang karakteristik perempuan pada umumnya..."

"Mungkin," kata Mas Laut. "Tetapi kemampuanmu mengingat berbagai hal yang terjadi itu terkadang agak mengerikan," Mas Laut tersenyum, "karena itu akan menyulitkanmu untuk menghapus segala sesuatu yang tak nyaman atau menyakitkan."

"Peristiwa yang tak nyaman atau menyakitkan tidak perlu dihapus, tetapi harus diatasi," kataku membantah dgn sok gagah." [hal. 313]


"Aku mencintainya sepenuh hati. Kalau saja usiaku lebih panjang, dialah perempuan yang kuinginkan untuk bersama-sama membangun serangkaian huruf yang membentuk kata; kata menjadi kalimat dan kalimat menjadi sebuah cerita kehidupan." [hal. 368]



--Imam Rahmanto--