Sabtu, 23 Desember 2017

Dua Buku yang Ditamatkan Sekaligus

Saya punya dua buku yang ditamatkan sekaligus pada akhir tahun ini. Padahal sudah penghujung tahun, dan target baca saya masih tidak banyak berubah. Baru 2/3 dari 30 jumlah buku yang berhasil rampung. Sementara stok-stok buku di kamar masih numpuk dan sebagian masih dibiarkan terbungkus plastik. Biar aromanya bertahan lama. Haha...

Tapi, sudahlah. Saya tak hendak membenarkan segala hal yang membuat saya lupa bagaimana cara membaca buku yang keren dan nyaman. Semakin dewasa, saya semakin sadar, ada banyak "alasan" yang bisa dibuat-buat agar tak membaca buku. Sementara alasan untuk membaca buku, meski barang 30 menit, bisa dihitung jari. Kalah banyak.

Dua buku yang saya tamatkan dalam rentang seminggu ini merupakan tumpukan yang sudah lama tertunda. Keduanya juga terbilang kontras. Baik dari segi cerita, maupun ketebalannya.

Salah satunya, Biografi Gusdur, sudah lama menjadi koleksi buku-buku tebal di rak. Kesempatan membaca buku karya penulis dari Australia, Greg Barton, justru saat saya berada di daerah ini. Ditambah, terlalu maraknya isu-isu tak sedap mengenai perpecahan agama membuat saya ingin menyelami seorang mantan Presiden RI ini.

Saya sungguh menyesal, di masa kecil dulu pernah mengolok-ngolok kondisi Gusdur saat memimpin partainya. "PKB, Pemimpin Kami Buta," lelucon yang kerap digembar-gemborkan dan terbawa-bawa pada keseharian kami. Sementara, kami tak pernah tahu dan paham betul urusan politik dan pemerintahan yang selalu branding di televisi. Kami lebih suka menunggui kartun-kartun minggu, yang masih lebih masuk akal bagi kesehatan mental kami.

Seiring waktu, saya baru menyadari, seorang Gusdur adalah guru bangsa. Pemikiran-pemikirannya tak lekang oleh waktu. Meskipun cara bersikapnya biasa tidak cukup dimengerti oleh kebanyakan orang, namun ia tetap punya jiwa yang tulus dalam setiap tindak-tanduknya. Wajar jika Gusdur begitu dihormati oleh semua pemuka agama, tak hanya dari seagama.

Saya sebenarnya berharap menemukan lebih banyak kisah dan "kelucuan" hidup ala Gusdur dalam buku yang ditulis Greg Barton ini. Sayangnya, sebagian besar isi buku ini justru menceritakan kisah Gusdur dalam tampuk kemepimpinannya. Beberapa cerita yang digabungkan memang fokusnya dengan segala hal yang berhubungan dengan masa-masa kepemimpinan Gusdur menjadi Presiden keempat RI.

Padahal, jika biografi Gusdur dibuatkan menjadi semacam novel, akan lebih baik membacanya. Barangkali untuk saya, karena kecenderungan saya dalam mencerna cerita. Buku ini semacam referensi tambahan bagi siapa saja yang ingin menyelami sejarah Indonesia. Bisa menjadi rujukan untuk penelitian-penelitian. Hal itu yang membuat pembahasan agak berat.

Butuh hampir sebulan untuk menamatkan buku bersampul putih ini. Jumlah sekira 500 halaman dicicil dalam beberapa hari. Saya lebih sering meluangkan 30-60 menit untuk membaca beberapa lembar. Setelah itu, tak boleh dipaksa. Kalau capek, ya, berhenti.

Gara-gara sering kedapatan baca buku ini, seorang teman pernah nyeletuk, "Wah, sekarang kamu jadi NU, ya?". Padahal, saya tak pernah mengkhususkan diri saya dalam Muhammadiyah atau NU. Buktinya, tempat saya dilahirkan di Enrekang adalah basis Muhammadiyah, sedangkan keluarga besar dan kampung halaman di Jawa merupakan basis NU.

Tetapi, buku ini berbeda dengan buku membosankan lain yang pernah saya baca. Bagaimana pun beratnya pembahasan dalam buku ini, saya tetap berusaha menamatkannya. Saya tidak meninggalkannya begitu saja. Seperti makan kacang goreng, yang rasanya tak lezat-lezat-amat, tapi mulut tak ingin berhenti untuk terus mengunyahnya. Itu!

"Tidak penting apa pun agama atau sukumu. Kalau kamu bisa melakukan sesuatu yang baik untuk semua orang, orang tidak pernah tanya apa agamamu." --Gusdur

Intinya, buku ini bukan rekomendasi yang baik bagi pecinta novel atau cerita-cerita semacamnya. Namun, bagi siapa saja yang ingin belajar memahami sejarah Indonesia rentang orba-reformasi, biografi ini bisa menjadi referensi tambahan.

Tipis-tipis gini, bukunya keren lho. (Imam Rahmanto)

Ohya, buku kedua yang saya tamatkan tergolong buku yang baru-baru saja saya beli di Makassar. Hanya karena tertarik melihat penulisnya (yang legendaris), Ernest Hemingway, maka saya tak perlu berpikir dua kali memboyongnya. Saya punya dua koleksi baru dari Ernest. Ketebalannya tak seberapa, karena bisa ditamatkan sekali duduk. Makanya disebut novella.

Tapi jangan salah, buku berjudul The Old Man and The Sea ini merupakan karya yang membawa Ernest meraih penghargaan Pulitzer dan Nobel. Novel klasik ini sudah melalui berbagai zaman dan masih tetap dicetak sampai sekarang. Pun, saya tertarik membelinya karena beberapa kali menjumpai penyebutan judul bukunya itu di film-film ataupun novel terjemahan lain. Saya lupa buku atau film apa saja yang menyebutnya.

Seperti ulasannya, gaya bercerita Ernest memang cukup gurih. Saya menikmati caranya bercerita yang tidak terkesan mendayu-dayu. Bahkan, sebagaimana gaya para jurnalis, ia "lurus-lurus" saja menceritakan kisah nelayan tua yang melaut di hari ke-85. Setelah 84 hari melaut tanpa tangkapan ikan, ia akhirnya bisa bertarung dengan ikan besar dan membawanya pulang ke rumah. Sayang, prestasinya itu sirna dalam perjalanan pulang ke rumah.

Ah, rasa-rasanya tak elok jika saya harus menceritakan kisah buku yang hanya setebal seratusan halaman itu. Apalagi buku itu juga bisa habis dibaca dalam sekali lahap. Seolah menonton drama panggung monolog, kita akan dibawa berpetualang di lautan lepa oleh nelayan tua, Santiago.

"Tetapi siapa tahu? Setiap hari adalah hari baru. Memang lebih baik kalau ada keberuntungan. Tetapi aku lebih suka berusaha dengan tepat. Lalu kalau keberuntungan itu, datang kita sudah sepenuhnya siap." The Old Man and The Sea, Ernest Hemingway

Pada akhirnya, saya hanya bisa menutup penghujung tahun 2017 dengan dua buku terakhir itu. Saya harus menerima bahwa belum bisa menuntaskan target baca selama tiga tahun belakangan. Setiap kali menurunkan target bukunya, tetap saja tak kesampaian. Nasib, nasib! Sementara koleksi buku harus bertambah setiap tahun. []

Stok di daerah. (Imam Rahmanto)


--Imam Rahmanto--


Tidak ada komentar:

Posting Komentar