Minggu, 31 Desember 2017

Paket yang Tiba di 2017

Desember 31, 2017

Liburan akhir tahun?

Akh, saya tak tahu mau liburan dimana. Belum ada agenda. Lagipula, merayakan tahun baru sudah terlalu mainstream. Hampir semua orang sudah mulai mencari-cari kegiatan untuk menghabiskan detik-detik pergantian tahun. Penting gak sih?

Seandainya sudah punya tenda buat nge-camp, saya lebih suka menghabiskan waktu-waktu pergantian itu dengan hening malam. Menikmati waktu bersama satu atau dua orang teman, tanpa kebisingan petasan atau teompet. Berada di bawah jutaan kerlip bintang bakal lebih keren disini. Apalagi ada banyak pilihan bukit atau ketinggian di daerah ini. Sayang, musim hujan sedang tak berbaik hati memperlihatkan jalur milky way. 

Sejatinya, tahun baru tak mesti dirayakan dengan gegap gempita. Perayaan itu hanya kilasan-kilasan fisik, yang belum tentu bakal dikenang dan jadi pelajaran pada tahun berikutnya. Bukankah lebih baik kita mencerna dan meresapi;

Apa saja yang sudah dilalui selama setahun terakhir?

Foto dan desain kalender mini by Maulianna Camda. Manis, bukan?


#Pindah Tugas

Tahun ini menjadi momen perdana saya "dilemparkan" ke daerah, tepatnya Kabupaten Enrekang, oleh media-tempat-saya-bekerja. Tak ada unsur penolakan. Lagipula, saya menganggap itu sebagai bagian dari "setengah-pulang kampung". Karena sejarah lahir dan kenangan saya memang berasal dari sini meski kedua orang tua sudah tak lagi bermukim.

Awalnya, saya menyelipkan sedikit resah dalam pengalihan tugas itu. Wajar, saya yang sudah lama bersentuhan dengan suasana perkotaan merasa sedikit terkucilkan. Hanya saja, segalanya tentu berputar pada proses pembelajaran dan kebiasaan. Berjalannya waktu, saya sudah punya banyak alasan untuk bersyukur karena berada di daerah 1001 pegunungan ini.

Teman-teman baru, yang menawarkan ragam perspektif hidup. Penjelajahan baru, yang selalu kaya dengan pengalaman memandang hidup. Kebiasaan-kebiasaan baru, yang sedikit diantaranya juga (perlu disesali) menjadi kebiasaan buruk. Waktu-waktu, yang tentu jauh lebih berkualitas.

Selain itu, momen bertugas di daerah ternyata membawa keterampilan baru bagi saya. Buktinya, dua kali berturut-turut, grup nasional mendapuk buah penjelajahan saya disini sebagai naskah terbaik. Ini termasuk bagian terkerennya.

Pada hakikatnya, jika ada sepuluh alasan yang membuat saya tidak betah berada disini, saya selalu mengantongi seribu alasan untuk tetap bertahan di tempat ini. Wajar ketika saya "mengenyahkan" secara halus keinginan orang-orang kantor yang hendak mengembalikan posisi di perkotaan. Masih terlalu dini, menurut saya.

"Ya sudah, sekalian cari jodoh disana, Mam," cetus seorang teman.

Saya kurang yakin jika pencarian soal teman-hidup akan berakhir di tempat seperti ini. Jodoh, siapa yang tahu?
Kolase pekerjaan. (kolase by Imam Rahmanto)  


#Menggapai Atap Sulawesi


Ini salah satu pengalaman paling menakjubkan setahun terakhir ini. Sebenarnya, kota-kota atau tempat di Indonesia yang saya kunjungi semakin berkurang. Bisa dibilang, saya tak kemana-mana dalam rentang 2017 ini. Sungguh mengesalkan. Lha wong, saya harus standby di tempat yang berjarak tujuh jam perjalanan dari Makassar ini.

Okelah, saya tak bisa lagi berkunjung ke kota-kota lain di Indonesia. Padahal ada banyak tujuan dalam itinerary list saya. Sebagai gantinya, saya ditawari tempat-tempat memikat di Kabupaten Enrekang ini. Tempat-tempat yang hanya bisa dinikmati dari bawah atap langit, dengan seribu kerlip bintang di atasnya. Tak ada temaram cahaya kota yang menghalangi. Hanya ada alam yang selalu beresonansi.

Momen-tak-kemana-mana-di-Indonesia itu terbayar lunas oleh pendakian ke puncak tertinggi Sulawesi, Pegunungan Latimojong, Puncak Rante Mario. Apalagi Rante Mario adalah salah satu dari 7 Summits of Indonesia. Tak sia-sia rasanya memutarbalikkan otak demi memuluskan keinginan mendaki di kampung sendiri. Saya membuktikan pepatah lama di buku tulis usang, "Where there is a will, there is a way." Absolutely!

Ketika orang-orang bertanya,

"Sudah pernah mendaki Latimojong?"

saya dengan bangganya akan menjawab,

"Sungguh menyesal kiranya hidup di Enrekang dan seumur hidup belum pernah menyentuh triangulasi (patok) dari atas ketinggian 3430 mdpl!" #sombongg

Pendakian Latimojong juga mengantarkan saya pada beberapa keinginan lain. Barangkali, besok-besok, saya bisa menjejakkan kaki di puncak Rinjani atau Mahameru!!

Itu sebenarnya pose-pose menahan kedinginan. (Foto: Ohe Syam Suharso)


#Barang dan kegemaran baru

Pemenuhan kebutuhan tentu menjadi hal krusial bagi orang-orang yang telah menjalani masa kerja seperti saya. Meski jauh dari kehidupan kota dengan tawaran gelimang penghasilan, saya justru bisa memenuhi "keinginan-keinginan" bebas disini. Barang-barang idaman sudah ada dalam genggaman.

Mulai dari buku-buku yang masih bisa terpenuhi koleksinya, meskipun di Enrekang sama sekali tak punya toko buku, notebook (laptop) hingga kebutuhan (hobi) lainnya. 

Paling menarik, bagi saya, bisa memenuhi hasrat fotografi. Saya akhirnya bisa menggandeng kamera DSLR dalam setiap perjalanan melintas daerah. Saya mendapatkannya dari seorang teman, yang rela melepaskan Canon EOS 7D miliknya karena sudah memiliki koleksi teranyar. Entah bagaimana caranya, semesta berkonspirasi menyediakan barang itu untuk saya. Lebay!

Serius loh. Soalnya, tawaran pertama sempat terlepas dari genggaman saya. Karena waktu itu saya berpikir menyisihkan uang untuk keperluan adik saya yang baru saja mendaftarkan diri di sebuah perguruan tinggi di Jawa. Sebulan berikutnya, saya tak menyangka jika kamera miliknya itu masih available. 

"Tapi, Kak, kalau mauki, setengahnya mo dulu dih? Bulan depanpi kukasih ki sisanya," tawar saya sembari menyebutkan alasan kuliah itu.

"Janganmi deh. Karena kalau sedikit-sedikit kuambil, nanti malah habis duluan ki uang dipake,"

"Mending kau pake mi saja dulu itu kamera. Ndak apa-apa. Kumpul mi itu uang sampai bulan depan,"

Voila!! Tentu saja kesepakatan itu membuat mata saya berbinar-binar. Saya langsung mengiyakan dan tak lagi mengabaikan kesempatan kedua. Beruntung sekali saya dikelilingi orang-orang baik.

Selain itu, saya juga sudah punya alat-alat mengolah kopi. Meski tahun ini baru terpenuhi dua barang; Moka Pot dan Grinder. Paling tidak, saya sudah belajar menikmati olahan kopi tanpa mengandalkan sasetan. Dengan begini, saya juga belajar untuk menghargai jerih payah para petani kopi. Kalau kamu hidup di Enrekang, tentu paham bagaimana susahnya mengolah kopi yang berkualitas.

Gara-gara pendakian ke puncak Pegunungan Latimojong, saya juga semakin kalap memenuhi perlengkapan outdoor. Beberapa kali saya sudah melengkapinya via belanja online. Sampai-sampai warkop yang menjadi tempat landing barang-barang pesanan sudah mafhum.

"Itu kurirnya toh tidak bertanya-tanya mi lagi namamu kalau bawa barang kesini. Dia langsung bilang: ini kirimannya Imam lagi," ungkap barista, yang warkopnya seumur dengan waktu penugasan saya di Enrekang.

Ini namanya foto & kopi. (Imam Rahmanto)


#Beban yang bergerak

Barang-barang yang diidamkan itu tidak serta-merta membuat kebutuhan lain terbengkalai. Tanggung jawab sebagai anak tertua juga tetap menjadi alasan utama untuk fokus pada kebutuhan keluarga. Bahkan, tahun ini menjadi momen yang tak disangka-sangka bagi saya: bisa memenuhi pendaftaran kuliah adik saya.

Padahal, dalam hitungan saya di kala menginjak masa mahasiswa baru, biaya pendaftaran adik saya sangat-sangat-bukan-main-mahalnya. Status sebagai perguruan tinggi kesehatan memang kelihatan wajar. Ditambah, statusnya yang merupakan swasta.

"Nak, kalau kamu memang niat menyekolahkan adikmu, yakin saja, rejekimu tidak akan berkurang, kok. Begitu prinsip dasarnya orang tua menyekolahkan anak-anaknya," kata Bunda Baroroh.

Dan memang, saya justru tak merasa kekurangan dalam setahun terakhir ini. Sejujurnya, ada masa ketika saya harus bernapas dengan sesak dan mengelus dada. Akan tetapi, selalu ada pertolongan yang menjadi jalan keluarnya. Termasuk teman kantor yang selalu saya susahkan.

Sedikit demi sedikit, saya mulai paham bagaimana rasanya menjadi "orang tua". Keinginan adik saya untuk bisa bersekolah menjadi semacam bahan bakar tersendiri. Saya tak peduli lagi jika harus mengurangi porsi makan sehari-hari (padahal saya memang orangnya malas makan), menutupi kebutuhan pribadi dengan pinjaman teman (akhirnya bisa lunas kok), hingga menunda waktu pernikahan (lah, kalau ini kan memang belum ketemu jodohnya saja).

Pada akhirnya, hanya dengan melihat foto adik yang berseragam kuliah, dengan lagak centil bersama teman sejurusan, ternyata sudah bisa mengirimkan lengkungan senyum di bibir saya. *oke, mata saya berkaca-kaca pada bagian ini.

Beberapa hal juga sengaja saya lakukan untuk membuat orang tua berbahagia. Hal-hal sederhana seperti mengirimkan barang "surprise" yang sebenarnya jadi kebutuhan mereka. Harganya tak mahal, tapi nilainya yang jauh lebih penting. Saya memanfaatkan sistem belanja online, jadi tinggal mencantumkan alamat di Jawa. 

Saya semakin paham, senyum-senyum dari keluarga memang selalu menjadi doa tak kasat mata dalam kehidupan kita. Pun, apa yang saya peroleh hingga sekarang merupakan kombinasi dari doa mamak yang tak pernah berhenti berdenyut. *mata saya semakin sembap pada bagian ini.


#Rindu

Karena saya "mengasingkan" diri, tentu ada banyak rindu yang "ditabung" dalam setahun terakhir. Temu-temu mengurai benang rindu biasanya akan berakhir di kota Makassar. Sayangnya, saya masih belum rutin menyambangi kota yang menawarkan aroma rindu lebih pekat dari hujan itu.

Yah, selama 2017, ada banyak rindu yang harus terkubur dan tumbuh meninggi. Kawan-kawan lama, sahabat #Ben10, tempat-tempat favorit, kampus, hingga kisah-kisah usang yang hanya bisa menjadi kenangan...


***

Beberapa hal itu jadi bagian penting dalam pengalaman saya menjalani tahun 2017. Momennya memang lebih banyak saya lalui dari daerah yang masih teramat damai ini. Selebihnya, hal berulang yang pernah saya dapati pada tahun-tahun sebelumnya.

Apa yang saya inginkan tahun depan? Tentu saja saya masih punya beberapa keinginan sederhana hingga impian besar yang belum terpenuhi. Mengenai impian, tak ada salahnya memancang setingi-tinggi atmosfer. Yang menjadi kesalahan itu, belum apa-apa, kita sudah gamang dan mengkhawatirkan segala hal yang akan merintangi tujuan itu. That's LIFE, dude!

Dimana saya berada, nampaknya masih akan berputar sepanjang pegunungan menjulang ini. Penjelajahan lainnya menunggu dengan alam yang memanggil-manggil. Ketika tenda sudah siap, saya akan lebih sering menyapa dengan alam terbuka.

Untuk itu, saya tak ingin beresolusi terlalu muluk-muluk. Cukup dengan menjalani hidup apa adanya tanpa tersandera kekhawatiran-kekhawatiran tentang masa depan (dan kesibukan).

"Yesterday is history, tomorrow is a mistery. Today is a gift. That's why it's called the present." [Kungfu Panda, movie]

Selamat tinggal, 2017! ^^,


Pemandangan diambil dari atas situs batu dan masjid tua Tondon, Desa Tokkonan, Enrekang. (Imam Rahmanto)


--Imam Rahmanto--

Sabtu, 30 Desember 2017

Sosial(isasi)

Desember 30, 2017
(Foto: Imam Rahmanto)

Seorang teman tiba-tiba mengajukan pertanyaan menarik dalam perbincangan di grup WhatsApp (WA), 

"Motivasi kalian mengelola media sosial apa ya dan harus spesifik per media sosialnya?" sambil mencantumkan beberapa media sosial yang kini dimiliki semua orang.

Meski pertanyaan biasa, saya cukup tertarik menjabarkannya. Dewasa ini, media sosial memang sudah menjadi semacam "identitas" tersendiri bagi kebanyakan orang. Bahkan ada orang-orang yang menjadikan media sosial sebagai tempat mengeruk keuntungan, baik sebagai jembatan, maupun langsung mendapatkannya.

Facebook, sebenarnya bukan akun media sosial yang pertama kali saya kenal. Beberapa minggu sebelum berkenalan dengan media sosial berlatar biru itu, saya pernah punya Friendster. Bahkan sempat menikmati media sosial jaman old itu dengan memajang-majang foto. Eh, tapi, di jaman kami itu belum banyak ponsel yang bisa dipakai untuk mengambil gambar keren. Makanya, fotonya hanya satu atau dua saja. Sisanya, gambar-gambar yang dicari dari Google.

Saya menjadikan facebook sebagai salah satu wadah untuk bersosialisasi di dunia maya. Apalagi, penggunanya yang paling banyak diantara lingkungan saya. Semenjak "dipindahtugaskan" di Enrekang, saya melihat orang-orang lebih akrab dengan media sosial besutan Mark Zuckerberg ini. Bahkan, baru-baru ini, saya membantu seorang petani dari daerah pedalaman untuk membuat akun facebook miliknya.

Sayangnya, bagi saya, facebook sudah jadi ladang hoax belakangan ini. Saya jadi semakin malas berselancar di dalamnya jika bukan karena mengecek notifikasi dan informasi dari orang-orang di daerah.

Twitter, menjadi tempat saya mencurahkan uneg-uneg. Semacam tjurhat tjolongan lah. Maklum, sangat sedikit teman saya yang aktif di dunia kicau-kicau burung itu. Saya justru menemukan sedikit "ketenangan" dari media sosial dengan karakter terbatas itu. Dibandingkan facebook, Twitter jauh lebih aman. Meski begitu, informasi-informasi yang diperoleh dari sana justru lebih banyak.

Saya juga bisa lebih terhibur di Twitter. Biasanya dengan mengecek reply-an status yang jadi trending. Ada juga akun anonim yang bekerja membagikan hal-hal lucu semacam twitwar. Membacanya, jadi hiburan tersendiri. Apalagi kalau sudah soal "pepet-pepetan teroooss!!!". Hahahaha..... Makanya saya lebih memilih menginstal aplikasi Twitter di smartphone daripada facebook. 

Instagram, ini media sosial yang paling trending di kalangan anak-anak remaja hingga orang dewasa. Saya juga punya, dengan jumlah followers yang tak seberapa. Soalnya, jarang banget gue ngeksis disana. Saya hanya menjadikan IG sebagai akun untuk memamerkan hasil jepretan foto. Semacam galeri foto. Kalau twiter jadi tempat nyampah, termasuk nyampah foto, maka Instagram hanya untuk foto-foto pilihan saja.

Selama bertugas di Enrekang, saya lebih banyak belajar menggunakan kamera. Sekadar hobi. Apalagi, tulisan-tulisan saya akan lebih menarik jika bisa dijabarkan melalui beberapa gambar. Meski baru dalam tahap belajar, saya suka dengan perjalanan-perjalanan itu. Itulah mengapa saya lebih banyak mengikuti akun-akun fotografi lewat Instagram, mulai dari NatGeo hingga akun fotografernya sendiri.

Dulu, saya memulai Instagram untuk membagikan buku-buku yang menjadi koleksi saya. Sesekali, narsis dengan doodle. Tetapi, makin kesini, saya makin memilah apa yang ingin saya bagikan lewat Instagram. Sesekali (lagi), foto narsis tak mengapa. Asalkan tak banyak-banyak, soalnya bisa menyebabkan orang mual-mual.

Ada Goodreads, yang sebenarnya menjadi tempat membagikan ulasan-ulasan buku. Saya lebih sering menandai buku-buku bacaan dari sana.

Diantara teman-teman saya, nampaknya akun satu ini yang sangat jarang digunakan. Sesekali, saya mendapati buku-buku rekomendasi dari media sosial satu ini. Bagi para penggila buku, biasanya pasti gandrung dengan media sosial satu ini. Tiap tahun, ada nominasi buku-buku terbaik dengan berbagai genre-nya masing-masing. Bahkan, kita bisa "memaksa" diri sendiri untuk memasang target bacaan selama setahun terakhir.

Nah, tak ketinggalan, Pinterest, juga menjadi salah satu teman hiburan saya. Sesekali, saya membuka media sosial itu jika butuh ide. Toh, di dalamnya ada banyak ide-ide menarik yang menyegarkan kepala sekaligus mata. Apalagi tampilannya berupa grafis-grafis keren. Bagi yang suka dengan dunia desain grafis, sepertinya takkkan ketinggalan mengawasi laju timeline-nya.

Terlepas dari itu...

Semua akun-akun itu menjadi bagian individual saya. Tak ada urusannya dengan pekerjaan yang saya geluti. Saya acuh mencantumkan label perusahaan atau tempat bekerja saya disana. Biasanya kan orang-orang dengan bangganya mencantumkan tempatnya bekerja di Bio beberapa media sosial. Saya justru tak ingin dikenal melalui media sosial itu. Kalau mau kenalan lebih jauh, bisa kok duduk-duduk sambil ngopi-lah.

Karena tak semua yang kamu lihat di media sosial itu adalah benar adanya.

Saya juga agak enggan membagikan berita-berita dari media tempat saya bekerja. Sharing postingan dari blog saya justru bisa dibilang lebih banyak. Itu karena blog sudah menjadi "rumah" pribadi saya di dunia maya. Barangkali, orang-orang akan lebih mengenal saya dengan menyelami isi blog ini. Sementara media sosialnya, ya, seumpama hanya tempat bersosialisasi dengan kenalan-kenalan di dunia maya. Masa iya semua kehidupan kita harus dihubung-hubungkan dengan pekerjaan?

Yah, barangkali kegunaan media sosial bagi masing-masing orang memang berbeda. Anehnya, semakin tahun berganti, kita juga semakin lupa cara bersosialisasi yang sebenarnya di dunia nyata...

Seharusnya masa kanak-kanak dihabiskan dengan kepolosan seperti ini. (Imam Rahmanto)


--Imam Rahmanto--

Sabtu, 23 Desember 2017

Dua Buku yang Ditamatkan Sekaligus

Desember 23, 2017
Saya punya dua buku yang ditamatkan sekaligus pada akhir tahun ini. Padahal sudah penghujung tahun, dan target baca saya masih tidak banyak berubah. Baru 2/3 dari 30 jumlah buku yang berhasil rampung. Sementara stok-stok buku di kamar masih numpuk dan sebagian masih dibiarkan terbungkus plastik. Biar aromanya bertahan lama. Haha...

Tapi, sudahlah. Saya tak hendak membenarkan segala hal yang membuat saya lupa bagaimana cara membaca buku yang keren dan nyaman. Semakin dewasa, saya semakin sadar, ada banyak "alasan" yang bisa dibuat-buat agar tak membaca buku. Sementara alasan untuk membaca buku, meski barang 30 menit, bisa dihitung jari. Kalah banyak.

Dua buku yang saya tamatkan dalam rentang seminggu ini merupakan tumpukan yang sudah lama tertunda. Keduanya juga terbilang kontras. Baik dari segi cerita, maupun ketebalannya.

Salah satunya, Biografi Gusdur, sudah lama menjadi koleksi buku-buku tebal di rak. Kesempatan membaca buku karya penulis dari Australia, Greg Barton, justru saat saya berada di daerah ini. Ditambah, terlalu maraknya isu-isu tak sedap mengenai perpecahan agama membuat saya ingin menyelami seorang mantan Presiden RI ini.

Saya sungguh menyesal, di masa kecil dulu pernah mengolok-ngolok kondisi Gusdur saat memimpin partainya. "PKB, Pemimpin Kami Buta," lelucon yang kerap digembar-gemborkan dan terbawa-bawa pada keseharian kami. Sementara, kami tak pernah tahu dan paham betul urusan politik dan pemerintahan yang selalu branding di televisi. Kami lebih suka menunggui kartun-kartun minggu, yang masih lebih masuk akal bagi kesehatan mental kami.

Seiring waktu, saya baru menyadari, seorang Gusdur adalah guru bangsa. Pemikiran-pemikirannya tak lekang oleh waktu. Meskipun cara bersikapnya biasa tidak cukup dimengerti oleh kebanyakan orang, namun ia tetap punya jiwa yang tulus dalam setiap tindak-tanduknya. Wajar jika Gusdur begitu dihormati oleh semua pemuka agama, tak hanya dari seagama.

Saya sebenarnya berharap menemukan lebih banyak kisah dan "kelucuan" hidup ala Gusdur dalam buku yang ditulis Greg Barton ini. Sayangnya, sebagian besar isi buku ini justru menceritakan kisah Gusdur dalam tampuk kemepimpinannya. Beberapa cerita yang digabungkan memang fokusnya dengan segala hal yang berhubungan dengan masa-masa kepemimpinan Gusdur menjadi Presiden keempat RI.

Padahal, jika biografi Gusdur dibuatkan menjadi semacam novel, akan lebih baik membacanya. Barangkali untuk saya, karena kecenderungan saya dalam mencerna cerita. Buku ini semacam referensi tambahan bagi siapa saja yang ingin menyelami sejarah Indonesia. Bisa menjadi rujukan untuk penelitian-penelitian. Hal itu yang membuat pembahasan agak berat.

Butuh hampir sebulan untuk menamatkan buku bersampul putih ini. Jumlah sekira 500 halaman dicicil dalam beberapa hari. Saya lebih sering meluangkan 30-60 menit untuk membaca beberapa lembar. Setelah itu, tak boleh dipaksa. Kalau capek, ya, berhenti.

Gara-gara sering kedapatan baca buku ini, seorang teman pernah nyeletuk, "Wah, sekarang kamu jadi NU, ya?". Padahal, saya tak pernah mengkhususkan diri saya dalam Muhammadiyah atau NU. Buktinya, tempat saya dilahirkan di Enrekang adalah basis Muhammadiyah, sedangkan keluarga besar dan kampung halaman di Jawa merupakan basis NU.

Tetapi, buku ini berbeda dengan buku membosankan lain yang pernah saya baca. Bagaimana pun beratnya pembahasan dalam buku ini, saya tetap berusaha menamatkannya. Saya tidak meninggalkannya begitu saja. Seperti makan kacang goreng, yang rasanya tak lezat-lezat-amat, tapi mulut tak ingin berhenti untuk terus mengunyahnya. Itu!

"Tidak penting apa pun agama atau sukumu. Kalau kamu bisa melakukan sesuatu yang baik untuk semua orang, orang tidak pernah tanya apa agamamu." --Gusdur

Intinya, buku ini bukan rekomendasi yang baik bagi pecinta novel atau cerita-cerita semacamnya. Namun, bagi siapa saja yang ingin belajar memahami sejarah Indonesia rentang orba-reformasi, biografi ini bisa menjadi referensi tambahan.

Tipis-tipis gini, bukunya keren lho. (Imam Rahmanto)

Ohya, buku kedua yang saya tamatkan tergolong buku yang baru-baru saja saya beli di Makassar. Hanya karena tertarik melihat penulisnya (yang legendaris), Ernest Hemingway, maka saya tak perlu berpikir dua kali memboyongnya. Saya punya dua koleksi baru dari Ernest. Ketebalannya tak seberapa, karena bisa ditamatkan sekali duduk. Makanya disebut novella.

Tapi jangan salah, buku berjudul The Old Man and The Sea ini merupakan karya yang membawa Ernest meraih penghargaan Pulitzer dan Nobel. Novel klasik ini sudah melalui berbagai zaman dan masih tetap dicetak sampai sekarang. Pun, saya tertarik membelinya karena beberapa kali menjumpai penyebutan judul bukunya itu di film-film ataupun novel terjemahan lain. Saya lupa buku atau film apa saja yang menyebutnya.

Seperti ulasannya, gaya bercerita Ernest memang cukup gurih. Saya menikmati caranya bercerita yang tidak terkesan mendayu-dayu. Bahkan, sebagaimana gaya para jurnalis, ia "lurus-lurus" saja menceritakan kisah nelayan tua yang melaut di hari ke-85. Setelah 84 hari melaut tanpa tangkapan ikan, ia akhirnya bisa bertarung dengan ikan besar dan membawanya pulang ke rumah. Sayang, prestasinya itu sirna dalam perjalanan pulang ke rumah.

Ah, rasa-rasanya tak elok jika saya harus menceritakan kisah buku yang hanya setebal seratusan halaman itu. Apalagi buku itu juga bisa habis dibaca dalam sekali lahap. Seolah menonton drama panggung monolog, kita akan dibawa berpetualang di lautan lepa oleh nelayan tua, Santiago.

"Tetapi siapa tahu? Setiap hari adalah hari baru. Memang lebih baik kalau ada keberuntungan. Tetapi aku lebih suka berusaha dengan tepat. Lalu kalau keberuntungan itu, datang kita sudah sepenuhnya siap." The Old Man and The Sea, Ernest Hemingway

Pada akhirnya, saya hanya bisa menutup penghujung tahun 2017 dengan dua buku terakhir itu. Saya harus menerima bahwa belum bisa menuntaskan target baca selama tiga tahun belakangan. Setiap kali menurunkan target bukunya, tetap saja tak kesampaian. Nasib, nasib! Sementara koleksi buku harus bertambah setiap tahun. []

Stok di daerah. (Imam Rahmanto)


--Imam Rahmanto--


Kamis, 14 Desember 2017

Auto Pilot

Desember 14, 2017
"Eh, seharusnya kan tidak lewat sini?" tanya seorang kawan.

Kami berboncengan mengendarai motor diantara padatnya jalanan kota Makassar. Sebenarnya, malam sudah nyaris larut dan mengantarkan orang-orang terlelap dan lepas dari kesibukannya. Hanya saja, saya punya satu janji temu yang mesti dituntaskan dengannya malam itu.

Saya hampir saja lupa dengan lekuk dan kelok jalan kota. Sudah genap sebelas bulan saya menghabiskan waktu liputan di kampung halaman. Kesempatan berbaur dengan aroma kota hanya sesekali mampir dan dituntaskan. Saya masih terlalu bahagia dengan kehidupan ala "anak kampung". Selebar-lebarnya jalanan di kota, masih lebih lapang lintasan jalan di kampung. Bagaimana tidak, lebar jalanan di kota berbanding lurus dengan membeludaknya kendaraan bermesin para pekerja kantoran.

Jalan yang saya tempuh sebenarnya tak sepenuhnya salah. Ingatan-ingatan yang tersisa di kepala mengambil alih kendali. Seolah sudah terprogram otomatis di kepala. Barangkali karena sudah terbiasa melalui jalan yang sama, selama berminggu-minggu, atau bertahun-tahun silam. 

"Eh, alamatnya lewat!"

"Waduh, kejauhan. Harusnya bisa lebih dekat lewat sana,"

Tak jarang, hal yang sama juga berlaku dalam perjalanan-perjalanan menuju tempat lain. Sistem "auto pilot" biasanya menjadi panduan. Pokoknya, jika sudah terbiasa melalui jalan yang sama, berulang-ulang, berkali-kali, kita bisa mengendalikan motor tanpa kesadaran penuh. Biasanya ya, karena kita memang sedang memikirkan hal lainnya di waktu mengendarai motor. Jadinya, kesadaranlain mengambil alih.

Itu loh, biasanya dalam dunia penerbangan, sistem kendali otomatis semacam itu menjadi urusan komputer tanpa campur tangan manusia. Padahal, tanpa kita sadari, sebenarnya sistem itu juga berlaku dalam kepala kita dalam mengendalikan apa pun. 

(Foto: Imam Rahmanto)

Dalam kehidupan sehari-hari, sistem mengendarai motor pun hampir sama. Bagi saya, autopilot tetap bisa berlaku dalam kehidupan dan semesta. Semesta masing-masing juga punya sistem auto pilot-nya. Semesta manusia, bukan sekadar semesta antariksa, yang memang sudah berputar dan berjalan otomatis pada porosnya masing-masing. 

Ini hanya soal kebiasaan saja. Kebiasaan kita dalam menjalani kehidupan seharusnya sudah dipancang jauh-jauh hari. Tak sekadar "biarkan hidup mengalir seperti air." Sistem manual seperti ini sama sekali tak menunjukkan "kecanggihan" hidup. *tsahh.

Asalkan kita sudah menanamkan tujuan-tujuan itu dari awal, sistem auto pilot akan terbentuk seiring hal-hal yang diperbuat untuk meraih tujuan itu. Kadang-kadang ia bekerja tanpa disadari. 

Semisal mencanangkan tujuan hidup, cita-cita, impian-impian yang ingin diraih, barang-barang yang ingin dikoleksi, dicanangkan dengan cukup ketat. Tetapi bukan sekadar berimajinasi terhadap hal-hal itu. Seperti kata para pakar motivasi dan inspirasi, tak ada salahnya menuliskan di secarik kertas atau buku yang menjadi jurnal. Menuliskannya, pertanda kita benar-benar serius menginginkannya. Seperti kata gombalan, "kuukir namamu dalam hati agar benar-benar abadi dan tak terlupa oleh ingatan." 

Ketika benih "tujuan" itu sudah tertanam, apa pun yang dilakukan arahnya akan menuju kesana. 

Kendali otomatis itu juga sangat dibutuhkan loh. Semangat yang fluktuatif menunjukkan bahwa kita hanya manusia biasa. Di kala semangat sedang turun-turunnya atau jeblok sekaligus, mekanisme auto pilot bisa saja mengambil alih. Ia akan bekerja sampai kita kembali siap memegang kendali. 

Setidaknya, saya mengalami banyak hal dengan kendali otomatis itu. Betapa Tuhan punya kendali dalam mewujudkan apa yang bergaung dari alam bawah sadar... :) []


--Imam Rahmanto--

Minggu, 03 Desember 2017

Pelukan

Desember 03, 2017
Puncak Rante Mario begini, kapan lagi ya? (Imam Rahmanto)
"Kalau saya di Enrekang, ajak ke Latimojong nah," komentar seorang teman, yang berlanjut dalam pesan pribadi.

Teman lelaki saya itu baru saja mengomentari sebuah unggahan di Instagram, yang sebenarnya tak berkaitan dengan sesuatu yang dikomentarinya itu. Barangkali, hanya karena merasa momennya, setidaknya mengingatkan saya yang tidak begitu aktif dijumpai di dunia maya. 

Saya menganggap ajakan itu sebagai isyarat, bahwa sudah saatnya saya harus kembali mengepak ransel, menikmati alam. Meskipun saya ragu bisa menjadi penunjuk jalan baginya, setidaknya ada kenalan di sekitar pendakian itu kok. Momen dadakan semacam itu kerap kali lebih bernilai pahala dibanding hal-hal terencana dan sistematis.

Banyak hal yang kemudian saya pelajari sepulang dari proses pendakian itu. Saya dipaksa untuk melengkapi atribut travelling atau perjalanan yang bersifat pribadi atau individual. Sepulang dari gunung, langsung mengencangkan tekad untuk melengkapinya satu demi satu. Kalau sebelumnya saya menginvestasikan gaji bulanan dengan aroma buku, maka berbelok sedikit dengan investasi perlengkapan travelling. Lagipula, nyari toko buku di Enrekang teramat-sangat-amat-susah-sekali-banget.

"Jadi, ceritanya ini ketagihanko mau naik gunung terus?"

Meski bukan pecinta kegiatan mendaki, saya tetap menganggapnya hal yang perlu. Terkadang, kita butuh tempat-tempat maha luas untuk menghilangkan kejenuhan. Sementara alam sudah menyediakan banyak tempat untuk bisa merenung atau berkontemplasi. Siapa yang bisa menyangka saya akan lebih sering menjelajahi tempat-tempat serupa, meski di daerah yang berbeda?

Bukan naik gunungnya yang membuat saya begitu tertarik. Sebaliknya, saya justru menikmati alam yang begitu memukau dalam proses perjalanannya. Pemandangan baru selalu menawarkan sensasi baru. 

Barangkali, kehidupan saya akan diwarnai dengan banyak perjalanan. Entah bagaimana caranya, seolah ada yang membisiki untuk terus bergerak. Ayo, ayo, berjalanlah. Kuy! Bisikan-bisikan itu menjelma dalam bentuk paling dramatis yang bisa saya bayangkan. Bagi manusia, itu sudah terencana. Namun jauh di balik sepengetahuan akal kita, hal semacam itu semata-mata merupakan skenario yang dijalankan semesta.

Serius. Beberapa ajakan berpetualang sempat mendarat dalam lini harian saya. Beberapa hari yang lalu, ada tim pendakian difabel yang hendak menapaki puncak Gunung Sesean, di kabupaten tetangga. Saya cukup familiar dengan puncak itu. Beberapa anggota tim juga merupakan kenalan saya. Sayangnya, saya mengabaikan karena berada di luar wilayah "hukum" tugas peliputan sehari-hari.

"Imam, kau buatkan naskahnya ya," pesan redaktur keesokan harinya. 

Lantaran teman (senior) yang berada di daerah bersangkutan sedang keluar daerah. Lah, kalau tahu begitu, saya lebih baik ikut bersama rombongan itu sejak awal. Penyesalan yang mendalam. #jlebb

Kepolosan seperti ini masih cukup meneduhkan kepala diantara terik tugas-tugas menembus jarak. (Imam Rahmanto)

Kukuhnya pertahanan saya untuk tetap berada di Enrekang juga dilatari oleh keinginan untuk menjelajahi lebih banyak tempat keren. Saya sudah terlalu blenger dengan suasana perkotaan yang hanya bisa memamerkan kebahagiaan-kebahagiaan semu. 

"Yah, teman-teman saya juga lebih banyak bertanya dengan kehidupan saya disini. Mereka kabanyakan iri dengan aktivitas saya, yang kelihatan seolah banyak jalan," cerita seorang teman, yang pernah 18 tahun menghabiskan hidupnya di Jakarta.

Baginya, hidup di perkampungan jauh menawarkan kedamaian. Tak ada kepura-puraan. Meski tak dilumuri banyak kemewahan, ia masih bisa hidup dengan kepuasan. Masih bisa mengangkat tripod dan lensa kameranya ke tempat-tempat tinggi. Masih bisa tertawa-tawa menyiasati masalah percetakan sablonnya yang biasa ketiban listrik padam dadakan. Pun, kemewahan masih bisa dipesan sekali-dua kali melalui jaringan belanja online. Saya juga sudah terpapar "virus" belanja modern semacam itu.

Saya beruntung berkenalan dengan teman-teman yang suka-jalan dan photography enthusiast. Kadangkala, ajakan juga mendarat di pesan-pesan gawai. Tak jarang pula, mereka berpetualang hanya dengan mengajak anggota komunitasnya. 

Saya sendiri berpikir, ada masanya kejenuhan bakal menghampiri kehidupan disini. Sekuat-kuatnya saya bertahan agar tidak beranjak, perasaan itu akan tiba. Kejenuhan bukan hal yang bisa ditolak mentah-mentah. Setiap orang punya titik jenuhnya. Bahkan untuk ukuran orang-orang yang selalu punya waktu luang, tak melakukan apa-apa, bisa juga dihinggapi rasa bosan-tak-melakukan-apa-apa.  

Akan tetapi, sejenuh-jenuhnya kehidupan manusia, alam selalu punya cara terbaik untuk menghadiahkan pelukan. Kehidupan terakhir manusia, juga, semata-mata jatuh ke haribaan alam.

Setidaknya, saya mesti bersiap-siap saja dengan segala kemungkinan (kejenuhan) itu. Tak perlu kecewa dengan risiko terburuk. "Jangan karena takut gelombang, maka kamu takut berlayar. Jangan karena takut patah hati, kamu takut jatuh hati. Dan jangan karena takut hujan, maka kamu takut cuci motor." #ladalah

***

Beberapa hari ini, saya sedang  merancang perjalanan ke Makassar. Banyak janji temu yang mesti ditunaikan. Sayangnya, cuaca kota yang sedang tak bersahabat membuat saya tak ingin begitu tergesa-gesa. Hujan kian menyiratkan lebih banyak genangan di kota ribuan beton itu. Frasa genangan selalu karib dengan kenangan.

Sebenarnya beberapa kenangan memang patut disambangi. Mengutip status teman dari jauh, Apa persamaan mangga dan rindu? Bila sudah matang, segeralah dipanen. 

Jangan biarkan perasaan rindu terlalu lama dipendam. Rindu jalan. Rindu teman. Rindu keramaian. Padahal, sebenar-benarnya rindu saya berputar pada aroma buku-buku baru dari Gramed**. Hahaha...menghabiskan "nafsu" buku. Oiya, bisa sekalian nengok toko-toko perlengkapan outdoor sih.


--Imam Rahmanto--