Sabtu, 04 November 2017

Prahara


"Roger, capt. Roger," katanya, "Kapal kita sedang dihantam badai besar. Badai itu nampak sangat besar dan bergulung-gulung, capt,"

Sang kapten terdiam. Dalam hatinya, ia sempat berharap digulung saja bersama kapal kesayangannya. Apalagi, badai besar baru pertama kali mengadang kapal besarnya. Selama ini, tak ada ombak yang mampu menggores geladak kapalnya. Kini, badan kapal terombang-ambing nyaris terhempas. Beberapa menit lagi, barangkali, tubuh-butuh merekan akan ditemukan mengapung-apung di tengah lautan.

"Roger, capt. Apa yang harus kita lakukan sekarang?" kru kapal terlihat panik. Tali kekang dan layar sudah tercabik-cabik setengahnya. Retakan di lantai geladak.

Suara badai teramat bising. Kru kapal terlempar kesana-kemari. Letupan-letupan kecil bergantian menghabisi kapal. Petir menggelegar dari arah utara. Langit menunjukkan kemarahannya yang telah lama menguap di atas awan. 

Akan tetapi, jauh dalam dimensi yang berbeda, suara-suara itu menghilang ditelan sunyi. Senyap. Tak ada suara. Ombak hanya terlihat seperti slow-motion yang dikendalikan dari ujung remote tivi. Air mata mengucur tak tertahankan.


***

Saya tak tahu lagi bagaimana menggambarkan "kekacauan" yang sedang terjadi pada media tempat saya bernaung. Setelah lama berlayar, media besar itu akhirnya dihantam "ombak". Benar-benar memilukan. Kekacauan itu justru berasal dari dalam.

Beberapa orang memilih pergi. Akh, bisa dibilang, banyak orang. Tanpa ragu, mereka menanggalkan identitas sebagai pelaku media yang selama ini pernah disandangnya. Ditambah, mereka bukan orang-orang yang awam. Sebagian besar justru telah lama berkiprah dan membesarkan nama media itu selama belasan atau bahkan puluhan tahun.

Sebenarnya, saya tak heran. Hanya sedikit terkejut, ternyata bisa sebanyak itu yang memilih untuk meledakkan kekecewaannya.

"And no one's really sure who's lettin' go today, Walking away," [November Rain, Guns N Roses, song]

Apa yang pernah saya katakan pada teman, sepertinya benar-benar terjadi belakangan ini. Ketika kami masih jadi "anak baru", dua tahun silam. Kekhawatiran saya atas pimpinan tertinggi perusahaan media yang tak berasal dari latar belakang jurnalistik menguatkan hal itu. Toh, kepentingan pribadi bisnisnya lebih tinggi dibanding hitung-hitungan bawahannya yang sebagian besar merupakan pelaku jurnalistik.

"Seorang pemimpin yang baik seharusnya pernah merasakan sebagai apa yang dipimpinnya. Jika tidak, bagaimana cara ia memahami keinginan orang-orang yang dipimpinnya?" 

Gejala badai itu sebenarnya sudah kelihatan sejak kami masih baru. Sayangnya, pikiran kami sebagai wartawan baru tidak pernah mau memusingi urusan para petinggi redaksi itu. Selama kami bisa menjalani pekerjaan dengan baik, itu sudah cukup. Kepala kami sudah terlampau berat jika harus dijejali pertentangan antara petinggi-petinggi redaksi di meja rapatnya.

Mereka yang terbaik di bidangnya lantas pergi hanya dengan mengucap sepatah-dua patah kata di grup kantor. Menyisakan tanya bagi kami, wartawan yang masih seumur jagung. Menyisakan suntikan semangat dari mereka yang masih bertahan. Dari jauh, saya hanya bisa menduga-duga.

"Apa yang sebenarnya terjadi?"

(Imam Rahmanto)

***

Kepergian mereka memang tak bisa dihalang-halangi. Pun, saya hanya bisa manggut-manggut menatap kabar-kabar yang bagai bom waktu itu. Saya percaya, mereka sudah punya pertimbangan tersendiri untuk melepas "kenyamanan" yang selama ini mereka dapatkan.

Kita tidak bisa menghakimi orang-orang yang pergi sebagai orang yang tak ingin bertahan. Kadang kala, orang pergi karena memang ingin melakukan hal yang lebih baik. Mereka menganggap tak ada lagi ruang lebih baik jika harus tetap tinggal. Mereka tak sanggup melihat tempat yang disayanginya harus terus terluka. Cara mati seperti apa lagi yang lebih kejam dibanding penyiksaan dengan luka, sedikit demi sedikit?

Mungkin, kepergian itu sebagai cara untuk terus bertahan. Seberapa gigih idealisme yang ingin mereka pertahankan. Sudah saya katakan, kepentingan bisnis benar-benar menggerus idealisme dari dalam.

"Kalau mereka saja yang senior sekali dan sudah lama bersentuhan dengan media sudah tak tahan lagi dan memilih keluar, bagaimana dengan kita yang masih junior?" ucap seorang teman yang bertugas di daerah berbeda.

Apa yang mereka alami, sungguh jauh berbeda dibanding kami, yang lebih banyak berada di lapangan. Kebijakan kantor hanya serangkaian informasi dan perintah bagi kami. 

Penderitaan mereka, tentu jauh lebih pedih karena berhadapan langsung dengan kebijakan kantor. Saban hari, bertemu dalam ruang rapat dan pembahasan, yang barangkali membuat mata mereka berkaca-kaca. Bisa saja, cemoohan dirasakan langsung oleh mereka yang benar-benar pasang badan. Tentu saja, mereka jauh lebih merasakan bagaimana "sakit"nya. Saya menebaknya demikian.

Yah, kami hanya bisa menyimak perkembangan dari jauh. Bahkan, berjaga-jaga jika ada kemungkinan lain dari persoalan ini. Apalagi, tentu akan ada perubahan besar-besaran dari manajemen redaksi terkait prahara ini. 

"Apa kau juga akan berbuat hal yang sama?" tanya teman.

Sejujurnya, saya masih belum berpikir sejauh itu. Meski terkadang kekecewaan yang sama juga sempat saya rasakan, namun saya memilih untuk menjadi "penonton" sementara waktu. Beberapa kesempatan mesti dipertimbangkan matang-matang. Termasuk seberapa besar kemungkinan kami akan bertahan pada badai yang sama. 

Kenyataannya, saya memang tidak menyukai pimpinan perusahaan yang sama sekali tak punya latar belakang seperti kami, yang bersusah-payah menjalani tugas di lapangan. Ia tak pernah paham, sejauh mana menghargai jerih-payah kami yang berusaha melambungkan nama media yang sudah besar itu. Kehidupannya, bagi saya, terlihat benar-benar seperti anak-manja-yang-hanya-bisa-mewarisi-apa-yang-dimiliki-keluarganya. Memuakkan, bukan?

Namun di sisi lain, saya mencoba untuk mengamati saja. Entah, belakangan apakah kami masih kuat? Kami ini hanya "petarung" lapangan. Kalau pun harapan terakhir bertumpu pada kami, semoga saja esok lebih cerah. Setidaknya, pimpinan kami patut berbenah. Lebih baik lagi, jika sang ayah, yang lebih paham dunia jurnalistik, turun gunung dan mengatasi kekacauan ini. Dengan begitu, semua orang bisa saling memahami.

Saya tetap menghargai mereka yang memilih pergi. Seharusnya, kami angkat topi buat mereka karena berani memulai hal-hal baru. Tegap melangkahkan kaki dari hal-hal yang menyamankan kebanyakan orang. Bukan berarti mereka tumbang di tengah jalan. Tidak. Sama sekali tidak. Mereka justru menunjukkan betapa kuatnya tekad untuk bisa tumbuh dimana saja.

Orang-orang yang bertahan, tidak selamanya karena memegang teguh pendiriannya. Alih-alih karena ingin setia, sebagian hanya karena ragu, kan. Yah, ragu, apakah di tempat lain masih bisa lebih baik dari yang dimilikinya sekarang. Zona nyaman memang sering kali mengikat begitu nikmat.

Manusia memang punya kecenderungan memilih sesuatu yang sudah "jelas", ketimbang bertaruh pada hal-hal yang belum nampak oleh mata. 

Terlepas dari itu, semoga prahara semacam ini lebih membelajarkan pimpinan yang lain. Bahwa manusia juga punya hati, tempatnya kecewa atau bahagia. 

***

"Pelaut ulung tidak akan lahir dari ombak yang tenang," pepatah yang sering dilontarkan teman-teman, yang membenarkan kami bertahan.

Saya hanya skeptis. Bergantung pelaut seperti apa yang kita ingin lahirkan. Perompak, Marinir, Sichibukai, atau Yonkou.

"Tidak peduli yang datang dalam hidup, tetap ikuti jalan yang kau percaya. Inilah yang disebut dengan kebebasan." [Diego, One Piece, anime]




--Imam Rahmanto--

Tidak ada komentar:

Posting Komentar