Minggu, 26 November 2017

Mandek

Hujan baru saja berhenti. Beberapa jam yang lalu, mengguyur tanpa aba-aba. Saya  tak bisa memastikan langit mendung karena tertutup gulita. Kecuali, tak ada gemerlap bintang menjadi penandanya. Toh, samar-samar cahaya sabit masih setia bersinar. Beberapa hari ke depan katanya bakal ada purnama supermoon.

Seperti biasa, senyap menyergap diantara bangku-bangku warkop tongkrongan saya. Meskipun di kosan sudah tersedia Moka Pot untuk mengolah kopi jadi espresso, saya tetap rutin menyesap kopi dari tempat ini. Barangkali sekadar melepas perbincangan ringan dengan pemilik warkop atau teman tongkrongan rutin. Atau hanya menatapi layar notebook yang makin membuat mata saya minus.

Salah satu alat coffee-maker itu baru saja tiba beberapa hari yang lalu di kamar saya. Sebagaimana keinginan untuk mengolah kopi (tanpa instan) secara manual. Sayangnya, masih kurang grinder kopi. Terpaksa, saya memesan kopi setelah digrinder langsung. Tenang saja, saya juga akan melengkapi kosan dengan grinder kopi itu.

Beruntungnya lagi, seorang teman dari Jawa juga berniat mengirimkan biji kopi roasting-nya untuk saya. Malah, biji kopi dari Papua. Katanya sih, coffee-bean itu dari sisa pameran timnya di Jakarta. Lumayan kan buat eksperimen seduhan kopi. 

"Tapi situ yang tanggung ongkir ya," todong teman saya. Pastilah.

Saya memang butuh sesuatu yang baru untuk mengatasi kejenuhan dalam beberapa hari ini. Bahkan, urusan kirim-mengirim berita, saya jadi agak ogah-ogahan atau seadanya. Saya tidak begitu memaksakan diri lagi dalam hal pekerjaan. Bagi saya, bekerja ya secukupnya saja. Mau memaksakan diri juga tidak begitu bermanfaat karena keterbatasan "kuota" atau jatah berita bagi anak-anak daerah. Saya justru harus mengakalinya dari medium lain.

Semenjak "badai" kemarin, saya belum merasakan perubahan berarti di tubuh perusahaan media kami. Saya justru semakin melihat sesuatu yang memang dicemaskan petinggi-petinggi yang hengkang. Keberpihakannya semakin terasa sih. Barangkali hanya karena saya jauh berada di daerah, maka nuansanya tidak terasa. 

Itulah kerennya berada di daerah. Gonjang-ganjing di kota hanya sebatas kabar-kabar yang kabur. Seperti sinyal telepon yang juga agak lemah di perkampungan, informasinya juga tak begitu jelas. Tetapi, itu justru membuat kepala saya terasa tenang dan ringan.

Beberapa hari ini, saya sebenarnya ingin mencari tempat-tempat untuk berkemah atau menjelajah alam. Sayang sekali kalau Sleeping Bag (SB) anyar saya tergeletak saja di dalam kamar. Apalah daya, tak ada ajakan. Atau sebenarnya, saya saja yang tak ada inisiatif. Terlalu banyak pilihan mau kemana. Akhirnya, tergeletak dan tak ada yang terealisasi. Hahaha.....

Menggantikan perjalanan outdoor dengan membaca buku juga masih itu-itu saja. Toh, bacaan saya belum kelar-kelar. Selalu saja ada yang menyela atau mengganggu, termasuk keinginan membuka-buka media sosial. Ckckck... wajar kalau target bacaan tahun ini kembali mandek. 

Ini semua nyambung-nyambung saja ya? Iya. Gitu doang. 

Yang namanya Moka Pot itu tuh. (Imam Rahmanto)


--Imam Rahmanto--

Tidak ada komentar:

Posting Komentar