Sabtu, 18 November 2017

Bayang-bayang di Kepala

"Piye kabare, Pak?"

Saya mengawali perbincangan malam itu dengan pertanyaan basa-basi. Tak biasanya saya yang menelepon langsung ke orang tua. Mimpi malam sebelumnya benar-benar membuat pikiran saya agak was-was. Sedikitnya disusupi pula rasa takut.

Mimpi itu tak begitu menakutkan secara realitas. Hanya saja, berbagai tafsir mimpi yang saya jelajahi di Google menyebutkan itu sebagai hal yang sangat menakutkan. Primbon Jawa juga berkata hal yang sama. Gigi tanggal atau copot dalam adegan berdurasi relatif itu sama sekali tak bisa dikatakan bunga tidur. Tanpa sebab, dan tanpa ada adegan seperti yang selalu dibintangi Jackie Chan. 

Ditambah lagi, saya terbiasa tidur tanpa ekspektasi atau drama mimpi apa pun. Bangun tidur, plong, hanya sedikit kesiangan. Namun, entah bagaimana, mimpi itu baru saja muncul dan memaksa saya harus menekan tombol panggilan untuk adik saya, sebelum melanjutkan ke Bapak.

Saya awalnya menyangka, adegan packing dadakan - meninggalkan pekerjaan - menggeser prioritas di kepala, akan terjadi pada waktu itu. 

(Foto: Imam Rahmanto)

***

Belum genap setahun semenjak saya terbang sendirian ke kampung halaman keluarga. Bukan urusan besar, lantaran hanya sekadar menyambangi acara pernikahan saudara sepupu. Hanya saja, saya mesti memangkas jarak Enrekang - Lamongan demi meneguhkan kepercayaan bapak. Bagi bapak, anak sulungnya ini masih belum bisa dipercaya menyediakan prioritas keluarga di segala kerumitan kepala. Apalagi insiden kecil pernah membuat kami "berseteru".

Meski begitu, saya belajar banyak hal dari kejadian masa lampau itu. Bahwa keluarga selalu punya tempat khusus dalam kehidupan siapapun. Sekecil-kecilnya permintaan mereka, saya harus menyanggupi semampu-mampunya. Hal itu seiring peran saya yang semakin bertambah. Bapak sudah lama mengidap penyakit, yang memaksanya hanya bisa berbaring meski masih bisa jelas tertawa dan bercanda.

Saya belajar, pekerjaan dan keluarga tentu menjadi hal yang harus tetap terhubung. Hal itu pula yang memaksa saya harus tetap menghubungkan keduanya dengan berbagai jenis penerbangan lintas pulau. 

Saya pernah menjajal perjalanan laut karena biaya yang lebih murah. Hanya saja, waktu untuk bertemu keluarga jauh lebih lambat. Perjalanan melintas pulau tak ada harganya jika dibandingkan momen menatap senyum sumringah bapak dan mamak. Selain itu, saya sudah mulai harus membiasakan diri melakukan perjalanan udara, kelak.

Toh, teknologi sudah menawarkan banyak kemudahan bagi siapa saja yang ingin mencoba. Traveloka ternyata menjadi "kelinci percobaan" pertama saya dalam membandingkan harga dan jadwal tiket pesawat. Saya bisa lebih mudah memilih jadwal dan jenis penerbangan terbaik versi saya. 

Seusang-usangnya hape, harus selalu standby dengan perjalanan kemanapun. (Imam Rahmanto)

Pengalaman terbang beberapa kali membuat saya lebih condong pada maskapai tertentu. Bahkan, saya juga baru paham bahwa tiket melonjak di waktu-waktu tertentu. Itulah gunanya mengecek jadwal penerbangan jauh hari sebelumnya. 

"Serius, sudah pesan tiket? Trus piye cara mbayar? Lewat apa?" tanya bapak, suatu ketika.

Belum genap seminggu putranya melepas rindu di rumah, sudah ujug-ujug ingin kembali lagi berkutat dengan pekerjaannya. Baik masa lowong maupun Idul Fitri tak pernah bisa habis dinikmati di kampung pinggiran Bengawan Solo itu. Maklum, waktu libur pekerja media memang sangat minim. Bahkan, kami harus mencuri-curi waktu demi mengakali cuti.

"Sudah. Kan, tadi aku dari ATM di Pasar Babat. Ngirime ya lewat transfer. Kalau tiket sekarang ndak mesti nyetak. Sudah ada di dalam hape," jawab saya seadanya, menyesuaikan pengetahuan bapak soal smartphone dan tetek-bengeknya.

"Jadi, berangkat jam berapa?" 

Saya cukup menggeser jari diantara menu sederhana yang sudah disediakan Traveloka. Tiket elektronik biasanya sudah dikirimkan hanya dalam rentang perjalanan saya dari pasar kota ke rumah. Segalanya sudah terangkum jadi satu. Bahkan, fitur untuk menjadwal ulang penerbangan sudah tersedia begitu apik. Memesan tiket tak perlu ribet, kan?

Nampaknya saya memang sangat sulit berpisah dengan aplikasi travelling itu. Saya sengaja menyisakannya diantara beberapa aplikasi lain yang memberatkan memori. Alasannya tentu karena saya selalu berpedoman pada aplikasi berlogo burung biru itu untuk urusan tiket penerbangan, kemana pun. Meski pada kenyataannya, history saya masih berputar antara Surabaya dan Makassar. 

Oleh karena itu, jikalau pun kemarin bakal ada skenario packing dadakan - meninggalkan pekerjaan - menggeser prioritas di kepala, saya sudah percaya diri terbang dengan satu-dua ketukan lewat aplikasi tersebut

***

"Seger waras kok, Im..." jawaban Bapak yang tegas terasa melegakan.

Ia juga sedikit bercerita tentang keadaan rumah. Berganti dengan sedikit kabar saya tentang pekerjaan. Meski bukan pekerjaan yang diingini Bapak, lambat laun ia sudah mulai memahami dan nrimo bahwa PNS bukan satu-satunya pekerjaan keren buat anaknya. Ia mengerti, anaknya lebih suka bertualang di luar ruangan kedap udara dan ber-AC.

"Sudahlah, rausah dipikir. Anggap saja sebagai bunga tidur. Yang penting berdoa saja supaya ndak ada apa-apa," pesan Bapak dari ujung telepon. Saya mengangguk pelan. 

Tempat dimana rindu akan selalu berlabuh. (Imam Rahmanto)

--Imam Rahmanto--

Tidak ada komentar:

Posting Komentar