Minggu, 26 November 2017

Mandek

November 26, 2017
Hujan baru saja berhenti. Beberapa jam yang lalu, mengguyur tanpa aba-aba. Saya  tak bisa memastikan langit mendung karena tertutup gulita. Kecuali, tak ada gemerlap bintang menjadi penandanya. Toh, samar-samar cahaya sabit masih setia bersinar. Beberapa hari ke depan katanya bakal ada purnama supermoon.

Seperti biasa, senyap menyergap diantara bangku-bangku warkop tongkrongan saya. Meskipun di kosan sudah tersedia Moka Pot untuk mengolah kopi jadi espresso, saya tetap rutin menyesap kopi dari tempat ini. Barangkali sekadar melepas perbincangan ringan dengan pemilik warkop atau teman tongkrongan rutin. Atau hanya menatapi layar notebook yang makin membuat mata saya minus.

Salah satu alat coffee-maker itu baru saja tiba beberapa hari yang lalu di kamar saya. Sebagaimana keinginan untuk mengolah kopi (tanpa instan) secara manual. Sayangnya, masih kurang grinder kopi. Terpaksa, saya memesan kopi setelah digrinder langsung. Tenang saja, saya juga akan melengkapi kosan dengan grinder kopi itu.

Beruntungnya lagi, seorang teman dari Jawa juga berniat mengirimkan biji kopi roasting-nya untuk saya. Malah, biji kopi dari Papua. Katanya sih, coffee-bean itu dari sisa pameran timnya di Jakarta. Lumayan kan buat eksperimen seduhan kopi. 

"Tapi situ yang tanggung ongkir ya," todong teman saya. Pastilah.

Saya memang butuh sesuatu yang baru untuk mengatasi kejenuhan dalam beberapa hari ini. Bahkan, urusan kirim-mengirim berita, saya jadi agak ogah-ogahan atau seadanya. Saya tidak begitu memaksakan diri lagi dalam hal pekerjaan. Bagi saya, bekerja ya secukupnya saja. Mau memaksakan diri juga tidak begitu bermanfaat karena keterbatasan "kuota" atau jatah berita bagi anak-anak daerah. Saya justru harus mengakalinya dari medium lain.

Semenjak "badai" kemarin, saya belum merasakan perubahan berarti di tubuh perusahaan media kami. Saya justru semakin melihat sesuatu yang memang dicemaskan petinggi-petinggi yang hengkang. Keberpihakannya semakin terasa sih. Barangkali hanya karena saya jauh berada di daerah, maka nuansanya tidak terasa. 

Itulah kerennya berada di daerah. Gonjang-ganjing di kota hanya sebatas kabar-kabar yang kabur. Seperti sinyal telepon yang juga agak lemah di perkampungan, informasinya juga tak begitu jelas. Tetapi, itu justru membuat kepala saya terasa tenang dan ringan.

Beberapa hari ini, saya sebenarnya ingin mencari tempat-tempat untuk berkemah atau menjelajah alam. Sayang sekali kalau Sleeping Bag (SB) anyar saya tergeletak saja di dalam kamar. Apalah daya, tak ada ajakan. Atau sebenarnya, saya saja yang tak ada inisiatif. Terlalu banyak pilihan mau kemana. Akhirnya, tergeletak dan tak ada yang terealisasi. Hahaha.....

Menggantikan perjalanan outdoor dengan membaca buku juga masih itu-itu saja. Toh, bacaan saya belum kelar-kelar. Selalu saja ada yang menyela atau mengganggu, termasuk keinginan membuka-buka media sosial. Ckckck... wajar kalau target bacaan tahun ini kembali mandek. 

Ini semua nyambung-nyambung saja ya? Iya. Gitu doang. 

Yang namanya Moka Pot itu tuh. (Imam Rahmanto)


--Imam Rahmanto--

Sabtu, 18 November 2017

Bayang-bayang di Kepala

November 18, 2017
"Piye kabare, Pak?"

Saya mengawali perbincangan malam itu dengan pertanyaan basa-basi. Tak biasanya saya yang menelepon langsung ke orang tua. Mimpi malam sebelumnya benar-benar membuat pikiran saya agak was-was. Sedikitnya disusupi pula rasa takut.

Mimpi itu tak begitu menakutkan secara realitas. Hanya saja, berbagai tafsir mimpi yang saya jelajahi di Google menyebutkan itu sebagai hal yang sangat menakutkan. Primbon Jawa juga berkata hal yang sama. Gigi tanggal atau copot dalam adegan berdurasi relatif itu sama sekali tak bisa dikatakan bunga tidur. Tanpa sebab, dan tanpa ada adegan seperti yang selalu dibintangi Jackie Chan. 

Ditambah lagi, saya terbiasa tidur tanpa ekspektasi atau drama mimpi apa pun. Bangun tidur, plong, hanya sedikit kesiangan. Namun, entah bagaimana, mimpi itu baru saja muncul dan memaksa saya harus menekan tombol panggilan untuk adik saya, sebelum melanjutkan ke Bapak.

Saya awalnya menyangka, adegan packing dadakan - meninggalkan pekerjaan - menggeser prioritas di kepala, akan terjadi pada waktu itu. 

(Foto: Imam Rahmanto)

***

Belum genap setahun semenjak saya terbang sendirian ke kampung halaman keluarga. Bukan urusan besar, lantaran hanya sekadar menyambangi acara pernikahan saudara sepupu. Hanya saja, saya mesti memangkas jarak Enrekang - Lamongan demi meneguhkan kepercayaan bapak. Bagi bapak, anak sulungnya ini masih belum bisa dipercaya menyediakan prioritas keluarga di segala kerumitan kepala. Apalagi insiden kecil pernah membuat kami "berseteru".

Meski begitu, saya belajar banyak hal dari kejadian masa lampau itu. Bahwa keluarga selalu punya tempat khusus dalam kehidupan siapapun. Sekecil-kecilnya permintaan mereka, saya harus menyanggupi semampu-mampunya. Hal itu seiring peran saya yang semakin bertambah. Bapak sudah lama mengidap penyakit, yang memaksanya hanya bisa berbaring meski masih bisa jelas tertawa dan bercanda.

Saya belajar, pekerjaan dan keluarga tentu menjadi hal yang harus tetap terhubung. Hal itu pula yang memaksa saya harus tetap menghubungkan keduanya dengan berbagai jenis penerbangan lintas pulau. 

Saya pernah menjajal perjalanan laut karena biaya yang lebih murah. Hanya saja, waktu untuk bertemu keluarga jauh lebih lambat. Perjalanan melintas pulau tak ada harganya jika dibandingkan momen menatap senyum sumringah bapak dan mamak. Selain itu, saya sudah mulai harus membiasakan diri melakukan perjalanan udara, kelak.

Toh, teknologi sudah menawarkan banyak kemudahan bagi siapa saja yang ingin mencoba. Traveloka ternyata menjadi "kelinci percobaan" pertama saya dalam membandingkan harga dan jadwal tiket pesawat. Saya bisa lebih mudah memilih jadwal dan jenis penerbangan terbaik versi saya. 

Seusang-usangnya hape, harus selalu standby dengan perjalanan kemanapun. (Imam Rahmanto)

Pengalaman terbang beberapa kali membuat saya lebih condong pada maskapai tertentu. Bahkan, saya juga baru paham bahwa tiket melonjak di waktu-waktu tertentu. Itulah gunanya mengecek jadwal penerbangan jauh hari sebelumnya. 

"Serius, sudah pesan tiket? Trus piye cara mbayar? Lewat apa?" tanya bapak, suatu ketika.

Belum genap seminggu putranya melepas rindu di rumah, sudah ujug-ujug ingin kembali lagi berkutat dengan pekerjaannya. Baik masa lowong maupun Idul Fitri tak pernah bisa habis dinikmati di kampung pinggiran Bengawan Solo itu. Maklum, waktu libur pekerja media memang sangat minim. Bahkan, kami harus mencuri-curi waktu demi mengakali cuti.

"Sudah. Kan, tadi aku dari ATM di Pasar Babat. Ngirime ya lewat transfer. Kalau tiket sekarang ndak mesti nyetak. Sudah ada di dalam hape," jawab saya seadanya, menyesuaikan pengetahuan bapak soal smartphone dan tetek-bengeknya.

"Jadi, berangkat jam berapa?" 

Saya cukup menggeser jari diantara menu sederhana yang sudah disediakan Traveloka. Tiket elektronik biasanya sudah dikirimkan hanya dalam rentang perjalanan saya dari pasar kota ke rumah. Segalanya sudah terangkum jadi satu. Bahkan, fitur untuk menjadwal ulang penerbangan sudah tersedia begitu apik. Memesan tiket tak perlu ribet, kan?

Nampaknya saya memang sangat sulit berpisah dengan aplikasi travelling itu. Saya sengaja menyisakannya diantara beberapa aplikasi lain yang memberatkan memori. Alasannya tentu karena saya selalu berpedoman pada aplikasi berlogo burung biru itu untuk urusan tiket penerbangan, kemana pun. Meski pada kenyataannya, history saya masih berputar antara Surabaya dan Makassar. 

Oleh karena itu, jikalau pun kemarin bakal ada skenario packing dadakan - meninggalkan pekerjaan - menggeser prioritas di kepala, saya sudah percaya diri terbang dengan satu-dua ketukan lewat aplikasi tersebut

***

"Seger waras kok, Im..." jawaban Bapak yang tegas terasa melegakan.

Ia juga sedikit bercerita tentang keadaan rumah. Berganti dengan sedikit kabar saya tentang pekerjaan. Meski bukan pekerjaan yang diingini Bapak, lambat laun ia sudah mulai memahami dan nrimo bahwa PNS bukan satu-satunya pekerjaan keren buat anaknya. Ia mengerti, anaknya lebih suka bertualang di luar ruangan kedap udara dan ber-AC.

"Sudahlah, rausah dipikir. Anggap saja sebagai bunga tidur. Yang penting berdoa saja supaya ndak ada apa-apa," pesan Bapak dari ujung telepon. Saya mengangguk pelan. 

Tempat dimana rindu akan selalu berlabuh. (Imam Rahmanto)

--Imam Rahmanto--

Sabtu, 11 November 2017

Melambat Sederhana

November 11, 2017

Udara berhembus begitu lembut. Matahari masih sementara dalam perjalanannya menuju senja. Pohon-pohon yang rindang, membayang ke atas permukaan jalan beraspal. Tak peduli debu-debu berebutan mengganggui angin.

Saya mengayuh pedal sepeda pelan saja. Semilir lembutnya semakin meneduhkan diantara pemandangan permukaan sungai. Hujan kemarin, membuat permukaannya tak bisa memantulkan lebih banyak bayangan. Hanya arusnya saja yang terus mengikis pinggiran.

Untuk pertama kalinya kembali, saya menikmati senja dengan menggowes sepeda. Barangkali sudah hampir setahun saya tidak menatap bebas kilasan sore dengan kegiatan ringan semacam ini. Terakhir kali, saya bersepeda di jalan-jalan kota Makassar. Tentu suasananya jauh berbeda dengan perkampungan yang lebih menawarkan aroma udara bebas polusi.

Seorang teman mengawalinya dengan ajakan di sela-sela waktu ngopi.

"Betulan? Ayo pale. Ada ji sepedaku juga di rumah. Sudah lama tidak olahraga begitu," ujarnya, "Adakah sepedamu?"

Saya menggeleng. Sebenarnya, sejak berada di Makassar, saya sudah lama mengidamkan memiliki sepeda untuk kegiatan-kegiatan santai berkeliling kota. Hanya saja, kesibukan menyita lebih banyak waktu dan perhatian.

"Gampang ji itu, Kak. Sudah lama mi saya minta (pinjam) sepedanya Pak Ulla kalau mau ka pakai. Dari kemarin ji sebenarnya dia bilang," jawab saya, memantapkan diri.

Seorang kenalan di salah satu dinas memang pernah menawarkan sepedanya untuk dipakai. Ketimbang sepedanya hanya tinggal di rumah dan berkarat. Hanya saja, saya baru punya waktu dan betul-betul bersemangat, beberapa hari yang lalu. Apalagi ada ajakan teman yang juga ingin menurunkan berat badannya. Barangkali lemak di sekitar perutnya jadi target prioritas.

Berbeda halnya dengan saya, yang hanya ingin menikmati suasana bersepeda. Saya tak perlu ribet menyiapkan banyak hal, sampai pada tataran perlengkapan ala berpakaian olahraga. Intinya, saya bersepeda.

Saya rindu menikmati waktu seperti itu. Seolah waktu melambat dengan begitu sistematis. Bersepeda bisa membawa kita pada pandangan yang lebih banyak. Bukan sekadar kilasan-kilasan asal lewat seperti yang dialami dalam kecepatan tinggi. Semakin lambat, hawa udara terasa semakin bersahabat.

Mata bisa lebih santai ke segala arah. Memandangi keadaan di sekitar lorong atau jalan-jalan kota. Bertemu lebih banyak orang. Membalas senyum dan sapaan ramah dari kenalan. Ditambah earphone di telinga, bersepeda semakin melankolis. Merasa damai bisa sesederhana itu.

Kok sendirian? Aduh, itu pertanyaan memancing deh. (Foto: Jufriadi)

***

Beberapa waktu lalu, pimpinan di Makassar bertanya tentang kondisi saya di Enrekang. Pertanyaannya juga secara halus meminta untuk saya kembali bertugas di Makassar, mengingat kondisi perusahaan yang sempat dihempas "badai". Sayangnya, saya masih belum bisa mengemas barang-barang. Saya lebih memilih bertahan agak lebih lama.

Sementara itu, buntut "badai" itu membuat beberapa teman saya ditarik dengan alasan memperkuat desk di perkotaan. Tawaran jadi redaktur tentu cukup menggiurkan. Saya mah apa atuh, masih betah jadi orang desa.

Jauh dari hiruk-pikuk perkotaan membuat saya lebih banyak berpikir. Huru-hara di kantor tidak begitu signifikan berpengaruh "aromanya" pada kami, yang berada ratusan kilometer jauhnya. Hanya sebatas informasi, yang dibungkus prasangka satu sama lain. Meski begitu, saya tak pernah ingin terlalu jauh menanggapinya. 

Di luar dari itu, saya masih tetap aktif menjalin hubungan dengan teman dan senior yang memilih pergi. Mereka sebenarnya masih belum menyerah mengajak saya menjadi salah satu bagiannya. Hanya saja, beberapa pertimbangan membuat saya masih kukuh untuk berada disini. 

"Kapan-kapan kalau saya di Makassar, nantilah kita ketemu ngobrol sambil ngopi-ngopi, Kak," ujar saya.

Mereka juga nampaknya paham bahwa, untuk saat ini, saya takk begitu tertarik kembali beradu kesibukan di tengah kota. Tawaran mereka juga sekaligus untuk saling bertanya kabar. Tak boleh ada kebencian diantara pilihan-pilihan yang dijalani.

Kehidupan di perkotaan itu ibarat mengendarai motor, yang melaju kencang tanpa permisi. Tujuan lebih cepat tercapai, apalagi dengan sedikit menarik gas. Sayang, kesibukan bercampur aduk. Meski dihujani denga berbagai fasilitas ala orang-orang kota, tetap saja ada nuansa kedamaian yang terenggut. Seolah-olah, kita hidup hanya untuk bekerja dan terus bekerja.

Untuk kali ini, saya lebih senang mengendarai sepeda. Iramanya memang lebih pelan dan menggambarkan kesederhanaan. Akan tetapi, saya lebih punya waktu untuk sekadar melemparkan senyum, sapaan, atau lambaian tangan ke arah orang-orang yang melintas dalam kehidupan saya. Saya lebih leluasa melalui jalan yang sempit. Tak perlu khawatir pula bakal kehabisan bahan bakar.

"Kenapa tidak mau lagi kembali?" tanya salah seorang teman.

Bukannya tak mau. Hanya saja, untuk saat ini, nampaknya saya belum mengukuhkan minat. Apalagi ada banyak hal yang belum saya tuntaskan di kabupaten kelahiran saya ini. Salah satu misi saya memuncaki Pegunungan Latimojong memang sudah terbayar lunas. Tetapi masih ada banyak keindahan lain lagi yang mesti ditelusuri dan tak bisa dijalani terburu-buru.

Barangkali, kelak, saya akan kembali ke kota kok. Karena siapa yang bisa menebak ke arah mana kita akan berlabuh dan berhenti? Selama pedal tetap digowes, roda berputar lancar, kehidupan akan terus berjalan, bukan?. []



--Imam Rahmanto--

Sabtu, 04 November 2017

Prahara

November 04, 2017

"Roger, capt. Roger," katanya, "Kapal kita sedang dihantam badai besar. Badai itu nampak sangat besar dan bergulung-gulung, capt,"

Sang kapten terdiam. Dalam hatinya, ia sempat berharap digulung saja bersama kapal kesayangannya. Apalagi, badai besar baru pertama kali mengadang kapal besarnya. Selama ini, tak ada ombak yang mampu menggores geladak kapalnya. Kini, badan kapal terombang-ambing nyaris terhempas. Beberapa menit lagi, barangkali, tubuh-butuh merekan akan ditemukan mengapung-apung di tengah lautan.

"Roger, capt. Apa yang harus kita lakukan sekarang?" kru kapal terlihat panik. Tali kekang dan layar sudah tercabik-cabik setengahnya. Retakan di lantai geladak.

Suara badai teramat bising. Kru kapal terlempar kesana-kemari. Letupan-letupan kecil bergantian menghabisi kapal. Petir menggelegar dari arah utara. Langit menunjukkan kemarahannya yang telah lama menguap di atas awan. 

Akan tetapi, jauh dalam dimensi yang berbeda, suara-suara itu menghilang ditelan sunyi. Senyap. Tak ada suara. Ombak hanya terlihat seperti slow-motion yang dikendalikan dari ujung remote tivi. Air mata mengucur tak tertahankan.


***

Saya tak tahu lagi bagaimana menggambarkan "kekacauan" yang sedang terjadi pada media tempat saya bernaung. Setelah lama berlayar, media besar itu akhirnya dihantam "ombak". Benar-benar memilukan. Kekacauan itu justru berasal dari dalam.

Beberapa orang memilih pergi. Akh, bisa dibilang, banyak orang. Tanpa ragu, mereka menanggalkan identitas sebagai pelaku media yang selama ini pernah disandangnya. Ditambah, mereka bukan orang-orang yang awam. Sebagian besar justru telah lama berkiprah dan membesarkan nama media itu selama belasan atau bahkan puluhan tahun.

Sebenarnya, saya tak heran. Hanya sedikit terkejut, ternyata bisa sebanyak itu yang memilih untuk meledakkan kekecewaannya.

"And no one's really sure who's lettin' go today, Walking away," [November Rain, Guns N Roses, song]

Apa yang pernah saya katakan pada teman, sepertinya benar-benar terjadi belakangan ini. Ketika kami masih jadi "anak baru", dua tahun silam. Kekhawatiran saya atas pimpinan tertinggi perusahaan media yang tak berasal dari latar belakang jurnalistik menguatkan hal itu. Toh, kepentingan pribadi bisnisnya lebih tinggi dibanding hitung-hitungan bawahannya yang sebagian besar merupakan pelaku jurnalistik.

"Seorang pemimpin yang baik seharusnya pernah merasakan sebagai apa yang dipimpinnya. Jika tidak, bagaimana cara ia memahami keinginan orang-orang yang dipimpinnya?" 

Gejala badai itu sebenarnya sudah kelihatan sejak kami masih baru. Sayangnya, pikiran kami sebagai wartawan baru tidak pernah mau memusingi urusan para petinggi redaksi itu. Selama kami bisa menjalani pekerjaan dengan baik, itu sudah cukup. Kepala kami sudah terlampau berat jika harus dijejali pertentangan antara petinggi-petinggi redaksi di meja rapatnya.

Mereka yang terbaik di bidangnya lantas pergi hanya dengan mengucap sepatah-dua patah kata di grup kantor. Menyisakan tanya bagi kami, wartawan yang masih seumur jagung. Menyisakan suntikan semangat dari mereka yang masih bertahan. Dari jauh, saya hanya bisa menduga-duga.

"Apa yang sebenarnya terjadi?"

(Imam Rahmanto)

***

Kepergian mereka memang tak bisa dihalang-halangi. Pun, saya hanya bisa manggut-manggut menatap kabar-kabar yang bagai bom waktu itu. Saya percaya, mereka sudah punya pertimbangan tersendiri untuk melepas "kenyamanan" yang selama ini mereka dapatkan.

Kita tidak bisa menghakimi orang-orang yang pergi sebagai orang yang tak ingin bertahan. Kadang kala, orang pergi karena memang ingin melakukan hal yang lebih baik. Mereka menganggap tak ada lagi ruang lebih baik jika harus tetap tinggal. Mereka tak sanggup melihat tempat yang disayanginya harus terus terluka. Cara mati seperti apa lagi yang lebih kejam dibanding penyiksaan dengan luka, sedikit demi sedikit?

Mungkin, kepergian itu sebagai cara untuk terus bertahan. Seberapa gigih idealisme yang ingin mereka pertahankan. Sudah saya katakan, kepentingan bisnis benar-benar menggerus idealisme dari dalam.

"Kalau mereka saja yang senior sekali dan sudah lama bersentuhan dengan media sudah tak tahan lagi dan memilih keluar, bagaimana dengan kita yang masih junior?" ucap seorang teman yang bertugas di daerah berbeda.

Apa yang mereka alami, sungguh jauh berbeda dibanding kami, yang lebih banyak berada di lapangan. Kebijakan kantor hanya serangkaian informasi dan perintah bagi kami. 

Penderitaan mereka, tentu jauh lebih pedih karena berhadapan langsung dengan kebijakan kantor. Saban hari, bertemu dalam ruang rapat dan pembahasan, yang barangkali membuat mata mereka berkaca-kaca. Bisa saja, cemoohan dirasakan langsung oleh mereka yang benar-benar pasang badan. Tentu saja, mereka jauh lebih merasakan bagaimana "sakit"nya. Saya menebaknya demikian.

Yah, kami hanya bisa menyimak perkembangan dari jauh. Bahkan, berjaga-jaga jika ada kemungkinan lain dari persoalan ini. Apalagi, tentu akan ada perubahan besar-besaran dari manajemen redaksi terkait prahara ini. 

"Apa kau juga akan berbuat hal yang sama?" tanya teman.

Sejujurnya, saya masih belum berpikir sejauh itu. Meski terkadang kekecewaan yang sama juga sempat saya rasakan, namun saya memilih untuk menjadi "penonton" sementara waktu. Beberapa kesempatan mesti dipertimbangkan matang-matang. Termasuk seberapa besar kemungkinan kami akan bertahan pada badai yang sama. 

Kenyataannya, saya memang tidak menyukai pimpinan perusahaan yang sama sekali tak punya latar belakang seperti kami, yang bersusah-payah menjalani tugas di lapangan. Ia tak pernah paham, sejauh mana menghargai jerih-payah kami yang berusaha melambungkan nama media yang sudah besar itu. Kehidupannya, bagi saya, terlihat benar-benar seperti anak-manja-yang-hanya-bisa-mewarisi-apa-yang-dimiliki-keluarganya. Memuakkan, bukan?

Namun di sisi lain, saya mencoba untuk mengamati saja. Entah, belakangan apakah kami masih kuat? Kami ini hanya "petarung" lapangan. Kalau pun harapan terakhir bertumpu pada kami, semoga saja esok lebih cerah. Setidaknya, pimpinan kami patut berbenah. Lebih baik lagi, jika sang ayah, yang lebih paham dunia jurnalistik, turun gunung dan mengatasi kekacauan ini. Dengan begitu, semua orang bisa saling memahami.

Saya tetap menghargai mereka yang memilih pergi. Seharusnya, kami angkat topi buat mereka karena berani memulai hal-hal baru. Tegap melangkahkan kaki dari hal-hal yang menyamankan kebanyakan orang. Bukan berarti mereka tumbang di tengah jalan. Tidak. Sama sekali tidak. Mereka justru menunjukkan betapa kuatnya tekad untuk bisa tumbuh dimana saja.

Orang-orang yang bertahan, tidak selamanya karena memegang teguh pendiriannya. Alih-alih karena ingin setia, sebagian hanya karena ragu, kan. Yah, ragu, apakah di tempat lain masih bisa lebih baik dari yang dimilikinya sekarang. Zona nyaman memang sering kali mengikat begitu nikmat.

Manusia memang punya kecenderungan memilih sesuatu yang sudah "jelas", ketimbang bertaruh pada hal-hal yang belum nampak oleh mata. 

Terlepas dari itu, semoga prahara semacam ini lebih membelajarkan pimpinan yang lain. Bahwa manusia juga punya hati, tempatnya kecewa atau bahagia. 

***

"Pelaut ulung tidak akan lahir dari ombak yang tenang," pepatah yang sering dilontarkan teman-teman, yang membenarkan kami bertahan.

Saya hanya skeptis. Bergantung pelaut seperti apa yang kita ingin lahirkan. Perompak, Marinir, Sichibukai, atau Yonkou.

"Tidak peduli yang datang dalam hidup, tetap ikuti jalan yang kau percaya. Inilah yang disebut dengan kebebasan." [Diego, One Piece, anime]




--Imam Rahmanto--