Selasa, 31 Oktober 2017

Menanjak (7-end)

"Apa yang membuatmu terus melangkah?"

"Tujuan akhir,"

"Bagaimana jika kamu ujung-ujungnya kecewa, karena tak sesuai harapan?"

"Setidaknya, aku sudah mencoba,"

Bunga yang indah, bukan? (Imam Rahmanto)
***

Istirahat memang menjadi kunci utama bagi pendaki jika ingin kembali fit dan bertenaga dalam setiap langkahnya. Buktinya, kami sudah merasa lebih baik setelah beristirahat di Pos V. Perjalanan mendaki ke puncak sudah semakin dekat dan membuat kami lebih bersemangat.

Saya pun sudah leluasa membuka kamera dari tas yang tersangkut di sebelah bahu. Di tengah-tengah perjalanan, kami akan berhenti sejenak. Sembari melepas lelah, Rahim tak jarang menunjukkan beberapa jenis bunga endemik Pegunungan Latimojong, Rhododendron. Bunga-bunga itu pula yang "menarik" perjalanan saya kemari.

"Bunga-bunga itu sudah pernah didatangi peneliti dari LIPI, khusus hanya untuk mendata bunga-bunga itu," ungkap Rahim, suatu ketika, yang menjadi bonus keinginan saya menjalani ekspedisi ini.

"Makanya kita dulu, sedikit-sedikit berhenti. Belum 10 meter, berhenti lagi. Karena murni memang untuk penelitian. Kami dulu yang temani," paparnya lagi.

Ukurannya cukup kecil. Semula, saya menyangka bentuknya seperti anggrek. Ternyata, bunga-bunga itu jauh lebih mungil. Pada musim tertentu, jalur pendakian akan lebih ramai bunga-bunga langka Rhododendron.

Bunga ini lebih mirip bunga semak biasanya. Orang-orang yang lewat biasanya hanya akan menyangkanya sebagai bunga liar. Padahal, bunga ini termasuk salah satu varitas yang terancam punah di dunia. Ditambah, hanya bisa tumbuh di atas ketinggian pegunungan. Bisa jadi, lebih mudah mendapatkan bunga edelweis ketimbang Rhododendron di jalur pegunungan semacam ini.

Kami juga sempat berpapasan dengan rombongan pendaki lain di Pos VI, sebelum tengah hari. Sudah saya katakan, Latimojong ini tak pernah sepi pendaki setiap hari. Ada sekira 6 pendaki baru saja turun dari puncak Rante Mario. Mereka merupakan mahasiswa dari salah satu UKM kampus UNM. Saya mengenal unit kegiatan mahasiswa itu, lantaran pernah aktif di unit lainnya, LPM Profesi.

Meski dikenal sebagai "tangga seribu", namun pendakian selepas Pos V bisa dijalani dengan sedikit lebih santai. Tanahnya tak lagi securam dari Pos III. Konsekuensinya, kami masih harus menanjak melewati tangga-tangga alami dari paduan akar pohon dan tanah lembap.

Kelembapan udara semakin mendekatkan kami pada habitat lumut yang sesungguhnya. Tumbuhan epifit itu mulai nampak merambati beberapa pohon dan permukaan tanah. Semakin mendaki, semakin terlihatlah habitatnya yang membentuk ekosistem hutan.

EKSPEDISI LATIMOJONG - HUTAN LUMUT
Klik atau geser untuk gambar lainnya. (by Flickr)


Hutan lumut, yang berada diantara jalur Pos VI dan Pos VII memang sangat istimewa. Tak ada yang menyangkal keindahannya. Bagi saya, ini lebih terlihat seperti hutan-hutan di negeri dongeng. Sebut saja film-film Alice in Wonderland, Lord of The Rings, atau Narnia.

Pendaki mana pun pasti selalu menyempatkan untuk berhenti dan mengambil gambar di tempat ini. Kapan lagi bisa mendapati lumut-lumut yang menjadi selimut pohon. Hijau dimana-mana. Lembap dan lembut udara berpadu jadi satu. Pun, kami seperti tersihir untuk duduk lebih lama disini. Jepretan paling banyak juga salah satunya berasal dari tempat kece ini.

"Bagaimana seandainya ada sutradara yang ambil film disini juga dih," celetuk teman.

Saya sendiri tak bisa membayangkan bagaimana perjuangan mereka bakal membawa alat-alat sekaligus artisnya. Kami saja, yang orang kampung, benar-benar dibuat menguras perasaan.

Kendala lainnya hanya ada ketika mencapai Pos VII. Hujan deras langsung mengguyur dan memaksa kami berteduh dengan memasang flysheet. Sebelum tiba disana, gerimis yang menyertai pendakian memang sudah mulai menyapa. Kami terpaksa mengencangkan raincoat dan pelindung lain pada barang bawaan. Kami menyangka itu hanya tetesan kabut karena ketingian kami yang semakin jauh dari permukaan laut.

Berkerumun seadanya menanti hujan reda. (Imam Rahmanto)

Sejam lamanya kami terjebak berkerumun di bawah flysheet. Bahkan, tiga pendaki dari Palopo juga ikut menghangatkan diri. Saat kami tiba, mereka baru saja ingin menuju puncak. Sayangnya, hujan mengadang perjalanan.

Yah, dinginnya hujan hanya bisa dinikmati lewat hangat aroma kopi.

***

"Mudah-mudahan di atas nanti kita tidak kena badai," Rahim berharap, yang tentu saja diamini oleh kami.

Tuhan ternyata ikut mendengar keinginan itu. Apalagi kami memang berencana mendirikan tenda di puncak triangulasi. Selama perjalanan menuju Rante Mario, hanya kabut-kabut tipis yang menyertai. Hujan sepertinya sudah telanjur amblas di Pos VII tadi.

Saat ingin bermalam di pos triangulasi, hal yang paling penting adalah persediaan air. Kalau tak membawa persediaan sedari awal, bisa dipastikan kami takkan bisa minum ataupun memasak. Beruntungnya, kami mendapati telaga atau danau kecil, selepas Pos VII, yang terisi air. Barangkali, karena hujan deras yang sempat melanda pegunungan.

Sesuatu yang khas juga akan menjadi pemandangan lazim dalam perjalanan mencapai puncak. Batu-batu ditumpuk di sekitar jalur menuju pos tertinggi. Sepanjang jalan, kami bisa mendapati tumpukan itu. Ada yang tinggi. Ada pula yang agak rendah. Bergantung jenis batu yang ingin ditumpuk.

"Itu permainannya anak-anak pendaki kalau disini," ungkap Rahim.

Nyatanya, tumpukan batu itu sekaligus bisa menjadi penanda jalan bagi para pendaki bahwa "anda sudah berada di jalan yang benar!" Kalau tersesat, maka carilah batu-batu bertumpuk itu. Kondisi berkabut akan semakin menghalangi pandangan dalam perjalanan menuju pos tertinggi.

Mendekati puncak, suasana lebih terbuka. Pijakan lebih didominasi oleh bebatuan cadas dan kehiitam-hitaman. Nampaknya pengaruh lumut yang membuatnya menghitam.

Mengisi persediaan air untuk dibawa ke puncak. (Imam Rahmanto)

***

Sebenarnya, kami sangat beruntung bisa tiba sebelum petang. Sayang, tak ada sunset yang terlihat dari sekeliling triangulasi. Cuaca agak mendung dan tertutup kabut. Hanya awan putih menggelayut dengan posisi sejajar permukaan puncak Rante Mario.

Menikmati petang dari atas puncak gunung benar-benar lengang. Kami hanya berdelapan. Sedikit pohon. Dua tenda. Perlengkapan seadanya. Sunyi. Kecuali celetukan untuk mengusir sepi.

Saya justru menikmati momen semacam itu. Sebenar-benarnya merenung. Saya bisa bersujud tanpa perlu memikirkan apa-apa. Hening diantara semak puncak gunung. Hanya bersyukur. Merenung. Menekuri alam dari atas ketinggian 3430 mdpl. Dari puncak tertinggi dengan pemandangan lautan awan, ada lebih banyak syukur yang mesti dihaturkan. Tak terkecuali kami yang berhasil mencapai puncak Rante Mario.

Ketika berada di alam luas seperti ini, kepala bakal disusupi pemikiran, "Ternyata alam selalu lebih lapang dan luas dibanding segala masalah yang kami anggap ruwet." Kita, manusia, hanya debu di alam semesta. Maka apa yang pantas kita sombongkan?

Langit di atas sana begitu lapang, kenapa kita tak pernah bersyukur? 

Semakin jauh kita berjalan, semakin luas kita melihat, semakin lapang perasaan yang diperoleh. Akar dari syukur yang seharusnya terus dipelihara oleh setiap manusia.

Saya bisa saja berlama-lama memandangi lautan awan di sekeliling triangulasi Rante Mario. Apalagi momen langka. Sayang, udara dingin memaksa kami agar berlindung di dalam tenda atau sleeping bag. 

Milky Way dari Puncak Rante Mario. (Imam Rahmanto)

Saya bisa merasakan dinginnya udara menunggui milky way di malam hari. Hawanya nyaris membekukan jari-jari kaki. Biasa, saya hanya berbekal sendal keluar malam-malam di puncak triangulasi. Sementara hembusan angin malam bisa mencapai suhu 5 derajat. Saking dinginnya, saya sempat membakar jari-jari kaki di atas kompor. Nyaris melepuh, tanpa terasa.

Saking nyamannya pula dengan momen puncak Rante Mario, kami juga nyaris bangun kesiangan. Kalang-kabut lah kami dibuat pagi-pagi karena baru sadar matahari sudah agak naik dan melewati batas cakrawala paginya.

"Padahal bangun ja subuh-subuh. Itu kamera kubiarkan saja ambil time-elapse," ucap Ohe, yang ikut terburu-buru keluar tenda menyambut pagi.

Latimojong, kami menjumpai pagimu.

***

Lelah? Jelas yang namanya pendakian pasti akan membuat kita mandi keringat. Akan tetapi, rasanya tetap menyenangkan. Susah atau senangnya, kami nikmati seadanya. Kalau bisa, tertawa-tawa saja kami dibawanya. Apa pun yang bisa menjadi pengobat lelah, kami nikmati. Selama masih bisa pulang sama-sama dan tak kekurangan apa pun, (kecuali tenaga) hayuk lah!

Terima kasih untuk teman-teman yang menyertai perjalanan keren itu. Betapa perjalanan semacam ini menjadi bukti bahwa apa pun bisa dilalui selama punya tekad dan keinginan yang berapi-api. Barangkali ini memang agak lebay, tetapi pada kenyataannya saya sungguh meresapinya.

Saya sangat menghargai keinginan yang tetiba diamini malam itu. Rencana-rencana yang diulur jauh dan sampai terlunta-lunta. Tak ada waktu yang bisa diseragamkan, namun selalu ada waktu untuk duduk bersama membicarakan segala hal. Buktinya, tujuan kita seragam untuk meraih puncak tertinggi.

Saya memang seharusnya berterima kasih kepada kalian yang bersedia menyisipkan waktu. Rahim yang sudah kesekian kalinya menasbihkan sebagian hidupnya untuk gunung dan kopi. Ohe, yang kali kedua muncak, demi menuntaskan dahaga imajinasi fotonya. Pandi, yang menjadi momen ketiga menapaki alam liar Latimojong. Beruntung pula, sukses menambahkan satu srikandi dalam tim kami, Icha.

Pengalaman baru dan pertama memang selalu meninggalkan kesan paling dalam di ruang-ruang hati saya. Wajar jika saya sulit move on. #uhuk. Dan takkan pernah move on dari kisah-kisah perjalanan itu. Saya sudah menempeli label kenangan di salah satu sudutnya.

Kelak, jangan sekali-kali mengajukan tanya soal Latimojong. Jika tidak, cerita yang tak putus-putus akan meluncur dengan irama yang paling indah. [end]

Kurang gaya sih. (timer)

Momen edisi terbatas. Minus saya. (Imam Rahmanto/ timer)



--Imam Rahmanto--

Tidak ada komentar:

Posting Komentar