Jumat, 20 Oktober 2017

Menanjak (5)

"Masih jauh, ndak?"

Napas kami sudah mulai ngos-ngosan. Baru saja beristirahat beberapa menit, kami sudah kembali dihadapkan dengan jalur "tak-normal".

Kami terpaksa meninggalkan tiga orang teman lainnya di Pos II. Rombongan terbagi dua. Hanya saya dan Ohe yang berminat menyambangi lokasi air terjun yang disebut-sebut paling tinggi itu. Tiga teman dari Karangan membantu menuntun arah ke air terjun itu.

"Jangan lama-lama. 30 menit saja disana, karena kita masih harus lanjut perjalanan," pesan Rahim, yang menyiapkan packing untuk perjalanan berikutnya.

Saya terpaksa hanya bisa mengandalkan jepretan smartphone di momen menempuh perjalanan ini. (Imam Rahmanto)

Bukan hal mudah melintasi jalur di tengah-tengah hutan itu. Arahnya berseberangan dengan jalur menuju pos pemberhentian selanjutnya. Wajar jika tak banyak pendaki yang mengetahui (atau menyempatkan) lokasi Air Terjun Sarung Pakpak.

Beberapa kali, kami mesti menyilang arus sungai. Memanjat dataran yang lebih tinggi sembari terus mengikuti aliran sungai. Di bagian lain, menyeberangi batang pohon yang tumbang di atas bebatuan dan sungai. Sebenarnya, prioritas keselamatan utama: kamera.

"Makanya saya suruh mereka yang bawa kameraku," kata Ohe, tanpa raut wajah berdosa.

Beban tas punggung dengan tripod itu digendong dengan santainya oleh teman porter kami, Samrin. Lincah saja ia memanjat dan melompat dari satu batu hingga berpindah ke dahan yang lain.

Aktivitas panjat-memanjat menjadi pemandangan lazim dalam perjalanan kami. Parahnya, tak ada pegangan akar-akar pohon. Adanya cuma akar rumput yang bisa putus sekali tarik. Kami seolah berlatih memanjat tebing dari ketinggian tiga meter di atas permukaan sungai. Meskipun jaraknya hanya sepanjang 5 meter. Satu-satunya pegangan (hidup) ada di celah-celah batu. Beruntunng kaki saya masih mudah bertumpu karena mengenakan sendal.

Meski begitu, yakinlah, usaha berkeringat dan berdarah-darah pegal-pegal akan berbuah manis jika sudah melihat wujud Air Terjun Sarung Pakpak. Gemuruh air terjun begitu jelas terdengar. Tak heran jika suaranya begitu memecah keheningan, karena ketinggian yang mencapai kisaran 70 meter. Dalam jarak sepuluh meter, tempias air juga sudah mengenai wajah.

"Waaahhhh....kerenn!!"

Kami langsung mengambil jarak dan "jurus" untuk momen spesial itu. Tiga orang pemandu kami tak ketinggalan memasang "kuda-kuda" dengan kamera handphone seadanya. Momen seperti itu, kurang afdol jika tidak bergaya selfie. 
JELAJAH - AIR TERJUN SARUNG PAKPAK
Klik atau tunggu sejenak untuk gambar lainnya. (by Flickr)

Saya sendiri benar-benar menikmati kejernihan aliran air terjun itu. Dinginnya tak menghalangi kaki saya untuk menembus permukaannya. Mencari langkah diantara cipratan air. Menciptakan momen-momen terbaik untuk belajar memotret alam. Air terjun itu begitu menggoda. Yah, menggoda kami untuk berlama-lama mengabadikannya.

Pemandangan di sekitar air terjun juga masih teramat asri. Tak ada sampah-sampah bekas peninggalan manusia. Memang, air terjun ini belum banyak terjamah. Hal itu yang membuatnya istimewa dan masih nampak perawan. Apalagi, dibungkus dengan lumut-lumut bebatuan dan batang pohon yang rebah.

Kelak, jika jalan menuju air terjun ini bakal dirintis, barangkali keindahannya taakkan sama lagi. Tak ada jaminan kunjungan para pelancong bisa menjaga keindahan di sekitar air terjun ini. Karena kita adalah manusia, sumber lebih banyak salah dan kelalaian.

***

Kami tak bisa berlama-lama di tempat yang menawan itu. Kami harus memangkas waktu perjalanan untuk tiba di pos camp yaitu Pos V. Kami berencana bakal bermalam disana, sebelum melanjutkan perjalanan ke puncak tertinggi.

Sayangnya, perjalanan pulang ke Pos II tidak semudah menyusur jalan semula. Kegiatan "panjat-memanjat" jauh lebih sulit karena diputar mundur. Saat memanjat "turun", tentu saja agak sulit menjangkau ruang pijakan diantara dinding batu. Salah seorang teman kami, Arman, tercebur lantaran terpeleset dari pijakannya. Beruntung saja, ia tercebur di aliran air sungai yang tidak begitu dalam. Kami yang hendak menolong, justru hanya bisa menertawainya.

"Sedangkan yang sudah biasa bolak-balik saja kesana bisa jatuh begitu, apalagi kita yang baru-baru ini," ujar Ohe, yang selalu menghitung langkahnya dalam perjalanan dengan sangat-teramat-sangat hati-hati.

Kami tertawa saja melihat Arman yang bangkit dari tenggelamnya. Pakaiannya kuyup. Meski begitu, kulitnya sudah telanjur tebal menahan dingin untuk ukuran penduduk Dusun Karangan.

Mereka tak butuh pakaian tebal untuk menahan dinginnya alam Latimojong. (Imam Rahmanto)
Dalam perjalanan berat semacam itu, tak ada hiburan yang bisa mengalihkan pikiran selain menertawakan segala hal. Yah, bagi saya, apa pun bisa ditertawakan. Hal-hal lucu bisa ditemui di sepanjang perjalanan.

Di kala teman-teman mengalihkan tenaganya pada kedua ujung tungkai dan bahu, saya biasanya lebih banyak berbual. Bercerita apa saja. Dasarnya memang saya orang yang cerewet. Setidaknya, hanya ingin mengundang wajah-wajah yang merekah dalam perjalanan ini. Tak elok rasanya wajah ditekuk selama perjalanan. Beban sudah berat, masih ditambahi pula dengan muka yang ingin bersungut-sungut. Belum lagi beban hidup.

Seperti halnya hidup, beban yang berat tak semestinya mengurangi esensi perjalanan itu sendiri. Kita seharusnya menikmatinya. Meresapi setiap lelah yang mendera. Pun, meresapi adrenalin dan emosi yang berkelebat dalam bahayanya perjalanan. Adrenalin itu bukan untuk ditakuti, melainkan ditaklukkan. Bukankah setiap perjalanan seharusnya mengajari kita cara untuk tersenyum?

"Everything that drowns me makes me wanna fly..."[Counting Stars, One Republic; lagu]

Sepertinya begitu. Perjalanan kami bertambah berat setiap langkahnya. Kami yang baru saja tiba di Pos II, harus segera berkemas. Waktu sudah menunjukkan angka tiga. Kata Rahim, waktu perjalanan hingga Pos V masih cukup lama. Jaraknya memang tak begitu jauh, namun berbanding terbalik dengan medan yang harus kami tempuh.

"Kita harus cepat kalau mau sampai di Pos V tidak kemalaman," ucapnya berkemas-kemas saat melihat kami baru saja kembali tiba di Pos II.

Padahal, lelah masih belum sepenuhnya pudar. Menyaksikan keindahan air terjun Sarung Pakpak memang menjadi bonus tersendiri bagi saya dan Ohe. Malangnya, bonus itu juga berlaku kelipatan untuk tenaga kami yang dihabiskan dalam perjalanan. Terkuras dua kali. Perut yang baru saja terisi kalori dari nasi, sayur, mie, telur seolah langsung terbakar setengahnya. Dampaknya, kelak, baru terasa belakangan. Bikin meringis.

"Ini mau langsung pergi? Wah, baru ki juga mau istirahat," ucap saya setengah bercanda. "Tunggu pale. Shalat dulu sekalian."

Tak butuh waktu lama untuk mengepak kembali perlengkapan. Sebentar lagi, gemuruh air akan menghilang dan semakin tenggelam. Gua kecil itu akan dibalut keheningan kembali, sebelum pendaki lainnya tiba disana.

Kata orang, kekuatan sejati perjalanan ke Puncak Rante Mario bakal diuji diantara jalur pendakian menuju Pos III. Tantangan sesungguhnya ada di jalur berkemiringan nyaris 90 derajat itu. Butuh mengencangkan tekad lebih kuat. Butuh kaki dan tangan yang lebih cekatan.

Menyaksikan rute tanjakan dari Pos II, membuat saya terhenyak dan berpikir ulang, "Apakah kami bisa pulang dalam keadaan hidup-hidup?" Ternyata, toh, kami juga butuh doa yang dirapalkan terus-menerus.

[bersambung]


***

"Butuh berapa episode lagi supaya ceritamu itu berakhir?" tanya seorang teman, suatu ketika.

Sejujurnya, saya sendiri kebingungan bagaimana mengakhiri cerita ini. Bagi saya, banyak hal yang seharusnya terekam dalam perjalanan ini. Mengakhirinya sekaligus, seolah memaksa saya untuk melupakan detail perjalanannya sekaligus. Saya tak ingin, menganggap perjalanan itu sekadar angin lalu, yang tak punya detail menarik untuk dikisahkan bagi anak-cucu kelak. Sebagaimana cara terbaik mengabadikan kenangan adalah dengan menuliskannya.

"Pernah ki naik mendaki Latimojong, Pak?" tanya salah seorang anak saya, di suatu masa, beberapa tahun mengulur jauh ke depan.

"Pernah," jawab saya tersenyum bangga. "Duduklah disini. Maka akan kuceritakan padamu, bagaimana bapakmu dulu memulainya dengan sangat keren."


--Imam Rahmanto--


Tidak ada komentar:

Posting Komentar