Senin, 16 Oktober 2017

Revolusi ala Binatang

Oktober 16, 2017
Target bacaan kian menipis. Dalam sepuluh bulan terakhir, saya baru bisa menamatkan hingga 18 buku dari target bacaan tahunan sekitar 30 buku. Saya semakin sadar, kesempatan untuk bisa leluasa membaca buku bukanlah hal mudah. Semakin usia bertambah, prioritas lain juga kian menumpuk.

Dalam sebulan belakangan ini, saya coba mengejar target itu. Salah satunya dengan menamatkan beberapa buku bacaan yang lebih tipis. Curang. Eh, jangan salah. Buku yang tipis tidak menjadi jaminan saya akan menamatkannya hanya dalam sekali duduk. Buktinya, beberapa buku justru terkapar tak berdaya di lantai kamar. Sisanya, diselesaikan sekadar kewajiban untuk "menuntaskan-apa-yang-sudah-saya-mulai."

(Foto: Imam Rahmanto)

Diantara beberapa bacaan itu, buku Animal Farm karya George Orwell (nama assli Eric Arthur Blair) menjadi bahan paling ciamik bagi saya. Yah, saya menyukai segala kesederhanannya. Mulai dari jumlah halaman, jalan cerita, cara berpikir, hingga alur yang menghubungkannya satu sama lain. Meskipun, jujur, saya tak menyukai ending-nya.

Kisahnya tentang Peternakan Manor yang dimiliki dan dikelola oleh keluarga Tuan Jones. Berbagai hewan ternak hidup di dalamnya sebagai peliharaan keluarga itu. Kedamaian kehidupan peternakan sebenarnya berlangsungsebagaimana lazimnya. 

Hingga salah satu babi tua yang paling dihormati hewan lainnya, Mayor tua, menceritakan mimpinya kepada para penghuni peternakan itu. Dari sanalah akar pemberontakan binatang dimulai dan dipelopori oleh dua babi cerdas, Snowball dan Napoleon. Mereka berdua menggerakkan pemberontakan terhadap Tuan Jones dan keluarganya. Itu hanyalah awal pemberontakan para hewan-hewan itu terhadap manusia.

"Manusia adalah satu-satunya makhluk yang mengonsumsi tanpa menghasilkan. Ia tidak memberi susu, ia tidak bertelur, ia terlalu lemah menarik bajak, ia tidak bisa lari cepat untuk menangkap terwelu. Namun, ia adalah penguasa atas semua binatang. Manusia menyuruh binatang bekerja, manusia mengembalikan seminimal mungkin hanya untuk menjaga supaya binatang tidak kelaparan, sisanya untuk manusia sendiri. Tenaga kami untuk membajak tanah, kotoran kami untuk menyuburkan tanah, tetapi tak satu pun dari kami memiliki tanah seluas kulit kami." [hal.6]

Revolusi adalah salah satu hal utama yang ingin disampaikan dalam buku ini. Sebenarnya, kalau ingin dicerna lebih jauh, isi cerita ini justru lebih berat dan rumit. Politik kekuasaan diceritakan dengan gaya-gaya alegori. Bagaimana Snowball dan Napoleon bekerja sama untuk menggulingkan kekuasaan Tuan Jones. Namun, pada akhirnya, kedua pemimpin kawanan hewan itu justru berseteru dalam perbedaan pendapat. Napoleon mengambil alih kekuassaan dengan cara menyingkirkan Snowball.

Barangkali, hewan-hewan Animal Farm bisa mengajarkan kita tentang namanya berdemokrasi. Perputaran kekuasaan yang berlandaskan pada kekuatan dan kecerdikan. Babi-babi ini menunjukkan "cara main" politik yang begitu elegan. Revolusi, meski diawali dengan niat yang baik, tetap saja akan memudar pada perjalanannya. 

Babi-babi ini memulai pemberontakan dengan begitu epik. Menciptakan tujuh peraturan "kehidupan hewan" animalisme setelah kemenangannya. Seiring waktu, aturan itu dilanggar demi kepentingan kekuasaan. 

Membaca Animal Farm memang lekat jika dikaitkan dengan kehidupan manusia itu sendiri. Berbagai intrik dan sifat-sifat binatang ada pada diri manusia. Malah, George Orwell nampaknya memang ingin menunjukkan bagaimana "politik" manusia yang sebenarnya. Wajar jika buku ini diganjar beberapa penghargaan dan masuk sebagai 100 best books di Inggris versi BBC. Tak peduli jika buku ini diterbitka tahun 1945.

Sayangnya, saya masih dibuat penasaran dengan ending kisah pemberontakan hewan-hewan ini. Khususnya nasib si cerdik Snowball yang disingkirkan oleh Napoleon. Dan lagi, hewan-hewan yang akhirnya sadar kehidupan mereka tak jauh lebih dibanding sebelumnya. (*)

“The only good human being is a dead one.” Animal Farm, George Orwell

 
--Imam Rahmanto--

Jumat, 06 Oktober 2017

Menanjak (4)

Oktober 06, 2017
(Foto: Ohe Syam Suharso)

Pekerjaan mendaki gunung selalu diasosiasikan dengan hal-hal berat dan sangat melelahkan. Tak jarang, para calon pendaki harus dibekali dengan olah tubuh atau pemanasan, jauh hari sebelumnya. Minimal, kaki dibuat terbiasa bergerak dengan aktivitas fisik. Lari, misalnya.

Hanya saja, kata teman, sebenarnya pendakian perdana tak mesti diiming-imingi ketakutan. Kekuatan hanya menjadi nomor sekian dari persiapan menghadapi segala tantangan di atas gunung. Tubuh kekar, bodi besar, muka sangar bukan jaminan agar tetap tegar. Satu-satunya hal utama yang dibutuhkan hanyalah tekad... yang membara.

Pada awalnya, itu memang hanya semacam "bualan" atau "omong kosong" agar kita mau ikut menanjak mempertaruhkan segala kekurangsiapan. Semacam pembenaran untuk memuluskan ajakan mendaki bersama teman-teman yang lainnya. Akan tetapi, saya merasakan sendiri, tak ada yang lebih dibutuhkan seorang pendaki selain tekad. Yah, tekad. Bertransformasi jadi semangat. Diiringi dengan niat yang baik, tentunya.

Toh, sebagian orang bisa menuntaskan impian terpendamnya untuk memeluk puncak tertinggi tanpa perlu persiapan berbulan-bulan lamanya. Modal nekat. Ketakutan jangan pernah menggerogoti kemauan. Kalau tak mencoba, bagaimana bisa tahu hasilnya? Tekad kuat semestinya sudah cukup untuk menjadi bahan bakar mewujudkan impian apa pun.

Di samping itu, yakinlah, hal-hal baru selalu menyimpan ke(se)nangan berharga.

"Gagal itu urusan nanti, yang terpenting kita berani untuk mencoba dan mencoba!" -- 5cm, The Movies

***

Perjalanan menuju Puncak Rante Mario baru terlihat agak "menyeramkan" saat memasuki Pintu Rimba. Warga menyebutnya demikian, karena lahan yang tak jauh dari Pos I itu menjadi pembatas antara hutan dan lahan perkebunan warga. Dari situ pula pohon-pohon rindang mulai menyapa dan menawarkan kesejukan "semu".

Tak ada yang benar-benar menyejukkan dalam perjalanan mendaki semacam itu. Rindang pepohonan dan semak belukar hanya menjadi kilasan asal lewat. Pakaian dibuat basah sepanjang waktu. Peluh mengucur diantara pelipis. Gaya rambut juga dibuat kusut masai. Keinginan untuk memperbaikinya sudah hilang karena didera lelah.

"Tidak bisa berhenti dulu kah?" ucapan yang hanya berhenti di batas kerongkongan. Meski pengalaman pertama, namun gengsi kalau harus terlihat "kalah" dalam perjalanan.

Saban hari, masa kecil saya sudah berlari-larian di jejeran kebun pegunungan. Seharusnya saya bangga sebagai anak kampung.

Harus tetap kelihatan setroong diantara kaki yang hampir patah. (Ohe Syam Suharso)

Setengah perjalanan, kami terpaksa harus berhenti. Menurut Rahim, tempat kami berhenti merupakan salah satu percabangan menuju puncak pegunungan yang lainnya, yakni Nene Mori. Sayangnya, jalur tersebut belum terlihat bersahabat seperti yang lainnya.

"Oh...Nene Mori ya? Itu neneknya Mori yang sakti sekali..."

"Hush....jangan sembarang bicara kalau di hutan," potong Ohe, sembari memasang tampang serius.

Saya sempat terkesiap. Sambil meringis, tak ada lagi suara membahas bualan. Saya langsung teringat, perjalanan di tempat-tempat semacam ini memang harus dilalui dengan sikap mawas diri. Satu hal yang harus diperhatikan para pendaki: tak boleh takabur.

"Dulu toh pernah ada temanku yang bercanda bilang enak sekali tinggal disini, saya juga langsung dimarahi teman yang orang asli sini," ujar teman yang lain, Pandi, saat kami melanjutkan perjalanan.

"Katanya, jangan sembarang bicara kalau di tengah hutan. Tidak baik," lanjutnya lagi.

Barangkali, dengan kekuatan semesta, Tuhan akan mengabulkan omongan yang dianggap takabur. Bukankah lisan adalah penjabaran doa?

Meskipun begitu, saya sebenarnya tidak sedang bercanda atau berbual tentang kisah Nene Mori. Saya sempat membaca referensi terbatas tentang puncak Nene Mori. Alasan di balik pemberian namanya memang bermula dari cerita-cerita rakyat atau folklor.

Tidak ada alur cerita yang jelas tentang salah satu tokoh sakral tersebut. Keberadaannya pun masih dipercaya menghuni pegunungan. Hanya saja, cerita-cerita menyebutkan bahwa Mori merupakan cucu dari nenek yang saban hari berburu di hutan Pegunungan Latimojong. Untuk itulah ia dipanggil dengan sebutan Nene Mori (neneknya Mori).

Kesaktian Nene Mori juga bukan sekadar pepesan kosong diantara penduduk pada masa itu. Ia tak pernah gagal berburu anoa. Konon kabarnya, Nene Mori tak butuh berlelah-lelah jika ingin makan daging anoa. Para anoa sendiri yang datang ke hadapannya untuk disembelih. Di puncak ketiga tertinggi pegunungan itu, ada sebuah batu yang kerap menjadi tempat bersemedi Nene Mori.

Dalam versi yang terbatas, kisah Nene Mori masih ambigu. Saya sendiri menyesal tak sempat menanyakan kisahnya kepada para tetua penduduk di sekitar Punggung Latimojong. Hanya saja, membicarakan hal-hal mistis diantara lebat rimba sudah bisa mengundang bulu kuduk merinding. Kami tak perlu lebih jauh membahasnya. Meski begitu, kelak, kami dibuat kembali bersemangat untuk menanjak ke puncak tersebut.

Berbagai jalur lekukan bisa dijumpai selama menempuh perjalanan menuju Pos II. Sekali waktu kami harus mengangkat lutut tinggi-tinggi. Di lain waktu kami harus menahan tumit agar tidak terjerembab. Pegangan yang tersedia lebih banyak belukar di kiri dan kanan. Beruntung, sendal butut saya masih sangat keren untuk mengatasinya. Sendal merek Consi** memang is the best

***

Peristirahatan di Pos II. (Imam Rahmanto)

"Nah, itu sudah kedengaran suara air. Artinya, kita sudah dekat dari Pos II," ujar Rahim dari depan.

Pos II memang seolah menjadi oase bagi pendaki yang sudah kelelahan. Air sungai mengalir tak jauh dari tempat pemberhentian kami. Bening. Hanya jembatan kayu kecil yang membelahnya.

Sebagian pendaki memanfaatkan Pos II sebagai tempat mendirikan tenda. Lokasinya tepat berada di bawah bongkahan batu besar. Aman dari hujan maupun angin kencang. Orang-orang biasa menyebutnya gua Sarung Pakpak.

Bisa dibilang, sumber air juga tak terbatas, kapan pun mereka membutuhkannya. Untuk urusan minum, cukup tangkupkan saja kedua telapak tangan mengadang aliran air. Kesegarannya bahkan melebihi air galon isi ulang yang selama ini kita konsumsi di kota. Tak butuh dimasak. Tak butuh alat isi ulang yang menggunakan sinar ultraviolet.

JELAJAH - SUNGAI POS II LATIMOJONG
Klik atau tunggu sejenak untuk gambar lainnya. (by flickr)

Kami langsung bergabung dengan tiga teman porter yang sudah lebih dulu menanti. Segala perlengkapan dapur mulai dibongkar sedikit. Jam makan siang sudah lewat. Perut yang keroncongan harus diisi ulang. Butuh tenaga lebih banyak untuk melanjutkan perjalanan.

"Satu-satunya momen yang bikin saya makan tiga kali sehari, ya pendakian ini. Biasanya, saya cuma makan sekali dalam sehari kalau di kota," seloroh saya.

"Kalau mau mendaki butuh kalori ekstra dong. Cuma yang susahnya nanti kalau mau buang air besar," jawab teman yang lain. Haha..

Nasi hangat membuat kami lupa sejenak dengan kelelahan selama perjalanan. Suara arus sungai menjadi orkestra hiburan bagi kami. Musik alam. Tak ada yang lebih nikmat dari makan bersama di tengah rimba. Segalanya terasa lebih nikmat dan membuat kami banyak bersyukur.

Sayangnya, agak miris juga melihat coret-coretan dinding batu di hadapan kami. Ada banyak aksi vandalisme yang dilakukan oleh para pendaki tak bertanggung jawab. Seolah-olah, dengan menuliskan nama di dinding batu bisa menjadi rekor terhebat.

Meski sebagai pendaki pemula, saya tahu bahwa sejatinya para pendaki punya semboyan epik yang salah satunya, "tak boleh meninggalkan apa-apa kecuali jejak". Coretan atau sampah di alam terbuka sama sekali bukan jejak. Kalau sampai meninggalkan sampah, barangkali kita lebih pantas disebut sebagai "sampah" itu sendiri.

"Jangan pernah mengambil sesuatu selain gambar. Jangan pernah meninggalkan apa pun selain jejak. Jangan pernah membunuh sesuatu selain waktu." --semboyan pendaki

"Itulah, saya minta sama anak-anak (Karangan) untuk bersihkan kalau mereka lewat sini," ujar Rahim.

Bisa saja, pemuda-pemuda dari dusun Karangan dibuat jengkel dengan ulah para pendaki. Sebagian besar hanya ingin menunjukkan prestise sampai di puncak, tanpa sadar esensi sesungguhnya dari mencintai alam. Bukan hanya perempuan yang butuh kasih sayang. Alam pun demikian.

Apa perlu saya juga mengukirkan namamu, sayang? (Ohe Syam Suharso)

***

Pemberhentian di Pos II tak sekadar membunuh waktu bagi kami. Selain melintasi jalur reguler menuju puncak, kami masih punya misi lain untuk menyingkap keindahan kawasan Latimojong. Ada surga tersembunyi yang tak pernah disadari para pendaki saat melintasi Pos II.

"Cuma sedikit yang pernah kesana. Pokoknya bagus itu air terjun. Paling tinggi diantara semua yang pernah saya datangi," cetus Ohe, yang menggenapkan kesempatan keduanya mendaki pegunungan inni.

Untuk alasan itu pula, kami harus membagi rombongan dalam dua tim. 


[bersambung]


--Imam Rahmanto-- 

Minggu, 01 Oktober 2017

Menanjak (3)

Oktober 01, 2017
Surat kabar terpampang di hadapan saya. Saya tak bisa menampik, ada rona bahagia menyapu muka membaca dua halaman hasil peluh kami menjelajah alam Latimojong. Tulisan-tulisan itu. Foto yang terpampang. Ucapan diantaranya. Setidaknya, menggambarkan sebagian kisah kami menanjak untuk menuntaskan misi ekspedisi.

Benak saya takkan pernah bisa melupakan hal semacam itu. Sebagaimana cinta pertama yang sulit dilupakan, pun demikian perjalanan itu. Tak ada yang pantas dilupakan atau sekadar dianggap angin lalu.

***

Hampir semua rumah warga di dusun ini yang dicoreti para pengunjung.
Apa harus sekasar ini agar selalu diingat?? (Imam Rahmanto)

Pagi yang cukup mendebarkan bagi saya. Kokok ayam terasa lantang dan begitu menggema. Tak begitu sulit untuk terbangun di tempat ini. Langkah-langkah kaki di atas rumah juga sudah cukup menjadi penanda.

Pak Dusun juga sempat berbincang-bincang menyambut kami. Kami duduk diantara seduhan kopi khas Latimojong. Yah, meskipun seadanya ala masyarakat di perkampungan. Kopi, gula, air panas diaduk jadi satu. Saya jadi heran sendiri, lidah saya sudah sedemikian pekanya dengan seduhan dan olahan kopi. Gara-gara banyak bergaul dengan pecinta kopi.

"Cuma ini yang mau mendaki?" tanya Pak Dusun kepada kami. Dua teman masih terlelap di belakang kami.

"Yah, ini saja Pak Dusun. Kebetulan mereka mau menyelesaikan ekspedisinya. Ini Imam, dia mau......." sambut Rahim, sembari memperkenalkan saya dan Ohe kepada Pak Dusun.

Rahim memang sudah kenal lama dengan penduduk di Dusun Karangan. Jauh, beberapa tahun sebelumnya, ia sudah malang-melintang di dusun ini. Keprihatinannya pula yang mendorong ia banyak bersosialisasi dan memperjuangkan kawasan pegunungan tersebut. Tak heran jika hampir semua pemuda di dusun itu mengenalnya. Kelak, saya dibuat semakin bersyukur punya kawan-kawan seperti mereka.

Selagi udara masih dipapar sinar matahari, hangatnya kopi panas setidaknya bisa menemani obrolan berselimut itu. Saya sudah bolak-balik kamar mandi untuk menikmati segarnya air pegunungan. Seandainya kami masih punya banyak waktu, betapa rindunya saya mandi di bawah guyuran air dingin pegunungan.

"Halaaahh, padahal semalam tidur tidak pakai SB (Sleeping Bag), dingin begitu kakinya. Terpaksa pakai karpet digulung-gulung," timpal Rahim di sela-sela packing.

Kami memang sudah mengatur waktu untuk perjalanan menuju puncak. Sebagai pemula, saya hanya bisa mengikuti arahan dari Rahim. Dia pula yang mengajak tiga porter dari pemuda Karangan untuk ikut dalam perjalanan kami. Beban perlengkapan dapur tentu tak bisa ditanggung kami berlima. Salah satunya, anak Pak Dusun. Itu pun setelah Pak Dusun berinisiatif menawarkan anak lelakinya, Suliadi, ikut dalam perjalanan tersebut.

***

Pertama kalinya, saya benar-benar mencoba bersenyawa dengan alam pegunungan. Meskipun basicnya, saya pernah menjalani kegiatan perkemahan. Zaman sekolah, saya juga aktif dalam kegiatan kepramukaan.

Hanya saja, persoalan mendaki gunung saya baru bisa menikmatinya sungguh-sungguh. Saya tak pernah benar-benar menyiapkan perlengkapan mendaki begitu mendetail. Mulai dari tetek-bengek istilah yang agak rumit, hingga yang paling sederhana. Bahkan, untuk pakaian pun biasanya akan sangat menjadi perhatian bagi para pendaki. Wajar jika toko-toko outdoor di luar sana menyediakan detail perlengkapannya sekaligus. Lha wong, urusan mendaki bukan hal sembarangan. Beruntunganya, saya jadi belajar banyak terkait istilah pendakian yang biasanya lebih banyak diampu anak-anak pecinta alam.

Sayangnya, saya tak punya cukup waktu untuk sekadar menyiapkan sepatuk husus trekking. Jadilah saya mendaki dengan sandal gunung "butut" seadanya. Malah, tanpa perlu mengenakan kaos kaki. Hahahaha....dasar anak kampung. 

Tapi, tenang saja, perlengkapan lainnya lumayan lengkap kok. 

Ransel gunung? ceklis! Jaket anti air dan angin? ceklis!.Matras? ceklis! Sleeping bag? ceklis! Tenda? ceklis! Mantel hujan? ceklis! Kompor portabel? ceklis! Senter serbaguna? ceklis! Cemilan penambah kalori? ceklis! Kamera DSLR? ceklis! Air minum? ceklis! Pasangan hidup? Duh, belum dicek...

***

Rahim mengisi buku registrasi. Pemuda Karangan di depannya bernama Zaqqar (kalau tak salah), yang bakal membuat kita takjub jika tahu kenyataan sesungguhnya dari balik sarung yang selalu dikenakannya. (Imam Rahmanto)

Cekrek dulu sebelum berangkat. Ada Muche yang menjadi "penggawa" para Pemuda di Dusun Karangan. (Ohe Syam)

"Ada berapa pos kalau mau mendaki Latimojong?"

Secara umum, ada tujuh pos yang mesti dilalui. Meski sebetulnya para pendaki akan melintasi sembilan titik utama, termasuk tujuh pos tersebut. Dua diantaranya sebagai gerbang pembuka dan gerbang penutup.

Saya menyebut Dusun Karangan sebagai gerbang "selamat datang". Bagi pendaki mana pun, biasanya akan berjumpa dengan dusun di ujung kecamatan ini. Dusun ini pula yang bersebelahan langsung dengan segala peradaban khas Pegunungan Latimojong. Para pendaki akan berjumpa dengan Pos Registrasi di dusun ini, tepat sebelum mulai mencapai target.

Kelak, saya baru tahu jika posko pembuka itu belum genap berumur setahun. Para pemuda Karangan yang berinisiatif membangunnya demi memudahkan pendataan para pendaki. Selain itu, retribusi sebesar Rp10 ribu tak seberapa jika melihat upaya yang dilakukan para pemuda ini agar tetap menjaga kelestarian pegunungan. Lagipula, perputaran kas tak sepenuhnya dinikmati para pemuda dalam mengelola wisata pegunungan. Tak jarang, mereka terpaksa "menyumbangkannya" untuk kegiatan-kegiatan desa atau dusun.

Sementara puncak tertinggi menjadi gerbang "selamat tinggal". Ia sekaligus menjadi penutup misi pendakian. Sebagian orang menyebutnya sebagai pos kedelapan, meski tak ada rincian secara tertulis. Orang-orang lebih senang menyebut label Puncak Rante Mario secara tegas dan lugas.

Usai mengisi buku registrasi di posko awal, kami pun memulai pendakian. Tiga teman porter kami sudah maju lebih dulu. Mereka hendak menyiapkan perbekalan di tempat pemberhentian kami nantinya. Karena terbiasa dengan jalur pegunungan itu, mereka tidak perlu ngos-ngosan menempuh pendakian-pendakian awal.

"Sudah kayak kebunnya sendiri ini naik-turun Latimojong. Bisa dua jam saja lari-lari kalau mau ke puncak," canda teman saya.

Ini muka-muka narsis setelah lelah dilepaskan di Pos I. Tampilan pos I ya memang terbuka begini. (Ohe Syam) 

Pendakian menuju Pos pertama sebenarnya tak begitu sulit. Jika pernah membayangkan model tanjakan secara umum, maka disinilah lokasinya. Perjalanan mendaki bisa agak santai karena landai. Sambil siul-siul dan menyanyi. Kiri-kanan jalan, kami bisa menyaksikan lahan-lahan perkebunan kopi terbentang sangat luas. Lahan-lahan itu dulunya merupakan hutan yang juga menutupi punggung pegunungan. Sayangnya, beralih lahan menjadi perkebunan kopi masyarakat.

Tak ada uji nyali selama perjalanan awal kami. Langit biru juga masih bisa ditatap begitu lapang. Hanya rasa lelah yang tak jera mendera tubuh. Berkali-kali kami harus menyesuaikan ritme dengan teman perempuan, Icha, yang kelelahan selama melangkah. Sembari tetap menunggu tenaganya pulih, ya, kami mencoba menikmati saja alam yang terpampang di depan mata. Saya juga mulai sekali-kali mengarahkan lensa kamera.

Ribet juga membawa kamera beserta tasnya yang tersalempang di sebelah ransel. Contoh kesalahan amatir. Seharusnya, saya meninggalkannya dan menjejalkan kamera langsung di dalam ransel. 

Serius, jarak menuju Pos pertama teramat-sangat-teramat panjang. Medannya tak begitu ekstrem. Kami masih sering bertemu beberapa petani yang baru pulang dari kebun. Senyumnya ramah dan nampak tak asing dengan pendaki seperti kami. Cuma.... aduhai sangat melelahkan. Ini namanya mencicil keringat. Bukan kekuatan yang diuji. Melainkan daya tahan dengkul dan bahu (yang menggendong beban puluhan kilogram).

Sesampainya di pos pertama, terduduk dan nyaris terkaparlah kami yang masih amatir ini. Ternyata, saya harus mengganti kosa kata "menaklukkan" dengan yang lebih bersahabat dengan ekspedisi ini. Dengan begitu, barangkali Tuhan bisa lebih bijak menyalurkan bonus kekuatan untuk kami.

"Sampailah kita di pos satu. Itu disana, ada tanaman-tanaman kopi....." sementara Rahim dengan santainya sibuk mendokumentasikan perjalanan ala-ala vlog. Disorotnya muka yang sudah kusut dan penuh kenistaan.


Dari sinilah, tantangan sebenarnya dimulai. Di depan sana, warga menyebutnya pintu rimba. (Imam Rahmanto)


[bersambung]

-----


--Imam Rahmanto--