Selasa, 31 Oktober 2017

Menanjak (7-end)

Oktober 31, 2017
"Apa yang membuatmu terus melangkah?"

"Tujuan akhir,"

"Bagaimana jika kamu ujung-ujungnya kecewa, karena tak sesuai harapan?"

"Setidaknya, aku sudah mencoba,"

Bunga yang indah, bukan? (Imam Rahmanto)
***

Istirahat memang menjadi kunci utama bagi pendaki jika ingin kembali fit dan bertenaga dalam setiap langkahnya. Buktinya, kami sudah merasa lebih baik setelah beristirahat di Pos V. Perjalanan mendaki ke puncak sudah semakin dekat dan membuat kami lebih bersemangat.

Saya pun sudah leluasa membuka kamera dari tas yang tersangkut di sebelah bahu. Di tengah-tengah perjalanan, kami akan berhenti sejenak. Sembari melepas lelah, Rahim tak jarang menunjukkan beberapa jenis bunga endemik Pegunungan Latimojong, Rhododendron. Bunga-bunga itu pula yang "menarik" perjalanan saya kemari.

"Bunga-bunga itu sudah pernah didatangi peneliti dari LIPI, khusus hanya untuk mendata bunga-bunga itu," ungkap Rahim, suatu ketika, yang menjadi bonus keinginan saya menjalani ekspedisi ini.

"Makanya kita dulu, sedikit-sedikit berhenti. Belum 10 meter, berhenti lagi. Karena murni memang untuk penelitian. Kami dulu yang temani," paparnya lagi.

Ukurannya cukup kecil. Semula, saya menyangka bentuknya seperti anggrek. Ternyata, bunga-bunga itu jauh lebih mungil. Pada musim tertentu, jalur pendakian akan lebih ramai bunga-bunga langka Rhododendron.

Bunga ini lebih mirip bunga semak biasanya. Orang-orang yang lewat biasanya hanya akan menyangkanya sebagai bunga liar. Padahal, bunga ini termasuk salah satu varitas yang terancam punah di dunia. Ditambah, hanya bisa tumbuh di atas ketinggian pegunungan. Bisa jadi, lebih mudah mendapatkan bunga edelweis ketimbang Rhododendron di jalur pegunungan semacam ini.

Kami juga sempat berpapasan dengan rombongan pendaki lain di Pos VI, sebelum tengah hari. Sudah saya katakan, Latimojong ini tak pernah sepi pendaki setiap hari. Ada sekira 6 pendaki baru saja turun dari puncak Rante Mario. Mereka merupakan mahasiswa dari salah satu UKM kampus UNM. Saya mengenal unit kegiatan mahasiswa itu, lantaran pernah aktif di unit lainnya, LPM Profesi.

Meski dikenal sebagai "tangga seribu", namun pendakian selepas Pos V bisa dijalani dengan sedikit lebih santai. Tanahnya tak lagi securam dari Pos III. Konsekuensinya, kami masih harus menanjak melewati tangga-tangga alami dari paduan akar pohon dan tanah lembap.

Kelembapan udara semakin mendekatkan kami pada habitat lumut yang sesungguhnya. Tumbuhan epifit itu mulai nampak merambati beberapa pohon dan permukaan tanah. Semakin mendaki, semakin terlihatlah habitatnya yang membentuk ekosistem hutan.

EKSPEDISI LATIMOJONG - HUTAN LUMUT
Klik atau geser untuk gambar lainnya. (by Flickr)


Hutan lumut, yang berada diantara jalur Pos VI dan Pos VII memang sangat istimewa. Tak ada yang menyangkal keindahannya. Bagi saya, ini lebih terlihat seperti hutan-hutan di negeri dongeng. Sebut saja film-film Alice in Wonderland, Lord of The Rings, atau Narnia.

Pendaki mana pun pasti selalu menyempatkan untuk berhenti dan mengambil gambar di tempat ini. Kapan lagi bisa mendapati lumut-lumut yang menjadi selimut pohon. Hijau dimana-mana. Lembap dan lembut udara berpadu jadi satu. Pun, kami seperti tersihir untuk duduk lebih lama disini. Jepretan paling banyak juga salah satunya berasal dari tempat kece ini.

"Bagaimana seandainya ada sutradara yang ambil film disini juga dih," celetuk teman.

Saya sendiri tak bisa membayangkan bagaimana perjuangan mereka bakal membawa alat-alat sekaligus artisnya. Kami saja, yang orang kampung, benar-benar dibuat menguras perasaan.

Kendala lainnya hanya ada ketika mencapai Pos VII. Hujan deras langsung mengguyur dan memaksa kami berteduh dengan memasang flysheet. Sebelum tiba disana, gerimis yang menyertai pendakian memang sudah mulai menyapa. Kami terpaksa mengencangkan raincoat dan pelindung lain pada barang bawaan. Kami menyangka itu hanya tetesan kabut karena ketingian kami yang semakin jauh dari permukaan laut.

Berkerumun seadanya menanti hujan reda. (Imam Rahmanto)

Sejam lamanya kami terjebak berkerumun di bawah flysheet. Bahkan, tiga pendaki dari Palopo juga ikut menghangatkan diri. Saat kami tiba, mereka baru saja ingin menuju puncak. Sayangnya, hujan mengadang perjalanan.

Yah, dinginnya hujan hanya bisa dinikmati lewat hangat aroma kopi.

***

"Mudah-mudahan di atas nanti kita tidak kena badai," Rahim berharap, yang tentu saja diamini oleh kami.

Tuhan ternyata ikut mendengar keinginan itu. Apalagi kami memang berencana mendirikan tenda di puncak triangulasi. Selama perjalanan menuju Rante Mario, hanya kabut-kabut tipis yang menyertai. Hujan sepertinya sudah telanjur amblas di Pos VII tadi.

Saat ingin bermalam di pos triangulasi, hal yang paling penting adalah persediaan air. Kalau tak membawa persediaan sedari awal, bisa dipastikan kami takkan bisa minum ataupun memasak. Beruntungnya, kami mendapati telaga atau danau kecil, selepas Pos VII, yang terisi air. Barangkali, karena hujan deras yang sempat melanda pegunungan.

Sesuatu yang khas juga akan menjadi pemandangan lazim dalam perjalanan mencapai puncak. Batu-batu ditumpuk di sekitar jalur menuju pos tertinggi. Sepanjang jalan, kami bisa mendapati tumpukan itu. Ada yang tinggi. Ada pula yang agak rendah. Bergantung jenis batu yang ingin ditumpuk.

"Itu permainannya anak-anak pendaki kalau disini," ungkap Rahim.

Nyatanya, tumpukan batu itu sekaligus bisa menjadi penanda jalan bagi para pendaki bahwa "anda sudah berada di jalan yang benar!" Kalau tersesat, maka carilah batu-batu bertumpuk itu. Kondisi berkabut akan semakin menghalangi pandangan dalam perjalanan menuju pos tertinggi.

Mendekati puncak, suasana lebih terbuka. Pijakan lebih didominasi oleh bebatuan cadas dan kehiitam-hitaman. Nampaknya pengaruh lumut yang membuatnya menghitam.

Mengisi persediaan air untuk dibawa ke puncak. (Imam Rahmanto)

***

Sebenarnya, kami sangat beruntung bisa tiba sebelum petang. Sayang, tak ada sunset yang terlihat dari sekeliling triangulasi. Cuaca agak mendung dan tertutup kabut. Hanya awan putih menggelayut dengan posisi sejajar permukaan puncak Rante Mario.

Menikmati petang dari atas puncak gunung benar-benar lengang. Kami hanya berdelapan. Sedikit pohon. Dua tenda. Perlengkapan seadanya. Sunyi. Kecuali celetukan untuk mengusir sepi.

Saya justru menikmati momen semacam itu. Sebenar-benarnya merenung. Saya bisa bersujud tanpa perlu memikirkan apa-apa. Hening diantara semak puncak gunung. Hanya bersyukur. Merenung. Menekuri alam dari atas ketinggian 3430 mdpl. Dari puncak tertinggi dengan pemandangan lautan awan, ada lebih banyak syukur yang mesti dihaturkan. Tak terkecuali kami yang berhasil mencapai puncak Rante Mario.

Ketika berada di alam luas seperti ini, kepala bakal disusupi pemikiran, "Ternyata alam selalu lebih lapang dan luas dibanding segala masalah yang kami anggap ruwet." Kita, manusia, hanya debu di alam semesta. Maka apa yang pantas kita sombongkan?

Langit di atas sana begitu lapang, kenapa kita tak pernah bersyukur? 

Semakin jauh kita berjalan, semakin luas kita melihat, semakin lapang perasaan yang diperoleh. Akar dari syukur yang seharusnya terus dipelihara oleh setiap manusia.

Saya bisa saja berlama-lama memandangi lautan awan di sekeliling triangulasi Rante Mario. Apalagi momen langka. Sayang, udara dingin memaksa kami agar berlindung di dalam tenda atau sleeping bag. 

Milky Way dari Puncak Rante Mario. (Imam Rahmanto)

Saya bisa merasakan dinginnya udara menunggui milky way di malam hari. Hawanya nyaris membekukan jari-jari kaki. Biasa, saya hanya berbekal sendal keluar malam-malam di puncak triangulasi. Sementara hembusan angin malam bisa mencapai suhu 5 derajat. Saking dinginnya, saya sempat membakar jari-jari kaki di atas kompor. Nyaris melepuh, tanpa terasa.

Saking nyamannya pula dengan momen puncak Rante Mario, kami juga nyaris bangun kesiangan. Kalang-kabut lah kami dibuat pagi-pagi karena baru sadar matahari sudah agak naik dan melewati batas cakrawala paginya.

"Padahal bangun ja subuh-subuh. Itu kamera kubiarkan saja ambil time-elapse," ucap Ohe, yang ikut terburu-buru keluar tenda menyambut pagi.

Latimojong, kami menjumpai pagimu.

***

Lelah? Jelas yang namanya pendakian pasti akan membuat kita mandi keringat. Akan tetapi, rasanya tetap menyenangkan. Susah atau senangnya, kami nikmati seadanya. Kalau bisa, tertawa-tawa saja kami dibawanya. Apa pun yang bisa menjadi pengobat lelah, kami nikmati. Selama masih bisa pulang sama-sama dan tak kekurangan apa pun, (kecuali tenaga) hayuk lah!

Terima kasih untuk teman-teman yang menyertai perjalanan keren itu. Betapa perjalanan semacam ini menjadi bukti bahwa apa pun bisa dilalui selama punya tekad dan keinginan yang berapi-api. Barangkali ini memang agak lebay, tetapi pada kenyataannya saya sungguh meresapinya.

Saya sangat menghargai keinginan yang tetiba diamini malam itu. Rencana-rencana yang diulur jauh dan sampai terlunta-lunta. Tak ada waktu yang bisa diseragamkan, namun selalu ada waktu untuk duduk bersama membicarakan segala hal. Buktinya, tujuan kita seragam untuk meraih puncak tertinggi.

Saya memang seharusnya berterima kasih kepada kalian yang bersedia menyisipkan waktu. Rahim yang sudah kesekian kalinya menasbihkan sebagian hidupnya untuk gunung dan kopi. Ohe, yang kali kedua muncak, demi menuntaskan dahaga imajinasi fotonya. Pandi, yang menjadi momen ketiga menapaki alam liar Latimojong. Beruntung pula, sukses menambahkan satu srikandi dalam tim kami, Icha.

Pengalaman baru dan pertama memang selalu meninggalkan kesan paling dalam di ruang-ruang hati saya. Wajar jika saya sulit move on. #uhuk. Dan takkan pernah move on dari kisah-kisah perjalanan itu. Saya sudah menempeli label kenangan di salah satu sudutnya.

Kelak, jangan sekali-kali mengajukan tanya soal Latimojong. Jika tidak, cerita yang tak putus-putus akan meluncur dengan irama yang paling indah. [end]

Kurang gaya sih. (timer)

Momen edisi terbatas. Minus saya. (Imam Rahmanto/ timer)



--Imam Rahmanto--

Sabtu, 28 Oktober 2017

Menanjak (6)

Oktober 28, 2017


Adrenalin baru dimulai. Siapa saja pasti setuju, jika tanjakan menuju Pos III merupakan jalur terberat yang harus dilalui para pendaki Latimojong. Ekspektasi saya pun berguguran setelah melintasi jalur tersebut.

Speechless. 

"Kenapa na tidak adami suaranya Imam?" gurau salah seorang teman.

"Iya, tadi dia mi yang paling banyak bicaranya," sambut yang lainnya.

Yah, selepas beristirahat, saya kehabisan tenaga. Lelucon saya sudah habis tertelan di kerongkongan. Bahkan, kata teman, wajah saya begitu pucat selama pendakian. Jalur tanjakan yang nyaris membentuk sudut 90 derajat itu betul-betul menguras tenaga. Bagi saya yang pertama kali mendaki pegunungan Latimojong, ini namanya super-extreme.

Pegangan kami hanya akar-akar pohon atau tali rotan yang sengaja diikatkan pada puncak pendakian. Entah siapa yang berinisiatif mengikatkan rotan yang dimaksudkan sebagai safety itu. Tanpa juluran rotan, barangkali kami harus merayap layaknya pendaki tebing. Bayangkan saja bagaimana sulitnya memanjat tanah berkerikil, licin, dan kerap terhambur dari genggaman.

Momen pertama, saya bisa menjadikan tanjakan Pos III itu sebagai tantangan. Tak jarang, saya akan membayangkannya sebagai permainan masa kecil kami di kampung halaman. Bagaimana kami berlari-larian di dalam kebun. Memanjat satu-dua pohon. Hingga mencari sulur terkuat agar bisa bergelantungan.

Sayangnya, bayangan masa kecil itu pudar seiring peluh yang terus mengucur dari pelipis. Wajah juga semakin memucat karena kehabisan tenaga. Tungkai saya, seolah dibebani batu diantara tulang dan persendiannya. Untuk melangkah pun, saya harus mengambil jeda. Melangkah beberapa menit. Berhenti beberapa detik. Melangkah lagi. Berhenti lagi. Begitu seterusnya. Tanpa sadar, saya ada di bagian paling belakang.

Hal yang sama juga terjadi pada teman lainnya. Tentu, masing-masing punya cara tersendiri untuk mengatasinya. Selain itu, gengsi juga mau melambaikan tangan ke kamera. Terpaksa, saya memutar musik dari gawai di saku jaket.

"Jangan dipaksakan kalau capek. Berhenti saja," saran Rahim, yang masih melangkah dengan santainya. Padahal bebannya juga bertambah, karena membawa tas Icha.

Sesekali pula kami harus mengemut cokelat. Katanya, makanan seperti itu bisa menambah kalori selama pendakian. Saran juga sih, jangan terlalu banyak minum air putih untuk mengatasi kelelahan.

Sepertinya, cuma saya dan Ohe yang terlihat paling menderita. Bagaimana tidak, tenaga kami juga sudah terkuras dari perjalanan sebelumnya menuju air terjun. Sepulangnya dari sana, kami hanya berhenti untuk packing di Pos II, lantaran teman-teman lain sudah siap berangkat.

"Kayaknya beban kita memang yang paling berat. Seolah-seolah, dua kali lipat perjalanan. Soalnya kan tadi dari air terjun," gerutu saya, yang hanya dibalas muka datar (kelelahan) oleh Ohe.

Saya akan selalu mengingat tanjakan-tanjakan itu. Kalau boleh dibilang lagu, jalur itu menggambarkan lagunya Peterpan - Di Atas Normal. Sebenar-benarnya, kaki di kepala, kepala di kaki. Untuk bisa mencapai puncak, kaki harus diangkat tinggi-tinggi. Sering kali lutut sampai menyentuh dagu. Napas jugaa sudah tersengal-sengal.

Meski begitu, kalau sudah bertekad, ya tetap saja semua bisa dilalui. Jalurnya memang terasa sangat menegangkan. Seram. Ngeri. Wass-was. Tetapi, yakinlah, tak ada kata berhenti kalau sudah telanjur mendaki. Selama kaki masih kuat dipakai melangkah, puncak pasti bisa tersentuh.

Satu-satunya yang bisa membuat kami terus melangkah barangkali keinginan untuk tiba di puncak tertinggi. Bagi yang sudah pernah merasakannya, barangkali sudah agak terasa ringan. Beda soal bagi kami yang benar-benar pertama kali "bertaruh". Lelahnya juga bakal terasa lebih sulit di awal-awal pengalaman itu.

***

Karena efek kelelahan, kami tak bisa memaksakan diri dalam mendaki. Pada akhirnya, kami disambut malam saat tiba di Pos V. Suasana sudah cukup gelap. Saya lupa persisnya, waktu menunjukkan pukul berapa. Beruntung, kemah kami sudah lebih dulu berdiri oleh teman-teman porter.

Kami juga harus segera berlindung di dalam kemah, sembari menyiapkan makan malam. Di luar sana, hujan sedang menggebu-gebu. Beberapa jam kemudian, badai terdengar begitu jelas menganggu waktu tidur. Saya sendiri beberapa kali harus terbangun karena suara badai.

Di tengah-tengah badai, kami masih sempat mendengarkan percakapan penghuni Pos V. Sebelum kami tiba, dua-tiga tenda memang sudah berdiri. Mereka juga merupakan para pendaki yang ingin mencapai Puncak Rante Mario. Sebelumnya, di Dusun Karangan, kami tahu kalau mereka adalah mahasiswa berasal dari Palopo.

Mereka yang sudah mulai segar. (Imam Rahmanto)

"Banyak kayaknya juga suara cewek tadi malam kudengar. Kayaknya ada dari Unhas juga datang malam-malanya," celetuk kami, saat pagi menjelang.

"Ada juga yang laki-laki, subuh-subuh kudengar mengaji," timpal yang lain. Saya pun sempat mendengarkannya.

Badai sudah mereda. Kami menyambut pagi dengan kondisi yang lebih segar. Meskipun, sejujurnya, bahu saya masih terasa sangat pegal. Beban tas punggung selama perjalanan mendaki masih terasa nempel.

Tim pendaki yang lain juga sudah lebih dulu menghilang dari Pos V. Mereka nampaknya memutuskan mendaki lebih pagi. Tenda dan seluruh perlengkapannya ditinggal di pos ini. Biasanya, para pendaki mengambil kesempatan semacam itu jika tak ingin bermalam di puncak. Berangkat pagi-pagi, langsung pulang setelah mengambil foto sebanyak-banyaknya di sekitar triangulasi Rante Mario.

Apalagi, ada sumber air bersih di Pos V. Hanya berjarak 10 menit berjalan kaki, melintasi batang-batang pohon. Para pendaki biasanya akan mandi atau mengambil kebutuhan minum di sungai kecil itu.

Saya sempat mencoba mandi di sungai kecil itu. Sayangnya, tak tahan untuk berlama-lama merendam seluruh badan. Putra asli Karangan seperti Samrin justru lebih kebal terhadap dinginnya air di ketinggian lebih 2000 mdpl itu.

Suhunya barangkali bisa saja mencapai 10 derajat celcius. Kulit serasa ditusuk-tusuk jarum saat menyentuh permukaan air. Sementara Samrin dengan santainya menenggelamkan dirinya untuk membersihkan busa shampo di kepalanya.

Harus tetap ceria di hadapan alam liar. (Imam Rahmanto/ timer)

Kami hanya menghabiskan beberapa jam di pos V. Sembari menyiapkan sarapan, momen berkemah di Pos V memang tak bisa dilewatkan. Maka meluncurlah beberapa jepretan dari kamera masing-masing. Wajar, itu sebagai "pelampiasan" karena dalam perjalanan kemarin kami sangat kelelahan sampai tidak kepikiran untuk mengeluarkan kamera.

Suasana di Pos V memang sangat kondusif untuk menjadi tempat berkemah. Luasnya sangat memadai dengan pohon-pohon besar di sekelilingnya. Jika beruntung, tupai-tupai kecil akan menjumpai pagi-pagi. Mereka biasanya tertarik dengan makanan atau cemilan para pendaki.

Kami sempat bermain-main dengan beberapa tupai kecil yang melintas. Berupaya mengambil momen kala tupai itu memanjat dari pohon yang satu ke pohon lainnya.

Kalau dijepret pakai lensa tele, pasti lebih menggemaskan. (Imam Rahmanto) 

***

Sesuai rencana awal, kami akan mendirikan tenda di pos puncak Rante Mario. Oleh karena itu, setelah sarapan, kami bergegas packing dan membongkar tenda. Padahal "strategi" semacam itu tak biasa dilakukan oleh para pendaki.

"Mudah-mudahan dapat ji milky way nanti malam. Bagus juga kalau kita dapat sunset nanti sore," kata Ohe.

Sebenarnya, kami memang punya banyak "misi" dalam pendakian kali ini. Ceritanya agak panjang karena dimulai dari kebutuhan naskah berita saya. Meski begitu, cerita ekspedisi ini sekaligus akan ditutup pada langkah kaki selanjutnya.

....

[bersambung]



--Imam Rahmanto--

Minggu, 22 Oktober 2017

Setengah Harapan

Oktober 22, 2017
"Kirimkan fotomu, Mam," pesan salah seorang redaktur lewat chat di Whatsapp. 

Heran saja, hampir tengah malam meminta foto. Katanya, foto profil di akun Whatsapp saya tak begitu jelas wajahnya. Dia butuh foto yang lebih jelas menampakkan wajah saya.

Hanya butuh beberapa detik saja untuk mengirimkan satu foto dari stok penyimpanan smartphone saya. Beruntung, beberapa hari yang lalu saya punya liputan dengan mengenakan seragam khas kantor. Kebetulan pula, saya dijepret dengan pakaian berwarna biru itu. Padahal, seumur-umur penempatan tugas di Enrekang, saya baru pertama kalinya mengenakannya. Saya tipe-tipe orang yang tak suka mengenakan seragam, apalagi sampai masuk kantor.

Foto itu untuk apa, saya tak begitu paham. Hingga akhirnya, di percakapan grup kantor menyebutkan nama saya. Kata mereka, naskah berita perjalanan mendaki Pegunungan Latimojong masuk jadi nominasi best five di Jawa Pos Group.

"Alhamdulillah, dua kategori sudah di tangan," kata redaktur saya. Mata saya lantas berbinar.

Media saya memang merupakan bagian dari raksasa media Jawa Pos Group. Bahkan, bisa dibilang media terbaik di Sulsel. Setiap triwulannya, para petinggi se-Indonesia mengadakan rapat evaluasi di pusat. Rapat itu juga menampilkan karya-karya terbaik dari semua media di bawah naungan grup.

"Deehh, kalau tahu begitu, saya kirimkan ki fotoku pas mendakinya, Kak. Hehe..." balas saya lagi, yang kemudian berujung pada kiriman foto berjaket hijau dengan senyum dipaksakan diantara kabut dan beban ransel di punggung.

Itu artinya, naskah liputan khusus yang dimuat dua halaman berhasil dengan mulus "menggoda" mereka yang membacanya. Bahagia rasanya membayangkan karya kita bisa kembali dihargai. Secara tak langsung, bahagia pula bisa membantu mereka yang berada di Dusun Karangan. Saya rindu dengan dusun itu.

Perjalanan berat selama mendaki seolah terbayarkan lunas. Rasa-rasanya, saya harus mengabarkannya kepada empat teman lainnya yang menemani ekspedisi. Kalau bukan karena mereka pula, saya tentu takkan menikmati perjalanan menguras keringat itu.

Dan lagipula, saya pernah meragukan hasilnya.

"Menuliskan hasilnya (eskpedisi ini) jadi semacam beban, karena kita sudah tahu ujung-ujungnya untuk diikutkan persaingan. Jadinya, seolah memperhitungkan banyak hal. Termasuk kan dananya juga sudah telanjur cair," curhat saya pada teman sesama jurnalis, jauh hari sebelum naik cetak.

Meski setengah bercanda, namun saya memang sempat menyangsikannya.

Beban semacam itu memang selalu terasa. Karena naskah (triwulan) sebelumnya juga sempat menyabet penghargaan serupa. Naskah feature terkait beras ketan khas Enrekang, Pulu Mandoti, sudah pernah nampil di rapat para petinggi media itu. Lantas, nama sedikit mulai dilabeli. 

Esensinya sungguh berbeda. Saya menuliskan feature Pulu Mandoti itu tanpa beban. Saya juga tak pernah tahu kalau redaktur ternyata mengirimkannya ke penilaian Jawa Pos Group. Jadinya, tak ada perasaan "harus-jadi-yang-terbaik" dalam mengerjakan naskah. Tak ada perasaan was-was. Saya hanya menjalani apa adanya.

Pengerjaan naskah Ekspedisi Latimojong sungguh teramat berbeda. Sejak awal, saya sudah tahu jika naskahnya akan sampai ke tahap pengiriman, hingga penilaian pusat media kami. Bebannya jauh lebih kerasa. Karena jika tidak menyabet nominasi, tentu ada kekecewaan dari orang-orang kantor, yang sudah menaruh harapannya pada pundak saya.

Saya butuh frame untuk mengabadikan perjalanan ini. (Imam Rahmanto)

***

Menanggung harapan itu seumpama memikul suatu beban. Salah sedikit, kita bisa mematahkan harapan itu. Tentu akan berimbas pada berbagai perasaan negatif dari orang yang "berharap" itu. Semisal kekecewaan, kemarahan, patah hati, atau yang paling parah, kehilangan kepercayaan.

Tak ada yang cukup kuat menerima perasaan semacam itu. Hidup untuk mencari kebahagiaan, bukan untuk memenuhinya dengan perasaan-perasaan tak menyenangkan.

Saya tak ingin dicap sebagai Pemberi Harapan Palsu (PHP). Apalagi saya tak pernah sekali pun menjanjikan hasilnya bakal memuaskan. Karena pada kenyataannya, masih banyak hal (dan keinginan) terpendam dalam perjalanan saya menakjubkan itu. Sejujurnya; saya belum puas menikmatinya.

Beruntunglah, hasil ekspedisi kemarin bisa menyalurkan kebahagiaan bagi orang-orang di media saya. Pun, bagi saya pribadi, semakin percaya dengan tulisan sendiri. Tak ada salahnya menulis dengan menjadi apa adanya. Tujuan saya menulis di tempat ini (blog) juga agar tak kehilangan jiwa saya.

Yah, sebenar-benarnya saya ada di "rumah" ini. Saya banyak belajar menuangkan pikiran bebas disini. Sebebas-bebas dan selepas-lepasnya. 

"Ndak berniat mau buat buku begitu?" tanya teman, yang pernah membaca sedikit tulisan di "rumah" ini.

Sudah dan selalu (berharap).

Sebenarnya sempat terpikirkan untuk membuat buku dari kumpulan pelarian di "rumah" ini. Bahkan, puluhan lembar draft-nya sudah di-printout. Lengkap beserta judul buku di sampulnya. Sayang, proses revisi dan corat-coretnya berhenti di tengah jalan. Baru beberapa naskah awal saja yang sudah saya coreti ala skripsi. Jilidan naskah itu kini teronggok saja di kamar, dipandangi selintas, tanpa disentuh penulisnya. Kasihan...

Sampai hari ini, naskah itu masih menumpuk di salah satu sudut kamar. Barangkali, memang, menunggu penilaian yang sebaiknya bukan dari saya. Mungkin saja, memang sudah waktunya meyerahkan "ujian-revisi" naskah pada orang lain.

"Payung Hujan..."

"Itu judulnya?"

"Ya, isinya cuma tulisan atau catatan ndak jelas begitu," terang saya malu-malu.

"Judulnya saja saya kusuka. Unik,"

...

Sial! Saya dipaksa memikirkan keinginan itu kembali.



--Imam Rahmanto-

Jumat, 20 Oktober 2017

Menanjak (5)

Oktober 20, 2017
"Masih jauh, ndak?"

Napas kami sudah mulai ngos-ngosan. Baru saja beristirahat beberapa menit, kami sudah kembali dihadapkan dengan jalur "tak-normal".

Kami terpaksa meninggalkan tiga orang teman lainnya di Pos II. Rombongan terbagi dua. Hanya saya dan Ohe yang berminat menyambangi lokasi air terjun yang disebut-sebut paling tinggi itu. Tiga teman dari Karangan membantu menuntun arah ke air terjun itu.

"Jangan lama-lama. 30 menit saja disana, karena kita masih harus lanjut perjalanan," pesan Rahim, yang menyiapkan packing untuk perjalanan berikutnya.

Saya terpaksa hanya bisa mengandalkan jepretan smartphone di momen menempuh perjalanan ini. (Imam Rahmanto)

Bukan hal mudah melintasi jalur di tengah-tengah hutan itu. Arahnya berseberangan dengan jalur menuju pos pemberhentian selanjutnya. Wajar jika tak banyak pendaki yang mengetahui (atau menyempatkan) lokasi Air Terjun Sarung Pakpak.

Beberapa kali, kami mesti menyilang arus sungai. Memanjat dataran yang lebih tinggi sembari terus mengikuti aliran sungai. Di bagian lain, menyeberangi batang pohon yang tumbang di atas bebatuan dan sungai. Sebenarnya, prioritas keselamatan utama: kamera.

"Makanya saya suruh mereka yang bawa kameraku," kata Ohe, tanpa raut wajah berdosa.

Beban tas punggung dengan tripod itu digendong dengan santainya oleh teman porter kami, Samrin. Lincah saja ia memanjat dan melompat dari satu batu hingga berpindah ke dahan yang lain.

Aktivitas panjat-memanjat menjadi pemandangan lazim dalam perjalanan kami. Parahnya, tak ada pegangan akar-akar pohon. Adanya cuma akar rumput yang bisa putus sekali tarik. Kami seolah berlatih memanjat tebing dari ketinggian tiga meter di atas permukaan sungai. Meskipun jaraknya hanya sepanjang 5 meter. Satu-satunya pegangan (hidup) ada di celah-celah batu. Beruntunng kaki saya masih mudah bertumpu karena mengenakan sendal.

Meski begitu, yakinlah, usaha berkeringat dan berdarah-darah pegal-pegal akan berbuah manis jika sudah melihat wujud Air Terjun Sarung Pakpak. Gemuruh air terjun begitu jelas terdengar. Tak heran jika suaranya begitu memecah keheningan, karena ketinggian yang mencapai kisaran 70 meter. Dalam jarak sepuluh meter, tempias air juga sudah mengenai wajah.

"Waaahhhh....kerenn!!"

Kami langsung mengambil jarak dan "jurus" untuk momen spesial itu. Tiga orang pemandu kami tak ketinggalan memasang "kuda-kuda" dengan kamera handphone seadanya. Momen seperti itu, kurang afdol jika tidak bergaya selfie. 
JELAJAH - AIR TERJUN SARUNG PAKPAK
Klik atau tunggu sejenak untuk gambar lainnya. (by Flickr)

Saya sendiri benar-benar menikmati kejernihan aliran air terjun itu. Dinginnya tak menghalangi kaki saya untuk menembus permukaannya. Mencari langkah diantara cipratan air. Menciptakan momen-momen terbaik untuk belajar memotret alam. Air terjun itu begitu menggoda. Yah, menggoda kami untuk berlama-lama mengabadikannya.

Pemandangan di sekitar air terjun juga masih teramat asri. Tak ada sampah-sampah bekas peninggalan manusia. Memang, air terjun ini belum banyak terjamah. Hal itu yang membuatnya istimewa dan masih nampak perawan. Apalagi, dibungkus dengan lumut-lumut bebatuan dan batang pohon yang rebah.

Kelak, jika jalan menuju air terjun ini bakal dirintis, barangkali keindahannya taakkan sama lagi. Tak ada jaminan kunjungan para pelancong bisa menjaga keindahan di sekitar air terjun ini. Karena kita adalah manusia, sumber lebih banyak salah dan kelalaian.

***

Kami tak bisa berlama-lama di tempat yang menawan itu. Kami harus memangkas waktu perjalanan untuk tiba di pos camp yaitu Pos V. Kami berencana bakal bermalam disana, sebelum melanjutkan perjalanan ke puncak tertinggi.

Sayangnya, perjalanan pulang ke Pos II tidak semudah menyusur jalan semula. Kegiatan "panjat-memanjat" jauh lebih sulit karena diputar mundur. Saat memanjat "turun", tentu saja agak sulit menjangkau ruang pijakan diantara dinding batu. Salah seorang teman kami, Arman, tercebur lantaran terpeleset dari pijakannya. Beruntung saja, ia tercebur di aliran air sungai yang tidak begitu dalam. Kami yang hendak menolong, justru hanya bisa menertawainya.

"Sedangkan yang sudah biasa bolak-balik saja kesana bisa jatuh begitu, apalagi kita yang baru-baru ini," ujar Ohe, yang selalu menghitung langkahnya dalam perjalanan dengan sangat-teramat-sangat hati-hati.

Kami tertawa saja melihat Arman yang bangkit dari tenggelamnya. Pakaiannya kuyup. Meski begitu, kulitnya sudah telanjur tebal menahan dingin untuk ukuran penduduk Dusun Karangan.

Mereka tak butuh pakaian tebal untuk menahan dinginnya alam Latimojong. (Imam Rahmanto)
Dalam perjalanan berat semacam itu, tak ada hiburan yang bisa mengalihkan pikiran selain menertawakan segala hal. Yah, bagi saya, apa pun bisa ditertawakan. Hal-hal lucu bisa ditemui di sepanjang perjalanan.

Di kala teman-teman mengalihkan tenaganya pada kedua ujung tungkai dan bahu, saya biasanya lebih banyak berbual. Bercerita apa saja. Dasarnya memang saya orang yang cerewet. Setidaknya, hanya ingin mengundang wajah-wajah yang merekah dalam perjalanan ini. Tak elok rasanya wajah ditekuk selama perjalanan. Beban sudah berat, masih ditambahi pula dengan muka yang ingin bersungut-sungut. Belum lagi beban hidup.

Seperti halnya hidup, beban yang berat tak semestinya mengurangi esensi perjalanan itu sendiri. Kita seharusnya menikmatinya. Meresapi setiap lelah yang mendera. Pun, meresapi adrenalin dan emosi yang berkelebat dalam bahayanya perjalanan. Adrenalin itu bukan untuk ditakuti, melainkan ditaklukkan. Bukankah setiap perjalanan seharusnya mengajari kita cara untuk tersenyum?

"Everything that drowns me makes me wanna fly..."[Counting Stars, One Republic; lagu]

Sepertinya begitu. Perjalanan kami bertambah berat setiap langkahnya. Kami yang baru saja tiba di Pos II, harus segera berkemas. Waktu sudah menunjukkan angka tiga. Kata Rahim, waktu perjalanan hingga Pos V masih cukup lama. Jaraknya memang tak begitu jauh, namun berbanding terbalik dengan medan yang harus kami tempuh.

"Kita harus cepat kalau mau sampai di Pos V tidak kemalaman," ucapnya berkemas-kemas saat melihat kami baru saja kembali tiba di Pos II.

Padahal, lelah masih belum sepenuhnya pudar. Menyaksikan keindahan air terjun Sarung Pakpak memang menjadi bonus tersendiri bagi saya dan Ohe. Malangnya, bonus itu juga berlaku kelipatan untuk tenaga kami yang dihabiskan dalam perjalanan. Terkuras dua kali. Perut yang baru saja terisi kalori dari nasi, sayur, mie, telur seolah langsung terbakar setengahnya. Dampaknya, kelak, baru terasa belakangan. Bikin meringis.

"Ini mau langsung pergi? Wah, baru ki juga mau istirahat," ucap saya setengah bercanda. "Tunggu pale. Shalat dulu sekalian."

Tak butuh waktu lama untuk mengepak kembali perlengkapan. Sebentar lagi, gemuruh air akan menghilang dan semakin tenggelam. Gua kecil itu akan dibalut keheningan kembali, sebelum pendaki lainnya tiba disana.

Kata orang, kekuatan sejati perjalanan ke Puncak Rante Mario bakal diuji diantara jalur pendakian menuju Pos III. Tantangan sesungguhnya ada di jalur berkemiringan nyaris 90 derajat itu. Butuh mengencangkan tekad lebih kuat. Butuh kaki dan tangan yang lebih cekatan.

Menyaksikan rute tanjakan dari Pos II, membuat saya terhenyak dan berpikir ulang, "Apakah kami bisa pulang dalam keadaan hidup-hidup?" Ternyata, toh, kami juga butuh doa yang dirapalkan terus-menerus.

[bersambung]


***

"Butuh berapa episode lagi supaya ceritamu itu berakhir?" tanya seorang teman, suatu ketika.

Sejujurnya, saya sendiri kebingungan bagaimana mengakhiri cerita ini. Bagi saya, banyak hal yang seharusnya terekam dalam perjalanan ini. Mengakhirinya sekaligus, seolah memaksa saya untuk melupakan detail perjalanannya sekaligus. Saya tak ingin, menganggap perjalanan itu sekadar angin lalu, yang tak punya detail menarik untuk dikisahkan bagi anak-cucu kelak. Sebagaimana cara terbaik mengabadikan kenangan adalah dengan menuliskannya.

"Pernah ki naik mendaki Latimojong, Pak?" tanya salah seorang anak saya, di suatu masa, beberapa tahun mengulur jauh ke depan.

"Pernah," jawab saya tersenyum bangga. "Duduklah disini. Maka akan kuceritakan padamu, bagaimana bapakmu dulu memulainya dengan sangat keren."


--Imam Rahmanto--


Senin, 16 Oktober 2017

Revolusi ala Binatang

Oktober 16, 2017
Target bacaan kian menipis. Dalam sepuluh bulan terakhir, saya baru bisa menamatkan hingga 18 buku dari target bacaan tahunan sekitar 30 buku. Saya semakin sadar, kesempatan untuk bisa leluasa membaca buku bukanlah hal mudah. Semakin usia bertambah, prioritas lain juga kian menumpuk.

Dalam sebulan belakangan ini, saya coba mengejar target itu. Salah satunya dengan menamatkan beberapa buku bacaan yang lebih tipis. Curang. Eh, jangan salah. Buku yang tipis tidak menjadi jaminan saya akan menamatkannya hanya dalam sekali duduk. Buktinya, beberapa buku justru terkapar tak berdaya di lantai kamar. Sisanya, diselesaikan sekadar kewajiban untuk "menuntaskan-apa-yang-sudah-saya-mulai."

(Foto: Imam Rahmanto)

Diantara beberapa bacaan itu, buku Animal Farm karya George Orwell (nama assli Eric Arthur Blair) menjadi bahan paling ciamik bagi saya. Yah, saya menyukai segala kesederhanannya. Mulai dari jumlah halaman, jalan cerita, cara berpikir, hingga alur yang menghubungkannya satu sama lain. Meskipun, jujur, saya tak menyukai ending-nya.

Kisahnya tentang Peternakan Manor yang dimiliki dan dikelola oleh keluarga Tuan Jones. Berbagai hewan ternak hidup di dalamnya sebagai peliharaan keluarga itu. Kedamaian kehidupan peternakan sebenarnya berlangsungsebagaimana lazimnya. 

Hingga salah satu babi tua yang paling dihormati hewan lainnya, Mayor tua, menceritakan mimpinya kepada para penghuni peternakan itu. Dari sanalah akar pemberontakan binatang dimulai dan dipelopori oleh dua babi cerdas, Snowball dan Napoleon. Mereka berdua menggerakkan pemberontakan terhadap Tuan Jones dan keluarganya. Itu hanyalah awal pemberontakan para hewan-hewan itu terhadap manusia.

"Manusia adalah satu-satunya makhluk yang mengonsumsi tanpa menghasilkan. Ia tidak memberi susu, ia tidak bertelur, ia terlalu lemah menarik bajak, ia tidak bisa lari cepat untuk menangkap terwelu. Namun, ia adalah penguasa atas semua binatang. Manusia menyuruh binatang bekerja, manusia mengembalikan seminimal mungkin hanya untuk menjaga supaya binatang tidak kelaparan, sisanya untuk manusia sendiri. Tenaga kami untuk membajak tanah, kotoran kami untuk menyuburkan tanah, tetapi tak satu pun dari kami memiliki tanah seluas kulit kami." [hal.6]

Revolusi adalah salah satu hal utama yang ingin disampaikan dalam buku ini. Sebenarnya, kalau ingin dicerna lebih jauh, isi cerita ini justru lebih berat dan rumit. Politik kekuasaan diceritakan dengan gaya-gaya alegori. Bagaimana Snowball dan Napoleon bekerja sama untuk menggulingkan kekuasaan Tuan Jones. Namun, pada akhirnya, kedua pemimpin kawanan hewan itu justru berseteru dalam perbedaan pendapat. Napoleon mengambil alih kekuassaan dengan cara menyingkirkan Snowball.

Barangkali, hewan-hewan Animal Farm bisa mengajarkan kita tentang namanya berdemokrasi. Perputaran kekuasaan yang berlandaskan pada kekuatan dan kecerdikan. Babi-babi ini menunjukkan "cara main" politik yang begitu elegan. Revolusi, meski diawali dengan niat yang baik, tetap saja akan memudar pada perjalanannya. 

Babi-babi ini memulai pemberontakan dengan begitu epik. Menciptakan tujuh peraturan "kehidupan hewan" animalisme setelah kemenangannya. Seiring waktu, aturan itu dilanggar demi kepentingan kekuasaan. 

Membaca Animal Farm memang lekat jika dikaitkan dengan kehidupan manusia itu sendiri. Berbagai intrik dan sifat-sifat binatang ada pada diri manusia. Malah, George Orwell nampaknya memang ingin menunjukkan bagaimana "politik" manusia yang sebenarnya. Wajar jika buku ini diganjar beberapa penghargaan dan masuk sebagai 100 best books di Inggris versi BBC. Tak peduli jika buku ini diterbitka tahun 1945.

Sayangnya, saya masih dibuat penasaran dengan ending kisah pemberontakan hewan-hewan ini. Khususnya nasib si cerdik Snowball yang disingkirkan oleh Napoleon. Dan lagi, hewan-hewan yang akhirnya sadar kehidupan mereka tak jauh lebih dibanding sebelumnya. (*)

“The only good human being is a dead one.” Animal Farm, George Orwell

 
--Imam Rahmanto--

Jumat, 06 Oktober 2017

Menanjak (4)

Oktober 06, 2017
(Foto: Ohe Syam Suharso)

Pekerjaan mendaki gunung selalu diasosiasikan dengan hal-hal berat dan sangat melelahkan. Tak jarang, para calon pendaki harus dibekali dengan olah tubuh atau pemanasan, jauh hari sebelumnya. Minimal, kaki dibuat terbiasa bergerak dengan aktivitas fisik. Lari, misalnya.

Hanya saja, kata teman, sebenarnya pendakian perdana tak mesti diiming-imingi ketakutan. Kekuatan hanya menjadi nomor sekian dari persiapan menghadapi segala tantangan di atas gunung. Tubuh kekar, bodi besar, muka sangar bukan jaminan agar tetap tegar. Satu-satunya hal utama yang dibutuhkan hanyalah tekad... yang membara.

Pada awalnya, itu memang hanya semacam "bualan" atau "omong kosong" agar kita mau ikut menanjak mempertaruhkan segala kekurangsiapan. Semacam pembenaran untuk memuluskan ajakan mendaki bersama teman-teman yang lainnya. Akan tetapi, saya merasakan sendiri, tak ada yang lebih dibutuhkan seorang pendaki selain tekad. Yah, tekad. Bertransformasi jadi semangat. Diiringi dengan niat yang baik, tentunya.

Toh, sebagian orang bisa menuntaskan impian terpendamnya untuk memeluk puncak tertinggi tanpa perlu persiapan berbulan-bulan lamanya. Modal nekat. Ketakutan jangan pernah menggerogoti kemauan. Kalau tak mencoba, bagaimana bisa tahu hasilnya? Tekad kuat semestinya sudah cukup untuk menjadi bahan bakar mewujudkan impian apa pun.

Di samping itu, yakinlah, hal-hal baru selalu menyimpan ke(se)nangan berharga.

"Gagal itu urusan nanti, yang terpenting kita berani untuk mencoba dan mencoba!" -- 5cm, The Movies

***

Perjalanan menuju Puncak Rante Mario baru terlihat agak "menyeramkan" saat memasuki Pintu Rimba. Warga menyebutnya demikian, karena lahan yang tak jauh dari Pos I itu menjadi pembatas antara hutan dan lahan perkebunan warga. Dari situ pula pohon-pohon rindang mulai menyapa dan menawarkan kesejukan "semu".

Tak ada yang benar-benar menyejukkan dalam perjalanan mendaki semacam itu. Rindang pepohonan dan semak belukar hanya menjadi kilasan asal lewat. Pakaian dibuat basah sepanjang waktu. Peluh mengucur diantara pelipis. Gaya rambut juga dibuat kusut masai. Keinginan untuk memperbaikinya sudah hilang karena didera lelah.

"Tidak bisa berhenti dulu kah?" ucapan yang hanya berhenti di batas kerongkongan. Meski pengalaman pertama, namun gengsi kalau harus terlihat "kalah" dalam perjalanan.

Saban hari, masa kecil saya sudah berlari-larian di jejeran kebun pegunungan. Seharusnya saya bangga sebagai anak kampung.

Harus tetap kelihatan setroong diantara kaki yang hampir patah. (Ohe Syam Suharso)

Setengah perjalanan, kami terpaksa harus berhenti. Menurut Rahim, tempat kami berhenti merupakan salah satu percabangan menuju puncak pegunungan yang lainnya, yakni Nene Mori. Sayangnya, jalur tersebut belum terlihat bersahabat seperti yang lainnya.

"Oh...Nene Mori ya? Itu neneknya Mori yang sakti sekali..."

"Hush....jangan sembarang bicara kalau di hutan," potong Ohe, sembari memasang tampang serius.

Saya sempat terkesiap. Sambil meringis, tak ada lagi suara membahas bualan. Saya langsung teringat, perjalanan di tempat-tempat semacam ini memang harus dilalui dengan sikap mawas diri. Satu hal yang harus diperhatikan para pendaki: tak boleh takabur.

"Dulu toh pernah ada temanku yang bercanda bilang enak sekali tinggal disini, saya juga langsung dimarahi teman yang orang asli sini," ujar teman yang lain, Pandi, saat kami melanjutkan perjalanan.

"Katanya, jangan sembarang bicara kalau di tengah hutan. Tidak baik," lanjutnya lagi.

Barangkali, dengan kekuatan semesta, Tuhan akan mengabulkan omongan yang dianggap takabur. Bukankah lisan adalah penjabaran doa?

Meskipun begitu, saya sebenarnya tidak sedang bercanda atau berbual tentang kisah Nene Mori. Saya sempat membaca referensi terbatas tentang puncak Nene Mori. Alasan di balik pemberian namanya memang bermula dari cerita-cerita rakyat atau folklor.

Tidak ada alur cerita yang jelas tentang salah satu tokoh sakral tersebut. Keberadaannya pun masih dipercaya menghuni pegunungan. Hanya saja, cerita-cerita menyebutkan bahwa Mori merupakan cucu dari nenek yang saban hari berburu di hutan Pegunungan Latimojong. Untuk itulah ia dipanggil dengan sebutan Nene Mori (neneknya Mori).

Kesaktian Nene Mori juga bukan sekadar pepesan kosong diantara penduduk pada masa itu. Ia tak pernah gagal berburu anoa. Konon kabarnya, Nene Mori tak butuh berlelah-lelah jika ingin makan daging anoa. Para anoa sendiri yang datang ke hadapannya untuk disembelih. Di puncak ketiga tertinggi pegunungan itu, ada sebuah batu yang kerap menjadi tempat bersemedi Nene Mori.

Dalam versi yang terbatas, kisah Nene Mori masih ambigu. Saya sendiri menyesal tak sempat menanyakan kisahnya kepada para tetua penduduk di sekitar Punggung Latimojong. Hanya saja, membicarakan hal-hal mistis diantara lebat rimba sudah bisa mengundang bulu kuduk merinding. Kami tak perlu lebih jauh membahasnya. Meski begitu, kelak, kami dibuat kembali bersemangat untuk menanjak ke puncak tersebut.

Berbagai jalur lekukan bisa dijumpai selama menempuh perjalanan menuju Pos II. Sekali waktu kami harus mengangkat lutut tinggi-tinggi. Di lain waktu kami harus menahan tumit agar tidak terjerembab. Pegangan yang tersedia lebih banyak belukar di kiri dan kanan. Beruntung, sendal butut saya masih sangat keren untuk mengatasinya. Sendal merek Consi** memang is the best

***

Peristirahatan di Pos II. (Imam Rahmanto)

"Nah, itu sudah kedengaran suara air. Artinya, kita sudah dekat dari Pos II," ujar Rahim dari depan.

Pos II memang seolah menjadi oase bagi pendaki yang sudah kelelahan. Air sungai mengalir tak jauh dari tempat pemberhentian kami. Bening. Hanya jembatan kayu kecil yang membelahnya.

Sebagian pendaki memanfaatkan Pos II sebagai tempat mendirikan tenda. Lokasinya tepat berada di bawah bongkahan batu besar. Aman dari hujan maupun angin kencang. Orang-orang biasa menyebutnya gua Sarung Pakpak.

Bisa dibilang, sumber air juga tak terbatas, kapan pun mereka membutuhkannya. Untuk urusan minum, cukup tangkupkan saja kedua telapak tangan mengadang aliran air. Kesegarannya bahkan melebihi air galon isi ulang yang selama ini kita konsumsi di kota. Tak butuh dimasak. Tak butuh alat isi ulang yang menggunakan sinar ultraviolet.

JELAJAH - SUNGAI POS II LATIMOJONG
Klik atau tunggu sejenak untuk gambar lainnya. (by flickr)

Kami langsung bergabung dengan tiga teman porter yang sudah lebih dulu menanti. Segala perlengkapan dapur mulai dibongkar sedikit. Jam makan siang sudah lewat. Perut yang keroncongan harus diisi ulang. Butuh tenaga lebih banyak untuk melanjutkan perjalanan.

"Satu-satunya momen yang bikin saya makan tiga kali sehari, ya pendakian ini. Biasanya, saya cuma makan sekali dalam sehari kalau di kota," seloroh saya.

"Kalau mau mendaki butuh kalori ekstra dong. Cuma yang susahnya nanti kalau mau buang air besar," jawab teman yang lain. Haha..

Nasi hangat membuat kami lupa sejenak dengan kelelahan selama perjalanan. Suara arus sungai menjadi orkestra hiburan bagi kami. Musik alam. Tak ada yang lebih nikmat dari makan bersama di tengah rimba. Segalanya terasa lebih nikmat dan membuat kami banyak bersyukur.

Sayangnya, agak miris juga melihat coret-coretan dinding batu di hadapan kami. Ada banyak aksi vandalisme yang dilakukan oleh para pendaki tak bertanggung jawab. Seolah-olah, dengan menuliskan nama di dinding batu bisa menjadi rekor terhebat.

Meski sebagai pendaki pemula, saya tahu bahwa sejatinya para pendaki punya semboyan epik yang salah satunya, "tak boleh meninggalkan apa-apa kecuali jejak". Coretan atau sampah di alam terbuka sama sekali bukan jejak. Kalau sampai meninggalkan sampah, barangkali kita lebih pantas disebut sebagai "sampah" itu sendiri.

"Jangan pernah mengambil sesuatu selain gambar. Jangan pernah meninggalkan apa pun selain jejak. Jangan pernah membunuh sesuatu selain waktu." --semboyan pendaki

"Itulah, saya minta sama anak-anak (Karangan) untuk bersihkan kalau mereka lewat sini," ujar Rahim.

Bisa saja, pemuda-pemuda dari dusun Karangan dibuat jengkel dengan ulah para pendaki. Sebagian besar hanya ingin menunjukkan prestise sampai di puncak, tanpa sadar esensi sesungguhnya dari mencintai alam. Bukan hanya perempuan yang butuh kasih sayang. Alam pun demikian.

Apa perlu saya juga mengukirkan namamu, sayang? (Ohe Syam Suharso)

***

Pemberhentian di Pos II tak sekadar membunuh waktu bagi kami. Selain melintasi jalur reguler menuju puncak, kami masih punya misi lain untuk menyingkap keindahan kawasan Latimojong. Ada surga tersembunyi yang tak pernah disadari para pendaki saat melintasi Pos II.

"Cuma sedikit yang pernah kesana. Pokoknya bagus itu air terjun. Paling tinggi diantara semua yang pernah saya datangi," cetus Ohe, yang menggenapkan kesempatan keduanya mendaki pegunungan inni.

Untuk alasan itu pula, kami harus membagi rombongan dalam dua tim. 


[bersambung]


--Imam Rahmanto-- 

Minggu, 01 Oktober 2017

Menanjak (3)

Oktober 01, 2017
Surat kabar terpampang di hadapan saya. Saya tak bisa menampik, ada rona bahagia menyapu muka membaca dua halaman hasil peluh kami menjelajah alam Latimojong. Tulisan-tulisan itu. Foto yang terpampang. Ucapan diantaranya. Setidaknya, menggambarkan sebagian kisah kami menanjak untuk menuntaskan misi ekspedisi.

Benak saya takkan pernah bisa melupakan hal semacam itu. Sebagaimana cinta pertama yang sulit dilupakan, pun demikian perjalanan itu. Tak ada yang pantas dilupakan atau sekadar dianggap angin lalu.

***

Hampir semua rumah warga di dusun ini yang dicoreti para pengunjung.
Apa harus sekasar ini agar selalu diingat?? (Imam Rahmanto)

Pagi yang cukup mendebarkan bagi saya. Kokok ayam terasa lantang dan begitu menggema. Tak begitu sulit untuk terbangun di tempat ini. Langkah-langkah kaki di atas rumah juga sudah cukup menjadi penanda.

Pak Dusun juga sempat berbincang-bincang menyambut kami. Kami duduk diantara seduhan kopi khas Latimojong. Yah, meskipun seadanya ala masyarakat di perkampungan. Kopi, gula, air panas diaduk jadi satu. Saya jadi heran sendiri, lidah saya sudah sedemikian pekanya dengan seduhan dan olahan kopi. Gara-gara banyak bergaul dengan pecinta kopi.

"Cuma ini yang mau mendaki?" tanya Pak Dusun kepada kami. Dua teman masih terlelap di belakang kami.

"Yah, ini saja Pak Dusun. Kebetulan mereka mau menyelesaikan ekspedisinya. Ini Imam, dia mau......." sambut Rahim, sembari memperkenalkan saya dan Ohe kepada Pak Dusun.

Rahim memang sudah kenal lama dengan penduduk di Dusun Karangan. Jauh, beberapa tahun sebelumnya, ia sudah malang-melintang di dusun ini. Keprihatinannya pula yang mendorong ia banyak bersosialisasi dan memperjuangkan kawasan pegunungan tersebut. Tak heran jika hampir semua pemuda di dusun itu mengenalnya. Kelak, saya dibuat semakin bersyukur punya kawan-kawan seperti mereka.

Selagi udara masih dipapar sinar matahari, hangatnya kopi panas setidaknya bisa menemani obrolan berselimut itu. Saya sudah bolak-balik kamar mandi untuk menikmati segarnya air pegunungan. Seandainya kami masih punya banyak waktu, betapa rindunya saya mandi di bawah guyuran air dingin pegunungan.

"Halaaahh, padahal semalam tidur tidak pakai SB (Sleeping Bag), dingin begitu kakinya. Terpaksa pakai karpet digulung-gulung," timpal Rahim di sela-sela packing.

Kami memang sudah mengatur waktu untuk perjalanan menuju puncak. Sebagai pemula, saya hanya bisa mengikuti arahan dari Rahim. Dia pula yang mengajak tiga porter dari pemuda Karangan untuk ikut dalam perjalanan kami. Beban perlengkapan dapur tentu tak bisa ditanggung kami berlima. Salah satunya, anak Pak Dusun. Itu pun setelah Pak Dusun berinisiatif menawarkan anak lelakinya, Suliadi, ikut dalam perjalanan tersebut.

***

Pertama kalinya, saya benar-benar mencoba bersenyawa dengan alam pegunungan. Meskipun basicnya, saya pernah menjalani kegiatan perkemahan. Zaman sekolah, saya juga aktif dalam kegiatan kepramukaan.

Hanya saja, persoalan mendaki gunung saya baru bisa menikmatinya sungguh-sungguh. Saya tak pernah benar-benar menyiapkan perlengkapan mendaki begitu mendetail. Mulai dari tetek-bengek istilah yang agak rumit, hingga yang paling sederhana. Bahkan, untuk pakaian pun biasanya akan sangat menjadi perhatian bagi para pendaki. Wajar jika toko-toko outdoor di luar sana menyediakan detail perlengkapannya sekaligus. Lha wong, urusan mendaki bukan hal sembarangan. Beruntunganya, saya jadi belajar banyak terkait istilah pendakian yang biasanya lebih banyak diampu anak-anak pecinta alam.

Sayangnya, saya tak punya cukup waktu untuk sekadar menyiapkan sepatuk husus trekking. Jadilah saya mendaki dengan sandal gunung "butut" seadanya. Malah, tanpa perlu mengenakan kaos kaki. Hahahaha....dasar anak kampung. 

Tapi, tenang saja, perlengkapan lainnya lumayan lengkap kok. 

Ransel gunung? ceklis! Jaket anti air dan angin? ceklis!.Matras? ceklis! Sleeping bag? ceklis! Tenda? ceklis! Mantel hujan? ceklis! Kompor portabel? ceklis! Senter serbaguna? ceklis! Cemilan penambah kalori? ceklis! Kamera DSLR? ceklis! Air minum? ceklis! Pasangan hidup? Duh, belum dicek...

***

Rahim mengisi buku registrasi. Pemuda Karangan di depannya bernama Zaqqar (kalau tak salah), yang bakal membuat kita takjub jika tahu kenyataan sesungguhnya dari balik sarung yang selalu dikenakannya. (Imam Rahmanto)

Cekrek dulu sebelum berangkat. Ada Muche yang menjadi "penggawa" para Pemuda di Dusun Karangan. (Ohe Syam)

"Ada berapa pos kalau mau mendaki Latimojong?"

Secara umum, ada tujuh pos yang mesti dilalui. Meski sebetulnya para pendaki akan melintasi sembilan titik utama, termasuk tujuh pos tersebut. Dua diantaranya sebagai gerbang pembuka dan gerbang penutup.

Saya menyebut Dusun Karangan sebagai gerbang "selamat datang". Bagi pendaki mana pun, biasanya akan berjumpa dengan dusun di ujung kecamatan ini. Dusun ini pula yang bersebelahan langsung dengan segala peradaban khas Pegunungan Latimojong. Para pendaki akan berjumpa dengan Pos Registrasi di dusun ini, tepat sebelum mulai mencapai target.

Kelak, saya baru tahu jika posko pembuka itu belum genap berumur setahun. Para pemuda Karangan yang berinisiatif membangunnya demi memudahkan pendataan para pendaki. Selain itu, retribusi sebesar Rp10 ribu tak seberapa jika melihat upaya yang dilakukan para pemuda ini agar tetap menjaga kelestarian pegunungan. Lagipula, perputaran kas tak sepenuhnya dinikmati para pemuda dalam mengelola wisata pegunungan. Tak jarang, mereka terpaksa "menyumbangkannya" untuk kegiatan-kegiatan desa atau dusun.

Sementara puncak tertinggi menjadi gerbang "selamat tinggal". Ia sekaligus menjadi penutup misi pendakian. Sebagian orang menyebutnya sebagai pos kedelapan, meski tak ada rincian secara tertulis. Orang-orang lebih senang menyebut label Puncak Rante Mario secara tegas dan lugas.

Usai mengisi buku registrasi di posko awal, kami pun memulai pendakian. Tiga teman porter kami sudah maju lebih dulu. Mereka hendak menyiapkan perbekalan di tempat pemberhentian kami nantinya. Karena terbiasa dengan jalur pegunungan itu, mereka tidak perlu ngos-ngosan menempuh pendakian-pendakian awal.

"Sudah kayak kebunnya sendiri ini naik-turun Latimojong. Bisa dua jam saja lari-lari kalau mau ke puncak," canda teman saya.

Ini muka-muka narsis setelah lelah dilepaskan di Pos I. Tampilan pos I ya memang terbuka begini. (Ohe Syam) 

Pendakian menuju Pos pertama sebenarnya tak begitu sulit. Jika pernah membayangkan model tanjakan secara umum, maka disinilah lokasinya. Perjalanan mendaki bisa agak santai karena landai. Sambil siul-siul dan menyanyi. Kiri-kanan jalan, kami bisa menyaksikan lahan-lahan perkebunan kopi terbentang sangat luas. Lahan-lahan itu dulunya merupakan hutan yang juga menutupi punggung pegunungan. Sayangnya, beralih lahan menjadi perkebunan kopi masyarakat.

Tak ada uji nyali selama perjalanan awal kami. Langit biru juga masih bisa ditatap begitu lapang. Hanya rasa lelah yang tak jera mendera tubuh. Berkali-kali kami harus menyesuaikan ritme dengan teman perempuan, Icha, yang kelelahan selama melangkah. Sembari tetap menunggu tenaganya pulih, ya, kami mencoba menikmati saja alam yang terpampang di depan mata. Saya juga mulai sekali-kali mengarahkan lensa kamera.

Ribet juga membawa kamera beserta tasnya yang tersalempang di sebelah ransel. Contoh kesalahan amatir. Seharusnya, saya meninggalkannya dan menjejalkan kamera langsung di dalam ransel. 

Serius, jarak menuju Pos pertama teramat-sangat-teramat panjang. Medannya tak begitu ekstrem. Kami masih sering bertemu beberapa petani yang baru pulang dari kebun. Senyumnya ramah dan nampak tak asing dengan pendaki seperti kami. Cuma.... aduhai sangat melelahkan. Ini namanya mencicil keringat. Bukan kekuatan yang diuji. Melainkan daya tahan dengkul dan bahu (yang menggendong beban puluhan kilogram).

Sesampainya di pos pertama, terduduk dan nyaris terkaparlah kami yang masih amatir ini. Ternyata, saya harus mengganti kosa kata "menaklukkan" dengan yang lebih bersahabat dengan ekspedisi ini. Dengan begitu, barangkali Tuhan bisa lebih bijak menyalurkan bonus kekuatan untuk kami.

"Sampailah kita di pos satu. Itu disana, ada tanaman-tanaman kopi....." sementara Rahim dengan santainya sibuk mendokumentasikan perjalanan ala-ala vlog. Disorotnya muka yang sudah kusut dan penuh kenistaan.


Dari sinilah, tantangan sebenarnya dimulai. Di depan sana, warga menyebutnya pintu rimba. (Imam Rahmanto)


[bersambung]

-----


--Imam Rahmanto--