Jumat, 08 September 2017

Tanpa Jejak

(Foto: Imam Rahmanto)

Apa yang membuat saya tak "pulang" beberapa hari belakangan? Saya benci mengatakan berbagai tentang kesibukan. Karena kenyataannya, saya tak sesibuk dulu lagi saat masih melenggang ketat di perkotaan.

Barangkali, saya hanya tak tahu menempatkan waktu yang tepat untuk menuliskan hal-hal sederhana semacam ini. Semakin berjalan ke depan, saya baru menyadari bahwa waktu, seperti apa pun, selalu ada. Ia terus berputar. Hanya saja, penekanan prioritas yang kerap menjadi pilihan-pilihan tertentu di dalam kepala.

Diantara sunyi pegunungan ini, redup bintang yang selalu benderang begitu indah, seharusnya bisa menambah waktu saya untuk melukiskan lebih banyak kehidupan. Kata-kata tak selalu habis dalam setiap ketikan chat dengan teman-teman atau rekan kerja. Mengumpulkannya dalam satu rangkaian seperti ini yang jauh lebih sulit. Banyak perkara yang selalu melilit.

Beberapa waktu lalu, saya memperhatikan media sosial teman-teman, yang berujung pada teman lain yang bahkan saya belum mengenalnya. Akan tetapi, saya seolah terhubung pada satu hal yang sama; tulisan saya sendiri.

Yah, sebagian tulisan di "rumah" ini memang tak pernah ragu untuk saya lemparkan ke kerumunan. Barangkali tidak untuk jenis tulisan semacam ini. Sesekali, hanya melintas dan menyaksikan sedikit orang meluangkan waktu untuk membacanya. Selepasnya, suka atau pun tidak adalah urusan belakangan. Bagi saya, yang terpenting, kepuasan itu menjalar dalam kelegaan batin. Itu setelah mampu menuangkan apa yang benar-benar butuh dituliskan.

Hal menakjubkan selalu terjadi pada bagian teman-teman yang menikmati setiap detail cerita di tulisan tersebut. Saya hanya membayangkan seulas senyum yang mengikuti gerak-gerik mata nereka.

Membayangkan hal sesederhana itu, memberikan saya sedikit motivasi untuk "pulang". Lagi-lagi, tak ada alasan untuk meninggalkan "rumah" ini terlalu lama. Siapa saya yang tega meruntuhkan harapan satu-dua-tiga orang yang (saya yakin) cukup merindukan cerita-cerita sepele?

Tentang pulang yang sesungguhnya ke pelukan keluarga, saya tak memenuhinya. Kami hanya bertukar kabar melalui sambungan telepon. Beberapa kali bapak menanyakan kabar dan membahas kuliah adik yang sudah mulai memasuki hari pertama, selepas Iduladha.

Pekan ini, saya mesti membatalkan rencana pendakian gunung tertinggi di Tanah Sulawesi. Ekspedisi yang digadang-gadang semenjak bulan lalu ini belum punya persiapan matang. Teman sekaligus guide yang akan ikut dalam perjalanan panjang itu mengajukan penundaan selama seminggu.

"Sudah berangkat Latimojong hari ini?" dua-tiga redaktur kantor sempat bertanya hal yang sama, di hari yang sama.

Saya hanya bisa menjawab yang sebenarnya dibumbui sedikit alasan. Itu salah satu keahlian saya sejak kuliah. Mereka mengerti dan tak banyak menuntut. Kebetulan, pertanyaan itu diajukan untuk meyakinkan para petinggi kantor dalam rapat biasanya dan tentu, bakal mempertanyakan realisasi ekspedisi tersebut.

Berharap saja pekan berikutnya tak menemui kendala apa pun. Saya benci menunda-nunda petualangan selama beberapa kali. Teramat jarang saya menyesali perjalanan-perjalanan menikmati hijau pegunungan semacam itu.

Lantas, apa yang membuat aktivitas saya agak berantakan dan, sejujurnya, nampak mengecewakan hari ini??

Selain karena melewatkan gregetnya pertandingan Timnas Indonesia melawan Filipina yang berakhir dengan kemenangan 9-0, ternyata pikiran saya terus melayang-layang mengenai "rumah" ini. Sudah sepantasnya saya "pulang" dan memeluk segala kenangan di dalamnya. *bighug*

***

Gerimis sedang menimpa atap-atap seng di luar rumah. Bunyinya jutru mengundang ketenangan dalam hening yang kerap mendarat di sisa malam saya. Jika terlalu hening, saya akan memutarkan ratusan tembang kenangan dari playlist. Membiarkannya mengalun lembut dan mengantarkan ke alam mimpi.



--Imam Rahmanto--

Tidak ada komentar:

Posting Komentar