Kamis, 21 September 2017

Menanjak

(Imam Rahmanto)

Setelah sekian tahun, hidung saya baru kembali terasa kering. Kulit mati dan mengelupas. Di beberapa bagian terasa perih. Bagian lain justru tergoda untuk segera dikelupas. Jerawat juga mulai kembali tumbuh dari sana.

Terakhir kali, saya merasakan hal semacam itu pada masa sekolah menengah. Masa-masa ketika saya masih aktif berkemah dan menjalani aktivitasnya di daerah-daerah pegunungan. Kami, anak-anak Pramuka, berpanas-panasan untuk pelatihan maupun pengkaderan. Berbaris menyusuri hutan dengan tanda-tanda khusus.

Tungkai dan betis saya juga masih terasa pegal. Perjalanan mendaki Pegunungan Latimojong, pekan lalu, benar-benar melelahkan. Apalagi bagi kami, orang-orang yang baru pertama kali menyusuri jalur pegunungan tertinggi di Sulawesi itu. Saya harus memaksa kaki berjalan jauh hingga dua hari. Malam juga tetap kami tembus sebisa mungkin.

Meski begitu, tak ada rasa penyesalan menikmati keindahan dari atap Sulawesi itu...

***

"Yah, kita pakai motor saja. Lebih fleksibel karena bisa berhenti sesuka hati," ungkap salah seorang teman.

Rencana awal yang bakal menumpang kendaraaan roda empat harus dibatalkan. Tak ada kejelasan. Kalau pun kami betul-betul ingin menumpang mobil 4x4 mencapai gerbang pendakian Latimojong di Dusun Karangan, jadwal kami akan bergeser lebih jauh. Padahal rencana pendakian ke Puncak Rante Mario sudah disusun semenjak bulan lalu.

Latar belakang yang berbeda-beda memaksa kami untuk menyatukan waktu terbaik. Hal itu terlihat sulit dan merepotkan. Persamaannya hanya satu, yakni mencapai puncak Atap Sulawesi.

Anggota tim pun kerap berubah-ubah. Beberapa orang yang sudah memastikan ikut, kembali memutar ulang jadwalnya. Berbagai alasan. Seumpama kepanitiaan, kami berulang-ulang mendata para pendaki yang siap berpartisipasi. Awalnya, saya mengira kami akan berangkat dengan gegap gempita. Kenyataannya, hanya tiga orang yang benar-benar kukuh dengan keyakinannya; saya, Ohe, dan Rahim.

Saya sempat meawarkan ajakan pada beberapa orang teman lainnya, baik lokal maupun yang berada di luar Enrekang. Sayangnya, mereka mendadak punya kendala dan urusan masing-masing di penghujung keberangkatan. Bahkan, salah seorang teman yang sudah packing terpaksa membatalkan keberangkatannya karena urusan kantor. Kantor dan atasan memang sering menyebalkan.

"Semua perlengkapan sudah ada?" tanya Rahim.

Perjalanan tiga hari bukanlah waktu yang singkat untuk menjauh dari segala modernisasi dan kemudahan perkotaan. Kami harus menyiapkan ransum yang memadai dengan segala kesiapannya. Bagi yang sudah bolak-balik mendaki, seperti Rahim, tentu peringatan semacam itu menjadi hal lazim. Ia tak ingin ada kesalahan sedikit pun untuk saya, yang baru pertama kali menjejakkan kaki di pegunungan tropis tersebut.

"Kalau bukan karena kau dan Ohe, saya tidak mungkin kembali lagi mendaki," akunya.

Saya merasa tersanjung. Apalagi, ia juga baru saja dikaruniai seorang bayi laki-laki. Belum genap sebulan. Barangkali hanya karena kami menjadi pelanggan tetap di kafe miliknya, Mountain Cafe Coffee Clinic.

Akh, bukan. Sama sekali bukan.

Beberapa orang memang membangun kepercayaan lewat obrolan dari secangkir kopi. Bagi kami yang hidup di daerah perkampungan, obrolan basa-basi tidak hanya berlangsung dari sekadar chat yang menghabiskan kuota internet. Kami lebih senang menatap mata satu sama lain, menyunggingkan senyum paling utuh, atau meledek lewat candaan dengan gestur paling konyol sekali pun.

Pertemuan lebih mendekatkan satu sama lain.

Kami punya keyakinan terhadap bagaimana menjalani kehidupan masing-masing. Setiap orang punya hal-hal yang diperjuangkannya. Bisa jadi, hal itu pula yang membuatnya terus bernapas dengan semangat yang membara. Seperti Rahim dengan kesejahteraan kopinya atau pun Ohe dengan formulasi gambarnya.

Secara harfiah, hal-hal itu memang sangat berbeda. Akan tetapi, muaranya tetap hal yang sama, yakni tekad untuk terus berjuang.

Perjuangan yang menggenapkan kami. Mungkin itu pula yang mendekapkan kami. Meleburkan semangat untuk mendaki.

Meski hanya bertiga, kami tetap bersiap-siap. Segala perlengkapan konsumsi menjadi tugas yang harus saya selesaikan di pasar. Saya terpaksa harus berlagak seperti "ibu rumah tangga" membeli semua bahan dapur di pasar seorang diri. Catatan di tangan, merinci keperluan.

Beberapa hari jelang keberangkatan, seorang teman lain dari komunitas Galeri Macca bergabung. Kami sempat bertemu dalam acara duduk-duduk-ngopi di kafe dan membicarakan keberangkatan.

"Oke, saya ikut. Sambil saya cari perlengkapan dulu," ujarnya.

Jelang keberangkatan, ia membawa satu personel tambahan. Perempuan. Saya mengenalnya sebagai anggota komunitas yang sama. Kami pun sempat bertemu dalam penjelajahan di Dusun Angin-angin, kira-kira dua pekan lalu.

Jadilah kami berangkat berlima.

Rasa-rasanya, saya teringat dengan Power Rangers. Lima orang dengan kemampuan yang berbeda. Pun, ada perempuan. Atau sebut saja kami sebagai Mountain Ranger!

Henshin! Berubah! Berangkat!


***

Kehidupan di tengah pegunungan ini membuat saya banyak berpikir tentang menikmati alam. Meski bukan jebolan pecinta alam, saya tetap menyukai keindahan Tuhan yang terhampar sepanjang mata memandang. Tak ada yang begitu pantas disesalkan dari perjalanan menanjak dan berbatu.

Jika manusia punya maksud harfiah dalam mengajarkan sesuatu, alam pun demikian. Kita hanya perlu menafsirkannya berkali-kali. Alam tak pernah begitu menakutkan untuk direngkuh. Meski begitu, bukan berarti alam bisa dengan mudahnya ditaklukkan. 

Tak ada manusia yang bisa menaklukkan alam ciptaan Tuhan. Sekali pun kita menyebut menaklukkan gunung. Satu-satunya yang pantas ditaklukkan dalam perjalanan mendaki gunung adalah ego manusia itu sendiri...


[bersambung]

--Imam Rahmanto--

Tidak ada komentar:

Posting Komentar