Selasa, 12 September 2017

Hal(aman) yang Dipelajari

Udara mengelus lembut rambut-rambut halus di sekitar telinga saya. Waktu baru beranjak beberapa menit dari tengah hari. Matahari juga masih di atas ubun-ubun. Tak mengapa. Panasnya yang menyiratkan warna putih masih kalah terang dengan pemandangan hijau dimana-mana. Daun-daun yang melambai seolah berdesir dan bersajak atas nama kedamaian.

Saya teramat senang memandangi hal-hal sederhana semacam itu. Sudah lama tak melukiskan pemandangan sebagaimana adanya. Di samping itu, mata saya sudah semakin mendekati miopi dalam beberapa bulan belakangan. Nampaknya terlalu banyak menatap layar notebook dan gawai (sebagai bagian dari pekerjaan).

Menjauh dari layar terasa begitu nyata bagi saya. Hijaunya pohon, lapangnya langit, desau angin, kukuh bebatuan, hingga senyum tulus menjadi barang mewah jika berada di tengah kota. Semenjak delapan bulan silam, saya perlahan mencerna segalanya. Sedikit demi sedikit dengan waktu yang terus bergulir. Pun, saya diajak untuk berpikir.

"Saya mending sedikit gaji, tapi banyak pergi-pergi. Di Makassar, itu-itu ji. Seperti burung dalam sangkar," seorang teman pernah berdiskusi via Whatsapp.

Saya hanya tersenyum menanggapinya. Jari lain mengetikkan tawa yang membahana padanya, dengan maksud mencemooh. Sejujurnya, saya masih gamang jika harus berlama-lama di luar kota. Orang-orang selalu bertanya sampai kapan saya akan ditugaskan di tempat ini. Saya hanya bisa menjawab, hingga waktu yang tak ditentukan. 

Hidup di kampung halaman memang memberikan ketenangan dan lebih banyak quality time. Sayangnya, bagi orang-orang "menjelang" dewasa seperti kami, penghasilan juga menjadi perhitungan matematis. Kalkulasinya lebih logis dibanding membawa-bawa perasaan. Apalagi adik juga masih dalam tanggungan saya.

Meski begitu, seiring waktu, saya belajar mencintai. Benar-benar mencintai. Tanpa sadar, saya ternyata mendapati banyak hal yang benar-benar membuat kehidupan di pedesaan jauh lebih "hidup". Saya belajar beberapa hal.


#Melacak Alamat

Pedesaan belum banyak terjamah sinyal-sinyal internet. Hampir di semua wilayah pegunungan, kami hanya bisa mendapatkan jaringan telepon, tanpa sambungan untuk mengakses layanan internet. Sistem GPS juga sangat terbatas. Kalau pun berfungsi, peta di Google hanya bisa menggambarkan sebagian kecil, hanya sebagian kecil, jalan-jalan di perkampungan.

Saya belajar untuk lebih banyak bertanya dengan orang-orang di sekitar. Paling tidak, menyapa dan mengangsurkan senyum. Selebihnya langsung menanyakan arah yang hendak dituju. Hal semacam itu justru menjadi pengalaman yang menyenangkan. Berinteraksi dengan manusia sesungguhnya.

Dua minggu lalu, saya patut berbangga karena sudah berhasil menyusuri jalan ke salah satu pelosok desa tanpa bantuan peta. Hanya berbekal tanya jika sudah "merasa" tersesat.

Selain itu, mata dimanjakan berbagai pemandangan lapang tiap detiknya. Takjub. Adrenalin terpacu untuk menyusur jalan yang benar. Penasaran dengan hal-hal yang dilalui. Perasaan-perasaan semacam itu yang seharusnya terbangun sebagai manusia sesungguhnya. Saya ingat, betapa "robot"nya hidup saya di perkotaan sebelumnya.

#Bertemu atau Bertamu Langsung

Kehiidupan di kampung halaman sekaligus membangkitkan masa kanak-kanak dahulu. Seperti masa itu, kami tak pernah memanfaatkan facebook, grup WA, LINE, hanya untuk menyusun rencana bertemu. Masyarakat di pedesaan justru tak begitu akrab dengan perkembangan modern semacam itu. Sebagian besar teman saya disini justru slow response ketika dikontak via teknologi modern semacam itu.

Oleh karena itu, saya mempelajari bahwa untuk berurusan dengan orang-orang disini, saya harus berjumpa langsung. Bertamu (atau main) ke rumahnya. Kalau beruntung, disuguhi secangkir kopi (meski saya benci kopi pekat).

Paling tidak, menghubunginya via telepon hanya sesekali. Saya belajar untuk menerima kekecewaan setiap kali tak menjumpainya di rumah. Akh, persoalan kecewa atau tidak bergantung dari bagaimana kita menempatkan ekspektasi. Selama kita sudah mencoba, menghargai diri sendiri adalah hal yang baik.

Berkunjung dan bertemanlah. (Foto: Uppy)

#Berteman 

Benar. Meski Enrekang merupakan kampung halaman saya, namun ternyata masih banyak orang-orang baik yang berseliweran di sekitar saya. Kehidupan saya di pusat kabupaten justru mengantarkan pada teman-teman baru. Kali ini, bukan sekadar hubungan antara jurnalis - narasumber, yang biasanya akan terkikis oleh pergantian desk. 

Hanya dengan duduk-duduk santai di kafe, saya diperkenalkan dengan temannya teman. Perkenalan bisa terus bercabang ke teman-teman lain, yang awalnya hanya melintas sebentar di jejaring media sosial. Sekadar "sering baku lihat", hingga berujung baru tahu nama dan menjalin keakraban selayaknya pertemanan di dunia nyata.

Kerap kali, kami para jurnalis dikenal karena label media yang tersemat di balik nama kami. Akan tetapi, saya lebih senang jika dikenal sebagai Imam Rahmanto, ketimbang melihat profesi (yang sebenarnya juga biasa-biasa saja).

#Kecanduan Baru

"Ya, gara-gara kau mi, ini Imam sekarang juga sudah teracuni," ungkap teman saat melihat saya mengutak-atik frame kamera DSLR.

Saya mulai meluangkan waktu untuk pengalaman-pengalaman baru. Seharusnya saya lebih awal menyadari, waktu-waktu berkualitas tak bisa dibandingkan dengan tuntutan kerja seperti apa pun. Bahkan dunia dan seisinya tak lebih baik jika kita harus menghabiskan separuh jatah 24 jam yang dimiliki.

Salah satunya, saya bisa lebih menekuni hobi memotret dari tempat ini. Seperti bermain musik, saya hanya menjadikannya pengisi waktu luang. Belajar banyak hal. Menambah neuron di kepala. Karena tetap saja, saya lebih ingin menghabiskan separuh hidup saya dengan tulisan-tulisan.

"Akh, kalau mau pesan cappuccino, Imam tidak usah dibikinkan. Saya suruh bikin sendiri," cetus teman pemilik kafe. Dari tempatnya, saya juga "terpaksa" belajar banyak hal tentang menyeduh kopi tidak-secara-instan-dan-sasetan.

Kopi itu digiling, bukan digunting. (Foto: unknown)

Quality time itu tak sebatas menikmati waktu dengan keterampilan baru. Tak terkecuali dengan memperbaharui hubungan-hubungan baru. Setidaknya mulai berhubungan kembali dengan teman-teman lama. Berkunjung sesering mungkin ke rumah Bunda. Pun, menjenguk kenangan masa kecil.

#Seni Mendengarkan

Baru-baru ini, seorang teman mengakhiri sesi cerita panjangnya dengan, "Entah jurus apa yang kita pakai. Rasanya kalau mau cerita, bisa sampai cerita semuaaa."

Entahlah. Saya boleh tersanjung mendengarnya. Di samping orang yang terkenal kepo, saya mulai belajar tidak berbicara terlalu banyak. Kenyataannya, yang namanya "mendengarkan" itu jauh lebih penting. Sebagaimana adagium bahwa manusia dibekali dua telinga dan satu mulut agar dia lebih banyak mendengarkan ketimbang berbicara. Dari tempat yang jauh dari perkotaan ini, saya belajar memperdalamnya.

Orang-orang takkan pernah tahu caranya mendengarkan jika hiruk-pikuk menggema di sekelilingnya. Kesibukan tak memberi jeda. Rasa jenuh ikut membakar perasaan "toleransi" perlahan-lahan.

Kehidupan saya di tempat ini, yang bertemu orang baru dan mengobrol segala hal membuat saya membangun komunikasi dua arah dengan mereka. Selain tuntutan sebagai seorang "pewawancara", saya juga seharusnya memahami bahwa "mendengarkan" bisa menjadi salah satu muara kelegaan bagi orang lain.

Saya belajar mendengarkan banyak hal.

Mendengarkan kicau burung. Mendengarkan lirihnya nyanyian angin di depan kamar berlantai dua. Mendengarkan panggilan alam untuk dijelajahi. Mendengarkan gemericik air yang mengalir. Mendengarkan tetes hujan yang tak pernah ditebak waktunya.

Mendengarkan deru kendaraan yang sama sekali tak memekakkan telinga. Mendengarkan tawa-tawa renyah hanya karena lelucon ringan. Mendengarkan rengek anak kecil yang meminta disayangi orang tuanya. Mendengarkan tembang lawas kenangn bersama ayah. Mendengarkan belasan suara cicak di setiap sisi dan atap kamar jelang tidur. Hingga mendengarkan suara alarm setiap pagi (yang tak berefek paada kebiasaan bangun pagi).

#Bersyukur

Banyaknya tempat yang dijelajahi memberikan waktu untuk berkontemplasi. Betapa manusia tak ada apa-apanya dibanding alam ciptaan Tuhan. Bahkan, di balik sikap mengeluh kita setiap waktu, ternyata orang-orang yang hidup diantara jejeran keindahan itu tetap berjalan apa adanya.

Hanya dengan melihat senyum anak-anak, kita dibuat terpana. Mereka hidup sederhana tanpa perlu dihujani glamor kehidupan modern perkotaan.

#Menabung

Mana ada! 

***

Pada akhirnya, saya bisa menambah lebih banyak hal baru di tempat ini. Sebagian besar pengalaman itu membuat saya harus melihat ke dunia nyata. Pelajaran utamanya adalah dengan menikmati kehidupan yang sebenarnya.

(Foto: Suarto)



--Imam Rahmanto--

3 komentar:

  1. Pekerjaan itu memang bikin mumet pikiran sebagian besar orang "dewasa",ya!

    Eh, tapi, belajar lebih banyak mendengarkan itu nyata? Rasa-rasanya seperti fantasi belakaπŸ˜‚πŸ˜‚

    BalasHapus
    Balasan
    1. Bukan soal menjalani pekerjaannya. Tetapi muara atau tujuan pekerjaan itu yang bikin banyak berpikir...

      Yaelah, ndak percaya amat. Sini ta' ladeni deh kalau mau tjurhat. Monggo.

      Hapus
    2. Mesti mikir keras kalo mau curhat sensitif. Traumatik. πŸ˜‚πŸ˜‚πŸ˜‚

      Sulit untuk melepaskan bayangan kalau suka over keponya.

      Hapus