Selasa, 26 September 2017

Menanjak (2)

September 26, 2017
"Kita berangkat?" 

"Ayo, supaya kita bisa magrib di tengah jalan," ujar Rahim, yang menjadi pucuk perjalanan kami. 

Kami baru saja merampungkan segala persiapan, termasuk packing logistik ke dalam beberapa tas carrier. Keberangkatan lepas Dhuhur terpaksa mulur hingga empat jam. Selain menunggu teman, perlengkapan lain juga masih dalam pencarian. Saya baru tahu, macam-macam perlengkapan mesti dipaksa ikut dalam perjalanan empat hari kami.

Perjalanan menuju gerbang pendakian Latimojong, Dusun Karangan butuh waktu yang lebih lama. Kondisi sudah mulai menggelap dan tak memberikan ruang bagi mata. Teman kami, Pandi, terpaksa mengendarai motornya dengan berbekal headlamp di kepala. Lampu depan motornya tak berfungsi. 

Tak butuh petunjuk khusus menuju Dusun Karangan. Ujung kecamatan itu bisa ditempuh melalui jalur keramaian Kecamatan Baraka. Di tempat ini pula biasanya para pendaki dari luar kota mengawali petualangannya. Ada yang menyewa kendaraan roda empat, seperti jip, maupun sekadar registrasi di sekretariat kelompok pecinta alam.

Sayangnya, kami anti mainstream. Kami tak perlu berhenti disana. Rahim punya banyak kenalan di dusun Karangan, yang bakal menjadi titik awal petualangan bagi kami.

Jalan berlumpur menjadi adangan di tengah jalan. Hampir seperti jalur menuju Dusun Angin-angin, kami harus berjibaku dengan jalanan yang masih basah oleh lumpur. Hujan baru saja mengguyur dan membuat perjalanan kami agak licin. Bukan agak licin. Malah sangat ekstrem dengan kondisi tanpa lampu jalan. Jurang menganga di sebelah kanan jalan.

Istirahat dulu di jalan, biar tak oleng. (Imam Rahmanto)

Saya harus mengakali laju motor di tengah perjalanan. Beberapa kali terjebak lumpur membuat saya harus bermain ala motor trail. Sebenarnya cukup menyenangkan sih. Petualangan semacam itu yang membuat perasaan lebih hidup dan mendebarkan. Termasuk ketika saya nyaris terjungkal ke jurang karena kehilangan pijakan kaki kanan. Hahaha...

Kami tiba di Dusun Karangan nyaris tengah malam. Suasana sudah sepi. Udara sudah mulai terasa dinginnya. Hanya anjing menggonggong yang kedengaran menyambut kedatangan kami. Seolah mereka berseru, "Pulanglah, ngapain kalian disini?"

Saya menjawab, "Kami baru tiba. Jangan diganggu lah. Ini bahu sudah pegal-pegal gendong ransel (carrier) besar, maunya istirahat dulu."

Rumah Kepala Dusun menjadi persinggahan sementara kami. Meskipun ia sudah tidur dan tidak sempat menyambut kami (yang memang telat dan mengganggu jam tidur orang), rumahnya tetap terbuka lebar. Kami langsung mencari bidang paling datar untuk tempat meluruskan punggung alias berbaring.

Tak ada yang terbebas dari tanah dan lumpur. Air (yang sangat) dingin terpaksa membasuh kaki malam-malam.

"Kita ngopi dulu," ajak Rahim.

Diantara sela-sela ruang tamu, kami menyalakan kompor portabel. Sebagian perlengkapan dapur sudah dijajal dari sini; kopi (andalan) arabika kalosi. Itulah gunanya kami bersama teman, yang juga pemilik kafe dan pegiat kopi. Ilmu barista dan kopinya tak bisa jauh-jauh. Aroma hangatnya berpadu dengan udara dingin yang menembus lubang dinding rumah panggung ini.

Dusun ini tak dijangkau oleh sinyal operator telekomunikasi. Kami tak butuh lagi mengecek handphone satu per satu. Dijamin, takkan ada notifikasi yang masuk selama empat hari ke depan. Satu-satunya alasan untuk tetap memegang gadget karena keperluan mendokumentasikan perjalanan.

Meski begitu, hal semacam itu yang benar- benar menenangkan. Suasana dusun begitu damai. Kami tak perlu lagi memusingkan masalah pekerjaan, kuliah, atau isu-isu tak penting di dunia maya. Kami cukup merasai saja alam pegunungan yang menakjubkan. Heningnya yang takkan dijumpai di perkotaan. Gelapnya begitu dicintai bintang-bintang di langit.

Kapan terakhir kali kita menjauh dari layar dunia maya? Saya belajar menjauhinya dari tempat ini. Dimulai dari kebersamaan kami. Betapa tawa harus terus dipupuk dalam perjalanan kami.

Bahkan, tak ada namanya teman yang merepotkan. Karena saat mengencangkan ikatan ransel, kami seharusnya sudah siap untuk direpotkan kapan saja. Ada perjalanan berat (dan betul-betul berat) yang menanti di depan.

"Ngapain kalian disini?" gonggong anjing kembali terdengar.

"Belum tidur? Jangan begadang karena besok kita harus mendaki pagi-pagi," pesan Rahim saat melihat saya menyeduh mi instan.

"Untuk apa?" suara anjing terus saja melolong.

"Ada lelah yang pantas terbayarkan untuk merasai pengalaman menakjubkan ini. Biarkan kami melaju, menyiapkan diri untuk bersahabat dengan alam Latimojong," debar di dada menyuarakannya.

Barangkali, kelak, saya juga akan lebih banyak mengabadikan bintang dan Milky Way-nya. Saya menyukainya.
(Imam Rahmanto)


[bersambung]


--Imam Rahmanto--

Kamis, 21 September 2017

Menanjak

September 21, 2017
(Imam Rahmanto)

Setelah sekian tahun, hidung saya baru kembali terasa kering. Kulit mati dan mengelupas. Di beberapa bagian terasa perih. Bagian lain justru tergoda untuk segera dikelupas. Jerawat juga mulai kembali tumbuh dari sana.

Terakhir kali, saya merasakan hal semacam itu pada masa sekolah menengah. Masa-masa ketika saya masih aktif berkemah dan menjalani aktivitasnya di daerah-daerah pegunungan. Kami, anak-anak Pramuka, berpanas-panasan untuk pelatihan maupun pengkaderan. Berbaris menyusuri hutan dengan tanda-tanda khusus.

Tungkai dan betis saya juga masih terasa pegal. Perjalanan mendaki Pegunungan Latimojong, pekan lalu, benar-benar melelahkan. Apalagi bagi kami, orang-orang yang baru pertama kali menyusuri jalur pegunungan tertinggi di Sulawesi itu. Saya harus memaksa kaki berjalan jauh hingga dua hari. Malam juga tetap kami tembus sebisa mungkin.

Meski begitu, tak ada rasa penyesalan menikmati keindahan dari atap Sulawesi itu...

***

"Yah, kita pakai motor saja. Lebih fleksibel karena bisa berhenti sesuka hati," ungkap salah seorang teman.

Rencana awal yang bakal menumpang kendaraaan roda empat harus dibatalkan. Tak ada kejelasan. Kalau pun kami betul-betul ingin menumpang mobil 4x4 mencapai gerbang pendakian Latimojong di Dusun Karangan, jadwal kami akan bergeser lebih jauh. Padahal rencana pendakian ke Puncak Rante Mario sudah disusun semenjak bulan lalu.

Latar belakang yang berbeda-beda memaksa kami untuk menyatukan waktu terbaik. Hal itu terlihat sulit dan merepotkan. Persamaannya hanya satu, yakni mencapai puncak Atap Sulawesi.

Anggota tim pun kerap berubah-ubah. Beberapa orang yang sudah memastikan ikut, kembali memutar ulang jadwalnya. Berbagai alasan. Seumpama kepanitiaan, kami berulang-ulang mendata para pendaki yang siap berpartisipasi. Awalnya, saya mengira kami akan berangkat dengan gegap gempita. Kenyataannya, hanya tiga orang yang benar-benar kukuh dengan keyakinannya; saya, Ohe, dan Rahim.

Saya sempat meawarkan ajakan pada beberapa orang teman lainnya, baik lokal maupun yang berada di luar Enrekang. Sayangnya, mereka mendadak punya kendala dan urusan masing-masing di penghujung keberangkatan. Bahkan, salah seorang teman yang sudah packing terpaksa membatalkan keberangkatannya karena urusan kantor. Kantor dan atasan memang sering menyebalkan.

"Semua perlengkapan sudah ada?" tanya Rahim.

Perjalanan tiga hari bukanlah waktu yang singkat untuk menjauh dari segala modernisasi dan kemudahan perkotaan. Kami harus menyiapkan ransum yang memadai dengan segala kesiapannya. Bagi yang sudah bolak-balik mendaki, seperti Rahim, tentu peringatan semacam itu menjadi hal lazim. Ia tak ingin ada kesalahan sedikit pun untuk saya, yang baru pertama kali menjejakkan kaki di pegunungan tropis tersebut.

"Kalau bukan karena kau dan Ohe, saya tidak mungkin kembali lagi mendaki," akunya.

Saya merasa tersanjung. Apalagi, ia juga baru saja dikaruniai seorang bayi laki-laki. Belum genap sebulan. Barangkali hanya karena kami menjadi pelanggan tetap di kafe miliknya, Mountain Cafe Coffee Clinic.

Akh, bukan. Sama sekali bukan.

Beberapa orang memang membangun kepercayaan lewat obrolan dari secangkir kopi. Bagi kami yang hidup di daerah perkampungan, obrolan basa-basi tidak hanya berlangsung dari sekadar chat yang menghabiskan kuota internet. Kami lebih senang menatap mata satu sama lain, menyunggingkan senyum paling utuh, atau meledek lewat candaan dengan gestur paling konyol sekali pun.

Pertemuan lebih mendekatkan satu sama lain.

Kami punya keyakinan terhadap bagaimana menjalani kehidupan masing-masing. Setiap orang punya hal-hal yang diperjuangkannya. Bisa jadi, hal itu pula yang membuatnya terus bernapas dengan semangat yang membara. Seperti Rahim dengan kesejahteraan kopinya atau pun Ohe dengan formulasi gambarnya.

Secara harfiah, hal-hal itu memang sangat berbeda. Akan tetapi, muaranya tetap hal yang sama, yakni tekad untuk terus berjuang.

Perjuangan yang menggenapkan kami. Mungkin itu pula yang mendekapkan kami. Meleburkan semangat untuk mendaki.

Meski hanya bertiga, kami tetap bersiap-siap. Segala perlengkapan konsumsi menjadi tugas yang harus saya selesaikan di pasar. Saya terpaksa harus berlagak seperti "ibu rumah tangga" membeli semua bahan dapur di pasar seorang diri. Catatan di tangan, merinci keperluan.

Beberapa hari jelang keberangkatan, seorang teman lain dari komunitas Galeri Macca bergabung. Kami sempat bertemu dalam acara duduk-duduk-ngopi di kafe dan membicarakan keberangkatan.

"Oke, saya ikut. Sambil saya cari perlengkapan dulu," ujarnya.

Jelang keberangkatan, ia membawa satu personel tambahan. Perempuan. Saya mengenalnya sebagai anggota komunitas yang sama. Kami pun sempat bertemu dalam penjelajahan di Dusun Angin-angin, kira-kira dua pekan lalu.

Jadilah kami berangkat berlima.

Rasa-rasanya, saya teringat dengan Power Rangers. Lima orang dengan kemampuan yang berbeda. Pun, ada perempuan. Atau sebut saja kami sebagai Mountain Ranger!

Henshin! Berubah! Berangkat!


***

Kehidupan di tengah pegunungan ini membuat saya banyak berpikir tentang menikmati alam. Meski bukan jebolan pecinta alam, saya tetap menyukai keindahan Tuhan yang terhampar sepanjang mata memandang. Tak ada yang begitu pantas disesalkan dari perjalanan menanjak dan berbatu.

Jika manusia punya maksud harfiah dalam mengajarkan sesuatu, alam pun demikian. Kita hanya perlu menafsirkannya berkali-kali. Alam tak pernah begitu menakutkan untuk direngkuh. Meski begitu, bukan berarti alam bisa dengan mudahnya ditaklukkan. 

Tak ada manusia yang bisa menaklukkan alam ciptaan Tuhan. Sekali pun kita menyebut menaklukkan gunung. Satu-satunya yang pantas ditaklukkan dalam perjalanan mendaki gunung adalah ego manusia itu sendiri...


[bersambung]

--Imam Rahmanto--

Selasa, 12 September 2017

Hal(aman) yang Dipelajari

September 12, 2017
Udara mengelus lembut rambut-rambut halus di sekitar telinga saya. Waktu baru beranjak beberapa menit dari tengah hari. Matahari juga masih di atas ubun-ubun. Tak mengapa. Panasnya yang menyiratkan warna putih masih kalah terang dengan pemandangan hijau dimana-mana. Daun-daun yang melambai seolah berdesir dan bersajak atas nama kedamaian.

Saya teramat senang memandangi hal-hal sederhana semacam itu. Sudah lama tak melukiskan pemandangan sebagaimana adanya. Di samping itu, mata saya sudah semakin mendekati miopi dalam beberapa bulan belakangan. Nampaknya terlalu banyak menatap layar notebook dan gawai (sebagai bagian dari pekerjaan).

Menjauh dari layar terasa begitu nyata bagi saya. Hijaunya pohon, lapangnya langit, desau angin, kukuh bebatuan, hingga senyum tulus menjadi barang mewah jika berada di tengah kota. Semenjak delapan bulan silam, saya perlahan mencerna segalanya. Sedikit demi sedikit dengan waktu yang terus bergulir. Pun, saya diajak untuk berpikir.

"Saya mending sedikit gaji, tapi banyak pergi-pergi. Di Makassar, itu-itu ji. Seperti burung dalam sangkar," seorang teman pernah berdiskusi via Whatsapp.

Saya hanya tersenyum menanggapinya. Jari lain mengetikkan tawa yang membahana padanya, dengan maksud mencemooh. Sejujurnya, saya masih gamang jika harus berlama-lama di luar kota. Orang-orang selalu bertanya sampai kapan saya akan ditugaskan di tempat ini. Saya hanya bisa menjawab, hingga waktu yang tak ditentukan. 

Hidup di kampung halaman memang memberikan ketenangan dan lebih banyak quality time. Sayangnya, bagi orang-orang "menjelang" dewasa seperti kami, penghasilan juga menjadi perhitungan matematis. Kalkulasinya lebih logis dibanding membawa-bawa perasaan. Apalagi adik juga masih dalam tanggungan saya.

Meski begitu, seiring waktu, saya belajar mencintai. Benar-benar mencintai. Tanpa sadar, saya ternyata mendapati banyak hal yang benar-benar membuat kehidupan di pedesaan jauh lebih "hidup". Saya belajar beberapa hal.


#Melacak Alamat

Pedesaan belum banyak terjamah sinyal-sinyal internet. Hampir di semua wilayah pegunungan, kami hanya bisa mendapatkan jaringan telepon, tanpa sambungan untuk mengakses layanan internet. Sistem GPS juga sangat terbatas. Kalau pun berfungsi, peta di Google hanya bisa menggambarkan sebagian kecil, hanya sebagian kecil, jalan-jalan di perkampungan.

Saya belajar untuk lebih banyak bertanya dengan orang-orang di sekitar. Paling tidak, menyapa dan mengangsurkan senyum. Selebihnya langsung menanyakan arah yang hendak dituju. Hal semacam itu justru menjadi pengalaman yang menyenangkan. Berinteraksi dengan manusia sesungguhnya.

Dua minggu lalu, saya patut berbangga karena sudah berhasil menyusuri jalan ke salah satu pelosok desa tanpa bantuan peta. Hanya berbekal tanya jika sudah "merasa" tersesat.

Selain itu, mata dimanjakan berbagai pemandangan lapang tiap detiknya. Takjub. Adrenalin terpacu untuk menyusur jalan yang benar. Penasaran dengan hal-hal yang dilalui. Perasaan-perasaan semacam itu yang seharusnya terbangun sebagai manusia sesungguhnya. Saya ingat, betapa "robot"nya hidup saya di perkotaan sebelumnya.

#Bertemu atau Bertamu Langsung

Kehiidupan di kampung halaman sekaligus membangkitkan masa kanak-kanak dahulu. Seperti masa itu, kami tak pernah memanfaatkan facebook, grup WA, LINE, hanya untuk menyusun rencana bertemu. Masyarakat di pedesaan justru tak begitu akrab dengan perkembangan modern semacam itu. Sebagian besar teman saya disini justru slow response ketika dikontak via teknologi modern semacam itu.

Oleh karena itu, saya mempelajari bahwa untuk berurusan dengan orang-orang disini, saya harus berjumpa langsung. Bertamu (atau main) ke rumahnya. Kalau beruntung, disuguhi secangkir kopi (meski saya benci kopi pekat).

Paling tidak, menghubunginya via telepon hanya sesekali. Saya belajar untuk menerima kekecewaan setiap kali tak menjumpainya di rumah. Akh, persoalan kecewa atau tidak bergantung dari bagaimana kita menempatkan ekspektasi. Selama kita sudah mencoba, menghargai diri sendiri adalah hal yang baik.

Berkunjung dan bertemanlah. (Foto: Uppy)

#Berteman 

Benar. Meski Enrekang merupakan kampung halaman saya, namun ternyata masih banyak orang-orang baik yang berseliweran di sekitar saya. Kehidupan saya di pusat kabupaten justru mengantarkan pada teman-teman baru. Kali ini, bukan sekadar hubungan antara jurnalis - narasumber, yang biasanya akan terkikis oleh pergantian desk. 

Hanya dengan duduk-duduk santai di kafe, saya diperkenalkan dengan temannya teman. Perkenalan bisa terus bercabang ke teman-teman lain, yang awalnya hanya melintas sebentar di jejaring media sosial. Sekadar "sering baku lihat", hingga berujung baru tahu nama dan menjalin keakraban selayaknya pertemanan di dunia nyata.

Kerap kali, kami para jurnalis dikenal karena label media yang tersemat di balik nama kami. Akan tetapi, saya lebih senang jika dikenal sebagai Imam Rahmanto, ketimbang melihat profesi (yang sebenarnya juga biasa-biasa saja).

#Kecanduan Baru

"Ya, gara-gara kau mi, ini Imam sekarang juga sudah teracuni," ungkap teman saat melihat saya mengutak-atik frame kamera DSLR.

Saya mulai meluangkan waktu untuk pengalaman-pengalaman baru. Seharusnya saya lebih awal menyadari, waktu-waktu berkualitas tak bisa dibandingkan dengan tuntutan kerja seperti apa pun. Bahkan dunia dan seisinya tak lebih baik jika kita harus menghabiskan separuh jatah 24 jam yang dimiliki.

Salah satunya, saya bisa lebih menekuni hobi memotret dari tempat ini. Seperti bermain musik, saya hanya menjadikannya pengisi waktu luang. Belajar banyak hal. Menambah neuron di kepala. Karena tetap saja, saya lebih ingin menghabiskan separuh hidup saya dengan tulisan-tulisan.

"Akh, kalau mau pesan cappuccino, Imam tidak usah dibikinkan. Saya suruh bikin sendiri," cetus teman pemilik kafe. Dari tempatnya, saya juga "terpaksa" belajar banyak hal tentang menyeduh kopi tidak-secara-instan-dan-sasetan.

Kopi itu digiling, bukan digunting. (Foto: unknown)

Quality time itu tak sebatas menikmati waktu dengan keterampilan baru. Tak terkecuali dengan memperbaharui hubungan-hubungan baru. Setidaknya mulai berhubungan kembali dengan teman-teman lama. Berkunjung sesering mungkin ke rumah Bunda. Pun, menjenguk kenangan masa kecil.

#Seni Mendengarkan

Baru-baru ini, seorang teman mengakhiri sesi cerita panjangnya dengan, "Entah jurus apa yang kita pakai. Rasanya kalau mau cerita, bisa sampai cerita semuaaa."

Entahlah. Saya boleh tersanjung mendengarnya. Di samping orang yang terkenal kepo, saya mulai belajar tidak berbicara terlalu banyak. Kenyataannya, yang namanya "mendengarkan" itu jauh lebih penting. Sebagaimana adagium bahwa manusia dibekali dua telinga dan satu mulut agar dia lebih banyak mendengarkan ketimbang berbicara. Dari tempat yang jauh dari perkotaan ini, saya belajar memperdalamnya.

Orang-orang takkan pernah tahu caranya mendengarkan jika hiruk-pikuk menggema di sekelilingnya. Kesibukan tak memberi jeda. Rasa jenuh ikut membakar perasaan "toleransi" perlahan-lahan.

Kehidupan saya di tempat ini, yang bertemu orang baru dan mengobrol segala hal membuat saya membangun komunikasi dua arah dengan mereka. Selain tuntutan sebagai seorang "pewawancara", saya juga seharusnya memahami bahwa "mendengarkan" bisa menjadi salah satu muara kelegaan bagi orang lain.

Saya belajar mendengarkan banyak hal.

Mendengarkan kicau burung. Mendengarkan lirihnya nyanyian angin di depan kamar berlantai dua. Mendengarkan panggilan alam untuk dijelajahi. Mendengarkan gemericik air yang mengalir. Mendengarkan tetes hujan yang tak pernah ditebak waktunya.

Mendengarkan deru kendaraan yang sama sekali tak memekakkan telinga. Mendengarkan tawa-tawa renyah hanya karena lelucon ringan. Mendengarkan rengek anak kecil yang meminta disayangi orang tuanya. Mendengarkan tembang lawas kenangn bersama ayah. Mendengarkan belasan suara cicak di setiap sisi dan atap kamar jelang tidur. Hingga mendengarkan suara alarm setiap pagi (yang tak berefek paada kebiasaan bangun pagi).

#Bersyukur

Banyaknya tempat yang dijelajahi memberikan waktu untuk berkontemplasi. Betapa manusia tak ada apa-apanya dibanding alam ciptaan Tuhan. Bahkan, di balik sikap mengeluh kita setiap waktu, ternyata orang-orang yang hidup diantara jejeran keindahan itu tetap berjalan apa adanya.

Hanya dengan melihat senyum anak-anak, kita dibuat terpana. Mereka hidup sederhana tanpa perlu dihujani glamor kehidupan modern perkotaan.

#Menabung

Mana ada! 

***

Pada akhirnya, saya bisa menambah lebih banyak hal baru di tempat ini. Sebagian besar pengalaman itu membuat saya harus melihat ke dunia nyata. Pelajaran utamanya adalah dengan menikmati kehidupan yang sebenarnya.

(Foto: Suarto)



--Imam Rahmanto--

Jumat, 08 September 2017

Tanpa Jejak

September 08, 2017
(Foto: Imam Rahmanto)

Apa yang membuat saya tak "pulang" beberapa hari belakangan? Saya benci mengatakan berbagai tentang kesibukan. Karena kenyataannya, saya tak sesibuk dulu lagi saat masih melenggang ketat di perkotaan.

Barangkali, saya hanya tak tahu menempatkan waktu yang tepat untuk menuliskan hal-hal sederhana semacam ini. Semakin berjalan ke depan, saya baru menyadari bahwa waktu, seperti apa pun, selalu ada. Ia terus berputar. Hanya saja, penekanan prioritas yang kerap menjadi pilihan-pilihan tertentu di dalam kepala.

Diantara sunyi pegunungan ini, redup bintang yang selalu benderang begitu indah, seharusnya bisa menambah waktu saya untuk melukiskan lebih banyak kehidupan. Kata-kata tak selalu habis dalam setiap ketikan chat dengan teman-teman atau rekan kerja. Mengumpulkannya dalam satu rangkaian seperti ini yang jauh lebih sulit. Banyak perkara yang selalu melilit.

Beberapa waktu lalu, saya memperhatikan media sosial teman-teman, yang berujung pada teman lain yang bahkan saya belum mengenalnya. Akan tetapi, saya seolah terhubung pada satu hal yang sama; tulisan saya sendiri.

Yah, sebagian tulisan di "rumah" ini memang tak pernah ragu untuk saya lemparkan ke kerumunan. Barangkali tidak untuk jenis tulisan semacam ini. Sesekali, hanya melintas dan menyaksikan sedikit orang meluangkan waktu untuk membacanya. Selepasnya, suka atau pun tidak adalah urusan belakangan. Bagi saya, yang terpenting, kepuasan itu menjalar dalam kelegaan batin. Itu setelah mampu menuangkan apa yang benar-benar butuh dituliskan.

Hal menakjubkan selalu terjadi pada bagian teman-teman yang menikmati setiap detail cerita di tulisan tersebut. Saya hanya membayangkan seulas senyum yang mengikuti gerak-gerik mata nereka.

Membayangkan hal sesederhana itu, memberikan saya sedikit motivasi untuk "pulang". Lagi-lagi, tak ada alasan untuk meninggalkan "rumah" ini terlalu lama. Siapa saya yang tega meruntuhkan harapan satu-dua-tiga orang yang (saya yakin) cukup merindukan cerita-cerita sepele?

Tentang pulang yang sesungguhnya ke pelukan keluarga, saya tak memenuhinya. Kami hanya bertukar kabar melalui sambungan telepon. Beberapa kali bapak menanyakan kabar dan membahas kuliah adik yang sudah mulai memasuki hari pertama, selepas Iduladha.

Pekan ini, saya mesti membatalkan rencana pendakian gunung tertinggi di Tanah Sulawesi. Ekspedisi yang digadang-gadang semenjak bulan lalu ini belum punya persiapan matang. Teman sekaligus guide yang akan ikut dalam perjalanan panjang itu mengajukan penundaan selama seminggu.

"Sudah berangkat Latimojong hari ini?" dua-tiga redaktur kantor sempat bertanya hal yang sama, di hari yang sama.

Saya hanya bisa menjawab yang sebenarnya dibumbui sedikit alasan. Itu salah satu keahlian saya sejak kuliah. Mereka mengerti dan tak banyak menuntut. Kebetulan, pertanyaan itu diajukan untuk meyakinkan para petinggi kantor dalam rapat biasanya dan tentu, bakal mempertanyakan realisasi ekspedisi tersebut.

Berharap saja pekan berikutnya tak menemui kendala apa pun. Saya benci menunda-nunda petualangan selama beberapa kali. Teramat jarang saya menyesali perjalanan-perjalanan menikmati hijau pegunungan semacam itu.

Lantas, apa yang membuat aktivitas saya agak berantakan dan, sejujurnya, nampak mengecewakan hari ini??

Selain karena melewatkan gregetnya pertandingan Timnas Indonesia melawan Filipina yang berakhir dengan kemenangan 9-0, ternyata pikiran saya terus melayang-layang mengenai "rumah" ini. Sudah sepantasnya saya "pulang" dan memeluk segala kenangan di dalamnya. *bighug*

***

Gerimis sedang menimpa atap-atap seng di luar rumah. Bunyinya jutru mengundang ketenangan dalam hening yang kerap mendarat di sisa malam saya. Jika terlalu hening, saya akan memutarkan ratusan tembang kenangan dari playlist. Membiarkannya mengalun lembut dan mengantarkan ke alam mimpi.



--Imam Rahmanto--