Rabu, 09 Agustus 2017

Seragam Puasa


sambungan dari Anak-anak yang Bertahan


Saya benar-benar tak menyangka, lokasi yang bakal ditunjukkan Maidil sangat berjauhan dengan desa. Rumah salah satu tokoh masyarakat itu juga ternyata berada tepat di pinggir jalan poros. Lah? 

Ternyata, dari keterangan tokoh masyarakat itu, ia telah lama pindah semenjak tak lagi menjabat sebagai Kepala Lembang. Meski begitu, ia masih aktif mengawal penduduk muslim disana. Hanya karena jabatannya kini beralih sebagai Camat, maka ia harus berdomisili di luar desa. 

Kami menghabiskan cukup banyak waktu berbincang di rumahnya. Seandainya Maidil tak begitu gelisah menunggui saya, barangkali saya masih akan tinggal lebih lama. Kebiasaan pewarta sih. Dan lagi, saya baru ingat, anak itu juga masih harus mengaji bersama teman-temannya yang lain sebelum berbuka puasa.

***

Anak-anak yang mengaji demi memperkuat keyakinannya di Lembang Marinding. (Imam Rahmanto)

Kesederhanaan warga muslim di Lembang Marinding membuat saya takjub. Orang-orang bisa tersenyum dan berbahagia dengan kesederhanaan itu. Mereka juga cukup ramah menyambut saya, yang barangkali baru terlihat hadir di masjid tersebut. Meski tak ada ucapan selamat datang, senyum dan tatapan asingnya sudah menunjukkan bagaimana mereka memperlakukan saya.

Saya seolah kembali menepi dari hiruk-pikuk kesibukan. Tanpa sinyal telepon genggam, kehidupan begitu sunyi di desa ini. Sungguh menenangkan seandainya bisa meluangkan waktu membaca buku sembari memandangi luasnya hamparan sawah sejauh perspektif mata.

Nuansa "orang asing" cukup melekat pada saya. Bagaimana tidak, saya menghabiskan waktu di dalam masjid mengobrol dengan salah satu ustaz. Imam masjid mengarahkan saya padanya untuk menggali informasi terkait muslim Marinding.

Percakapan saya dengan imam masjid - yang belakangan saya tahu sebagai kakek Maidil - agak tak nyambung. Sang kakek ini lebih paham berbahasa daerah Toraja. Beruntung, bahasa itu masih berkerabat karib dengan Bahasa Duri yang masih banyak hinggap di kepala saya.

Saya menghabiskan beberapa menit sembari berbincang dengan sang ustaz. Anak-anak yang mengaji sesekali mencuri pandang pada kami berdua. Khususnya kepada orang asing seperti saya, yang sesekali menjepretkan kamera gawai kepada mereka. Saya sempat ikut bergabung dengan mereka yang membentuk lingkaran kecil di tengah masjid.

"Yah, beginilah anak-anak kalau sore. Sambil menunggu buka puasa, mereka mengaji. Karena buka puasanya itu juga yang bikin mereka mau ke masjid mengaji," ungkap ustaz.  

Berbeda dengan buka puasa umumnya, ada hal berbeda yang saya jumpai dari kebiasaan orang Marinding mengakhiri puasanya. Jelang berbuka, perempuan-perempuan akan menyiapkan sajian di bagian belakang. Sesekali, mereka juga memperhatikan anak-anaknya yang sementara mengaji.

Momen berbuka tersebut dibagi menjadi dua kali. Pertama, orang-orang muslim yang hanya berjumlah puluhan itu berjejer rapi saling berhadap-hadapan. Mereka mendendangkan shalawat tarhim bersama-sama. Bukan dari pengeras suara.

Kami yang menanti berbuka puasa. Saya terpaksa bertingkah aneh demi mengambil foto ini. (Imam Rahmanto)

Waktu berbuka pun tidak diukur dari azan yang berkumandang dan bersahut-sahutan. Jam di dinding dan jadwal imsakiyah justru jadi pemandu utama masyarakat di Marinding. Apalagi muslim bukan agama dominan di desa tersebut. Tak ada perbedaan di hari-hari biasa dengan bulan Ramadan.

Sajian pertama itu hanya berupa kue atau roti yang diangsurkan di masing-masing piring yang berjejer. Tak lupa, minumannya dari kopi hitam atau teh manis. Semua terasa begitu sederhana, diwarnai tingkah-tingkah lucu para bocah.

Saat azan sudah berkumandang, oleh salah satu warga, orang-orang segera berbenah. Mereka langsung keluar mengambil air wudhu. Pun, saya hanya bisa mengikuti kebiasaan mereka. Kami bergantian wudhu dari kolam besar yang hanya bisa dipakai untuk dua orang. Tak ada keran. Hanya jeriken yang dilubangi sisinya.

Saya agak kikuk juga sebagai orang baru. Sesekali hanya menyunggingkan senyum-senyum kaku.

Waktu berbuka yang kedua saat kami telah selesai menunaikan salat magrib. Sembari menanti persiapan berbuka yang kedua, warga mengobrol satu sama lain. Sebagian anak melanjutkan mengajinya, didampingi beberapa orang dewasa.

Barulah kami melanjutkan santapan berat setelah mendapati panggilan dari ibu-ibu. Sang ustaz pun mengajak saya. Meskipun hanya nasi bungkus, anak-anak begitu lahap dan menikmatinya.

"Kami sekaligus makan sama-sama di masjid, ya untuk memperkuat kekeluargaan. Anak-anak juga tinggal lama-lama sampai tarawih ya karena memang tertarik sama makanan," penjelasan ustaz terngiang-ngiang di kepala saya.

Saya mengikuti semua agenda umum dari momen-momen ibadah puasa di masjid kecil itu. Nyaris saja, saya ditunjuk sebagai penceramah malam itu. Saya menolak. Saya tak tahu jika agenda tarawih masjid biasanya tak disusun seperti formalitas pada umumnya. Alhasil, salah seorang yang sudah terbiasa berceramah ditunjuk ustaz untuk menyampaikan ceramah.

Hingga usai tarawih, saya jadi bingung hendak menginap dimana. Apalagi masjid ini ternyata tak pernah menjadi tempat menginap warga lainnya.

Ide saya tiba-tiba terlintas kepada ustaz tadi. Masih ragu-ragu (dan agak malu), saya mendekatinya di sela-sela hendak pulang ke rumahnya. "Ustaz, apa saya boleh menginap di rumah ta? Hanya untuk semalam."

Beruntung, warga desa tak pernah kehilangan rasa bersahabatnya kepada siapa saja. Untuk malam ini, saya akan menginap dan betul-betul menjiwai bagaimana mereka merasai sahur bersama keluarga muslim kecil disini.


........bersambung


--Imam Rahmanto--

Tidak ada komentar:

Posting Komentar