Selasa, 15 Agustus 2017

Jajal Puncak

(Foto: Imam Rahmanto)
Saya baru selesai menuntaskan target bulan ini. Yah, sekadar target pribadi yang selalu beririsan dengan pekerjaan dan liputan. Apalagi, ada tanggungan yang mesti diselesaikan bulan depan. Saya harus memacu hingga batas kemampuan saya. Going to the extra miles.

Tak salah sih memancang target dalam-dalam untuk sebuah tujuan. Bahkan hanya sekadar tujuan "untuk mengakhiri sesuatu". Justru dengan target itu kita bisa terus berada pada jalur yang dinginkan. Meski konsekuensinya tentu bakal menguras tenaga dan lebih banyak waktu luang.

Seumpama berjalan diantara malam, kita dipaksa berlari agar cepat sampai di tujuan. Tanpa menoleh. Tak ada lagi kesempatan merabai desau angin. Bintang yang berkelap-kelip juga cenderung diabaikan. Berbagai macam keindahan lain hanya semacam kilasan dalam perjalanan tersebut.

Meski begitu, kita jadi selalu punya alasan untuk terus berjalan. Seperti kata film 5 Cm, seolah-olah ada cita-cita, impian, atau target yang menggantung berjarak 5 cm dari depan kening kita. Kalau terjatuh, kita jadi punya alasan untuk bangkit. Lelah? Tujuan itu tetap menggantung dalam imajinasi dan membuat kita mengabaikan lelah itu sendiri.

Saya akan memulai perjalanan menaklukkan Gunung Latimojong, bulan depan. Tentu tujuannya agar sampai di puncaknya yang berkisar 3478 mdpl. Akan tetapi, bagi saya, bagian itu hanya sidekick-nya. Karena kebutuhan utama saya menaklukkan Latimojong untuk mengumpulkan beberapa bahan liputan. Yah, anggap saja 'sambil menyelam minum air'.

Sepanjang saya lahir dan dibesarkan di Enrekang, nama Latimojong hanya selalu melintas. Tak ada kesempatan bisa menikmati keindahan dan ketinggiannya. Kelak, saya juga akan menyesali jika tak lagi ditugaskan di tempat ini sementara belum menuntaskan petualangan di puncaknya sama sekali.

Penempatan di Enrekang ini menjadi kesempatan saya untuk mengajukan usulan liputan ke gunung tertinggi Sulawesi tersebut. Beberapa tawaran saya ajukan agar menarik hati para redaktur di kantor. Beruntung, momen pengajuan tersebut bertepatan dengan tulisan saya yang didapuk sebagai best feature di induk media nasional kami. Barangkali itu menjadi salah satu pertimbangan mengapa kantor langsung berani mengucurkan dana.

Keinginan itu nyatanya membawa saya pada banyak kesempatan mengenal orang baru. Meskipun ini semacam "misi rahasia", namun beberapa orang menawarkan diri untuk ikut dalam tim ekspedisi. Sebagian besar tertarik karena belum pernah menaklukkan Latimojong.

"Seumur-umur ada di Enrekang, apa kita rela selalu dilangkahi pendatang dalam mencapai puncak Rante Mario?" Lecutan semacam ini yang membuat saya meneguhkan diri untuk mempelopori ekspedisi bersama kawan-kawan itu.

"Saya juga mau supaya nanti bisa menceritakannya kepada anak saya kelak," ungkap salah seorang pengusaha.

Ia merupakan kenalan dari kawan saya, Rahim. Meski ragu-ragu dengan tubuh tambunnya, ia mengukuhkan tekad agar bisa bergabung dengan tim kami. Sebenarnya, keinginan mengibarkan bendera produk usahanya juga terlintas dalam rencana.

Kami berdua punya tekad yang sama, meski berbeda kepentingan. Hanya saja, tujuan dasarnya tetap sama; menaklukkan Gunung Latimojong. Diantara kami, hanya tiga orang saja yang benar-benar berpengalaman naik-turun gunung di pedalaman Baraka itu.

"Kita perginya ndak usah banyak-banyak. Sepuluhan cukup, dengan dua tenda saja," ujar Rahim.

Momen Agustusan sudah terlalu banyak dipilih oleh pendaki-pendaki lokal maupun luar Sulawesi. Kegiatan mendaki tentu menjadi tak istimewa karena sesak para pelancong. Kami tak bisa lebih teang dalam mencapai target dengan beberapa agenda yang terkait liputan saya.

Kami sudah menyusun jadwal keberangkatan. Merinci beberapa perlengkapan yang mesti dibawa. Berbagai cerita sudah meluncur dari mulut ke mulut. Video-video dari jejaring maya semakin mengukuhkan tekad kami.

"Ada teman dari komunitas Jip juga katanya mau ikut mengantar. Tapi tidak naik gunung. Mereka sama komunitasnya cuma antar sampai di Karangan," cetus Rahim beberapa hari kemudian, saat kami bertemu kembali di kafenya.

Lantas, bagaimana dengan motor? Rencana awal kami hanya bermodalkan kendaraan roda dua agar lebih santai dan bisa menikmati pemandangan di sekeliling lembah menuju Karangan. Ohiya, Karangann menjadi salah satu dusun yang mengawali pendakian menuju Pos 1.

"Gampang. Kalau kita sudah turun, nanti saya telepon teman disana yang bisa mengantarkan kembali pakai mobil," sarannya lagi. Bagus. Beruntunglah kami yang mengajaknya sebagai guide. 

Petualangan baru saja dimulai. Tujuannya adalah puncak. Bukan untuk menaklukkan alam. Melainkan hanya berusaha bersahabat dengan alam. Agar kelak tak ada penyesalan bermukim di daerah ini tanpa merasai nikmatnya berselaras dengan alam. Ehem...sayang pula kalau kamera agak-anyar tak dijajal di alam liar, kan?


--Imam Rahamnto--

2 komentar:

  1. Edelweis-nya nda asal dicabut Kan?😁

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ndak lah... Itu udah pajangan yang punya kafe. -_-

      Hapus