Selasa, 01 Agustus 2017

Belajar Cukup

Bapak yang lebih muda dalam album keluarga. Anak kecil polos di pojokan itu, saya. (Imam Rahmanto) 

"Lahir sebagai orang miskin iku nggak salah. Tapi kalo mati sebagai orang miskin itu salah. Tandanya kita itu tak berusaha. Padahal Allah memberikan kemampuan untuk berusaha," -- Jokowi The Movies

Betapa saya sangat membenci ketika adik saya sudah mulai terisak di ujung telepon. Meski tak terlihat air matanya yang mengucur, namun saya terlalu pandai membayangkan tangisnya. Sejak kecil, saya sudah mengenalnya sebagai anak cengeng.

"Tapi..."

Ujung bibirnya sudah tersumbat. Tak tahu lagi harus mengatakan apa di tengah isak tangisnya, kemarin. Saya hanya bisa kesal dan menyuruhnya diam. Meski kalimat saya berikutnya bernada menasehati, namun iramanya sudah meninggi. Karena, sekali lagi, saya tak menyukai melihatnya menangis.

Saya tahu kekhawatirannya seperti apa. Tinggal selangkah lagi, ia bisa mengenyam bangku kuliah. Tak butuh waktu lama lagi, ia punya teman-teman baru. Tak genap sebulan lagi, ia sudah bisa merasai kehidupan yang selayaknya didapatkan setahun silam.

Hanya saja, saya paham, hati kecilnya terlalu cemas untuk tetap melanjutkan impian itu. Kecemasannya berlebihan. Apalagi jika sudah membawa-bawa bagian kehidupan saya sebagai kakaknya. Jauh dari orang tua dan hidup sendirian di kampung halaman, yang justru menjadi tanah rantauan bagi saya. Mencukupkan segalanya seorang diri. Sementara beban yang dipikul ada di ujung pulau. Sebagiannya lagi, tentu menjurus lebih banyak pada dirinya, yang akan menjalani kehidupan baru di dunia pendidikan.

Akh, kecemasannya berlebihan...

Tak ada hal seperti yang dicemaskannya. Saya harus menunjukkan itu berkali-kali. Kehidupan saya disini sungguh terkendali. Porsi makan sekali dalam sehari itu juga hanya karena saya sudah jadi kebiasaan. Kamar saya yang belum terisi perabotan hanya karena saya malas mencari-cari dan mengangkat barangnya. Untuk memenuhi segalanya itu, teramat mudah bagi saya. Serius.

Tentu saja, dirinya (beserta bapak-mamak) bukanlah beban. Sama sekali tidak. Duaribu-rius. Bagi saya, beban itu justru mengerjakan soal Matematika yang sudah lama terlupakan rumusnya. Tak ada lagi celah bagi saya yang lulusan kependidikan untuk mengajar mata pelajaran itu di tingkat menengah. Saya lebih memilih untuk mengajar mata pelajaran Bahasa Indonesia. 

Kepala saya terlampau penat jika memikirkan hal-hal berat. Hidup ini mesti dijalani apa adanya. Alasan kebutuhan yang tak berkecukupan jangan pernah menjadi alasan untuk tak berbuat apa-apa, apalagi kebaikan. Sebaik-baiknya kebaikan adalah ketika kita tak punya apa-apa untuk melakukannyaa. Bukankah esensi keikhlasan datangnya dari sana?

"Tidak perlu khawatir. Mulai sekarang, tak usah memikirkan keraguan orang lain atau bapak sekalipun. Sekarang, cukup ubah pola pikirmu. Tanamkan bahwa: keluarga kita berkecukupan," saran saya padanya. Tentu saja, dalam hal ini, kakak satu-satunya yang menjadi titik tolak "berkecukupan" itu.

Sungguh, kecemasannya berlebihan...

Kehidupan mengajarkan saya untuk lebih banyak bersyukur. Pikiran yang menganggap diri selalu kekurangan justru mengundang lebih banyak keluhan. Keluhan itu tak mendatangkan apa-apa. Tak ada manfaatnya.

Malah, saya selalu menganggap diri selalu berkecukupan. Sekali waktu, merasa diri sebagai orang paling kaya. Bukannya sombong. Sama sekali tidak. Saya hanya mencoba belajar menempatkan diri sebagai orang yang mampu menawarkan bantuan untuk orang lain. Biasanya, orang yang berpikiran kaya lah yang tak segan-segan memberikan bantuan kepada orang lain. Sementara orang yang berkekurangan biasanya bakal berpikir dua kali untuk sekadar mengeluarkan materinya untuk orang lain.

Merasa berkecukupan di tengah kondisi yang berkekurangan juga punya nilai lebih. Nilai pahala saat "memberi" di kala kekurangan justru lebih banyak. Dalam Matematika sedekah, rezekinya justru berlipat dan bakal kembali dalam waktu yang tepat. Apalagi jika ditujukan untuk orang-orang terdekat seperti keluarga.

"Kita dapat menjadi orang yang merasa tidak beruntung karena lahir di tengah-tengah keluarga miskin, bermimpi ketiban rezeki semacam "durian runtuh" agar bisa membeli benda-benda idaman, atau membayangkan hal-hal lain yang menggiurkan seperti nasib baik anak-anak orang kaya.

Tapi, kita juga dapat memilih menjalani hidup dengan wajar dan penuh keriangan, berusaha membantu orangtua sedapat mungkin, meraih segala yang didamba dengan keringat sendiri, dan tetap antusias memandang masa depan," -- Sepatu Dahlan by Khrisna Pabhicara

Sudah saya bilang, kecemasannya terlampau berlebihan....

Saya percaya dengan namanya keajaiban. Lewat usaha dan doa orang-orang terkasih, segalanya bisa terjadi. Tak ada yang bisa menyangkal segala kebaikan yang bermuara pada keluarga. Tuhan sudah terlalu berpengalaman untuk membalasnya dengan hal yang lebih baik pula. Percayalah, bersama kesulitan itu selalu ada kemudahan.

Dan lagi, serius, saya tidak semelarat yang bakal dibayangkannya di kemudian hari. Kehidupan saya jauh lebih menenangkan. Soal finansial, duh, saya sebenarnya mampu menyombongkan diri jika menakar teman-teman seusia saya. Malah menjadi sebuah kehormatan bagi saya bisa mengabdikan diri untuk keluarga dan kedua orang tua. Dengan begitu, saya merasa punya value sebagai anak sulung dan lelaki.

Barangkali, adik saya hanya terlalu menyayangi kakaknya. Satu-satunya kecemasan yang objektif mungkin karena saya bakal betah menyendiri dengan segala kesibukan berpetualang ini. #ehh

"Mau kucarikan jodoh disini (Jawa)?" tanya adik saya sembari tertawa mengejek. Tak ada lagi sembab sisa kemarin. Mendengarnya tertawa sungguh membuat saya lega.

"..."

krik, krik, krik

Saya tolak mentah-mentah. Sebenci-bencinya dengan K-Pop, saya lebih geli dijodoh-jodohkan. Come on, sis!



--Imam Rahmanto--

9 komentar:

  1. Ya barangkali balas budinya adikta kak seperti itu, terima saja sarannya, 😂😂

    BalasHapus
    Balasan
    1. Carikan ka saja satu kampungmu pale. Huahahaha...😂😂😂

      Hapus
  2. Kami berdua orang Bulukumba loh, kaka pilih mana?😂

    BalasHapus
    Balasan
    1. Pilih kamu, dong. Masa pilih laki.

      Hapus
    2. Baruka mau mention kau,Lulu.Tapi harus orang Bulukumba, ya? Ndak mau orang Bone saja? 😀

      Hapus