Senin, 28 Agustus 2017

Perjalanan-Perjalanan

Agustus 28, 2017
Rumah-rumah di atas gunung, Dusun Angin-angin. (Imam Rahmanto) 

Belakangan saya lebih banyak menghabiskan waktu di luar keramaian kota. Baru-baru ini, kembali menyusur perjalanan ke dusun kaki Gunung Latimojong, Angin-angin. Selain untuk memenuhi "vitamin hijau", saya juga sekaligus memenuhi janji kepada seorang teman yang sehari sebelumnya mengajak bersama rombongan tripnya ke dua dusun terpencil. Mereka punya agenda mengantarkan bantuan buku dan membuat pojok baca bagi anak-anak disana.

"Saya kayaknya tidak bisa nyusul hari ini. Ada penugasan yang harus ditunggui, jangan sampai tiba-tiba diminta dan saya tak ada di tempat (bersinyal)," ungkap saya sehari sebelumnya.

Saya seharusnya berangkat bersama rombongan, dua hari sebelumnya. Sekaligus menikmati pemandangan hijau dari dusun Nating. Tentu saja, tanpa jaringan telepon dan kesibukan dunia maya.

Ternyata, saya baru bisa menyusul tepat pada hari terakhir. Pun, saat mereka sudah berpindah ke dusun Angin-angin. Sendirian saja, saya menyusuri jalan yang belum pernah terlintas dalam benak. Sebenarnya hendak berdua dengan teman yang lama tak bersua. Sayang, ia membatalkannya karena urusan keluarga. It's ok.

"Memangnya, tahu jalanan kesana?"

Saya tak pernah menganggap serius pertanyaan semacam itu. Perkampungan adalah tempat yang sangat ramah bagi petualang atau penjelajah. "Kesasar" hanya kosa kata bagi orang-orang manja yang hanya bisa bergelut dengan dunia maya. Di dunia nyata, "kesasar" adalah bertemu orang-orang baru dengan mengasah kemampuan bertanya arah jalan. Pepatah "malu bertanya, tersesat di jalan" masih sangat mujarab dalam menemani perjalanan kemana saja.



***

Sebenarnya, agak telat juga memulai perjalanan ke Angin-angin. Saya terpaksa harus mengambil start dari rumah Bunda yang ada di Kalosi, karena takut terjangkiti wabah "telat-bangun-pagi". Jaraknya lebih dekat untuk perjalanan ke Kecamatan Baraka. Di luar dugaan, saya masih ketinggalan awalan sejam bangun pagi. Sial.

Nyaris saja membatalkan kembali keinginan untuk berangkat sendirian ke dusun Angin-angin. Akan tetapi, saya juga telanjur berjanji pada teman. Yah, namanya lelaki, apa lagi yang bisa dipegang selain janjinya? Lagipula, saya memang butuh waktu untuk menyingkir dari kesibukan berkutat dengan layar dan silau dunia maya. Butuh dunia yang benar-benar nyata.

Tak pernah disangka perjalanan mencapai dusun di kaki Latimojong itu benar-benar butuh kerja ekstra. Bukan perkara gampang mengendalikan Jupiter Z1 dari trek yang seharusnya dikuasai oleh motor-motor trail. Saya berkali-kali berhitung sembari mengencangkan tekad. Sekali-kali berseru wow! luar biasa! Beruntung, ganasnya medan diselingi dengan pemandangan alam tiada tara dari atas ketinggian. Maka nikmat Tuhan yang mana lagi engkau dustakan?

Rute itu jauh lebih berat dibanding perjalanan bersama komunitas jip, seminggu sebelumnya. Jika saya sebagai penumpang mobil bisa berleha-leha mengamati hijaunya pegunungan, kali ini berganti harus mengendalikan motor dari jok kemudi. Kelak, saya harus mengusulkan kepada para pengendara roda empat itu untuk menjelajah melalui jalur yang sama.

Soal bertanya jalan, jangan pernah mempercayai perempuan. Mereka bakal memberikan jawaban lebih manusiawi ketimbang laki-laki.

"Iya, masih jauh sekali," ini jawaban versi laki-laki.

"Tidak kok. Sudah dekat," ini jawaban versi perempuan, benar-benar lebih pakai perasaan.

Kesimpulannya, bertanyalah pada laki-laki. Jawabannya lebih realistis dan tak membuat kita berharap berlebihan.

*Catatan: kesimpulan itu tidak berlaku jika berjumpa gadis desa dengan senyum yang manis.

Entah berapa lama saya menyusur jalan-jalan tanah dan berkerikil sebelum memasuki gerbang kawasan Desa Latimojong. Perjalanan yang sangat-teramat jauh. Rasa lelah langsung luluh jika berjumpa dengan tujuan yang sejak awal dipancang di depan kepala. Selelah-lelahnya perjalanan, betapa mendamaikannya bertemu dengan tujuan perjalanan itu sendiri.

Meski tanpa sinyal handphone, saya langsung bisa menjumpai keramaian di dalam dusun itu. Anak-anak dikumpulkan dalam satu lapangan. Suara-suara dikeraskan. Anak- muda ambil bagian. Permainan dimulai dengan aba-aba.

Saya duduk saja mengamati sedikit kegembiraan masa kanak-kanak itu. Seolah-olah melemparkan kami di masa silam.

JELAJAH - ANGINANGIN
Klik atau geser kanan untuk gambar lainnya.

Kami, orang dewasa, pernah seceria itu. Tak memikirkan bagaimana masa depan. Cita-cita masih sebatas polisi, pilot, guru, dokter, atau tentara. Mereka juga tak tak pernah pusing soal hidup. Yang ada, kami hanya ingin bermain dan tertawa. Sesederhana cara kami mengenali orang-orang baru.

Sayangnya, kedewasaan memaksa kami untuk berjalan lebih realistis. Terkadang, berlaku sesuatu yang justru menyakiti diri sendiri. Seolah-olah, tak ada sesuatu yang berjalan sesederhana masa kanak-kanak dahulu. Segalanya harus punya alasan.

Anak-anak memang selalu menjadi penyambung tawa bagi kami, orang dewasa. Barangkali, itu pula sebabnya kami harus menyayangi anak-anak. Memupuk harapan bagi mereka yang menjalani masa kecil di daerah terpencil. Setidaknya, biarkan mereka tahu, ada orang-orang di luar sana yang masih peduli tentang keberadaan impian yang dibungkus dari pekatnya kabut pegunungan.

Berbagai kelompok atau komunitas dipersatukan oleh keinginan menghadirkan kebahagiaan bagi anak-anak pelosok. Saya mengenal beberapa orang diantaranya berasal dari komunitas yang berbeda. Pemikiran yang berbeda. Kebiasaan yang tak sama. Namun bersatu dalam tekad yang sama untuk menebar kebahagiaan.

"Dusun Angin-angin punya lebih banyak anak dan jalan yang menantang. Tetapi Dusun Nating juga punya cerita tersendiri tentang anak-anaknya yang semangat mengejar pendidikan," kata teman, yang juga seorang relawan.

Dalam waktu dekat, saya nampaknya harus menyambangi dusun Nating. Dusun itu memang sudah termasuk dalam wishlist selama berada di daerah ini. Tak peduli jika harus sendiri lagi dalam menyusur jalan-jalan desa. Toh, perjalanan-perjalanan itu yang membuat hidup lebih berwarna.

Kami tak bisa berlama-lama di tempat itu. Hari libur lebih cepat berlalu. Sinar matahari semakin naik ke ubun-ubun. Masing-masing harus kembali ke dunia yang padat, esok hari. Berharap saja bahwa anak-anak itu masih akan mengenang kami, kelak.

Bahkan untuk pulang pun, kami harus bersahabat dengan medan berat. (Imam Rahmanto)

***

Saya harus mengakui, hidup jauh dari perkotaan memang tak selalu mudah. Keadaan juga tak selalu menyejahterakan kehidupan kami. Apa yang kami hasilkan biasanya jauh dari harapan.

Akan tetapi, kami seharusnya bersyukur. Tuhan Maha Adil dengan segala skenario-Nya.

Hidup di pedesaan jauh lebih melegakan dan mengundang kebahagiaan. Saya diajarkan untuk lebih banyak bersyukur. Sungguh, kami tertular oleh rona-rona kebahagiaan bagi yang tumbuh di pedesaan. Lebih banyak memandang gunung dan langit, juga membuat kita sadar: manusia tak berarti apa-apa dengan segala keagungan Tuhan.

Sebenar-benarnya hidup, juga dirasai masyarakat desa. Mereka orang-orang yang bahagia dengan cara sederhana. Anak-anak belum mengenal bagaimana gemerlap dunia maya. Perhatian mereka masih sebatas membantu orang tua ke kebun atau mengambil bagian atas cita-cita mereka yang telanjur mainstream.

"Tahu namanya facebook?" saya iseng bertanya pada seorang anak, Gunawan, yang mengantarkan ke atas puncak Tirowali. Dia hanya menggeleng. Bagaimana caranya tahu sosmed, kalau sinyal telepon saja masih payah.

"Saya mau jadi polisi," ujar Gunawan.

"Kenapa mesti polisi? Ndak mau yang lainnya, seperti pengusaha, fotografer, atau wartawan seperti saya? Banyak uangnya juga kok," tawar saya. Meskipun saya sadar, telah menyisipkan separuh kebohongan.

Ia hanya menggeleng lemah diantara langkah kami menuruni puncak Tirowali. Ia yang berada di belakang saya masih kelihatan berpikir.

"Atau itumo yang bawa-bawa pesawat terbang.....," jawabnya lagi, ragu-ragu.

"...Pilot, barangkali?" sambung saya, membenarkan.

"Iya,"

"Kalau begitu, belajar yang rajin. Jadilah apa yang kamu mau," ujar saya, dalam hati.

Kelak, anak-anak akan berpikir bahwa dunia dan seisinya ternyata masih lebih luas dibanding bayangan mereka. Sekadar cita-cita masa kecil juga punya titik baliknya di masa yang akan datang. Mereka harus siap dengan segudang bekal kenangan bahagia dari kampung halamannya yang begitu indah.


Di atas bukit atau gunung Tirowali, menghela napas dan tenaga. (Imam Rahmanto)


--Imam Rahmanto--

Minggu, 20 Agustus 2017

Meraung-raung

Agustus 20, 2017
Maaf, ini bukan soal tangis yang meraung-raung karena ditinggalkan orang-orang terkasih. Tulisan ini justru tentang mesin yang meraung-raung karena kebahagiaan membelah gunung.

***

(Foto: Imam Rahmanto)

"Brrrmm!! Brummmmm!!!" raungan mesin tak pernah lepas dari perjalanan menanjak kami. Para driver tetap fokus di balik kemudinya. Sementara para penumpang bebas melongokkan kepala dan menikmati sajian alam dari atas Kecamatan Bungin.

Baru-baru ini, saya diajak teman-teman dari komunitas jip untuk berpetualang. Perjalanan itu hanya sekadar touring dan unjuk gigi sebagai komunitas baru. Yah, mereka baru memantapkan diri berjejaring dalam komunitas. Belum genap dua minggu.

"Mau ikut?"

Tak butuh waktu lama untuk memastikan hati saya agar ikut menjelajah bersama para pengemudi "mobil monster" itu. Bagaimana tidak, saya sudah teramat lama memendam rindu dengan petualangan melihat alam hijau. Melambai diantara belaian udara yang masih segar. Pun, hawa udara itu belum terjajah rangkaian alur sinyal telekomunikasi. 

Ajakan itu sekaligus sinyal teman-teman baru untuk saya. Usia kami mengenal satu sama lain sebaya dengan usia komunitas itu. Duduk-duduk di kafe, berbagi tawaran, yang berujung dengan menyulut salah satu sumbu "kompor" di kepala para pengendara jip itu. Deal. 

Saya tak peduli dengan kesendirian menjalani (liputan) perjalanan dengan orang-orang baru. Beberapa teman jurnalis lain punya kesibukan masing-masing, yang tentunya tak bisa dipaksa untuk ikut serta dalam rute. Lagipula, berdasarkan pengalaman tahun lalu, petualangan dengan pengemudi "mobil monster" tak pernah membuat saya menyesal. 

Hijaunya alam pegunungan memang tak pernah mengecewakan mata. (Imam Rahmanto)

Para petualang berangkat dengan "angkutan" masing-masing. Tak sedikit yang membawa istri dan anak-anaknya dalam perjalanan jauh itu. Barangkali, karena hanya berlabel "touring", perjalanan itu dianggap bukan hal yang ekstrem. Mobil-mobil hanya akan melalui jalanan beraspal, berbeton, berbatu, dan paling mentok pada lintasan tanah bergelombang.

Bisa dibilang, perjalanan sih menjadi lebih berwarna. Diantara deru mesin berkapasitas besar itu, ada tawa anak kecil dan celetuk riang para ibu. Nampaknya mereka juga menjadi "penyemangat" bagi lelakinya.

Sejujurnya, saya dibuat terkesima. Ternyata, berumah tangga itu bukan soal menyatukan dua hati saja. Melainkan bagaimana dua orang itu bisa saling melengkapi, dengan mendukung penuh hobi atau minat masing-masing individu. Yaelah, baperan. 

"Seandainya kita tidak bawa keluarga, barangkali bisa sedikit lebih keras. Bisa tancap lebih kuat. Sayangnya, penumpang kesayangan membuat kita sedikit lebih hati-hati karena pasti pikir mereka juga," ujar salah seorang teman offroader.

Tentu saja, perjalanan kami tak pernah bebas dari kendala. Jalanan menanjak justru membuat beberapa mobil mandek. Sebagian besar karena kendaraannya hanya berspesifikasi penggerak roda 4x2. Sementara kendaraan four wheel drive (4WD) atau 4x4 justru melaju lancar melintasi tanjakan-tanjakan mulus membelah pegunungan.

Jangan heran melihat mobil-mobil itu harus ditarik dengan bantuan kendaraan yang lebih unggul. Sesekali, pengemudi lainnya harus turun mendorong mobil yang tak mau menanjak. Anak-anak kecil tak ingin ketinggalan merasakan dinginnya udara pegunungan. 

Sampai-sampai ada yang harus ditarik kekuatan manusia. (Imam Rahmanto)

Mesin yang berhenti meraung-raung juga memaksa rombongan kami harus berhenti. Wajar, perjalanan perdana rombongan komunitas ini hanya bermodalkan tekad masing-masing anggota. Kesiapan mobil tak pernah jadi prioritas bagi petualang. Sungguh berbeda dengan event-event resmi. Bahkan, saya pernah menyaksikan langsung bagaimana ketatnya scrutineering setiap unit mobil 4WD sebelum mengikuti adventure resmi di Makassar.  

"Yah, kita sempat mau seleksi mobil-mobil yang bisa ikut sih. Tapi karena mereka ngotot mau ikut, tentu kita harus hargai semangatnya," ungkap salah satu offroader.

Dari perjalanan semacam itulah saya banyak belajar tentang arti kebersamaan. Seberat apa pun kendala yang mendera para pengendara, teman yang lain harus turun tangan. Tak ada teman yang pantas ditinggalkan untuk permasalahan di tengah perjalanan. Prinsipnya, berangkat sama-sama, pulangnya juga harus sama-sama. Tetiba saya teringat dengan perkataan salah satu tokoh anime.

"Ninja yang melanggar aturan memang sampah. Tetapi ninja yang meninggalkan temannya lebih rendah daripada sampah." --Uchiha Obito, Naruto Anime

Damai betul perjalanan semacam itu. Meski harus menghabiskan waktu hingga 12 jam lamanya di perjalanan, saya tak pernah merasa kapok. Asalkan tak ada tuntutan deadline diantara sinyal yang selalu timbul-tenggelam. Kendala-kendala di tengah perjalanan tak ada yang menyangka, bukan? Nikmatnya bisa dengan mengalihkan mata pada hijaunya sawah di sepanjang jalan. 

Kalau masih kurang, saya akan menghabiskan sedikit waktu dengan bermain bersama anak-anak. Entah seperti apa, saya selalu merasa dekat loh dengan para bocah. Efek jiwa-jiwa "kebapakan" yang belum menemukan celahnya. _ _"

Bonusnya, lintasan berlumpur menjadi kesenangan tersendiri bagi para pehobi jip itu. Sejak awal, mereka memang lebih senang jika kendaraannya belepotan lumpur dan terhuyung kesana-kemari lantaran bannya yang selip. Usaha meloloskan kendaraan yang tenggelam dalam lumpur justru menjadi olok-olokan dan bahan candaan bagi sesama pengendara jip. Sayang sekali, karena gelap gulita diantara belukar kebun, saya tak bisa mengabadikan momen berlumpur-lumpur itu.

Kami harus menikmati momen siang-malam itu. Tujuan kami sama: menikmati perjalanan di alam bebas. Ditutup dengan makan (tengah) malam di rumah salah seorang offroader di Maroangin, kami menyisipkan kenangan akan petualangan yang benar-benar mengundang pengalaman berharga. Toh, sinar wajah para "penjinak monster" juga sudah menunjukkan rasa puas. Sekaligus secara bersamaan menekan pedal "coba-lagi-lain-waktu".

***

Sungguh menyenangkan bisa menikmati setiap jengkal perjalanan semacam itu. Bagi saya, hal tersebut menjadi cerminan perjalanan hidup di dunia nyata. Sebagaimana perjalanan panjang selalu menawarkan banyak pengalaman. 

Tentang; tak egois terhadap perjalanan sendiri. Meluangkan waktu untuk orang lain. Menikmati waktu berkualitas bersama keluarga. Memperbanyak teman-teman baru dengan beraneka ragam pemikiran dan keahlian. Tanpa perlu diburu waktu, kita juga bisa menikmati setiap detail keindahan yang sering terlewat oleh mata. Barangkali, kita juga akan semakin intim dengan pemikiran, "Sudah sepantasnya kita selalu bersyukur."

Terlepas dari segala kendala yang mengadang perjalanan, kita pantas menertawakannya. Bersama kesulitan, selalu ada kemudahan (yang dimulai dengan menertawakan kesulitan itu sendiri). It seems difficult, but nothing impossible.

Senyumin aja. (Foto: Imam Rahmanto)


--Imam Rahmanto--

Selasa, 15 Agustus 2017

Jajal Puncak

Agustus 15, 2017
(Foto: Imam Rahmanto)
Saya baru selesai menuntaskan target bulan ini. Yah, sekadar target pribadi yang selalu beririsan dengan pekerjaan dan liputan. Apalagi, ada tanggungan yang mesti diselesaikan bulan depan. Saya harus memacu hingga batas kemampuan saya. Going to the extra miles.

Tak salah sih memancang target dalam-dalam untuk sebuah tujuan. Bahkan hanya sekadar tujuan "untuk mengakhiri sesuatu". Justru dengan target itu kita bisa terus berada pada jalur yang dinginkan. Meski konsekuensinya tentu bakal menguras tenaga dan lebih banyak waktu luang.

Seumpama berjalan diantara malam, kita dipaksa berlari agar cepat sampai di tujuan. Tanpa menoleh. Tak ada lagi kesempatan merabai desau angin. Bintang yang berkelap-kelip juga cenderung diabaikan. Berbagai macam keindahan lain hanya semacam kilasan dalam perjalanan tersebut.

Meski begitu, kita jadi selalu punya alasan untuk terus berjalan. Seperti kata film 5 Cm, seolah-olah ada cita-cita, impian, atau target yang menggantung berjarak 5 cm dari depan kening kita. Kalau terjatuh, kita jadi punya alasan untuk bangkit. Lelah? Tujuan itu tetap menggantung dalam imajinasi dan membuat kita mengabaikan lelah itu sendiri.

Saya akan memulai perjalanan menaklukkan Gunung Latimojong, bulan depan. Tentu tujuannya agar sampai di puncaknya yang berkisar 3478 mdpl. Akan tetapi, bagi saya, bagian itu hanya sidekick-nya. Karena kebutuhan utama saya menaklukkan Latimojong untuk mengumpulkan beberapa bahan liputan. Yah, anggap saja 'sambil menyelam minum air'.

Sepanjang saya lahir dan dibesarkan di Enrekang, nama Latimojong hanya selalu melintas. Tak ada kesempatan bisa menikmati keindahan dan ketinggiannya. Kelak, saya juga akan menyesali jika tak lagi ditugaskan di tempat ini sementara belum menuntaskan petualangan di puncaknya sama sekali.

Penempatan di Enrekang ini menjadi kesempatan saya untuk mengajukan usulan liputan ke gunung tertinggi Sulawesi tersebut. Beberapa tawaran saya ajukan agar menarik hati para redaktur di kantor. Beruntung, momen pengajuan tersebut bertepatan dengan tulisan saya yang didapuk sebagai best feature di induk media nasional kami. Barangkali itu menjadi salah satu pertimbangan mengapa kantor langsung berani mengucurkan dana.

Keinginan itu nyatanya membawa saya pada banyak kesempatan mengenal orang baru. Meskipun ini semacam "misi rahasia", namun beberapa orang menawarkan diri untuk ikut dalam tim ekspedisi. Sebagian besar tertarik karena belum pernah menaklukkan Latimojong.

"Seumur-umur ada di Enrekang, apa kita rela selalu dilangkahi pendatang dalam mencapai puncak Rante Mario?" Lecutan semacam ini yang membuat saya meneguhkan diri untuk mempelopori ekspedisi bersama kawan-kawan itu.

"Saya juga mau supaya nanti bisa menceritakannya kepada anak saya kelak," ungkap salah seorang pengusaha.

Ia merupakan kenalan dari kawan saya, Rahim. Meski ragu-ragu dengan tubuh tambunnya, ia mengukuhkan tekad agar bisa bergabung dengan tim kami. Sebenarnya, keinginan mengibarkan bendera produk usahanya juga terlintas dalam rencana.

Kami berdua punya tekad yang sama, meski berbeda kepentingan. Hanya saja, tujuan dasarnya tetap sama; menaklukkan Gunung Latimojong. Diantara kami, hanya tiga orang saja yang benar-benar berpengalaman naik-turun gunung di pedalaman Baraka itu.

"Kita perginya ndak usah banyak-banyak. Sepuluhan cukup, dengan dua tenda saja," ujar Rahim.

Momen Agustusan sudah terlalu banyak dipilih oleh pendaki-pendaki lokal maupun luar Sulawesi. Kegiatan mendaki tentu menjadi tak istimewa karena sesak para pelancong. Kami tak bisa lebih teang dalam mencapai target dengan beberapa agenda yang terkait liputan saya.

Kami sudah menyusun jadwal keberangkatan. Merinci beberapa perlengkapan yang mesti dibawa. Berbagai cerita sudah meluncur dari mulut ke mulut. Video-video dari jejaring maya semakin mengukuhkan tekad kami.

"Ada teman dari komunitas Jip juga katanya mau ikut mengantar. Tapi tidak naik gunung. Mereka sama komunitasnya cuma antar sampai di Karangan," cetus Rahim beberapa hari kemudian, saat kami bertemu kembali di kafenya.

Lantas, bagaimana dengan motor? Rencana awal kami hanya bermodalkan kendaraan roda dua agar lebih santai dan bisa menikmati pemandangan di sekeliling lembah menuju Karangan. Ohiya, Karangann menjadi salah satu dusun yang mengawali pendakian menuju Pos 1.

"Gampang. Kalau kita sudah turun, nanti saya telepon teman disana yang bisa mengantarkan kembali pakai mobil," sarannya lagi. Bagus. Beruntunglah kami yang mengajaknya sebagai guide. 

Petualangan baru saja dimulai. Tujuannya adalah puncak. Bukan untuk menaklukkan alam. Melainkan hanya berusaha bersahabat dengan alam. Agar kelak tak ada penyesalan bermukim di daerah ini tanpa merasai nikmatnya berselaras dengan alam. Ehem...sayang pula kalau kamera agak-anyar tak dijajal di alam liar, kan?


--Imam Rahamnto--

Rabu, 09 Agustus 2017

Seragam Puasa

Agustus 09, 2017

sambungan dari Anak-anak yang Bertahan


Saya benar-benar tak menyangka, lokasi yang bakal ditunjukkan Maidil sangat berjauhan dengan desa. Rumah salah satu tokoh masyarakat itu juga ternyata berada tepat di pinggir jalan poros. Lah? 

Ternyata, dari keterangan tokoh masyarakat itu, ia telah lama pindah semenjak tak lagi menjabat sebagai Kepala Lembang. Meski begitu, ia masih aktif mengawal penduduk muslim disana. Hanya karena jabatannya kini beralih sebagai Camat, maka ia harus berdomisili di luar desa. 

Kami menghabiskan cukup banyak waktu berbincang di rumahnya. Seandainya Maidil tak begitu gelisah menunggui saya, barangkali saya masih akan tinggal lebih lama. Kebiasaan pewarta sih. Dan lagi, saya baru ingat, anak itu juga masih harus mengaji bersama teman-temannya yang lain sebelum berbuka puasa.

***

Anak-anak yang mengaji demi memperkuat keyakinannya di Lembang Marinding. (Imam Rahmanto)

Kesederhanaan warga muslim di Lembang Marinding membuat saya takjub. Orang-orang bisa tersenyum dan berbahagia dengan kesederhanaan itu. Mereka juga cukup ramah menyambut saya, yang barangkali baru terlihat hadir di masjid tersebut. Meski tak ada ucapan selamat datang, senyum dan tatapan asingnya sudah menunjukkan bagaimana mereka memperlakukan saya.

Saya seolah kembali menepi dari hiruk-pikuk kesibukan. Tanpa sinyal telepon genggam, kehidupan begitu sunyi di desa ini. Sungguh menenangkan seandainya bisa meluangkan waktu membaca buku sembari memandangi luasnya hamparan sawah sejauh perspektif mata.

Nuansa "orang asing" cukup melekat pada saya. Bagaimana tidak, saya menghabiskan waktu di dalam masjid mengobrol dengan salah satu ustaz. Imam masjid mengarahkan saya padanya untuk menggali informasi terkait muslim Marinding.

Percakapan saya dengan imam masjid - yang belakangan saya tahu sebagai kakek Maidil - agak tak nyambung. Sang kakek ini lebih paham berbahasa daerah Toraja. Beruntung, bahasa itu masih berkerabat karib dengan Bahasa Duri yang masih banyak hinggap di kepala saya.

Saya menghabiskan beberapa menit sembari berbincang dengan sang ustaz. Anak-anak yang mengaji sesekali mencuri pandang pada kami berdua. Khususnya kepada orang asing seperti saya, yang sesekali menjepretkan kamera gawai kepada mereka. Saya sempat ikut bergabung dengan mereka yang membentuk lingkaran kecil di tengah masjid.

"Yah, beginilah anak-anak kalau sore. Sambil menunggu buka puasa, mereka mengaji. Karena buka puasanya itu juga yang bikin mereka mau ke masjid mengaji," ungkap ustaz.  

Berbeda dengan buka puasa umumnya, ada hal berbeda yang saya jumpai dari kebiasaan orang Marinding mengakhiri puasanya. Jelang berbuka, perempuan-perempuan akan menyiapkan sajian di bagian belakang. Sesekali, mereka juga memperhatikan anak-anaknya yang sementara mengaji.

Momen berbuka tersebut dibagi menjadi dua kali. Pertama, orang-orang muslim yang hanya berjumlah puluhan itu berjejer rapi saling berhadap-hadapan. Mereka mendendangkan shalawat tarhim bersama-sama. Bukan dari pengeras suara.

Kami yang menanti berbuka puasa. Saya terpaksa bertingkah aneh demi mengambil foto ini. (Imam Rahmanto)

Waktu berbuka pun tidak diukur dari azan yang berkumandang dan bersahut-sahutan. Jam di dinding dan jadwal imsakiyah justru jadi pemandu utama masyarakat di Marinding. Apalagi muslim bukan agama dominan di desa tersebut. Tak ada perbedaan di hari-hari biasa dengan bulan Ramadan.

Sajian pertama itu hanya berupa kue atau roti yang diangsurkan di masing-masing piring yang berjejer. Tak lupa, minumannya dari kopi hitam atau teh manis. Semua terasa begitu sederhana, diwarnai tingkah-tingkah lucu para bocah.

Saat azan sudah berkumandang, oleh salah satu warga, orang-orang segera berbenah. Mereka langsung keluar mengambil air wudhu. Pun, saya hanya bisa mengikuti kebiasaan mereka. Kami bergantian wudhu dari kolam besar yang hanya bisa dipakai untuk dua orang. Tak ada keran. Hanya jeriken yang dilubangi sisinya.

Saya agak kikuk juga sebagai orang baru. Sesekali hanya menyunggingkan senyum-senyum kaku.

Waktu berbuka yang kedua saat kami telah selesai menunaikan salat magrib. Sembari menanti persiapan berbuka yang kedua, warga mengobrol satu sama lain. Sebagian anak melanjutkan mengajinya, didampingi beberapa orang dewasa.

Barulah kami melanjutkan santapan berat setelah mendapati panggilan dari ibu-ibu. Sang ustaz pun mengajak saya. Meskipun hanya nasi bungkus, anak-anak begitu lahap dan menikmatinya.

"Kami sekaligus makan sama-sama di masjid, ya untuk memperkuat kekeluargaan. Anak-anak juga tinggal lama-lama sampai tarawih ya karena memang tertarik sama makanan," penjelasan ustaz terngiang-ngiang di kepala saya.

Saya mengikuti semua agenda umum dari momen-momen ibadah puasa di masjid kecil itu. Nyaris saja, saya ditunjuk sebagai penceramah malam itu. Saya menolak. Saya tak tahu jika agenda tarawih masjid biasanya tak disusun seperti formalitas pada umumnya. Alhasil, salah seorang yang sudah terbiasa berceramah ditunjuk ustaz untuk menyampaikan ceramah.

Hingga usai tarawih, saya jadi bingung hendak menginap dimana. Apalagi masjid ini ternyata tak pernah menjadi tempat menginap warga lainnya.

Ide saya tiba-tiba terlintas kepada ustaz tadi. Masih ragu-ragu (dan agak malu), saya mendekatinya di sela-sela hendak pulang ke rumahnya. "Ustaz, apa saya boleh menginap di rumah ta? Hanya untuk semalam."

Beruntung, warga desa tak pernah kehilangan rasa bersahabatnya kepada siapa saja. Untuk malam ini, saya akan menginap dan betul-betul menjiwai bagaimana mereka merasai sahur bersama keluarga muslim kecil disini.


........bersambung


--Imam Rahmanto--

Selasa, 01 Agustus 2017

Belajar Cukup

Agustus 01, 2017
Bapak yang lebih muda dalam album keluarga. Anak kecil polos di pojokan itu, saya. (Imam Rahmanto) 

"Lahir sebagai orang miskin iku nggak salah. Tapi kalo mati sebagai orang miskin itu salah. Tandanya kita itu tak berusaha. Padahal Allah memberikan kemampuan untuk berusaha," -- Jokowi The Movies

Betapa saya sangat membenci ketika adik saya sudah mulai terisak di ujung telepon. Meski tak terlihat air matanya yang mengucur, namun saya terlalu pandai membayangkan tangisnya. Sejak kecil, saya sudah mengenalnya sebagai anak cengeng.

"Tapi..."

Ujung bibirnya sudah tersumbat. Tak tahu lagi harus mengatakan apa di tengah isak tangisnya, kemarin. Saya hanya bisa kesal dan menyuruhnya diam. Meski kalimat saya berikutnya bernada menasehati, namun iramanya sudah meninggi. Karena, sekali lagi, saya tak menyukai melihatnya menangis.

Saya tahu kekhawatirannya seperti apa. Tinggal selangkah lagi, ia bisa mengenyam bangku kuliah. Tak butuh waktu lama lagi, ia punya teman-teman baru. Tak genap sebulan lagi, ia sudah bisa merasai kehidupan yang selayaknya didapatkan setahun silam.

Hanya saja, saya paham, hati kecilnya terlalu cemas untuk tetap melanjutkan impian itu. Kecemasannya berlebihan. Apalagi jika sudah membawa-bawa bagian kehidupan saya sebagai kakaknya. Jauh dari orang tua dan hidup sendirian di kampung halaman, yang justru menjadi tanah rantauan bagi saya. Mencukupkan segalanya seorang diri. Sementara beban yang dipikul ada di ujung pulau. Sebagiannya lagi, tentu menjurus lebih banyak pada dirinya, yang akan menjalani kehidupan baru di dunia pendidikan.

Akh, kecemasannya berlebihan...

Tak ada hal seperti yang dicemaskannya. Saya harus menunjukkan itu berkali-kali. Kehidupan saya disini sungguh terkendali. Porsi makan sekali dalam sehari itu juga hanya karena saya sudah jadi kebiasaan. Kamar saya yang belum terisi perabotan hanya karena saya malas mencari-cari dan mengangkat barangnya. Untuk memenuhi segalanya itu, teramat mudah bagi saya. Serius.

Tentu saja, dirinya (beserta bapak-mamak) bukanlah beban. Sama sekali tidak. Duaribu-rius. Bagi saya, beban itu justru mengerjakan soal Matematika yang sudah lama terlupakan rumusnya. Tak ada lagi celah bagi saya yang lulusan kependidikan untuk mengajar mata pelajaran itu di tingkat menengah. Saya lebih memilih untuk mengajar mata pelajaran Bahasa Indonesia. 

Kepala saya terlampau penat jika memikirkan hal-hal berat. Hidup ini mesti dijalani apa adanya. Alasan kebutuhan yang tak berkecukupan jangan pernah menjadi alasan untuk tak berbuat apa-apa, apalagi kebaikan. Sebaik-baiknya kebaikan adalah ketika kita tak punya apa-apa untuk melakukannyaa. Bukankah esensi keikhlasan datangnya dari sana?

"Tidak perlu khawatir. Mulai sekarang, tak usah memikirkan keraguan orang lain atau bapak sekalipun. Sekarang, cukup ubah pola pikirmu. Tanamkan bahwa: keluarga kita berkecukupan," saran saya padanya. Tentu saja, dalam hal ini, kakak satu-satunya yang menjadi titik tolak "berkecukupan" itu.

Sungguh, kecemasannya berlebihan...

Kehidupan mengajarkan saya untuk lebih banyak bersyukur. Pikiran yang menganggap diri selalu kekurangan justru mengundang lebih banyak keluhan. Keluhan itu tak mendatangkan apa-apa. Tak ada manfaatnya.

Malah, saya selalu menganggap diri selalu berkecukupan. Sekali waktu, merasa diri sebagai orang paling kaya. Bukannya sombong. Sama sekali tidak. Saya hanya mencoba belajar menempatkan diri sebagai orang yang mampu menawarkan bantuan untuk orang lain. Biasanya, orang yang berpikiran kaya lah yang tak segan-segan memberikan bantuan kepada orang lain. Sementara orang yang berkekurangan biasanya bakal berpikir dua kali untuk sekadar mengeluarkan materinya untuk orang lain.

Merasa berkecukupan di tengah kondisi yang berkekurangan juga punya nilai lebih. Nilai pahala saat "memberi" di kala kekurangan justru lebih banyak. Dalam Matematika sedekah, rezekinya justru berlipat dan bakal kembali dalam waktu yang tepat. Apalagi jika ditujukan untuk orang-orang terdekat seperti keluarga.

"Kita dapat menjadi orang yang merasa tidak beruntung karena lahir di tengah-tengah keluarga miskin, bermimpi ketiban rezeki semacam "durian runtuh" agar bisa membeli benda-benda idaman, atau membayangkan hal-hal lain yang menggiurkan seperti nasib baik anak-anak orang kaya.

Tapi, kita juga dapat memilih menjalani hidup dengan wajar dan penuh keriangan, berusaha membantu orangtua sedapat mungkin, meraih segala yang didamba dengan keringat sendiri, dan tetap antusias memandang masa depan," -- Sepatu Dahlan by Khrisna Pabhicara

Sudah saya bilang, kecemasannya terlampau berlebihan....

Saya percaya dengan namanya keajaiban. Lewat usaha dan doa orang-orang terkasih, segalanya bisa terjadi. Tak ada yang bisa menyangkal segala kebaikan yang bermuara pada keluarga. Tuhan sudah terlalu berpengalaman untuk membalasnya dengan hal yang lebih baik pula. Percayalah, bersama kesulitan itu selalu ada kemudahan.

Dan lagi, serius, saya tidak semelarat yang bakal dibayangkannya di kemudian hari. Kehidupan saya jauh lebih menenangkan. Soal finansial, duh, saya sebenarnya mampu menyombongkan diri jika menakar teman-teman seusia saya. Malah menjadi sebuah kehormatan bagi saya bisa mengabdikan diri untuk keluarga dan kedua orang tua. Dengan begitu, saya merasa punya value sebagai anak sulung dan lelaki.

Barangkali, adik saya hanya terlalu menyayangi kakaknya. Satu-satunya kecemasan yang objektif mungkin karena saya bakal betah menyendiri dengan segala kesibukan berpetualang ini. #ehh

"Mau kucarikan jodoh disini (Jawa)?" tanya adik saya sembari tertawa mengejek. Tak ada lagi sembab sisa kemarin. Mendengarnya tertawa sungguh membuat saya lega.

"..."

krik, krik, krik

Saya tolak mentah-mentah. Sebenci-bencinya dengan K-Pop, saya lebih geli dijodoh-jodohkan. Come on, sis!



--Imam Rahmanto--