Jumat, 07 Juli 2017

Tegar Luka

"Kak, lantas, bagaimana dengan soal yang ini? Ajari ka dulu," ujar seorang gadis manis, yang lebih sering memasang wajah cemberutnya.

Pelajaran saya sebenarnya telah berakhir. Bel pertanda jam istirahat juga sudah bergema sejak tadi. Akan tetapi, perempuan kecil itu malah memburu-buru saya untuk bertanya lebih banyak tentang Matematika. Antusias pula saya dibuatnya.

Meski begitu, perempuan mungil itu termasuk yang paling jarang tertawa. Untuk orang yang baru mengenalnya, seperti kami para anak-anak KKN-PPL, ia cenderung nampak terkesan cuek. Wajahnya lebih sering memasang tampang cemberut. 

"Bagus kalau kau banyak-banyak senyum saja, Nisa. Lebih manis loh," saran saya suatu ketika. 

Bagi para pendidik, murid-murid yang paling mudah dikenali biasanya berasal dari mereka yang paling antusias belajar atau yang paling malas belajar. Sementara Nisa, bagi saya, adalah kategori pertama. Entahlah bagi teman-teman KKN yang mengampu mata pelajaran lain.

Kelak, saya tahu, antusiasme semacam itu tak pernah sia-sia. Ia mewarisi jurusan dan program studi yang pernah saya geluti di kampus, tepat setahun silam.

(Foto: Imam Rahmanto)

***

Siang itu, saya mendapatkan kabar dari grup Whatsapp kantor, seperti rutinitas biasanya. Bedanya, teman-teman sudah mulai ribut terkait kejadian perahu tenggelam di Pangkep. Redaktur kantor sudah mulai memberikan pengarahan untuk kepentingan naskah esok hari. 

Saya tak menanggapinya. Toh, itu tidak termasuk dalam lingkup penugasan saya di daerah ini. Ditambah, sejak beberapa hari lalu, kasus bersambung "bayi ajaib" sudah bikin kepala berputar-putar. Saya diminta untuk tetap mengawalnya hingga tuntas, bak detektif. Teman pewarta yang berada di lokasi dibiarkan fokus dengan penugasannya itu. Kami sudah punya jobdesc masing-masing untuk dirampungkan.

Saya baru dibuat tersentak usai merampungkan deadline, lepas Isya. Seorang teman, yang dulu menjadi murid semasa KKN, menyambungkan percakapan via Line. Saya sempat bertanya di dalam grup kelasnya, karena tiba-tiba kembali ramai dengan bunyi notifikasi. 

"Begine, Kak Imam....." meluncurlah semua informasi duka darinya.

Apa yang sedang diributkan anak-anak kelas Aljabar SMAN 2 Pangkep. Mengapa tak ada suara dari orang yang diributkan itu. Otak saya langsung menghubungkannya dengan salah satu kejadian yang sempat menjadi pantauan mendadak grup kantor. Astaga.




***

Saya mencoba meraba-raba kejadian itu. Mengambil separuh memori sembari mencoba tetap menjejalkan jemari pada kolom pencarian dunia maya. Saya memastikan kejadian itu, yang benar-benar terjadi beberapa jam sebelumnya.

Sebuah video amatir yang sempat diperlihatkan teman sekelasnya ikut menyayat-nyayat perasaan. Saya masih teramat mengenali wajah Nisa. Matanya sembap habis dibasuh air mata. Pikirannya masih kalut. Mulutnya tak mampu berkata apa-apa. Suaranya di balik sorot kamera, memanggil-manggil sang ibu, sempat membuat bulu kuduk saya meremang. Diantaranya, korban lain sementara ditolong masyarakat setempat.

Padahal, percakapan kami di salah satu media sosial miliknya belum genap sebulan. Bagaimana cerita-cerita tentang kampus barunya, yang sudah tak menjadi kampus saya lagi. Tak terkecuali, tentang janji-janji yang urung saya tepati saat masih bertugas di Makassar. 

Tak ada yang pernah menyangka, kematian datang begitu cepat tanpa pernah diminta-minta. Begitu pun dengan dirinya. Kehilangan orang terdekat, tentu memukul telak kesadarannya sebagai manusia biasa. Tak hanya satu. Tuhan tak sungkan memanggil sekaligus tiga anggota keluarganya. Hanya menyisakan dirinya dan sang ayah.

Kehilangan satu orang terdekat saja, bagi saya, sudah sangat menguras harapan. Saya sudah begitu sering melihat teman-teman yang terjerembab dalam kesedihan semacam itu. Tak jarang, mereka yang merasakan kehilangan begitu mendalam, mengantarkan dirinya dalam penyesalan tak berujung. Berhari-hari menyalahkan diri sendiri. Membekapnya hingga ke alam bawah sadar.

Saya selalu terngiang kata-kata seorang teman, "Ada beberapa hal (kesedihan) yang sudah membuat kita tidak lagi sesak jika sudah mengalaminya berkali-kali. Tetapi, tidak dengan kematian. Tidak sama sekali."

Karena pada dasarnya, kematian adalah hal istimewa. Tak ada yang mampu menghitung-hitungnya dalam peluang eksakta. Kematian itu semacam rahasia yang sudah disimpan rapat-rapat oleh Tuhan di atas singgasana. Berdampingan dengan kelahiran. Termasuk jodoh dan rejeki.

Setelah berkali-kali diterpa musibah, kita barangkali bisa kembali menyunggingkan senyum. Menjalani kehidupan seperti biasa. Tetapi, dari dasar hati, kepingan lain ikut hancur dan terpendam. Jika tenggelam, bisa saja tak kembali lagi. 

Sejujurnya, saya belum pernah merasai langsung kehilangan orang-orang terdekat. Hanya saja, bagian-bagian tertentu justru menyambungkan kehidupan saya dengan orang-orang yang kehilangan itu. Salah satu puzzle kehidupan saya saat ini dibentuk dari potongan pengalaman di masa silam. Apakah saya bisa apatis saja melihat salah satu bagian itu terpuruk dalam kesedihan besarnya?

"Kekuatan paling dahsyat yang dimiliki kematian bukanlah karena kematian bisa membuat seseorang mati, melainkan karena itu bisa membuat orang-orang yang ditinggalkan ingin berhenti hidup." [My Grandmother Asked Me to Tell You She's Sorry, by Fredrick Backman]

Tak hanya Nisa. Semua teman kelasnya, Aljabar (termasuk Einstein) merupakan orang berharga bagi saya. Kami pernah tertawa bersama-sama. Melucu hal-hal tak penting. Bersekongkol dalam kelas. Meledek satu sama lain. Memaafkan. Hingga, barangkali, kini saatnya kami menangis bersama-sama.

Kehilangan memang selalu terasa menyakitkan. Selalu. Tak ada yang menyenangkan dari rasa kehilangan itu sendiri. Kita tak pernah bisa tertawa atas hal-hal baik (yang disayangi) yang direnggut tanpa aba-aba dari kehidupan kita. Hati yang berduka tak pernah luput dari menyisakan luka. 

"Menangislah, bila harus menangis. Karena kita semua manusia,"

"Manusia bisa terluka. Manusia pasti menangis. Dan manusia pun bisa mengambil hikmah,"*

Saya hanya berharap, perempuan kecil itu tak larut dalam kesedihannya. Bukan hal mudah menampung kesedihan karena kehilangan banyak orang terdekat sekaligus. Entah sejauh mana kekuatannya menghadapi tragedi yang terjadi di depan mata sendiri. Semoga Tuhan selalu menopangnya. 

Tetapi saya yakin, Tuhan tak pernah menyisakan duka bagi manusia hanya untuk terus meratap dan menatap kosong ke arah masa lalu. Satu-satunya sumber kekuatan terdekat kini ada di pundak ayahnya. Kehidupan masih harus berjalan. Pun, teman-teman yang terus menitipkan rangkul dan senyum menguatkan untuknya. 

Dirinya, masihlah gadis kecil yang harus tetap tersenyum, menanggalkan luka...  



--Imam Rahmanto--


----------
*) Air Mata, song from Dewa 19 

2 komentar:

  1. Innalillahi wa Innalillahi Rojiun. semoga amal dan ibadah ibu dari nisa diterima di sisi-Nya. Saya jadi terbawa suasana ketika membaca tulisan ini, bukan karena kematian tapi bagaimana rasanya bisa bercengkrama dengan orang-orang terdekat adalah hal yang paling istimewa. bahkan itu melebihi sebongkah emas jika dibandingkan.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Terima kasih, mas. Mohon doanya... :)

      Hapus