Senin, 03 Juli 2017

Gempar dan Gempur

(Foto: Imam Rahmanto)

Beberapa hari terakhir, kota kami sedang geger. Tak biasanya. Masyarakat digemparkaan dengan fenomena "bayi ajaib" yang lahir di sebuah dusun, pinggiran kota Enrekang. Kabarnya, bayi itu lahir dari seorang gadis manis yang belum menikah. Anehnya, sang bayi bisa berbicara lantaran mengucap salam.

Akh, saya lelah jika harus mengulang-ulang ceritanya. Seperti lelahnya ayah sang gadis saat menceritakan "dongeng" itu kepada para tamu yang tumpah-ruah menyambangi rumahnya. 

Cukup ketikka saja kata kunci seperti "bayi ajaib Enrekang" atau "Penja Enrekang", kalian sudah bisa menjumpai berbagai versi berita, yang muaranya cuma satu kejadian.

"Ini yang paling bikin pusing," kata bapak polisi, yang menangani kasus ini.

Saya pun merasakan demikian. Bedanya, sebagai pewarta, saya justru harus berpacu data dengan pihak kepolisian. Diam-diam, saya meletakkan pihak kepolisian sebagai rival. Saya belajar bagaimana mengejar sumber-sumber untuk kepentingan bahan berita. Jika hanya menunggu dari keterangan pihak kepolisian, tak ada yang istimewa. Yah, tidak seru juga.

Apalagi, tugas sebagai pewarta seyogyanya menjadi corong untuk membelajarkan masyarakat. Kami tak boleh ikut "membodoh-bodohi" dengan cerita tahayul itu. Sebagaimana tugas dasarnya, mengungkap kebenaran. Nah, kebenaran dari cerita-cerita ini yang mesti dituntaskan.

Bagaimana tidak, cerita "aneh" itu sebenarnya bisa dibuktikan secara ilmiah. Segala data yang dikeluarkan tim medis sudah cukup membuktikan bahwa tak ada hal-hal mistik dalam proses kemunculan sang bayi. Ibunya juga hanya seorang gadis biasa, yang tak elok dikait-kaitkan dengan kesucian seorang Maryam, ibunda dari Nabis Isa (atau Yesus bagi umat Kristiani).

Saya justru ingin tertawa saja mengalami berbagai kejadian menarik dalam rentang pengumpulan bahan berita itu. 

Tantangan lucu justru datang dari sifat tertutup keluarga bersangkutan. Kami tak bisa bergerak bebas, tentunya. Bahkan, pihak kepolisian juga sangat menjaga jarak karena pertahanan pihak keluarga.

Jadilah keterangan-keterangan tambahan kami kumpulkan dari lingkaran sekitar keluarga. Ditambah, berlagak (sok) sembunyi-sembunyi mendatangi lingkungan rumahnya. Nongkrong. Bertanya ini-itu, seolah ingin menyambangi keluarga bersangkutan. Menggali informasi. 

"Kami sudah kumpulkan data-data terkait bukti medisnya. Bahwa sebenarnya dia lahir normal. Tapi, tak perlu kami jabarkkan. Biarkan itu jadi rahasia kami (polisi)," saya tahu, hanya kumpulan-kumpulan informasi usang seperti ini jika mengharapkan keterangan pihak berwajib.

Padahal, data-data semacam itu sendiri sudah lama saya kumpulkan dari tim medis bersangkutan. Selangkah lebih maju, menn. Yah, bukan kebetulan, kami berteman baik dengan pimpinan tim medisnya. Mudah saja bagi kami menyusup dan menyusun skenario agar tak ketahuan mendapat limpahan data-data itu. Berkomplot sedikit, "teman" kami tak kan bilang kalau kami sudah memegang data yang sama.

Dari data-data yang ada, tentu hasilnya bercabang dan membawa kami pada beberapa nama. Apa seperti ini ya rasanya penyelidikan polisi?? Telusuri saja satu-satu, dengan harapan keterkaitan akan membawa pada perkara keberuntungan berikutnya. 

"Iya, dia temanku. Pernah dulu...." saksi-saki mulai berbagi informasi.

"Saya juga prihatin. Mau sekali tahu siapa di balik semua...." ujar yang lain, menjadi jalinan informasi yang disatukan.

Lucu saja mengingat tingkah kami yang seolah-olah seperti intel kepolisian. Ngalah-ngalahi malah. Mencoba berbagai kemungkinan jawaban. Mendorong peluang lain. Memilin data mentah. Menjahit informasi-informasi akurat. Hingga berusaha menyimpulkan lebih dulu dari pihak berwajib. Saya pun terpaksa belajar beberapa istilah hukum. 

Sayang, cerita ini masih melayang tanpa ending. Petunjuknya memang mengerucut. Akan tetapi, eksekusinya tetap jatuh pada pihak kepolisian. 

Bagi saya, keunikan fenomena ini bukan lagi pada "ajaib-ajaib"nya si bayi atau keluarga. Saya malah lebih tertarik memecahkan masalah ini dan menemui titik terang bahwa ada laki-laki yang bertanggung jawab terhadap kelahiran bayi. Kalau kata teman saya, siapa bapak dari si bayi.

"Dia sudah bisa mulai keluar kamar. Sudah mau mengobrol," ujar salah seorang teman kami, menceritakan kunjungannya yang bertemu ibu si bayi. 

Kok, saya serasa jadi detektif, ya? 

"Ya, paling tidak, kita (yang bertugas di daerah) belajar sedikit investigasi. Jarang-jarang ada kejadian begini. Biar skalanya kecil, kan bisa buat nambah-nambah skill," kata teman. 

Tak ketinggalan, kejadian lainnya: hide and seek dengan salah seorang pejabat yang baru-baru ini ditetapkan sebagai tersangka proyek pembangunan. Kontaknya mati. Rumahnya tertutup, padahal mobil dinasnya jelas-jelas ada. Kontak satunya dialihkan, ternyata nyambung saat dihubungi dari nomor penting.

"Jadi, bagaimana tanggapan ta terkait penetapan tersangka ta hari ini?" 

Duh, saya menyesal sudah meninggalkan ratusan chapter dari manga Detective Conan... Kan, bisa belajar dari sana!


--Imam Rahmanto--

Tidak ada komentar:

Posting Komentar