Minggu, 30 Juli 2017

Ekspresi dan Jiwa Seni

Juli 30, 2017

Lama juga saya tak me-review film-film kesukaan. Semenjak notebook satu-satunya harus berakhir di tempat penampungan barang-barang bekas di gudang. Tersisa hardisk yang kemudian saya amankan dan tetap berisi berbagai jenis film dan dokumen-dokumen pentings saya. Termasuk skripsi.


Belakangan, saya mulai sibuk mengunduh beberapa film. Saya tentunya memang butuh menyesuaikan mata dengan tontonan audio-visual. Biar lebih variatif dan mengatasi kebosanan berjilid-jilid buku yang belum bisa tamat. Target baca setahun saja belum kelar setengahnya.

Selain itu, tontonan film juga menjadi hiburan tersendiri bagi saya yang punya kamr berseberangan dengan kompleks pemakaman. Jika saya membiarkan kamar tanpa suara hiburan, nuansa horor tentu jadi teman menjelang tidur. 

Sebenarnya, ada banyak playlistf film yang kini tersimpan dalam memori notebook saya. Itu pun telah saya tonton selama beberapa minggu terakhir. Mulai dari film animasi, hingga film karya anak negeri. 

Aisyah Biarkan Kami Bersaudara, Almost Famous, Meri Pyaari Bindu, Noor, Flying Colours, Cars 3, Into The Wild, Dear Zindagi, Jump Street 1 dan 2, Skiptrace, Kedi, Spiderman Homecoming, Storks, Hangover, Secret Life of Pets, The Words, Der Zindagi. 

Serius, daftar itu belum termasuk film-film yang sudah saya tonton dan hapus. Sementara yang masih terdata sebagai daftar antrean misalnya Istirahatlah Kata-kata, The Ottoman Liutenant, dan Into The Wild.

Entah angin apa yang menggerakkan saya lebih tertarik untuk mengulas film Middle School: The Worst Years of My Life. Sementara dari beberapa daftar di atas, ada sebagian film yang cukup inspiratif dan punya nilai motivasi lebih tinggi.

***

(Sumber; Lionsgate Picture)

Film yang diangkat dari buku serial best selling ini berputar pada kehidupan sekolah remaja lelaki yang bernama Rafe Khatchadorian. Kehidupannya berantakan karena terlalu sering berpindah-pindah sekolah. Bukan karena ia seorang berandalan. Hanya saja, ia punya masalah serius terhadap kedisiplinan karena lebih suka menghabiskan waktu dengan menggambar.

Masa remajanya pun dipertaruhkan di sekolah terakhirnya di Petterson. Sekolah yang menerapkan aturan kedisiplinan teramat ketat. Bahkan berkeliaran di lorong sekolah pun menjadi larangan dalam buku kecil aturan dan larangan sekolah. 

Kebiasaannya menggambar berujung pada kemarahan kepala sekolah. Bukunya yang penuh dengan gambar keren dimusnahkan oleh kepala sekolah. Tak ayal, Rafe kecewa dan menyimpan dendamnya pada kepala sekolahnya. Saya suka dengan kebiasaan Rafe membawa-bawa buku atau notes sebagai wadah menuangkan kreativitasnya.

Bersama temannya, Leonardo, ia membalas dengan cara lebih kreatif dan berjiwa seni. Bukan hanya kepada kepala sekolahnya. Melainkan dengan melanggar aturan-aturan sekolahnya tanpa ketahuan. Berjalanlah operasi Rule Aren't For Everyone (RAFE), yang justru mengundang lebih banyak simpati anak-anak lainnya.

Sepintas, kisah Rafe tak jauh berbeda dengan film-film kelas remaja pada umumnya. Akan tetapi, saya tak bisa menghentikan tontonan dengan berbagai unsur seni di dalamnya. Termasuk di adegan pembuka yang memunculkan kartun atau animasi gambar-gambar Rafe, seolah hidup. Sang sutradara, Steve Carr mencampurkan unsur animasi ke dalam filmnya. Padahal, kartun-kartun itu hanyalah imajinasi dari Rafe sendiri.

Cukup menghibur juga melihat imajinasi seorang remaja seperti Rafe. Uniknya, ketika ia diminta maju ke depan kelas menggambarkan rantai makanan. Ia benar-benar menjiwai gambarnya dan mencoret-coret papan tulis dengan rantai makanan versinya. Bagi siapa saja yang pernah belajar di sekolah terkait pokok bahasan itu, pasti bakal tersadar bahwa ternyata ada banyak jenis rantai makanan selain sekadar hafalan: padi - tikus - ular - elang - pengurai atau rumput - belalang - katak - ular - elang - pengurai. 

Saya juga suka dengan konsep pendidikan yang berusaha berusaha diluruskan oleh film ini. Aturan ketat yang hanya membuat anak-anak terkekang justru memendam keterampilan masing-masing orang. Sekolah ini mirip konsep sekolah formal pada umumnya. Aturan ketat. Kurikulum mementingkan otak kiri. Prioritas prestasi sekolah. Tak ada tolerir terhadap keterampilan lainnya. 

Sementara dunia kerja yang sesungguhnya tidak butuh orang yang pintar berhitung atau menghafal. Kehidupan nyata lebih menyukai mereka yang gigih bersaing dan punya keterampilan berbeda. Terkadang, mereka yang berpikir "gila" jauh lebih berhasil ketimbang yang biasa-biasa saja mengikuti arus.

Rafe tanpa sengaja membebaskan kawan-kawannya dari tekanan sekolah semacam itu. Meski ujung-ujungnya ia ketahuan sebagai pelaku pemberontakan aturan sekolahnya. Teman sekelasnya justru mendukung dan berupaya menjadi sekutu dalam menjatuhkan otoritas kepala sekolahnya.

Akh ya, menurut saya, bagian terbaiknya bukan ada pembangkangan Rafe itu. Saya justru merasakan twist film ini pada bagian pengungkapan teman Rafe, Leo. Meski bertema komedi, bagian paling mengharukan justru datang dari twist tersebut. Siapa Leo yang selama ini menemani Rafe untuk mengerjai sekolahnya? Leo yang juga menghadiahkan buku baru bagi Rafe setelah bukunya dimusnahkan kepala sekolah. Ternyata Leo selama ini.........

Sudahlah. Kalau saya menceritakan semuanya, tentu takkan menyenangkan lagi menonton film bernuansa remaja ini. Film bertema ringan ini cocok menjadi pengisi waktu luang. Sekali-kali, menonton film ringan seperti ini sungguh bisa membebaskan beban di kepala. 

"If you want to make a difference, think outside the box," --Rafe's mom.



--Imam Rahmanto--

Minggu, 23 Juli 2017

Kulminasi Rasa

Juli 23, 2017

(Foto: Imam Rahmanto)

Seorang teman memulai kisah hidupnya yang baru. Bulir-bulir bahagia bermekaran dari raut wajahnya. Akad sudah diucapkan. Janji sehidup-semati sudah ia tanam dalam hati. Senyum bahagia bertukar untuk keluarganya. Begitu pula untuk lelakinya.

Saya menyambangi momen bahagia teman perempuan itu beberapa hari lalu. Memenuhi undangannya, sebagai salah satu teman karib. Lebih dari itu, kami sudah seumpama saudara. Tak lagi dipisahkan kecanggungan apa pun. Barangkali karena pernah disatukan organisasi yang sama di masa putih abu-abu dulu.

Sayangnya, saya hanya bisa menjumpainya setelah ia beranjak dari pelaminan. Pesta sudah bubar. Dirinya juga sementara berkemas karena masih harus melanjutkan ke acara mempelai pria.

"Tunggu ka nah? Nanti magrib lagi kalian kesana, jangan pulang. Pokoknya jangan pulang. Kita belum foto-foto," ancamnya sebelum bergegas keluar rumah. Sementara saya masih tinggal berbincang dengan anggota keluarganya. Meskipun pada akhirnya saya tidak bisa memenuhi permintaannya itu. Tak ada foto-foto narsis.

Saya bersyukur, ia akhirnya bisa menjauhkan perasaannya yang sempat menggumpal pada seorang kawan kami. Bahkan, saya turut merasa bersalah pada bagian itu. Lantaran, perasaannya yang sempat terpendam itu karena keisengan saya yang sering meledeknya. Menjodoh-jodohkannya.

Seiring waktu, ia menumbuhkan sendiri benih perasaan itu. Dua hingga tiga tahun menyimpan keinginannya sendiri. Hanya saja, saya pun tahu, kawan lelaki saya tidak berlaku demikian. Ia cukup tahu bahwa saya sekadar menebar lelucon semata. Ia pun tak ingin terlalu jauh melangkah untuk mengembangkan harapan bagi sahabat kami itu.

Tak ingin terlalu lama menanti sesuatu yang tak jelas baginya, sahabat perempuan saya pun membuka lebar hatinya untuk lelaki yang datang baik-baik ke rumahnya. Lelaki itu bukan orang baru baginya, karena bertetangga dalam satu desa. Pun, barangkali mereka memang sudah lama akrab.

"Lagipula memang dia ndak pernah bilang mau ditunggu atau tidak. Seandainya dia pernah bilang, pasti ditunggui ji, biar berapa lama," katanya, yang hanya bisa saya tirukan lewat cerita Bunda, tempo hari. Dirinya, kata Bunda, pernah menumpahkan cerita berbalut air mata. Entah haru atau ragu.

Sungguh, jodoh atau pasangan hidupnya sekarang tak pernah bisa ditebak. Ia juga sudah paham untuk tidak berlarut-larut menantikan sesuatu yang tak jelas patoknya. Tentu saja, itu lebih melegakan.

Jauh, beberapa tahun silam, kakak sepupu saya juga pernah disusupi dilema. Lelaki sulung itu dilanda kebingungan karena dijodohkan oleh orang tuanya dengan gadis dari kampung halaman di jawa. Nampaknya, Paklik (paman saya) berhubungan sangat baik dengan orang tua si gadis jawa. Meskipun kehidupan mereka telah lama berjaya di Makassar.

Sepupu saya itu sudah punya tambatan hati di Makassar. Entah sudah berapa lama ia menjalin hubungan. Ia tentu agak berat melepaskannya. Apalagi, ia harus memilih opsi yang diajukan oleh Paklik. Memilih perjodohan dengan bonus mobil dan modal untuk usahanya, atau mempertahankan kekasihnya dengan ancaman tak bakal mendapatkan sepeser pun modal dari Paklik.

Idealnya kisah cinta melankolis, sepupu saya bisa saja memilih tetap menggandeng tangan kekasihnya ke pelaminan. Suka duka bakal dilaluinya bersama-sama dalam membangun bahtera rumah tangga. Mereka bisa membesarkan anak-anaknya dengan membusungkan dada. Anak-anaknya akan belajar kehidupan dengan cara yang lebih dramatis.

Akan tetapi, di kehidupan nyata, ia terpaksa menyerah kepada pilihan pertama. Menerima perjodohan ayahnya dengan perempuan yang masih serumpun dengan kami. Perlahan membangun keikhlasan untuk menanggalkan kenangan indah bersama sang kekasih. Toh, kehidupannya terus berjalan dan kini dianugerahi seorang anak laki-laki.

"Perihal jodoh, memang tak ada yang bisa menduga-duga," kata Bunda, sebagaimana lazimnya pepatah usang yang kerap dilupakan banyak orang. Selalu pula berulang "masuk telinga kiri, keluar telinga kanan."

***

Kita memang tak jarang menuntut banyak atas jodoh yang disiapkan Tuhan pada kita. Sibuk memilin harapan dan kategori yang sesuai dengan pesanan pribadi. Mencari yang ideal hingga yang sempurna. Tanpa sadar jka tiba masanya, hati yang lelah malah menumpulkan harapan. 

Entah seperti apa, namun saya berpikir, perempuan juga punya batas kesabarannya dalam menunggu. Tak ada perempuan yang benar-benar setia menunggu. Apalagi terhadap janji-janji yang tak jelas pangkal dan muaranya. Ditambah lagi, terhadap janji yang tak pernah diucapkan.

Pun, laki-laki. Tak semuanya benar-benar kuat mencari. Seiring usia yang bertambah, pikiran logis juga kian berubah. Beberapa diantara kami justru tak ingin lagi sekadar main-main dalam mencari pasangan hidup. Saya berani bertaruh, tak ada yang menganggap main-main urusan pendamping hidup.

Mencari pasangan hidup memang sangat berbeda untuk saat ini. Memilih satu saja, seumpama melekatkan berbagai pertimbangan masa depan, baik dari diri sendiri maupun bagi keluarga kedua belah pihak.

Tak hanya (selalu) urusan panaik (atau mahar) yang menjadi kendala. Proyeksi masa depan kedua belah pihak ikut menjadi pertimbangan-pertimbangan yang pelik. "Apa dia bisa dekat dengan keluarga? Keluarganya dari kalangan berbeda, apa bisa cocok dengan saya? Apa dia tidak akan bosan dengan kehidupan kami? Apa panaiknya bisa ditebus? Semua terngiang-ngiang dalam batok kepala yang sangat kecil.

Wajar jika perasaan tak lagi menjadi pertimbangan utama. Karena perkara hidup (masa depan) tak hanya melambungkan tentang perasaan.

Namanya cinta, kata orang tua, lama-lama bisa dipupuk. Awalnya karena paksaan, lama-lama jadi kerasan. Orang tua kami teramat suka menyumpahinya dengan peribahasa witing tresno jalaran soko kulino. Cinta tumbuh karena terbiasa. Dalam hal ini, kebiasaan (selalu sama-sama) setelah disatukan oleh akad dan satu atap.

Tak heran jika banyak teman-teman perempuan kami berakhir dengan menerima lamaran lelaki yang bukan kekasihnya. Ini soal masa depan, bung! Jika tak ada komitmen yang jelas dalam penantian asmaranya, mereka tentu lebih memilih untuk kejelasan hidupnya.

Sebenarnya, ada begitu banyak perempuan yang teramat kuat mencintai satu orang. Menungguinya. Meski begitu, dalam sisi kehidupan lainnya, ia takkan memaksakan satu orang itu untuk menjadi pendamping hidupnya kelak. Karena kedewasaan membuat kita lebih banyak berpikir. Bahwa, ada orang yang hanya bisa kita simpan dalam hati selamanya, tetapi tidak untuk sehidup semati bersamanya.



--Imam Rahmanto--

Rabu, 19 Juli 2017

Kam(p)us

Juli 19, 2017
Saya pernah kerap kali menggerutu kepada anak-anak yang kuliah di kampus swasta. Saya selalu menjadi orang yang pesimis memandang gaya hidup mereka. Saya memandang orang-orang yang kuliah kampus swasta sebagai mahasiswa dari kalangan berada. Wajar, kampus swasta memang mematok biaya kuliah yang cukup mahal.

Menguliahkan anak di kampus mahal tentu menjadi gengsi tersendiri, di luar ketidakmampuan melulusi tes di jalur negeri. Itu karena mereka punya kelebihan uang, yang tentu takkan habis hanya dengan membayari biaya semester dan pembangunan kampus bersangkutan. Intinya, bagi saya, kampus "non-negeri" menjadi tempat kuliah bagi orang-orang yang punya kemampuan finansial tinggi.

Sejalan dengan peran yang mulai berganti, saya menyadari sesuatu. Apa yang menjadi kesimpulan sepihak itu tak sepantasnya digeneralisasikan. Realisasinya tak selalu demikian. Apalagi ketika saya mulai menyelami sendiri konsep perjalanan hidup yang kian berganti.

Jalani saja. (Imam Rahmanto)

Adik saya, baru-baru ini, tak melulusi kampus negeri idamannya. Hal tersebut menjadi kegagalan tahun keduanya dalam memasuki jenjang pendidikan tinggi. Ia hanya bisa terisak dari ujung telepon setelah kata-katanya datar sampai di telinga saya, "Ndak lulus ka lagi."

Tak ada yang bisa diperbuat kakaknya dari jauh. Setelah menggerutu dan sedikit (sok) mengguruinya, saya hanya bisa pasrah dan menyuruhnya diam. Hati kecil saya ikut tercerabut jika mendengarnya terisak. Meskipun sebenarnya, ia memang sangat cengeng sejak kecil. Itu juga karena kakaknya yang suka mengganggu, hingga ia selalu berteriak-teriak mengadu pada mamak.

Setiap orang harus sadar dengan kemampuan dirinya. Saya tak mungkin memberondongnya dengan kekesalan hanya karena dirinya tak mampu menjadi diri saya di masa lalu. Ingin marah, rasanya saya bakal menjelma jadi seorang "ayah" yang galak. Sosok yang benar-benar tak saya inginkan jika mempunyai anak di kemudian hari.

Lebaran kemarin menjadi waktu yang cukup baik baginya menumpahkan keinginan untuk melanjutkan pendidikan. Saya menyarankan untuk mendaftar saja di kampus mana pun yang dia suka. Salah satu kampus di Malang dan Surabaya pun sempat saya masukkan dalam daftar prioritas. Sayangnya, jarak yang cukup jauh tentu bakal mengurangi kebersamaannya dengan bapak dan mamak. Selain itu, tak ada kenalan yang menjadi penunjuk jalan bagi adik perempuan saya itu.

Saya memberikan keleluasaan baginya untuk memilih. Memilih dimana saja. Jurusan apa saja. Tanpa perlu campur tangan pilihan dari saya. Karena, toh, dia sendiri yang bakal menjalani kehidupa barunya sebagai mahasiswa.

"Tapi, biayanya?"

Saya hanya tersenyum saja menanggapinya. Memintanya tak perlu risau. Tiba pada bagian itu, biarlah menjadi urusan saya.

"Saya cuma takut mengecewakan lagi, Kak,"

Entah bagaimana, saya merasakan trauma yang menggelayut dari ujung kepalanya. Kecewa menjadikan manusia lebih berarti. Lebih manusiawi. Tanpa perasaan semacam itu, tak ada proses memperbaiki diri. Dan, saya tak perlu menghakiminya karena tak sesuai harapan atau ekspektasi.

Toh, dua pekan lalu, adik saya akhirnya lulus di kampus kesehatan pilihannya. Swasta. One day service. Suaranya berseri-seri, meskipun masih merisaukan persoalan biaya, seperti bapak yang kerap membahasakannya lewat sambungan telepon.

***

Ada sesuatu yang berbeda dari perasaan saya di kemudian hari. Karena menggantikan sedikit peran bapak, saya jadi tahu bagaimana perasaan bapak (dan mamak) dalam menyekolahkan anak-anaknya dulu.

Sejak dulu, orang tua hanya berpikir bagaimana cara menyekolahkan anak-anaknya. Mereka tak ingin anak-anaknya putus hanya sampai tingkat SMA.

Bukan soal dimana dia akan mendaratkan pengalamannya. Melainkan, jauh lebih penting tentang apa saja (pengalaman) yang akan didapatkannya selama menjalani proses perkuliahan.

Seperti yang saya alami, tujuan dasar memang kerap dikaitkan dengan jurusan yang dipilih. Akan tetapi, pengalaman dan keterampilan bakal berubah seiring mahasiswa menempatkan diri dalam bersosialisasi. Semakin banyak berteman, semakin banyak menimba pengalaman. Saya menganggap, esensi perkuliahan yang sebenarnya berada pada tataran mencari pengalaman dan jati diri sebelum lulus kuliah.

Sebagian orang tua nampaknya juga memikirkan hal itu. Asalkan anak-anaknya bisa kuliah, biaya tak jadi masalah. Mereka tentu tak ingin menunjukkan kesulitan meteri di hadapan anak-anaknya. Dari sini, saya tak mau lagi mengkotak-kotakkan kampus mana pun.

Orang tua semata-mata berpikir agar anaknya bisa kuliah. Itu saja. Pertimbangan mereka tentu tak ingin melihat anak-anaknya hanya berkeliaran di sekitar rumah atau langsung bekerja tanpa dasar bersosialisasi sebelumnya. Paling tidak, selepas kuliah, mereka punya pemikiran yang lebih berbeda dibanding orang-orang yang tak pernah merasai bangku kuliah. Kita akan menemui berbagai karakter di kehidupan kampus. Jika lebih beruntung, kehidupan kampus bakal membawa mereka pada dunia kerja yang lebih kompetitif, sesuai jati diri sesungguhnya.

Menyekolahkan anak-anaknya, seolah-olah jadi tabungan tersendiri bagi orang tua dimana pun berada. Meskipun ada pula yang menyebutnya sebagai aset, karena telah memperhitungkan landasannya sejak awal. Hitung-hitungan memasukkan anaknya di jurusan tertentu, berhasil diraih hingga pekerjaannya pun selaras dan menghasilkan uang lebih banyak.

Akh, saya pun tak ingin berpikir terlalu picik terkait materi. Bagi saya, kampus itu serupa kamus kehidupan. Apa saja bisa ditemukan disana. Pelajaran dan pengalaman. Bukan hanya soal studi di dalam kampus. Berteman dengan kawan baru juga punya ke(se)nangan tersendiri. Jati diri kita yang sesungguhnya bisa dimulai dari kehidupan di dalam kampus. Tak peduli kampus itu menyandang nama atau harga.

Jangan tersuruk seperti kucing piaraan nenek saya ini. Haha... (Imam Rahmanto)


--Imam Rahmanto--


Minggu, 16 Juli 2017

Anak-anak yang Bertahan

Juli 16, 2017
sambungan dari Modal Nekat


Saya bukan pertama kalinya menjalani puasa di daerah minoritas, seperti Tana Toraja. Tahun lalu, saya bahkan selama beberapa hari berada di pusat kotanya berpuasa bersama keluarga. Sayangnya, dalam kondisi yang agak berbeda karena bapak sedang dirawat di rumah sakit.

Kesempatan baru justru datang dari penugasan sebagai salah pewarta di daerah. Sesuatu yang tak pernah saya sangka-sangka sebelumnya. Bahkan, saya juga sempat menundanya beberapa kali.

Saya harus menghabiskan hampir sejam lamanya hanya untuk mencari destinasi liputan itu. Saya tak pernah merencanakan apa-apa. Di dalam kepala, hanya ada satu nama daerah, yang saya pun tak tahu dimana lokasinya. Pun, saya mendapatinya dari berselancar di dunia maya. Tak ada gunanya juga bertanya pada Google Map di daerah yang masih menjunjung tinggi saling sapa dan komunikasi tatap mata.

"Tabe, Pak. Dimana dibilang Lembang Marinding disini?" pertanyaan yang sudah saya ajukan beberapa kali.

Bukannya kesasar, saya justru beberapa melampaui daerah tersebut. Lembang itu berada tidak begitu jauh dari jalan poros Enrekang - Makale. Bahkan tak sejauh lokasi Lembang Uluwai, yang sebelumnya menjadi tujuan awal.

"Di Getengan sana, kilometer lima, ada jalan ke atas. Naik ki saja terus," jawaban yang juga nyaris sama dengan embel-embel kilometer lima. Maklum, saya bukan "penguasa" daerah Tana Toraja. 


***

Tujuan pertama saya adalah mencari lokasi masjid yang tepat dan bisa menjadi alternatif darurat untuk bermalam. Seperti kata redaktur, saya mesti merasai bagaimana berpuasa ala muslim minoritas di daerah itu. Hanya saja, soal tinggal di rumah salah satu muslim, saya masih belum memikirkannya.

Cahaya mulai menyusut. Dingin nyaris menusuk kulit. Lembang ini cukup dekat dengan perbatasan Enrekang. Suasananya juga begitu sunyi. Tak ada tanda-tanda Ramadan yang saya dapati diantara para penduduk. Wajar, mayoritas memang memeluk agama Nasrani.

Saya mengikuti seorang perempuan kecil yang menenteng ranselnya. Ia nampaknya hendak menuju masjid untuk mengaji. Terlihat cukup jelas dari jilbab yang ia kenakan. Ditambah, saya juga sudah mendapatkan informasi sebelumnya jika di lembang ini anak-anak rutin mengaji saban sore, menjelang waktu berbuka puasa.

Di masjid, saya menemukan beberapa anak lelaki lainnya. Kata salah satu diantaranya, mereka sedang menunggu sang ustaz. Sayangnya, masjid masih tertutup.

"Jadi, bagaimana mi caranya buka? Mauka salat Ashar ini," tanya saya pada mereka.

Meski terlihat sebagai orang asing, mereka tetap berusaha hendak menolong saya. Seperti anak-anak pada umumnya, mereka hanya saling pandang. Menimbang-nimbang dan tentu banyak bertanya di dalam kepala, "Siapa orang ini?" Beruntung, tanah kelahiran saya masih mewariskan sedikit dialek dan bahasanya yang punya banyak kesamaan dengan bahasa Tana Toraja.

"Dimana kuncinya?"

"Dikunci dari dalam," sahut perempuan kecil tadi.

Salah satu diantaranya pun berinisiatif memanjat jendela masjid. Kami membantunya. Kondisi masjid ini sebenarnya masih dalam tahap pembangunan. Kelak, saya baru akan tahu, pembangunan masjid ini sudah berlangsung belasan tahun. Hanya karena minoritas, mereka kesulitan merampungkannya tepat waktu.

Tak ada plafon indah seperti masjid pada umumnya. Dindingnya pun masih belum dihaluskan dengan kapur. Sisa-sisa pasir masih menumpuk di samping masjid. Jika hujan, halaman masjid lebih banyak menyumbangkan lumpur dan tanah becek. Untuk mengambil air wudhu, saya juga harus menggunakan bekas jeriken yang dilubangi sisi bawahnya. Tak ada keran sekali putar.

Padahal, kata beberapa penduduk, masjid ini yang paling besar diantara empat masjid Lembang Marinding. Berdasarkan informasi, menampung jemaah terbanyak diantara komunitas muslim disana.

"Brakk!!" suara barang terjatuh di dalam masjid membuat kami terkejut. Suara itu diikuti oleh geraman, raungan kemarahan dari seorang lelaki tua. Berlanjut uber-uberan yang bikin gaduh suasana petang itu.

"Siapa itu? Kenapai?" tanya saya terkejut, tentu dengan pikiran yang semakin bingung.

Anak-anak itu hanya ikut terdiam, sesekali tak ingin melongok ke dalam masjid. Mereka hanya menyebutkan satu nama, yang nampaknya cukup akrab bagi mereka.

Saya jadi tahu, ada seseorang di dalam masjid. Barangkali seperti marbot yang menjaga masjid. Anak-anak mengenalnya sebagai orang yang cukup ditakuti. Anak laki-laki yang tadi menyusup masuk masjid sampai tak bersuara lagi kena omelan darinya. Atau justru ia menangis sesenggukan karena dipukuli dengan rotan di tangannya karena berani memanjat jendela masjid. Entahlah, saya kasihan pula pada mereka.

"Tabe, saya mau numpang sembahyang," ujar saya dengan melongokkan kepala di jendela, berusaha menyela omelan lelaki tua itu.

Anak-anak di sebelah saya hanya terdiam sembari memandangi satu sama lain. Beberapa diantaranya ada yang melarikan diri bersembunyi.

Lelaki tua ituu masih tetap menggerutu saat membukakan pintu masjid dari pintu sebelah. Anak-anak pun mengajak saya lewat samping. Entah apa yang dikatakan lelaki tua itu dalam bahasa Tana Toraja. Saya tak begitu memahaminya karena dilafalkan dengan nada yang cepat dan kesal.

Usai menunaikan Asar, anak-anak tadi berlarian di dalam masjid. Beberapa diantaranya mengambil sapu dan membersihkan lantai. Sebagian lagi saling kejar-kejaran. Seolah-olah tidak terjadi sesuatu sebelumnya. Saya juga  sudah tidak mendapati lelaki tua di dalam masjid, yang tadi kesal karena dibangunkan. Saya jadi merindukan masa kecil saya bersama teman-teman mengaji.

Masih tersisa dua jam untuk berbuka puasa. Sementara anak-anak itu juga belum mengaji. Kata mereka, ustaznya belum datang. Satu dari dua ustaznya juga absen karena orang tuanya meninggal di kampungnya.

Saya berbincang saja dengan anak-anak itu di dalam masjid. Bertanya banyak hal tentang orang berpuasa di lembang. Karena bahasa yang masih agak asing, terbata-bata dan malu-malu saja mereka menjawabnya.

"Jadi, kalian kenal Pak Dahlan?"

Sebagian anak-anak itu memanggilnya dengan nama anak pertamanya. Apalagi, nama itu juga dikenal diantara muslim disana karena pernah menjadi kepala lembang (kepala desa) selama belasan tahun. Dia pula yang punya inisiatif membangunkan masjid untuk orang-orang di daerah minoritas ini.

Sejak awal, saya memang berputar-putar mencari nama itu. Paling tidak, bisa menjadi benang merah pertama saya untuk menyambungkan segala kisah puasa di lembang ini. Saya juga beberapa kali menanyakan nama itu kepada penduduk saat melintasi jalan-jalan lembang. Hanya saja, karena masih belum banyak mengerti jalan, saya hanya berusaha "seolah-olah" mengerti dengan jawaban para penduduk.

"Siapa tahu rumahnya. Antarka kesana," ujar saya lagi.

Anak-anak itu saling menunjuk satu sama lain. Salah satunya, menimbang-nimbang karena menganggap saya sebagai orang asing. Lelaki tak dikenal. Ditambah, kata mereka, rumahnya kini tak lagi berada di lembang. Tak bisa ditempuh sekadar jalan kaki.

"Adaji motorku. Nanti sama-sama lagi pulang kesini. Tidak kuculikji,"

Masih belum ada yang menyetujui. Mereka masih saling lempar pandangan.

"Oke pale. Bagaimana kalau nanti kukasih uang?" saya masih ingat mengantongi uang kembalian Rp5 ribu di saku celana.


Anak-anak Lembang Marinding yang masih berusaha mempertahankan imannya. (Imam Rahmanto)


...bersambung


--Imam Rahmanto--

Jumat, 07 Juli 2017

Tegar Luka

Juli 07, 2017
"Kak, lantas, bagaimana dengan soal yang ini? Ajari ka dulu," ujar seorang gadis manis, yang lebih sering memasang wajah cemberutnya.

Pelajaran saya sebenarnya telah berakhir. Bel pertanda jam istirahat juga sudah bergema sejak tadi. Akan tetapi, perempuan kecil itu malah memburu-buru saya untuk bertanya lebih banyak tentang Matematika. Antusias pula saya dibuatnya.

Meski begitu, perempuan mungil itu termasuk yang paling jarang tertawa. Untuk orang yang baru mengenalnya, seperti kami para anak-anak KKN-PPL, ia cenderung nampak terkesan cuek. Wajahnya lebih sering memasang tampang cemberut. 

"Bagus kalau kau banyak-banyak senyum saja, Nisa. Lebih manis loh," saran saya suatu ketika. 

Bagi para pendidik, murid-murid yang paling mudah dikenali biasanya berasal dari mereka yang paling antusias belajar atau yang paling malas belajar. Sementara Nisa, bagi saya, adalah kategori pertama. Entahlah bagi teman-teman KKN yang mengampu mata pelajaran lain.

Kelak, saya tahu, antusiasme semacam itu tak pernah sia-sia. Ia mewarisi jurusan dan program studi yang pernah saya geluti di kampus, tepat setahun silam.

(Foto: Imam Rahmanto)

***

Siang itu, saya mendapatkan kabar dari grup Whatsapp kantor, seperti rutinitas biasanya. Bedanya, teman-teman sudah mulai ribut terkait kejadian perahu tenggelam di Pangkep. Redaktur kantor sudah mulai memberikan pengarahan untuk kepentingan naskah esok hari. 

Saya tak menanggapinya. Toh, itu tidak termasuk dalam lingkup penugasan saya di daerah ini. Ditambah, sejak beberapa hari lalu, kasus bersambung "bayi ajaib" sudah bikin kepala berputar-putar. Saya diminta untuk tetap mengawalnya hingga tuntas, bak detektif. Teman pewarta yang berada di lokasi dibiarkan fokus dengan penugasannya itu. Kami sudah punya jobdesc masing-masing untuk dirampungkan.

Saya baru dibuat tersentak usai merampungkan deadline, lepas Isya. Seorang teman, yang dulu menjadi murid semasa KKN, menyambungkan percakapan via Line. Saya sempat bertanya di dalam grup kelasnya, karena tiba-tiba kembali ramai dengan bunyi notifikasi. 

"Begine, Kak Imam....." meluncurlah semua informasi duka darinya.

Apa yang sedang diributkan anak-anak kelas Aljabar SMAN 2 Pangkep. Mengapa tak ada suara dari orang yang diributkan itu. Otak saya langsung menghubungkannya dengan salah satu kejadian yang sempat menjadi pantauan mendadak grup kantor. Astaga.




***

Saya mencoba meraba-raba kejadian itu. Mengambil separuh memori sembari mencoba tetap menjejalkan jemari pada kolom pencarian dunia maya. Saya memastikan kejadian itu, yang benar-benar terjadi beberapa jam sebelumnya.

Sebuah video amatir yang sempat diperlihatkan teman sekelasnya ikut menyayat-nyayat perasaan. Saya masih teramat mengenali wajah Nisa. Matanya sembap habis dibasuh air mata. Pikirannya masih kalut. Mulutnya tak mampu berkata apa-apa. Suaranya di balik sorot kamera, memanggil-manggil sang ibu, sempat membuat bulu kuduk saya meremang. Diantaranya, korban lain sementara ditolong masyarakat setempat.

Padahal, percakapan kami di salah satu media sosial miliknya belum genap sebulan. Bagaimana cerita-cerita tentang kampus barunya, yang sudah tak menjadi kampus saya lagi. Tak terkecuali, tentang janji-janji yang urung saya tepati saat masih bertugas di Makassar. 

Tak ada yang pernah menyangka, kematian datang begitu cepat tanpa pernah diminta-minta. Begitu pun dengan dirinya. Kehilangan orang terdekat, tentu memukul telak kesadarannya sebagai manusia biasa. Tak hanya satu. Tuhan tak sungkan memanggil sekaligus tiga anggota keluarganya. Hanya menyisakan dirinya dan sang ayah.

Kehilangan satu orang terdekat saja, bagi saya, sudah sangat menguras harapan. Saya sudah begitu sering melihat teman-teman yang terjerembab dalam kesedihan semacam itu. Tak jarang, mereka yang merasakan kehilangan begitu mendalam, mengantarkan dirinya dalam penyesalan tak berujung. Berhari-hari menyalahkan diri sendiri. Membekapnya hingga ke alam bawah sadar.

Saya selalu terngiang kata-kata seorang teman, "Ada beberapa hal (kesedihan) yang sudah membuat kita tidak lagi sesak jika sudah mengalaminya berkali-kali. Tetapi, tidak dengan kematian. Tidak sama sekali."

Karena pada dasarnya, kematian adalah hal istimewa. Tak ada yang mampu menghitung-hitungnya dalam peluang eksakta. Kematian itu semacam rahasia yang sudah disimpan rapat-rapat oleh Tuhan di atas singgasana. Berdampingan dengan kelahiran. Termasuk jodoh dan rejeki.

Setelah berkali-kali diterpa musibah, kita barangkali bisa kembali menyunggingkan senyum. Menjalani kehidupan seperti biasa. Tetapi, dari dasar hati, kepingan lain ikut hancur dan terpendam. Jika tenggelam, bisa saja tak kembali lagi. 

Sejujurnya, saya belum pernah merasai langsung kehilangan orang-orang terdekat. Hanya saja, bagian-bagian tertentu justru menyambungkan kehidupan saya dengan orang-orang yang kehilangan itu. Salah satu puzzle kehidupan saya saat ini dibentuk dari potongan pengalaman di masa silam. Apakah saya bisa apatis saja melihat salah satu bagian itu terpuruk dalam kesedihan besarnya?

"Kekuatan paling dahsyat yang dimiliki kematian bukanlah karena kematian bisa membuat seseorang mati, melainkan karena itu bisa membuat orang-orang yang ditinggalkan ingin berhenti hidup." [My Grandmother Asked Me to Tell You She's Sorry, by Fredrick Backman]

Tak hanya Nisa. Semua teman kelasnya, Aljabar (termasuk Einstein) merupakan orang berharga bagi saya. Kami pernah tertawa bersama-sama. Melucu hal-hal tak penting. Bersekongkol dalam kelas. Meledek satu sama lain. Memaafkan. Hingga, barangkali, kini saatnya kami menangis bersama-sama.

Kehilangan memang selalu terasa menyakitkan. Selalu. Tak ada yang menyenangkan dari rasa kehilangan itu sendiri. Kita tak pernah bisa tertawa atas hal-hal baik (yang disayangi) yang direnggut tanpa aba-aba dari kehidupan kita. Hati yang berduka tak pernah luput dari menyisakan luka. 

"Menangislah, bila harus menangis. Karena kita semua manusia,"

"Manusia bisa terluka. Manusia pasti menangis. Dan manusia pun bisa mengambil hikmah,"*

Saya hanya berharap, perempuan kecil itu tak larut dalam kesedihannya. Bukan hal mudah menampung kesedihan karena kehilangan banyak orang terdekat sekaligus. Entah sejauh mana kekuatannya menghadapi tragedi yang terjadi di depan mata sendiri. Semoga Tuhan selalu menopangnya. 

Tetapi saya yakin, Tuhan tak pernah menyisakan duka bagi manusia hanya untuk terus meratap dan menatap kosong ke arah masa lalu. Satu-satunya sumber kekuatan terdekat kini ada di pundak ayahnya. Kehidupan masih harus berjalan. Pun, teman-teman yang terus menitipkan rangkul dan senyum menguatkan untuknya. 

Dirinya, masihlah gadis kecil yang harus tetap tersenyum, menanggalkan luka...  



--Imam Rahmanto--


----------
*) Air Mata, song from Dewa 19 

Senin, 03 Juli 2017

Gempar dan Gempur

Juli 03, 2017
(Foto: Imam Rahmanto)

Beberapa hari terakhir, kota kami sedang geger. Tak biasanya. Masyarakat digemparkaan dengan fenomena "bayi ajaib" yang lahir di sebuah dusun, pinggiran kota Enrekang. Kabarnya, bayi itu lahir dari seorang gadis manis yang belum menikah. Anehnya, sang bayi bisa berbicara lantaran mengucap salam.

Akh, saya lelah jika harus mengulang-ulang ceritanya. Seperti lelahnya ayah sang gadis saat menceritakan "dongeng" itu kepada para tamu yang tumpah-ruah menyambangi rumahnya. 

Cukup ketikka saja kata kunci seperti "bayi ajaib Enrekang" atau "Penja Enrekang", kalian sudah bisa menjumpai berbagai versi berita, yang muaranya cuma satu kejadian.

"Ini yang paling bikin pusing," kata bapak polisi, yang menangani kasus ini.

Saya pun merasakan demikian. Bedanya, sebagai pewarta, saya justru harus berpacu data dengan pihak kepolisian. Diam-diam, saya meletakkan pihak kepolisian sebagai rival. Saya belajar bagaimana mengejar sumber-sumber untuk kepentingan bahan berita. Jika hanya menunggu dari keterangan pihak kepolisian, tak ada yang istimewa. Yah, tidak seru juga.

Apalagi, tugas sebagai pewarta seyogyanya menjadi corong untuk membelajarkan masyarakat. Kami tak boleh ikut "membodoh-bodohi" dengan cerita tahayul itu. Sebagaimana tugas dasarnya, mengungkap kebenaran. Nah, kebenaran dari cerita-cerita ini yang mesti dituntaskan.

Bagaimana tidak, cerita "aneh" itu sebenarnya bisa dibuktikan secara ilmiah. Segala data yang dikeluarkan tim medis sudah cukup membuktikan bahwa tak ada hal-hal mistik dalam proses kemunculan sang bayi. Ibunya juga hanya seorang gadis biasa, yang tak elok dikait-kaitkan dengan kesucian seorang Maryam, ibunda dari Nabis Isa (atau Yesus bagi umat Kristiani).

Saya justru ingin tertawa saja mengalami berbagai kejadian menarik dalam rentang pengumpulan bahan berita itu. 

Tantangan lucu justru datang dari sifat tertutup keluarga bersangkutan. Kami tak bisa bergerak bebas, tentunya. Bahkan, pihak kepolisian juga sangat menjaga jarak karena pertahanan pihak keluarga.

Jadilah keterangan-keterangan tambahan kami kumpulkan dari lingkaran sekitar keluarga. Ditambah, berlagak (sok) sembunyi-sembunyi mendatangi lingkungan rumahnya. Nongkrong. Bertanya ini-itu, seolah ingin menyambangi keluarga bersangkutan. Menggali informasi. 

"Kami sudah kumpulkan data-data terkait bukti medisnya. Bahwa sebenarnya dia lahir normal. Tapi, tak perlu kami jabarkkan. Biarkan itu jadi rahasia kami (polisi)," saya tahu, hanya kumpulan-kumpulan informasi usang seperti ini jika mengharapkan keterangan pihak berwajib.

Padahal, data-data semacam itu sendiri sudah lama saya kumpulkan dari tim medis bersangkutan. Selangkah lebih maju, menn. Yah, bukan kebetulan, kami berteman baik dengan pimpinan tim medisnya. Mudah saja bagi kami menyusup dan menyusun skenario agar tak ketahuan mendapat limpahan data-data itu. Berkomplot sedikit, "teman" kami tak kan bilang kalau kami sudah memegang data yang sama.

Dari data-data yang ada, tentu hasilnya bercabang dan membawa kami pada beberapa nama. Apa seperti ini ya rasanya penyelidikan polisi?? Telusuri saja satu-satu, dengan harapan keterkaitan akan membawa pada perkara keberuntungan berikutnya. 

"Iya, dia temanku. Pernah dulu...." saksi-saki mulai berbagi informasi.

"Saya juga prihatin. Mau sekali tahu siapa di balik semua...." ujar yang lain, menjadi jalinan informasi yang disatukan.

Lucu saja mengingat tingkah kami yang seolah-olah seperti intel kepolisian. Ngalah-ngalahi malah. Mencoba berbagai kemungkinan jawaban. Mendorong peluang lain. Memilin data mentah. Menjahit informasi-informasi akurat. Hingga berusaha menyimpulkan lebih dulu dari pihak berwajib. Saya pun terpaksa belajar beberapa istilah hukum. 

Sayang, cerita ini masih melayang tanpa ending. Petunjuknya memang mengerucut. Akan tetapi, eksekusinya tetap jatuh pada pihak kepolisian. 

Bagi saya, keunikan fenomena ini bukan lagi pada "ajaib-ajaib"nya si bayi atau keluarga. Saya malah lebih tertarik memecahkan masalah ini dan menemui titik terang bahwa ada laki-laki yang bertanggung jawab terhadap kelahiran bayi. Kalau kata teman saya, siapa bapak dari si bayi.

"Dia sudah bisa mulai keluar kamar. Sudah mau mengobrol," ujar salah seorang teman kami, menceritakan kunjungannya yang bertemu ibu si bayi. 

Kok, saya serasa jadi detektif, ya? 

"Ya, paling tidak, kita (yang bertugas di daerah) belajar sedikit investigasi. Jarang-jarang ada kejadian begini. Biar skalanya kecil, kan bisa buat nambah-nambah skill," kata teman. 

Tak ketinggalan, kejadian lainnya: hide and seek dengan salah seorang pejabat yang baru-baru ini ditetapkan sebagai tersangka proyek pembangunan. Kontaknya mati. Rumahnya tertutup, padahal mobil dinasnya jelas-jelas ada. Kontak satunya dialihkan, ternyata nyambung saat dihubungi dari nomor penting.

"Jadi, bagaimana tanggapan ta terkait penetapan tersangka ta hari ini?" 

Duh, saya menyesal sudah meninggalkan ratusan chapter dari manga Detective Conan... Kan, bisa belajar dari sana!


--Imam Rahmanto--