Selasa, 06 Juni 2017

Strata Hidup

"Kamu alumni apa lagi?"

"Alumni UNM, Pak,"

"Jurusan apa?"

"Matematika,"

Dia berpikir sejenak seakan menimbang-nimbang sesuatu. Lelaki tua itu baru saja usai mengulas kenangan tentang saya. Bertanya kabar orang tua, yang tak lagi di Enrekang. Bertanya kondisinya, yang memang sudah tak bisa berubah. Tak terkecuali bertanya tentang saya, yang memang pernah seangkatan dengan anaknya di Sekolah Dasar. Sampai-sampai memastikan ranking saya, dari SD hingga lepas SMA. 

"Tidak adakah pendidikan S2 di Parepare?" lanjutnya lagi. 

Saya tahu arah pembicaraan orang nomor satu Kabupaten Enrekang itu. Ia pun tak segan berbincang dengan saya diantara sela-sela berbuka puasa bersama pimpinan dinas lainnya dalam rombongan safari tersebut. Kami hanya dipisahkan udara kosong, sambil menanti waktu shalat tarawih.

"Waduh, kurang tahu juga kalau itu, aji," karena saya juga tak pernah mencari tahu. 

"Walaupun ada, saya sebenarnya sudah tidak begitu tertarik lagi untuk melanjutkan pendidikan, aji." Saya memotong saja kelanjutan pembicaraan lelaki beranak empat itu. Karena, toh, saya memang sudah sejak lama kukuh tak ingin lagi mengenyam pendidikan teori di bangku formal. 

"Kamu memang tidak tertarik jadi dosen?"

"Tidak, aji. Saya tipe orang yang tidak suka bekerja di dalam ruangan. Saya adalah orang-orang lapangan (petualang)," tegas saya terang-terangan.

Sementara dalam hati, sebenarnya saya ingin mengatakan lebih jelas, "Saya jemu dengan sekolah formal, duduk di dalam kelas, mengerjakan tugas, menulis teori-teori yang bakal jadi hafalan, dan menghabiskan sisa hidup saya untuk hal-hal yang tidak saya inginkan. Saya sudah pernah merasakan 'lurusnya' kehidupan semacam itu di masa remaja,"

Saya tersenyum padanya. Sebenar-benar senyuman orang yang telah memenangkan pergulatan tujuan hidupnya. Barangkali.

***

(Imam Rahmanto)

Saya sebenarnya agak bosan ketika orang-orang bertanya tentang korelasi pekerjaan dan latar belakang pendidikan saya, yang merupakan jebolan keguruan. Jika lurus-lurus saja mengikuti alur, seharusnya saya bermuara pada pekerjaan di depan papan tulis, di hadapan anak-anak yang ingin menimba ilmu.

Saban pagi, tak ada yang namanya telat bangun pagi. Pakaian dinas diseterika rapi, dengan rambut yang tersisir cukup klimis. Silabus sudah tercokok rapi di dalam tas saya. Absensi jadi hal yang wajib untuk mengecek nama-nama murid kesayangan. Lembaran itu sekaligus sebagai penanda anak-anak paling bandel.

Saya akan tersenyum kepada setiap murid yang menyapa, entah karena segan atau karena bersahabat. Sebutan "Pak" akan datang lebih awal dibanding usia saya yang belum waktunya beristri. Tetapi, tenang saja, saya lebih suka meminta mereka untuk memanggil saya dengan sapaan "Kak" ketimbang "Pak". Saya tak ingin sapaan itu menjelma doa tanpa sadar dan mendarat lebih cepat di tangan Tuhan.

Atau...

Seperti teman-teman yang lain, saya akan memburu berbagai macam beasiswa untuk lanjut ke tingkat lebih tinggi. Lebih bergengsi jika bisa mendarat di luar tanah nusantara. Jiwa petualang saya masih harus bergelora meski saya harus ditekan berbagai teori tugas dan laporan. Tentu saja, muaranya bertahun-tahun yang akan datang, saya tetap duduk di hadapan para penimba ilmu, walau dalam kasta yang lebih tinggi.

Jika lebih beruntung, saya akan menjadi aparatur sipil negara yang begitu diidam-idamkan oleh hampir semua orang tua di belahan nusantara ini. Bergaji aduhai dengan tunjangan macam-macam. Ya, ujung-ujungnya tetap harus berhadapan dengan tugas di depan meja dalam ruangan berpendingin. Pakaian rapi dan rambut tetap klimis lah.

Sayangnya, semua sirna karena keinginan "egois" saya untuk mengambil alih kemudi. Di tengah jalan, saya berubah haluan. Tujuan pun berubah, namun tetap berpacu pada keinginan yang telah lama disembunyikan.

Saya pernah iseng berbagi keresahan dengan seorang teman, yang baru saja menyelesaikan gelar magisternya. Ia sedang mencari-cari pekerjaan untuk digeluti. Tentu saja, harus yang sesuai dengan gelar yang susah-payah diraihnya hampir empat tahun.

"Ya pastinya saya pikir-pikir kalau mau bekerja di luar gelar kependidikan ini, termasuk kalau cuma mau jadi guru sekolah. Kan minimal dosen kalau lulusan S2,"

"Sekarang saja saya sudah pusing. Ini juga na sudah kayak terbebani dengan gelar seperti ini. Pastinya jadi pembicaraan (masyarakat) kalau saya kerja sembarang," ujarnya sambil tertawa.

Tak bisa dipungkiri, strata kependidikan memang agak berpengaruh dalam lingkungan masyarakat. Hal itu turut menjadi beban di pundak siapa saja yang mencicipinya. Apalagi jika kita suka membuka lebar-lebar telinga atas pendapat orang lain. Apa yang diinginkan orang lain, kita manut. Sementara bisikan hati, tak pernah terdengar cukup jelas untuk bisa menggerakkan akal sehat mengubah haluan.

Hanya saja, saya selalu meyakini, strata pendidikan tak pernah menjadi jaminan strata kehidupan yang dijalani. Selama kita bisa menjalani kehidupan yang benar-benar diinginkan, itu sudah membahagiakan. Jauh melegakan.

Kadar sukses tiap orang sebenarnya juga selalu berbeda-beda. Meski patokan umumnya adalah soal harta dan takhta, setiap orang berhak menentukan keinginan tanpa perlu berpikir keras soal kebutuhan. Bagi saya, "memperoleh apa yang diinginkan" jauh lebih bermakna sukses ketimbang "memperoleh apa yang jadi penilaian orang lain." Hidup tentu bakal bernilai combo jika bisa memperoleh kedua-duanya.

Meski begitu, saya tetap meyakini, setiap orang punya pilihan masing-masing. Tugas selanjutnya hanya untuk mempertahankan pilihan itu.

Kamu, siapa saja, selalu punya hak berbahagia dengan jalan yang kamu pastikan sendiri...

“Apa yang orang bilang realistis, belum tentu sama dengan apa yang kita pikirin. Ujung-ujungnya kita juga tahu kok, mana yang diri kita sebenernya, mana yang bukan diri kita. Dan kita juga tahu apa yang pengen kita jalani." [Keenan in Perahu Kertas, by Dewi Lestari]

Semakin banyak saja berjalan, menatap luas dan leluasanya langit biru. (Imam Rahmanto)



--Imam Rahmanto-- 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar