Selasa, 27 Juni 2017

Siapakah Tuhan?

Selamat lebaran. (Imam Rahmanto)

Beruntung sekali, saya membawa bahan bacaan untuk menghabiskan waktu di tengah-tengah momen Idulfitri. Berbekal dua novel, saya melakukan perjalanan pulang ke kampung halaman. Salah satunya, yang menurut saya keren; Semua Ikan di Langit.

Ini buku ketiga dari sekian novel karya Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie yang saya baca. Entah kenapa, saya tertarik membaca karya-karya Ziggy yang selalu unik dibanding yang lain. Di luar namanya yang sulit diucapkan.

Saking uniknya, saya selalu dibuat penasaran. Apalagi dengan label novelnya yang tak jarang menyabet gelar pemenang dari Dewan Kesenian Jakarta (DKJ). Tak diragukan lagi, Indonesia juga menyimpan banyak talent-talent novelis yang kece-kece.

Semua Ikan di Langit.

Seperti judulnya, kita akan dibawa pada cerita yang begitu imajinatif. Saya menganggapnya lebih ke cerita absurd. Bisa juga abstrak. Mana ada ikan terbang di langit? Ditambah dengan sampul unik bergambar bus yang terbang bersama seorang anak kecil berjubah. Ini benar-benar cerita yang menggoda nalar saya.

Ternyata, isinya memang menceritakan tentang si anak kecil berjubah yang dipanggil “Beliau” oleh si Bus Kota. Beliau selalu ditemani oleh banyak ikan julung-julung, yang kadang bercahaya, kadang mengundang kegelapan dan hujan air mata. Mereka melakukan perjalanan ke angkasa, hingga melintasi dimensi waktu. Bertemu berbagai macam makhluk dan kejadian.

“Kebahagiaan Beliau melahirkan bintang. Kesedihan Beliau membunuh keajaiban. Kemarahan beliau berakibat fatal.” [hal. 62]

Bus adalah kendaraan biasa-biasa yang punya trayek sebagaimana angkutan umum lainnya di Bumi. Bersama Beliau, ia diajak untuk mengelilingi dunia, galaksi, dan waktu. Bus sebenarnya mampu membaca pikiran makhluk lewat kaki-kaki yang menjejak di lantainya. Sayangnya, tidak demikian dengan anak kecil berjubah kebesaran itu. Beliau bergerak dengan cara melayang. Beliau juga tak pernah berkomunikasi dengan siapa pun langsung dari mulutnya.

Bus terpaksa menjahit pengetahuan tentang Beliau lewat perjalanan-perjalanan lintas dimensi. Begitulah cara Bus mengenal Beliau. Ia sempat dibantu pula dengan penjelasan tambahan oleh kecoa pintar dari Rusia bernama Nadezha.

Keduanya mengikuti perjalanan Beliau dan ikan-ikannya. Hingga Bus tahu bahwa ia begitu menyayangi Beliau dengan caranya sendiri. Sementara Nad, juga disayangi dengan cara berbeda.

Saya pernah membaca novel serupa “Semua Ikan di Langit” ini. Bisa dibilang, cara penyampaian pelajaran hidupnya tak jauh berbeda dengan The Alchemist karya Paulo Coelho. Kejadian-kejadian yang ditemui Bus dan Beliau dalam perjalanannya merepresentasikan kehidupan nyata. Meski sekadar cerita, pembaca diminta untuk benar-benar membuka mata dan banyak belajar.

"Orang zaman sekarang. Kalau tidak percaya pada hal yang sama dengan mereka, kau setan. Tidak bboleh berpikir sama sekali, sepertinya. Padahal kan kita disuruh sering-sering berpikir, benar tidak? [hal. 119]

Beliau nampak sebagai representasi dari Tuhan alam semesta. Bagaimana tidak, hampir semua sifat-sifat Tuhan dijelaskan sekaligus digambarkan dalam perjalanannya mengarungi dimensi ruang dan waktu.

Penjabarannya juga tak mentok pada konsep satu agama tertentu. Tokoh di dalamnya tak jarang mengambil referensi dari mitos dan kepercayaan dari agama lain.

“….Memang agak membingungkan, persoalan nama Beliau ini, hm, hm… Beliau tidak punya nama, tapi punya banyak nama, hm,” Kata Chinar dengan nada menenangkan. “Panggil saja dengan sebutan yang Anda sukai, hm. Beliau tidak pernah marah kalau hanya soal nama, hm. Dan, jangan takut hanya karena ada banyak yang tidak ketahui tentang Beliau. Seseorang tetap bisa mencintai orang lain yang bahkan tidak dia ketahui namanya, hm.” [hal. 134-135]

“Tidak ada yang pertama, dan tidak ada yang terakhir, selain Beliau,” [hal. 158]

Beberapa segmen cerita mengajak saya untuk mengingat-ingat kembali kisah Nabi dan Rasul. Kisah lainnya barangkali mengambil referensi dari Kitab Suci. Jika dikaitkan, kisah-kisah tersebut punya kesamaan. Hanya cara bercerita dan sisipannya saja yang diceritakan ulang oleh Ziggy, lebih unik dan penuh semiotika.

Di tengah maraknya kasus-kasus yang menyangkutpautkan persoalan agama di Indonesia, buku ini mengajari kita bahwa tujuan hidup semua makhluk itu sama: mengharap ridha dan cinta-Nya. Hanya cara atau jalan menuju kesana saja yang berbeda-beda. Kalau kita lebih menyelaminya, kita seharusnya menyadari dan tak merasa benar sendiri. Perspektif selalu dilihat dari berbagai sudut pandang.

“Bukan pengetahuan tentang Beliau yang paling utama, bus yang baik, hm… Hal yang terpenting adalah mencintai Beliau, hm! Kalau Anda mencintainya, cara menunjukkanya tidak akan terlalu penting bagi Beliau.” [hal. 133]

Sayangnya, saya masih dibelenggu rasa penasaran. Saya ingin mengetahui penggambaran-penggambaran perjalanan itu lebih tepat. Bukan sekadar “membenarkan” tebakan saya.
Saya malah berharap ada epilog atau semacam penutup yang membawa pada pemahaman mengenai isi cerita. Atau kalau tidak, berdiskusi langsung dengan penulisnya, bolehlah… ^^

Mengisi waktu kosong, di desa yang sunyi. (Imam Rahmanto)

***

Saya telanjur tertarik semenjak melihat buku anyar ini berkeliaran di linimassa media sosial, twitter. Cover adalah hal nomor dua yang membuat saya tertarik. Penulisnya lah yang membuat saya lebih penasaran.

Kesempatan memboyong buku ini juga baru kesampaian saat saya berjalan-jalan di Gramedia Matraman – yang kata teman saya disana sebagai Gramed terbesar di Jakarta.

Kala itu, saya sekaligus mengakhiri puasa belanja buku selama beberapa bulan. Akan tetapi, rasa penasaran baru terbayar lunas dalam perjalanan mudik lebaran; setengah di atas pesawat, setengahnya lagi bersantai menunggui tamu di kampung halaman.

“Bacaan-bacaannya Imam sekarang kok yang agak melankolis begitu ya? Semisal Fahd begitu,” kata salah seorang teman, saat kami menghabiskan malam di Kota tua Jakarta. Ah ya, bagian keren satu ini juga belum saya ceritakan.

Bukan. Bukan. Saya perlu meralatnya. Buku yang kini menjadi buruan saya lebih mengacu pada tema lokal Indonesia. Sebenarnya, buku-buku penulis luar negeri juga masih tetap berjajar dengan gagahnya di koleksi saya. Sebut saja Haruki Murakami, JK. Rowling, Agatha Christie, hingga Ernest Hemmingway. Saya hanya berusaha agar bacaan lebih variatif.

Biasanya, membaca buku-buku terjemahan luar negeri memaksa kepala saya berpikir agak keras. Ketimbang novel mancanegara, karya-karya penulis dalam negeri masih bisa saya bayangkan lebih gamblang di kepala saya. Latar dan alur kejadiannya tidak jauh beda dengan pengalaman sehari-hari. Tidak bikin mumet. Sederhana. Mohon maaf selapang-lapangnya....

"Orang-orang yang percaya bahwa ia bisa menemukkan penjelasan di balik keajaiban mungkin tidak percaya ‘keajaiban’ itu ada sama sekali.” [hal. 162]



--Imam Rahmanto--

Tidak ada komentar:

Posting Komentar