Kamis, 15 Juni 2017

Modal Nekat

Menjalani puasa itu butuh perjuangan. Apalagi kalau puasanya harus dijalani di daerah mayoritas non-muslim, seperti di Toraja.

Baru-baru ini, saya merasai bagaimana kehidupan Ramadan di salah satu desa Kabupaten Tana Toraja (Tator). 

"Kamu yang liput kesana ya? Soalnya bisa lebih mendalami kalau sesama muslim," pesan redaktur yang tiba hampir dua minggu lalu.

Saya tahu, salah satu pewarta media kami yang bertugas di Tana Toraja menganut agama Nasrani. Jadi, agak salah kaprah jika ia harus diterjunkan merangkum aktivitas muslim di tanah minoritas itu. Apalagi, permintaan redaktur, saya setidaknya harus ikut menjajal bagaimana berpuasa disana. Baik dari sahur, hingga waktu berbuka.

Saya baru bisa menuntaskan perjalanan religi itu, beberapa hari yang lalu. Sejak memasuki Ramadan, saya selalu menunda-nundanya dengan berbagai alasan. Ditambah, deadline-nya juga tak begitu mendesak. Saya jadi punya beribu-ribu alasan untuk tetap berada di Enrekang. Akh, sifat menunda-nunda itu adalah kebiasaan paling buruk yang melekat pada saya. 

"Cari perkampungan yang umat muslimnya minoritas. Supaya tidak terlalu susah, cari yang bagian perbatasan saja," usul redaktur.

Lantas, desa seperti apa yang mesti saya kunjungi?

Seumur hidup, saya belum pernah menjelajah ke Tator. Secara hitungan matematis, saya baru dua atau tiga kali kesana. Meskipun masa remaja saya dihabiskan di kabupaten tetangganya, Enrekang, saya tak pernah bisa menikmati aroma-aroma budaya masa lalunya. Bahkan, di masa-masa SMA, saya punya banyak teman yang tinggal di area perbatasan Tator, yakni Salubarani.

Banyak saran yang saya himpun dari teman maupun kenalan. Tak lupa, googling juga berperan penting. Bisa dibilang, waktu seminggu menjadi ajang kontemplasi bagi kepala saya untuk mencari ide. Stalking, stalking, dan stalking melalui Google. Tapi, maaf, bukan untuk stalking mantan. 

"Coba Uluwai. Disana ada banyak orang muslim. Bahkan jarak masjid dan gereja biasanya tak cukup jauh," ujar Bunda, saat saya mengunjunginya di rumah. 

Selain melepas rindu, kami berbincang cukup banyak. Kata Bunda, ia baru saja menemani murid-muridnya berkunjung ke tempat itu. Beberapa foto tak lupa dipamerkan lewat gawainya. Anak angkat Bunda juga sempat mengusulkan dan bercerita tentang Uluwai itu. Yah, nama desa itu juga cukup akrab di telinga saya.

Tanpa perlu berpikir lama lagi, keesokan paginya saya memacu gas ke arah desa tersebut. Saya puya cukup petunjuk untuk lokasi desa tersebut. Ohya, hidup di daerah membuat saya belajar untuk lebih banyak berinteraksi dengan orang lain. Tak terkecuali dengan modal bertanya, dengan mengesampingkan kecanggihan GPS.

Tak sulit mencari lokasi suatu desa di daerah tanpa keramaian. Kecenderungannya sama, yakni masyarakat sangat paham dengan kehidupannya karena tak digelayuti oleh kecanggihan modernisasi GPS dan semacamnya. Cukup bertanya dengan sopan, mereka bisa langsung menjadi kompas di tengah rimba jalan berbeton. Intinya, hidup di perkampungan itu lebih butuh banyak sosialisasi dan face to face. 

Alhasil, saya tetap menemukan perkampungan Lembang Uluwai itu. *Catatan, desa di Toraja disebut dengan nama lembang. Suasananya lumayan dingin karena berada di dataran tinggi. Pohon pinus juga nampah tumbuh subur dimana-mana. Sepanjang jalan, bahkan saya bisa menemukan potongan-potongan batang pinus yang tergeletak dan belum diangkut empunya.

Sayangnya, perjalanan saya itu bukanlah kisah singkat yang bakal usai dalam sekali kunjungan. Karena kenyataannya, Uluwai tak seperti yang saya harapkan. Jumlah umat muslim justru jauh lebih dominan disana, meski Kepala Lembangnya merupakan umat Nasrani.

"Yah, tak ada berbeda dalam kehidupan kami disini. Justru kami tetap hidup berdampingan dengan toleransi yang tinggi," ucap Kepala Lembang.

Ternyata, saya masih butuh memacu kendaraan ke arah yang lebih jauh. Jauh, jauh, dan jauh dari jangkauan dunia maya.

Sejak awal, saya sebenarnya telah mengantongi satu alternatif lembang lainnya, yakni Marinding. Dari informasi dunia maya, desa itu cukup populer. Apakah hasilnya seperti Uluwai atau tidak, tak ada salahnya mencoba. Saya sudah sejauh ini. Jika gagal menjelang maghrib, saya pun sudah menyimpan planning Z; mampir di masjid jalan poros dan bermalam selayaknya musafir disana.

Kita akan lebih banyak menjumpai pagi seperti ini di desa-desa, tak terkecuali Lembang Marinding. (Imam Rahmanto) 

...bersambung


--Imam Rahmanto--

Tidak ada komentar:

Posting Komentar