Rabu, 28 Juni 2017

Sepanjang Tembang Kenangan

Juni 28, 2017
“Tidak ada lagune Eddy Silitonga, Im?”

Beberapa lagu lawas atau tembang kenangan sedang mengalun lembut dari notebook di hadapan saya. Televisi sudah dimatikan sedari tadi. Bapak yang masih terjaga di pembaringan tergoda lagu-lagu yang nampak pernah menjadi teman masa mudanya.

“Lagu-lagunya The Muppet dulu yang paling terkenal seperti Teluk Bayur. Tapi, kan The Muppet itu lagu-lagunya penyanyi yang diubah suara khas kayak anak kecil,” tutur bapak, beberapa menit sebelum meniti nama-nama penyanyi andalannya.

Senyap memang lebih cepat menyergap seisi desa Keting. Sebagian besar penduduk di desa kami lebih cepat memeluk guling ketimbang wara-wiri di bawah lampu jalan. Nuansa silaturahmi antar keluarga besar juga sudah mulai berkurang selepas Idulfitri kemarin.

Tak cukup hiburan di desa kecil pinggiran Bengawan Solo ini. Televisi sekali pun tak cukup menghibur bagi orang-orang tua yang hanya paham berbahasa Jawa. Film lokal “ulangan” yang menampilkan Mak Lampir hanya ditonton seadanya dengan gerakan-gerakan silat terbangnya.

Dibanding menonton tivi, saya memilih untuk berkutat dengan isi notebook. Mengutak-atik foto yang baru saja dikumpulkan dari kunjungan kerabat, sehari lalu.

“Lagunya The Muppet dulu hampir semua orang punya. Masih jaman-jaman kaset tape recorder. Dulu kan di rumah ada tape yang besar itu,” kenang bapak, saat masih berdomisili di Enrekang.

(Sumber: smoothradio.com)

Saya ingat, bapak punya banyak koleksi lagu-lagu populer di masanya. Kasetnya ditumpuk di pinggir radio tape. Album lagu The Muppet bergambar boneka-boneka lucu dengan dominasi warna kuning. Gambar album itu yang paling lekatdi kepala saya yang masih kanak-kanak.

Di masa itu, bapak suka memutar lagu untuk menjemput lelapnya. Saya yang masih tidur dikeloni bapak dan mamak ikut menjahitnya dalam ingatan. Paling lekat dalam ingatan adalah simfoni lagu Ebiet G Ade. Tak heran jika sampai hari ini saya masih menghafal beberapa lirik lagunya. Apalagi dengan lagu-lagunya yang selalu sarat makna.

"Perjalanan ini terasa sangat menyedihkan.
Sayang engkau tak duduk di sampingku, kawan.
Banyak cerita yang mestinya kau saksikan,
di tanah kering bebatuan,"
[Berita Kepada Kawan, Ebiet G Ade]

Dalam kepala saya, tersusun jejeran artis beken di masa itu. Ada Nike Ardilla, Deddy Dores, Nicky Astria, Desi Ratnasari, Annie Carera, hingga Broery Marantika. Sementara yang masih bertahan hingga kini lagu-lagunya Ebiet. Padahal, saya sendiri tak menikmati masa muda di tahun 80-90-an itu. Masa muda kami justru lebih bersahabat dengan tembang-tembang populer milik Sheila On 7, Dewa, Jamrud, dan Padi.

“Merriam Belina dulu juga nyanyi, tapi sebenarnya dia artis film. Nyanyi sebentar saja,” tutur bapak, seolah menemukan semangatnya kembali.

Saya mulai tertarik jika bapak sudah bercerita tentang kisah-kisah masa lampaunya. Hal itu lebih bagus ketimbang wejangan-wejangan yang terkadang membuat kepala pusing tujuh keliling. Bercerita, seolah menyalurkan masa-masa kecil saya yang tidak dibumbui dongeng pengantar tidur oleh bapak. Berkisah, seolah menggandeng saya untuk mendalami kehidupan silam bapak.

Sesekali, saya memutar nomor lagu yang masih teringat di memori kanak-kanak. Menunggu reaksi bapak. Apalagi, lagu tertentu terkadang menjadi bagian berharga dalam hidup kita. Satu lagu seolah menggambarkan satu setting cerita hidup yang sempat dilalui berbekal lagu. Ibarat film, lagu itu menjadi backsong momen tertentu.

Seorang kawan juga pernah bertanya pada saya, “Kenapa kau tiba-tiba suka dengar tembang kenangan begitu, Mam? Siapa yang bikin kau suka dengar lagu-lagu begituan?”

Kecurigaannya nampak berlebihan. Sebenarnya, ratusan tembang kenangan sudah lama tersimpan dalam hardisk saya. Berdampingan dengan ratusan lagu-lagu pop lainnya. Berganti notebook anyar, saya hanya perlu memindahkannya.

Beberapa nama penyanyi jadul pun baru saya tahu dari playlist - yang saya lupa copy dari siapa - tersebut. Saya baru tahu jelas siapa penyanyi dari lagu yang dulu sering saya dengar sekilas dari tape bapak. Semisal Tommy J Pisa, Tetty Kadi, Betharia Sonata, Panbers, The Mercy, Koes Ploes, dan termasuk Meriam Belina.

Bagi saya, lagu-lagu lawas itu musik yang mendamaikan. Ada banyak lagu-lagu zaman dulu yang berlirik puitis dan sarat makna. Liriknya tak asal buat. Ia seumpama syair yang dibuat oleh para pujangga. Coba simak beberapa lagu dengan seksama. Teramat berbeda dengan zaman sekarang, yang asalkan dapat kata baru langsung jadi lagu.

Jika butuh menenangkan pikiran, saya tak jarang memutar playlist jadul itu. Tak peduli jika berada di kafe atau warkop langganan. Rasanya adem saja bisa melintasi ruang dan waktu dengan menyetel kenop “lagu kenangan”. Orang-orang yang usianya lebih tua kadang kala merasa tersedot ke masa lalu dan mulai melantunkan sedikit liriknya. Dan saya hanya bisa menyambutnya dengan tersenyum tipis.

"Sengaja aku datang ke kotamu,
Lama nian tidak bertemu
Ingin diriku mengulang kembali,
Berjalan-jalan bagai tahun lalu

Sepanjang jalan kenangan kita selalu bergandeng tangan,
Sepanjang jalan kenangan, kau peluk diriku mesra,

Hujan yang rintik-rintik di awal bulan itu
Menambah nikmatnya malam syahdu,"
[Tetty Kadi, Sepanjang Jalan Kenangan]




--Imam Rahmanto--

Selasa, 27 Juni 2017

Siapakah Tuhan?

Juni 27, 2017
Selamat lebaran. (Imam Rahmanto)

Beruntung sekali, saya membawa bahan bacaan untuk menghabiskan waktu di tengah-tengah momen Idulfitri. Berbekal dua novel, saya melakukan perjalanan pulang ke kampung halaman. Salah satunya, yang menurut saya keren; Semua Ikan di Langit.

Ini buku ketiga dari sekian novel karya Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie yang saya baca. Entah kenapa, saya tertarik membaca karya-karya Ziggy yang selalu unik dibanding yang lain. Di luar namanya yang sulit diucapkan.

Saking uniknya, saya selalu dibuat penasaran. Apalagi dengan label novelnya yang tak jarang menyabet gelar pemenang dari Dewan Kesenian Jakarta (DKJ). Tak diragukan lagi, Indonesia juga menyimpan banyak talent-talent novelis yang kece-kece.

Semua Ikan di Langit.

Seperti judulnya, kita akan dibawa pada cerita yang begitu imajinatif. Saya menganggapnya lebih ke cerita absurd. Bisa juga abstrak. Mana ada ikan terbang di langit? Ditambah dengan sampul unik bergambar bus yang terbang bersama seorang anak kecil berjubah. Ini benar-benar cerita yang menggoda nalar saya.

Ternyata, isinya memang menceritakan tentang si anak kecil berjubah yang dipanggil “Beliau” oleh si Bus Kota. Beliau selalu ditemani oleh banyak ikan julung-julung, yang kadang bercahaya, kadang mengundang kegelapan dan hujan air mata. Mereka melakukan perjalanan ke angkasa, hingga melintasi dimensi waktu. Bertemu berbagai macam makhluk dan kejadian.

“Kebahagiaan Beliau melahirkan bintang. Kesedihan Beliau membunuh keajaiban. Kemarahan beliau berakibat fatal.” [hal. 62]

Bus adalah kendaraan biasa-biasa yang punya trayek sebagaimana angkutan umum lainnya di Bumi. Bersama Beliau, ia diajak untuk mengelilingi dunia, galaksi, dan waktu. Bus sebenarnya mampu membaca pikiran makhluk lewat kaki-kaki yang menjejak di lantainya. Sayangnya, tidak demikian dengan anak kecil berjubah kebesaran itu. Beliau bergerak dengan cara melayang. Beliau juga tak pernah berkomunikasi dengan siapa pun langsung dari mulutnya.

Bus terpaksa menjahit pengetahuan tentang Beliau lewat perjalanan-perjalanan lintas dimensi. Begitulah cara Bus mengenal Beliau. Ia sempat dibantu pula dengan penjelasan tambahan oleh kecoa pintar dari Rusia bernama Nadezha.

Keduanya mengikuti perjalanan Beliau dan ikan-ikannya. Hingga Bus tahu bahwa ia begitu menyayangi Beliau dengan caranya sendiri. Sementara Nad, juga disayangi dengan cara berbeda.

Saya pernah membaca novel serupa “Semua Ikan di Langit” ini. Bisa dibilang, cara penyampaian pelajaran hidupnya tak jauh berbeda dengan The Alchemist karya Paulo Coelho. Kejadian-kejadian yang ditemui Bus dan Beliau dalam perjalanannya merepresentasikan kehidupan nyata. Meski sekadar cerita, pembaca diminta untuk benar-benar membuka mata dan banyak belajar.

"Orang zaman sekarang. Kalau tidak percaya pada hal yang sama dengan mereka, kau setan. Tidak bboleh berpikir sama sekali, sepertinya. Padahal kan kita disuruh sering-sering berpikir, benar tidak? [hal. 119]

Beliau nampak sebagai representasi dari Tuhan alam semesta. Bagaimana tidak, hampir semua sifat-sifat Tuhan dijelaskan sekaligus digambarkan dalam perjalanannya mengarungi dimensi ruang dan waktu.

Penjabarannya juga tak mentok pada konsep satu agama tertentu. Tokoh di dalamnya tak jarang mengambil referensi dari mitos dan kepercayaan dari agama lain.

“….Memang agak membingungkan, persoalan nama Beliau ini, hm, hm… Beliau tidak punya nama, tapi punya banyak nama, hm,” Kata Chinar dengan nada menenangkan. “Panggil saja dengan sebutan yang Anda sukai, hm. Beliau tidak pernah marah kalau hanya soal nama, hm. Dan, jangan takut hanya karena ada banyak yang tidak ketahui tentang Beliau. Seseorang tetap bisa mencintai orang lain yang bahkan tidak dia ketahui namanya, hm.” [hal. 134-135]

“Tidak ada yang pertama, dan tidak ada yang terakhir, selain Beliau,” [hal. 158]

Beberapa segmen cerita mengajak saya untuk mengingat-ingat kembali kisah Nabi dan Rasul. Kisah lainnya barangkali mengambil referensi dari Kitab Suci. Jika dikaitkan, kisah-kisah tersebut punya kesamaan. Hanya cara bercerita dan sisipannya saja yang diceritakan ulang oleh Ziggy, lebih unik dan penuh semiotika.

Di tengah maraknya kasus-kasus yang menyangkutpautkan persoalan agama di Indonesia, buku ini mengajari kita bahwa tujuan hidup semua makhluk itu sama: mengharap ridha dan cinta-Nya. Hanya cara atau jalan menuju kesana saja yang berbeda-beda. Kalau kita lebih menyelaminya, kita seharusnya menyadari dan tak merasa benar sendiri. Perspektif selalu dilihat dari berbagai sudut pandang.

“Bukan pengetahuan tentang Beliau yang paling utama, bus yang baik, hm… Hal yang terpenting adalah mencintai Beliau, hm! Kalau Anda mencintainya, cara menunjukkanya tidak akan terlalu penting bagi Beliau.” [hal. 133]

Sayangnya, saya masih dibelenggu rasa penasaran. Saya ingin mengetahui penggambaran-penggambaran perjalanan itu lebih tepat. Bukan sekadar “membenarkan” tebakan saya.
Saya malah berharap ada epilog atau semacam penutup yang membawa pada pemahaman mengenai isi cerita. Atau kalau tidak, berdiskusi langsung dengan penulisnya, bolehlah… ^^

Mengisi waktu kosong, di desa yang sunyi. (Imam Rahmanto)

***

Saya telanjur tertarik semenjak melihat buku anyar ini berkeliaran di linimassa media sosial, twitter. Cover adalah hal nomor dua yang membuat saya tertarik. Penulisnya lah yang membuat saya lebih penasaran.

Kesempatan memboyong buku ini juga baru kesampaian saat saya berjalan-jalan di Gramedia Matraman – yang kata teman saya disana sebagai Gramed terbesar di Jakarta.

Kala itu, saya sekaligus mengakhiri puasa belanja buku selama beberapa bulan. Akan tetapi, rasa penasaran baru terbayar lunas dalam perjalanan mudik lebaran; setengah di atas pesawat, setengahnya lagi bersantai menunggui tamu di kampung halaman.

“Bacaan-bacaannya Imam sekarang kok yang agak melankolis begitu ya? Semisal Fahd begitu,” kata salah seorang teman, saat kami menghabiskan malam di Kota tua Jakarta. Ah ya, bagian keren satu ini juga belum saya ceritakan.

Bukan. Bukan. Saya perlu meralatnya. Buku yang kini menjadi buruan saya lebih mengacu pada tema lokal Indonesia. Sebenarnya, buku-buku penulis luar negeri juga masih tetap berjajar dengan gagahnya di koleksi saya. Sebut saja Haruki Murakami, JK. Rowling, Agatha Christie, hingga Ernest Hemmingway. Saya hanya berusaha agar bacaan lebih variatif.

Biasanya, membaca buku-buku terjemahan luar negeri memaksa kepala saya berpikir agak keras. Ketimbang novel mancanegara, karya-karya penulis dalam negeri masih bisa saya bayangkan lebih gamblang di kepala saya. Latar dan alur kejadiannya tidak jauh beda dengan pengalaman sehari-hari. Tidak bikin mumet. Sederhana. Mohon maaf selapang-lapangnya....

"Orang-orang yang percaya bahwa ia bisa menemukkan penjelasan di balik keajaiban mungkin tidak percaya ‘keajaiban’ itu ada sama sekali.” [hal. 162]



--Imam Rahmanto--

Minggu, 25 Juni 2017

Rasa Bersalah

Juni 25, 2017
Selamat Idulfitri...

Pertama, mari memaafkan diri sendiri. Berhentilah menanam dendam dan menyemai kebencian. Kehidupan harus terus berjalan dengan lebih banyak ketenangan.

Bermaaf-maafan yang sebenarnya, bagi saya, tak berasal dari ucapan dan jabat tangan orang lain. Jabat tangan itu dimulai dari melapangkan hati. Meluweskan pikiran. Berdamai dengan masa lalu.

Memaafkan adalah hal utama. Bukan sekadar memaafkan orang lain. Yang terpenting, justru kemampuan untuk memaafkan diri sendiri. Sejauh mana kita bisa menerima kesalahan tanpa perlu melupakan detail terburuknya. Melangkahkan kaki tanpa dibayangi rasa bersalah atau takut gagal untuk kedua kalinya. Menuntaskan ketakutan, yang barangkali, membayangi diri seumur hidup.

Setelah itu, baru menyiapkan mental untuk memaafkan orang lain.

Saya sudah terbiasa menyaksikan beberapa teman yang terkungkung akan rasa bersalahnya. Mereka harus berperang batin untuk bisa terus melanjutkan hidup. Tak jarang, pikiran kalut hanya ingin diselesaikannya sendiri tanpa campur tangan teman-teman lain. Di saat ada yang hendak mengulurkan tangan, ia justru menampiknya. Menganggap seluruh masalah adalah miliknya seorang.

Barangkali kita bisa mencontoh masyarakat desa yang selalu menawarkan hidup bahagia jauh dari segala modernitas perkotaan. Bertetangga dengan saling mengirimkan makanan dan senyum saja sudah cukup melegakan. Itu bahkan bisa menghapus beban untuk beberapa hari kke depan.

Mudik tahunan. (Modification from: twitter)

Momen kontemplasi lebaran kali ini saya nikmati di sebuah desa pinggiran sungai Bengawan Solo. Kampung halaman bapak dan mamak. Saya pulang utuh pada pelukan keduanya. Sembari menghirup udara pedesaan yang telah lama dirindukan. Sedikitnya, saya juga sudah mulai lupa beberapa lekuk pedesaan ini meski belum genap empat bulan saya pernah berkunjung sebelumnya.

Pekerjaan rutin berkompromi cukup baik untuk lebaran kali ini. Saya tak perlu mangkir diam-diam dari tugas keseharian di daerah. Ada jeda selama tiga hari bagi media cetak tempat saya bekerja. Surat kabar kami tidak terbit demi menghormati momen cuti bersama itu. Barangkali, para petinggi atau direksi kantor juga cukup memahami ada banyak karyawannya yang sudah lama tak merasai berkumpul bersama keluarga besar di momen sakral semacam itu.

Meski begitu, tetap saja ada tugas-tugas tambahan bagi para pewarta yang berdomisili di kota. Momen hari raya juga tak kenal libur bagi para pejabat di pusat pemerintahan.

“Jadi, kamu libur berapa hari?” pertanyaan dari sanak saudara yang selalu mendarat lebih cepat ketimbang pertanyaan retoris, “kapan nikah?”

Saya hanya menjawab seadanya. Sejujurnya, saya masih belum bisa memastikan bakal berapa lama bersosialisasi bersama kerabat keluarga. Apalagi mereka yang mengenal saya hanya dari cerita-cerita mulut bapak dan mamak. Bagi mereka, saya seperti orang asing yang sudah lupa caranya berbahasa Jawa dengan baik dan benar.

Yah, setidaknya saya punya waktu untuk berkumpul bersama bapak dan mamak. Berbagi cerita tentang kempung halaman yang sudah ditinggalkannya nyaris delapan bulan. Orang-orang  yang merindukannya. Tetangga-tetangga yang tak lepas bertanya kabar penyakit bapak. Suasana perkampungan yang sudah banyak berubah. Nama-nama yang lekat di kepala bapak dan masih terus berkomunikasi via sambungan telepon.

Betul kata meme yang saya jumpai berseliweran di dunia maya di masa-masa mudik kemarin.

“Sak adoh-adohe lungo, tetep eling wong tuo. Wong tuo ora butuh bondo tapi butuh anak’e teko,” [anonim]

Artinya, sejauh-jauhnya merantau, tetap harus ingat orang tua. Orang tua tidak butuh hartamu, tetapi butuh anaknya pulang. Hampir saja dengungan kata-kata ini mengundang air mata saya mbrebes mili.

Bagaimana mahalnya harga perjalanan harus saya enyahkan dari perhitungan. Tak ada logika yang sepadan jika sudah berhadapan dengan kasih saying orang tua. Tuntutan untuk kebutuhan lain tentu bisa menyusul kemudian. Toh, rezeki juga datangnya dari doa kedua orang tua. Sebaris senyum di wajahnya saat melihat anak kesayangan pulang ke rumah sudah menjadi pembuka doa-doa yang lebih mustajab.

Pulang juga tak melulu soal kembali ke tanah leluhur tempat kita dilahirkan. Orang tua juga punya hak untuk disambangi anak-anaknya yang jauh dari rumah. Pulang, bagi orang tua, adalah hak terhadap anak-anaknya. Mereka berhak mendapatkannya.

Saya belajar menerbitkan kembali berbagai macam keajaiban semacam itu. Sebagaimana belajar menghapus rasa bersalah yang pernah bersemayam dalam hati saya, beberapa tahun silam. Saya tak boleh menuntut orang lain untuk meminta maaf jika belum bisa memaafkan diri sendiri.

Tanpa perlu meminta maaf pada kedua orang tua pun, saya sudah selalu dimaafkan. Tak ada orang tua yang benar-benar membenci anaknya, bukan? Sebenar-benarnya kasih sayang adalah dari orang tua kepada anaknya. Seperti kata lagu masa kecil saya, “…Hanya memberi, tak harap kembali…”

“Aku njaluk sepura yo, dimulai ko awakku…”
Jarang-jarang loh bapak dan mamak mau foto kekinian seperti ini. (Foto: self timer)

--Imam Rahmanto--

Jumat, 16 Juni 2017

Kekeliruan Kecil Semesta

Juni 16, 2017
Mamak yang paling bergaya, bukan karena gaul. Cuma ndak tahu saja mau gaya seperti apa di atas panggung. (dok. pribadi)

Bapak pernah berujar, kelahiran saya di dunia ini menjadi fondasi pertama dirinya dan mamak untuk tetap berada di Tanah Duri. Tak ada lagi berpindah-pindah tempat dalam perjalanan kehidupan mereka. Padahal, kepergian bapak dan mamak dari kampung halamannya telah melalui lintas dimensi dan suku di tanah Sulawesi. 

Benar kata orang, kelahiran anak pertama bisa mengubah kehidupan kedua orang tuanya.

Saya membayangkan, raut wajah bapak yang sumringah saat menggendong anak pertamanya. Haru bercampur bahagia tumpang tindih memenuhi rongga dadanya. Ia ingin menangis. Matanya berkaca-kaca menyambut lengkingan tangis anak lelakinya.

Tanpa pikir panjang, bapak menamai anaknya dengan lafal paling indah. Di balik guratan abjadnya tentu menyimpan harapan terbesar dari lubuk sanubarinya.  

Kata bapak, nama saya sekarang sebenarnya bukan nama pemberiannya dahulu. Ia selalu saja mengutuk keteledoran para aparat desa yang tak paham membedakan pelafalan huruf dalam bahasa Jawa. Ujung-ujungnya, saya harus menyandang nama yang "salah" itu hingga kini.

"Seharusnya namamu Imam Rohmanto, bukan pakai Rahmanto," tekannya sembari bersungut-sungut. Beruntung ia tak menyematkan namanya sendiri di belakang nama anaknya.

Orang Jawa memang puya kebiasaan melafalkan huruf vokal "a" dengan bunyi "o". Itu sudah menjadi ciri khasnya dari sudut pandang masyarakat Sulawesi. Tak heran jika kesalahan itu benar-benar tak disengaja oleh aparatur desa hingga tingkat bangku sekolahan saya. 

Saya yang meneruskan kisah kesalahan nama itu terkadang hanya disambut tawa oleh teman-teman di Sekolah Dasar. Meski beda satu huruf, tak jarang jadi olok-olokan ala bocah ingusan.

"Imam roh halus. Roh halus," ledek teman-teman yang jahil. Saya hanya menyambutnya dengan cengar-cengir. 

Mana bisa saya menghajar mereka hanya karena beda satu huruf?? Lagipula, guru agama di SD pernah mengingatkan kami dengan nama-nama penuh makna.

"Rahmanto atau Rohmanto, tulisannya sama saja kok dalam bahasa Arab. Artinya, pemimpin yang dirahmati," terang guru agama itu. Mata saya dibuat berbinar-binar oleh penjelasannya. Seolah-olah membayangkan, saya sedang berada di medan perang memimpin pasukan di garis terdepan. Kebanyakan baca kisah-kisah Nabi nih...

Tanggal kelahiran saya pun ternyata ikut-ikutan menanggung kekeliruan. Ibu pernah berkata, "Tanggal lahirmu 10 Februari, kok," sambil menggaruk-garuk kepala, seolah lupa akan sesuatu. 

Beberapa tahun selama menjalani bangku sekolah, saya memakai tanggal itu untuk memaknai sifat dari ramalan zodiak di majalah-majalah anak muda. Di rapor pun tertulis tanggal yang sakral itu. Saya selalu mengakui diri sebagai makhluk Aquarius di hadapan teman-teman pecinta ramalan 

Anggapan itu baru runtuh ketika mamak menunjukkan akta dan Kartu Keluarga (KK) yang isinya justru tersemat tanggal 15 Juni. Biasa, anaknya butuh dokumen keluarga untuk mengurus kartu tanda kependudukan. Sekaligus pertanda dirinya sudah nyaris menuju kehidupan dewasa.

"Bukannya saya lahir di Februari ya? Ini kok beda?" gumam saya dalam hati.  

Pertanyaan itu saya simpan bertahun-tahun lamanya. Mamak bukan tipe perempuan cerdas yang mampu menjelaskan segala hal pada anaknya dengan gamblang. Ia juga lebih mudah lupa untuk sesuatu yang spesifik semacam itu. Akan tetapi, meski mamak hanya lulusan SD, ia merupakan perempuan paling-paling-paling setia yang pernah saya jumpai.


Zaman dulu mana ada facebook yang saban hari selalu setia mengingatkan kita tentang segala hal. Tanggal lahir. Kegiatan teman terdekat. Film-film baru. Tren baru. Imbasnya, kita jadi malas mengingat hal-hal penting di dunia nyata. Facebook sudah menyimpan semuanya, bagi orang-orang yang disebut netijen.

Mulanya, gegara bapak terlambat mendaftarkan akta kelahiran anaknya, saya mesti menyandang tanggal lahir di pertengahan bulan ini. Katanya, biar tak dikenai denda karena terlambat sampai empat bulan mengurus dokumen lahir anak pertamanya. 

Hidup kok serasa banyak kekeliruannya ya?

Hingga kini, saya masih menyandang semuanya. Saya cukup menempatkannya untuk urusan dokumen atau secara personal. Ribet kalau ingin mengutak-atik sesuatu yang sudah berasal dari masa lalu itu. 

Meski begitu, di balik berbagai kekeliruan itu, saya yakin, bapak dan mamak tak pernah merasa bersalah melahirkan saya. Tak peduli saya yang pernah membangkang pada keduanya. Lari dari kehidupan keduanya. Mengecewakan harapan-harapan lahir batin mereka. Hingga mengundang air mata membanjiri pipi atas kebodohan di masa lalu. Saya jadi rindu pada mereka.

“It matters not what someone is born, but what they grow to be.” [J.K Rowling]

Sungguh, kekeliruan-kekeliruan itu hanya menjadi bahan tertawaan saya dalam hidup. Barangkali, saya bisa menceritakannya pada orang lain kelak. Saya bisa membuat orang lain merasa bersalah, ketika sudah membawakan kue, lilin, atau mengerjai saya sekalipun sambil mengucapkan selamat ulang tahun. "Maaf, sebenarnya saya terlahir dari rasi bintang Aquarius, bukan Gemini." 

Namanya juga anak-anak. (album keluarga)

Terlepas dari itu, terima kasih untuk siapa saja yang sudah mengirimkan doanya, sehari yang lalu...


--Imam Rahmanto--

Kamis, 15 Juni 2017

Modal Nekat

Juni 15, 2017
Menjalani puasa itu butuh perjuangan. Apalagi kalau puasanya harus dijalani di daerah mayoritas non-muslim, seperti di Toraja.

Baru-baru ini, saya merasai bagaimana kehidupan Ramadan di salah satu desa Kabupaten Tana Toraja (Tator). 

"Kamu yang liput kesana ya? Soalnya bisa lebih mendalami kalau sesama muslim," pesan redaktur yang tiba hampir dua minggu lalu.

Saya tahu, salah satu pewarta media kami yang bertugas di Tana Toraja menganut agama Nasrani. Jadi, agak salah kaprah jika ia harus diterjunkan merangkum aktivitas muslim di tanah minoritas itu. Apalagi, permintaan redaktur, saya setidaknya harus ikut menjajal bagaimana berpuasa disana. Baik dari sahur, hingga waktu berbuka.

Saya baru bisa menuntaskan perjalanan religi itu, beberapa hari yang lalu. Sejak memasuki Ramadan, saya selalu menunda-nundanya dengan berbagai alasan. Ditambah, deadline-nya juga tak begitu mendesak. Saya jadi punya beribu-ribu alasan untuk tetap berada di Enrekang. Akh, sifat menunda-nunda itu adalah kebiasaan paling buruk yang melekat pada saya. 

"Cari perkampungan yang umat muslimnya minoritas. Supaya tidak terlalu susah, cari yang bagian perbatasan saja," usul redaktur.

Lantas, desa seperti apa yang mesti saya kunjungi?

Seumur hidup, saya belum pernah menjelajah ke Tator. Secara hitungan matematis, saya baru dua atau tiga kali kesana. Meskipun masa remaja saya dihabiskan di kabupaten tetangganya, Enrekang, saya tak pernah bisa menikmati aroma-aroma budaya masa lalunya. Bahkan, di masa-masa SMA, saya punya banyak teman yang tinggal di area perbatasan Tator, yakni Salubarani.

Banyak saran yang saya himpun dari teman maupun kenalan. Tak lupa, googling juga berperan penting. Bisa dibilang, waktu seminggu menjadi ajang kontemplasi bagi kepala saya untuk mencari ide. Stalking, stalking, dan stalking melalui Google. Tapi, maaf, bukan untuk stalking mantan. 

"Coba Uluwai. Disana ada banyak orang muslim. Bahkan jarak masjid dan gereja biasanya tak cukup jauh," ujar Bunda, saat saya mengunjunginya di rumah. 

Selain melepas rindu, kami berbincang cukup banyak. Kata Bunda, ia baru saja menemani murid-muridnya berkunjung ke tempat itu. Beberapa foto tak lupa dipamerkan lewat gawainya. Anak angkat Bunda juga sempat mengusulkan dan bercerita tentang Uluwai itu. Yah, nama desa itu juga cukup akrab di telinga saya.

Tanpa perlu berpikir lama lagi, keesokan paginya saya memacu gas ke arah desa tersebut. Saya puya cukup petunjuk untuk lokasi desa tersebut. Ohya, hidup di daerah membuat saya belajar untuk lebih banyak berinteraksi dengan orang lain. Tak terkecuali dengan modal bertanya, dengan mengesampingkan kecanggihan GPS.

Tak sulit mencari lokasi suatu desa di daerah tanpa keramaian. Kecenderungannya sama, yakni masyarakat sangat paham dengan kehidupannya karena tak digelayuti oleh kecanggihan modernisasi GPS dan semacamnya. Cukup bertanya dengan sopan, mereka bisa langsung menjadi kompas di tengah rimba jalan berbeton. Intinya, hidup di perkampungan itu lebih butuh banyak sosialisasi dan face to face. 

Alhasil, saya tetap menemukan perkampungan Lembang Uluwai itu. *Catatan, desa di Toraja disebut dengan nama lembang. Suasananya lumayan dingin karena berada di dataran tinggi. Pohon pinus juga nampah tumbuh subur dimana-mana. Sepanjang jalan, bahkan saya bisa menemukan potongan-potongan batang pinus yang tergeletak dan belum diangkut empunya.

Sayangnya, perjalanan saya itu bukanlah kisah singkat yang bakal usai dalam sekali kunjungan. Karena kenyataannya, Uluwai tak seperti yang saya harapkan. Jumlah umat muslim justru jauh lebih dominan disana, meski Kepala Lembangnya merupakan umat Nasrani.

"Yah, tak ada berbeda dalam kehidupan kami disini. Justru kami tetap hidup berdampingan dengan toleransi yang tinggi," ucap Kepala Lembang.

Ternyata, saya masih butuh memacu kendaraan ke arah yang lebih jauh. Jauh, jauh, dan jauh dari jangkauan dunia maya.

Sejak awal, saya sebenarnya telah mengantongi satu alternatif lembang lainnya, yakni Marinding. Dari informasi dunia maya, desa itu cukup populer. Apakah hasilnya seperti Uluwai atau tidak, tak ada salahnya mencoba. Saya sudah sejauh ini. Jika gagal menjelang maghrib, saya pun sudah menyimpan planning Z; mampir di masjid jalan poros dan bermalam selayaknya musafir disana.

Kita akan lebih banyak menjumpai pagi seperti ini di desa-desa, tak terkecuali Lembang Marinding. (Imam Rahmanto) 

...bersambung


--Imam Rahmanto--

Selasa, 06 Juni 2017

Strata Hidup

Juni 06, 2017
"Kamu alumni apa lagi?"

"Alumni UNM, Pak,"

"Jurusan apa?"

"Matematika,"

Dia berpikir sejenak seakan menimbang-nimbang sesuatu. Lelaki tua itu baru saja usai mengulas kenangan tentang saya. Bertanya kabar orang tua, yang tak lagi di Enrekang. Bertanya kondisinya, yang memang sudah tak bisa berubah. Tak terkecuali bertanya tentang saya, yang memang pernah seangkatan dengan anaknya di Sekolah Dasar. Sampai-sampai memastikan ranking saya, dari SD hingga lepas SMA. 

"Tidak adakah pendidikan S2 di Parepare?" lanjutnya lagi. 

Saya tahu arah pembicaraan orang nomor satu Kabupaten Enrekang itu. Ia pun tak segan berbincang dengan saya diantara sela-sela berbuka puasa bersama pimpinan dinas lainnya dalam rombongan safari tersebut. Kami hanya dipisahkan udara kosong, sambil menanti waktu shalat tarawih.

"Waduh, kurang tahu juga kalau itu, aji," karena saya juga tak pernah mencari tahu. 

"Walaupun ada, saya sebenarnya sudah tidak begitu tertarik lagi untuk melanjutkan pendidikan, aji." Saya memotong saja kelanjutan pembicaraan lelaki beranak empat itu. Karena, toh, saya memang sudah sejak lama kukuh tak ingin lagi mengenyam pendidikan teori di bangku formal. 

"Kamu memang tidak tertarik jadi dosen?"

"Tidak, aji. Saya tipe orang yang tidak suka bekerja di dalam ruangan. Saya adalah orang-orang lapangan (petualang)," tegas saya terang-terangan.

Sementara dalam hati, sebenarnya saya ingin mengatakan lebih jelas, "Saya jemu dengan sekolah formal, duduk di dalam kelas, mengerjakan tugas, menulis teori-teori yang bakal jadi hafalan, dan menghabiskan sisa hidup saya untuk hal-hal yang tidak saya inginkan. Saya sudah pernah merasakan 'lurusnya' kehidupan semacam itu di masa remaja,"

Saya tersenyum padanya. Sebenar-benar senyuman orang yang telah memenangkan pergulatan tujuan hidupnya. Barangkali.

***

(Imam Rahmanto)

Saya sebenarnya agak bosan ketika orang-orang bertanya tentang korelasi pekerjaan dan latar belakang pendidikan saya, yang merupakan jebolan keguruan. Jika lurus-lurus saja mengikuti alur, seharusnya saya bermuara pada pekerjaan di depan papan tulis, di hadapan anak-anak yang ingin menimba ilmu.

Saban pagi, tak ada yang namanya telat bangun pagi. Pakaian dinas diseterika rapi, dengan rambut yang tersisir cukup klimis. Silabus sudah tercokok rapi di dalam tas saya. Absensi jadi hal yang wajib untuk mengecek nama-nama murid kesayangan. Lembaran itu sekaligus sebagai penanda anak-anak paling bandel.

Saya akan tersenyum kepada setiap murid yang menyapa, entah karena segan atau karena bersahabat. Sebutan "Pak" akan datang lebih awal dibanding usia saya yang belum waktunya beristri. Tetapi, tenang saja, saya lebih suka meminta mereka untuk memanggil saya dengan sapaan "Kak" ketimbang "Pak". Saya tak ingin sapaan itu menjelma doa tanpa sadar dan mendarat lebih cepat di tangan Tuhan.

Atau...

Seperti teman-teman yang lain, saya akan memburu berbagai macam beasiswa untuk lanjut ke tingkat lebih tinggi. Lebih bergengsi jika bisa mendarat di luar tanah nusantara. Jiwa petualang saya masih harus bergelora meski saya harus ditekan berbagai teori tugas dan laporan. Tentu saja, muaranya bertahun-tahun yang akan datang, saya tetap duduk di hadapan para penimba ilmu, walau dalam kasta yang lebih tinggi.

Jika lebih beruntung, saya akan menjadi aparatur sipil negara yang begitu diidam-idamkan oleh hampir semua orang tua di belahan nusantara ini. Bergaji aduhai dengan tunjangan macam-macam. Ya, ujung-ujungnya tetap harus berhadapan dengan tugas di depan meja dalam ruangan berpendingin. Pakaian rapi dan rambut tetap klimis lah.

Sayangnya, semua sirna karena keinginan "egois" saya untuk mengambil alih kemudi. Di tengah jalan, saya berubah haluan. Tujuan pun berubah, namun tetap berpacu pada keinginan yang telah lama disembunyikan.

Saya pernah iseng berbagi keresahan dengan seorang teman, yang baru saja menyelesaikan gelar magisternya. Ia sedang mencari-cari pekerjaan untuk digeluti. Tentu saja, harus yang sesuai dengan gelar yang susah-payah diraihnya hampir empat tahun.

"Ya pastinya saya pikir-pikir kalau mau bekerja di luar gelar kependidikan ini, termasuk kalau cuma mau jadi guru sekolah. Kan minimal dosen kalau lulusan S2,"

"Sekarang saja saya sudah pusing. Ini juga na sudah kayak terbebani dengan gelar seperti ini. Pastinya jadi pembicaraan (masyarakat) kalau saya kerja sembarang," ujarnya sambil tertawa.

Tak bisa dipungkiri, strata kependidikan memang agak berpengaruh dalam lingkungan masyarakat. Hal itu turut menjadi beban di pundak siapa saja yang mencicipinya. Apalagi jika kita suka membuka lebar-lebar telinga atas pendapat orang lain. Apa yang diinginkan orang lain, kita manut. Sementara bisikan hati, tak pernah terdengar cukup jelas untuk bisa menggerakkan akal sehat mengubah haluan.

Hanya saja, saya selalu meyakini, strata pendidikan tak pernah menjadi jaminan strata kehidupan yang dijalani. Selama kita bisa menjalani kehidupan yang benar-benar diinginkan, itu sudah membahagiakan. Jauh melegakan.

Kadar sukses tiap orang sebenarnya juga selalu berbeda-beda. Meski patokan umumnya adalah soal harta dan takhta, setiap orang berhak menentukan keinginan tanpa perlu berpikir keras soal kebutuhan. Bagi saya, "memperoleh apa yang diinginkan" jauh lebih bermakna sukses ketimbang "memperoleh apa yang jadi penilaian orang lain." Hidup tentu bakal bernilai combo jika bisa memperoleh kedua-duanya.

Meski begitu, saya tetap meyakini, setiap orang punya pilihan masing-masing. Tugas selanjutnya hanya untuk mempertahankan pilihan itu.

Kamu, siapa saja, selalu punya hak berbahagia dengan jalan yang kamu pastikan sendiri...

“Apa yang orang bilang realistis, belum tentu sama dengan apa yang kita pikirin. Ujung-ujungnya kita juga tahu kok, mana yang diri kita sebenernya, mana yang bukan diri kita. Dan kita juga tahu apa yang pengen kita jalani." [Keenan in Perahu Kertas, by Dewi Lestari]

Semakin banyak saja berjalan, menatap luas dan leluasanya langit biru. (Imam Rahmanto)



--Imam Rahmanto-- 

Kamis, 01 Juni 2017

Banding

Juni 01, 2017
Satu hal yang cukup saya nikmati di daerah pegunungan ini adalah waktu luang. Saya jadi punya waktu untuk menikmati setiap irama dan suasana perkampungan. Apalagi dalam nuansa Ramadan begini, banyak hal-hal sederhana yang takkan kita temui di perkotaan.

Jangan tanyakan saat masih berkelilling diantara padatnya jalan perkotaan, setahun silam. 

Suara adzan maghrib kerap tenggelam oleh klakson dan deru kendaraan. Kita sudah tak tahu lagi membedakan waktu berbuka puasa karena lebih sibuk memandangi lampu-lampu merah-kuning-hijau. jika kurang awas, motor bisa saja menyerempet pengendara lainnya. Satu-satunya yang bisa menjadi penanda berakhirnya ibadah wajib Ramadan itu adalah ketika jalan poros sudah padat dan berdesak-desakan pengendara yang ingin cepat sampai di rumah.

Kualitas Ramadan di perkampungan sebenarnya jauh lebih istimewa. Saya menjumpai orang-orang berpeci hampir setiap hari. Anak-anak yang berbaju koko dengan riangnya menyambangi masjid saban maghrib. Tentu, berlomba-lomba menyantap sajian berbuka atau takjil. Tak lupa menyisakan sedikit ruang di perut untuk makanan ibu di rumah. Tak heranlah, di masa kecil dulu, saya juga sama seperti mereka.

Jangan tanyakan saat masih berhadapan dengan gemerlap lampu perkotaan, setahun silam. 

Anak-anak, sebenarnya, juga berlomba-lomba datang ke masjid meminta tanda tangan ustaz atau penceramah. Tak beda dengan anak-anak kampung. Hanya saja, kita yang merasa dewasa justru tak ikut terselip diantara ibadah-ibadah tarawih mereka. Barangkali, bahkan tanpa perasaan bersalah. Toh, kita membenarkannya karena banyak (teman) manusia di kota yang seenaknya lalu-lalang di saat jemaah sibuk bersembahyang.

Kita sepantasnya merasa kasihan pada "kesibukan" atau "pekerjaan". Luputnya kita dari ibadah Ramadan, "kesibukan" selalu jadi kambing hitam. Padahal, alasan sebenarnya karena terlalu banyak godaan dan bujukan ngumpul diantara modernitas perkotaan. Mal, kafe, karaoke, warkop, pasar tumpah, hingga diskon selalu menggiurkan nafsu. Akh, saya hampir lupa menyebutkan; kantor, sebagai salah satu tempat yang menuntut kesibukan lebih jauh.

Betapa kesibukan selalu menyudutkan. (Imam Rahmanto)

"Sudah berapa shalat tarawihmu?"

"Sudah berapa juz?"

Saya rindu pertanyaan-pertanyaan demikian. Meskipun hanya dari kanak-kanak yang bahkan belum tahu apa-apa soal pahala yang dilipatgandakan. Kita bersaing bukan untuk pamer. Melainkan jadi motivasi agar kita tak keduluan manusia lain berusaha istimewa di Ramadan ini. Terkadang, manusia memang butuh persaingan (yang sehat) agar bisa terus berkembang.

Bukan justru pernyataan tanpa dosa seperti, "Ndak sempat ka tarawih," atau "Nanti di rumah pasti shalat ja." Pertanyaan sebelumnya jauh lebih beradab dibanding pikiran kita yang biadab di bulan Ramadan. Apalagi dengan kita yang masih suka berselancar di dunia maya. Tak jarang malah terjebak dengan menyebar berita-berita penebar kebencian, tanpa mau capek-capek mengecek kebenarannya. Sungguh jauh lebih adil untuk saling memaafkan saja di bulan penuh berkah ini, bukan? 

Saya bersyukur, hingga kini masih bisa menggenapkan tarawih sesuai dengan jumlah Ramadan yang telah berlalu. Ini serius dan bukan pamer loh, cuma ngompor-ngomporiWaktu luang yang begitu lebar di kampung sudah sepantasnya saya gunakan. Lebih banyak waktu untuk merasai hidup senyata-nyatanya di dunia nyataPun, saya yang sudah berusia kepala dua ini seharusnya malu dengan anak-anak. Badan mereka kecil, lha kok sanggup berdiri lama-lama mendengar lantunan surah delapan rakaat plus tiga witir? Saran: kalau tak sanggup lama-lama, cari masjid yang ceramahnya singkat dan tarawih secepat kilat. 

Kenapa anak-anak selalu ceria memaknai Ramadan ya? Apakah mereka belum menyadari kelak ketika beranjak dewasa, mereka bakal dipertemukan pula dengan alasan-alasan orang dewasa?

Sungguh menyenangkan melihat anak kecil berlarian diantara jemaah yang serius (dan mata berkaca-kaca karena menguap) mendengar ceramah. Mereka anak-anak kampung yang belum paham betul godaan Time Zone, Pizza Hut, McDonald, atau KFC. Bahkan, kalau mereka harus membunyikan petasan di daerah sesunyi ini, saya takkan memasang wajah digalak-galakkan sembari mengusir mereka pulang ke rumah. Jauh lebih menyenangkan menikmati cara mereka menikmati Ramadan. Itu tandanya bulan ini dianggap spesial dibanding sebelas bulan lainnya.

"Oe, jangan ribut di luar," orang tua kerap tak pernah sadar kalau mereka pun pernah muda.

Jangan tanyakan saat masih dikepung gedung-gedung tinggi yang membalap ke angkasa, setahun silam.

Karena saya tak pernah benar-benar tahu bedanya puasa atau tidak. Hanya warung atau toko kecil saja yang terlihat menutup pintunya. Sementara kesibukan, lalu-lalang, hiruk-pikuk, dan polusi kota tetap pada tempatnya. Oh ya, yang membedakan juga hanya undangan berbuka puasa yang saban waktu mampir di beranda medsos dan chat lainnya. 

Kami agak luput dari heningnya beribadah. Lha wong, deadline selalu terikat di kepala kami, para pekerja lapangan. Bergeser barang satu setengah jam saja untuk tarawih, itung-itungan, bisa dipakai untuk mengisi desakan satu atau dua naskah. Masih beruntung kalau tak dijatuhi piket. Ujung-ujungnya, Ramadan atau tidak, sama saja bagi kami. Sama-sama tak punya kesempatan untuk mengatur diri sendiri.

"Dua anak muda ini tiarap liputan. Mungkin mau fokus ibadah dan berdoa moga jodohnya cepat menghampiri," sebut salah seorang teman lewat akun facebook-nya sembari menandai saya dan teman lain.

Ia nampaknya begitu rindu dengan update berita kami di portal masing-masing. Soal jodoh, lain ceritanya. Itu karena saya mencoba untuk agak santai tanpa dibebani tuntutan "duniawi" mengawali Ramadan ini. *Ceilahh....lagaknya.

Tetapi bagaimana pun, itu benar kok. Tak pantas rasanya jika apa yang saya kerjakan sebelas-duabelas dengan bulan lain. Kontemplasi begini pun baru bisa saya temui di tempat ini. Seolah baru habis hibernasi. Barangkali pula ceramah tarawih malam ini memukul telak kesadaran saya.

Seperti kata Tuhan dalam kitab suci, manusia harus banyak-banyak bersyukur. Kalau bersyukur, nikmat bisa ditambah sejadi-jadinya. Dan menjalani Ramadan di sisi pegunungan ini, diantara basah aroma hujan, hanya bisa membuat saya tersenyum sembari berpikir; nikmat Tuhan mana lagi yang saya dustakan?

Sayangnya, semulia-mulia Ramadan, saya masih kalah telak dari sisi bangun pagi. #jlebb

Masjid Agung Enrekang. (Foto: Ohe Syam Suharso)



--Imam Rahmanto--