Senin, 15 Mei 2017

Tanggung

(doc by: Dewi Rahmayanti)

"Doakan saya ya, Kak. Mudah-mudahan bisa lulus," ujar suara dari ujung telepon.

Saya mengiyakannya, sembari mengamini dalam hati. Meskipun saya ragu, apakah Tuhan masih berminat menagabulkannya. Shalat Subuh saya sekarang mulai putus-nyambung-putus-nyambung. Hanya empat waktu saja yang masih bertahan dan tak lekang oleh kesibukan. 

Adik perempuan saya, Dewi, bakal mendaftar di perguruan tinggi tahun ini. Setahun lalu, ia tak lulus di perguruan tinggi idamannya di kota Makassar. Berharap di salah satu perguruan tinggi swasta, ia terpaksa harus mengubur impiannya bersekolah selepas SMA. Kakak lelakinya tak mampu menanggung total nominal masuk ke salah satu perguruan tinggi swasta disana. 

Ia pun tak memaksakan keinginannya untuk lanjut ke jenjang tersebut. Alasan kedua yang lebih dominan, saya usulkan, agar ia punya lebih banyak waktu menjaga Bapak. Tahun itu bertepatan dengan keinginan Bapak-Mamak untuk menghabiskan masa tua di tanah kelahirannya. Saya sekaligus menyarankan saja padanya mengisi waktu "menunggu-tahun-depan" itu dengan menjagai Bapak-Mamak (sekaligus simbah yang tinggal sendirian) di Jawa.

Saya sudah pernah menjanjikan tahun ini adalah tahun miliknya. Tentu saja, tanpa perlu berharap pada kedua orang tua kami. Bapak sudah tak bisa bekerja semenjak digerogoti paraplegia-nya. Sementara Mamak, bagi saya, hanya perlu menjadi istri yang baik bagi suami yang dikasihinya. Selain itu, simbah (nenek) juga butuh perhatian Mamak sebagai anak angkat satu-satunya, setelah ditinggal mendiang kakek.

"Iya, terserah kau pilih jurusan apa. Asalkan kau suka, ya ndak masalah," saya membebaskannya untuk memilih kampus di Jawa. Kelak, ia juga akan menyadari, memilih jurusan kuliah tak berarti memilih tujuan hidup. Keduanya tak sebanding dan kerap justru berbanding terbalik.

Kebebasannya bukan hal mudah. Lelaki, entah kata siapa, yang bisa dipegang adalah janjinya. Dan, saya sudah mengiming-imingi "sekolah" baginya. Seberapa besar beban yang bakal saya tanggung, tentu sudah jadi bagian dari menggantikan seorang Bapak. Anggap saja, ini ujian pertama dari Tuhan sebelum saya harus menanggung masa depan seorang istri dan anak-anak sekaligus.

"Ya, tidak usah dipikirlah, Pa'. Biar saya saja yang pikirkan semuanya," ujar saya, selalu, jika Bapak sudah mulai ngelantur soal biaya dan semacamnya untuk anak bungsunya. 

Sejak berselisih jalan dengan keinginan Bapak; yang menginginkan anaknya sebagai abdi negara, saya sudah mematok jalan agar tak meminta apa-apa lagi dari Bapak. Dimulai saat kuliah yang melewati masa normal empat tahun, hingga masa saya benar-benar "membelot" dari anjurannya agar menjadi PNS. Pada kenyataannya, saya memang harus membuktikan bahwa saya bisa menjalani hidup sebaik-baiknya dari passion saat ini. 

Saya hanya membutuhkan restu dari lelaki keras itu agar bisa baik-baik menjalani hidup. Rasa penerimaannya jauh lebih berarti dibanding harta yang barangkali bisa diwariskannya kelak. Adik saya, tentu tak perlu jadi beban pikirannya pula. Cukuplah ia kembali menghidupkan rasa cintanya pada Mamak (dan pastinya Tuhan) yang pernah nyaris disia-siakannya.

"Kalau seandainya tidak lulus, kau pilih saja kampus yang dekat-dekat dari situ nah. Yang penting kau kuliah saja dulu," tekan saya.

Bagaimana pun, saya juga tak boleh membandingkan ia dengan kakak lelakinya yang dulu selalu menjadi kebanggaan orang tua dalam hal akademik. Ia punya keterbatasan. Untuk itu pula tak sempat mencicipi tahun pertamanya. 

Seperti yang saya katakan, kuliah hanya jadi proses dalam menjalani pemikiran yang dewasa. Dimana pun kampusnya, ia tentu bakal belajar untuk menemukan tujuan hidupnya. 

Saya berangsur-angsur harus belajar menjadi orang yang paling diandalkannya. Saya tak bisa lagi menjadi kakak yang kerjanya hanya membuat menangis karena berebut mainan, seperti 12 tahun silam. Atau kakak yang tak suka makanannya diambil separuh. Atau kakak yang selalu mengolok-olok adiknya lantaran tak bisa berbahasa ibu. 

Yang terpenting kini, saya tak perlu lagi menghalangi keinginannya mencicipi bangku kuliah dengan alasan-alasan klasik. Betapa jahatnya jika saya mengulangi alasan yang sama. Tahun ini adalah tahunnya. Untuk sisanya, biarkan Tuhan yang mengatur...

"Doakan betulan ka nah?" ulangnya lagi.

Tentu saja, doa kakakmu ini harus selalu menyertaimu...



--Imam Rahmanto--

Tidak ada komentar:

Posting Komentar