Selasa, 02 Mei 2017

Sumpah, Tak Salah

Tuhan memang tak pernah benar-benar salah. Manusianya saja yang ndablek mempersalahkan garis hidupnya yang sudah diatur sedemikian rupa melalui skenario tanpa cela.

Saya semakin senang menjelajah di hamparan pegunungan ini. Ada banyak kesenangan dan ketenangan yang bisa disusupkan dalam kepala untuk mengusir penat. Jalan-jalan berliku di pedalaman Enrekang, sebenarnya cukup eksotis jika dilintasi dengan kendaraan bermotor. Tentu saja jika seorang perempuan manis sekaligus membonceng di jok belakang motor. #ehh

Ini di Desa Kendenan, Kecamatan Baraka, penghasil beras ketan termahal di Indonesia, yakni Pulu Mandoti. (Foto: Imam Rahmanto)

Kalau dipikir-dipikir ke belakang, saya pernah sedikit merutuk penempatan di daerah ini, lantaran jauh dari teman-teman dan kehidupan modern. Seiring berjalannya waktu, saya berusaha menerimanya. Seolah bayi yang baru mencintai tanah tempatnya dilahirkan. Karena sejujurnya, segala ingatan tentang teman-teman saya di kepala sudah mulai pudar satu per satu. Hanya mereka yang cukup dekat saja yang masih tersimpan baik dalam lokus ingatan saya. Panggilan-panggilan atas nama saya pun tak jarang terabaikan.

Hal semacam itu sama seperti saat saya sedang berkutat dengan penugasan di gubernuran, tiba-tiba dirolling ke desk olahraga, yang selama ini tak pernah saya geluti. Saya mengira penempatan itu salah.

Ternyata, kita hanya perlu belajar mencintai. Karena begitulah cara manusia beradaptasi. 

Kenyataannya, saya begitu bersyukur berada di tempat ini. Suasana yang lengang. Anak-anak tersenyum riang. Tanaman-tanaman yang matang. Petani dengan ladang. Langit yang lapang. Malam yang tenang. Bintang yang benderang. Duh, membuat segalanya memang begitu indah untuk dikenang.

"Baku tukar maki. (Tukaran yuk).  Kau di pemprov, saya di Enrekang," cetus seorang kawan sesaat melihat foto saya yang sedang bersantai (padahal narsis) di halaman sayur seorang kawan lainnya.

Saya hanya tertawa saja menanggapi keinginan terpendamnya itu. Jauh hari, ia semakin rindu untuk lebih banyak bercumbu dengan alam pegunungan kampung halamannya. Kawan saya itu justru lebih asli pribumi, ketimbang saya yang berdarah Jawa. Toh, bapak dan ibunya memang keturunan asli Bumi Massenrempulu. Sungguh beda dengan saya, yang hanya menumpang lahir dan hidup di tanah Duri.

Sayangnya, ia justru dirolling ke desk pemprov. Kerjanya tiap hari standby di ruang ber-AC kantor gubernuran bersama belasan wartawan media lainnya. 

"Kangenku mi kampung. Setahun tak pulang-pulang," ujarnya lagi menanggapi percakapan kami yang selalu diwarnai sumpah serapah.

Saya sebenarnya turut prihatin dengan perasaannya itu. Bagaimana tidak, saat masih bertugas di kota yang sama; Makassar, saya paham rasanya disibukkan rutinitas deadline yang mencekik tiap hari. Ditambah, tuntutan kantor yang terkadang di luar batas kemampuan (atau kemauan) kami sebagai anak muda. Malangnya lagi, rutinitas itu masih berujung dengan rutinitas "setor muka" di kubikel-kubikel redaksi, selayaknya karyawan kantoran. 

Skenario semesta siapa yang sangka? Mengawali tahun 2017 kemarin, kami hanya bisa menebak-nebak, siapa wartawan yang bakal "dibuang" lintas daerah. Pilihan prioritas biasanya para personel yang berasal dari daerah bersangkutan. Entah pertimbangan apa, saya justru menjadi wartawan yang terbuang itu. Padahal, kalau dipikir-pikir, timbangan berat badan kawan saya itu jauh lebih berat dan akurat.

Dan Accio! Disinilah saya berada. Menikmati setiap waktu yang menjalar di lekuk pegunungan. Saya tak lagi terpaku dengan besaran penghasilan saya, yang tentunya jauh berbeda dari perkotaan. Selama bisa mencukupi diri (dan sekolah adik saya) dan untuk berbagi tongkrongan kopi-susu dengan teman-teman lainnya, saya sudah nrimo. Penurunan finansial itu justru terbayar lunas dengan waktu-waktu saya nikmati disini. Karena pada hakikatnya, tak ada waktu yang benar-benar bisa dibeli dengan uang, bukan? Toh, saya masih bisa menggondol notebook anyar dari kehidupan yang pas-pasan ini.

Sedari lahir, kita hanya dibekali waktu. Namun tanpa sadar malah dibeli dengan materi (uang).

Berbagai hal mulai saya tuntaskan di tempat ini. Bagaimana bisa mulai mengerjakan hal-hal di luar kesibukan, termasuk menamatkan target bacaan buku. Bagaimana lebih banyak menjelajah ke tempat-tempat yang hanya pernah terlintas namanya saat masih remaja. Bahkan bersama teman-teman baru, yang menjalin perkenalan dalam seminggu atau bahkan hanya sehari.

Rasanya lebih menakjubkan dan benar-benar menyenangkan. Meskipun perjalanannya terkadang melelahkan, dan mengundang kekesalan. Lebih sering penyesalan. Akan tetapi, hal-hal semacam itu ibarat menyantap masakan pedas saja. Rasa membakar lidahnya hilang seiring kita menyadari bahwa: saya ternyata sudah kenyang.

Pastinya, saya tak perlu tergesa-gesa ke kantor super mewah, menekan tombol angka 4 dari dalam lift, sembari terus berpikir rencana peliputan esok hari untuk diajukan di hadapan meja redaktur, Alih-alih berharap lega setelah meliput seharian, justru gejala migrain yang muncul (gara-gara omelan redaktur). Kalau tak piket, pulang kantor tetap bahkan menyentuh angka nyaris tengah malam. Wiuw...

Dan sekali lagi, Tuhan memang tak pernah salah mengatur semesta untuk siapa saja di muka bumi ini, Skenarionya tersusun sangat-teramat rapi. Sampai saya sudah sewajarnya khawatir, jangan-jangan... jodoh saya pun disini. #ehhh

Kapan lagi bisa menikmati kopi-susu, buku, dan pagi yang hijau semacam ini? (Foto: Ardiansyah)

--Imam Rahmanto--

2 komentar:

  1. kayaknya kalimat terakhir jadi pemantik untuk setia dan mencintai alam pegunungan lho .. Hee

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hahaha...Kalau ada yang cocok sih. 😅

      Hapus