Kamis, 18 Mei 2017

Wangi Catatan


Matahari sedang terik di luar sana. Saya memilih mampir di warkop langganan, sekadar menyisakan ruang kafein dalam lambung. Barangkali uapnya bisa menjelma sedikit inspirasi di kepala.

Enrekang masih begitu panas untuk ukuran daerah di luar kota metropolitan. Tetapi, suhu 30 derajatnya masih cukup wajar di areal ibukotanya. Sejam lagi ke arah utara, udara dingin baru bisa menjadi oleh-oleh bagi sekujur tubuh.

Seorang teman telah lebih dulu duduk di salah satu meja. Ia ditemani dua orang kawannya yang saling berhadapan. Satunya entah sedang menjelaskan apa. Dari hasil curi-curi dengar, saya menduga ia sedang mempresentasikan usaha MLM. Sementara teman saya itu hanya menyimak dua orang di seberang mejanya.

Beberapa menit duduk di salah satu sudut warkop, teman saya bergegas menghampiri. Bertanya basa-basi dari liputan dimana?, sembari duduk di depan meja. Saya menduga, ia sengaja menghindar dari presentasi MLM kawannya itu.

"Eh, darika tadi dari partai A. Ketuanya tadi nelepon, minta ketemu. Dia kasihka data......," ucapnya menjelaskan sesuatu. 

Sebenarnya, saya tidak begitu tertarik bahasan politik. Seminggu belakangan, atmosfer politik di daerah kami mulai memanas. Baru warming-up sih. Saban hari, ada panggilan para wartawan untuk liputan di kantor partai A, B, C, dan lainnya. Padahal, situasi itu baru pengambilan formulir bagi bakal calon. Belum kontestasi Pilkada sesungguhnya.

Yah, namanya juga pencitraan.

Semisal kandidat A ambil formulir di partai X atau Z, wajar kami mengejarnya untuk bahan liputan. Akan tetapi, kebiasaan itu semakin memuakkan saat si kandidat A juga memanggil kami untuk pengembalian formulirnya. Apalagi kata-kata yang disampaikannya juga nyaris sama dan seragam. Tak ada variasi apalagi inovasi. Jangan heran jika di media online daerah, seminggu terakhir berbau politik. Salah seorang teman saya sampai bosan mengisi halaman portalnya dengan tema politik.

Sebenarnya hal yang wajar. Selain para kandidat yang mengejar pencitraan, beberapa wartawan juga ikut mengejar imbalan. Hahahaha...

"Berapa persentasenya?" tanya saya menanggapi penjelasannya, yang saya sendiri ragu apakah saya mengerti atau tidak.

Ia langsung beranjak dari depan saya. Sekembalinya, ia menyodorkan sebuah buku catatan usang di hadapan saya. Tentu saja, dengan tulisan ala kadarnya. 

"Itu catatanku. Bisa ji dibaca tulisannya?" 

Saya jawab saja, "Tulisanmu masih sangat indah kok," yang langsung dibalasnya dengan gelak tawa karena tahu saya sedang berdusta.

Meski begitu, saya akui tulisannya masih tergolong tertib untuk ukuran kami para wartawan. Kata-katanya masih terangkai kalimat, bahkan sampai paragraf. Padahal, untuk mencatat, kami biasanya hanya menulis garis-garis pokoknya saja. Selain pemilik catatan, pasti takkan mengerti maksud dari tulisan-tulisan cakar ayam

Tulisan tangan kawan saya. (Imam Rahmanto)

Sayangnya, saya sendiri sudah lama tak lagi menggoreskan pulpen di atas kertas. Meskipun sebenarnya dalam ransel saya selalu tersedia pulpen dan blognote. Terakhir kali....barangkali saat menandatangani absensi tamu di seremoni pemerintahan. Hahaha.... 

Hal itu justru membuat saya merasa rindu dengan aroma pulpen dan kertas. Betapa saya dulu teramat karib dengan pulpen dan blognote. Saking karibnya, saya pernah mencetak secara manual blognote sesuai desain pribadi. saat masih aktif sebagai pers mahasiswa (persma). Berpuluh-puluh kertas saya potong sendiri, sampul di-print sendiri, sampai dibundel juga pakai tenaga pribadi. Teman-teman sampai menimbang-nimbang agar saya membuka usaha percetakan di kemudian hari.

Saat menginjak usia Sekolah Dasar (SD), tulisan indah saya tak pernah luput dari angka sempurna. Saya cuma punya satu pesaing di sekolah. Meski begitu, buku catatan kami (berdua) selalu diburu teman-teman semasa sekolah. Bisa dibilang, buku catatan kami berdua yang paling lengkap. Teman-teman tak pernah segan menyalinnya dengan mesin foto copy.

Hal tersebut berlangsung selama bertahun-tahun. Bahkan, saya pernah hampir dibuat menitikkan air mata, karena fotokopian catatan itu tetap bertahan, Ternyata guru kami menjadi catatan-catatan itu sebagai pedoman belajar generasi-generasi selanjutnya. Saya tahu, lantaran adik saya memamerkan lembaran fotokopian mata pelajaran miliknya. "Tulisanmu ini toh, Kak?" sodornya memperlihatkan materi dari gurunya.

Masa-masa itu, gadget belum berkuasa. Teknologi masih berpuasa.

Teramat berbeda dengan masa kini. Kami malah lebih karib dengan tulisan seragam Arial atau Times New Roman. Tak perlu coretan jika ingin menghapus. Tombol delete atau backspace sudah sangat membantu. Istimewanya, karena kami bisa menyimpannya beribu-ribu paragraf tanpa perlu cemas kehabisan kertas.

Saya kagum dengan orang-orang yang masih bertahan dengan buku dan pulpennya. Apalagi, saya cukup mengenalnya sebagai orang yang agak lambat-loading. Bukannya tersisih dari peradaban, para pencatat sepertinya justru melestarikan peradaban itu. Bagi saya, goresan tangan juga selalu mencerminkan tingkat kedewasaan setiap manusia. Tak heran kalau tulisan tangan kita cenderung berubah setiap kali memasuki usia-usia yang lebih tinggi. Yah, karena setiap orang pasti akan beranjak dewasa.

"Saya cuma terngiang-ngiang katanya Pak Wakil (Bupati) dulu. Katanya, apapun profesimu, biar PNS, karyawan, guru, atau wartawan, selalu sertakan buku catatan kecil. Karena kepala tidak bisa menjamin bisa menampung semua ingatan," ujarnya. #jlebb

Saya tercenung.

Apa yang dikatakan ada benarnya juga. Itu memang esensi sebuah catatan; membantu ingatan agar tetap bertahan.

Paling tidak, beruntunglah saya masih punya tempat mencatat di "rumah" ini, untuk menyimpan berbagai macam catatan (perjalanan) hidup. 

Saya tak peduli, apakah orang lain akan mengerti atau tidak. Karena seperti catatan, yang biasanya memang hanya dimengerti penulisnya. Saya juga setidaknya berharap, kelak catatan-catatan saya menjadi ke(se)nangan dan catatan baru bagi orang lain. Kata mbah Pramoedya, begitulah cara kami bekerja untuk keabadian...

Oke, besok-besok, saya mau lebih banyak mencatat di buku


--Imam Rahmanto--

Tidak ada komentar:

Posting Komentar