Sabtu, 27 Mei 2017

Puasa dan Harapan

Mei 27, 2017
Sungguh malang rasanya puasa pertama tanpa keluarga. Apalagi tanpa istri dan anak-anak. *Eh, eh...saya memang belum menikah.

Sebenarnya, saya merindukan bisa menyantap sahur dan berbuka bersama keluarga. Entah bagaimana, mengawali Ramadan bersama keluarga itu rasanya tak terlupakan. Apa pun sajiannya, bagi saya, tak pernah jadi tolok ukur.

Asalkan bisa melihat mamak yang ngomel-ngomel membangunkan anaknya di waktu sahur, melihatnya yang sibuk di dapur sembari merasai aroma hidangan yang masih panas, menunggui di depan tivi bersama bapak dan adik, sesekali bertengkar dan mengganggui adik, hingga harus mengalihkan pembicaraan bapak kalau sudah nyerempet yang berat-berat,

Tahun lalu, saya memulai puasa pertama bersama bapak dan mamak. Meski kami membuka awal Ramadan itu dengan kondisi bapak yang terbaring di rumah sakit, saya diam-diam tetap menikmatinya. Bukan soal makanannya yang hanya berbekal seduhan mie instan. Saya justru sangat bersyukur bisa diberikan kesempatan untuk berkumpul dengan keluarga. Kehidupan dewasa terlalu banyak menjauhkan saya dari keluarga.

Kini, giliran saya yang harus memendam rindu untuk keluarga. Saya menjalani puasa di tanah kelahiran sendiri. Akan tetapi, rasa-rasanya tetap seperti anak rantau. Suasananya tetap saja berbeda dibanding masa remaja dulu. Ditambah, tuntutan pekerjaan masih menggantung di sekeliling kepala.

Di sisi lain, saya bersyukur untuk keduanya. Mereka kini bisa menikmati rindu dari dekat. Tahun-tahun sebelumnya telah dihabiskan keduanya dengan menitip salam kepada simbah dan keluarga lain lewat sambungan telepon. Mereka tak perlu lagi menyisakan uang sekadar mudik lintas pulau. Rindu keduanya terbayar lunas dengan menjalani puasa di kampung halaman.

"Tidak pulang kampungki?" tanya seorang paman di warkop langganan, yang mengenal saya berasal dari Tanah Duri.

Saya hanya menjawabnya dengan meringis. Menekankan kata tidak dengan sedikit bumbu penjelasan seperti yang sudah-sudah.

Saya mau pulang kemana? Sementara perasaan pulang sejati adalah ketika bisa berkumpul di pelukan keluarga.

Sementara itu, banyak harapan yang membuncah dengan kesempatan Ramadan kali ini. Karena, sejujurnya, puasa tahun lalu tak begitu sempurna bagi saya. Puasa sih tetap sebulan penuh. Pantang bagi lelaki untuk berpuasa setengah hati dan setengah hari. Sayangnya, ibadah-ibadah yang menyertainya itu loh tak bisa dipertanggungjawabkan. Hitungan shalat tarawih saya bahkan bisa dihitung jari. Saya lupa berapa kali tarawih tahun lalu. Seingat saya, barangkali tak cukup mencapai angka sepuluh.

Nah, di daerah yang jauh dari hiruk-pikuk modernitas, saya pikir bakal sanggup melunasinya. Dua malam pertama, saya sukses mengisi tarawih di dua masjid berbeda. *Ceilehh...sombong dikit. Haha... doakan dong supaya bisa bertahan sampai akhir Ramadan. *Amin

Tadarusan juga masih seadanya. Saya seakan merasa bersalah dengan masa lalu. Di masa remaja, saya bahkan bisa menamatkan sampai tiga kali dalam sebulan Ramadan. Waktu menunggui pagi lebih banyak saya habiskan dengan mengeja kitab suci. Sungguh jauh berbeda dengan sekarang, yang hanya bisa dihabiskan dengan tidur selepas sahur. Parahnya, bisa bangun jelang tengah hari. *Ya Tuhan, ampuni saya. Apa pekerjaan terlalu menjajah sejauh ini ya?

Saya benar-benar berharap bisa memperbaiki segalanya bulan ini. Kalau tak bisa total, perlahan saja tak mengapa. Niat dari dasar hati pun sudah bernilai pahala kok. Innamal a'malu binniyat. Intinya, lebih baik ketimbang tahun lalu.

(Imam Rahmanto)


--Imam Rahmanto--

Jumat, 26 Mei 2017

Mengalir

Mei 26, 2017
"Hei, lagi dimana?" tanya sebuah suara dari seberang telepon.

Belum tengah hari, salah seorang kawan menyambungkan telepon. Seperti biasa, saya hanya bisa menebak-nebak urusannya, yang tentu berkaitan liputan. Saya mengenalnya sebagai salah satu pegiat literasi dan wisata. Nasib para jurnalis.

"Yah, lagi di Enrekang, seperti biasa," jawaban yang agak ngeles dari keadaan sebenarnya bahwa saya baru dibangunkan oleh dering telepon barusan.

"Ada ajakan Pak Kadis ke Maroangin. Ayo kesana survei sungai buat wisata," jelasnya lagi.

"Tenang, kita naik mobil saja sama-sama," tambahnya lagi menebak-nebak kebiasaan saya yang lebih suka berkendara motor. Tetapi untuk urusan arah daerah selatan, saya lebih condong menumpang roda empat.

***
Bersama tim dadakan menyusur sungai. (Imam Rahmanto)

Melihat hijau diantara belantara dan bebatuan sebenarnya sudah bisa membuat mata saya melotot senang. Apalagi dengan rencana kawan saya menjajal area water tubing di sebuah sungai Maroangin. Sayangnya, ia tidak menjelaskan secara terperinci rencananya untuk berbasah-basah a.k.a mandi diantara aliran kalem sungai itu. Jadinya, saya hanya bisa menampung keinginan untuk terjun diantara ban-ban dan pelampung.

Masyarakat menamainya sebagai Laburang Gallang. Mitosnya, pernah suatu ketika orang tenggelam di sungai tersebut dan hanya menyisakan gelangnya. Oleh karena itu, dinamai menjadi embel-embel Gallang, yang dalam bahasa daerah setempat artinya gelang.

Sebenarnya, dibandingkan destinasi lain, tak ada yang begitu istimewa disana. Hanya saja, bagi saya, menyusur sungai semacam itu seolah melempar saya di masa ingusan dulu.

"Bagaimana? Apa kita susuri dulu sungainya dari sini jalan kaki? Atau naik mobil saja ke hulu, baru pulangnya nanti jalan kaki?" tawaran untuk menyaksikan kondisi sungai perawan itu.

Sungainya yang unik semakin membuat kami sumringah untuk berjalan-jalan. Bebatuannya seolah dicor atau aspal sehingga tak terpisah satu sama lain. Beberapa diantaranya bahkan membentuk pola tertentu. Kami sampai dibuat bertanya-tanya, "Ini zaman dahulu ratusan tahun sudah dipakaikan aspal, tetapi proyeknya mandek, kayaknya."

Keesokan harinya, teman sesama jurnalis ini harus memijat-mijat kakinya. (Imam Rahmanto)

Saya bukan orang yang mahir berenang. Untuk terapung sekalipun, saya tak menguasainya. Akan tetapi, sungai seolah menjadi salah satu bagian masa kecil saya. Sebagian permainan masa kecil tak jarang kami lakukan di sungai.

Zaman sekolah dulu, teman-teman lebih karib berenang di sungai. Ada sungai yang tak jauh dari tempat kami bersekolah. Mereka tentu tak lupa mengajak saya di jam-jam belajar. Sayangnya, dasar anak kalem dan penurut, saya hanya bisa menolak. Kata saya, "Nanti dimarahi bapak guru."

Kata-kata itu terbukti ketika seluruh teman kelas saya, yang laki-laki, dihukum berdiri di depan kelas. Cuma saya dan seorang teman yang bebas hukuman dari guru agama itu. Tapi, tahukah, saya baru menyesal hari ini. Kenapa saya juga tidak ikut menikmati masa-masa bandel itu?

Sungai pula yang menghubungkan bapak dengan hobinya di masa lalu. Ia dan kawannya kerap menikmati berburu belut atau ikan di sungai. Peralatan memancingnya (listrik) cukup sederhana, hanya dengan aki dan sambungan-sambungan kawat dan kabel. Sebagai lulusan sekolah kejuruan, ia sudah paham betul bagaimana rangkaian listrik bekerja. Saya mewarisi sedikit ilmunya saat menginjak usia SMP. Sekarang sudah lupa.

Tak heran jika saya cukup menikmati menyusuri aliran sungai Laburang Gallang tersebut. Kaki saya seolah melompat-lompat sendiri diantara bebatuan. Sialnya, saya hanya bisa berharap dan merutuk seandainya memakai sendal sebelum beranjak ke Maroangin. Sepatu terpaksa ditenteng kemanapun saya melangkah.

Yah?? (Azis Albar)

Yah, paling tidak saya mendapatkan sedikit hiburan di tengah-tengah padatnya liputan. Saya sengaja memadatkan liputan bulam ini demi menggenapi target. Imbasnya, banyak hal yang terlewat belakangan ini. Khususnya untuk dikisahkan.

"Kami pun justru ingin kembali jadi reporter, supaya bisa jalan-jalan. Daripada harus keluar-masuk kantor tiap hari," pesan seorang redaktur.

***

Saya bahkan belum menuntaskan misi mendaki puncak The 7 Summits of Indonesia. Salah seorang teman masih mencicil jadwalnya agar bisa mendampingi dalam perjalanan yang hendak dipawanginya itu. Sementara teman lainnya masih harus berurusan dengan berbagai macam kesibukan sebagai pemilik usah percetakan sekaligus pegiat wisata.

Ditambah, cuaca juga selalu tak bisa ditebak arahnya. Akhir-akhir ini, kota kami mulai jadi langganan hujan. Beberapa jam yang lalu saya tak bisa angkat kaki dari warung kopi langganan karena hujan tetiba mengguyur. Tetapi, saya cukup menikmatinya.

Seminggu belakangan, saya tidak beranjak kemana-mana. Pun, saya tak bisa menghadiri acara peringatan ulang tahun LPM Profesi di Makassar. Salah satu dari sekian alasan, saya didapuk membawakan materi dalam Kemah Pustaka di kota ini. Keesokan harinya, kami (para jurnalis) harus menghadiri pelantikan besar-besaran salah satu ketua partai politik (parpol) di daerah ini.

Kapan-kapan, mau cari sungai yang airnya dingin. (Azis Albar)

Oh ya, Selamat menjalankan ibadah puasa...


--Imam Rahmanto--

Kamis, 18 Mei 2017

Wangi Catatan

Mei 18, 2017

Matahari sedang terik di luar sana. Saya memilih mampir di warkop langganan, sekadar menyisakan ruang kafein dalam lambung. Barangkali uapnya bisa menjelma sedikit inspirasi di kepala.

Enrekang masih begitu panas untuk ukuran daerah di luar kota metropolitan. Tetapi, suhu 30 derajatnya masih cukup wajar di areal ibukotanya. Sejam lagi ke arah utara, udara dingin baru bisa menjadi oleh-oleh bagi sekujur tubuh.

Seorang teman telah lebih dulu duduk di salah satu meja. Ia ditemani dua orang kawannya yang saling berhadapan. Satunya entah sedang menjelaskan apa. Dari hasil curi-curi dengar, saya menduga ia sedang mempresentasikan usaha MLM. Sementara teman saya itu hanya menyimak dua orang di seberang mejanya.

Beberapa menit duduk di salah satu sudut warkop, teman saya bergegas menghampiri. Bertanya basa-basi dari liputan dimana?, sembari duduk di depan meja. Saya menduga, ia sengaja menghindar dari presentasi MLM kawannya itu.

"Eh, darika tadi dari partai A. Ketuanya tadi nelepon, minta ketemu. Dia kasihka data......," ucapnya menjelaskan sesuatu. 

Sebenarnya, saya tidak begitu tertarik bahasan politik. Seminggu belakangan, atmosfer politik di daerah kami mulai memanas. Baru warming-up sih. Saban hari, ada panggilan para wartawan untuk liputan di kantor partai A, B, C, dan lainnya. Padahal, situasi itu baru pengambilan formulir bagi bakal calon. Belum kontestasi Pilkada sesungguhnya.

Yah, namanya juga pencitraan.

Semisal kandidat A ambil formulir di partai X atau Z, wajar kami mengejarnya untuk bahan liputan. Akan tetapi, kebiasaan itu semakin memuakkan saat si kandidat A juga memanggil kami untuk pengembalian formulirnya. Apalagi kata-kata yang disampaikannya juga nyaris sama dan seragam. Tak ada variasi apalagi inovasi. Jangan heran jika di media online daerah, seminggu terakhir berbau politik. Salah seorang teman saya sampai bosan mengisi halaman portalnya dengan tema politik.

Sebenarnya hal yang wajar. Selain para kandidat yang mengejar pencitraan, beberapa wartawan juga ikut mengejar imbalan. Hahahaha...

"Berapa persentasenya?" tanya saya menanggapi penjelasannya, yang saya sendiri ragu apakah saya mengerti atau tidak.

Ia langsung beranjak dari depan saya. Sekembalinya, ia menyodorkan sebuah buku catatan usang di hadapan saya. Tentu saja, dengan tulisan ala kadarnya. 

"Itu catatanku. Bisa ji dibaca tulisannya?" 

Saya jawab saja, "Tulisanmu masih sangat indah kok," yang langsung dibalasnya dengan gelak tawa karena tahu saya sedang berdusta.

Meski begitu, saya akui tulisannya masih tergolong tertib untuk ukuran kami para wartawan. Kata-katanya masih terangkai kalimat, bahkan sampai paragraf. Padahal, untuk mencatat, kami biasanya hanya menulis garis-garis pokoknya saja. Selain pemilik catatan, pasti takkan mengerti maksud dari tulisan-tulisan cakar ayam

Tulisan tangan kawan saya. (Imam Rahmanto)

Sayangnya, saya sendiri sudah lama tak lagi menggoreskan pulpen di atas kertas. Meskipun sebenarnya dalam ransel saya selalu tersedia pulpen dan blognote. Terakhir kali....barangkali saat menandatangani absensi tamu di seremoni pemerintahan. Hahaha.... 

Hal itu justru membuat saya merasa rindu dengan aroma pulpen dan kertas. Betapa saya dulu teramat karib dengan pulpen dan blognote. Saking karibnya, saya pernah mencetak secara manual blognote sesuai desain pribadi. saat masih aktif sebagai pers mahasiswa (persma). Berpuluh-puluh kertas saya potong sendiri, sampul di-print sendiri, sampai dibundel juga pakai tenaga pribadi. Teman-teman sampai menimbang-nimbang agar saya membuka usaha percetakan di kemudian hari.

Saat menginjak usia Sekolah Dasar (SD), tulisan indah saya tak pernah luput dari angka sempurna. Saya cuma punya satu pesaing di sekolah. Meski begitu, buku catatan kami (berdua) selalu diburu teman-teman semasa sekolah. Bisa dibilang, buku catatan kami berdua yang paling lengkap. Teman-teman tak pernah segan menyalinnya dengan mesin foto copy.

Hal tersebut berlangsung selama bertahun-tahun. Bahkan, saya pernah hampir dibuat menitikkan air mata, karena fotokopian catatan itu tetap bertahan, Ternyata guru kami menjadi catatan-catatan itu sebagai pedoman belajar generasi-generasi selanjutnya. Saya tahu, lantaran adik saya memamerkan lembaran fotokopian mata pelajaran miliknya. "Tulisanmu ini toh, Kak?" sodornya memperlihatkan materi dari gurunya.

Masa-masa itu, gadget belum berkuasa. Teknologi masih berpuasa.

Teramat berbeda dengan masa kini. Kami malah lebih karib dengan tulisan seragam Arial atau Times New Roman. Tak perlu coretan jika ingin menghapus. Tombol delete atau backspace sudah sangat membantu. Istimewanya, karena kami bisa menyimpannya beribu-ribu paragraf tanpa perlu cemas kehabisan kertas.

Saya kagum dengan orang-orang yang masih bertahan dengan buku dan pulpennya. Apalagi, saya cukup mengenalnya sebagai orang yang agak lambat-loading. Bukannya tersisih dari peradaban, para pencatat sepertinya justru melestarikan peradaban itu. Bagi saya, goresan tangan juga selalu mencerminkan tingkat kedewasaan setiap manusia. Tak heran kalau tulisan tangan kita cenderung berubah setiap kali memasuki usia-usia yang lebih tinggi. Yah, karena setiap orang pasti akan beranjak dewasa.

"Saya cuma terngiang-ngiang katanya Pak Wakil (Bupati) dulu. Katanya, apapun profesimu, biar PNS, karyawan, guru, atau wartawan, selalu sertakan buku catatan kecil. Karena kepala tidak bisa menjamin bisa menampung semua ingatan," ujarnya. #jlebb

Saya tercenung.

Apa yang dikatakan ada benarnya juga. Itu memang esensi sebuah catatan; membantu ingatan agar tetap bertahan.

Paling tidak, beruntunglah saya masih punya tempat mencatat di "rumah" ini, untuk menyimpan berbagai macam catatan (perjalanan) hidup. 

Saya tak peduli, apakah orang lain akan mengerti atau tidak. Karena seperti catatan, yang biasanya memang hanya dimengerti penulisnya. Saya juga setidaknya berharap, kelak catatan-catatan saya menjadi ke(se)nangan dan catatan baru bagi orang lain. Kata mbah Pramoedya, begitulah cara kami bekerja untuk keabadian...

Oke, besok-besok, saya mau lebih banyak mencatat di buku


--Imam Rahmanto--

Senin, 15 Mei 2017

Tanggung

Mei 15, 2017
(doc by: Dewi Rahmayanti)

"Doakan saya ya, Kak. Mudah-mudahan bisa lulus," ujar suara dari ujung telepon.

Saya mengiyakannya, sembari mengamini dalam hati. Meskipun saya ragu, apakah Tuhan masih berminat menagabulkannya. Shalat Subuh saya sekarang mulai putus-nyambung-putus-nyambung. Hanya empat waktu saja yang masih bertahan dan tak lekang oleh kesibukan. 

Adik perempuan saya, Dewi, bakal mendaftar di perguruan tinggi tahun ini. Setahun lalu, ia tak lulus di perguruan tinggi idamannya di kota Makassar. Berharap di salah satu perguruan tinggi swasta, ia terpaksa harus mengubur impiannya bersekolah selepas SMA. Kakak lelakinya tak mampu menanggung total nominal masuk ke salah satu perguruan tinggi swasta disana. 

Ia pun tak memaksakan keinginannya untuk lanjut ke jenjang tersebut. Alasan kedua yang lebih dominan, saya usulkan, agar ia punya lebih banyak waktu menjaga Bapak. Tahun itu bertepatan dengan keinginan Bapak-Mamak untuk menghabiskan masa tua di tanah kelahirannya. Saya sekaligus menyarankan saja padanya mengisi waktu "menunggu-tahun-depan" itu dengan menjagai Bapak-Mamak (sekaligus simbah yang tinggal sendirian) di Jawa.

Saya sudah pernah menjanjikan tahun ini adalah tahun miliknya. Tentu saja, tanpa perlu berharap pada kedua orang tua kami. Bapak sudah tak bisa bekerja semenjak digerogoti paraplegia-nya. Sementara Mamak, bagi saya, hanya perlu menjadi istri yang baik bagi suami yang dikasihinya. Selain itu, simbah (nenek) juga butuh perhatian Mamak sebagai anak angkat satu-satunya, setelah ditinggal mendiang kakek.

"Iya, terserah kau pilih jurusan apa. Asalkan kau suka, ya ndak masalah," saya membebaskannya untuk memilih kampus di Jawa. Kelak, ia juga akan menyadari, memilih jurusan kuliah tak berarti memilih tujuan hidup. Keduanya tak sebanding dan kerap justru berbanding terbalik.

Kebebasannya bukan hal mudah. Lelaki, entah kata siapa, yang bisa dipegang adalah janjinya. Dan, saya sudah mengiming-imingi "sekolah" baginya. Seberapa besar beban yang bakal saya tanggung, tentu sudah jadi bagian dari menggantikan seorang Bapak. Anggap saja, ini ujian pertama dari Tuhan sebelum saya harus menanggung masa depan seorang istri dan anak-anak sekaligus.

"Ya, tidak usah dipikirlah, Pa'. Biar saya saja yang pikirkan semuanya," ujar saya, selalu, jika Bapak sudah mulai ngelantur soal biaya dan semacamnya untuk anak bungsunya. 

Sejak berselisih jalan dengan keinginan Bapak; yang menginginkan anaknya sebagai abdi negara, saya sudah mematok jalan agar tak meminta apa-apa lagi dari Bapak. Dimulai saat kuliah yang melewati masa normal empat tahun, hingga masa saya benar-benar "membelot" dari anjurannya agar menjadi PNS. Pada kenyataannya, saya memang harus membuktikan bahwa saya bisa menjalani hidup sebaik-baiknya dari passion saat ini. 

Saya hanya membutuhkan restu dari lelaki keras itu agar bisa baik-baik menjalani hidup. Rasa penerimaannya jauh lebih berarti dibanding harta yang barangkali bisa diwariskannya kelak. Adik saya, tentu tak perlu jadi beban pikirannya pula. Cukuplah ia kembali menghidupkan rasa cintanya pada Mamak (dan pastinya Tuhan) yang pernah nyaris disia-siakannya.

"Kalau seandainya tidak lulus, kau pilih saja kampus yang dekat-dekat dari situ nah. Yang penting kau kuliah saja dulu," tekan saya.

Bagaimana pun, saya juga tak boleh membandingkan ia dengan kakak lelakinya yang dulu selalu menjadi kebanggaan orang tua dalam hal akademik. Ia punya keterbatasan. Untuk itu pula tak sempat mencicipi tahun pertamanya. 

Seperti yang saya katakan, kuliah hanya jadi proses dalam menjalani pemikiran yang dewasa. Dimana pun kampusnya, ia tentu bakal belajar untuk menemukan tujuan hidupnya. 

Saya berangsur-angsur harus belajar menjadi orang yang paling diandalkannya. Saya tak bisa lagi menjadi kakak yang kerjanya hanya membuat menangis karena berebut mainan, seperti 12 tahun silam. Atau kakak yang tak suka makanannya diambil separuh. Atau kakak yang selalu mengolok-olok adiknya lantaran tak bisa berbahasa ibu. 

Yang terpenting kini, saya tak perlu lagi menghalangi keinginannya mencicipi bangku kuliah dengan alasan-alasan klasik. Betapa jahatnya jika saya mengulangi alasan yang sama. Tahun ini adalah tahunnya. Untuk sisanya, biarkan Tuhan yang mengatur...

"Doakan betulan ka nah?" ulangnya lagi.

Tentu saja, doa kakakmu ini harus selalu menyertaimu...



--Imam Rahmanto--

Selasa, 09 Mei 2017

Berbeda

Mei 09, 2017

Saya pernah hidup di lingkungan orang yang benar-benar menjunjung tinggi nilai keagamaan. Saat kuliah dulu, saya aktif di salah satu organisasi internal jurusan. Yah, sebenarnya bukan organisasi seperti umumnya, karena strukturnya menjadi bagian dari jurusan itu sendiri. Tugasnya secara khusus memang menjadi "tangan kanan" bagi dosen-dosen mata kuliah tertentu. Tentunya, yang berkaitan dengan komputer.

Hampir setiap minggu, kami bertugas mengajarkan program atau aplikasi komputer pada mata kuliah bersangkutan. Paling banyak terkait pemrograman komputer hingga hitung-hitungan statistik. Sekali-kali menerima tawaran untuk melakukan perbaikan komputer dan jaringan. Istimewanya, menjadi "dosen" dadakan bagi mahasiswa kampus tetangga yang berniat belajar mata kuliah serupa.

Sebagai bawahan dosen, tentu kami patut berbangga. Kami juga memperoleh honorarium dari kerja keras kami di ruang-ruang yang dipenuhi komputer itu. Meski tak seberapa, namun selalu menggiurkan bagi mahasiswa seperti kami yang hanya bisa mengandalkan uang dari kiriman bulanan. 

Selain honorarium, semuanya terjamin. Makan siang. Tempat tidur siang. Tempat bermalam. Tempat belajar. Hubungan akrab ke dosen, yang tentu membuka peluang beasiswa. Kelanjutannya, bisa saja menjadi dosen pengganti. 

Saya cukup menikmati kesibukan sebagai bagian dari "asisten dosen" tersebut. Sayangnya, semakin lama justru membuat saya tak betah. Ada sesuatu yang hilang diantara kehidupan dalam kampus saya itu.

Entahlah. Segala kenyamanan itu justru mengungkung perasaan bebas saya. Dalam lubuk hati, saya justru merasa terpenjara. Sejujurnya, ada hal-hal tertentu yang berusaha disembunyikan dari tawa-tawa kami di dalam sana. Rasa segan dan kesopanan diantara kami seolah menumpuk beban di kepala. Hati saya memberontak.

Yah, mungkn itu hal yang wajar. Kami, yang bergabung dalam lingkungan itu menjunjung tinggi adab dan etika dalam berinteraksi. Demi makan siang pun, kami harus bergantian memakai salah satu ruang pantry dengan anggota wanita. 

Kadaaan berbalik saat saya aktif di organisasi kampus lainnya. Organisasi ini dihuni oleh mahasiswa-mahasiswa dari jurusan berbeda. Bahkan, kami berasal dari fakultas yang berseberangan.

Akan tetapi, saya menemukan sebenar-benarnya "keluarga" dari tempat ini. Saya mendapatkan kebebasan seperti yang diidam-idamkan. Tak ada lagi namanya "membohongi kata hati". 

Tak ada batasan yang harus memaksa saya menyembunyikan jati diri saya. Saya ingin tertawa, ya tertawa saja. Kami ingin mengolok-olok, justru menjadi bahan olok-olokan. Dicaci maki pun jadi hal biasa. Kalau soal air mata, teman-teman kami sudah terbiasa. Pun, di depan teman-teman lain.

Tanpa hal-hal yang menggiurkan, seperti di lingkungan sebelumnya, saya tetap menyukai berada diantara teman-teman yang aktif sebagai tukang ketik berita itu. Saya bebas menjadi apa adanya saya. Tak perlu menyembunyikan bagaimana usilnya tingkah laku saya. Saya menjadi apa yang memang saya inginkan, bukan diinginkan orang lain.

Pernahkah kita melihat meme atau anekdot tentang sebuah persahabatan? Bahwa sahabat sebenarnya justru menertawakan segala tingkah laku kita. Sementara teman, hanya mengomentari sekadarnya sambil mengatasi rasa segannya.

"Semoga cepat sembuh ya," kata teman.

"Cemen. Masa sakit begitu? Pasti kekurangan belaian kasih sayang. Dasar jomblo," kata orang terdekat atau sahabat.

Ketika kita sedang sakit, teman baik hanya mendoakan agar cepat sembuh. Sementara sahabat terbaik justru mengolok-olok dan menjadikannya bahan candaan. Meski begitu, kita akan selalu tahu bahwa dalam lubuk hatinya ia terus saja membisikkan kata-kata "cepatlah sembuh".

(Foto: Imam Rahmanto)
Dalam berbagai lingkungan, saya hanya mencoba jadi apa adanya. Tak perlu menyembunyikan hal-hal yang membuat nurani bergejolak. Ingin menjadi anak-anak, saya tak perlu menyembunyikan kegemaran menonton kartun. Saya juga tetap bebas membeli es tontong yang lewat di depan saya. Pun, saat ingin menjadi idealis, saya tak perlu segan mengangkat berita yang realistis. 

Ini hanya persoalan menjadi apa yang diinginkan nurani. Karena saya selalu percaya, kata hati membisikkan kebenaran sejati. 

Barangkali, membandingkan dua lingkungan itu sama halnya dengan pro-kontra seorang Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok. Tentang pemimpin tegas, yang berbicara blak-blakan dan cenderung agak kasar. Sementara Anies, orang yang lembut dan penyayang. Sungguh baik malah. 

Akan tetapi, dari lubuk hati yang paling dalam, kita paham, siapa yang benar-benar kita butuhkan...


--Imam Rahmanto--

Jumat, 05 Mei 2017

Bertambahlah Selamat

Mei 05, 2017




Saya tak tahan lagi. Saya cemburu. Benar-benar cemburu.*

Bagaimana tak cemburu? Di linimasa media sosial saya, berseliweran kebahagiaan menyambut hari lahir ke-41 lembaga jurnalistik terhebat kampus kami, LPM Profesi. Sementara saya masih berada sejauh 265 kilometer, di tempat ini.  Saya dibuat trenyuh, tersenyum-senyum sendiri, sambil membayangkan ikut berada dalam keceriaan bakar-bakar ikan di redaksi.

Acara makan-makan itu sebenarnya sudah jadi rutinitas kami saban tahun. Tak pernah berubah.

Yang kini berubah, ya tentu usia dan perjalanannya. Wajah-wajah yang menopang tiang organisasi itu juga selalu berganti tiap tahunnya. Usia lembaga semakin tua, wajah-wajah pengelolanya yang semakin muda. Atau saya saja yang merasa bertambah lebih tua ya?

Credit foto: mereka
Saya senang melihat kebersamaan mereka yang selalu menerbitkan senyum. Betapa itu mengingatkan masa-masa kami yang pernah setegar batu karang itu. Yah, tegar. Karena senyum-senyum di hadapan kamera sepeti mereka terkadang dibangun dari kerasnya tempaan organisasi. Yah, anggap saja sebagai senyum untuk meredakan rasa sakit. Rasa sakit dicaci hingga dibenci. Saya selalu percaya, cara berorganisasi di LPM Profesi itu sungguh kejam. Teramat kejam. Lebih kejam dari sekadar kata-kata penolakan, "Kamu terlalu baik buat aku."

Meski begitu, saya kagum lantaran mereka - generasi-generasi muda - menolak untuk tumbang. Diantara personel yang menyerah, selalu ada teman-teman yang rela mengulurkan tangan mengajak untuk kembali. Persoalan "CLBK" dengan Profesi memang tak pernah mudah. Pun, kami sudah pernah merasakannya. Berat menarik mereka yang sudah lelah dan memutuskan ingin pergi. Akan tetapi, lebih berat lagi berjalan sendirian tanpa kehadiran mereka bersama-sama hingga penghujung jalan.

"Memilih adalah hal yang sulit. Tetapi, jauh lebih sulit mempertahankan apa yang sudah kita pilih itu,"

Sejujurnya, saya menghargai setiap proses yang "adik-adik" jalani. Seandainya bisa berterima kasih, saya juga ingin berterima kasih kepada anak-anak-jelang-dewasa itu. Toh, karena mereka yang tetap berdiri, menggandeng tangan satu sama lain, tertawa, maka lembaga itu masih bisa terdengar kabarnya hingga beratus-ratus kilometer jauhnya, seperti disini. 

Bagi saya, bukan hanya "adik-adik" saja yang mesti berterima kasih kepada "kakak-kakaknya" yang telah bersusah payah memulai dan membangun lembaga itu. Para generasi lampau, seperti kami pun, patut berterima kasih karena jasa mereka yang masih tetap setia membanggakan Profesi jauh melebihi jurusannya sendiri. Mereka masih merawatnya untuk kami. Seburuk-buruknya kepengelolaan berjalan, rodanya toh tentu masih saja berputar. Tak peduli harus tersuruk, tertatih-tatih hingga berdarah-darah. 

Salah. Sebenarnya tak ada darah yang dikorbankan dalam lembaga tercinta kami. Hanya air mata, yang kerap membanjiri pipi tanpa permisi. 

Beberapa waktu lalu, seorang teman sempat menyesali kehidupannya di kampus dulu. Saya baru mengenalnya sebulan belakangan sebagai sesama alumni kampus UNM.

"Saya baru menyesal tidak ikut organisasi dulu di kampus. Kerjaan saya cuma pergi nongkrong sama teman-teman. Kalau tidak, nonton drama di dalam kamar sepanjang hari," ungkap perempuan manis itu.

Ia lulus hanya dalam jangka empat tahun. Lebih cepat dua tahun dibanding saya. Padahal, ia pun sebenarnya dua tahun lebih muda dibanding saya. Sayangnya, ia terombang-ambing dalam dunia kerja selepas kuliah. Saya pun mengenalnya pertama kali saat ia baru diajukan sebagai honorer di kantor pemerintahan di tempat bertugas saya kini. Itu setelah ia menganggur lebih setahun lamanya.

Ia menyadari bahwa kebutuhan selepas kuliah memang tidak hanya ijazah dan nilai akademik yang cemerlang. Dunia kerja tak butuh sekadar teori yang tercantum dengan hasil angka. Hanya saja, ia juga luput bahwa organisasi tak semudah dan senyaman yang (barangkali) dibayangkannya. 

Tahukah kamu? Ada waktu yang mesti dikorbankan, sementara tenaga terkuras setiap waktu. Ada bapak dan ibu yang mesti kehilangan kabar. Lebih banyak teman yang mesti diabaikan. Sebagian kuliah yang mesti diulang-ulang. Ada kata-kata kasar yang mulai dibiasakan. Waktu tidur yang mesti dipukul mundur.. Hingga pacar yang (seharusnya) diputuskan. *ehh

Berat, bukan? Yah, berat, seperti rindu...

Meski begitu, selalu saja ada celah untuk tertawa di setiap bagian kehidupan itu. Sekali waktu, cobalah tengok film Dhanak. Ia berkisah tentang bocah buta, yang tak pernah menyesali gelap di matanya. Ia justru selalu menularkan tawa dari kepolosan dan sifat cerewetnya. 

Seberat-beratnya tempaan organisasi, begitu pula cara untuk membuat orang-orangnya semakin dewasa. Tertawakan saja bersama teman-teman terbaik. Mereka yang tersisa adalah yang paling bisa diandalkan. Kalau sulit, coba tarik segaris lengkung sederhana dari sudut bibirmu.

Seperti usianya yang semakin matang, sudah seharusnya LPM Profesi semakin dewasa. Kami doakan, mereka yang pernah berlayar bersamanya bisa mengerti cara mengendalikan roda kemudi untuk kehidupannya kelak. Karena dari Profesi-lah kami bermula. Tanpa Profesi, hidup kami takkan pernah lengkap...

Salam rindu, yang terberat.

Credit foto: me.


--Imam Rahmanto--

-----
*PS: Hati saya ikut terlecut untuk menuliskan hal-hal seperti ini.

Selasa, 02 Mei 2017

Sumpah, Tak Salah

Mei 02, 2017
Tuhan memang tak pernah benar-benar salah. Manusianya saja yang ndablek mempersalahkan garis hidupnya yang sudah diatur sedemikian rupa melalui skenario tanpa cela.

Saya semakin senang menjelajah di hamparan pegunungan ini. Ada banyak kesenangan dan ketenangan yang bisa disusupkan dalam kepala untuk mengusir penat. Jalan-jalan berliku di pedalaman Enrekang, sebenarnya cukup eksotis jika dilintasi dengan kendaraan bermotor. Tentu saja jika seorang perempuan manis sekaligus membonceng di jok belakang motor. #ehh

Ini di Desa Kendenan, Kecamatan Baraka, penghasil beras ketan termahal di Indonesia, yakni Pulu Mandoti. (Foto: Imam Rahmanto)

Kalau dipikir-dipikir ke belakang, saya pernah sedikit merutuk penempatan di daerah ini, lantaran jauh dari teman-teman dan kehidupan modern. Seiring berjalannya waktu, saya berusaha menerimanya. Seolah bayi yang baru mencintai tanah tempatnya dilahirkan. Karena sejujurnya, segala ingatan tentang teman-teman saya di kepala sudah mulai pudar satu per satu. Hanya mereka yang cukup dekat saja yang masih tersimpan baik dalam lokus ingatan saya. Panggilan-panggilan atas nama saya pun tak jarang terabaikan.

Hal semacam itu sama seperti saat saya sedang berkutat dengan penugasan di gubernuran, tiba-tiba dirolling ke desk olahraga, yang selama ini tak pernah saya geluti. Saya mengira penempatan itu salah.

Ternyata, kita hanya perlu belajar mencintai. Karena begitulah cara manusia beradaptasi. 

Kenyataannya, saya begitu bersyukur berada di tempat ini. Suasana yang lengang. Anak-anak tersenyum riang. Tanaman-tanaman yang matang. Petani dengan ladang. Langit yang lapang. Malam yang tenang. Bintang yang benderang. Duh, membuat segalanya memang begitu indah untuk dikenang.

"Baku tukar maki. (Tukaran yuk).  Kau di pemprov, saya di Enrekang," cetus seorang kawan sesaat melihat foto saya yang sedang bersantai (padahal narsis) di halaman sayur seorang kawan lainnya.

Saya hanya tertawa saja menanggapi keinginan terpendamnya itu. Jauh hari, ia semakin rindu untuk lebih banyak bercumbu dengan alam pegunungan kampung halamannya. Kawan saya itu justru lebih asli pribumi, ketimbang saya yang berdarah Jawa. Toh, bapak dan ibunya memang keturunan asli Bumi Massenrempulu. Sungguh beda dengan saya, yang hanya menumpang lahir dan hidup di tanah Duri.

Sayangnya, ia justru dirolling ke desk pemprov. Kerjanya tiap hari standby di ruang ber-AC kantor gubernuran bersama belasan wartawan media lainnya. 

"Kangenku mi kampung. Setahun tak pulang-pulang," ujarnya lagi menanggapi percakapan kami yang selalu diwarnai sumpah serapah.

Saya sebenarnya turut prihatin dengan perasaannya itu. Bagaimana tidak, saat masih bertugas di kota yang sama; Makassar, saya paham rasanya disibukkan rutinitas deadline yang mencekik tiap hari. Ditambah, tuntutan kantor yang terkadang di luar batas kemampuan (atau kemauan) kami sebagai anak muda. Malangnya lagi, rutinitas itu masih berujung dengan rutinitas "setor muka" di kubikel-kubikel redaksi, selayaknya karyawan kantoran. 

Skenario semesta siapa yang sangka? Mengawali tahun 2017 kemarin, kami hanya bisa menebak-nebak, siapa wartawan yang bakal "dibuang" lintas daerah. Pilihan prioritas biasanya para personel yang berasal dari daerah bersangkutan. Entah pertimbangan apa, saya justru menjadi wartawan yang terbuang itu. Padahal, kalau dipikir-pikir, timbangan berat badan kawan saya itu jauh lebih berat dan akurat.

Dan Accio! Disinilah saya berada. Menikmati setiap waktu yang menjalar di lekuk pegunungan. Saya tak lagi terpaku dengan besaran penghasilan saya, yang tentunya jauh berbeda dari perkotaan. Selama bisa mencukupi diri (dan sekolah adik saya) dan untuk berbagi tongkrongan kopi-susu dengan teman-teman lainnya, saya sudah nrimo. Penurunan finansial itu justru terbayar lunas dengan waktu-waktu saya nikmati disini. Karena pada hakikatnya, tak ada waktu yang benar-benar bisa dibeli dengan uang, bukan? Toh, saya masih bisa menggondol notebook anyar dari kehidupan yang pas-pasan ini.

Sedari lahir, kita hanya dibekali waktu. Namun tanpa sadar malah dibeli dengan materi (uang).

Berbagai hal mulai saya tuntaskan di tempat ini. Bagaimana bisa mulai mengerjakan hal-hal di luar kesibukan, termasuk menamatkan target bacaan buku. Bagaimana lebih banyak menjelajah ke tempat-tempat yang hanya pernah terlintas namanya saat masih remaja. Bahkan bersama teman-teman baru, yang menjalin perkenalan dalam seminggu atau bahkan hanya sehari.

Rasanya lebih menakjubkan dan benar-benar menyenangkan. Meskipun perjalanannya terkadang melelahkan, dan mengundang kekesalan. Lebih sering penyesalan. Akan tetapi, hal-hal semacam itu ibarat menyantap masakan pedas saja. Rasa membakar lidahnya hilang seiring kita menyadari bahwa: saya ternyata sudah kenyang.

Pastinya, saya tak perlu tergesa-gesa ke kantor super mewah, menekan tombol angka 4 dari dalam lift, sembari terus berpikir rencana peliputan esok hari untuk diajukan di hadapan meja redaktur, Alih-alih berharap lega setelah meliput seharian, justru gejala migrain yang muncul (gara-gara omelan redaktur). Kalau tak piket, pulang kantor tetap bahkan menyentuh angka nyaris tengah malam. Wiuw...

Dan sekali lagi, Tuhan memang tak pernah salah mengatur semesta untuk siapa saja di muka bumi ini, Skenarionya tersusun sangat-teramat rapi. Sampai saya sudah sewajarnya khawatir, jangan-jangan... jodoh saya pun disini. #ehhh

Kapan lagi bisa menikmati kopi-susu, buku, dan pagi yang hijau semacam ini? (Foto: Ardiansyah)

--Imam Rahmanto--