Senin, 24 April 2017

Pers, Mahasiswa, dan Asmara

Buku dan kopi-susu. Paduan yang cukup menyenangkan diantara gemuruh hujan.

Saya sengaja mengasingkan diri di salah satu warkop langganan hanya untuk menamatkan satu judul bacaan. Sudah lama rasanya saya tak sekadar menjelajahi dunia lain di dalam buku itu. Seperti kutipan Joseph Brodsky, "Ada kejahatan yang lebih buruk daripada membakar buku, salah satunya adalah tidak membacanya".

(Foto: Imam Rahmanto)

Momen terbaiknya; saya bisa puas-puas memandangi hujan dari ruangan warkop terbuka ini. Sedikit memutar musik dari layanan streaming. Saya sudah bisa "menghilang" dari segala kesibukan dan menjauhkan diri dari candu gadget. Sudah tak terhitung banyaknya buku yang mengendap-membatu-membusuk di dinding kamar saya.dari kesibukan naskah-naskah berita.

Sebenarnya, buku yang saya tamatkan ini juga bukan novel yang istimewa. Buku yang berjudul Ninevelove ini merupakan karya penulis lokal, JS Khairen. Satu-satunya yang membuat saya tertarik membacanya karena isinya sebagian besar mengisahkan tentang lembaga pers mahasiswa (persma). Seperti kehidupan saya semasa kuliah, empat tahun silam. Berasa tua, ya?

Saya kini punya kecenderungan untuk mengumpulkan novel-novel lokal Indonesia. Kedekatan dengan alur dan latar belakang cerita membuat imajinasi saya terasa lebih nyata. Teramat berbeda jika saya harus membayangkan background dari novel-novel karya penulis mancanegara, yang belum pernah mampir dalam penglihatan saya. Meskipun dari segi kekuatan cerita, novel lokal masih terbitan mancanegara itu. Paling tidak, saya berupaya mengembalikan gairah baca yang kian hari nampaknya menunjukkan grafik penurunan.

Seperti Ninevelove, saya tetap bisa melahapnya dalam rentang tiga hari ini. Tak ada cerita berat dalam buku setebal 344 halaman tersebut. Ceritanya justru menjadi hiburan tersendiri bagi saya yang pernah aktif di organisasi jurnalistik kampus atau biasa disebut pers mahasiswa. Sisanya, romantika para mahasiswa.

Tokoh utama, Joven dan Dewi, merupakan mahasiswa seangkatan di fakultas yang sama. Hanya saja, keduanya bagai anjing dan kucing, selalu terlibat dalam pertengkaran. Tak pernah akur.

"Jika ada kebencian paling hebat maka itu ada pada Dewi. Ia benci Joven. Kebencian yang bulat dan kemudian berkeping-keping. Juara satu sekaligus juara dua dalam urusan kebencian adalah kebencian yang satu ini." [hal.1]

Untuk sebagian orang, tentu teramat mudah menebak ending jalinan kisah seperti ini. Klise. Akan tetapi, tebakan semacam itu masih harus melalui banyak jalan berliku. Ibarat bepergian ke Makassar, banyak rute yang bisa dilalui.

Hal semacam itulah yang mejadi kemasan dalam cerita yang dibuat JS Khairen ini. Joven berpacaran dengan junior kampus dan seorganisasinya, setelah putus dengan mantan vokalis bandnya. Sementara Dewi yang memendam perasaan pada Guruh - teman kuliah dan organisasinya. Ia mesti memendamnya lebih dalam karena Guruh yang berpacaran dengan junior di organisasinya.

Sejujurnya, saya cukup menikmati sebagian kisahnya yang membuat saya mengenang masa ketika masih aktif berorganisasi di LPM Profesi UNM. Organisasi yang serupa. Sembari mengenang pengalaman bagaimana kami mengelola tabloid kampus. Suka-duka meliput antar jurusan. Hingga bagaimana memilin-milin kisah asmara.

Akh, tetapi, soal asmaranya justru sangat bertolak belakang. Jika di dalam buku para tokoh bebas memilih ingin jatuh cinta pada anggota organisasi yang sama, maka bagi kami hal tersebut adalah larangan turun-temurun. Seperti kata pepatah, "Tak boleh berburu di kandang sendiri." Kecuali, jika anggotanya telah lengser atau tak berada dalam struktur kepengurusan.

Meski begitu, saya cukup suka beberapa bagian dari buku ini. Tentang kedewasaan Dewi, yang menerima bahwa ia takkan pernah mungkin disukai Guruh. Dewi justru lebih memfokuskan semua perasaannya pada kesibukan-kesibukan berteman dan organisasinya. Apalagi semenjak ia memimpin divisi jurnalistik di lembaga tersebut.

Semakin menghabiskan halaman buku ini, kita akan dibawa pada konsep cinta yang lebih dewasa. Saya suka pada sosok Dewi yang mulai paham bagaimana menempatkan rasanya, yang kemudian beralih ke orang lain.

"Penyesalan terbesar adalah ketika kita tidak pernah mencoba sama sekali. Akan makin besar penyesalan itu jika kamu, jika keinginanmu itu hanya sebatas dalam hati. Kami para lelaki bukan penyihir atau ahli pembaca pikiran." [Hal.221]

Meski tokoh utamanya Dewi dan Joven, ceritanya tak hanya meliputi keduanya. Ninevelove juga menjajal gaya bercerita dari berbagai sudut pandang. Ada Guruh dan Dinda. Gaya berceritanya disesuaikan karakter tokoh yang sedang menjadi sudut pandang.

Bagi saya, JS Khairen terlalu menggebu-gebu menyisipkan banyak hal dalam buku ini. Barangkali, saya menyebutnya berlebihan. Caranya memberi nama tokoh utama, perawakan, asal daerah, hingga kehidupannya. Saya menebak, tak jauh-jauh dari pribadi penulis sendiri.

Jauh sebelumnya, saya pun pernah bertekad membuat novel yang serupa dengan karya JS Khairen ini. Cara menyusun idenya juga nyaris mirip; kehidupan di persma. Keinginan menyisipkan pribadi saya sebagai penulisnya juga sempat kepikiran. Malangnya, itu masih jadi angan-angan semata.

Saya mengenal JS Khairen lewat bukunya yang pernah mampir di tangan saya, yakni 30 Paspor di Kelas Sang Profesor. Saya tahu jika penulis merupakan alumni lembaga pers yang pernah membawa saya (dan dua orang teman) berkeliling Jakarta menikmati pelatihannya. Cukup membaca biodata penulis pun, pembaca bisa tahu unsur tokoh di dalam Ninevelope cukup erat dengan pribadinya.

Cara menyisipkan unsur pribadi penulis memang tak bisa diramu sekaligus. Ada bagian-bagian yang memang selayaknya menjadi misteri bagi pembaca atau penggemarnya. Saya juga ikut belajar bagaimana meramu novel yang baik dari sekarang.

Untuk isi dan ceritanya, bisa menjadi rekomendasi yang baik bagi siapa saja yang aktif di dunia jurnalistik kampusnya, khususnya LPM Profesi. Ah ya, sampai tuntas membacanya, saya juga tidak bisa menemukan bagian cerita yang menghubungkan judul novel ini.

"Kalo elo susah percaya sama orang, orang juga bakal susah percaya sama elo. Kalo elo susah suka sama orang, ya susah juga ada yang suka sama elo. Itu kata-kata gue kutip dari Einstein loh. Rumusnya, hukum timbal balik. Ada aksi ada reaksi." [hal.88]


--Imam Rahmanto--

Tidak ada komentar:

Posting Komentar