Kamis, 27 April 2017

Sebenar-benar Penerimaan

April 27, 2017
Kamu tahu, hal paling menyenangkan dari hujan adalah mendengar nyanyian alam dari atap-atap rumah dan gemerisik daun yang ditimpa tempias hujan. Bukankah itu romantis?

(Foto: Imam Rahmanto)

Medsos masih saja ramai dengan Pilkada ibukota. Saya sampai muak dibuatnya. Berangsur-angsur membaca dan mendapati para pendukung saling menumpahkan kekesalan dan kesalahan. Padahal, pemilihan telah berakhir. Gubernur juga sudah akan berganti dengan yang lebih baru, dalam beberapa bulan mendatang.

Parahnya, saling nyinyir tidak hanya berakhir di hasil perhitungan suara. Meski sudah dimabuk kemenangan, tetap saja para pendukung Anies masih mengkambinghitamkan Ahok. Apa pun yang dilakukan Ahok, selalu saja salah di mata orang-orang yang berseberangan dengannya. Sampai karangan bunga pun jadi bahan untuk mengobarkan rasa dengki. Saya jadi bingung sendiri, bagaimana membedakan antara kritis atau rasa dengki. Barangkali, formula utama bagi mereka: pokoknya Ahok tak pernah benar!

Mbok ya kalau sudah menang, dibikin tenang saja. Tak usah terlalu dibuat "kepanasan" dengan banyaknya karangan bunga sebagai penghargaan dari warga yang diayomi Ahok.

Saya jadi terngiang dengan perkataan ustad dulu,

"Ciri-ciri orang yang dikenai penyakit hati seperti dengki atau cemburu itu kalau dia selalu gelisah melihat orang lain mendapatkan rezeki. Tetangganya beli kulkas baru, dia mencibir. Tetangganya punya mobil, dia menuduh yang bukan-bukan. Tetangganya dapat jabatan, dia yang gelisah,"

Nah, apakah ciri-ciri semacam itu tidak persis dengan fenomena para pendukung yang sekarang? Mereka yang didominasi umat muslim, justru tak menyadari digerogoti penyakit hati. Tidak bisakah kita saling menerima saja? Menerima kemenangan (jika memang disyukuri). Menerima kekalahan dengan lapang dada.

Saya tak mendukung siapa-siapa dalam persaingan gubernur di kota metropolitan itu. Toh, saya tak tinggal disana. Meski sejujurnya saya lebih senang dengan gaya kepemimpinan Ahok. Mulutnya memang bak pisau, tetapi sikapnya tegas dan tak pandang bulu menegakkan kebenaran. Kalau diambil irisannya, gayanya koboi seperti Dahlan Iskan.

Sementara Anies, saya sudah telanjur kecewa semenjak dia terjun ke dunia politik. Itu malah merusak-rusak tenun kepercayaan di dalam kepala saya. Mengutip kata-katanya yang selalu memakai "tenun kebangsaan". Saya pernah berpikir jika Anies akan tetap konsisten dalam mengembangkan pendidikan di Indonesia. Ternyata, semakin berjalannya waktu, kita akan semakin diubah kekuasaan.

Bagi saya, politik tak pernah menjadi alat untuk mendapatkan kekuasaan. Justru manusia sendirilah yang dijadikan alat oleh politik untuk mengukuhkan kekuasaannya.

Kenapa kita tidak hidup dengan saling menerima saja?

Menerima keadaan atau legawa itu memang bagian tersulit sih. Terkadang, bukan hanya Kesialan saja yang mesti di-legawa-kan. Keberuntungan pun biasanya harus disyukuri dengan legawa.

Legawa terhadap keberuntungan, kita biasa menyebutnya bersyukur. Legawa terhadap kemalangan, juga sama saja, tetap dinamakan bersyukur (dalam level yang berbeda). Intinya, proses penerimaan itu berkaitan teramat-sangat-erat-banget dengan rasa syukur.

Buku terakhir yang saya baca, Ninevelove, cukup lekat dalam kepala saya karena tokoh Dewi. Perempuan bertubuh kecil ini meyukai Guruh. Akan tetapi, tak ada harapan baginya karena Guruh tak pernah menyimpan rasa padanya. Dewi terpaksa hanya bisa memendam perasaannya. Lambat laun, ia belajar menerima hal itu.

Seiring penerimaan itu, ia pun menjadi sahabat yang baik bagi Guruh dan Joven. Tak disangkanya, ternyata Guruh mulai menyukainya. Sayangnya, perasaan Dewi sudah berganti pada Joven. Malangnya lagi, Joven mendekati perempuan lain. Lagi-lagi, Dewi berusaha menerimanya saja dan tetap menjadi bahu dan telinga yang baik buat Joven. Pada akhirnya, Joven menyadari betapa tegarnya si kecil Dewi.

Saya menyukai tentang kedewasaan Dewi dalam menerima keadaan. Ia legawa jika Joven tak sadar disukai dirinya. Tak ada sikap-sikap menjauh yang ditunjukkan Dewi. Ia justru selalu menjadi sahabat yang baik bagi Joven. Hingga waktuya tiba, Tuhan menunjukkan keajaibannya.

Di lain waktu, saya menonton film La La Land. Pesan yang hendak disampaikannya pun serupa; tentang penerimaan. Bagaimana seorang Mia harus menerima alur hidup yang tak mempersatukannya dengan Sebastian. Meski begitu, Mia dan Seb tak pernah menyesalinya. Saat bertemu lagi, mereka sanggup melempar senyum satu sama lain. Tentunya, tetap diam-diam mengakui kisah yang pernah mereka lalui adalah yang terbaik.

"I'm letting life hit me until it gets tired. Then I'll hit back. It's a classic rope-a-dope." [La La Land]

Penerimaan, selalu, bukan soal kemampuan melupakan. Bukan. Sama sekali bukan! Kita mesti punya sihir Obliviate para penyihir Hogwarts jika ingin menghapus ingatan. Atau, meminta tokoh Purin menggunting-gunting ingatan kita sebelum ia menikah dengan Sanji. Karena melupakan sesuatu hanyalah sebentuk cara agar segalanya nampak tetap nyata.

Penerimaan sejati justru tentang membiarkan ingatan itu hidup tanpa merasa terganggu. Jika dianggap indah, kemaslah menjadi kenangan. Jika buruk, kita tahu harus menjadikannya sebagai apa; pelajaran. Ia sekaligus jadi pengalaman. Experienxce is the best teacher, kata pepatah bijak nan usang.

Akh, sama halnya dengan move on. Move on terindah jika kamu masih bisa tersenyum, bertegur sapa dengan mantanmu dan tak perlu memblokir segala ingatan tentangnya. Bukankah itu sebenar-benar penerimaan?



--Imam Rahmanto--

Senin, 24 April 2017

Pers, Mahasiswa, dan Asmara

April 24, 2017
Buku dan kopi-susu. Paduan yang cukup menyenangkan diantara gemuruh hujan.

Saya sengaja mengasingkan diri di salah satu warkop langganan hanya untuk menamatkan satu judul bacaan. Sudah lama rasanya saya tak sekadar menjelajahi dunia lain di dalam buku itu. Seperti kutipan Joseph Brodsky, "Ada kejahatan yang lebih buruk daripada membakar buku, salah satunya adalah tidak membacanya".

(Foto: Imam Rahmanto)

Momen terbaiknya; saya bisa puas-puas memandangi hujan dari ruangan warkop terbuka ini. Sedikit memutar musik dari layanan streaming. Saya sudah bisa "menghilang" dari segala kesibukan dan menjauhkan diri dari candu gadget. Sudah tak terhitung banyaknya buku yang mengendap-membatu-membusuk di dinding kamar saya.dari kesibukan naskah-naskah berita.

Sebenarnya, buku yang saya tamatkan ini juga bukan novel yang istimewa. Buku yang berjudul Ninevelove ini merupakan karya penulis lokal, JS Khairen. Satu-satunya yang membuat saya tertarik membacanya karena isinya sebagian besar mengisahkan tentang lembaga pers mahasiswa (persma). Seperti kehidupan saya semasa kuliah, empat tahun silam. Berasa tua, ya?

Saya kini punya kecenderungan untuk mengumpulkan novel-novel lokal Indonesia. Kedekatan dengan alur dan latar belakang cerita membuat imajinasi saya terasa lebih nyata. Teramat berbeda jika saya harus membayangkan background dari novel-novel karya penulis mancanegara, yang belum pernah mampir dalam penglihatan saya. Meskipun dari segi kekuatan cerita, novel lokal masih terbitan mancanegara itu. Paling tidak, saya berupaya mengembalikan gairah baca yang kian hari nampaknya menunjukkan grafik penurunan.

Seperti Ninevelove, saya tetap bisa melahapnya dalam rentang tiga hari ini. Tak ada cerita berat dalam buku setebal 344 halaman tersebut. Ceritanya justru menjadi hiburan tersendiri bagi saya yang pernah aktif di organisasi jurnalistik kampus atau biasa disebut pers mahasiswa. Sisanya, romantika para mahasiswa.

Tokoh utama, Joven dan Dewi, merupakan mahasiswa seangkatan di fakultas yang sama. Hanya saja, keduanya bagai anjing dan kucing, selalu terlibat dalam pertengkaran. Tak pernah akur.

"Jika ada kebencian paling hebat maka itu ada pada Dewi. Ia benci Joven. Kebencian yang bulat dan kemudian berkeping-keping. Juara satu sekaligus juara dua dalam urusan kebencian adalah kebencian yang satu ini." [hal.1]

Untuk sebagian orang, tentu teramat mudah menebak ending jalinan kisah seperti ini. Klise. Akan tetapi, tebakan semacam itu masih harus melalui banyak jalan berliku. Ibarat bepergian ke Makassar, banyak rute yang bisa dilalui.

Hal semacam itulah yang mejadi kemasan dalam cerita yang dibuat JS Khairen ini. Joven berpacaran dengan junior kampus dan seorganisasinya, setelah putus dengan mantan vokalis bandnya. Sementara Dewi yang memendam perasaan pada Guruh - teman kuliah dan organisasinya. Ia mesti memendamnya lebih dalam karena Guruh yang berpacaran dengan junior di organisasinya.

Sejujurnya, saya cukup menikmati sebagian kisahnya yang membuat saya mengenang masa ketika masih aktif berorganisasi di LPM Profesi UNM. Organisasi yang serupa. Sembari mengenang pengalaman bagaimana kami mengelola tabloid kampus. Suka-duka meliput antar jurusan. Hingga bagaimana memilin-milin kisah asmara.

Akh, tetapi, soal asmaranya justru sangat bertolak belakang. Jika di dalam buku para tokoh bebas memilih ingin jatuh cinta pada anggota organisasi yang sama, maka bagi kami hal tersebut adalah larangan turun-temurun. Seperti kata pepatah, "Tak boleh berburu di kandang sendiri." Kecuali, jika anggotanya telah lengser atau tak berada dalam struktur kepengurusan.

Meski begitu, saya cukup suka beberapa bagian dari buku ini. Tentang kedewasaan Dewi, yang menerima bahwa ia takkan pernah mungkin disukai Guruh. Dewi justru lebih memfokuskan semua perasaannya pada kesibukan-kesibukan berteman dan organisasinya. Apalagi semenjak ia memimpin divisi jurnalistik di lembaga tersebut.

Semakin menghabiskan halaman buku ini, kita akan dibawa pada konsep cinta yang lebih dewasa. Saya suka pada sosok Dewi yang mulai paham bagaimana menempatkan rasanya, yang kemudian beralih ke orang lain.

"Penyesalan terbesar adalah ketika kita tidak pernah mencoba sama sekali. Akan makin besar penyesalan itu jika kamu, jika keinginanmu itu hanya sebatas dalam hati. Kami para lelaki bukan penyihir atau ahli pembaca pikiran." [Hal.221]

Meski tokoh utamanya Dewi dan Joven, ceritanya tak hanya meliputi keduanya. Ninevelove juga menjajal gaya bercerita dari berbagai sudut pandang. Ada Guruh dan Dinda. Gaya berceritanya disesuaikan karakter tokoh yang sedang menjadi sudut pandang.

Bagi saya, JS Khairen terlalu menggebu-gebu menyisipkan banyak hal dalam buku ini. Barangkali, saya menyebutnya berlebihan. Caranya memberi nama tokoh utama, perawakan, asal daerah, hingga kehidupannya. Saya menebak, tak jauh-jauh dari pribadi penulis sendiri.

Jauh sebelumnya, saya pun pernah bertekad membuat novel yang serupa dengan karya JS Khairen ini. Cara menyusun idenya juga nyaris mirip; kehidupan di persma. Keinginan menyisipkan pribadi saya sebagai penulisnya juga sempat kepikiran. Malangnya, itu masih jadi angan-angan semata.

Saya mengenal JS Khairen lewat bukunya yang pernah mampir di tangan saya, yakni 30 Paspor di Kelas Sang Profesor. Saya tahu jika penulis merupakan alumni lembaga pers yang pernah membawa saya (dan dua orang teman) berkeliling Jakarta menikmati pelatihannya. Cukup membaca biodata penulis pun, pembaca bisa tahu unsur tokoh di dalam Ninevelope cukup erat dengan pribadinya.

Cara menyisipkan unsur pribadi penulis memang tak bisa diramu sekaligus. Ada bagian-bagian yang memang selayaknya menjadi misteri bagi pembaca atau penggemarnya. Saya juga ikut belajar bagaimana meramu novel yang baik dari sekarang.

Untuk isi dan ceritanya, bisa menjadi rekomendasi yang baik bagi siapa saja yang aktif di dunia jurnalistik kampusnya, khususnya LPM Profesi. Ah ya, sampai tuntas membacanya, saya juga tidak bisa menemukan bagian cerita yang menghubungkan judul novel ini.

"Kalo elo susah percaya sama orang, orang juga bakal susah percaya sama elo. Kalo elo susah suka sama orang, ya susah juga ada yang suka sama elo. Itu kata-kata gue kutip dari Einstein loh. Rumusnya, hukum timbal balik. Ada aksi ada reaksi." [hal.88]


--Imam Rahmanto--

Sabtu, 15 April 2017

Ilalang Senja

April 15, 2017

Di kampung kami, ada banyak lekuk gunung yang bisa kamu temui. Asalkan sanggup berjalan kaki minimal satu kilometer, pandanganmu bakal menyapu gunung. Kalau beruntung, bisa bertemu senja yang menelusup di balik pertemuan lereng. Jika belum beruntung, tak usah gundah. Tak perlu buru-buru. Karena begitu cara kami memperpanjang perjumpaan, demi mengalamatkan rindu.

Beberapa minggu belakangan, orang-orang baru sadar tentang keindahan Bumi Massenrempulu. Sementara belasan tahun silam saat kami masih suka berjemur di batu-batuan sungai, memanjat bukit savana, bergelantungan di dahan pohon kering, tak ada yang mau sekadar mengabadikannya lewat sentuhan kamera. Mereka hanya asal lewat mensejajari riwayat masa tua Tana Toraja. Padahal, perbatasan kabupaten itu selalu jadi lalu-lalang kami di masa SMA demi sepenggal nilai agama.

Kami baru menyadari, berbagai tem(u)an masa silam itu punya kenangan yang luar biasa indahnya. Seumpama puzzle, berwarna, disusun, cocok, ternyata bisa menjadi kenangan baru bagi orang baru. Keindahan memang menjadi bahan baku parsial agar ingatan lekang di otak kanan. Sisanya, tentu kesenangan. Dan, kampung kami punya segala keindahan yang dibutuhkan. Sedikit dibumbui senyummu, pasti lebih manis.

Ehem... 

...kecuali jika kamu meminta laut, ombak, dan senja dari garis pantai. Kami terpaksa harus mengangkat bendera putih. 

Kata leluhur kami, Dewa pernah mengutuk Bumi Massenrempulu hanya karena perkawinan terlarang garis darah Kaum Langit. Air laut dihempas beratus-ratus kilometer jauhnya karena dipasrahi patahan Gunung Bambapuang. Yah, patahan Bambapuang! Cobalah tengok, patahan gunung itu membentang sepanjang utara Gunung Bambapuang. Di Torajalah puncak patahan itu berujung. Kalau kamu punya kenalan peneliti dan pakar Arkeologi, Geologi, Ekologi, Edafologi, atau Antropologi kelas kakap, cobalah ajak untuk membuktikan kebenaran itu. Kami pun di zaman ini masih dibuat penasaran dan telanjur bangga.   

Tetapi, tunggu dulu...

Kami tidak ingin pasrah jika kamu mencari laut. Marilah kami ajak menemui anak sungai, air terjun, danau, hingga menyibak senja di batas cakrawala. Jika kamu rela berpeluh mendaki, kami akan memperkenalkan laut dalam versi gumpalan awan dari langit Gunung Latimojong; salah satu The 7 Summits of Indonesia

Seandainya pemerintah kami berasal dari lulusan pariwisata, barangkali kami tak pernah lagi menandai Toraja sebagai perkampungan lelap para bule. Berganti tanda "rival" saja sebagai tetangga. Itu bakal lebih fair. Sayang (sungguh sayang), pemerintah kami lebih paham mengelola bisnis di garis pertanian. Sebut saja bawang merah dan cabe. Tak ada yang bisa menyangkal jika kampung kami menjadi tiang penyangga ekonomi nasional agar tak kebanjiran inflasi. 

Sungguh, kami berandai-andai kapan lekuk pegunungan yang damai itu bisa ramai hiruk-pikuk. Jam tidur masyarakat berganti lebih larut. Tebing-tebing di pinggir jalan ditanami rumah penduduk karena tak ingin lagi merantau ke Kalimantan. Turis-turis yang kecapekan mendaki jadi pemandangan lazim. Barangkali, satu-dua ambe atau indo juga sudah paham cara melafalkan "Yes" atau "No" secara proporsional. Kami tentu akan melupakan tahun-tahun kekurangajaran para bule yang keasikan menggowes sepeda di jalan poros hanya untuk memintas ke negeri tetangga.

Duh, alam Massenrempulu sudah nyaris menggerogoti separuh jiwa kami. Seumpama apel Putri Salju, kehidupan saya sudah diracuninya lebih dari setengah. Sejak belasan tahun silam. 

Darah saya sebenarnya malah masih milik kaum pedesaan pinggiran aliran Bengawan Solo. Sayangnya, telah lebih dulu diracuni aroma kopi arabika dengan senyawa padi, tomat, bawang merah, cokelat, kubis asal Bumi Massenrempulu. Benarlah jika saya disebut sebagai "penulis yang belajar mencintai tanah kelahirannya". Akh, hampir terbawa suasana, toh, pekerjaan saya sebenarnya jurnalis; mengabadikan momen dan kenangan.

Sudahlah. Datang saja. Kan kami jamu sedikit ruang kepalamu dengan sebukit kenangan.

Ceracau ini juga gara-gara perjalanan sore tersisa di bukit penuh ilalang...

(Foto: Imam Rahmanto)



--Imam Rahmanto--

Senin, 10 April 2017

Mood

April 10, 2017
(Foto: Imam Rahmanto)

Saya gelisah. Sedikit merana. Tetapi tak sampai melukai hati. Soal rindu? Oiya, kata sifat itu juga cukup mengena bagi saya. Lebay bin ajaib.

Sebenarnya, kegelisahan-kegeliahan semacam itu sudah jadi kebiasaan dan kebutuhan pokok dalam rentang seminggu. Setiap kali lupa pulang ke "rumah" ini, serassa ada yang hilang. Barangkali, karena sebagian jiwa saya belum terisi.

Sialnya, ini juga menjadi rekor terburuk saya. Sudah lebih dari seminggu tak ada apa-apa di "rumah" ini. Saya hanya datang menengoknya, tetapi tak tinggal berlama-lama. Sial.

Saya mulai paham, ternyata bukan soal waktu luang saja yang bisa membuat seseorang konsisten untuk menulis. Percaya atau tidak, mood tetap menjadi kata sifat sekaligus mitos yang tak pernah mengada-ada. Ia ada, namun tak terlihat. Antara ada dan tiada.

Jika dibandingkan di kota, waktu saya di Enrekang ini cukup melimpah. Teramat berbeda saat menjalani pekerjaan di perkotaan, yang hampir setiap jam harus melihat angka dan tulisan. Bersiaga panggilan dari kantor. Jadwal pulang bahkan bisa bergulir hingga larut malam. Jangankan menulis naskah-naskah ringan, stalking medsos pun sudah harus mencuri waktu jelang tidur,

Tiga bulan berada di tempat ini, justru tak menunjukkan perbedaan begitu mencolok pada kontinuitas menulis itu. Serasa apa gituee. Seperti biasa, satu minggu, satu postingan. Rutinitas (kesenangan) seperti itu malah sudah saya lakukaan saat berkecimpung diantara himpitan deadline perkotaan. Lah, disini? Ada "abad hampa" yang nyatanya membekap lebih dari seminggu ini.

Yah, seperti yang saya katakan tadi, ini karena mood. Saya benci harus mempercayainya. Dia tumbuh dan dibesarkan di dalam kepingan rutinitas manusia. Tak ada yang bisa menolaknya. Saya benci harus mengakuinya. Terkadang, mood itu sendiri dipengaruhi oleh suasana yang mendukungnya. Jika dibiasakan, hal semacam itu bisa menjadi kebiasaan dan habit atau tingkah laku.

Semisal teman saya, yang hanya bisa mengetik naskah berita jika sudah duduk nyaman, selonjoran, atau baring-baring di rumahnya. Ia mengaku sama sekali tak bisa merampungkan naskah berita yang harus berjibaku di media onlinenya jika harus berdiam di tempat lain, meski itu sekadar duduk-duduk mengaso di kafe atau warung kopi.

Sementara saya sendiri juga nyaris berlaku seperti itu. Sudah jadi kebiasaan saya merampungkan lebih banyak naskah berita dengan duduk-duduk menyeruput kopi susu. Kalau ada cappuccino, tentu jadi pilihan utama. Mood saya seolah dipengaruhi oleh minuman hangat dan suasana tempat.

Padahal, jika ingin mencoba sedikit saja keluar dari zona nyaman, segalanya bisa diubah. Buktinya, teman saya itu juga pernah mengirimkan naskah berita diantara waktu duduk-duduk kami. Meski harus diselingi dengan obrolan "gosip", bahannya yang terkumpul tetap bisa dikonversi jadi berita. Saya juga pernah merampungkan naskah berita on the spot, tanpa perlu mencari tempat nyaman. Malah jika sudah kepepet, saya hanya perlu memarkir motor di tepian jalan. Mencari sinyal yang pas. Duduk di atas jok. Mengetikkan semua bahan yang sudah ada.

Nah, nah, bukannya mood hanya persoalan kebiasaan hidup kita ya? Barangkali, karena terbiasa pulang ke rumah, teman saya itu butuh tempat sunyi tanpa gangguan dan celaan agar fokus menggarap naskah. Karena terbiasa menyeruput minuman hangat, saya seolah butuh candunya setiap kali ingin mengerjakan naskah. Kalau ingin memutar haluan sedikit saja, saya selalu percaya, kita akan bertemu hal-hal baru.

Ya sudahlah. Ini hanya menjadi pengakuan saya yang telah membiarkan "rumah" saya kosong selama lebih dari seminggu. Cuma sedikit ngoceh doang, kok.

"Demi kesehatan jiwa, ngedumel itu perlu," chat seorang teman dari seberang pulau, siang ini.

Saya tak perlu lagi mengkambinghitamkan kesibukan. Karena memang saya tak punya banyak kesibukan di daerah ini. Lagipula, pada kenyataannya, waktu luang tak pernah mampu menggaransi seberapa besar keinginan kita untuk terus berkembang. Tak terkecuali dalam menulis.

Cukup sadar diri. Sedikit paksa(k)an.



--Imam Rahmanto--