Jumat, 31 Maret 2017

Cold Itinerary

(Foto: Imam Rahmanto)

Saya bakal kembali membuka perjalanan menyegarkan di tempat ini. Saya sedang menyusun rencana untuk penjelajahan salah satu The Seven Summits of Indonesia. Mumpung ada bahan liputan yang sudah disetujui oleh pihak redaksi. Tersisa merampungkan perencanaan dan waktu yang tepat untuk beranjak kesana dengan tim yang sudah kami bentuk dadakan di kafe langganan.

Akh, timnya pun bukan dari teman-teman redaksi. Saya justru meminta bantuan dari teman-teman baru yang saya jumpai disini. Berawal dari obrolan sesama penikmat malam dan aroma arabika, kami menyusun rencana penjelajahan tersebut. Hanya berbekal tanya-tanya penasaran. Saya barangkali termasuk orang paling beruntung karena mereka yang bersedia menemani saya hingga mencapai destinasi liputan.

"Serius, mau sama-sama kesana?" saya berusaha meyakinkan.

"Iya, nanti kita sama-sama kesana. Kita tentukan jadwal dulu waktu yang kosong," jawab pemilik kafe, yang akhir-akhir ini kerap menawari saya spesialty coffee dari berbagai daerah.

"Kita pergi kesana banyak orang, tapi maksudnya untuk tim kita sendiri ya lima orang saja," tambah teman lainnya, yang malam itu secara kebetulan ikut bergabung bersama kami di kafe sederhana itu.

Redaktur saya memang sudah merestui salah satu rencana perjalanan itu. Jauh hari, ia malah sudah mewanti-wanti agar menyiapkan agenda dan "proposal" untuk diajukan ke manajemen kantor. Tak terkecuali dengan biaya perjalanan, yang tentu akan memakan jumlah yang tidak sedikit.

"Utamakan juga keselamatanmu," kata redaktur mengingatkan.

Bagaimana tidak, saya benar-benar akan menjumpai pedalaman yang sejak dulu hanya menjadi cerita-cerita para pendaki. Padahal, saya lahir di daerah pegunungan ini. Sementara, para pendatang jauh lebih banyak (dan bersemangat) menikmati eksotisme gunung tertinggi di daerah kami itu.

Informasi-informasi dari dunia maya mulai saya kumpulkan satu per satu. Sebagian besar tentu berkisar cerita penjelajahan ke puncak tertinggi itu. Suka dan dukanya. Sayang, tak ada yang benar-benar menjelaskan tujuan yang akan kami tempuh. Saya hanya menemukan satu-satunya pedoman dari beberapa saksi hidup (pendaki) yang selalu saya cecar rasa penasaran. Benar, artefak itu ada disana.

"Cuma karena jalur itu sangat jarang dilalui pendaki pada umumnya, makanya tak tersentuh publik. Bahkan, untuk kesana, kita butuh pemandu khusus," terang teman itu lagi.

Saya nyaris dibuat tak percaya dengan hal semacam itu. Karena menyusur ke teknologi Google pun, tak ada informasi terang yang membuktikan keberadaan tujuan perjalanan kami. Saya hanya sempat diyakinkan satu artikel dari luar daerah yang sempat membahas bakal tujuan kami. Selebihnya, tak ada gambar-gambar yang menegaskannya secara valid. Intinya, benar keberadaannya.

Terlepas dari itu, saya berusaha menikmati momen keberadaan saya di tengah alam pegunungan ini. Jikalaupun hasilnya bakal berujung pada hasil yang nihil, saya akan pulang tanpa perlu menyesali apa pun.

Setelah awal tahun ini berusaha ikhlas menerima (nasib) penugasan di daerah, saya memang mulai memancang beberapa rencana baru di kepala. Saya menyusun tujuan penjelajahan di tempat ini. Sebelum ditarik kembali ke kota metropolitan, saya wajib merasai semua atmosfer petualangan di Bumi Massenrempulu. Kalau pun ada jodoh -- seperti yang dilambung-lambungkan teman disini -- ya anggap saja bonus.

Untuk sementara, paspor saya hanya bisa mampir dalam saku ransel di dalam kamar. Saya terpaksa harus memendam keinginan untuk melenggang ke negeri orang.

Akan tetapi, udara baru juga mulai ditiupkan dari tempat saya berkisah sekarang. Banyak tempat-tempat yang sejatinya belum pernah saya kunjungi di daerah ini. Meski tergolong masyarakat "asli" di daerah ini, masa kanak-kanak dan remaja saya lebih banyak dihabiskan di sekitar rumah. Belum pernah menjelajah ke tempat-tempat yang nyatanya punya panorama jauh lebih mengesankan.

Nah, saya pun berharap bisa mewujudkan perjalanan akbar itu seminggu atau dua minggu ke depan. Dinginnya alam pegunungan selalu menjadi hal paling romantis untuk dirindui. Hijau-hijau di depan mata bisa jadi pengobat suntuk. Tentu saja, di luar dari segala timbal balik mutualisme yang bakal kami dapatkan dari rencana perjalanan tersebut.

"Serius, (rencana) anggarannya cuma begini? Lah, ini sih sedikit sekali, Kak," ujar saya sambil tertawa, melihat hitung-hitungan di layar gadget.


--Imam Rahmanto--

Tidak ada komentar:

Posting Komentar