Jumat, 31 Maret 2017

Cold Itinerary

Maret 31, 2017
(Foto: Imam Rahmanto)

Saya bakal kembali membuka perjalanan menyegarkan di tempat ini. Saya sedang menyusun rencana untuk penjelajahan salah satu The Seven Summits of Indonesia. Mumpung ada bahan liputan yang sudah disetujui oleh pihak redaksi. Tersisa merampungkan perencanaan dan waktu yang tepat untuk beranjak kesana dengan tim yang sudah kami bentuk dadakan di kafe langganan.

Akh, timnya pun bukan dari teman-teman redaksi. Saya justru meminta bantuan dari teman-teman baru yang saya jumpai disini. Berawal dari obrolan sesama penikmat malam dan aroma arabika, kami menyusun rencana penjelajahan tersebut. Hanya berbekal tanya-tanya penasaran. Saya barangkali termasuk orang paling beruntung karena mereka yang bersedia menemani saya hingga mencapai destinasi liputan.

"Serius, mau sama-sama kesana?" saya berusaha meyakinkan.

"Iya, nanti kita sama-sama kesana. Kita tentukan jadwal dulu waktu yang kosong," jawab pemilik kafe, yang akhir-akhir ini kerap menawari saya spesialty coffee dari berbagai daerah.

"Kita pergi kesana banyak orang, tapi maksudnya untuk tim kita sendiri ya lima orang saja," tambah teman lainnya, yang malam itu secara kebetulan ikut bergabung bersama kami di kafe sederhana itu.

Redaktur saya memang sudah merestui salah satu rencana perjalanan itu. Jauh hari, ia malah sudah mewanti-wanti agar menyiapkan agenda dan "proposal" untuk diajukan ke manajemen kantor. Tak terkecuali dengan biaya perjalanan, yang tentu akan memakan jumlah yang tidak sedikit.

"Utamakan juga keselamatanmu," kata redaktur mengingatkan.

Bagaimana tidak, saya benar-benar akan menjumpai pedalaman yang sejak dulu hanya menjadi cerita-cerita para pendaki. Padahal, saya lahir di daerah pegunungan ini. Sementara, para pendatang jauh lebih banyak (dan bersemangat) menikmati eksotisme gunung tertinggi di daerah kami itu.

Informasi-informasi dari dunia maya mulai saya kumpulkan satu per satu. Sebagian besar tentu berkisar cerita penjelajahan ke puncak tertinggi itu. Suka dan dukanya. Sayang, tak ada yang benar-benar menjelaskan tujuan yang akan kami tempuh. Saya hanya menemukan satu-satunya pedoman dari beberapa saksi hidup (pendaki) yang selalu saya cecar rasa penasaran. Benar, artefak itu ada disana.

"Cuma karena jalur itu sangat jarang dilalui pendaki pada umumnya, makanya tak tersentuh publik. Bahkan, untuk kesana, kita butuh pemandu khusus," terang teman itu lagi.

Saya nyaris dibuat tak percaya dengan hal semacam itu. Karena menyusur ke teknologi Google pun, tak ada informasi terang yang membuktikan keberadaan tujuan perjalanan kami. Saya hanya sempat diyakinkan satu artikel dari luar daerah yang sempat membahas bakal tujuan kami. Selebihnya, tak ada gambar-gambar yang menegaskannya secara valid. Intinya, benar keberadaannya.

Terlepas dari itu, saya berusaha menikmati momen keberadaan saya di tengah alam pegunungan ini. Jikalaupun hasilnya bakal berujung pada hasil yang nihil, saya akan pulang tanpa perlu menyesali apa pun.

Setelah awal tahun ini berusaha ikhlas menerima (nasib) penugasan di daerah, saya memang mulai memancang beberapa rencana baru di kepala. Saya menyusun tujuan penjelajahan di tempat ini. Sebelum ditarik kembali ke kota metropolitan, saya wajib merasai semua atmosfer petualangan di Bumi Massenrempulu. Kalau pun ada jodoh -- seperti yang dilambung-lambungkan teman disini -- ya anggap saja bonus.

Untuk sementara, paspor saya hanya bisa mampir dalam saku ransel di dalam kamar. Saya terpaksa harus memendam keinginan untuk melenggang ke negeri orang.

Akan tetapi, udara baru juga mulai ditiupkan dari tempat saya berkisah sekarang. Banyak tempat-tempat yang sejatinya belum pernah saya kunjungi di daerah ini. Meski tergolong masyarakat "asli" di daerah ini, masa kanak-kanak dan remaja saya lebih banyak dihabiskan di sekitar rumah. Belum pernah menjelajah ke tempat-tempat yang nyatanya punya panorama jauh lebih mengesankan.

Nah, saya pun berharap bisa mewujudkan perjalanan akbar itu seminggu atau dua minggu ke depan. Dinginnya alam pegunungan selalu menjadi hal paling romantis untuk dirindui. Hijau-hijau di depan mata bisa jadi pengobat suntuk. Tentu saja, di luar dari segala timbal balik mutualisme yang bakal kami dapatkan dari rencana perjalanan tersebut.

"Serius, (rencana) anggarannya cuma begini? Lah, ini sih sedikit sekali, Kak," ujar saya sambil tertawa, melihat hitung-hitungan di layar gadget.


--Imam Rahmanto--

Kamis, 23 Maret 2017

Teman, Puisi, dan Inspirasi

Maret 23, 2017
"Koteng* hijau dan koteng putih, laaaama mi bersahabat.

Koteng,

Mereka pun berpisah...

Koteng hijau mulai berjalan ke belakang.

Koteng putih juga, di bawah, seakan mau pergi berjalan

Koteng hijau, sampe disini, naik disitu, sampemi disitue, tidak ada kabarnya kepada koteng putih

Naik lagi si koteng hijau sampai di atas, disitumi e.., sampai di atas, tidak ada lagi kabarnya.

Tidak na BBM mi juga...

....."

Suasana malam yang tenang dan hening langsung bergemuruh tawa. Kami justru terpingkal-pingkal dengan satu puisi itu. Teman kami, sesama jurnalis, tanpa malu berdiri di atas panggung membacakan "syair" polos di luar kepalanya. Pun, sebenarnya puisi jenaka itu ada di luar topik panggung malam itu. Kami seharusnya membacakan karya-karya peninggalan budayawan Enrekang, Udhin Palisuri.

Entah saya ingin menyebutnya puisi atau bukan. Paling tidak, kami harus menghargainya sebagai sebuah hiburan. Saya akui, penampilannya malam itu adalah yang paling segar (dan lama). *Lebih cocok disebut Stand Up Comedy Poetry. Apalagi, ia awalnya sempat menolak untuk naik membawakan sebait-dua bait puisi. Tetapi, hanya gara-gara terlecut "komporan" dari kami, dua orang temannya, lelaki beranak satu itu dengan percaya diri melenggang ke atas panggung.

"Penampilan penutup untuk malam ini, kita akan persilakan bagi tiga teman wartawan untuk ikut membacakan puisi," ujar pemandu mengawalinya, yang sebenarnya sudah cukup akrab pula dengan kami.

Dan meluncurlah sang Koteng sebagai pembuka bagi kami, yang ingin membangun hangatnya persahabatan malam itu...

Maaf Kak Aris, fotonya mesti dipamerkan dulu. (Imam Rahmanto)

***

Sudah tiga malam berturut-turut saya ikut meniti waktu di halaman depan perpustakaan Enrekang. Terkadang berhasil mengajak teman. Lebih sering sendirian tanpa teman. Akan tetapi, saya tetap menjumpai banyak wajah baru. Darinya, saya banyak berkenalan dengan anak-anak muda yang punya semangat untuk terus melangkah. Dari sana pula saya punya alasan untuk terus memperbanyak teman.

Ada Panggung Literasi yang berusaha dihidupkan anak-anak muda di Bumi Massenrempulu. Bagaimana cara mengajak masyarakat untuk berkumpul di perpustakaan hanyalah secuil dari tujuan hakikinya. Karena sejatinya, pertemuan dan obrolan yang mengundang inspirasi jauh lebih menggairahkan.

Kami bertemu di dunia nyata, duduk berhadapan tanpa sengaja, bertukar pandang, berbicara, mengundang tawa, berbagi pengalaman, hingga menarik seikat kesimpulan; akan selalu ada pertemanan yang jauh lebih romantis. Paling penting, tak ada kebohongan atau hoax yang sengaja dilebih-lebihkan seperti saat kami berkumpul di dunia maya.

Saya belajar untuk tak menilai orang dari penampilannya saja. Karena sejujurnya, saya mulai menjalin pertemanan dengan mereka yang barangkali lebih akrab jika disebut anak Punk atau Metal. Rambut gondrong seakan tak terurus. Sekujur badan penuh tatto. Paradoksnya, justru mereka yang punya semangat untuk bangkit dari kenyamanan di balik kebiasaan.

Entah bagaimana, saya, kok ya, merasa "tertampar". Orang-orang berpendidikan malah cenderung tak punya keberanian untuk mengubah apa-apa. Diam saja di di bagian paling nyamannya. Manut dengan perintah atasan. Takut dengan teguran atasan.

Pada kenyataannya, lingkungan pertemanan ternyata ikut mempengaruhi ritme perjalanan hidup. Denyut semangat saya memang ikut beresonansi dengan mereka-mereka yang punya tekad kuat untuk terus maju dan berkembang. Sangat berbeda jika saya hanya menghubungkan ikatan itu dengan teman-teman se-profesi di lingkungan ini. Karena pertemanan paling "jujur" justru terbangun dari mereka yang tak punya kaitan profesi apa-apa dengan saya. Timbal baliknya, hanya karena kami saling menghargai.

Sebagian dari kami, para jurnalis, terlalu berleha-leha dengan kenyamanan menggali berita. Pisau bermata dua dimanfaatkan untuk ikut melukai siapa pun yang berani berbuat kurang ajar pada kami. Bahkan, tak jarang, sebagian dari kami mengasahnya demi meraup keuntungan lebih besar. Saya tak suka hal demikian. Bukannya dengan pisau itu jauh lebih berguna dipakai untuk membuat masakan-masakan yang lezat dan tak terlupakan? Karya yang manis tak selalu bisa diolah dari cara yang bengis.

Maka berteman dengan siapa saja bisa menjadi wadah untuk mengasah salah satu bagian paling emosional itu. Tetaplah berjalan apa adanya. Sembari tetap memancangkan tekad agar terus dibaca semesta. Mengapa demikian? Semesta bekerja sebagai bagian dari aksi dan reaksi. Apa yang kita pikirkan pada semesta, begitu pula yang akan diberikan semesta pada kita.

Seperti pesan yang ingin disampaikan teman kami yang membacakan Koteng, bertemanlah dengan siapa saja. Tak peduli mereka pandai atau sama sekali berotak bebal.

Dari balik kesuksesan kelak, selalu ada diantara mereka yang akan menjadi penopang saat kita ingin terus berdiri. Kita, kan, tidak pernah tahu bagaimana Tuhan menyusun skenario-Nya. Terkadang, hal-hal yang tak pernah kita duga justru menjadi sesuatu yang paling manis dalam runut skenario itu.

Bersantailah tanpa dibebani rasa bersalah. (Imam Rahmanto)

***

Dua hari lalu, 21 Maret, adalah Hari Puisi Internasional. Saya baru bisa ikut membacakan satu puisi Udhin Palisuri satu malam sesudahnya. Menutup dua penampilan teman sebelumnya.

Sebenarnya, saya bukan termasuk pembaca buku-buku para penyair. Tak ada satu pun koleksi saya yang merupakan bundelan puisi para penyair. Saya hanya lebih suka menikmati lantunan syair dari mereka yang bersenyawa di atas panggung. Setidaknya, senyawa-senyawa itu pula yang meniupkan ruhnya ke dalam jiwa untuk terus bergerak. Baik atau buruk penampilan mereka malam itu, saya lebih senang menilai semangatnya untuk naik ke atas panggung. Bahagia tak selalu diukur dari jumlah tepuk tangan.

"Hanya untuk satu bacaan, kita terlalu banyak beralasan." Mulailah membaca apa saja yang kamu suka.


--Imam Rahmanto--

-----

*) Koteng = hewan sejenis siput atau keong. Tetapi tak punya kemampuan membacakan puisi. 

Jumat, 17 Maret 2017

Menyimak New York

Maret 17, 2017
Orang-orang selalu berjajar rapi di sepanjang koridor pesawat. Saat pintu kabin terbuka dan pramugari menyambut dengan gingsul dan lesung pipinya, para penumpang justru berlalu tanpa mengatakan apa-apa. Padahal, bukannya senyuman selalu bisa menenteramkan hati?

Mereka ternyata masa bodoh dengan senyuman. Sudah terlalu banyak senyuman hari ini. Tak peduli nafsu atau palsu hanya karena memenuhi kewajiban profesi. Barangkali sebagian penumpang juga sudah khatam dengan senyum "marketing" di atas pesawat, sebagaimana mereka - pramugari - juga paham untuk selalu tersenyum tanpa mengharap balasan.

Kami, para penumpang, lebih memilih memandangi sobekan tiket yang sudah tersisa setengahnya. Memelototi angka yang akan menentukan di kursi mana pandangan mata bisa menyapu jendela. Sialnya, entah bagaimana, saya selalu kebagian kursi tengah. Hanya berjarak satu kursi dari jendela pesawat. Sebagai penumpang yang baik, saya hanya bisa duduk manis diantara dua penumpang kiri-kanan saya.

Satu-satunya yang bisa melegakan perjalanan saya hanya buku bacaan di pangkuan. Selang beberapa menit lalu, saya terlupa menyampirkannya di genggaman. Saat hendak lepas landas, baru terasa ada yang kurang.

Saya terpaksa harus menggumamkan permisi kepada penumpang di sebelah. Padahal, wanita itu sudah duduk nyaman dengan seat belt menekan pahanya. Buku saya terselip dalam saku ransel yang sudah berdesakan dalam bagasi. Sebenarnya, tak butuh waktu lama juga untuk meraih buku itu. Buku yang siap menyita waktu perjalanan saya.

The Architecture Of Love.

***
The Architecture of Love by Ika Natassa. (Imam Rahmanto)

Saya kini punya kebiasaan baru setiap bepergian lewat pesawat. Jauh atau dekat, novel adalah hal wajib untuk dibawa serta. Satu atau dua judul sebenarnya sudah cukup untuk ditamatkan selama jam-jam mengarungi gumpalan awan di langit. Guncangan di atas kabin pesawat selalu bersahabat dengan perut dan kepala. Tidak pernah se-memusingkan saat membaca di atas kendaraan darat. Saya bahkan bisa hanyut jika sudah berhadapan dengan buku di atas pesawat.

"Kita selalu tahu kapan yang pertama, tapi kita tidak pernah tahu kapan yang terakhir untuk semua hal dalam hidup ini, sampai kita sendiri menghembuskan napas terakhir," --hal.101

Baru-baru ini, novel karya Ika Natassa menjadi teman perjalanan pulang-pergi antara Makassar dan Surabaya. Butuh dua kali penerbangan untuk bisa menamatkan novel setebal 301 halaman ini.

Saya juga sebenarnya sempat menghabiskan beberapa lembar novel ini di Bandara Juanda Surabaya. Saya mesti menginap di lobi bandara hampir delapan jam karena menyusul penerbangan pagi.

Sebagai pengalih waktu, saya cukup menikmati plot twist yang dibangun sang penulis, Ika Natassa. Meski ceritanya agak klise lantaran mengutamakan kisah asmara. Alurnya terbilang sederhana karena hanya mengutarakan "pertemuan tak sengaja - berkenalan - saling tertarik - jatih cinta". Hanya saja, dikemas dengan background berbeda karena berada di New York. Bagian satu ini yang sesungguhnya membuat saya menggebu-gebu ingin menamatkannya.

"Jatuh cinta adalah satu-satunya yang rela dilakukan orang berkali-kali meski harus selalu berkawan dengan patah hati," --hal.279

Meskipun pada kenyataannya, penggambaran New York pun masih belum maksimal di kepala saya. Ekspektasi saya terlalu berlebihan. Mungkin karena Ika condong mendeskripsikan novel-novelnya bernuansa sosialita. Perjalanan di New York pun tak jauh-jauh dengan kebiasaan hidup para "orang kaya". Tak jauh berbeda dengan gaya berceritanya di novel lain.

River dan Raia, yang sama-sama kehilangan cintanya, memilih untuk menyepi ke kota ternama sejagad. River Jusuf, si arsitek, dipertemukan dengan Raia Risjad, seorang penulis yang butuh inspirasi. Pada akhirnya, pembaca bisa menebak sendiri bagaimana penutup kisahnya.

Jika mendengar nama "Risjad", pembaca setia Ika Natassa tentu bakal tergelitik.
Nama itu agak erat dengan keluarga Risjad di novel lain karya Ika Natassa. Ada Aldebaran Risjad, yang lebih akrab disapa Ale, dan lebih akrab pula diperbincangkan di novel Critical Eleven. Sementara Harris Risjad, kalau tak salah di novel Antologi Rasa, juga ikut menjadi figuran diantara kisah Raia dan River.

Kenyataannya, tokoh-tokoh utama yang pernah jadi pusat cerita di novel lain itu memang jadi figuran di novel yang berbeda. Saya baru menyadari, hal semacam itu memang menjadi ciri khas Ika, membuat benang merah cerita antar tokoh yang berasal dari "dimensi" novel berbeda. Nampaknya, novel keluarga Risjad bisa menjadi satu bundelan suatu hari nanti.

The Architecture of Love juga cukup istimewa karena dibuat berdasarkan rating dan poling yang disebar di media sosial seperti Twitter. Seingat saya, beberapa tahun lalu, saya memang pernah mendapati kicauan penulis yang bernuansa fiksi. Kicauan yang tak lebih 140 karakter itu menyematkan nama Raia dan River. Ika berani bereksperimen dengan sambungan-sambungan tweet yang bercerita tentang Raia dan River. Alhasil, semuanya dirangkum penerbit dengan beberapa tambahan sehingga beranak-pinak sebagai buku.

Buku ini termasuk "anak" bungsu dari penulis. Oleh karena itu, siapa saja yang ingin membaca, sebaiknya memulainya dari "anak-anak" sulung. Bukan apanya sih. Meski tak dibuat sebagai novel berseri, namun kisah-kisah keluarga Risjad sebelumnya bisa jadi referensi dan pencerahan.

Selain itu, buku ini masih belum direkomendasikan bagi pembaca yang tertatih-tatih menerjemahkan bahasa Inggris.

"Patah hati tidak akan pernah lebih gampang walau sudah dialami berkali-kali. Ya. Tidak akan pernah jadi berkurang sakitnya. Patah hati itu tidak seperti makan sashimi, yang awal-awalnya kita merasa tidak enak, aneh, tapi kalau dicoba terus pasti suka. Patah hati itu seperti makan ikan bau yang sudah busuk berhari-hari." --hal.225


--Imam Rahmanto--

Sabtu, 11 Maret 2017

Menggambar Perjalanan

Maret 11, 2017
Saya sangat suka menggambarkan segala hal. Seandainya bakat saya juga terbagi dalam kemampuan menorehkan garis di atas kertas dan kanvas, mungkin di dalam tas saya akan banyak berjejalan karya seni yang tak kalah kerennya dari Eichiro Oda. Atau kalau terlalu muluk-muluk, lebih mengimbangi Sweta Kartika saja.

Sayangnya, saya hanya paham menggambar coret-coretan doodle sederhana. Untuk yang lebih rumit, pasti saya butuh pemandu sebagai contoh. Itu pun hasilnya belum tentu memuaskan. Kata teman, kalau saya disiplin mengasah gambar-gambar itu, bisa semakin bagus.

Gambaran untuk saya lahir dalam bentuk tulisan. Yah, bagaimana menyelipkan gambar ke kepala setiap orang dari atas huruf yang sebagian besar orang justru tak punya minat melahapnya. Meski begitu, saya tetap menggambarkan segalanya lewat tulisan. Tak peduli jadi konsumsi publik atau hanya akan tersimpan dalam ranah pribadi.

Kesenangan itu pula yang meniupkan napas dalam setiap perjalanan saya. Betapa yang menyenangi petualangan, selalu punya bahan untuk dijadikan kenangan.


"Hebatlah dia, bisa kemana-mana sesuka hatinya,"

Ucapan semacam itu kerap saya dengar dari hasil menguping cerita perjalanan-perjalanan orang lain. Beberapa teman juga sempat mengutarakan hal yang serupa.

Orang-orang yang dilabelinya "hebat" itu adalah mereka yang mampu memuaskan nafsu perjalanannya ke semua tempat. Domestik hingga mancanegara. Bahkan semakin menyenangkan jika tak perlu merogoh kocek lebih dalam. Asalkan bisa menginjakkan kaki ke impian para pelancong atau wisatawan baru.

Tetapi, saya hanya bisa menggeleng dalam hati. Bagi saya, setiap perjalanan takkan berakhir hanya sebagai ajang onani atau memuaskan diri sendiri. Seharusnya, setiap traveller atau backpaker bisa mencontoh Agustinus Wibowo, yang punya "gambaran" manis setiap inci perjalanannya. Ia tidak hanya memperkaya pengalaman pribadi, menuntaskan nafsu, hingga mengadu gengsi. Perjalanannya justru menjadi ihwal semua orang ingin berlaku hal yang sama. Petualangannya membuat Agustinus belajar, dan membelajarkan dengan bercerita.

Bukankah perjalanan semacam itu lebih menyenangkan? Ketimbang sekadar jalan-jalan untuk menjejali space kamera dengan bukti foto diri.

Banyak hal yang saya nikmati dari beberapa perjalanan. Paling utama, mencicipi hal-hal baru. Tak peduli jika hal itu bakal menyurutkan langkah dan membuat saya mengkeret. Tanpa dicoba, siapa yang pernah tahu. Tak pantas lagi rasanya jika lelaki seumuran saya masih menjadi orang-orang yang pemalu dan tak mampu memimpin diri sendiri.

Banyak hal baru yang mampir di setiap perjalanan saya. Dan itu teramat melegakan. Mulai dari menjajal berbagai penerbangan berbeda. Berbaur dengan (masih) bahasa ibu. Mencari jalan pulang lewat sarana transportasi umum meski harus sambung-menyambung. Menjejak terminal sebagai tempat langka. Hingga mengandalkan peta modern agar tak salah arah dalam menentukan detail perjalanan. Pun, saat menuliskan ini, saya sedang menginap di lobi Bandara Juanda demi menanti penerbangan pagi.

Hangatnya perjalanan selalu menelusup di sela jemari. Entah bagaimana, saya selalu merindukan petualangan dan perjalanan semacam ini. Ada ruang privasi untuk berkontemplasi. Sebagian ruangnya bisa untuk mengamati hal-hal yang sangat berbeda dari "kotak kehidupan" sendiri. Kelak, kita bisa sadar bahwa: dunia tak sesempit yang kita lihat sehari-hari.

Tentu saja, segalanya harus berakhir dengan "gambar". Setidakya, contoh paling kecil telah saya susun seperti paragraf-paragraf di atas.


--Imam Rahmanto--

Jumat, 03 Maret 2017

Berpulang Sunyi

Maret 03, 2017
Suasana tempat ini terasa senyap. Dua hari lalu, warung kopi (warkop) di pinggir pasar sentral ini baru saja direnovasi. Hanya atapnya saja yang diangkat lebih tinggi. Kata pemiliknya, biar kalau siang para pengunjung tak kepanasan.

Saya tak tahu siapa saja pengunjung yang dimaksudnya. Baru sebulan berada di Enrekang, saya jarang melihat ada banyak pengunjung yang menyesaki tempat ini. Maklum, saya dan warkop ini memang punya kesamaan: sama-sama masih baru.

Barangkali karena kesamaan itu saya lebih senang menghabiskan waktu sendirian diantara hiruk-pikuk jika hari pasar tiba. Warkop yang tak berjendela karena terbuka lebar layaknya teras rumah ini sudah menjadi langganan utama saya. Diantara beberapa tempat ngopi, saya cenderung lebih mengenal pemilik warkop ini.

Soal kopi-susu, warkop ini bukan rajanya. Saya hanya suka berinteraksi dengan pemiliknya sesekali. Mengobrol ngalor-ngidul soal Makassar (karena dia sudah tak asing lagi), tentang kopi (karena dia pernah tanpa sadar menjadi narasumber saya), tentang cuaca Enrekang (yang kadang hujan kadang panas), hingga segala kabar yang oantas dibagi.

"Ada kabar tentang apa lagi hari ini?" tanya pemilik warkop yang berperawakan kecil itu.

Tanpa perlu diminta, ia biasanya segera masuk dapur. Hanya berselang menit keluar dengan nampan berisi segelas kopi-susu.

"Hm...kabar apa ya? Masih belum ada judul. Malah saya seharusnya yang cari info," elak saya.

Bagaimana pun, saya tahu, kabar tentang kopi lebih menarik baginya. Sebagai lelaki yang karib dengan perdagangan dan olahan kopi, ia nyaris khatam. Pertama menyusun tulisan Kopi Kalosi pun saya mendapatkan banyak pantulan ide darinya. Meski bukan asli Enrekang, ia paham bagaimana cara mengaduk kopi dengan perasaan.

Kemarin, bapak menelepon. Yah, sekadar mengingatkan tentang adik sepupu saya yang bakal menikah. Jauh hari, dari gaya berbicaranya juga sudah meminta saya untuk pulang melepas rindu. Tak elok jika tak mengikuti resepsi pernikahan anak dari saudara kandung mamak, kata bapak. Apalagi, seluruh keluarga besar juga akan ikut tatap muka di acara spesial itu.

"Kapan kamu pulang? Jangan lupa belikan bapak...."

Saya mengiyakan saja permintaan itu. Padahal di kepala saya masih menggelayut beberapa agenda kesibukan yang bakal menyita minggu depan.

Saya pikir, bertugas di daerah yang jauh dari asap dan gedung pencakar langit bisa sedikit membuat napas lega. Waktu luang bertambah banyak sih namun tuntutan yang tak jauh berbeda. Saya tak peduli, tiga atau empat hari bisa saya curi saja.

Bapak dan mamak juga sudah kadung rindu dengan anak sulungnya. Dari caranya berbicara dan bercerita, saya tahu ia butuh teman untuk menumpahkan semuanya. Intensitasnya menelepon juga tak lepas dari asumsi barusan. Entah bagaimana, atmosfer kehidupan di Jawa membuat bapak lebih banyak memendam rindu untuk putra mbarepnya

Yah, mari memakluminya. Sebagai anak yang pernah berkepala batu, saya memang menyisakan banyak gumpalan rindu itu. Sudah sewajarnya saya menyambangi keluarga disana. Asalkan bapak tak perlu menagih soal pendamping hidup. *Eh.

Dan... hari ini saya baru saja menyelesaikan buku Megamendung Kembar, karya Retni SB. Saya membacanya dua hari lalu. Bukan buku yang recommended, menurut saya. Tetapi cukup baik membuka wawasan baru bagi saya untuk urusan membatik. Istilah-istilah baru dari Cirebon.

Ah ya, ini cuma tulisan acak yang tak karuan, kan? Barangkali pengaruh terlalu banyak mengetik berita dalam rentang seminggu ini. Sudahlah, karena toh saya cuma ingin memeluk kehangatan di "rumah" sederhana ini. Tak pulang seminggu, rasanya langsung didera rindu.

(Foto: Imam Rahmanto)


--Imam Rahmanto--