Sabtu, 04 Februari 2017

Sejuk yang Membujuk

Perlahan jemari tangan saya mulai menggigil. Pandangan juga tak bisa leluasa jauh ke depan. Sepanjang jalanan beraspal ke puncak, saya tak bisa membedakan antara gerimis atau sekadar kabut. Namun dilihat dari intensitasnya, langit sedang berbaik hati menyiram ladang sayur-mayur di kiri-kanan jalan sempit itu. Jaket juga agak lembab dibuatnya.

Sejuk sedari awal menyergap petang itu. Sayangnya, tak ada sinar matahari yang sanggup menerobos gumpalan awan mendung itu. Beruntung, hujan tak segarang di Makassar atau Gowa. Kabarnya, badai datang, pohon-pohon tumbang, atap rumah terbang, banjir bandang, hingga manusia hanya bisa meradang.

Angin dan hujan justru bersahabat dengan penduduk perkampungan di kaki gunung. Saya berkendara seumpama ditodong Air Conditioner (AC). Entah pada kisaran suhu berapa. Barangkali 16-20 derajat celcius. Kalau pun panas, hawanya tak menyengat dan semenyebalkan di ibukota kabupaten. Sebelas-dua belas lah dengan Malino. Enrekang bagian skor 12-nya.

"Belumpi. Nanti kalau di Makassar selesai, baru giliran disini," kata salah seorang penduduk pribumi.

Sedang musimnya panen kol. (Imam Rahmanto)

Saya dibuat menyusur ingatan di kampung penghasil kol ini. Semasa sekolah, jejeran nama teman-teman saya berasal dari daerah ini, Baroko, hingga ke desa-desa yang jauh lebih tinggi jika diukur dari atas permukaan laut.

Perjalanan saya kala berseragam putih abu-abu bisa dihitung jari. Pun tak begitu menikmatinya. Zaman kami belum ada kamera smartphone yang punya resolusi tinggi. Teman paling kaya cuma dibekali dengan handphone Nokia 6600. Lebih keren lagi, Nokia N-Gage. Jadi, tak ada momen-momen istimewa yang bisa diabadikan seatraktif sekarang.

Selain itu, saya juga belum bisa bebas mengendarai motor.

Sejak dulu, sunyi perkampungan tak pernah berubah. Penduduknya juga selalu ramah. Hiburan satu-satunya hanya ada pada layar televisi. Maka jangan heran jika di setiap rumah, sinetron dan audisi dangdut lebih banyak jadi bahan konsumsi.

Jaringan internet tak begitu bersahabat di ketinggian seperti itu. Dua operator kartu saya, Si Merah dan Si Kuning benar-benar tak berkutik dipakai sekadar untuk mengirim email.

Masyarakat memang nampaknya lebih bahagia dalam ketenangan seperti ini. Tanpa hoax-hoax dari media sosial, kehidupan tetap berjalan seperti biasanya. Sesekali, materi berita tivi jadi perbincangan segelas kopi. Hanya persaingan bakal calon bupati yang terkadang menarik urat leher.

Seperti halnya ketika mengunjungi rumah seorang kawan lama di Lumbaja, desa Benteng Alla. Berbekal label pekerjaan sebagai wartawan, saya memasuki perbincangan yang cukup hangat dengan ayah kawan saya.

"Wah, berarti kau ditakuti Pak Bupati, dong," kata lelaki paruh baya itu usai menanyakan perihal pekerjaan.

"Jadi, bagaimana kemungkinan calon bupati kita ini?"

Penasarannya pun berlanjut. Perbincangan menyoal petarung politik menjadi daya tarik tersendiri bagi masyarakat pedesaan. Saya bahkan sampai diganjar segelas kopi susu dan makan malam bersama keluarganya. Padahal, beberapa menit sebelumnya baru saja mengisi perut di rumah teman lainnya.

Bagi anak-anak, hidup tanpa gadget dan jaringan internet juga tak jadi persoalan. Jauh belasan tahun silam, kami tetap bisa tertawa-tawa dengan layangan di tangan. Berlari-lari di sawah dengan atap langit maha luas. Memutar baling-baling bambu. Berkunjung ke rumah teman yang punya konsol game. Atau sekadar mengerjakan PR ke rumah teman.

Tanpa GPS, anak-anak juga suka menyusuri calon objek wisata baru untuk puluhan tahun akan datang. Serius. Destinasi wisata yang sedang ngehits di dunia maya tak jarang merupakan lahan bermain bagi anak-anak di masa lampau. Air terjun. Sungai. Goa batu. Jejeran bukit dan gunung. Kebun-kebun kopi. Hingga budaya yang turun-temurun tanpa disadari merupakan aset pariwisata yang sangat berharga.

Saya tak khawatir dengan kebiasaan sunyi anak-anak kampung. Hal semacam itu justru menjadi kenangan yang kokoh di kepala mereka. Kenakalan hanya bumbu serupa lada. Kelak, ada berjuta alasan rindu dengan masa kecil. Barangkali bisa jadi alasan pula untuk memeluk kenangan di kampung halaman.

Kenangan saya di tempat ini justru berhubungan dengan kawan-kawan yang bermukim. Saat menyambangi salah seorang narasumber di sana, saya bertemu dengan teman yang mengenal saya di masa sekolah. Malangnya, saya tak begitu mengenalnya meski ia sudah menyebutkan nama lengkap. Alhasil saya merasa bersalah. Barangkali karena ia duduk di kelas jurusan berbeda. Sementara nama saya memang sudah telanjur populer di kalangan seangkatan dulu. #sombonggg

Saya hampir lupa. Perjalanan di desa puncak dataran tinggi ini bukan sekadar memilin rindu. Pekan sebelumnya, redaktur meminta sedikit ulasan tentang Kopi Kalosi. Bumi Massenrempulu memang terkenal dengan biji Arabika-nya. Khususnya daerah Benteng Alla Utara. Sedikitnya, saya sudah mengenal beberapa jalur di Kecamatan Alla hingga Baroko. Tak sulit untuk mengatur tempo ingatan dari kepala.

Selain Benteng Alla Utara, saya juga kepincut dengan nama desa Nating dan Bone-bone. Keduanya juga penghasil kopi. Istimewanya, Bone-bone termasuk desa yang terkenal dengan kawasan bebas rokoknya.

"Oiya, dari sini juga ada Air Terjun Mundan yang sangat bagus," usul teman, yang menemani perjalanan saya. Ia juga tahu saya sedang mencari bahan rekomendasi untuk naskah travelling.

Duh, tolong, jangan menggoda. Karena saya pasti bakal kesana.

Salah satunya, mendaki puncak Bambapuang. Imam Rahmanto)


--Imam Rahmanto--

2 komentar: