Selasa, 14 Februari 2017

Lintas Dimensi Para Supernova

"Scripta manent, verba volant,"

Itu adalah pepatah latin, berarti yang terucap akan hilang, yang tertulis akan abadi. Saya baru menemukannya diantara tumpukan aksara yang menyesaki buku Intelegensi Embun Pagi (IEP), karya Dewi Lestari. Saya menyukainya. Itu seperti kata Mbah Pramoedya yang mengatakan, menulis adalah bekerja untuk keabadian.

(Imam Rahmanto)

Buku bersampul putih ini sebenarnya sudah teramat lama berada dalam koleksi saya. Hampir genap setahun semenjak saya memboyongnya dari toko buku sederhana, tepat launching perdana Dewi Lestari di beberapa kota. Lihat, betapa lamanya saya menganggurkan buku keren ini.

Kesempatan membacanya baru saya dapati di daerah Enrekang ini. Terpencil dari keramaian dan kesibukan yang menyita kepala ternyata membuat saya punya waktu lebih banyak. Malangnya, tanpa jaminan bisa menambah isi rak buku setiap bulan.

Saya sangat menginginkan bisa menuntaskan buku ini tanpa perlu sambung-menyambung dalam tempo beberapa hari. Kebiasaan saya saat membaca buku-buku tebal. Apalagi, pengalaman saya membaca muasal Supernova lainnya telah lama berselang.

Sebenarnya, ada beberapa buku yang saya tamatkan untuk minggu ini. Semisal Ayah-nya Andrea Hirata, Jakarta Sebelum Pagi dari Ziggy (recommended!), Episode Hujan besutan Lucia Priandarini, hingga beberapa seri Komik Tintin yang diangsurkan Bunda saat menyambangi rumahnya.

Namun, bagi saya, Intelegensi Embun Pagi yang paling fenomenal. Biarpun tebalnya juga begitu "aduhai" untuk ukuran pembaca pada umumnya, saya tetap menyukainya. Toh, waktu saya masih cukup lowong hanya untuk melahap karya setebal 705 halaman itu. #psst... Padahal saya sempat absen liputan sehari demi menuntaskan penasaran akan ujung ceritanya.

"Kenapa orang-orang zaman sekarang senang sekali membuat cinta jadi rumit? Suka ya suka. Tidak usah butuh berhari-hari untuk tahu."

Bagi yang menyenangi karya romantis Dee, sebenarnya ini bukan pilihan. Siap-siaplah kecewa. Bagaimana tidak, isinya hampir semuanya bercerita tentang perjalanan dan petualangan para Peretas (Infiltran) menemukan anggota gugusnya satu sama lain. Alfa sang Gelombang, Bodhi sang Akar, Gio sang Kabut, Elektra sang Petir, dan Zarah sang Partikel. Pertemuan mereka juga berlangsung di dua portal atau gerbang dimensi yang ada di Indonesia.

Cerita di IEP menjadi pelengkap dari seri sebelumnya, yang cenderung menceritakan kepribadian dan kehidupan masing-masing tokoh utama. Pun, saya nyaris berpikir bahwa judul IEP sendiri bakal menampilkan anggota baru yang tak jauh-jauh dari karakter Intelegensi, Embun, atau Pagi. Hal itu mengacu pada novel Supernova sebelumnya yang berjudul nama masing-masing Peretas.

Akan tetapi, IEP seolah menyatukan semua misteri di lima seri novel sebelumnya. Kelimanya punya keterkaitan satu sama lain. Atas dasar itu, Dee memang meramu cerita (dan strategi) mempertemukan mereka di novel bersampul putih ini. Wajar, tebalnya hampir menyamai novel Harry Potter. Saran saya, siapkan banyak-banyak cokelat panas dan kudapan untuk menamatkan satu buku ini.

Saya jadi heran (sekaligus takjub) melihat keseriusan penulis menggarap novel ini. Berbagai macam teori fiksi di dalamnya tentu butuh observasi dari banyak referensi. Kepala saya saja yang masih normal dibuat agak keras berpikir tentang jalinan teori dan strategi di dalam IEP ini. Teori-teori berseliweran, yang hanya akan membuat kepala tambah pusing jika dipikirkan lebih jauh.

Meski begitu, seri penutup Supernova ini harus diacungi jempol. Saya seolah menonton film bergenre sains fiksi versi Indonesia. Diantara beberapa novel, baru karya Dee ini yang membuat saya terbayang-bayang alur film sains fiksi. Alurnya cepat dan tak bertele-tele. Namun tepat sasaran. Yah, mungkin karena ini bukan soal drama romantis. Hanya beberapa bagian yang disisipi kisah romantis antara Gio dan Zarah, sebagai pasangan yang akan melahirkan Peretas Puncak. Sisanya, petualangan mendebarkan dan bikin penasaran. Tambahkan stok cemilan lebih banyak!

Dan akhirnya, tentu saja, tak ada lagi keraguan cerita di dalamnya. Ini buku terakhir dari 99 keping cerita yang diselesaikan selama 15 tahun lamanya. Cukup nikmati saja seperti saat menonton film kesukaan di tivi.

Oleh karena itu, simpan gadgetmu, berhentilah stalking di dunia maya, dan cukup sudah nyinyir di media sosial. Saatnya memasang musik kesukaanmu, mengaduk aroma cokelat panas, dan duduklah paling nyaman diantara suasana yang bisa membawamu ke dunia Supernova. Berdoalah agar aroma petrichor atau rintik hujan menyertai petualanganmu bersama para Peretas, Infiltran, dan Sarvara.

"Sebuah akhir akan melahirkan sebuah awal. Kata 'Tamat' akan menggiring kita ke 'Pendahuluan' yang baru. Sampai bertemu di kisah berikutnya" kata Dee menutup novelnya.

Selamat membaca. (Imam Rahmanto)


--Imam Rahmanto--

Tidak ada komentar:

Posting Komentar