Senin, 09 Januari 2017

Remaja dan Kewajiban

Kalau boleh, katakan aku merindukanmu. Salahmu, jadi kenangan di kepalaku.

***
Kehidupan saya di Enrekang lekat dengan masa remaja. Masa sekolah. Momen yang tentu banyak membangun pikiran atau justru memutarbalikkan hal-hal yang saya ketahui.

Baru-baru ini, sering menjumpai anak-anak berpakaian seragam sekolah di dalam masjid Enrekang, tengah hari. Jumlahnya tak hanya dua-tiga orang. Bisa dibilang, setengah dari jumlah satu kelas, karena termasuk anak-anak perempuannya. Mereka juga hendak menunaikan kewajiban agama lima waktu.

Kebiasaan mereka seolah melempar saya pada satu garis waktu, di usia sebaya.

***

"Ayok ke masjid sebelah," ajak salah seorang teman sekelas.

"Tapi kalau shalat disitu, nama kita tidak dicatat," ujar teman lainnya.

"Yang penting ketua kelas diajak toh. Nanti dia yang tanggung jawab catat siapa-siapa shalat. Kan ndak mesti di masjid sekolah," elak saya, yang dibenarkan teman-teman lainnya.

Sekolah kami punya kebiasaan absensi siswa yang ikut shalat berjamaah di masjid. Kata guru BK, itu sebagai tambahan nilai moral kami. Kata guru agama Islam, kehadiran bersama jamaah di masjid sekolah itu jadi landasan baginya untuk memberikan nilai akhir mata pelajaran agama Islam. Tak heran jika tiap minggu guru agama kami bakal menagih setoran absensi kehadiran shalat Dhuhur berjamaah di tiap kelas.

Hanya saja, saat sekolah kami mulai menerapkan sistem moving class, ada beberapa kelas yang berada di ujung kompleks. Saya lupa mata pelajaran apa. Lokasinya terpencil hingga berhadapan langsung dengan pagar pembatas sekolah. Tepat di belakang masjid, yang menghadap langsung ke jalan poros. Sementara masjid sekolah ada di ujung pembatas bagian barat. Jauh. Apalagi posisi kelas kami berada di puncak-puncak dataran yang lebih tinggi.

Coba berkunjung ke sekolah kami, SMAN 1 Alla. Tak sulit menemukannya karena lokasinya di pinggir jalan poros.

Setiap kelas bersebelahan di atas dataran tinggi. Mengelilingi laboratorium Fisika, perpustakaan, lapangan basket, voli, yang posisinya jauh berada di bawah bukit. Coba melempar batu kecil dari kelas dataran tinggi. Atap-atap seng bisa berbunyi saking gaduhnya.

Hanya kantor, laboratorium, dan beberapa kelas di sebelahnya yang punya permukaan agak rata. Itu karena di depannya selalu ada lapangan untuk upacara pagi setiap senin.

Kondisi itu, sangat berbeda dengan penampakan sekarang yang mulai banyak permukaan rata karena ditimbun bangunan baru.

Kami tentu dibuat capek jika harus ke mushalla sekolah setiap jam istirahat siang pada mata pelajaran bersangkutan. Alternatifnya, kami shalat di masjid umum, yang juga selalu diramaikan penduduk sekitar. Tak heran jika kami juga sering bertemu penduduk yang ingin menunaikan ibadah yang sama.

"Akh, mau diabsen atau tidak, yang penting kewajiban saya terpenuhi. Ini kan Tuhan yang nilai," sekali-kali argumen demikian keluar dari mulut kami. Padahal, diam-diam kami juga tetap mengecek ceklis nama pada absensi yang selalu dipegang ketua kelas.

***

"Barangkali mereka juga sedang menunaikan tuntutan guru agamanya," gumam saya di sela-sela waktu menunggui shalat.

Melihat mereka bergerombol membuat saya iri ingin kembali ke masa-masa tertawa itu. Pikiran belum dipenuhi banyak tanggung jawab. Segalanya masih soal bersama teman.

Kemarin, saya baru saja menuntaskan biaya sewa kamar kost yang bakal jadi tempat bermukim selama setahun. Lokasinya tak jauh dari pusat kabupaten, hanya berjarak dua menit berkendara motor. Suasananya cukup nyaman di atas lantai dua. Ada teras yang bisa menjadi tempat nongkrong menyeruput kopi pagi-pagi. Barangkali, itu pula yang akan membuat saya betah berlama-lama di kota ini. Selain karena kamarnya juga yang super-duper lapang.

Minggu berikutnya, buku lebih banyak menjajah. (Imam Rahmanto)


--Imam Rahmanto--

Tidak ada komentar:

Posting Komentar