Selasa, 24 Januari 2017

(L)uang

Telepon Bapak baru saja ditutup. Ia mengabarkan nenek yang sedang dirawat inap di rumah sakit, sejak pagi. Kata Bapak, nenek mengalami gangguan kesehatan. Badannya memang sudah kepayahan dengan usia yang tak muda lagi. Sementara saban hari, nenek tak pernah berhenti bolak-balik pasar memenuhi tuntutan dan kebiasaannya.

"Tidak apa-apa kok. Ada mamakmu yang jaga disana. Itulah juga yang disyukuri, nak. Beruntung saat mamakmu ada disini, nenekmu ada yang jaga," ujar bapak.

Paling tidak, mamak sudah menemukan cara untuk mengabdikan diri pada ibu angkatnya itu. Meski tak punya hubungan darah, nenek sudah jadi bagian keluarga mamak puluhan tahun silam. Rumah yang kini dihuni di Jawa pun adalah berasal dari garis keturunan nenek.

Saya bersyukur, Bapak dan Mamak sudah dekat dengan kerabat dan keluarga agar bisa berbagi uluran tangan. Mereka juga semakin punya banyak waktu menikmati masa tuanya untuk menikmati kampung halaman. Teramat berbeda dengan putranya, yang baru memulai hidup baru di kampung (yang selalu disebut-sebut sebagai) halamannya sendiri.

Di Enrekang, tempat ini dinamakan Sekitar Wilayah Sungai Saddang (SWISS). (Imam Rahmanto)

Malam nyaris menjejak pertengahannya saat saya mengakhiri sambungan jarak jauh itu. Apalagi setelah bapak mulai membahas sedikit keinginan agar anaknya masih mengincar pekerjaan sebagai abdi negara. Seperti biasa, saya mencari celah. Sekadar menghindari perdebatan panjang. Karena saya tetap mencintai pekerjaan ini.

Saya kini punya banyak waktu luang. Bekerja mengumpulkan berita di daerah, tak sepadat dan sesumpek di kota metropolitan. Kita akan lebih banyak bersahabat dengan aroma keheningan. Sepi dan sunyi sudah jadi sahabat sejak pertama kali memeluk pekerjaan ini.

Meskipun sejujurnya, jauh dari kota membuat penghasilan juga perlahan jauh dari kata cukup. Kepopuleran media kami tak lantas menjadi angin segar bagi siapa pun yang berada di bawah naungannya. Jangan menaruh harapan berlebihan.

Waktu luang pula yang membawa saya pada banyak hal. Termasuk merasai pertemuan beraroma rindu dengan sahabat-sahabat di Makassar. Yah, saya menyempatkan diri untuk "melarikan" sebagian waktu yang lowong. Dua hari saja. Dua hari itu justru terasa sangat berharga. Paling tidak, bisa membuat saya tersenyum-senyum sepanjang mengingat foto yang diunggah sahabat di media sosial.

Saya sudah bisa meluangkan lebih banyak waktu untuk berbagi cerita dengan sahabat-sahabat. Duduk-duduk santai hanya untuk meluapkan beberapa ingatan yang mengundang tawa. Bahkan, sekadar olok-olok bisa menjadi sesuatu yang paling dirindukan dari kedekatan kami.

Tak ada lagi momok atas pertanyaan-pertanyaan, "Kapan ada waktu luangmu?" Bagi saya, hampir setiap hari adalah waktu luang. Apalagi Sabtu dan Minggu.

Bersantai di kafe. Ngumpul. Menumpahkan rindu. Bermain game konsol. Berjalan-jalan di anjungan. Cuci mata keramaian Losari. Makan-makan di tengah hiruk-pikuk car free day. Agenda foto studio dadakan. Bertemu sahabat sekantor, sembari menyisipkan keluhan dan sedikit "pembangkangan". Semuanya terangkum dalam dua hari waktu saya di Makassar.

Betapa waktu luang sangat berharga untuk bagian hidup lain yang telah lama terlupakan, bukan? Karena hidup tak selalu sekadar mencari uang. Kita juga butuh menikmati waktu luang.

Kapan lagi kami yang berpisah antar kota bisa disatukan dalam satu waktu begini. (Imam Rahmanto)

Untuk malam ini pun saya menyempatkan diri duduk di tengah kafe menyeruput aroma kopi-susu. Seorang teman menawari waktu untuk bersantai, ketimbang memeluk sunyi di dalam kamar. Kafe ini sudah menjadi tempat langganan saya semenjak mulai mengenal pusat pemerintahan di kota Enrekang. Sesekali bayar sendiri, lain waktu ditanggung teman baru.

Tak usah berpikiran kafe ini semewah di kota-kota besar. Jaraknya yang hanya sepelemparan batu dari lapangan Batili membuat saya betah mengetik naskah disini. Apalagi jika suasana senja sudah menyapa, ada puluhan anak muda yang akan menghabiskan waktu di lapangan itu. Barangkali, hanya kabupaten ini yang punya lapangan berbatas alam pegunungan.

Akh, saya sudah ngantuk. Di tempat ini, saya juga harus belajar merawat diri...


--Imam Rahmanto--

Tidak ada komentar:

Posting Komentar