Sabtu, 07 Januari 2017

Dipulangkan

Selamat datang di pegunungan kami!

Yah, setahun ini saya akan hidup di daerah kabupaten Enrekang. Ini layaknya kembali ke kampung halaman. Saya lahir dan dibesarkan di tanah Duri, sebelum kedua orang tua memutuskan untuk kembali ke Jawa, baru-baru ini. Maka jangan sangsikan jika saya masih mengenal hampir semua bagian jalan yang pernah berkelak-kelok di 18 tahun keseharian remaja saya.

Saya akan berteman dengan sejuk dan segar alam pegunungan. (Imam Rahmanto)

"Kamu lahir dan besar disana, kan?" pertanyaan yang menjadi awal mula penugasan saya di daerah.

"Iya, Kak. Tetapi jauh dari pusat kota, karena kampung kami justru lebih dekat dengan perbatasan Tana Toraja," jawab saya.

Alhasil, tugas peliputan jadi tanggung jawab untuk setahun ke depan. Saban hari, kemungkinan bakal bertemu dengan orang-orang yang tak asing dengan masa remaja saya. Barangkali saya akan bersimpangan jalan dengan mereka yang pernah mengisi hari-hari saya di sekolah. Atau, paling tidak, ada banyak "reuni" yang akan saya jumpai di sela-sela mengumpulkan bahan wawancara.

Suasana sepi tentu akan selalu menjadi teman perjalanan. Hal semacam itu jadi barang lumrah di setiap permulaan. Rasa canggung. Asing. Sunyi. Sendiri. Akan tetapi, manusia punya kemampuan adaptasi paling tinggi. Seperti kata pepatah, dimana bumi dipijak, disitu langit dijunjung.

Lagipula, penempatan semacam ini menjadi semacam "bonus" bagi saya yang telah lama mengidamkan waktu bersantai. Setidaknya, saya bisa mengalihkan sedikit waktu untuk hal lainnya (yang telah la diabaikan). Waktu luang tak selalu bisa dibeli dengan sejumlah uang. Barangkali semisal menamatkan puluhan novel, menulis proyek buku, bercerita di blog, menghidupkan ekskul jurnalistik di salah satu sekolah. Hingga sekadar memandangi langit malam yang bersih dari silau cahaya perkotaan.

Saya tak perlu lagi menyetor muka kusut dan senyum dipaksa ke kantor, usai maghrib. Tak ada lagi ribut-ribut memperdebatkan siapa yang pantas untuk meliput acara besok. Tak ada lagi pulang lewat pukul sembilan malam, yang biasanya disambung dengan duduk-duduk di warkop hingga tengah malam. Saban hari, jam tidur bahkan tergelincir ke waktu sepertiga malam.

Di perkampungan seperti ini, waktu tidur akan terasa lebih cepat. Waktu santai terasa lebih lowong. Pandangan terasa lebih hijau dan lapang. Langit juga tak sesempit kota Makassar yang selalu ditingkahi hotel-hotel bertingkat. Wajar jika saya harus selalu tersenyum karena suasana yang tak membelit isi kepala.

Di daerah kota, (meski tak sepenuhnya modern, kami selalu menyebutnya demikian untuk membedakan ibukota kabupaten dengan wilayah perkampungan kecamatan di pelosok), saya akan memulai hidup baru. Segalanya benar-benar dimulai dari nol.

"Kamu akan tinggal dimana?"

Saya benar-benar akan jauh dari tanah kelahiran sebenarnya. Saya harus menghabiskan waktu sejam untuk perjalanan ke dataran perkampungan di Kecamatan Alla, tempat dimana kenangan saya bermula dan beranak-pinak. Beruntung, rumah Bunda (guru SMA terbaik) jadi persinggahan sementara saya agar menyiapkan segala permulaan hidup di kota.

"Kamu ternyata sudah tambah tinggi ya? Hampir sampai di palang pintu," seru Bunda, yang mengenal anak didiknya dulu sebagai anak paling kecil (dan imut).

Saya masih harus banyak belajar. Selain beradaptasi, segala pengetahuan harus kembali di-restart dengan lingkup kabupaten ini. Jangan salah. Luasnya bisa setara dengan jumlah kelokan ke setiap perkampungan. Tak hanya terpaut pada pemerintahan, melainkan segala lini. Segalanya nampak begitu anyar.

Di samping itu, saya akan lebih banyak berpapasan dengan masa remaja di Enrekang. Yah, sebagaimana pulang ke kampung (halaman), selalu lekat dan pekat dengan setumpuk kenangan.


--Imam Rahmanto--

2 komentar:

  1. wah ditunggu kabar baik di "kampung"... ^^

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hahaha...selalu baik kabarku, biarpun tak di kampung. :P

      Hapus