Senin, 16 Januari 2017

Bertahan Perlahan


"Ohh...kamu orang Enrekang?"

Setiap kali menyatakan hal itu, saya bingung ingin menjawabnya apa. Semurni-murninya darah saya, hakikinya berasal dari kedua orang tua asal Jawa. Meskipun sebenarnya telah "dicemari" darah-daging yang dicerna hasil bumi Duri.

Jadi, saya biarkan saja setiap orang di tempat ini menganggap demikian. Toh, lebih dari setengah kehidupan saya memang dihabiskan di tanah pegunungan ini. Kalau butuh jawaban lebih lanjut, saya baru akan dengan senang hati menjelaskan dengan berbusa-busa.

Kehidupan saya di kota ini sudah bermula semenjak pekan lalu. Perlahan, saya mulai beradaptasi. Dengan jalan-jalan kota. Jalan pintas. Tempat-tempat baru. Pemandangan baru. Segalanya terasa menyegarkan bagi penglihatan yang pernah dijajah gedung tinggi, hampir tujuh tahun.

Perlahan, saya mulai menikmati persimpangan ingatan dengan kawan-kawan lama. Mengukur perbandingan bagaimana waktu mengubah semuanya. Beberapa waktu lalu, saya juga berjumpa dengan guru-guru SMA. Sesekali yang masih menawarkan pekerjaan mengajar. Lainnya, menanyakan kabar.

"Kerja dimana sekarang?"

"Di koran apa?" pertanyaan lanjutan.

"Tidak lanjut S2?" pertanyaan mainstream lebih lanjut (yang saya hindari)

Lambat laun saya belajar membaur dengan narasumber. Merekalah yang paling banyak menanyakan muasal keluarga.

Saya berusaha menghafal satu demi satu nama para pejabat publik itu. Pekerjaan yang mulanya disorongkan bapak buat saya. Apalagi yang mesti memakai gelar. Kontak di handphone juga sudah pasti bertambah. Justru berbanding terbalik dengan penghasilan yang bakal menemui titik terjun bebas setiap bulan.

Saya juga mulai membaur dengan beberapa jurnalis yang bertugas (bertahun-tahun) di daerah tanpa pantai ini.

Usia saya tergolong paling muda dalam pergelutan dunia informasi di daerah ini. Beberapa jurnalis, bisa dibilang sudah berkepala empat, hingga memiliki cucu. Serius! Barangkali, media mereka tak menetapkan rolling desk seperti yang rutin diterapkan di kantor kami. Jadinya, mereka abadi sepanjang masa. Ibaratnya, saya dilatih menjadi jurnalis multi-tasking hingga multiras.

Pertemanan tentu saja jadi hal paling wajib. Saling memikul rasa senasib sebagai pewarta daerah, yang biasanya ditasbihkan sebagai "anak tiri". Meski begitu, saya tetap mendapati hal yang tak sesuai dengan ekspektasi awal. Atmosfer para pemburu berita di daerah tak sekarib di Makassar. Saya merasa, masih ada "sesuatu" yang berusaha disembunyikan masing-masing orang. Isyaratnya berkaitan erat dengan penghasilan. Entahlah. Barangkali saya hanya belum terlalu banyak menjajal tawa bersama mereka. Kata Tuhan, jalani saja dulu.

Toh, saya sempat mendapatkan kunjungan pertama dari salah seorang teman itu. Gara-garanya, ia tahu saya punya pengalaman dalam mengelola seluk-beluk dunia maya. Sementara ia sedang menggarap media online lokal. Meski usianya yang jauh di atas saya, ia tak menutup diri untuk berbagi.

"Cuma mau sharing-sharing dan diskusi. Belajar kan juga bisa dengan siapa saja," ucapnya, saat menyambangi kamar saya malam-malam, tanpa berkabar sebelumnya.

Oke, it's my room. (Imam Rahmanto)

Seminggu ini, saya juga belum begitu mengenal siapa nama tetangga sebelah kamar saya. Dari cerita-cerita bersama ibu pemilik kontrakan, penghuninya bekerja di Dinas Pertanian. Sementara di sebelahnya lagi, gadis yang bekerja di Dinas Kesehatan. Saya baru sempat bertemu muka dua-tiga kali dengan mereka. Kalau kebetulan sedang berada di beranda yang sama, saya cuma menimpali basa-basi seadanya.

"Hari ini kayaknya mau hujan lagi ya?" 

"Lari-lari (joging) begitu biasanya dimana?" 

"Kenapa hujan selalu membuat kita lari dari dunia nyata?" #nahloh

Yah, semuanya tentu harus berjalan perlahan, bukan? Tak terkecuali isi kamar saya yang harus dicicil sedikit demi sedikit. Kamar saya terlalu lapang untuk ukuran hidup menyendiri. Diisi dua-tiga lemari buku pun, masih belum sesak. Sepuluh orang menginap juga tak masalah.

Oleh karena itu, pekan ini saya harus mengepak buku lebih banyak. Kata ibu pemilik kontrakan, saya diperbolehkan memaku-maku dinding kamarnya.

"Ndak masalah. Biasanya memang anak kost sudah sering begitu kok. Asalkan paku beton ji toh?" kata ibu pemilik kamar. Itu artinya, kamar siap menjelma jadi ruang baca.

Dan malam ini, saya masih menikmati temaram jelang tengah malam di depan teras. Dua tetangga kamar sudah menutup pintunya. Entah terlelap atau masih berjibaku dengan rencana pekerjaan esok hari.

Saya baru saja dari tetangga di ujung lainnya di koridor lantai dua ini. Sekadar meminta air panas (beserta pinjaman gelas dan sendoknya) untuk menyeduh sedikit cappuccino oplosan. Paling tidak, segelas saja sudah bisa menemani duduk-duduk sunyi sebelum lelap bermimpi.

Sunyi dan temaram terkadang bersekongkol dengan rindu. (Imam Rahmanto)


--Imam Rahmanto--

Tidak ada komentar:

Posting Komentar