Sabtu, 28 Januari 2017

Menjamu Hal Sederhana

Januari 28, 2017
"Dulu, saya sudah rasakan namanya kerja di BUMN. Saya bekerja jadi PNS di Kehutanan," tutur bapak berkaca mata itu di sela-sela kami menikmati sore di teras lantai dua rumahnya.

Saya baru mengenalnya hari ini. Meskipun pekan sebelumnya, kami pernah berpapasan dengannya di gedung DPRD. Ajakannya mampir kepada kami ketika sedang menyimak acara dari pojokan aula Masjid Taqwa. Usai berbincang akrab dengan teman-teman pewarta yang lain, ia pamit tanpa lupa menyelipkan ajakan tersebut.

Yah, kami menutup sore di teras rumahnya. Lelaki beranak dua itu tanpa sungkan menyorongkan dua piring pisang goreng dan empat gelas minuman hangat. Satu diantaranya teh, tiga lainnya kopi susu. Hidangan itu bahkan disiapkannya sendiri demi menghargai tamu. Para pewarta di daerah ini sangat mengenalnya memang sebagai seorang "sesepuh" pewarta senior.

Percakapan diantara kami mengalir teramat lancar. Apalagi, saya baru tahu asal-usulnya yang juga berasal dari tanah Jawa. Beberapa percakapan dalam mode "Jawa-ON" pun tak terelakkan. Meski logat medok saya sudah punah, tetapi untuk mengimbangi lelaki asli Probolinggo itu saya masih bagus. Teman lain terpaksa hanya bisa berharap ada subtitle yang muncul meningkahi obrolan kami. Sesekali jika tak tahan, hanya bisa lepas tertawa.

"Lalu, kenapa tiba-tiba berkeinginan jadi wartawan?" todong saya. Padahal, label wartawan tak jarang punya stigma negatif bagi masyarakat perkampungan.

Lelaki paruh baya itu tersenyum saja. Sambil sesekali mencuri dengar dari suara air yang sedang dijerangnya di dapur bawah tangga. Teman lain di sebelah saya justru sibuk memelototi smartphone-nya.

"Jadi PNS itu banyak celah berbuat kalasi-nya. Saya sudah pernah rasakan. Terlalu nyaman. Pekerjaan yang tak kemana-mana. Tak berbuat banyak hal juga sepertinya bukan jiwa saya."

Ia tak segan mengakui. Sesekali mengulur cerita cukup jauh di masanya. Bagaimana ia bisa terlempar ke daerah ini dan menantang kebiasaan untuk menjadi seorang pengumpul berita. Bagaimana ia lebih nyaman bergerak diantara waktu-waktu luang. Hingga bercerita tentang anak gadisnya yang kini mempersiapkan kuliah dengan kursus tambahan Bahasa Inggris di Kediri. Dari foto di ruang tamu, anak gadisnya sungguh sangat menyita perhatian.

Di kabupaten yang jauh dari gemerlap kota ini, banyak hal yang bisa menyurutkan semangat untuk bertahan. Mood bisa segera berubah seumpama membalikkan telapak tangan. Sunyi dan sendiri hanya sebagian dari ratusan tantangan itu. Percayalah, ada lebih banyak hal lainnya yang bisa membuatmu surut melangkah lebih jauh.

Mulai dari kamar kost yang berhadap-hadapan dengan pekuburan umum. Buku-buku yang tak terbeli lagi di akhir bulan. Berita daerah yang terkubur karena tak dilirik redaktur. Terkadang, tiga naskah terkirim hanya berbuah satu berita terbit.

Beberapa narasumber juga tak luput bikin dongkol hanya karena punya pengalaman traumatik dengan wartawan. Saya bahkan pernah dimintai surat tugas, meski di leher sudah bergelantungan ID Card sebagai pekerja media. Sang pegawai dinas tak sungkan memamerkan wajah angkuhnya di depan pegawai lain yang sebenarnya sudah menerima saya tanpa pertanyaan curiga.

Segala hal itu terkadang membuat otak saya meletup-letup. Perasaan saya jengkel untuk melanjutkan apa pun yang telah saya mulai. Kerap kali membunuh rencana-rencana yang tersusun rapi. Seolah-olah bagian dari hati kecil saya berkata, "Sudah. Berhentilah."

Akan tetapi, ada bagian-bagian lain yang menggerakan saya untuk terus mencari jawaban. Kepala penuh dengan pertanyaan, yang tak hanya bisa dituntaskan melalui wawancara. Sebagian besar jawaban justru ditemukan lewat banyak perjalanan. Apatis di kamar hingga terlelap, kerap hanya membuat saya sakit kepala.

Berkumpul diantara teman-teman baru ternyata bisa memangkas sebagian rasa dongkol itu. Tak peduli usia saya yang terpaut agak jauh di bawah belasan tahun. Cerita saya tentang narasumber resek justru menjadi olok-olok dan tawa mereka. Paling tidak, yang namanya tawa selalu menjadi virus yang menular bagi siapa.

Di luar itu, masih banyak narasumber lainnya yang peduli dengan wartawan. Meski tetap saja dengan maksud-maksud terselubung, mereka tetap sukarela menghadiahkan seulas senyum dan jabat tangan. Bahkan, tak jarang mengajak bersantai di hadapan segelas kopi-susu.

Untuk menjumpai orang-orang semacam itu, saya hanya butuh mengenal lebih banyak. Salah satu caranya, memperbanyak topik liputan yang akan mempertemukan saya dengan berbagai jenis pemberi informasi. Hal semacam itu sekaligus bisa menambah daftar tempat-tempat baru dalam lokus ingatan saya.

"Saya menikmati seperti ini. Meski tidak membuat kaya, saya akui, ada lebih banyak waktu menikmati hidup," lanjut lelaki paruh baya itu.

Suara adzan perlahan menggema. Cerah matahari juga sudah ditelan mendung. Beberapa menit lagi kami harus kembali ke rumah masing-masing. Dari atas teras yang bernuansa orange itu, saya menjumpai beberapa keping tekad yang terserak. Saya mengumpulkannya kembali.

Ternyata, suara hati saya tidak semata-mata menyuruh berhenti. Ia hanya meminta pelan, "Sudah. Berhentilah sejenak. Kamu butuh istirahat dan berpikir jernih."

Karena mengeluh itu manusiawi. Sesekali, tak mengapa. Mungkin berkali-kali, asal tak merusak diri, juga tak masalah. Hati manusia terbuat dari daging yang bisa berdarah-darah. Bukan dari kumpulan besi dan baja yang dilumasi oli.

Kelak, ketika butuh cara untuk bersyukur, kita hanya perlu melakukan hal-hal sederhana; banyak berjalan, melihat, dan mendengar. Seulas senyum selalu punya cara untuk mekar kembali...

Membaca di sela-sela hujan dari beranda kamar juga bisa teramat membantu. (Imam Rahmanto)


--Imam Rahmanto--

Selasa, 24 Januari 2017

(L)uang

Januari 24, 2017
Telepon Bapak baru saja ditutup. Ia mengabarkan nenek yang sedang dirawat inap di rumah sakit, sejak pagi. Kata Bapak, nenek mengalami gangguan kesehatan. Badannya memang sudah kepayahan dengan usia yang tak muda lagi. Sementara saban hari, nenek tak pernah berhenti bolak-balik pasar memenuhi tuntutan dan kebiasaannya.

"Tidak apa-apa kok. Ada mamakmu yang jaga disana. Itulah juga yang disyukuri, nak. Beruntung saat mamakmu ada disini, nenekmu ada yang jaga," ujar bapak.

Paling tidak, mamak sudah menemukan cara untuk mengabdikan diri pada ibu angkatnya itu. Meski tak punya hubungan darah, nenek sudah jadi bagian keluarga mamak puluhan tahun silam. Rumah yang kini dihuni di Jawa pun adalah berasal dari garis keturunan nenek.

Saya bersyukur, Bapak dan Mamak sudah dekat dengan kerabat dan keluarga agar bisa berbagi uluran tangan. Mereka juga semakin punya banyak waktu menikmati masa tuanya untuk menikmati kampung halaman. Teramat berbeda dengan putranya, yang baru memulai hidup baru di kampung (yang selalu disebut-sebut sebagai) halamannya sendiri.

Di Enrekang, tempat ini dinamakan Sekitar Wilayah Sungai Saddang (SWISS). (Imam Rahmanto)

Malam nyaris menjejak pertengahannya saat saya mengakhiri sambungan jarak jauh itu. Apalagi setelah bapak mulai membahas sedikit keinginan agar anaknya masih mengincar pekerjaan sebagai abdi negara. Seperti biasa, saya mencari celah. Sekadar menghindari perdebatan panjang. Karena saya tetap mencintai pekerjaan ini.

Saya kini punya banyak waktu luang. Bekerja mengumpulkan berita di daerah, tak sepadat dan sesumpek di kota metropolitan. Kita akan lebih banyak bersahabat dengan aroma keheningan. Sepi dan sunyi sudah jadi sahabat sejak pertama kali memeluk pekerjaan ini.

Meskipun sejujurnya, jauh dari kota membuat penghasilan juga perlahan jauh dari kata cukup. Kepopuleran media kami tak lantas menjadi angin segar bagi siapa pun yang berada di bawah naungannya. Jangan menaruh harapan berlebihan.

Waktu luang pula yang membawa saya pada banyak hal. Termasuk merasai pertemuan beraroma rindu dengan sahabat-sahabat di Makassar. Yah, saya menyempatkan diri untuk "melarikan" sebagian waktu yang lowong. Dua hari saja. Dua hari itu justru terasa sangat berharga. Paling tidak, bisa membuat saya tersenyum-senyum sepanjang mengingat foto yang diunggah sahabat di media sosial.

Saya sudah bisa meluangkan lebih banyak waktu untuk berbagi cerita dengan sahabat-sahabat. Duduk-duduk santai hanya untuk meluapkan beberapa ingatan yang mengundang tawa. Bahkan, sekadar olok-olok bisa menjadi sesuatu yang paling dirindukan dari kedekatan kami.

Tak ada lagi momok atas pertanyaan-pertanyaan, "Kapan ada waktu luangmu?" Bagi saya, hampir setiap hari adalah waktu luang. Apalagi Sabtu dan Minggu.

Bersantai di kafe. Ngumpul. Menumpahkan rindu. Bermain game konsol. Berjalan-jalan di anjungan. Cuci mata keramaian Losari. Makan-makan di tengah hiruk-pikuk car free day. Agenda foto studio dadakan. Bertemu sahabat sekantor, sembari menyisipkan keluhan dan sedikit "pembangkangan". Semuanya terangkum dalam dua hari waktu saya di Makassar.

Betapa waktu luang sangat berharga untuk bagian hidup lain yang telah lama terlupakan, bukan? Karena hidup tak selalu sekadar mencari uang. Kita juga butuh menikmati waktu luang.

Kapan lagi kami yang berpisah antar kota bisa disatukan dalam satu waktu begini. (Imam Rahmanto)

Untuk malam ini pun saya menyempatkan diri duduk di tengah kafe menyeruput aroma kopi-susu. Seorang teman menawari waktu untuk bersantai, ketimbang memeluk sunyi di dalam kamar. Kafe ini sudah menjadi tempat langganan saya semenjak mulai mengenal pusat pemerintahan di kota Enrekang. Sesekali bayar sendiri, lain waktu ditanggung teman baru.

Tak usah berpikiran kafe ini semewah di kota-kota besar. Jaraknya yang hanya sepelemparan batu dari lapangan Batili membuat saya betah mengetik naskah disini. Apalagi jika suasana senja sudah menyapa, ada puluhan anak muda yang akan menghabiskan waktu di lapangan itu. Barangkali, hanya kabupaten ini yang punya lapangan berbatas alam pegunungan.

Akh, saya sudah ngantuk. Di tempat ini, saya juga harus belajar merawat diri...


--Imam Rahmanto--

Kamis, 19 Januari 2017

Anak Tujuh Tahun dan Pahlawan Supernya

Januari 19, 2017
Karena semua anak tujuh tahun berhak akan pahlawan super. Dan siapa pun yang tidak menyetujui itu, kepalanya perlu diperiksa....

Gagasan tentang anak-anak mungkin terdengar kekanakan bagi sebagian orang dewasa. Akan tetapi, tak ada yang menampik jika setiap orang dewasa begitu mendambakan “jadi anak-anak”.

(Foto: Imam Rahmanto)

Salah satu alasan saya membaca buku ini karena tokohnya adalah seorang anak kecil. Entah kenapa, saya selalu suka kepolosan anak kecil. Bagaimana cara mereka memandang sekelilingnya. Bagaimana cara mereka menilai orang dewasa. Hingga rasa ingin tahu anak-anak yang masih segar dan tak pernah kehilangan tawa.

Saya menyukai judul novel My Grandmother Asked Me To Tell You She’s Sorry ini yang anti-mainstream. Panjang. Sekaligus memikat. Saat berkeliling toko buku, perhatian saya sudah terpaku dengan sampulnya yang sederhana: seorang anak kecil berpayung di tengah rintik hujan. Saat tahu ceritanya berputar pada seorang gadis kecil berusia tujuh tahun, Elsa, saya segera mempersuntingnya ke meja kasir. Kalau urusan buku, saya cukup percaya yang namanya jatuh cinta pada pandangan pertama.

Kisahnya juga ditulis sederhana oleh Fredrick Backman. Tak muluk-muluk seputar drama romantis. Sebagian isinya justru membawa kita pada pengalaman menceritakan dongeng bagi anak-anak. Sebagaimana Elsa, yang telah sering mendengar cerita neneknya tentang Dunia Miamas.

Ia memilinnya sebagai bunga tidur. Tak lupa mencocokkan segalanya dengan dunia nyata. Kelak, kita baru akan sadar bahwa segala cerita yang dikarang neneknya tentang dunia dongeng itu berhubungan erat dengan kehidupan nyatanya bersama orang-orang di sekitar mereka.

"Hanya orang-orang berbeda yang mengubah dunia." Nenek pernah berkata. "Tidak ada orang normal yang mengubah apapun." (hal.119)

Nenek Elsa orang yang konyol. Bagi Elsa, nenek adalah pahlawan supernya. Keduanya disatukan oleh cerita-cerita dongeng yang berulang kali diceritakan nenek. Sayangnya, kebiasaan dan kekonyolan neneknya harus berakhir karena penyakit yang dideritanya. Ia harus meninggalkan Elsa bersama ibunya dan beberapa tetangga flat yang cukup misterius.

Akan tetapi, nenek Elsa masih menyisakan banyak rahasia. Ia menitipkan misi rahasi kepada cucu tersayangnya itu. Satu surat pada Elsa yang harus diteruskan pada seseorang. Satu surat yang bakal berlanjut pada surat-surat lainnya. Satu surat yang ternyata bisa mengubah jalan hidup orang-orang di sekitar Elsa. Tak terkecuali bagi Elsa sendiri.

Kekuatan paling dahsyat yang dimiliki kematian bukanlah karena kematian bisa membuat seseorang mati, melainkan karena itu bisa membuat orang-orang yang ditinggalkan ingin berhenti hidup. (hal.291)

Sebenarnya, dibanding buku Ziggy yang sempat saya baca sebelumnya (Di Tanah Lada), isi buku ini jauh lebih ringan. Hanya saja, terkadang penyampaian alih bahasa bisa menyesatkan pembaca. Barangkali karena ini adalah buku terjemahan. Sebagian terjemahannya tak teradopsi dengan baik.

Benar kata teman saya, “Membaca buku terjemahan, paling tidak cermati siapa penerjemahnya.”

Sayangnya, bagi seorang pembaca “banyak-genre” seperti saya, penulis dan kepopuleran buku tidak menjadi begitu penting. Saya pernah kebingungan saat ditanya seorang teman dari jurusan sastra soal genre novel kesukaan. Bagaimana tidak, saya tak pernah mematok prioritas berdasarkan genre tertentu. Saya lebih senang bereksperimen dengan penulis-penulis baru atau hanya karena tertarik dengan sampul atau cover bukunya.

Tetap saja, siapa saja masih bisa mencerna keseluruhan isi buku setebal 496 halaman ini. Asalkan membacanya tak diburu waktu. Bisa ditemani secangkir kopi-susu, setangkup roti, duduk-duduk di depan beranda kesayangan. 

Di beberapa momen, buku ini benar-benar menyentil tentang sebagian kebiasaan orang dewasa. Tentu lewat sudut pandang anak yang hampir berusia delapan tahun. Karena bagaimana pun, setiap anak berhak mendapatkan pahlawannya masing-masing...

Hanya orang-orang berbeda yang mengubah dunia." Nenek pernah berkata. "Tidak ada orang normal yang mengubah apapun." (hal.119)

"....tapi jika kau tidak memedulikan apapun, kau sebenarnya sama sekali tidak hidup. Kau hanya ada..." (hal.438)


--Imam Rahmanto--

Senin, 16 Januari 2017

Bertahan Perlahan

Januari 16, 2017

"Ohh...kamu orang Enrekang?"

Setiap kali menyatakan hal itu, saya bingung ingin menjawabnya apa. Semurni-murninya darah saya, hakikinya berasal dari kedua orang tua asal Jawa. Meskipun sebenarnya telah "dicemari" darah-daging yang dicerna hasil bumi Duri.

Jadi, saya biarkan saja setiap orang di tempat ini menganggap demikian. Toh, lebih dari setengah kehidupan saya memang dihabiskan di tanah pegunungan ini. Kalau butuh jawaban lebih lanjut, saya baru akan dengan senang hati menjelaskan dengan berbusa-busa.

Kehidupan saya di kota ini sudah bermula semenjak pekan lalu. Perlahan, saya mulai beradaptasi. Dengan jalan-jalan kota. Jalan pintas. Tempat-tempat baru. Pemandangan baru. Segalanya terasa menyegarkan bagi penglihatan yang pernah dijajah gedung tinggi, hampir tujuh tahun.

Perlahan, saya mulai menikmati persimpangan ingatan dengan kawan-kawan lama. Mengukur perbandingan bagaimana waktu mengubah semuanya. Beberapa waktu lalu, saya juga berjumpa dengan guru-guru SMA. Sesekali yang masih menawarkan pekerjaan mengajar. Lainnya, menanyakan kabar.

"Kerja dimana sekarang?"

"Di koran apa?" pertanyaan lanjutan.

"Tidak lanjut S2?" pertanyaan mainstream lebih lanjut (yang saya hindari)

Lambat laun saya belajar membaur dengan narasumber. Merekalah yang paling banyak menanyakan muasal keluarga.

Saya berusaha menghafal satu demi satu nama para pejabat publik itu. Pekerjaan yang mulanya disorongkan bapak buat saya. Apalagi yang mesti memakai gelar. Kontak di handphone juga sudah pasti bertambah. Justru berbanding terbalik dengan penghasilan yang bakal menemui titik terjun bebas setiap bulan.

Saya juga mulai membaur dengan beberapa jurnalis yang bertugas (bertahun-tahun) di daerah tanpa pantai ini.

Usia saya tergolong paling muda dalam pergelutan dunia informasi di daerah ini. Beberapa jurnalis, bisa dibilang sudah berkepala empat, hingga memiliki cucu. Serius! Barangkali, media mereka tak menetapkan rolling desk seperti yang rutin diterapkan di kantor kami. Jadinya, mereka abadi sepanjang masa. Ibaratnya, saya dilatih menjadi jurnalis multi-tasking hingga multiras.

Pertemanan tentu saja jadi hal paling wajib. Saling memikul rasa senasib sebagai pewarta daerah, yang biasanya ditasbihkan sebagai "anak tiri". Meski begitu, saya tetap mendapati hal yang tak sesuai dengan ekspektasi awal. Atmosfer para pemburu berita di daerah tak sekarib di Makassar. Saya merasa, masih ada "sesuatu" yang berusaha disembunyikan masing-masing orang. Isyaratnya berkaitan erat dengan penghasilan. Entahlah. Barangkali saya hanya belum terlalu banyak menjajal tawa bersama mereka. Kata Tuhan, jalani saja dulu.

Toh, saya sempat mendapatkan kunjungan pertama dari salah seorang teman itu. Gara-garanya, ia tahu saya punya pengalaman dalam mengelola seluk-beluk dunia maya. Sementara ia sedang menggarap media online lokal. Meski usianya yang jauh di atas saya, ia tak menutup diri untuk berbagi.

"Cuma mau sharing-sharing dan diskusi. Belajar kan juga bisa dengan siapa saja," ucapnya, saat menyambangi kamar saya malam-malam, tanpa berkabar sebelumnya.

Oke, it's my room. (Imam Rahmanto)

Seminggu ini, saya juga belum begitu mengenal siapa nama tetangga sebelah kamar saya. Dari cerita-cerita bersama ibu pemilik kontrakan, penghuninya bekerja di Dinas Pertanian. Sementara di sebelahnya lagi, gadis yang bekerja di Dinas Kesehatan. Saya baru sempat bertemu muka dua-tiga kali dengan mereka. Kalau kebetulan sedang berada di beranda yang sama, saya cuma menimpali basa-basi seadanya.

"Hari ini kayaknya mau hujan lagi ya?" 

"Lari-lari (joging) begitu biasanya dimana?" 

"Kenapa hujan selalu membuat kita lari dari dunia nyata?" #nahloh

Yah, semuanya tentu harus berjalan perlahan, bukan? Tak terkecuali isi kamar saya yang harus dicicil sedikit demi sedikit. Kamar saya terlalu lapang untuk ukuran hidup menyendiri. Diisi dua-tiga lemari buku pun, masih belum sesak. Sepuluh orang menginap juga tak masalah.

Oleh karena itu, pekan ini saya harus mengepak buku lebih banyak. Kata ibu pemilik kontrakan, saya diperbolehkan memaku-maku dinding kamarnya.

"Ndak masalah. Biasanya memang anak kost sudah sering begitu kok. Asalkan paku beton ji toh?" kata ibu pemilik kamar. Itu artinya, kamar siap menjelma jadi ruang baca.

Dan malam ini, saya masih menikmati temaram jelang tengah malam di depan teras. Dua tetangga kamar sudah menutup pintunya. Entah terlelap atau masih berjibaku dengan rencana pekerjaan esok hari.

Saya baru saja dari tetangga di ujung lainnya di koridor lantai dua ini. Sekadar meminta air panas (beserta pinjaman gelas dan sendoknya) untuk menyeduh sedikit cappuccino oplosan. Paling tidak, segelas saja sudah bisa menemani duduk-duduk sunyi sebelum lelap bermimpi.

Sunyi dan temaram terkadang bersekongkol dengan rindu. (Imam Rahmanto)


--Imam Rahmanto--

Senin, 09 Januari 2017

Remaja dan Kewajiban

Januari 09, 2017
Kalau boleh, katakan aku merindukanmu. Salahmu, jadi kenangan di kepalaku.

***
Kehidupan saya di Enrekang lekat dengan masa remaja. Masa sekolah. Momen yang tentu banyak membangun pikiran atau justru memutarbalikkan hal-hal yang saya ketahui.

Baru-baru ini, sering menjumpai anak-anak berpakaian seragam sekolah di dalam masjid Enrekang, tengah hari. Jumlahnya tak hanya dua-tiga orang. Bisa dibilang, setengah dari jumlah satu kelas, karena termasuk anak-anak perempuannya. Mereka juga hendak menunaikan kewajiban agama lima waktu.

Kebiasaan mereka seolah melempar saya pada satu garis waktu, di usia sebaya.

***

"Ayok ke masjid sebelah," ajak salah seorang teman sekelas.

"Tapi kalau shalat disitu, nama kita tidak dicatat," ujar teman lainnya.

"Yang penting ketua kelas diajak toh. Nanti dia yang tanggung jawab catat siapa-siapa shalat. Kan ndak mesti di masjid sekolah," elak saya, yang dibenarkan teman-teman lainnya.

Sekolah kami punya kebiasaan absensi siswa yang ikut shalat berjamaah di masjid. Kata guru BK, itu sebagai tambahan nilai moral kami. Kata guru agama Islam, kehadiran bersama jamaah di masjid sekolah itu jadi landasan baginya untuk memberikan nilai akhir mata pelajaran agama Islam. Tak heran jika tiap minggu guru agama kami bakal menagih setoran absensi kehadiran shalat Dhuhur berjamaah di tiap kelas.

Hanya saja, saat sekolah kami mulai menerapkan sistem moving class, ada beberapa kelas yang berada di ujung kompleks. Saya lupa mata pelajaran apa. Lokasinya terpencil hingga berhadapan langsung dengan pagar pembatas sekolah. Tepat di belakang masjid, yang menghadap langsung ke jalan poros. Sementara masjid sekolah ada di ujung pembatas bagian barat. Jauh. Apalagi posisi kelas kami berada di puncak-puncak dataran yang lebih tinggi.

Coba berkunjung ke sekolah kami, SMAN 1 Alla. Tak sulit menemukannya karena lokasinya di pinggir jalan poros.

Setiap kelas bersebelahan di atas dataran tinggi. Mengelilingi laboratorium Fisika, perpustakaan, lapangan basket, voli, yang posisinya jauh berada di bawah bukit. Coba melempar batu kecil dari kelas dataran tinggi. Atap-atap seng bisa berbunyi saking gaduhnya.

Hanya kantor, laboratorium, dan beberapa kelas di sebelahnya yang punya permukaan agak rata. Itu karena di depannya selalu ada lapangan untuk upacara pagi setiap senin.

Kondisi itu, sangat berbeda dengan penampakan sekarang yang mulai banyak permukaan rata karena ditimbun bangunan baru.

Kami tentu dibuat capek jika harus ke mushalla sekolah setiap jam istirahat siang pada mata pelajaran bersangkutan. Alternatifnya, kami shalat di masjid umum, yang juga selalu diramaikan penduduk sekitar. Tak heran jika kami juga sering bertemu penduduk yang ingin menunaikan ibadah yang sama.

"Akh, mau diabsen atau tidak, yang penting kewajiban saya terpenuhi. Ini kan Tuhan yang nilai," sekali-kali argumen demikian keluar dari mulut kami. Padahal, diam-diam kami juga tetap mengecek ceklis nama pada absensi yang selalu dipegang ketua kelas.

***

"Barangkali mereka juga sedang menunaikan tuntutan guru agamanya," gumam saya di sela-sela waktu menunggui shalat.

Melihat mereka bergerombol membuat saya iri ingin kembali ke masa-masa tertawa itu. Pikiran belum dipenuhi banyak tanggung jawab. Segalanya masih soal bersama teman.

Kemarin, saya baru saja menuntaskan biaya sewa kamar kost yang bakal jadi tempat bermukim selama setahun. Lokasinya tak jauh dari pusat kabupaten, hanya berjarak dua menit berkendara motor. Suasananya cukup nyaman di atas lantai dua. Ada teras yang bisa menjadi tempat nongkrong menyeruput kopi pagi-pagi. Barangkali, itu pula yang akan membuat saya betah berlama-lama di kota ini. Selain karena kamarnya juga yang super-duper lapang.

Minggu berikutnya, buku lebih banyak menjajah. (Imam Rahmanto)


--Imam Rahmanto--

Sabtu, 07 Januari 2017

Dipulangkan

Januari 07, 2017
Selamat datang di pegunungan kami!

Yah, setahun ini saya akan hidup di daerah kabupaten Enrekang. Ini layaknya kembali ke kampung halaman. Saya lahir dan dibesarkan di tanah Duri, sebelum kedua orang tua memutuskan untuk kembali ke Jawa, baru-baru ini. Maka jangan sangsikan jika saya masih mengenal hampir semua bagian jalan yang pernah berkelak-kelok di 18 tahun keseharian remaja saya.

Saya akan berteman dengan sejuk dan segar alam pegunungan. (Imam Rahmanto)

"Kamu lahir dan besar disana, kan?" pertanyaan yang menjadi awal mula penugasan saya di daerah.

"Iya, Kak. Tetapi jauh dari pusat kota, karena kampung kami justru lebih dekat dengan perbatasan Tana Toraja," jawab saya.

Alhasil, tugas peliputan jadi tanggung jawab untuk setahun ke depan. Saban hari, kemungkinan bakal bertemu dengan orang-orang yang tak asing dengan masa remaja saya. Barangkali saya akan bersimpangan jalan dengan mereka yang pernah mengisi hari-hari saya di sekolah. Atau, paling tidak, ada banyak "reuni" yang akan saya jumpai di sela-sela mengumpulkan bahan wawancara.

Suasana sepi tentu akan selalu menjadi teman perjalanan. Hal semacam itu jadi barang lumrah di setiap permulaan. Rasa canggung. Asing. Sunyi. Sendiri. Akan tetapi, manusia punya kemampuan adaptasi paling tinggi. Seperti kata pepatah, dimana bumi dipijak, disitu langit dijunjung.

Lagipula, penempatan semacam ini menjadi semacam "bonus" bagi saya yang telah lama mengidamkan waktu bersantai. Setidaknya, saya bisa mengalihkan sedikit waktu untuk hal lainnya (yang telah la diabaikan). Waktu luang tak selalu bisa dibeli dengan sejumlah uang. Barangkali semisal menamatkan puluhan novel, menulis proyek buku, bercerita di blog, menghidupkan ekskul jurnalistik di salah satu sekolah. Hingga sekadar memandangi langit malam yang bersih dari silau cahaya perkotaan.

Saya tak perlu lagi menyetor muka kusut dan senyum dipaksa ke kantor, usai maghrib. Tak ada lagi ribut-ribut memperdebatkan siapa yang pantas untuk meliput acara besok. Tak ada lagi pulang lewat pukul sembilan malam, yang biasanya disambung dengan duduk-duduk di warkop hingga tengah malam. Saban hari, jam tidur bahkan tergelincir ke waktu sepertiga malam.

Di perkampungan seperti ini, waktu tidur akan terasa lebih cepat. Waktu santai terasa lebih lowong. Pandangan terasa lebih hijau dan lapang. Langit juga tak sesempit kota Makassar yang selalu ditingkahi hotel-hotel bertingkat. Wajar jika saya harus selalu tersenyum karena suasana yang tak membelit isi kepala.

Di daerah kota, (meski tak sepenuhnya modern, kami selalu menyebutnya demikian untuk membedakan ibukota kabupaten dengan wilayah perkampungan kecamatan di pelosok), saya akan memulai hidup baru. Segalanya benar-benar dimulai dari nol.

"Kamu akan tinggal dimana?"

Saya benar-benar akan jauh dari tanah kelahiran sebenarnya. Saya harus menghabiskan waktu sejam untuk perjalanan ke dataran perkampungan di Kecamatan Alla, tempat dimana kenangan saya bermula dan beranak-pinak. Beruntung, rumah Bunda (guru SMA terbaik) jadi persinggahan sementara saya agar menyiapkan segala permulaan hidup di kota.

"Kamu ternyata sudah tambah tinggi ya? Hampir sampai di palang pintu," seru Bunda, yang mengenal anak didiknya dulu sebagai anak paling kecil (dan imut).

Saya masih harus banyak belajar. Selain beradaptasi, segala pengetahuan harus kembali di-restart dengan lingkup kabupaten ini. Jangan salah. Luasnya bisa setara dengan jumlah kelokan ke setiap perkampungan. Tak hanya terpaut pada pemerintahan, melainkan segala lini. Segalanya nampak begitu anyar.

Di samping itu, saya akan lebih banyak berpapasan dengan masa remaja di Enrekang. Yah, sebagaimana pulang ke kampung (halaman), selalu lekat dan pekat dengan setumpuk kenangan.


--Imam Rahmanto--