Senin, 16 Oktober 2017

Revolusi ala Binatang

Oktober 16, 2017
Target bacaan kian menipis. Dalam sepuluh bulan terakhir, saya baru bisa menamatkan hingga 18 buku dari target bacaan tahunan sekitar 30 buku. Saya semakin sadar, kesempatan untuk bisa leluasa membaca buku bukanlah hal mudah. Semakin usia bertambah, prioritas lain juga kian menumpuk.

Dalam sebulan belakangan ini, saya coba mengejar target itu. Salah satunya dengan menamatkan beberapa buku bacaan yang lebih tipis. Curang. Eh, jangan salah. Buku yang tipis tidak menjadi jaminan saya akan menamatkannya hanya dalam sekali duduk. Buktinya, beberapa buku justru terkapar tak berdaya di lantai kamar. Sisanya, diselesaikan sekadar kewajiban untuk "menuntaskan-apa-yang-sudah-saya-mulai."

(Foto: Imam Rahmanto)

Diantara beberapa bacaan itu, buku Animal Farm karya George Orwell (nama assli Eric Arthur Blair) menjadi bahan paling ciamik bagi saya. Yah, saya menyukai segala kesederhanannya. Mulai dari jumlah halaman, jalan cerita, cara berpikir, hingga alur yang menghubungkannya satu sama lain. Meskipun, jujur, saya tak menyukai ending-nya.

Kisahnya tentang Peternakan Manor yang dimiliki dan dikelola oleh keluarga Tuan Jones. Berbagai hewan ternak hidup di dalamnya sebagai peliharaan keluarga itu. Kedamaian kehidupan peternakan sebenarnya berlangsungsebagaimana lazimnya. 

Hingga salah satu babi tua yang paling dihormati hewan lainnya, Mayor tua, menceritakan mimpinya kepada para penghuni peternakan itu. Dari sanalah akar pemberontakan binatang dimulai dan dipelopori oleh dua babi cerdas, Snowball dan Napoleon. Mereka berdua menggerakkan pemberontakan terhadap Tuan Jones dan keluarganya. Itu hanyalah awal pemberontakan para hewan-hewan itu terhadap manusia.

"Manusia adalah satu-satunya makhluk yang mengonsumsi tanpa menghasilkan. Ia tidak memberi susu, ia tidak bertelur, ia terlalu lemah menarik bajak, ia tidak bisa lari cepat untuk menangkap terwelu. Namun, ia adalah penguasa atas semua binatang. Manusia menyuruh binatang bekerja, manusia mengembalikan seminimal mungkin hanya untuk menjaga supaya binatang tidak kelaparan, sisanya untuk manusia sendiri. Tenaga kami untuk membajak tanah, kotoran kami untuk menyuburkan tanah, tetapi tak satu pun dari kami memiliki tanah seluas kulit kami." [hal.6]

Revolusi adalah salah satu hal utama yang ingin disampaikan dalam buku ini. Sebenarnya, kalau ingin dicerna lebih jauh, isi cerita ini justru lebih berat dan rumit. Politik kekuasaan diceritakan dengan gaya-gaya alegori. Bagaimana Snowball dan Napoleon bekerja sama untuk menggulingkan kekuasaan Tuan Jones. Namun, pada akhirnya, kedua pemimpin kawanan hewan itu justru berseteru dalam perbedaan pendapat. Napoleon mengambil alih kekuassaan dengan cara menyingkirkan Snowball.

Barangkali, hewan-hewan Animal Farm bisa mengajarkan kita tentang namanya berdemokrasi. Perputaran kekuasaan yang berlandaskan pada kekuatan dan kecerdikan. Babi-babi ini menunjukkan "cara main" politik yang begitu elegan. Revolusi, meski diawali dengan niat yang baik, tetap saja akan memudar pada perjalanannya. 

Babi-babi ini memulai pemberontakan dengan begitu epik. Menciptakan tujuh peraturan "kehidupan hewan" animalisme setelah kemenangannya. Seiring waktu, aturan itu dilanggar demi kepentingan kekuasaan. 

Membaca Animal Farm memang lekat jika dikaitkan dengan kehidupan manusia itu sendiri. Berbagai intrik dan sifat-sifat binatang ada pada diri manusia. Malah, George Orwell nampaknya memang ingin menunjukkan bagaimana "politik" manusia yang sebenarnya. Wajar jika buku ini diganjar beberapa penghargaan dan masuk sebagai 100 best books di Inggris versi BBC. Tak peduli jika buku ini diterbitka tahun 1945.

Sayangnya, saya masih dibuat penasaran dengan ending kisah pemberontakan hewan-hewan ini. Khususnya nasib si cerdik Snowball yang disingkirkan oleh Napoleon. Dan lagi, hewan-hewan yang akhirnya sadar kehidupan mereka tak jauh lebih dibanding sebelumnya. (*)

“The only good human being is a dead one.” Animal Farm, George Orwell

 
--Imam Rahmanto--

Jumat, 06 Oktober 2017

Menanjak (4)

Oktober 06, 2017
(Foto: Ohe Syam Suharso)

Pekerjaan mendaki gunung selalu diasosiasikan dengan hal-hal berat dan sangat melelahkan. Tak jarang, para calon pendaki harus dibekali dengan olah tubuh atau pemanasan, jauh hari sebelumnya. Minimal, kaki dibuat terbiasa bergerak dengan aktivitas fisik. Lari, misalnya.

Hanya saja, kata teman, sebenarnya pendakian perdana tak mesti diiming-imingi ketakutan. Kekuatan hanya menjadi nomor sekian dari persiapan menghadapi segala tantangan di atas gunung. Tubuh kekar, bodi besar, muka sangar bukan jaminan agar tetap tegar. Satu-satunya hal utama yang dibutuhkan hanyalah tekad... yang membara.

Pada awalnya, itu memang hanya semacam "bualan" atau "omong kosong" agar kita mau ikut menanjak mempertaruhkan segala kekurangsiapan. Semacam pembenaran untuk memuluskan ajakan mendaki bersama teman-teman yang lainnya. Akan tetapi, saya merasakan sendiri, tak ada yang lebih dibutuhkan seorang pendaki selain tekad. Yah, tekad. Bertransformasi jadi semangat. Diiringi dengan niat yang baik, tentunya.

Toh, sebagian orang bisa menuntaskan impian terpendamnya untuk memeluk puncak tertinggi tanpa perlu persiapan berbulan-bulan lamanya. Modal nekat. Ketakutan jangan pernah menggerogoti kemauan. Kalau tak mencoba, bagaimana bisa tahu hasilnya? Tekad kuat semestinya sudah cukup untuk menjadi bahan bakar mewujudkan impian apa pun.

Di samping itu, yakinlah, hal-hal baru selalu menyimpan ke(se)nangan berharga.

"Gagal itu urusan nanti, yang terpenting kita berani untuk mencoba dan mencoba!" -- 5cm, The Movies

***

Perjalanan menuju Puncak Rante Mario baru terlihat agak "menyeramkan" saat memasuki Pintu Rimba. Warga menyebutnya demikian, karena lahan yang tak jauh dari Pos I itu menjadi pembatas antara hutan dan lahan perkebunan warga. Dari situ pula pohon-pohon rindang mulai menyapa dan menawarkan kesejukan "semu".

Tak ada yang benar-benar menyejukkan dalam perjalanan mendaki semacam itu. Rindang pepohonan dan semak belukar hanya menjadi kilasan asal lewat. Pakaian dibuat basah sepanjang waktu. Peluh mengucur diantara pelipis. Gaya rambut juga dibuat kusut masai. Keinginan untuk memperbaikinya sudah hilang karena didera lelah.

"Tidak bisa berhenti dulu kah?" ucapan yang hanya berhenti di batas kerongkongan. Meski pengalaman pertama, namun gengsi kalau harus terlihat "kalah" dalam perjalanan.

Saban hari, masa kecil saya sudah berlari-larian di jejeran kebun pegunungan. Seharusnya saya bangga sebagai anak kampung.

Harus tetap kelihatan setroong diantara kaki yang hampir patah. (Ohe Syam Suharso)

Setengah perjalanan, kami terpaksa harus berhenti. Menurut Rahim, tempat kami berhenti merupakan salah satu percabangan menuju puncak pegunungan yang lainnya, yakni Nene Mori. Sayangnya, jalur tersebut belum terlihat bersahabat seperti yang lainnya.

"Oh...Nene Mori ya? Itu neneknya Mori yang sakti sekali..."

"Hush....jangan sembarang bicara kalau di hutan," potong Ohe, sembari memasang tampang serius.

Saya sempat terkesiap. Sambil meringis, tak ada lagi suara membahas bualan. Saya langsung teringat, perjalanan di tempat-tempat semacam ini memang harus dilalui dengan sikap mawas diri. Satu hal yang harus diperhatikan para pendaki: tak boleh takabur.

"Dulu toh pernah ada temanku yang bercanda bilang enak sekali tinggal disini, saya juga langsung dimarahi teman yang orang asli sini," ujar teman yang lain, Pandi, saat kami melanjutkan perjalanan.

"Katanya, jangan sembarang bicara kalau di tengah hutan. Tidak baik," lanjutnya lagi.

Barangkali, dengan kekuatan semesta, Tuhan akan mengabulkan omongan yang dianggap takabur. Bukankah lisan adalah penjabaran doa?

Meskipun begitu, saya sebenarnya tidak sedang bercanda atau berbual tentang kisah Nene Mori. Saya sempat membaca referensi terbatas tentang puncak Nene Mori. Alasan di balik pemberian namanya memang bermula dari cerita-cerita rakyat atau folklor.

Tidak ada alur cerita yang jelas tentang salah satu tokoh sakral tersebut. Keberadaannya pun masih dipercaya menghuni pegunungan. Hanya saja, cerita-cerita menyebutkan bahwa Mori merupakan cucu dari nenek yang saban hari berburu di hutan Pegunungan Latimojong. Untuk itulah ia dipanggil dengan sebutan Nene Mori (neneknya Mori).

Kesaktian Nene Mori juga bukan sekadar pepesan kosong diantara penduduk pada masa itu. Ia tak pernah gagal berburu anoa. Konon kabarnya, Nene Mori tak butuh berlelah-lelah jika ingin makan daging anoa. Para anoa sendiri yang datang ke hadapannya untuk disembelih. Di puncak ketiga tertinggi pegunungan itu, ada sebuah batu yang kerap menjadi tempat bersemedi Nene Mori.

Dalam versi yang terbatas, kisah Nene Mori masih ambigu. Saya sendiri menyesal tak sempat menanyakan kisahnya kepada para tetua penduduk di sekitar Punggung Latimojong. Hanya saja, membicarakan hal-hal mistis diantara lebat rimba sudah bisa mengundang bulu kuduk merinding. Kami tak perlu lebih jauh membahasnya. Meski begitu, kelak, kami dibuat kembali bersemangat untuk menanjak ke puncak tersebut.

Berbagai jalur lekukan bisa dijumpai selama menempuh perjalanan menuju Pos II. Sekali waktu kami harus mengangkat lutut tinggi-tinggi. Di lain waktu kami harus menahan tumit agar tidak terjerembab. Pegangan yang tersedia lebih banyak belukar di kiri dan kanan. Beruntung, sendal butut saya masih sangat keren untuk mengatasinya. Sendal merek Consi** memang is the best

***

Peristirahatan di Pos II. (Imam Rahmanto)

"Nah, itu sudah kedengaran suara air. Artinya, kita sudah dekat dari Pos II," ujar Rahim dari depan.

Pos II memang seolah menjadi oase bagi pendaki yang sudah kelelahan. Air sungai mengalir tak jauh dari tempat pemberhentian kami. Bening. Hanya jembatan kayu kecil yang membelahnya.

Sebagian pendaki memanfaatkan Pos II sebagai tempat mendirikan tenda. Lokasinya tepat berada di bawah bongkahan batu besar. Aman dari hujan maupun angin kencang. Orang-orang biasa menyebutnya gua Sarung Pakpak.

Bisa dibilang, sumber air juga tak terbatas, kapan pun mereka membutuhkannya. Untuk urusan minum, cukup tangkupkan saja kedua telapak tangan mengadang aliran air. Kesegarannya bahkan melebihi air galon isi ulang yang selama ini kita konsumsi di kota. Tak butuh dimasak. Tak butuh alat isi ulang yang menggunakan sinar ultraviolet.

JELAJAH - SUNGAI POS II LATIMOJONG
Klik atau tunggu sejenak untuk gambar lainnya. (by flickr)

Kami langsung bergabung dengan tiga teman porter yang sudah lebih dulu menanti. Segala perlengkapan dapur mulai dibongkar sedikit. Jam makan siang sudah lewat. Perut yang keroncongan harus diisi ulang. Butuh tenaga lebih banyak untuk melanjutkan perjalanan.

"Satu-satunya momen yang bikin saya makan tiga kali sehari, ya pendakian ini. Biasanya, saya cuma makan sekali dalam sehari kalau di kota," seloroh saya.

"Kalau mau mendaki butuh kalori ekstra dong. Cuma yang susahnya nanti kalau mau buang air besar," jawab teman yang lain. Haha..

Nasi hangat membuat kami lupa sejenak dengan kelelahan selama perjalanan. Suara arus sungai menjadi orkestra hiburan bagi kami. Musik alam. Tak ada yang lebih nikmat dari makan bersama di tengah rimba. Segalanya terasa lebih nikmat dan membuat kami banyak bersyukur.

Sayangnya, agak miris juga melihat coret-coretan dinding batu di hadapan kami. Ada banyak aksi vandalisme yang dilakukan oleh para pendaki tak bertanggung jawab. Seolah-olah, dengan menuliskan nama di dinding batu bisa menjadi rekor terhebat.

Meski sebagai pendaki pemula, saya tahu bahwa sejatinya para pendaki punya semboyan epik yang salah satunya, "tak boleh meninggalkan apa-apa kecuali jejak". Coretan atau sampah di alam terbuka sama sekali bukan jejak. Kalau sampai meninggalkan sampah, barangkali kita lebih pantas disebut sebagai "sampah" itu sendiri.

"Jangan pernah mengambil sesuatu selain gambar. Jangan pernah meninggalkan apa pun selain jejak. Jangan pernah membunuh sesuatu selain waktu." --semboyan pendaki

"Itulah, saya minta sama anak-anak (Karangan) untuk bersihkan kalau mereka lewat sini," ujar Rahim.

Bisa saja, pemuda-pemuda dari dusun Karangan dibuat jengkel dengan ulah para pendaki. Sebagian besar hanya ingin menunjukkan prestise sampai di puncak, tanpa sadar esensi sesungguhnya dari mencintai alam. Bukan hanya perempuan yang butuh kasih sayang. Alam pun demikian.

Apa perlu saya juga mengukirkan namamu, sayang? (Ohe Syam Suharso)

***

Pemberhentian di Pos II tak sekadar membunuh waktu bagi kami. Selain melintasi jalur reguler menuju puncak, kami masih punya misi lain untuk menyingkap keindahan kawasan Latimojong. Ada surga tersembunyi yang tak pernah disadari para pendaki saat melintasi Pos II.

"Cuma sedikit yang pernah kesana. Pokoknya bagus itu air terjun. Paling tinggi diantara semua yang pernah saya datangi," cetus Ohe, yang menggenapkan kesempatan keduanya mendaki pegunungan inni.

Untuk alasan itu pula, kami harus membagi rombongan dalam dua tim. 


[bersambung]


--Imam Rahmanto-- 

Minggu, 01 Oktober 2017

Menanjak (3)

Oktober 01, 2017
Surat kabar terpampang di hadapan saya. Saya tak bisa menampik, ada rona bahagia menyapu muka membaca dua halaman hasil peluh kami menjelajah alam Latimojong. Tulisan-tulisan itu. Foto yang terpampang. Ucapan diantaranya. Setidaknya, menggambarkan sebagian kisah kami menanjak untuk menuntaskan misi ekspedisi.

Benak saya takkan pernah bisa melupakan hal semacam itu. Sebagaimana cinta pertama yang sulit dilupakan, pun demikian perjalanan itu. Tak ada yang pantas dilupakan atau sekadar dianggap angin lalu.

***

Hampir semua rumah warga di dusun ini yang dicoreti para pengunjung.
Apa harus sekasar ini agar selalu diingat?? (Imam Rahmanto)

Pagi yang cukup mendebarkan bagi saya. Kokok ayam terasa lantang dan begitu menggema. Tak begitu sulit untuk terbangun di tempat ini. Langkah-langkah kaki di atas rumah juga sudah cukup menjadi penanda.

Pak Dusun juga sempat berbincang-bincang menyambut kami. Kami duduk diantara seduhan kopi khas Latimojong. Yah, meskipun seadanya ala masyarakat di perkampungan. Kopi, gula, air panas diaduk jadi satu. Saya jadi heran sendiri, lidah saya sudah sedemikian pekanya dengan seduhan dan olahan kopi. Gara-gara banyak bergaul dengan pecinta kopi.

"Cuma ini yang mau mendaki?" tanya Pak Dusun kepada kami. Dua teman masih terlelap di belakang kami.

"Yah, ini saja Pak Dusun. Kebetulan mereka mau menyelesaikan ekspedisinya. Ini Imam, dia mau......." sambut Rahim, sembari memperkenalkan saya dan Ohe kepada Pak Dusun.

Rahim memang sudah kenal lama dengan penduduk di Dusun Karangan. Jauh, beberapa tahun sebelumnya, ia sudah malang-melintang di dusun ini. Keprihatinannya pula yang mendorong ia banyak bersosialisasi dan memperjuangkan kawasan pegunungan tersebut. Tak heran jika hampir semua pemuda di dusun itu mengenalnya. Kelak, saya dibuat semakin bersyukur punya kawan-kawan seperti mereka.

Selagi udara masih dipapar sinar matahari, hangatnya kopi panas setidaknya bisa menemani obrolan berselimut itu. Saya sudah bolak-balik kamar mandi untuk menikmati segarnya air pegunungan. Seandainya kami masih punya banyak waktu, betapa rindunya saya mandi di bawah guyuran air dingin pegunungan.

"Halaaahh, padahal semalam tidur tidak pakai SB (Sleeping Bag), dingin begitu kakinya. Terpaksa pakai karpet digulung-gulung," timpal Rahim di sela-sela packing.

Kami memang sudah mengatur waktu untuk perjalanan menuju puncak. Sebagai pemula, saya hanya bisa mengikuti arahan dari Rahim. Dia pula yang mengajak tiga porter dari pemuda Karangan untuk ikut dalam perjalanan kami. Beban perlengkapan dapur tentu tak bisa ditanggung kami berlima. Salah satunya, anak Pak Dusun. Itu pun setelah Pak Dusun berinisiatif menawarkan anak lelakinya, Suliadi, ikut dalam perjalanan tersebut.

***

Pertama kalinya, saya benar-benar mencoba bersenyawa dengan alam pegunungan. Meskipun basicnya, saya pernah menjalani kegiatan perkemahan. Zaman sekolah, saya juga aktif dalam kegiatan kepramukaan.

Hanya saja, persoalan mendaki gunung saya baru bisa menikmatinya sungguh-sungguh. Saya tak pernah benar-benar menyiapkan perlengkapan mendaki begitu mendetail. Mulai dari tetek-bengek istilah yang agak rumit, hingga yang paling sederhana. Bahkan, untuk pakaian pun biasanya akan sangat menjadi perhatian bagi para pendaki. Wajar jika toko-toko outdoor di luar sana menyediakan detail perlengkapannya sekaligus. Lha wong, urusan mendaki bukan hal sembarangan. Beruntunganya, saya jadi belajar banyak terkait istilah pendakian yang biasanya lebih banyak diampu anak-anak pecinta alam.

Sayangnya, saya tak punya cukup waktu untuk sekadar menyiapkan sepatuk husus trekking. Jadilah saya mendaki dengan sandal gunung "butut" seadanya. Malah, tanpa perlu mengenakan kaos kaki. Hahahaha....dasar anak kampung. 

Tapi, tenang saja, perlengkapan lainnya lumayan lengkap kok. 

Ransel gunung? ceklis! Jaket anti air dan angin? ceklis!.Matras? ceklis! Sleeping bag? ceklis! Tenda? ceklis! Mantel hujan? ceklis! Kompor portabel? ceklis! Senter serbaguna? ceklis! Cemilan penambah kalori? ceklis! Kamera DSLR? ceklis! Air minum? ceklis! Pasangan hidup? Duh, belum dicek...

***

Rahim mengisi buku registrasi. Pemuda Karangan di depannya bernama Zaqqar (kalau tak salah), yang bakal membuat kita takjub jika tahu kenyataan sesungguhnya dari balik sarung yang selalu dikenakannya. (Imam Rahmanto)

Cekrek dulu sebelum berangkat. Ada Muche yang menjadi "penggawa" para Pemuda di Dusun Karangan. (Ohe Syam)

"Ada berapa pos kalau mau mendaki Latimojong?"

Secara umum, ada tujuh pos yang mesti dilalui. Meski sebetulnya para pendaki akan melintasi sembilan titik utama, termasuk tujuh pos tersebut. Dua diantaranya sebagai gerbang pembuka dan gerbang penutup.

Saya menyebut Dusun Karangan sebagai gerbang "selamat datang". Bagi pendaki mana pun, biasanya akan berjumpa dengan dusun di ujung kecamatan ini. Dusun ini pula yang bersebelahan langsung dengan segala peradaban khas Pegunungan Latimojong. Para pendaki akan berjumpa dengan Pos Registrasi di dusun ini, tepat sebelum mulai mencapai target.

Kelak, saya baru tahu jika posko pembuka itu belum genap berumur setahun. Para pemuda Karangan yang berinisiatif membangunnya demi memudahkan pendataan para pendaki. Selain itu, retribusi sebesar Rp10 ribu tak seberapa jika melihat upaya yang dilakukan para pemuda ini agar tetap menjaga kelestarian pegunungan. Lagipula, perputaran kas tak sepenuhnya dinikmati para pemuda dalam mengelola wisata pegunungan. Tak jarang, mereka terpaksa "menyumbangkannya" untuk kegiatan-kegiatan desa atau dusun.

Sementara puncak tertinggi menjadi gerbang "selamat tinggal". Ia sekaligus menjadi penutup misi pendakian. Sebagian orang menyebutnya sebagai pos kedelapan, meski tak ada rincian secara tertulis. Orang-orang lebih senang menyebut label Puncak Rante Mario secara tegas dan lugas.

Usai mengisi buku registrasi di posko awal, kami pun memulai pendakian. Tiga teman porter kami sudah maju lebih dulu. Mereka hendak menyiapkan perbekalan di tempat pemberhentian kami nantinya. Karena terbiasa dengan jalur pegunungan itu, mereka tidak perlu ngos-ngosan menempuh pendakian-pendakian awal.

"Sudah kayak kebunnya sendiri ini naik-turun Latimojong. Bisa dua jam saja lari-lari kalau mau ke puncak," canda teman saya.

Ini muka-muka narsis setelah lelah dilepaskan di Pos I. Tampilan pos I ya memang terbuka begini. (Ohe Syam) 

Pendakian menuju Pos pertama sebenarnya tak begitu sulit. Jika pernah membayangkan model tanjakan secara umum, maka disinilah lokasinya. Perjalanan mendaki bisa agak santai karena landai. Sambil siul-siul dan menyanyi. Kiri-kanan jalan, kami bisa menyaksikan lahan-lahan perkebunan kopi terbentang sangat luas. Lahan-lahan itu dulunya merupakan hutan yang juga menutupi punggung pegunungan. Sayangnya, beralih lahan menjadi perkebunan kopi masyarakat.

Tak ada uji nyali selama perjalanan awal kami. Langit biru juga masih bisa ditatap begitu lapang. Hanya rasa lelah yang tak jera mendera tubuh. Berkali-kali kami harus menyesuaikan ritme dengan teman perempuan, Icha, yang kelelahan selama melangkah. Sembari tetap menunggu tenaganya pulih, ya, kami mencoba menikmati saja alam yang terpampang di depan mata. Saya juga mulai sekali-kali mengarahkan lensa kamera.

Ribet juga membawa kamera beserta tasnya yang tersalempang di sebelah ransel. Contoh kesalahan amatir. Seharusnya, saya meninggalkannya dan menjejalkan kamera langsung di dalam ransel. 

Serius, jarak menuju Pos pertama teramat-sangat-teramat panjang. Medannya tak begitu ekstrem. Kami masih sering bertemu beberapa petani yang baru pulang dari kebun. Senyumnya ramah dan nampak tak asing dengan pendaki seperti kami. Cuma.... aduhai sangat melelahkan. Ini namanya mencicil keringat. Bukan kekuatan yang diuji. Melainkan daya tahan dengkul dan bahu (yang menggendong beban puluhan kilogram).

Sesampainya di pos pertama, terduduk dan nyaris terkaparlah kami yang masih amatir ini. Ternyata, saya harus mengganti kosa kata "menaklukkan" dengan yang lebih bersahabat dengan ekspedisi ini. Dengan begitu, barangkali Tuhan bisa lebih bijak menyalurkan bonus kekuatan untuk kami.

"Sampailah kita di pos satu. Itu disana, ada tanaman-tanaman kopi....." sementara Rahim dengan santainya sibuk mendokumentasikan perjalanan ala-ala vlog. Disorotnya muka yang sudah kusut dan penuh kenistaan.


Dari sinilah, tantangan sebenarnya dimulai. Di depan sana, warga menyebutnya pintu rimba. (Imam Rahmanto)


[bersambung]

-----


--Imam Rahmanto--

Selasa, 26 September 2017

Menanjak (2)

September 26, 2017
"Kita berangkat?" 

"Ayo, supaya kita bisa magrib di tengah jalan," ujar Rahim, yang menjadi pucuk perjalanan kami. 

Kami baru saja merampungkan segala persiapan, termasuk packing logistik ke dalam beberapa tas carrier. Keberangkatan lepas Dhuhur terpaksa mulur hingga empat jam. Selain menunggu teman, perlengkapan lain juga masih dalam pencarian. Saya baru tahu, macam-macam perlengkapan mesti dipaksa ikut dalam perjalanan empat hari kami.

Perjalanan menuju gerbang pendakian Latimojong, Dusun Karangan butuh waktu yang lebih lama. Kondisi sudah mulai menggelap dan tak memberikan ruang bagi mata. Teman kami, Pandi, terpaksa mengendarai motornya dengan berbekal headlamp di kepala. Lampu depan motornya tak berfungsi. 

Tak butuh petunjuk khusus menuju Dusun Karangan. Ujung kecamatan itu bisa ditempuh melalui jalur keramaian Kecamatan Baraka. Di tempat ini pula biasanya para pendaki dari luar kota mengawali petualangannya. Ada yang menyewa kendaraan roda empat, seperti jip, maupun sekadar registrasi di sekretariat kelompok pecinta alam.

Sayangnya, kami anti mainstream. Kami tak perlu berhenti disana. Rahim punya banyak kenalan di dusun Karangan, yang bakal menjadi titik awal petualangan bagi kami.

Jalan berlumpur menjadi adangan di tengah jalan. Hampir seperti jalur menuju Dusun Angin-angin, kami harus berjibaku dengan jalanan yang masih basah oleh lumpur. Hujan baru saja mengguyur dan membuat perjalanan kami agak licin. Bukan agak licin. Malah sangat ekstrem dengan kondisi tanpa lampu jalan. Jurang menganga di sebelah kanan jalan.

Istirahat dulu di jalan, biar tak oleng. (Imam Rahmanto)

Saya harus mengakali laju motor di tengah perjalanan. Beberapa kali terjebak lumpur membuat saya harus bermain ala motor trail. Sebenarnya cukup menyenangkan sih. Petualangan semacam itu yang membuat perasaan lebih hidup dan mendebarkan. Termasuk ketika saya nyaris terjungkal ke jurang karena kehilangan pijakan kaki kanan. Hahaha...

Kami tiba di Dusun Karangan nyaris tengah malam. Suasana sudah sepi. Udara sudah mulai terasa dinginnya. Hanya anjing menggonggong yang kedengaran menyambut kedatangan kami. Seolah mereka berseru, "Pulanglah, ngapain kalian disini?"

Saya menjawab, "Kami baru tiba. Jangan diganggu lah. Ini bahu sudah pegal-pegal gendong ransel (carrier) besar, maunya istirahat dulu."

Rumah Kepala Dusun menjadi persinggahan sementara kami. Meskipun ia sudah tidur dan tidak sempat menyambut kami (yang memang telat dan mengganggu jam tidur orang), rumahnya tetap terbuka lebar. Kami langsung mencari bidang paling datar untuk tempat meluruskan punggung alias berbaring.

Tak ada yang terbebas dari tanah dan lumpur. Air (yang sangat) dingin terpaksa membasuh kaki malam-malam.

"Kita ngopi dulu," ajak Rahim.

Diantara sela-sela ruang tamu, kami menyalakan kompor portabel. Sebagian perlengkapan dapur sudah dijajal dari sini; kopi (andalan) arabika kalosi. Itulah gunanya kami bersama teman, yang juga pemilik kafe dan pegiat kopi. Ilmu barista dan kopinya tak bisa jauh-jauh. Aroma hangatnya berpadu dengan udara dingin yang menembus lubang dinding rumah panggung ini.

Dusun ini tak dijangkau oleh sinyal operator telekomunikasi. Kami tak butuh lagi mengecek handphone satu per satu. Dijamin, takkan ada notifikasi yang masuk selama empat hari ke depan. Satu-satunya alasan untuk tetap memegang gadget karena keperluan mendokumentasikan perjalanan.

Meski begitu, hal semacam itu yang benar- benar menenangkan. Suasana dusun begitu damai. Kami tak perlu lagi memusingkan masalah pekerjaan, kuliah, atau isu-isu tak penting di dunia maya. Kami cukup merasai saja alam pegunungan yang menakjubkan. Heningnya yang takkan dijumpai di perkotaan. Gelapnya begitu dicintai bintang-bintang di langit.

Kapan terakhir kali kita menjauh dari layar dunia maya? Saya belajar menjauhinya dari tempat ini. Dimulai dari kebersamaan kami. Betapa tawa harus terus dipupuk dalam perjalanan kami.

Bahkan, tak ada namanya teman yang merepotkan. Karena saat mengencangkan ikatan ransel, kami seharusnya sudah siap untuk direpotkan kapan saja. Ada perjalanan berat (dan betul-betul berat) yang menanti di depan.

"Ngapain kalian disini?" gonggong anjing kembali terdengar.

"Belum tidur? Jangan begadang karena besok kita harus mendaki pagi-pagi," pesan Rahim saat melihat saya menyeduh mi instan.

"Untuk apa?" suara anjing terus saja melolong.

"Ada lelah yang pantas terbayarkan untuk merasai pengalaman menakjubkan ini. Biarkan kami melaju, menyiapkan diri untuk bersahabat dengan alam Latimojong," debar di dada menyuarakannya.

Barangkali, kelak, saya juga akan lebih banyak mengabadikan bintang dan Milky Way-nya. Saya menyukainya.
(Imam Rahmanto)


[bersambung]


--Imam Rahmanto--

Kamis, 21 September 2017

Menanjak

September 21, 2017
(Imam Rahmanto)

Setelah sekian tahun, hidung saya baru kembali terasa kering. Kulit mati dan mengelupas. Di beberapa bagian terasa perih. Bagian lain justru tergoda untuk segera dikelupas. Jerawat juga mulai kembali tumbuh dari sana.

Terakhir kali, saya merasakan hal semacam itu pada masa sekolah menengah. Masa-masa ketika saya masih aktif berkemah dan menjalani aktivitasnya di daerah-daerah pegunungan. Kami, anak-anak Pramuka, berpanas-panasan untuk pelatihan maupun pengkaderan. Berbaris menyusuri hutan dengan tanda-tanda khusus.

Tungkai dan betis saya juga masih terasa pegal. Perjalanan mendaki Pegunungan Latimojong, pekan lalu, benar-benar melelahkan. Apalagi bagi kami, orang-orang yang baru pertama kali menyusuri jalur pegunungan tertinggi di Sulawesi itu. Saya harus memaksa kaki berjalan jauh hingga dua hari. Malam juga tetap kami tembus sebisa mungkin.

Meski begitu, tak ada rasa penyesalan menikmati keindahan dari atap Sulawesi itu...

***

"Yah, kita pakai motor saja. Lebih fleksibel karena bisa berhenti sesuka hati," ungkap salah seorang teman.

Rencana awal yang bakal menumpang kendaraaan roda empat harus dibatalkan. Tak ada kejelasan. Kalau pun kami betul-betul ingin menumpang mobil 4x4 mencapai gerbang pendakian Latimojong di Dusun Karangan, jadwal kami akan bergeser lebih jauh. Padahal rencana pendakian ke Puncak Rante Mario sudah disusun semenjak bulan lalu.

Latar belakang yang berbeda-beda memaksa kami untuk menyatukan waktu terbaik. Hal itu terlihat sulit dan merepotkan. Persamaannya hanya satu, yakni mencapai puncak Atap Sulawesi.

Anggota tim pun kerap berubah-ubah. Beberapa orang yang sudah memastikan ikut, kembali memutar ulang jadwalnya. Berbagai alasan. Seumpama kepanitiaan, kami berulang-ulang mendata para pendaki yang siap berpartisipasi. Awalnya, saya mengira kami akan berangkat dengan gegap gempita. Kenyataannya, hanya tiga orang yang benar-benar kukuh dengan keyakinannya; saya, Ohe, dan Rahim.

Saya sempat meawarkan ajakan pada beberapa orang teman lainnya, baik lokal maupun yang berada di luar Enrekang. Sayangnya, mereka mendadak punya kendala dan urusan masing-masing di penghujung keberangkatan. Bahkan, salah seorang teman yang sudah packing terpaksa membatalkan keberangkatannya karena urusan kantor. Kantor dan atasan memang sering menyebalkan.

"Semua perlengkapan sudah ada?" tanya Rahim.

Perjalanan tiga hari bukanlah waktu yang singkat untuk menjauh dari segala modernisasi dan kemudahan perkotaan. Kami harus menyiapkan ransum yang memadai dengan segala kesiapannya. Bagi yang sudah bolak-balik mendaki, seperti Rahim, tentu peringatan semacam itu menjadi hal lazim. Ia tak ingin ada kesalahan sedikit pun untuk saya, yang baru pertama kali menjejakkan kaki di pegunungan tropis tersebut.

"Kalau bukan karena kau dan Ohe, saya tidak mungkin kembali lagi mendaki," akunya.

Saya merasa tersanjung. Apalagi, ia juga baru saja dikaruniai seorang bayi laki-laki. Belum genap sebulan. Barangkali hanya karena kami menjadi pelanggan tetap di kafe miliknya, Mountain Cafe Coffee Clinic.

Akh, bukan. Sama sekali bukan.

Beberapa orang memang membangun kepercayaan lewat obrolan dari secangkir kopi. Bagi kami yang hidup di daerah perkampungan, obrolan basa-basi tidak hanya berlangsung dari sekadar chat yang menghabiskan kuota internet. Kami lebih senang menatap mata satu sama lain, menyunggingkan senyum paling utuh, atau meledek lewat candaan dengan gestur paling konyol sekali pun.

Pertemuan lebih mendekatkan satu sama lain.

Kami punya keyakinan terhadap bagaimana menjalani kehidupan masing-masing. Setiap orang punya hal-hal yang diperjuangkannya. Bisa jadi, hal itu pula yang membuatnya terus bernapas dengan semangat yang membara. Seperti Rahim dengan kesejahteraan kopinya atau pun Ohe dengan formulasi gambarnya.

Secara harfiah, hal-hal itu memang sangat berbeda. Akan tetapi, muaranya tetap hal yang sama, yakni tekad untuk terus berjuang.

Perjuangan yang menggenapkan kami. Mungkin itu pula yang mendekapkan kami. Meleburkan semangat untuk mendaki.

Meski hanya bertiga, kami tetap bersiap-siap. Segala perlengkapan konsumsi menjadi tugas yang harus saya selesaikan di pasar. Saya terpaksa harus berlagak seperti "ibu rumah tangga" membeli semua bahan dapur di pasar seorang diri. Catatan di tangan, merinci keperluan.

Beberapa hari jelang keberangkatan, seorang teman lain dari komunitas Galeri Macca bergabung. Kami sempat bertemu dalam acara duduk-duduk-ngopi di kafe dan membicarakan keberangkatan.

"Oke, saya ikut. Sambil saya cari perlengkapan dulu," ujarnya.

Jelang keberangkatan, ia membawa satu personel tambahan. Perempuan. Saya mengenalnya sebagai anggota komunitas yang sama. Kami pun sempat bertemu dalam penjelajahan di Dusun Angin-angin, kira-kira dua pekan lalu.

Jadilah kami berangkat berlima.

Rasa-rasanya, saya teringat dengan Power Rangers. Lima orang dengan kemampuan yang berbeda. Pun, ada perempuan. Atau sebut saja kami sebagai Mountain Ranger!

Henshin! Berubah! Berangkat!


***

Kehidupan di tengah pegunungan ini membuat saya banyak berpikir tentang menikmati alam. Meski bukan jebolan pecinta alam, saya tetap menyukai keindahan Tuhan yang terhampar sepanjang mata memandang. Tak ada yang begitu pantas disesalkan dari perjalanan menanjak dan berbatu.

Jika manusia punya maksud harfiah dalam mengajarkan sesuatu, alam pun demikian. Kita hanya perlu menafsirkannya berkali-kali. Alam tak pernah begitu menakutkan untuk direngkuh. Meski begitu, bukan berarti alam bisa dengan mudahnya ditaklukkan. 

Tak ada manusia yang bisa menaklukkan alam ciptaan Tuhan. Sekali pun kita menyebut menaklukkan gunung. Satu-satunya yang pantas ditaklukkan dalam perjalanan mendaki gunung adalah ego manusia itu sendiri...


[bersambung]

--Imam Rahmanto--

Selasa, 12 September 2017

Hal(aman) yang Dipelajari

September 12, 2017
Udara mengelus lembut rambut-rambut halus di sekitar telinga saya. Waktu baru beranjak beberapa menit dari tengah hari. Matahari juga masih di atas ubun-ubun. Tak mengapa. Panasnya yang menyiratkan warna putih masih kalah terang dengan pemandangan hijau dimana-mana. Daun-daun yang melambai seolah berdesir dan bersajak atas nama kedamaian.

Saya teramat senang memandangi hal-hal sederhana semacam itu. Sudah lama tak melukiskan pemandangan sebagaimana adanya. Di samping itu, mata saya sudah semakin mendekati miopi dalam beberapa bulan belakangan. Nampaknya terlalu banyak menatap layar notebook dan gawai (sebagai bagian dari pekerjaan).

Menjauh dari layar terasa begitu nyata bagi saya. Hijaunya pohon, lapangnya langit, desau angin, kukuh bebatuan, hingga senyum tulus menjadi barang mewah jika berada di tengah kota. Semenjak delapan bulan silam, saya perlahan mencerna segalanya. Sedikit demi sedikit dengan waktu yang terus bergulir. Pun, saya diajak untuk berpikir.

"Saya mending sedikit gaji, tapi banyak pergi-pergi. Di Makassar, itu-itu ji. Seperti burung dalam sangkar," seorang teman pernah berdiskusi via Whatsapp.

Saya hanya tersenyum menanggapinya. Jari lain mengetikkan tawa yang membahana padanya, dengan maksud mencemooh. Sejujurnya, saya masih gamang jika harus berlama-lama di luar kota. Orang-orang selalu bertanya sampai kapan saya akan ditugaskan di tempat ini. Saya hanya bisa menjawab, hingga waktu yang tak ditentukan. 

Hidup di kampung halaman memang memberikan ketenangan dan lebih banyak quality time. Sayangnya, bagi orang-orang "menjelang" dewasa seperti kami, penghasilan juga menjadi perhitungan matematis. Kalkulasinya lebih logis dibanding membawa-bawa perasaan. Apalagi adik juga masih dalam tanggungan saya.

Meski begitu, seiring waktu, saya belajar mencintai. Benar-benar mencintai. Tanpa sadar, saya ternyata mendapati banyak hal yang benar-benar membuat kehidupan di pedesaan jauh lebih "hidup". Saya belajar beberapa hal.


#Melacak Alamat

Pedesaan belum banyak terjamah sinyal-sinyal internet. Hampir di semua wilayah pegunungan, kami hanya bisa mendapatkan jaringan telepon, tanpa sambungan untuk mengakses layanan internet. Sistem GPS juga sangat terbatas. Kalau pun berfungsi, peta di Google hanya bisa menggambarkan sebagian kecil, hanya sebagian kecil, jalan-jalan di perkampungan.

Saya belajar untuk lebih banyak bertanya dengan orang-orang di sekitar. Paling tidak, menyapa dan mengangsurkan senyum. Selebihnya langsung menanyakan arah yang hendak dituju. Hal semacam itu justru menjadi pengalaman yang menyenangkan. Berinteraksi dengan manusia sesungguhnya.

Dua minggu lalu, saya patut berbangga karena sudah berhasil menyusuri jalan ke salah satu pelosok desa tanpa bantuan peta. Hanya berbekal tanya jika sudah "merasa" tersesat.

Selain itu, mata dimanjakan berbagai pemandangan lapang tiap detiknya. Takjub. Adrenalin terpacu untuk menyusur jalan yang benar. Penasaran dengan hal-hal yang dilalui. Perasaan-perasaan semacam itu yang seharusnya terbangun sebagai manusia sesungguhnya. Saya ingat, betapa "robot"nya hidup saya di perkotaan sebelumnya.

#Bertemu atau Bertamu Langsung

Kehiidupan di kampung halaman sekaligus membangkitkan masa kanak-kanak dahulu. Seperti masa itu, kami tak pernah memanfaatkan facebook, grup WA, LINE, hanya untuk menyusun rencana bertemu. Masyarakat di pedesaan justru tak begitu akrab dengan perkembangan modern semacam itu. Sebagian besar teman saya disini justru slow response ketika dikontak via teknologi modern semacam itu.

Oleh karena itu, saya mempelajari bahwa untuk berurusan dengan orang-orang disini, saya harus berjumpa langsung. Bertamu (atau main) ke rumahnya. Kalau beruntung, disuguhi secangkir kopi (meski saya benci kopi pekat).

Paling tidak, menghubunginya via telepon hanya sesekali. Saya belajar untuk menerima kekecewaan setiap kali tak menjumpainya di rumah. Akh, persoalan kecewa atau tidak bergantung dari bagaimana kita menempatkan ekspektasi. Selama kita sudah mencoba, menghargai diri sendiri adalah hal yang baik.

Berkunjung dan bertemanlah. (Foto: Uppy)

#Berteman 

Benar. Meski Enrekang merupakan kampung halaman saya, namun ternyata masih banyak orang-orang baik yang berseliweran di sekitar saya. Kehidupan saya di pusat kabupaten justru mengantarkan pada teman-teman baru. Kali ini, bukan sekadar hubungan antara jurnalis - narasumber, yang biasanya akan terkikis oleh pergantian desk. 

Hanya dengan duduk-duduk santai di kafe, saya diperkenalkan dengan temannya teman. Perkenalan bisa terus bercabang ke teman-teman lain, yang awalnya hanya melintas sebentar di jejaring media sosial. Sekadar "sering baku lihat", hingga berujung baru tahu nama dan menjalin keakraban selayaknya pertemanan di dunia nyata.

Kerap kali, kami para jurnalis dikenal karena label media yang tersemat di balik nama kami. Akan tetapi, saya lebih senang jika dikenal sebagai Imam Rahmanto, ketimbang melihat profesi (yang sebenarnya juga biasa-biasa saja).

#Kecanduan Baru

"Ya, gara-gara kau mi, ini Imam sekarang juga sudah teracuni," ungkap teman saat melihat saya mengutak-atik frame kamera DSLR.

Saya mulai meluangkan waktu untuk pengalaman-pengalaman baru. Seharusnya saya lebih awal menyadari, waktu-waktu berkualitas tak bisa dibandingkan dengan tuntutan kerja seperti apa pun. Bahkan dunia dan seisinya tak lebih baik jika kita harus menghabiskan separuh jatah 24 jam yang dimiliki.

Salah satunya, saya bisa lebih menekuni hobi memotret dari tempat ini. Seperti bermain musik, saya hanya menjadikannya pengisi waktu luang. Belajar banyak hal. Menambah neuron di kepala. Karena tetap saja, saya lebih ingin menghabiskan separuh hidup saya dengan tulisan-tulisan.

"Akh, kalau mau pesan cappuccino, Imam tidak usah dibikinkan. Saya suruh bikin sendiri," cetus teman pemilik kafe. Dari tempatnya, saya juga "terpaksa" belajar banyak hal tentang menyeduh kopi tidak-secara-instan-dan-sasetan.

Kopi itu digiling, bukan digunting. (Foto: unknown)

Quality time itu tak sebatas menikmati waktu dengan keterampilan baru. Tak terkecuali dengan memperbaharui hubungan-hubungan baru. Setidaknya mulai berhubungan kembali dengan teman-teman lama. Berkunjung sesering mungkin ke rumah Bunda. Pun, menjenguk kenangan masa kecil.

#Seni Mendengarkan

Baru-baru ini, seorang teman mengakhiri sesi cerita panjangnya dengan, "Entah jurus apa yang kita pakai. Rasanya kalau mau cerita, bisa sampai cerita semuaaa."

Entahlah. Saya boleh tersanjung mendengarnya. Di samping orang yang terkenal kepo, saya mulai belajar tidak berbicara terlalu banyak. Kenyataannya, yang namanya "mendengarkan" itu jauh lebih penting. Sebagaimana adagium bahwa manusia dibekali dua telinga dan satu mulut agar dia lebih banyak mendengarkan ketimbang berbicara. Dari tempat yang jauh dari perkotaan ini, saya belajar memperdalamnya.

Orang-orang takkan pernah tahu caranya mendengarkan jika hiruk-pikuk menggema di sekelilingnya. Kesibukan tak memberi jeda. Rasa jenuh ikut membakar perasaan "toleransi" perlahan-lahan.

Kehidupan saya di tempat ini, yang bertemu orang baru dan mengobrol segala hal membuat saya membangun komunikasi dua arah dengan mereka. Selain tuntutan sebagai seorang "pewawancara", saya juga seharusnya memahami bahwa "mendengarkan" bisa menjadi salah satu muara kelegaan bagi orang lain.

Saya belajar mendengarkan banyak hal.

Mendengarkan kicau burung. Mendengarkan lirihnya nyanyian angin di depan kamar berlantai dua. Mendengarkan panggilan alam untuk dijelajahi. Mendengarkan gemericik air yang mengalir. Mendengarkan tetes hujan yang tak pernah ditebak waktunya.

Mendengarkan deru kendaraan yang sama sekali tak memekakkan telinga. Mendengarkan tawa-tawa renyah hanya karena lelucon ringan. Mendengarkan rengek anak kecil yang meminta disayangi orang tuanya. Mendengarkan tembang lawas kenangn bersama ayah. Mendengarkan belasan suara cicak di setiap sisi dan atap kamar jelang tidur. Hingga mendengarkan suara alarm setiap pagi (yang tak berefek paada kebiasaan bangun pagi).

#Bersyukur

Banyaknya tempat yang dijelajahi memberikan waktu untuk berkontemplasi. Betapa manusia tak ada apa-apanya dibanding alam ciptaan Tuhan. Bahkan, di balik sikap mengeluh kita setiap waktu, ternyata orang-orang yang hidup diantara jejeran keindahan itu tetap berjalan apa adanya.

Hanya dengan melihat senyum anak-anak, kita dibuat terpana. Mereka hidup sederhana tanpa perlu dihujani glamor kehidupan modern perkotaan.

#Menabung

Mana ada! 

***

Pada akhirnya, saya bisa menambah lebih banyak hal baru di tempat ini. Sebagian besar pengalaman itu membuat saya harus melihat ke dunia nyata. Pelajaran utamanya adalah dengan menikmati kehidupan yang sebenarnya.

(Foto: Suarto)



--Imam Rahmanto--

Jumat, 08 September 2017

Tanpa Jejak

September 08, 2017
(Foto: Imam Rahmanto)

Apa yang membuat saya tak "pulang" beberapa hari belakangan? Saya benci mengatakan berbagai tentang kesibukan. Karena kenyataannya, saya tak sesibuk dulu lagi saat masih melenggang ketat di perkotaan.

Barangkali, saya hanya tak tahu menempatkan waktu yang tepat untuk menuliskan hal-hal sederhana semacam ini. Semakin berjalan ke depan, saya baru menyadari bahwa waktu, seperti apa pun, selalu ada. Ia terus berputar. Hanya saja, penekanan prioritas yang kerap menjadi pilihan-pilihan tertentu di dalam kepala.

Diantara sunyi pegunungan ini, redup bintang yang selalu benderang begitu indah, seharusnya bisa menambah waktu saya untuk melukiskan lebih banyak kehidupan. Kata-kata tak selalu habis dalam setiap ketikan chat dengan teman-teman atau rekan kerja. Mengumpulkannya dalam satu rangkaian seperti ini yang jauh lebih sulit. Banyak perkara yang selalu melilit.

Beberapa waktu lalu, saya memperhatikan media sosial teman-teman, yang berujung pada teman lain yang bahkan saya belum mengenalnya. Akan tetapi, saya seolah terhubung pada satu hal yang sama; tulisan saya sendiri.

Yah, sebagian tulisan di "rumah" ini memang tak pernah ragu untuk saya lemparkan ke kerumunan. Barangkali tidak untuk jenis tulisan semacam ini. Sesekali, hanya melintas dan menyaksikan sedikit orang meluangkan waktu untuk membacanya. Selepasnya, suka atau pun tidak adalah urusan belakangan. Bagi saya, yang terpenting, kepuasan itu menjalar dalam kelegaan batin. Itu setelah mampu menuangkan apa yang benar-benar butuh dituliskan.

Hal menakjubkan selalu terjadi pada bagian teman-teman yang menikmati setiap detail cerita di tulisan tersebut. Saya hanya membayangkan seulas senyum yang mengikuti gerak-gerik mata nereka.

Membayangkan hal sesederhana itu, memberikan saya sedikit motivasi untuk "pulang". Lagi-lagi, tak ada alasan untuk meninggalkan "rumah" ini terlalu lama. Siapa saya yang tega meruntuhkan harapan satu-dua-tiga orang yang (saya yakin) cukup merindukan cerita-cerita sepele?

Tentang pulang yang sesungguhnya ke pelukan keluarga, saya tak memenuhinya. Kami hanya bertukar kabar melalui sambungan telepon. Beberapa kali bapak menanyakan kabar dan membahas kuliah adik yang sudah mulai memasuki hari pertama, selepas Iduladha.

Pekan ini, saya mesti membatalkan rencana pendakian gunung tertinggi di Tanah Sulawesi. Ekspedisi yang digadang-gadang semenjak bulan lalu ini belum punya persiapan matang. Teman sekaligus guide yang akan ikut dalam perjalanan panjang itu mengajukan penundaan selama seminggu.

"Sudah berangkat Latimojong hari ini?" dua-tiga redaktur kantor sempat bertanya hal yang sama, di hari yang sama.

Saya hanya bisa menjawab yang sebenarnya dibumbui sedikit alasan. Itu salah satu keahlian saya sejak kuliah. Mereka mengerti dan tak banyak menuntut. Kebetulan, pertanyaan itu diajukan untuk meyakinkan para petinggi kantor dalam rapat biasanya dan tentu, bakal mempertanyakan realisasi ekspedisi tersebut.

Berharap saja pekan berikutnya tak menemui kendala apa pun. Saya benci menunda-nunda petualangan selama beberapa kali. Teramat jarang saya menyesali perjalanan-perjalanan menikmati hijau pegunungan semacam itu.

Lantas, apa yang membuat aktivitas saya agak berantakan dan, sejujurnya, nampak mengecewakan hari ini??

Selain karena melewatkan gregetnya pertandingan Timnas Indonesia melawan Filipina yang berakhir dengan kemenangan 9-0, ternyata pikiran saya terus melayang-layang mengenai "rumah" ini. Sudah sepantasnya saya "pulang" dan memeluk segala kenangan di dalamnya. *bighug*

***

Gerimis sedang menimpa atap-atap seng di luar rumah. Bunyinya jutru mengundang ketenangan dalam hening yang kerap mendarat di sisa malam saya. Jika terlalu hening, saya akan memutarkan ratusan tembang kenangan dari playlist. Membiarkannya mengalun lembut dan mengantarkan ke alam mimpi.



--Imam Rahmanto--

Senin, 28 Agustus 2017

Perjalanan-Perjalanan

Agustus 28, 2017
Rumah-rumah di atas gunung, Dusun Angin-angin. (Imam Rahmanto) 

Belakangan saya lebih banyak menghabiskan waktu di luar keramaian kota. Baru-baru ini, kembali menyusur perjalanan ke dusun kaki Gunung Latimojong, Angin-angin. Selain untuk memenuhi "vitamin hijau", saya juga sekaligus memenuhi janji kepada seorang teman yang sehari sebelumnya mengajak bersama rombongan tripnya ke dua dusun terpencil. Mereka punya agenda mengantarkan bantuan buku dan membuat pojok baca bagi anak-anak disana.

"Saya kayaknya tidak bisa nyusul hari ini. Ada penugasan yang harus ditunggui, jangan sampai tiba-tiba diminta dan saya tak ada di tempat (bersinyal)," ungkap saya sehari sebelumnya.

Saya seharusnya berangkat bersama rombongan, dua hari sebelumnya. Sekaligus menikmati pemandangan hijau dari dusun Nating. Tentu saja, tanpa jaringan telepon dan kesibukan dunia maya.

Ternyata, saya baru bisa menyusul tepat pada hari terakhir. Pun, saat mereka sudah berpindah ke dusun Angin-angin. Sendirian saja, saya menyusuri jalan yang belum pernah terlintas dalam benak. Sebenarnya hendak berdua dengan teman yang lama tak bersua. Sayang, ia membatalkannya karena urusan keluarga. It's ok.

"Memangnya, tahu jalanan kesana?"

Saya tak pernah menganggap serius pertanyaan semacam itu. Perkampungan adalah tempat yang sangat ramah bagi petualang atau penjelajah. "Kesasar" hanya kosa kata bagi orang-orang manja yang hanya bisa bergelut dengan dunia maya. Di dunia nyata, "kesasar" adalah bertemu orang-orang baru dengan mengasah kemampuan bertanya arah jalan. Pepatah "malu bertanya, tersesat di jalan" masih sangat mujarab dalam menemani perjalanan kemana saja.



***

Sebenarnya, agak telat juga memulai perjalanan ke Angin-angin. Saya terpaksa harus mengambil start dari rumah Bunda yang ada di Kalosi, karena takut terjangkiti wabah "telat-bangun-pagi". Jaraknya lebih dekat untuk perjalanan ke Kecamatan Baraka. Di luar dugaan, saya masih ketinggalan awalan sejam bangun pagi. Sial.

Nyaris saja membatalkan kembali keinginan untuk berangkat sendirian ke dusun Angin-angin. Akan tetapi, saya juga telanjur berjanji pada teman. Yah, namanya lelaki, apa lagi yang bisa dipegang selain janjinya? Lagipula, saya memang butuh waktu untuk menyingkir dari kesibukan berkutat dengan layar dan silau dunia maya. Butuh dunia yang benar-benar nyata.

Tak pernah disangka perjalanan mencapai dusun di kaki Latimojong itu benar-benar butuh kerja ekstra. Bukan perkara gampang mengendalikan Jupiter Z1 dari trek yang seharusnya dikuasai oleh motor-motor trail. Saya berkali-kali berhitung sembari mengencangkan tekad. Sekali-kali berseru wow! luar biasa! Beruntung, ganasnya medan diselingi dengan pemandangan alam tiada tara dari atas ketinggian. Maka nikmat Tuhan yang mana lagi engkau dustakan?

Rute itu jauh lebih berat dibanding perjalanan bersama komunitas jip, seminggu sebelumnya. Jika saya sebagai penumpang mobil bisa berleha-leha mengamati hijaunya pegunungan, kali ini berganti harus mengendalikan motor dari jok kemudi. Kelak, saya harus mengusulkan kepada para pengendara roda empat itu untuk menjelajah melalui jalur yang sama.

Soal bertanya jalan, jangan pernah mempercayai perempuan. Mereka bakal memberikan jawaban lebih manusiawi ketimbang laki-laki.

"Iya, masih jauh sekali," ini jawaban versi laki-laki.

"Tidak kok. Sudah dekat," ini jawaban versi perempuan, benar-benar lebih pakai perasaan.

Kesimpulannya, bertanyalah pada laki-laki. Jawabannya lebih realistis dan tak membuat kita berharap berlebihan.

*Catatan: kesimpulan itu tidak berlaku jika berjumpa gadis desa dengan senyum yang manis.

Entah berapa lama saya menyusur jalan-jalan tanah dan berkerikil sebelum memasuki gerbang kawasan Desa Latimojong. Perjalanan yang sangat-teramat jauh. Rasa lelah langsung luluh jika berjumpa dengan tujuan yang sejak awal dipancang di depan kepala. Selelah-lelahnya perjalanan, betapa mendamaikannya bertemu dengan tujuan perjalanan itu sendiri.

Meski tanpa sinyal handphone, saya langsung bisa menjumpai keramaian di dalam dusun itu. Anak-anak dikumpulkan dalam satu lapangan. Suara-suara dikeraskan. Anak- muda ambil bagian. Permainan dimulai dengan aba-aba.

Saya duduk saja mengamati sedikit kegembiraan masa kanak-kanak itu. Seolah-olah melemparkan kami di masa silam.

JELAJAH - ANGINANGIN
Klik atau geser kanan untuk gambar lainnya.

Kami, orang dewasa, pernah seceria itu. Tak memikirkan bagaimana masa depan. Cita-cita masih sebatas polisi, pilot, guru, dokter, atau tentara. Mereka juga tak tak pernah pusing soal hidup. Yang ada, kami hanya ingin bermain dan tertawa. Sesederhana cara kami mengenali orang-orang baru.

Sayangnya, kedewasaan memaksa kami untuk berjalan lebih realistis. Terkadang, berlaku sesuatu yang justru menyakiti diri sendiri. Seolah-olah, tak ada sesuatu yang berjalan sesederhana masa kanak-kanak dahulu. Segalanya harus punya alasan.

Anak-anak memang selalu menjadi penyambung tawa bagi kami, orang dewasa. Barangkali, itu pula sebabnya kami harus menyayangi anak-anak. Memupuk harapan bagi mereka yang menjalani masa kecil di daerah terpencil. Setidaknya, biarkan mereka tahu, ada orang-orang di luar sana yang masih peduli tentang keberadaan impian yang dibungkus dari pekatnya kabut pegunungan.

Berbagai kelompok atau komunitas dipersatukan oleh keinginan menghadirkan kebahagiaan bagi anak-anak pelosok. Saya mengenal beberapa orang diantaranya berasal dari komunitas yang berbeda. Pemikiran yang berbeda. Kebiasaan yang tak sama. Namun bersatu dalam tekad yang sama untuk menebar kebahagiaan.

"Dusun Angin-angin punya lebih banyak anak dan jalan yang menantang. Tetapi Dusun Nating juga punya cerita tersendiri tentang anak-anaknya yang semangat mengejar pendidikan," kata teman, yang juga seorang relawan.

Dalam waktu dekat, saya nampaknya harus menyambangi dusun Nating. Dusun itu memang sudah termasuk dalam wishlist selama berada di daerah ini. Tak peduli jika harus sendiri lagi dalam menyusur jalan-jalan desa. Toh, perjalanan-perjalanan itu yang membuat hidup lebih berwarna.

Kami tak bisa berlama-lama di tempat itu. Hari libur lebih cepat berlalu. Sinar matahari semakin naik ke ubun-ubun. Masing-masing harus kembali ke dunia yang padat, esok hari. Berharap saja bahwa anak-anak itu masih akan mengenang kami, kelak.

Bahkan untuk pulang pun, kami harus bersahabat dengan medan berat. (Imam Rahmanto)

***

Saya harus mengakui, hidup jauh dari perkotaan memang tak selalu mudah. Keadaan juga tak selalu menyejahterakan kehidupan kami. Apa yang kami hasilkan biasanya jauh dari harapan.

Akan tetapi, kami seharusnya bersyukur. Tuhan Maha Adil dengan segala skenario-Nya.

Hidup di pedesaan jauh lebih melegakan dan mengundang kebahagiaan. Saya diajarkan untuk lebih banyak bersyukur. Sungguh, kami tertular oleh rona-rona kebahagiaan bagi yang tumbuh di pedesaan. Lebih banyak memandang gunung dan langit, juga membuat kita sadar: manusia tak berarti apa-apa dengan segala keagungan Tuhan.

Sebenar-benarnya hidup, juga dirasai masyarakat desa. Mereka orang-orang yang bahagia dengan cara sederhana. Anak-anak belum mengenal bagaimana gemerlap dunia maya. Perhatian mereka masih sebatas membantu orang tua ke kebun atau mengambil bagian atas cita-cita mereka yang telanjur mainstream.

"Tahu namanya facebook?" saya iseng bertanya pada seorang anak, Gunawan, yang mengantarkan ke atas puncak Tirowali. Dia hanya menggeleng. Bagaimana caranya tahu sosmed, kalau sinyal telepon saja masih payah.

"Saya mau jadi polisi," ujar Gunawan.

"Kenapa mesti polisi? Ndak mau yang lainnya, seperti pengusaha, fotografer, atau wartawan seperti saya? Banyak uangnya juga kok," tawar saya. Meskipun saya sadar, telah menyisipkan separuh kebohongan.

Ia hanya menggeleng lemah diantara langkah kami menuruni puncak Tirowali. Ia yang berada di belakang saya masih kelihatan berpikir.

"Atau itumo yang bawa-bawa pesawat terbang.....," jawabnya lagi, ragu-ragu.

"...Pilot, barangkali?" sambung saya, membenarkan.

"Iya,"

"Kalau begitu, belajar yang rajin. Jadilah apa yang kamu mau," ujar saya, dalam hati.

Kelak, anak-anak akan berpikir bahwa dunia dan seisinya ternyata masih lebih luas dibanding bayangan mereka. Sekadar cita-cita masa kecil juga punya titik baliknya di masa yang akan datang. Mereka harus siap dengan segudang bekal kenangan bahagia dari kampung halamannya yang begitu indah.


Di atas bukit atau gunung Tirowali, menghela napas dan tenaga. (Imam Rahmanto)


--Imam Rahmanto--

Minggu, 20 Agustus 2017

Meraung-raung

Agustus 20, 2017
Maaf, ini bukan soal tangis yang meraung-raung karena ditinggalkan orang-orang terkasih. Tulisan ini justru tentang mesin yang meraung-raung karena kebahagiaan membelah gunung.

***

(Foto: Imam Rahmanto)

"Brrrmm!! Brummmmm!!!" raungan mesin tak pernah lepas dari perjalanan menanjak kami. Para driver tetap fokus di balik kemudinya. Sementara para penumpang bebas melongokkan kepala dan menikmati sajian alam dari atas Kecamatan Bungin.

Baru-baru ini, saya diajak teman-teman dari komunitas jip untuk berpetualang. Perjalanan itu hanya sekadar touring dan unjuk gigi sebagai komunitas baru. Yah, mereka baru memantapkan diri berjejaring dalam komunitas. Belum genap dua minggu.

"Mau ikut?"

Tak butuh waktu lama untuk memastikan hati saya agar ikut menjelajah bersama para pengemudi "mobil monster" itu. Bagaimana tidak, saya sudah teramat lama memendam rindu dengan petualangan melihat alam hijau. Melambai diantara belaian udara yang masih segar. Pun, hawa udara itu belum terjajah rangkaian alur sinyal telekomunikasi. 

Ajakan itu sekaligus sinyal teman-teman baru untuk saya. Usia kami mengenal satu sama lain sebaya dengan usia komunitas itu. Duduk-duduk di kafe, berbagi tawaran, yang berujung dengan menyulut salah satu sumbu "kompor" di kepala para pengendara jip itu. Deal. 

Saya tak peduli dengan kesendirian menjalani (liputan) perjalanan dengan orang-orang baru. Beberapa teman jurnalis lain punya kesibukan masing-masing, yang tentunya tak bisa dipaksa untuk ikut serta dalam rute. Lagipula, berdasarkan pengalaman tahun lalu, petualangan dengan pengemudi "mobil monster" tak pernah membuat saya menyesal. 

Hijaunya alam pegunungan memang tak pernah mengecewakan mata. (Imam Rahmanto)

Para petualang berangkat dengan "angkutan" masing-masing. Tak sedikit yang membawa istri dan anak-anaknya dalam perjalanan jauh itu. Barangkali, karena hanya berlabel "touring", perjalanan itu dianggap bukan hal yang ekstrem. Mobil-mobil hanya akan melalui jalanan beraspal, berbeton, berbatu, dan paling mentok pada lintasan tanah bergelombang.

Bisa dibilang, perjalanan sih menjadi lebih berwarna. Diantara deru mesin berkapasitas besar itu, ada tawa anak kecil dan celetuk riang para ibu. Nampaknya mereka juga menjadi "penyemangat" bagi lelakinya.

Sejujurnya, saya dibuat terkesima. Ternyata, berumah tangga itu bukan soal menyatukan dua hati saja. Melainkan bagaimana dua orang itu bisa saling melengkapi, dengan mendukung penuh hobi atau minat masing-masing individu. Yaelah, baperan. 

"Seandainya kita tidak bawa keluarga, barangkali bisa sedikit lebih keras. Bisa tancap lebih kuat. Sayangnya, penumpang kesayangan membuat kita sedikit lebih hati-hati karena pasti pikir mereka juga," ujar salah seorang teman offroader.

Tentu saja, perjalanan kami tak pernah bebas dari kendala. Jalanan menanjak justru membuat beberapa mobil mandek. Sebagian besar karena kendaraannya hanya berspesifikasi penggerak roda 4x2. Sementara kendaraan four wheel drive (4WD) atau 4x4 justru melaju lancar melintasi tanjakan-tanjakan mulus membelah pegunungan.

Jangan heran melihat mobil-mobil itu harus ditarik dengan bantuan kendaraan yang lebih unggul. Sesekali, pengemudi lainnya harus turun mendorong mobil yang tak mau menanjak. Anak-anak kecil tak ingin ketinggalan merasakan dinginnya udara pegunungan. 

Sampai-sampai ada yang harus ditarik kekuatan manusia. (Imam Rahmanto)

Mesin yang berhenti meraung-raung juga memaksa rombongan kami harus berhenti. Wajar, perjalanan perdana rombongan komunitas ini hanya bermodalkan tekad masing-masing anggota. Kesiapan mobil tak pernah jadi prioritas bagi petualang. Sungguh berbeda dengan event-event resmi. Bahkan, saya pernah menyaksikan langsung bagaimana ketatnya scrutineering setiap unit mobil 4WD sebelum mengikuti adventure resmi di Makassar.  

"Yah, kita sempat mau seleksi mobil-mobil yang bisa ikut sih. Tapi karena mereka ngotot mau ikut, tentu kita harus hargai semangatnya," ungkap salah satu offroader.

Dari perjalanan semacam itulah saya banyak belajar tentang arti kebersamaan. Seberat apa pun kendala yang mendera para pengendara, teman yang lain harus turun tangan. Tak ada teman yang pantas ditinggalkan untuk permasalahan di tengah perjalanan. Prinsipnya, berangkat sama-sama, pulangnya juga harus sama-sama. Tetiba saya teringat dengan perkataan salah satu tokoh anime.

"Ninja yang melanggar aturan memang sampah. Tetapi ninja yang meninggalkan temannya lebih rendah daripada sampah." --Uchiha Obito, Naruto Anime

Damai betul perjalanan semacam itu. Meski harus menghabiskan waktu hingga 12 jam lamanya di perjalanan, saya tak pernah merasa kapok. Asalkan tak ada tuntutan deadline diantara sinyal yang selalu timbul-tenggelam. Kendala-kendala di tengah perjalanan tak ada yang menyangka, bukan? Nikmatnya bisa dengan mengalihkan mata pada hijaunya sawah di sepanjang jalan. 

Kalau masih kurang, saya akan menghabiskan sedikit waktu dengan bermain bersama anak-anak. Entah seperti apa, saya selalu merasa dekat loh dengan para bocah. Efek jiwa-jiwa "kebapakan" yang belum menemukan celahnya. _ _"

Bonusnya, lintasan berlumpur menjadi kesenangan tersendiri bagi para pehobi jip itu. Sejak awal, mereka memang lebih senang jika kendaraannya belepotan lumpur dan terhuyung kesana-kemari lantaran bannya yang selip. Usaha meloloskan kendaraan yang tenggelam dalam lumpur justru menjadi olok-olokan dan bahan candaan bagi sesama pengendara jip. Sayang sekali, karena gelap gulita diantara belukar kebun, saya tak bisa mengabadikan momen berlumpur-lumpur itu.

Kami harus menikmati momen siang-malam itu. Tujuan kami sama: menikmati perjalanan di alam bebas. Ditutup dengan makan (tengah) malam di rumah salah seorang offroader di Maroangin, kami menyisipkan kenangan akan petualangan yang benar-benar mengundang pengalaman berharga. Toh, sinar wajah para "penjinak monster" juga sudah menunjukkan rasa puas. Sekaligus secara bersamaan menekan pedal "coba-lagi-lain-waktu".

***

Sungguh menyenangkan bisa menikmati setiap jengkal perjalanan semacam itu. Bagi saya, hal tersebut menjadi cerminan perjalanan hidup di dunia nyata. Sebagaimana perjalanan panjang selalu menawarkan banyak pengalaman. 

Tentang; tak egois terhadap perjalanan sendiri. Meluangkan waktu untuk orang lain. Menikmati waktu berkualitas bersama keluarga. Memperbanyak teman-teman baru dengan beraneka ragam pemikiran dan keahlian. Tanpa perlu diburu waktu, kita juga bisa menikmati setiap detail keindahan yang sering terlewat oleh mata. Barangkali, kita juga akan semakin intim dengan pemikiran, "Sudah sepantasnya kita selalu bersyukur."

Terlepas dari segala kendala yang mengadang perjalanan, kita pantas menertawakannya. Bersama kesulitan, selalu ada kemudahan (yang dimulai dengan menertawakan kesulitan itu sendiri). It seems difficult, but nothing impossible.

Senyumin aja. (Foto: Imam Rahmanto)


--Imam Rahmanto--

Selasa, 15 Agustus 2017

Jajal Puncak

Agustus 15, 2017
(Foto: Imam Rahmanto)
Saya baru selesai menuntaskan target bulan ini. Yah, sekadar target pribadi yang selalu beririsan dengan pekerjaan dan liputan. Apalagi, ada tanggungan yang mesti diselesaikan bulan depan. Saya harus memacu hingga batas kemampuan saya. Going to the extra miles.

Tak salah sih memancang target dalam-dalam untuk sebuah tujuan. Bahkan hanya sekadar tujuan "untuk mengakhiri sesuatu". Justru dengan target itu kita bisa terus berada pada jalur yang dinginkan. Meski konsekuensinya tentu bakal menguras tenaga dan lebih banyak waktu luang.

Seumpama berjalan diantara malam, kita dipaksa berlari agar cepat sampai di tujuan. Tanpa menoleh. Tak ada lagi kesempatan merabai desau angin. Bintang yang berkelap-kelip juga cenderung diabaikan. Berbagai macam keindahan lain hanya semacam kilasan dalam perjalanan tersebut.

Meski begitu, kita jadi selalu punya alasan untuk terus berjalan. Seperti kata film 5 Cm, seolah-olah ada cita-cita, impian, atau target yang menggantung berjarak 5 cm dari depan kening kita. Kalau terjatuh, kita jadi punya alasan untuk bangkit. Lelah? Tujuan itu tetap menggantung dalam imajinasi dan membuat kita mengabaikan lelah itu sendiri.

Saya akan memulai perjalanan menaklukkan Gunung Latimojong, bulan depan. Tentu tujuannya agar sampai di puncaknya yang berkisar 3478 mdpl. Akan tetapi, bagi saya, bagian itu hanya sidekick-nya. Karena kebutuhan utama saya menaklukkan Latimojong untuk mengumpulkan beberapa bahan liputan. Yah, anggap saja 'sambil menyelam minum air'.

Sepanjang saya lahir dan dibesarkan di Enrekang, nama Latimojong hanya selalu melintas. Tak ada kesempatan bisa menikmati keindahan dan ketinggiannya. Kelak, saya juga akan menyesali jika tak lagi ditugaskan di tempat ini sementara belum menuntaskan petualangan di puncaknya sama sekali.

Penempatan di Enrekang ini menjadi kesempatan saya untuk mengajukan usulan liputan ke gunung tertinggi Sulawesi tersebut. Beberapa tawaran saya ajukan agar menarik hati para redaktur di kantor. Beruntung, momen pengajuan tersebut bertepatan dengan tulisan saya yang didapuk sebagai best feature di induk media nasional kami. Barangkali itu menjadi salah satu pertimbangan mengapa kantor langsung berani mengucurkan dana.

Keinginan itu nyatanya membawa saya pada banyak kesempatan mengenal orang baru. Meskipun ini semacam "misi rahasia", namun beberapa orang menawarkan diri untuk ikut dalam tim ekspedisi. Sebagian besar tertarik karena belum pernah menaklukkan Latimojong.

"Seumur-umur ada di Enrekang, apa kita rela selalu dilangkahi pendatang dalam mencapai puncak Rante Mario?" Lecutan semacam ini yang membuat saya meneguhkan diri untuk mempelopori ekspedisi bersama kawan-kawan itu.

"Saya juga mau supaya nanti bisa menceritakannya kepada anak saya kelak," ungkap salah seorang pengusaha.

Ia merupakan kenalan dari kawan saya, Rahim. Meski ragu-ragu dengan tubuh tambunnya, ia mengukuhkan tekad agar bisa bergabung dengan tim kami. Sebenarnya, keinginan mengibarkan bendera produk usahanya juga terlintas dalam rencana.

Kami berdua punya tekad yang sama, meski berbeda kepentingan. Hanya saja, tujuan dasarnya tetap sama; menaklukkan Gunung Latimojong. Diantara kami, hanya tiga orang saja yang benar-benar berpengalaman naik-turun gunung di pedalaman Baraka itu.

"Kita perginya ndak usah banyak-banyak. Sepuluhan cukup, dengan dua tenda saja," ujar Rahim.

Momen Agustusan sudah terlalu banyak dipilih oleh pendaki-pendaki lokal maupun luar Sulawesi. Kegiatan mendaki tentu menjadi tak istimewa karena sesak para pelancong. Kami tak bisa lebih teang dalam mencapai target dengan beberapa agenda yang terkait liputan saya.

Kami sudah menyusun jadwal keberangkatan. Merinci beberapa perlengkapan yang mesti dibawa. Berbagai cerita sudah meluncur dari mulut ke mulut. Video-video dari jejaring maya semakin mengukuhkan tekad kami.

"Ada teman dari komunitas Jip juga katanya mau ikut mengantar. Tapi tidak naik gunung. Mereka sama komunitasnya cuma antar sampai di Karangan," cetus Rahim beberapa hari kemudian, saat kami bertemu kembali di kafenya.

Lantas, bagaimana dengan motor? Rencana awal kami hanya bermodalkan kendaraan roda dua agar lebih santai dan bisa menikmati pemandangan di sekeliling lembah menuju Karangan. Ohiya, Karangann menjadi salah satu dusun yang mengawali pendakian menuju Pos 1.

"Gampang. Kalau kita sudah turun, nanti saya telepon teman disana yang bisa mengantarkan kembali pakai mobil," sarannya lagi. Bagus. Beruntunglah kami yang mengajaknya sebagai guide. 

Petualangan baru saja dimulai. Tujuannya adalah puncak. Bukan untuk menaklukkan alam. Melainkan hanya berusaha bersahabat dengan alam. Agar kelak tak ada penyesalan bermukim di daerah ini tanpa merasai nikmatnya berselaras dengan alam. Ehem...sayang pula kalau kamera agak-anyar tak dijajal di alam liar, kan?


--Imam Rahamnto--

Rabu, 09 Agustus 2017

Seragam Puasa

Agustus 09, 2017

sambungan dari Anak-anak yang Bertahan


Saya benar-benar tak menyangka, lokasi yang bakal ditunjukkan Maidil sangat berjauhan dengan desa. Rumah salah satu tokoh masyarakat itu juga ternyata berada tepat di pinggir jalan poros. Lah? 

Ternyata, dari keterangan tokoh masyarakat itu, ia telah lama pindah semenjak tak lagi menjabat sebagai Kepala Lembang. Meski begitu, ia masih aktif mengawal penduduk muslim disana. Hanya karena jabatannya kini beralih sebagai Camat, maka ia harus berdomisili di luar desa. 

Kami menghabiskan cukup banyak waktu berbincang di rumahnya. Seandainya Maidil tak begitu gelisah menunggui saya, barangkali saya masih akan tinggal lebih lama. Kebiasaan pewarta sih. Dan lagi, saya baru ingat, anak itu juga masih harus mengaji bersama teman-temannya yang lain sebelum berbuka puasa.

***

Anak-anak yang mengaji demi memperkuat keyakinannya di Lembang Marinding. (Imam Rahmanto)

Kesederhanaan warga muslim di Lembang Marinding membuat saya takjub. Orang-orang bisa tersenyum dan berbahagia dengan kesederhanaan itu. Mereka juga cukup ramah menyambut saya, yang barangkali baru terlihat hadir di masjid tersebut. Meski tak ada ucapan selamat datang, senyum dan tatapan asingnya sudah menunjukkan bagaimana mereka memperlakukan saya.

Saya seolah kembali menepi dari hiruk-pikuk kesibukan. Tanpa sinyal telepon genggam, kehidupan begitu sunyi di desa ini. Sungguh menenangkan seandainya bisa meluangkan waktu membaca buku sembari memandangi luasnya hamparan sawah sejauh perspektif mata.

Nuansa "orang asing" cukup melekat pada saya. Bagaimana tidak, saya menghabiskan waktu di dalam masjid mengobrol dengan salah satu ustaz. Imam masjid mengarahkan saya padanya untuk menggali informasi terkait muslim Marinding.

Percakapan saya dengan imam masjid - yang belakangan saya tahu sebagai kakek Maidil - agak tak nyambung. Sang kakek ini lebih paham berbahasa daerah Toraja. Beruntung, bahasa itu masih berkerabat karib dengan Bahasa Duri yang masih banyak hinggap di kepala saya.

Saya menghabiskan beberapa menit sembari berbincang dengan sang ustaz. Anak-anak yang mengaji sesekali mencuri pandang pada kami berdua. Khususnya kepada orang asing seperti saya, yang sesekali menjepretkan kamera gawai kepada mereka. Saya sempat ikut bergabung dengan mereka yang membentuk lingkaran kecil di tengah masjid.

"Yah, beginilah anak-anak kalau sore. Sambil menunggu buka puasa, mereka mengaji. Karena buka puasanya itu juga yang bikin mereka mau ke masjid mengaji," ungkap ustaz.  

Berbeda dengan buka puasa umumnya, ada hal berbeda yang saya jumpai dari kebiasaan orang Marinding mengakhiri puasanya. Jelang berbuka, perempuan-perempuan akan menyiapkan sajian di bagian belakang. Sesekali, mereka juga memperhatikan anak-anaknya yang sementara mengaji.

Momen berbuka tersebut dibagi menjadi dua kali. Pertama, orang-orang muslim yang hanya berjumlah puluhan itu berjejer rapi saling berhadap-hadapan. Mereka mendendangkan shalawat tarhim bersama-sama. Bukan dari pengeras suara.

Kami yang menanti berbuka puasa. Saya terpaksa bertingkah aneh demi mengambil foto ini. (Imam Rahmanto)

Waktu berbuka pun tidak diukur dari azan yang berkumandang dan bersahut-sahutan. Jam di dinding dan jadwal imsakiyah justru jadi pemandu utama masyarakat di Marinding. Apalagi muslim bukan agama dominan di desa tersebut. Tak ada perbedaan di hari-hari biasa dengan bulan Ramadan.

Sajian pertama itu hanya berupa kue atau roti yang diangsurkan di masing-masing piring yang berjejer. Tak lupa, minumannya dari kopi hitam atau teh manis. Semua terasa begitu sederhana, diwarnai tingkah-tingkah lucu para bocah.

Saat azan sudah berkumandang, oleh salah satu warga, orang-orang segera berbenah. Mereka langsung keluar mengambil air wudhu. Pun, saya hanya bisa mengikuti kebiasaan mereka. Kami bergantian wudhu dari kolam besar yang hanya bisa dipakai untuk dua orang. Tak ada keran. Hanya jeriken yang dilubangi sisinya.

Saya agak kikuk juga sebagai orang baru. Sesekali hanya menyunggingkan senyum-senyum kaku.

Waktu berbuka yang kedua saat kami telah selesai menunaikan salat magrib. Sembari menanti persiapan berbuka yang kedua, warga mengobrol satu sama lain. Sebagian anak melanjutkan mengajinya, didampingi beberapa orang dewasa.

Barulah kami melanjutkan santapan berat setelah mendapati panggilan dari ibu-ibu. Sang ustaz pun mengajak saya. Meskipun hanya nasi bungkus, anak-anak begitu lahap dan menikmatinya.

"Kami sekaligus makan sama-sama di masjid, ya untuk memperkuat kekeluargaan. Anak-anak juga tinggal lama-lama sampai tarawih ya karena memang tertarik sama makanan," penjelasan ustaz terngiang-ngiang di kepala saya.

Saya mengikuti semua agenda umum dari momen-momen ibadah puasa di masjid kecil itu. Nyaris saja, saya ditunjuk sebagai penceramah malam itu. Saya menolak. Saya tak tahu jika agenda tarawih masjid biasanya tak disusun seperti formalitas pada umumnya. Alhasil, salah seorang yang sudah terbiasa berceramah ditunjuk ustaz untuk menyampaikan ceramah.

Hingga usai tarawih, saya jadi bingung hendak menginap dimana. Apalagi masjid ini ternyata tak pernah menjadi tempat menginap warga lainnya.

Ide saya tiba-tiba terlintas kepada ustaz tadi. Masih ragu-ragu (dan agak malu), saya mendekatinya di sela-sela hendak pulang ke rumahnya. "Ustaz, apa saya boleh menginap di rumah ta? Hanya untuk semalam."

Beruntung, warga desa tak pernah kehilangan rasa bersahabatnya kepada siapa saja. Untuk malam ini, saya akan menginap dan betul-betul menjiwai bagaimana mereka merasai sahur bersama keluarga muslim kecil disini.


........bersambung


--Imam Rahmanto--