Minggu, 03 Desember 2017

Pelukan

Desember 03, 2017
Puncak Rante Mario begini, kapan lagi ya? (Imam Rahmanto)
"Kalau saya di Enrekang, ajak ke Latimojong nah," komentar seorang teman, yang berlanjut dalam pesan pribadi.

Teman lelaki saya itu baru saja mengomentari sebuah unggahan di Instagram, yang sebenarnya tak berkaitan dengan sesuatu yang dikomentarinya itu. Barangkali, hanya karena merasa momennya, setidaknya mengingatkan saya yang tidak begitu aktif dijumpai di dunia maya. 

Saya menganggap ajakan itu sebagai isyarat, bahwa sudah saatnya saya harus kembali mengepak ransel, menikmati alam. Meskipun saya ragu bisa menjadi penunjuk jalan baginya, setidaknya ada kenalan di sekitar pendakian itu kok. Momen dadakan semacam itu kerap kali lebih bernilai pahala dibanding hal-hal terencana dan sistematis.

Banyak hal yang kemudian saya pelajari sepulang dari proses pendakian itu. Saya dipaksa untuk melengkapi atribut travelling atau perjalanan yang bersifat pribadi atau individual. Sepulang dari gunung, langsung mengencangkan tekad untuk melengkapinya satu demi satu. Kalau sebelumnya saya menginvestasikan gaji bulanan dengan aroma buku, maka berbelok sedikit dengan investasi perlengkapan travelling. Lagipula, nyari toko buku di Enrekang teramat-sangat-amat-susah-sekali-banget.

"Jadi, ceritanya ini ketagihanko mau naik gunung terus?"

Meski bukan pecinta kegiatan mendaki, saya tetap menganggapnya hal yang perlu. Terkadang, kita butuh tempat-tempat maha luas untuk menghilangkan kejenuhan. Sementara alam sudah menyediakan banyak tempat untuk bisa merenung atau berkontemplasi. Siapa yang bisa menyangka saya akan lebih sering menjelajahi tempat-tempat serupa, meski di daerah yang berbeda?

Bukan naik gunungnya yang membuat saya begitu tertarik. Sebaliknya, saya justru menikmati alam yang begitu memukau dalam proses perjalanannya. Pemandangan baru selalu menawarkan sensasi baru. 

Barangkali, kehidupan saya akan diwarnai dengan banyak perjalanan. Entah bagaimana caranya, seolah ada yang membisiki untuk terus bergerak. Ayo, ayo, berjalanlah. Kuy! Bisikan-bisikan itu menjelma dalam bentuk paling dramatis yang bisa saya bayangkan. Bagi manusia, itu sudah terencana. Namun jauh di balik sepengetahuan akal kita, hal semacam itu semata-mata merupakan skenario yang dijalankan semesta.

Serius. Beberapa ajakan berpetualang sempat mendarat dalam lini harian saya. Beberapa hari yang lalu, ada tim pendakian difabel yang hendak menapaki puncak Gunung Sesean, di kabupaten tetangga. Saya cukup familiar dengan puncak itu. Beberapa anggota tim juga merupakan kenalan saya. Sayangnya, saya mengabaikan karena berada di luar wilayah "hukum" tugas peliputan sehari-hari.

"Imam, kau buatkan naskahnya ya," pesan redaktur keesokan harinya. 

Lantaran teman (senior) yang berada di daerah bersangkutan sedang keluar daerah. Lah, kalau tahu begitu, saya lebih baik ikut bersama rombongan itu sejak awal. Penyesalan yang mendalam. #jlebb

Kepolosan seperti ini masih cukup meneduhkan kepala diantara terik tugas-tugas menembus jarak. (Imam Rahmanto)

Kukuhnya pertahanan saya untuk tetap berada di Enrekang juga dilatari oleh keinginan untuk menjelajahi lebih banyak tempat keren. Saya sudah terlalu blenger dengan suasana perkotaan yang hanya bisa memamerkan kebahagiaan-kebahagiaan semu. 

"Yah, teman-teman saya juga lebih banyak bertanya dengan kehidupan saya disini. Mereka kabanyakan iri dengan aktivitas saya, yang kelihatan seolah banyak jalan," cerita seorang teman, yang pernah 18 tahun menghabiskan hidupnya di Jakarta.

Baginya, hidup di perkampungan jauh menawarkan kedamaian. Tak ada kepura-puraan. Meski tak dilumuri banyak kemewahan, ia masih bisa hidup dengan kepuasan. Masih bisa mengangkat tripod dan lensa kameranya ke tempat-tempat tinggi. Masih bisa tertawa-tawa menyiasati masalah percetakan sablonnya yang biasa ketiban listrik padam dadakan. Pun, kemewahan masih bisa dipesan sekali-dua kali melalui jaringan belanja online. Saya juga sudah terpapar "virus" belanja modern semacam itu.

Saya beruntung berkenalan dengan teman-teman yang suka-jalan dan photography enthusiast. Kadangkala, ajakan juga mendarat di pesan-pesan gawai. Tak jarang pula, mereka berpetualang hanya dengan mengajak anggota komunitasnya. 

Saya sendiri berpikir, ada masanya kejenuhan bakal menghampiri kehidupan disini. Sekuat-kuatnya saya bertahan agar tidak beranjak, perasaan itu akan tiba. Kejenuhan bukan hal yang bisa ditolak mentah-mentah. Setiap orang punya titik jenuhnya. Bahkan untuk ukuran orang-orang yang selalu punya waktu luang, tak melakukan apa-apa, bisa juga dihinggapi rasa bosan-tak-melakukan-apa-apa.  

Akan tetapi, sejenuh-jenuhnya kehidupan manusia, alam selalu punya cara terbaik untuk menghadiahkan pelukan. Kehidupan terakhir manusia, juga, semata-mata jatuh ke haribaan alam.

Setidaknya, saya mesti bersiap-siap saja dengan segala kemungkinan (kejenuhan) itu. Tak perlu kecewa dengan risiko terburuk. "Jangan karena takut gelombang, maka kamu takut berlayar. Jangan karena takut patah hati, kamu takut jatuh hati. Dan jangan karena takut hujan, maka kamu takut cuci motor." #ladalah

***

Beberapa hari ini, saya sedang  merancang perjalanan ke Makassar. Banyak janji temu yang mesti ditunaikan. Sayangnya, cuaca kota yang sedang tak bersahabat membuat saya tak ingin begitu tergesa-gesa. Hujan kian menyiratkan lebih banyak genangan di kota ribuan beton itu. Frasa genangan selalu karib dengan kenangan.

Sebenarnya beberapa kenangan memang patut disambangi. Mengutip status teman dari jauh, Apa persamaan mangga dan rindu? Bila sudah matang, segeralah dipanen. 

Jangan biarkan perasaan rindu terlalu lama dipendam. Rindu jalan. Rindu teman. Rindu keramaian. Padahal, sebenar-benarnya rindu saya berputar pada aroma buku-buku baru dari Gramed**. Hahaha...menghabiskan "nafsu" buku. Oiya, bisa sekalian nengok toko-toko perlengkapan outdoor sih.


--Imam Rahmanto--  

Minggu, 26 November 2017

Mandek

November 26, 2017
Hujan baru saja berhenti. Beberapa jam yang lalu, mengguyur tanpa aba-aba. Saya  tak bisa memastikan langit mendung karena tertutup gulita. Kecuali, tak ada gemerlap bintang menjadi penandanya. Toh, samar-samar cahaya sabit masih setia bersinar. Beberapa hari ke depan katanya bakal ada purnama supermoon.

Seperti biasa, senyap menyergap diantara bangku-bangku warkop tongkrongan saya. Meskipun di kosan sudah tersedia Moka Pot untuk mengolah kopi jadi espresso, saya tetap rutin menyesap kopi dari tempat ini. Barangkali sekadar melepas perbincangan ringan dengan pemilik warkop atau teman tongkrongan rutin. Atau hanya menatapi layar notebook yang makin membuat mata saya minus.

Salah satu alat coffee-maker itu baru saja tiba beberapa hari yang lalu di kamar saya. Sebagaimana keinginan untuk mengolah kopi (tanpa instan) secara manual. Sayangnya, masih kurang grinder kopi. Terpaksa, saya memesan kopi setelah digrinder langsung. Tenang saja, saya juga akan melengkapi kosan dengan grinder kopi itu.

Beruntungnya lagi, seorang teman dari Jawa juga berniat mengirimkan biji kopi roasting-nya untuk saya. Malah, biji kopi dari Papua. Katanya sih, coffee-bean itu dari sisa pameran timnya di Jakarta. Lumayan kan buat eksperimen seduhan kopi. 

"Tapi situ yang tanggung ongkir ya," todong teman saya. Pastilah.

Saya memang butuh sesuatu yang baru untuk mengatasi kejenuhan dalam beberapa hari ini. Bahkan, urusan kirim-mengirim berita, saya jadi agak ogah-ogahan atau seadanya. Saya tidak begitu memaksakan diri lagi dalam hal pekerjaan. Bagi saya, bekerja ya secukupnya saja. Mau memaksakan diri juga tidak begitu bermanfaat karena keterbatasan "kuota" atau jatah berita bagi anak-anak daerah. Saya justru harus mengakalinya dari medium lain.

Semenjak "badai" kemarin, saya belum merasakan perubahan berarti di tubuh perusahaan media kami. Saya justru semakin melihat sesuatu yang memang dicemaskan petinggi-petinggi yang hengkang. Keberpihakannya semakin terasa sih. Barangkali hanya karena saya jauh berada di daerah, maka nuansanya tidak terasa. 

Itulah kerennya berada di daerah. Gonjang-ganjing di kota hanya sebatas kabar-kabar yang kabur. Seperti sinyal telepon yang juga agak lemah di perkampungan, informasinya juga tak begitu jelas. Tetapi, itu justru membuat kepala saya terasa tenang dan ringan.

Beberapa hari ini, saya sebenarnya ingin mencari tempat-tempat untuk berkemah atau menjelajah alam. Sayang sekali kalau Sleeping Bag (SB) anyar saya tergeletak saja di dalam kamar. Apalah daya, tak ada ajakan. Atau sebenarnya, saya saja yang tak ada inisiatif. Terlalu banyak pilihan mau kemana. Akhirnya, tergeletak dan tak ada yang terealisasi. Hahaha.....

Menggantikan perjalanan outdoor dengan membaca buku juga masih itu-itu saja. Toh, bacaan saya belum kelar-kelar. Selalu saja ada yang menyela atau mengganggu, termasuk keinginan membuka-buka media sosial. Ckckck... wajar kalau target bacaan tahun ini kembali mandek. 

Ini semua nyambung-nyambung saja ya? Iya. Gitu doang. 

Yang namanya Moka Pot itu tuh. (Imam Rahmanto)


--Imam Rahmanto--

Sabtu, 18 November 2017

Bayang-bayang di Kepala

November 18, 2017
"Piye kabare, Pak?"

Saya mengawali perbincangan malam itu dengan pertanyaan basa-basi. Tak biasanya saya yang menelepon langsung ke orang tua. Mimpi malam sebelumnya benar-benar membuat pikiran saya agak was-was. Sedikitnya disusupi pula rasa takut.

Mimpi itu tak begitu menakutkan secara realitas. Hanya saja, berbagai tafsir mimpi yang saya jelajahi di Google menyebutkan itu sebagai hal yang sangat menakutkan. Primbon Jawa juga berkata hal yang sama. Gigi tanggal atau copot dalam adegan berdurasi relatif itu sama sekali tak bisa dikatakan bunga tidur. Tanpa sebab, dan tanpa ada adegan seperti yang selalu dibintangi Jackie Chan. 

Ditambah lagi, saya terbiasa tidur tanpa ekspektasi atau drama mimpi apa pun. Bangun tidur, plong, hanya sedikit kesiangan. Namun, entah bagaimana, mimpi itu baru saja muncul dan memaksa saya harus menekan tombol panggilan untuk adik saya, sebelum melanjutkan ke Bapak.

Saya awalnya menyangka, adegan packing dadakan - meninggalkan pekerjaan - menggeser prioritas di kepala, akan terjadi pada waktu itu. 

(Foto: Imam Rahmanto)

***

Belum genap setahun semenjak saya terbang sendirian ke kampung halaman keluarga. Bukan urusan besar, lantaran hanya sekadar menyambangi acara pernikahan saudara sepupu. Hanya saja, saya mesti memangkas jarak Enrekang - Lamongan demi meneguhkan kepercayaan bapak. Bagi bapak, anak sulungnya ini masih belum bisa dipercaya menyediakan prioritas keluarga di segala kerumitan kepala. Apalagi insiden kecil pernah membuat kami "berseteru".

Meski begitu, saya belajar banyak hal dari kejadian masa lampau itu. Bahwa keluarga selalu punya tempat khusus dalam kehidupan siapapun. Sekecil-kecilnya permintaan mereka, saya harus menyanggupi semampu-mampunya. Hal itu seiring peran saya yang semakin bertambah. Bapak sudah lama mengidap penyakit, yang memaksanya hanya bisa berbaring meski masih bisa jelas tertawa dan bercanda.

Saya belajar, pekerjaan dan keluarga tentu menjadi hal yang harus tetap terhubung. Hal itu pula yang memaksa saya harus tetap menghubungkan keduanya dengan berbagai jenis penerbangan lintas pulau. 

Saya pernah menjajal perjalanan laut karena biaya yang lebih murah. Hanya saja, waktu untuk bertemu keluarga jauh lebih lambat. Perjalanan melintas pulau tak ada harganya jika dibandingkan momen menatap senyum sumringah bapak dan mamak. Selain itu, saya sudah mulai harus membiasakan diri melakukan perjalanan udara, kelak.

Toh, teknologi sudah menawarkan banyak kemudahan bagi siapa saja yang ingin mencoba. Traveloka ternyata menjadi "kelinci percobaan" pertama saya dalam membandingkan harga dan jadwal tiket pesawat. Saya bisa lebih mudah memilih jadwal dan jenis penerbangan terbaik versi saya. 

Seusang-usangnya hape, harus selalu standby dengan perjalanan kemanapun. (Imam Rahmanto)

Pengalaman terbang beberapa kali membuat saya lebih condong pada maskapai tertentu. Bahkan, saya juga baru paham bahwa tiket melonjak di waktu-waktu tertentu. Itulah gunanya mengecek jadwal penerbangan jauh hari sebelumnya. 

"Serius, sudah pesan tiket? Trus piye cara mbayar? Lewat apa?" tanya bapak, suatu ketika.

Belum genap seminggu putranya melepas rindu di rumah, sudah ujug-ujug ingin kembali lagi berkutat dengan pekerjaannya. Baik masa lowong maupun Idul Fitri tak pernah bisa habis dinikmati di kampung pinggiran Bengawan Solo itu. Maklum, waktu libur pekerja media memang sangat minim. Bahkan, kami harus mencuri-curi waktu demi mengakali cuti.

"Sudah. Kan, tadi aku dari ATM di Pasar Babat. Ngirime ya lewat transfer. Kalau tiket sekarang ndak mesti nyetak. Sudah ada di dalam hape," jawab saya seadanya, menyesuaikan pengetahuan bapak soal smartphone dan tetek-bengeknya.

"Jadi, berangkat jam berapa?" 

Saya cukup menggeser jari diantara menu sederhana yang sudah disediakan Traveloka. Tiket elektronik biasanya sudah dikirimkan hanya dalam rentang perjalanan saya dari pasar kota ke rumah. Segalanya sudah terangkum jadi satu. Bahkan, fitur untuk menjadwal ulang penerbangan sudah tersedia begitu apik. Memesan tiket tak perlu ribet, kan?

Nampaknya saya memang sangat sulit berpisah dengan aplikasi travelling itu. Saya sengaja menyisakannya diantara beberapa aplikasi lain yang memberatkan memori. Alasannya tentu karena saya selalu berpedoman pada aplikasi berlogo burung biru itu untuk urusan tiket penerbangan, kemana pun. Meski pada kenyataannya, history saya masih berputar antara Surabaya dan Makassar. 

Oleh karena itu, jikalau pun kemarin bakal ada skenario packing dadakan - meninggalkan pekerjaan - menggeser prioritas di kepala, saya sudah percaya diri terbang dengan satu-dua ketukan lewat aplikasi tersebut

***

"Seger waras kok, Im..." jawaban Bapak yang tegas terasa melegakan.

Ia juga sedikit bercerita tentang keadaan rumah. Berganti dengan sedikit kabar saya tentang pekerjaan. Meski bukan pekerjaan yang diingini Bapak, lambat laun ia sudah mulai memahami dan nrimo bahwa PNS bukan satu-satunya pekerjaan keren buat anaknya. Ia mengerti, anaknya lebih suka bertualang di luar ruangan kedap udara dan ber-AC.

"Sudahlah, rausah dipikir. Anggap saja sebagai bunga tidur. Yang penting berdoa saja supaya ndak ada apa-apa," pesan Bapak dari ujung telepon. Saya mengangguk pelan. 

Tempat dimana rindu akan selalu berlabuh. (Imam Rahmanto)

--Imam Rahmanto--

Sabtu, 11 November 2017

Melambat Sederhana

November 11, 2017

Udara berhembus begitu lembut. Matahari masih sementara dalam perjalanannya menuju senja. Pohon-pohon yang rindang, membayang ke atas permukaan jalan beraspal. Tak peduli debu-debu berebutan mengganggui angin.

Saya mengayuh pedal sepeda pelan saja. Semilir lembutnya semakin meneduhkan diantara pemandangan permukaan sungai. Hujan kemarin, membuat permukaannya tak bisa memantulkan lebih banyak bayangan. Hanya arusnya saja yang terus mengikis pinggiran.

Untuk pertama kalinya kembali, saya menikmati senja dengan menggowes sepeda. Barangkali sudah hampir setahun saya tidak menatap bebas kilasan sore dengan kegiatan ringan semacam ini. Terakhir kali, saya bersepeda di jalan-jalan kota Makassar. Tentu suasananya jauh berbeda dengan perkampungan yang lebih menawarkan aroma udara bebas polusi.

Seorang teman mengawalinya dengan ajakan di sela-sela waktu ngopi.

"Betulan? Ayo pale. Ada ji sepedaku juga di rumah. Sudah lama tidak olahraga begitu," ujarnya, "Adakah sepedamu?"

Saya menggeleng. Sebenarnya, sejak berada di Makassar, saya sudah lama mengidamkan memiliki sepeda untuk kegiatan-kegiatan santai berkeliling kota. Hanya saja, kesibukan menyita lebih banyak waktu dan perhatian.

"Gampang ji itu, Kak. Sudah lama mi saya minta (pinjam) sepedanya Pak Ulla kalau mau ka pakai. Dari kemarin ji sebenarnya dia bilang," jawab saya, memantapkan diri.

Seorang kenalan di salah satu dinas memang pernah menawarkan sepedanya untuk dipakai. Ketimbang sepedanya hanya tinggal di rumah dan berkarat. Hanya saja, saya baru punya waktu dan betul-betul bersemangat, beberapa hari yang lalu. Apalagi ada ajakan teman yang juga ingin menurunkan berat badannya. Barangkali lemak di sekitar perutnya jadi target prioritas.

Berbeda halnya dengan saya, yang hanya ingin menikmati suasana bersepeda. Saya tak perlu ribet menyiapkan banyak hal, sampai pada tataran perlengkapan ala berpakaian olahraga. Intinya, saya bersepeda.

Saya rindu menikmati waktu seperti itu. Seolah waktu melambat dengan begitu sistematis. Bersepeda bisa membawa kita pada pandangan yang lebih banyak. Bukan sekadar kilasan-kilasan asal lewat seperti yang dialami dalam kecepatan tinggi. Semakin lambat, hawa udara terasa semakin bersahabat.

Mata bisa lebih santai ke segala arah. Memandangi keadaan di sekitar lorong atau jalan-jalan kota. Bertemu lebih banyak orang. Membalas senyum dan sapaan ramah dari kenalan. Ditambah earphone di telinga, bersepeda semakin melankolis. Merasa damai bisa sesederhana itu.

Kok sendirian? Aduh, itu pertanyaan memancing deh. (Foto: Jufriadi)

***

Beberapa waktu lalu, pimpinan di Makassar bertanya tentang kondisi saya di Enrekang. Pertanyaannya juga secara halus meminta untuk saya kembali bertugas di Makassar, mengingat kondisi perusahaan yang sempat dihempas "badai". Sayangnya, saya masih belum bisa mengemas barang-barang. Saya lebih memilih bertahan agak lebih lama.

Sementara itu, buntut "badai" itu membuat beberapa teman saya ditarik dengan alasan memperkuat desk di perkotaan. Tawaran jadi redaktur tentu cukup menggiurkan. Saya mah apa atuh, masih betah jadi orang desa.

Jauh dari hiruk-pikuk perkotaan membuat saya lebih banyak berpikir. Huru-hara di kantor tidak begitu signifikan berpengaruh "aromanya" pada kami, yang berada ratusan kilometer jauhnya. Hanya sebatas informasi, yang dibungkus prasangka satu sama lain. Meski begitu, saya tak pernah ingin terlalu jauh menanggapinya. 

Di luar dari itu, saya masih tetap aktif menjalin hubungan dengan teman dan senior yang memilih pergi. Mereka sebenarnya masih belum menyerah mengajak saya menjadi salah satu bagiannya. Hanya saja, beberapa pertimbangan membuat saya masih kukuh untuk berada disini. 

"Kapan-kapan kalau saya di Makassar, nantilah kita ketemu ngobrol sambil ngopi-ngopi, Kak," ujar saya.

Mereka juga nampaknya paham bahwa, untuk saat ini, saya takk begitu tertarik kembali beradu kesibukan di tengah kota. Tawaran mereka juga sekaligus untuk saling bertanya kabar. Tak boleh ada kebencian diantara pilihan-pilihan yang dijalani.

Kehidupan di perkotaan itu ibarat mengendarai motor, yang melaju kencang tanpa permisi. Tujuan lebih cepat tercapai, apalagi dengan sedikit menarik gas. Sayang, kesibukan bercampur aduk. Meski dihujani denga berbagai fasilitas ala orang-orang kota, tetap saja ada nuansa kedamaian yang terenggut. Seolah-olah, kita hidup hanya untuk bekerja dan terus bekerja.

Untuk kali ini, saya lebih senang mengendarai sepeda. Iramanya memang lebih pelan dan menggambarkan kesederhanaan. Akan tetapi, saya lebih punya waktu untuk sekadar melemparkan senyum, sapaan, atau lambaian tangan ke arah orang-orang yang melintas dalam kehidupan saya. Saya lebih leluasa melalui jalan yang sempit. Tak perlu khawatir pula bakal kehabisan bahan bakar.

"Kenapa tidak mau lagi kembali?" tanya salah seorang teman.

Bukannya tak mau. Hanya saja, untuk saat ini, nampaknya saya belum mengukuhkan minat. Apalagi ada banyak hal yang belum saya tuntaskan di kabupaten kelahiran saya ini. Salah satu misi saya memuncaki Pegunungan Latimojong memang sudah terbayar lunas. Tetapi masih ada banyak keindahan lain lagi yang mesti ditelusuri dan tak bisa dijalani terburu-buru.

Barangkali, kelak, saya akan kembali ke kota kok. Karena siapa yang bisa menebak ke arah mana kita akan berlabuh dan berhenti? Selama pedal tetap digowes, roda berputar lancar, kehidupan akan terus berjalan, bukan?. []



--Imam Rahmanto--

Sabtu, 04 November 2017

Prahara

November 04, 2017

"Roger, capt. Roger," katanya, "Kapal kita sedang dihantam badai besar. Badai itu nampak sangat besar dan bergulung-gulung, capt,"

Sang kapten terdiam. Dalam hatinya, ia sempat berharap digulung saja bersama kapal kesayangannya. Apalagi, badai besar baru pertama kali mengadang kapal besarnya. Selama ini, tak ada ombak yang mampu menggores geladak kapalnya. Kini, badan kapal terombang-ambing nyaris terhempas. Beberapa menit lagi, barangkali, tubuh-butuh merekan akan ditemukan mengapung-apung di tengah lautan.

"Roger, capt. Apa yang harus kita lakukan sekarang?" kru kapal terlihat panik. Tali kekang dan layar sudah tercabik-cabik setengahnya. Retakan di lantai geladak.

Suara badai teramat bising. Kru kapal terlempar kesana-kemari. Letupan-letupan kecil bergantian menghabisi kapal. Petir menggelegar dari arah utara. Langit menunjukkan kemarahannya yang telah lama menguap di atas awan. 

Akan tetapi, jauh dalam dimensi yang berbeda, suara-suara itu menghilang ditelan sunyi. Senyap. Tak ada suara. Ombak hanya terlihat seperti slow-motion yang dikendalikan dari ujung remote tivi. Air mata mengucur tak tertahankan.


***

Saya tak tahu lagi bagaimana menggambarkan "kekacauan" yang sedang terjadi pada media tempat saya bernaung. Setelah lama berlayar, media besar itu akhirnya dihantam "ombak". Benar-benar memilukan. Kekacauan itu justru berasal dari dalam.

Beberapa orang memilih pergi. Akh, bisa dibilang, banyak orang. Tanpa ragu, mereka menanggalkan identitas sebagai pelaku media yang selama ini pernah disandangnya. Ditambah, mereka bukan orang-orang yang awam. Sebagian besar justru telah lama berkiprah dan membesarkan nama media itu selama belasan atau bahkan puluhan tahun.

Sebenarnya, saya tak heran. Hanya sedikit terkejut, ternyata bisa sebanyak itu yang memilih untuk meledakkan kekecewaannya.

"And no one's really sure who's lettin' go today, Walking away," [November Rain, Guns N Roses, song]

Apa yang pernah saya katakan pada teman, sepertinya benar-benar terjadi belakangan ini. Ketika kami masih jadi "anak baru", dua tahun silam. Kekhawatiran saya atas pimpinan tertinggi perusahaan media yang tak berasal dari latar belakang jurnalistik menguatkan hal itu. Toh, kepentingan pribadi bisnisnya lebih tinggi dibanding hitung-hitungan bawahannya yang sebagian besar merupakan pelaku jurnalistik.

"Seorang pemimpin yang baik seharusnya pernah merasakan sebagai apa yang dipimpinnya. Jika tidak, bagaimana cara ia memahami keinginan orang-orang yang dipimpinnya?" 

Gejala badai itu sebenarnya sudah kelihatan sejak kami masih baru. Sayangnya, pikiran kami sebagai wartawan baru tidak pernah mau memusingi urusan para petinggi redaksi itu. Selama kami bisa menjalani pekerjaan dengan baik, itu sudah cukup. Kepala kami sudah terlampau berat jika harus dijejali pertentangan antara petinggi-petinggi redaksi di meja rapatnya.

Mereka yang terbaik di bidangnya lantas pergi hanya dengan mengucap sepatah-dua patah kata di grup kantor. Menyisakan tanya bagi kami, wartawan yang masih seumur jagung. Menyisakan suntikan semangat dari mereka yang masih bertahan. Dari jauh, saya hanya bisa menduga-duga.

"Apa yang sebenarnya terjadi?"

(Imam Rahmanto)

***

Kepergian mereka memang tak bisa dihalang-halangi. Pun, saya hanya bisa manggut-manggut menatap kabar-kabar yang bagai bom waktu itu. Saya percaya, mereka sudah punya pertimbangan tersendiri untuk melepas "kenyamanan" yang selama ini mereka dapatkan.

Kita tidak bisa menghakimi orang-orang yang pergi sebagai orang yang tak ingin bertahan. Kadang kala, orang pergi karena memang ingin melakukan hal yang lebih baik. Mereka menganggap tak ada lagi ruang lebih baik jika harus tetap tinggal. Mereka tak sanggup melihat tempat yang disayanginya harus terus terluka. Cara mati seperti apa lagi yang lebih kejam dibanding penyiksaan dengan luka, sedikit demi sedikit?

Mungkin, kepergian itu sebagai cara untuk terus bertahan. Seberapa gigih idealisme yang ingin mereka pertahankan. Sudah saya katakan, kepentingan bisnis benar-benar menggerus idealisme dari dalam.

"Kalau mereka saja yang senior sekali dan sudah lama bersentuhan dengan media sudah tak tahan lagi dan memilih keluar, bagaimana dengan kita yang masih junior?" ucap seorang teman yang bertugas di daerah berbeda.

Apa yang mereka alami, sungguh jauh berbeda dibanding kami, yang lebih banyak berada di lapangan. Kebijakan kantor hanya serangkaian informasi dan perintah bagi kami. 

Penderitaan mereka, tentu jauh lebih pedih karena berhadapan langsung dengan kebijakan kantor. Saban hari, bertemu dalam ruang rapat dan pembahasan, yang barangkali membuat mata mereka berkaca-kaca. Bisa saja, cemoohan dirasakan langsung oleh mereka yang benar-benar pasang badan. Tentu saja, mereka jauh lebih merasakan bagaimana "sakit"nya. Saya menebaknya demikian.

Yah, kami hanya bisa menyimak perkembangan dari jauh. Bahkan, berjaga-jaga jika ada kemungkinan lain dari persoalan ini. Apalagi, tentu akan ada perubahan besar-besaran dari manajemen redaksi terkait prahara ini. 

"Apa kau juga akan berbuat hal yang sama?" tanya teman.

Sejujurnya, saya masih belum berpikir sejauh itu. Meski terkadang kekecewaan yang sama juga sempat saya rasakan, namun saya memilih untuk menjadi "penonton" sementara waktu. Beberapa kesempatan mesti dipertimbangkan matang-matang. Termasuk seberapa besar kemungkinan kami akan bertahan pada badai yang sama. 

Kenyataannya, saya memang tidak menyukai pimpinan perusahaan yang sama sekali tak punya latar belakang seperti kami, yang bersusah-payah menjalani tugas di lapangan. Ia tak pernah paham, sejauh mana menghargai jerih-payah kami yang berusaha melambungkan nama media yang sudah besar itu. Kehidupannya, bagi saya, terlihat benar-benar seperti anak-manja-yang-hanya-bisa-mewarisi-apa-yang-dimiliki-keluarganya. Memuakkan, bukan?

Namun di sisi lain, saya mencoba untuk mengamati saja. Entah, belakangan apakah kami masih kuat? Kami ini hanya "petarung" lapangan. Kalau pun harapan terakhir bertumpu pada kami, semoga saja esok lebih cerah. Setidaknya, pimpinan kami patut berbenah. Lebih baik lagi, jika sang ayah, yang lebih paham dunia jurnalistik, turun gunung dan mengatasi kekacauan ini. Dengan begitu, semua orang bisa saling memahami.

Saya tetap menghargai mereka yang memilih pergi. Seharusnya, kami angkat topi buat mereka karena berani memulai hal-hal baru. Tegap melangkahkan kaki dari hal-hal yang menyamankan kebanyakan orang. Bukan berarti mereka tumbang di tengah jalan. Tidak. Sama sekali tidak. Mereka justru menunjukkan betapa kuatnya tekad untuk bisa tumbuh dimana saja.

Orang-orang yang bertahan, tidak selamanya karena memegang teguh pendiriannya. Alih-alih karena ingin setia, sebagian hanya karena ragu, kan. Yah, ragu, apakah di tempat lain masih bisa lebih baik dari yang dimilikinya sekarang. Zona nyaman memang sering kali mengikat begitu nikmat.

Manusia memang punya kecenderungan memilih sesuatu yang sudah "jelas", ketimbang bertaruh pada hal-hal yang belum nampak oleh mata. 

Terlepas dari itu, semoga prahara semacam ini lebih membelajarkan pimpinan yang lain. Bahwa manusia juga punya hati, tempatnya kecewa atau bahagia. 

***

"Pelaut ulung tidak akan lahir dari ombak yang tenang," pepatah yang sering dilontarkan teman-teman, yang membenarkan kami bertahan.

Saya hanya skeptis. Bergantung pelaut seperti apa yang kita ingin lahirkan. Perompak, Marinir, Sichibukai, atau Yonkou.

"Tidak peduli yang datang dalam hidup, tetap ikuti jalan yang kau percaya. Inilah yang disebut dengan kebebasan." [Diego, One Piece, anime]




--Imam Rahmanto--

Selasa, 31 Oktober 2017

Menanjak (7-end)

Oktober 31, 2017
"Apa yang membuatmu terus melangkah?"

"Tujuan akhir,"

"Bagaimana jika kamu ujung-ujungnya kecewa, karena tak sesuai harapan?"

"Setidaknya, aku sudah mencoba,"

Bunga yang indah, bukan? (Imam Rahmanto)
***

Istirahat memang menjadi kunci utama bagi pendaki jika ingin kembali fit dan bertenaga dalam setiap langkahnya. Buktinya, kami sudah merasa lebih baik setelah beristirahat di Pos V. Perjalanan mendaki ke puncak sudah semakin dekat dan membuat kami lebih bersemangat.

Saya pun sudah leluasa membuka kamera dari tas yang tersangkut di sebelah bahu. Di tengah-tengah perjalanan, kami akan berhenti sejenak. Sembari melepas lelah, Rahim tak jarang menunjukkan beberapa jenis bunga endemik Pegunungan Latimojong, Rhododendron. Bunga-bunga itu pula yang "menarik" perjalanan saya kemari.

"Bunga-bunga itu sudah pernah didatangi peneliti dari LIPI, khusus hanya untuk mendata bunga-bunga itu," ungkap Rahim, suatu ketika, yang menjadi bonus keinginan saya menjalani ekspedisi ini.

"Makanya kita dulu, sedikit-sedikit berhenti. Belum 10 meter, berhenti lagi. Karena murni memang untuk penelitian. Kami dulu yang temani," paparnya lagi.

Ukurannya cukup kecil. Semula, saya menyangka bentuknya seperti anggrek. Ternyata, bunga-bunga itu jauh lebih mungil. Pada musim tertentu, jalur pendakian akan lebih ramai bunga-bunga langka Rhododendron.

Bunga ini lebih mirip bunga semak biasanya. Orang-orang yang lewat biasanya hanya akan menyangkanya sebagai bunga liar. Padahal, bunga ini termasuk salah satu varitas yang terancam punah di dunia. Ditambah, hanya bisa tumbuh di atas ketinggian pegunungan. Bisa jadi, lebih mudah mendapatkan bunga edelweis ketimbang Rhododendron di jalur pegunungan semacam ini.

Kami juga sempat berpapasan dengan rombongan pendaki lain di Pos VI, sebelum tengah hari. Sudah saya katakan, Latimojong ini tak pernah sepi pendaki setiap hari. Ada sekira 6 pendaki baru saja turun dari puncak Rante Mario. Mereka merupakan mahasiswa dari salah satu UKM kampus UNM. Saya mengenal unit kegiatan mahasiswa itu, lantaran pernah aktif di unit lainnya, LPM Profesi.

Meski dikenal sebagai "tangga seribu", namun pendakian selepas Pos V bisa dijalani dengan sedikit lebih santai. Tanahnya tak lagi securam dari Pos III. Konsekuensinya, kami masih harus menanjak melewati tangga-tangga alami dari paduan akar pohon dan tanah lembap.

Kelembapan udara semakin mendekatkan kami pada habitat lumut yang sesungguhnya. Tumbuhan epifit itu mulai nampak merambati beberapa pohon dan permukaan tanah. Semakin mendaki, semakin terlihatlah habitatnya yang membentuk ekosistem hutan.

EKSPEDISI LATIMOJONG - HUTAN LUMUT
Klik atau geser untuk gambar lainnya. (by Flickr)


Hutan lumut, yang berada diantara jalur Pos VI dan Pos VII memang sangat istimewa. Tak ada yang menyangkal keindahannya. Bagi saya, ini lebih terlihat seperti hutan-hutan di negeri dongeng. Sebut saja film-film Alice in Wonderland, Lord of The Rings, atau Narnia.

Pendaki mana pun pasti selalu menyempatkan untuk berhenti dan mengambil gambar di tempat ini. Kapan lagi bisa mendapati lumut-lumut yang menjadi selimut pohon. Hijau dimana-mana. Lembap dan lembut udara berpadu jadi satu. Pun, kami seperti tersihir untuk duduk lebih lama disini. Jepretan paling banyak juga salah satunya berasal dari tempat kece ini.

"Bagaimana seandainya ada sutradara yang ambil film disini juga dih," celetuk teman.

Saya sendiri tak bisa membayangkan bagaimana perjuangan mereka bakal membawa alat-alat sekaligus artisnya. Kami saja, yang orang kampung, benar-benar dibuat menguras perasaan.

Kendala lainnya hanya ada ketika mencapai Pos VII. Hujan deras langsung mengguyur dan memaksa kami berteduh dengan memasang flysheet. Sebelum tiba disana, gerimis yang menyertai pendakian memang sudah mulai menyapa. Kami terpaksa mengencangkan raincoat dan pelindung lain pada barang bawaan. Kami menyangka itu hanya tetesan kabut karena ketingian kami yang semakin jauh dari permukaan laut.

Berkerumun seadanya menanti hujan reda. (Imam Rahmanto)

Sejam lamanya kami terjebak berkerumun di bawah flysheet. Bahkan, tiga pendaki dari Palopo juga ikut menghangatkan diri. Saat kami tiba, mereka baru saja ingin menuju puncak. Sayangnya, hujan mengadang perjalanan.

Yah, dinginnya hujan hanya bisa dinikmati lewat hangat aroma kopi.

***

"Mudah-mudahan di atas nanti kita tidak kena badai," Rahim berharap, yang tentu saja diamini oleh kami.

Tuhan ternyata ikut mendengar keinginan itu. Apalagi kami memang berencana mendirikan tenda di puncak triangulasi. Selama perjalanan menuju Rante Mario, hanya kabut-kabut tipis yang menyertai. Hujan sepertinya sudah telanjur amblas di Pos VII tadi.

Saat ingin bermalam di pos triangulasi, hal yang paling penting adalah persediaan air. Kalau tak membawa persediaan sedari awal, bisa dipastikan kami takkan bisa minum ataupun memasak. Beruntungnya, kami mendapati telaga atau danau kecil, selepas Pos VII, yang terisi air. Barangkali, karena hujan deras yang sempat melanda pegunungan.

Sesuatu yang khas juga akan menjadi pemandangan lazim dalam perjalanan mencapai puncak. Batu-batu ditumpuk di sekitar jalur menuju pos tertinggi. Sepanjang jalan, kami bisa mendapati tumpukan itu. Ada yang tinggi. Ada pula yang agak rendah. Bergantung jenis batu yang ingin ditumpuk.

"Itu permainannya anak-anak pendaki kalau disini," ungkap Rahim.

Nyatanya, tumpukan batu itu sekaligus bisa menjadi penanda jalan bagi para pendaki bahwa "anda sudah berada di jalan yang benar!" Kalau tersesat, maka carilah batu-batu bertumpuk itu. Kondisi berkabut akan semakin menghalangi pandangan dalam perjalanan menuju pos tertinggi.

Mendekati puncak, suasana lebih terbuka. Pijakan lebih didominasi oleh bebatuan cadas dan kehiitam-hitaman. Nampaknya pengaruh lumut yang membuatnya menghitam.

Mengisi persediaan air untuk dibawa ke puncak. (Imam Rahmanto)

***

Sebenarnya, kami sangat beruntung bisa tiba sebelum petang. Sayang, tak ada sunset yang terlihat dari sekeliling triangulasi. Cuaca agak mendung dan tertutup kabut. Hanya awan putih menggelayut dengan posisi sejajar permukaan puncak Rante Mario.

Menikmati petang dari atas puncak gunung benar-benar lengang. Kami hanya berdelapan. Sedikit pohon. Dua tenda. Perlengkapan seadanya. Sunyi. Kecuali celetukan untuk mengusir sepi.

Saya justru menikmati momen semacam itu. Sebenar-benarnya merenung. Saya bisa bersujud tanpa perlu memikirkan apa-apa. Hening diantara semak puncak gunung. Hanya bersyukur. Merenung. Menekuri alam dari atas ketinggian 3430 mdpl. Dari puncak tertinggi dengan pemandangan lautan awan, ada lebih banyak syukur yang mesti dihaturkan. Tak terkecuali kami yang berhasil mencapai puncak Rante Mario.

Ketika berada di alam luas seperti ini, kepala bakal disusupi pemikiran, "Ternyata alam selalu lebih lapang dan luas dibanding segala masalah yang kami anggap ruwet." Kita, manusia, hanya debu di alam semesta. Maka apa yang pantas kita sombongkan?

Langit di atas sana begitu lapang, kenapa kita tak pernah bersyukur? 

Semakin jauh kita berjalan, semakin luas kita melihat, semakin lapang perasaan yang diperoleh. Akar dari syukur yang seharusnya terus dipelihara oleh setiap manusia.

Saya bisa saja berlama-lama memandangi lautan awan di sekeliling triangulasi Rante Mario. Apalagi momen langka. Sayang, udara dingin memaksa kami agar berlindung di dalam tenda atau sleeping bag. 

Milky Way dari Puncak Rante Mario. (Imam Rahmanto)

Saya bisa merasakan dinginnya udara menunggui milky way di malam hari. Hawanya nyaris membekukan jari-jari kaki. Biasa, saya hanya berbekal sendal keluar malam-malam di puncak triangulasi. Sementara hembusan angin malam bisa mencapai suhu 5 derajat. Saking dinginnya, saya sempat membakar jari-jari kaki di atas kompor. Nyaris melepuh, tanpa terasa.

Saking nyamannya pula dengan momen puncak Rante Mario, kami juga nyaris bangun kesiangan. Kalang-kabut lah kami dibuat pagi-pagi karena baru sadar matahari sudah agak naik dan melewati batas cakrawala paginya.

"Padahal bangun ja subuh-subuh. Itu kamera kubiarkan saja ambil time-elapse," ucap Ohe, yang ikut terburu-buru keluar tenda menyambut pagi.

Latimojong, kami menjumpai pagimu.

***

Lelah? Jelas yang namanya pendakian pasti akan membuat kita mandi keringat. Akan tetapi, rasanya tetap menyenangkan. Susah atau senangnya, kami nikmati seadanya. Kalau bisa, tertawa-tawa saja kami dibawanya. Apa pun yang bisa menjadi pengobat lelah, kami nikmati. Selama masih bisa pulang sama-sama dan tak kekurangan apa pun, (kecuali tenaga) hayuk lah!

Terima kasih untuk teman-teman yang menyertai perjalanan keren itu. Betapa perjalanan semacam ini menjadi bukti bahwa apa pun bisa dilalui selama punya tekad dan keinginan yang berapi-api. Barangkali ini memang agak lebay, tetapi pada kenyataannya saya sungguh meresapinya.

Saya sangat menghargai keinginan yang tetiba diamini malam itu. Rencana-rencana yang diulur jauh dan sampai terlunta-lunta. Tak ada waktu yang bisa diseragamkan, namun selalu ada waktu untuk duduk bersama membicarakan segala hal. Buktinya, tujuan kita seragam untuk meraih puncak tertinggi.

Saya memang seharusnya berterima kasih kepada kalian yang bersedia menyisipkan waktu. Rahim yang sudah kesekian kalinya menasbihkan sebagian hidupnya untuk gunung dan kopi. Ohe, yang kali kedua muncak, demi menuntaskan dahaga imajinasi fotonya. Pandi, yang menjadi momen ketiga menapaki alam liar Latimojong. Beruntung pula, sukses menambahkan satu srikandi dalam tim kami, Icha.

Pengalaman baru dan pertama memang selalu meninggalkan kesan paling dalam di ruang-ruang hati saya. Wajar jika saya sulit move on. #uhuk. Dan takkan pernah move on dari kisah-kisah perjalanan itu. Saya sudah menempeli label kenangan di salah satu sudutnya.

Kelak, jangan sekali-kali mengajukan tanya soal Latimojong. Jika tidak, cerita yang tak putus-putus akan meluncur dengan irama yang paling indah. [end]

Kurang gaya sih. (timer)

Momen edisi terbatas. Minus saya. (Imam Rahmanto/ timer)



--Imam Rahmanto--

Sabtu, 28 Oktober 2017

Menanjak (6)

Oktober 28, 2017


Adrenalin baru dimulai. Siapa saja pasti setuju, jika tanjakan menuju Pos III merupakan jalur terberat yang harus dilalui para pendaki Latimojong. Ekspektasi saya pun berguguran setelah melintasi jalur tersebut.

Speechless. 

"Kenapa na tidak adami suaranya Imam?" gurau salah seorang teman.

"Iya, tadi dia mi yang paling banyak bicaranya," sambut yang lainnya.

Yah, selepas beristirahat, saya kehabisan tenaga. Lelucon saya sudah habis tertelan di kerongkongan. Bahkan, kata teman, wajah saya begitu pucat selama pendakian. Jalur tanjakan yang nyaris membentuk sudut 90 derajat itu betul-betul menguras tenaga. Bagi saya yang pertama kali mendaki pegunungan Latimojong, ini namanya super-extreme.

Pegangan kami hanya akar-akar pohon atau tali rotan yang sengaja diikatkan pada puncak pendakian. Entah siapa yang berinisiatif mengikatkan rotan yang dimaksudkan sebagai safety itu. Tanpa juluran rotan, barangkali kami harus merayap layaknya pendaki tebing. Bayangkan saja bagaimana sulitnya memanjat tanah berkerikil, licin, dan kerap terhambur dari genggaman.

Momen pertama, saya bisa menjadikan tanjakan Pos III itu sebagai tantangan. Tak jarang, saya akan membayangkannya sebagai permainan masa kecil kami di kampung halaman. Bagaimana kami berlari-larian di dalam kebun. Memanjat satu-dua pohon. Hingga mencari sulur terkuat agar bisa bergelantungan.

Sayangnya, bayangan masa kecil itu pudar seiring peluh yang terus mengucur dari pelipis. Wajah juga semakin memucat karena kehabisan tenaga. Tungkai saya, seolah dibebani batu diantara tulang dan persendiannya. Untuk melangkah pun, saya harus mengambil jeda. Melangkah beberapa menit. Berhenti beberapa detik. Melangkah lagi. Berhenti lagi. Begitu seterusnya. Tanpa sadar, saya ada di bagian paling belakang.

Hal yang sama juga terjadi pada teman lainnya. Tentu, masing-masing punya cara tersendiri untuk mengatasinya. Selain itu, gengsi juga mau melambaikan tangan ke kamera. Terpaksa, saya memutar musik dari gawai di saku jaket.

"Jangan dipaksakan kalau capek. Berhenti saja," saran Rahim, yang masih melangkah dengan santainya. Padahal bebannya juga bertambah, karena membawa tas Icha.

Sesekali pula kami harus mengemut cokelat. Katanya, makanan seperti itu bisa menambah kalori selama pendakian. Saran juga sih, jangan terlalu banyak minum air putih untuk mengatasi kelelahan.

Sepertinya, cuma saya dan Ohe yang terlihat paling menderita. Bagaimana tidak, tenaga kami juga sudah terkuras dari perjalanan sebelumnya menuju air terjun. Sepulangnya dari sana, kami hanya berhenti untuk packing di Pos II, lantaran teman-teman lain sudah siap berangkat.

"Kayaknya beban kita memang yang paling berat. Seolah-seolah, dua kali lipat perjalanan. Soalnya kan tadi dari air terjun," gerutu saya, yang hanya dibalas muka datar (kelelahan) oleh Ohe.

Saya akan selalu mengingat tanjakan-tanjakan itu. Kalau boleh dibilang lagu, jalur itu menggambarkan lagunya Peterpan - Di Atas Normal. Sebenar-benarnya, kaki di kepala, kepala di kaki. Untuk bisa mencapai puncak, kaki harus diangkat tinggi-tinggi. Sering kali lutut sampai menyentuh dagu. Napas jugaa sudah tersengal-sengal.

Meski begitu, kalau sudah bertekad, ya tetap saja semua bisa dilalui. Jalurnya memang terasa sangat menegangkan. Seram. Ngeri. Wass-was. Tetapi, yakinlah, tak ada kata berhenti kalau sudah telanjur mendaki. Selama kaki masih kuat dipakai melangkah, puncak pasti bisa tersentuh.

Satu-satunya yang bisa membuat kami terus melangkah barangkali keinginan untuk tiba di puncak tertinggi. Bagi yang sudah pernah merasakannya, barangkali sudah agak terasa ringan. Beda soal bagi kami yang benar-benar pertama kali "bertaruh". Lelahnya juga bakal terasa lebih sulit di awal-awal pengalaman itu.

***

Karena efek kelelahan, kami tak bisa memaksakan diri dalam mendaki. Pada akhirnya, kami disambut malam saat tiba di Pos V. Suasana sudah cukup gelap. Saya lupa persisnya, waktu menunjukkan pukul berapa. Beruntung, kemah kami sudah lebih dulu berdiri oleh teman-teman porter.

Kami juga harus segera berlindung di dalam kemah, sembari menyiapkan makan malam. Di luar sana, hujan sedang menggebu-gebu. Beberapa jam kemudian, badai terdengar begitu jelas menganggu waktu tidur. Saya sendiri beberapa kali harus terbangun karena suara badai.

Di tengah-tengah badai, kami masih sempat mendengarkan percakapan penghuni Pos V. Sebelum kami tiba, dua-tiga tenda memang sudah berdiri. Mereka juga merupakan para pendaki yang ingin mencapai Puncak Rante Mario. Sebelumnya, di Dusun Karangan, kami tahu kalau mereka adalah mahasiswa berasal dari Palopo.

Mereka yang sudah mulai segar. (Imam Rahmanto)

"Banyak kayaknya juga suara cewek tadi malam kudengar. Kayaknya ada dari Unhas juga datang malam-malanya," celetuk kami, saat pagi menjelang.

"Ada juga yang laki-laki, subuh-subuh kudengar mengaji," timpal yang lain. Saya pun sempat mendengarkannya.

Badai sudah mereda. Kami menyambut pagi dengan kondisi yang lebih segar. Meskipun, sejujurnya, bahu saya masih terasa sangat pegal. Beban tas punggung selama perjalanan mendaki masih terasa nempel.

Tim pendaki yang lain juga sudah lebih dulu menghilang dari Pos V. Mereka nampaknya memutuskan mendaki lebih pagi. Tenda dan seluruh perlengkapannya ditinggal di pos ini. Biasanya, para pendaki mengambil kesempatan semacam itu jika tak ingin bermalam di puncak. Berangkat pagi-pagi, langsung pulang setelah mengambil foto sebanyak-banyaknya di sekitar triangulasi Rante Mario.

Apalagi, ada sumber air bersih di Pos V. Hanya berjarak 10 menit berjalan kaki, melintasi batang-batang pohon. Para pendaki biasanya akan mandi atau mengambil kebutuhan minum di sungai kecil itu.

Saya sempat mencoba mandi di sungai kecil itu. Sayangnya, tak tahan untuk berlama-lama merendam seluruh badan. Putra asli Karangan seperti Samrin justru lebih kebal terhadap dinginnya air di ketinggian lebih 2000 mdpl itu.

Suhunya barangkali bisa saja mencapai 10 derajat celcius. Kulit serasa ditusuk-tusuk jarum saat menyentuh permukaan air. Sementara Samrin dengan santainya menenggelamkan dirinya untuk membersihkan busa shampo di kepalanya.

Harus tetap ceria di hadapan alam liar. (Imam Rahmanto/ timer)

Kami hanya menghabiskan beberapa jam di pos V. Sembari menyiapkan sarapan, momen berkemah di Pos V memang tak bisa dilewatkan. Maka meluncurlah beberapa jepretan dari kamera masing-masing. Wajar, itu sebagai "pelampiasan" karena dalam perjalanan kemarin kami sangat kelelahan sampai tidak kepikiran untuk mengeluarkan kamera.

Suasana di Pos V memang sangat kondusif untuk menjadi tempat berkemah. Luasnya sangat memadai dengan pohon-pohon besar di sekelilingnya. Jika beruntung, tupai-tupai kecil akan menjumpai pagi-pagi. Mereka biasanya tertarik dengan makanan atau cemilan para pendaki.

Kami sempat bermain-main dengan beberapa tupai kecil yang melintas. Berupaya mengambil momen kala tupai itu memanjat dari pohon yang satu ke pohon lainnya.

Kalau dijepret pakai lensa tele, pasti lebih menggemaskan. (Imam Rahmanto) 

***

Sesuai rencana awal, kami akan mendirikan tenda di pos puncak Rante Mario. Oleh karena itu, setelah sarapan, kami bergegas packing dan membongkar tenda. Padahal "strategi" semacam itu tak biasa dilakukan oleh para pendaki.

"Mudah-mudahan dapat ji milky way nanti malam. Bagus juga kalau kita dapat sunset nanti sore," kata Ohe.

Sebenarnya, kami memang punya banyak "misi" dalam pendakian kali ini. Ceritanya agak panjang karena dimulai dari kebutuhan naskah berita saya. Meski begitu, cerita ekspedisi ini sekaligus akan ditutup pada langkah kaki selanjutnya.

....

[bersambung]



--Imam Rahmanto--

Minggu, 22 Oktober 2017

Setengah Harapan

Oktober 22, 2017
"Kirimkan fotomu, Mam," pesan salah seorang redaktur lewat chat di Whatsapp. 

Heran saja, hampir tengah malam meminta foto. Katanya, foto profil di akun Whatsapp saya tak begitu jelas wajahnya. Dia butuh foto yang lebih jelas menampakkan wajah saya.

Hanya butuh beberapa detik saja untuk mengirimkan satu foto dari stok penyimpanan smartphone saya. Beruntung, beberapa hari yang lalu saya punya liputan dengan mengenakan seragam khas kantor. Kebetulan pula, saya dijepret dengan pakaian berwarna biru itu. Padahal, seumur-umur penempatan tugas di Enrekang, saya baru pertama kalinya mengenakannya. Saya tipe-tipe orang yang tak suka mengenakan seragam, apalagi sampai masuk kantor.

Foto itu untuk apa, saya tak begitu paham. Hingga akhirnya, di percakapan grup kantor menyebutkan nama saya. Kata mereka, naskah berita perjalanan mendaki Pegunungan Latimojong masuk jadi nominasi best five di Jawa Pos Group.

"Alhamdulillah, dua kategori sudah di tangan," kata redaktur saya. Mata saya lantas berbinar.

Media saya memang merupakan bagian dari raksasa media Jawa Pos Group. Bahkan, bisa dibilang media terbaik di Sulsel. Setiap triwulannya, para petinggi se-Indonesia mengadakan rapat evaluasi di pusat. Rapat itu juga menampilkan karya-karya terbaik dari semua media di bawah naungan grup.

"Deehh, kalau tahu begitu, saya kirimkan ki fotoku pas mendakinya, Kak. Hehe..." balas saya lagi, yang kemudian berujung pada kiriman foto berjaket hijau dengan senyum dipaksakan diantara kabut dan beban ransel di punggung.

Itu artinya, naskah liputan khusus yang dimuat dua halaman berhasil dengan mulus "menggoda" mereka yang membacanya. Bahagia rasanya membayangkan karya kita bisa kembali dihargai. Secara tak langsung, bahagia pula bisa membantu mereka yang berada di Dusun Karangan. Saya rindu dengan dusun itu.

Perjalanan berat selama mendaki seolah terbayarkan lunas. Rasa-rasanya, saya harus mengabarkannya kepada empat teman lainnya yang menemani ekspedisi. Kalau bukan karena mereka pula, saya tentu takkan menikmati perjalanan menguras keringat itu.

Dan lagipula, saya pernah meragukan hasilnya.

"Menuliskan hasilnya (eskpedisi ini) jadi semacam beban, karena kita sudah tahu ujung-ujungnya untuk diikutkan persaingan. Jadinya, seolah memperhitungkan banyak hal. Termasuk kan dananya juga sudah telanjur cair," curhat saya pada teman sesama jurnalis, jauh hari sebelum naik cetak.

Meski setengah bercanda, namun saya memang sempat menyangsikannya.

Beban semacam itu memang selalu terasa. Karena naskah (triwulan) sebelumnya juga sempat menyabet penghargaan serupa. Naskah feature terkait beras ketan khas Enrekang, Pulu Mandoti, sudah pernah nampil di rapat para petinggi media itu. Lantas, nama sedikit mulai dilabeli. 

Esensinya sungguh berbeda. Saya menuliskan feature Pulu Mandoti itu tanpa beban. Saya juga tak pernah tahu kalau redaktur ternyata mengirimkannya ke penilaian Jawa Pos Group. Jadinya, tak ada perasaan "harus-jadi-yang-terbaik" dalam mengerjakan naskah. Tak ada perasaan was-was. Saya hanya menjalani apa adanya.

Pengerjaan naskah Ekspedisi Latimojong sungguh teramat berbeda. Sejak awal, saya sudah tahu jika naskahnya akan sampai ke tahap pengiriman, hingga penilaian pusat media kami. Bebannya jauh lebih kerasa. Karena jika tidak menyabet nominasi, tentu ada kekecewaan dari orang-orang kantor, yang sudah menaruh harapannya pada pundak saya.

Saya butuh frame untuk mengabadikan perjalanan ini. (Imam Rahmanto)

***

Menanggung harapan itu seumpama memikul suatu beban. Salah sedikit, kita bisa mematahkan harapan itu. Tentu akan berimbas pada berbagai perasaan negatif dari orang yang "berharap" itu. Semisal kekecewaan, kemarahan, patah hati, atau yang paling parah, kehilangan kepercayaan.

Tak ada yang cukup kuat menerima perasaan semacam itu. Hidup untuk mencari kebahagiaan, bukan untuk memenuhinya dengan perasaan-perasaan tak menyenangkan.

Saya tak ingin dicap sebagai Pemberi Harapan Palsu (PHP). Apalagi saya tak pernah sekali pun menjanjikan hasilnya bakal memuaskan. Karena pada kenyataannya, masih banyak hal (dan keinginan) terpendam dalam perjalanan saya menakjubkan itu. Sejujurnya; saya belum puas menikmatinya.

Beruntunglah, hasil ekspedisi kemarin bisa menyalurkan kebahagiaan bagi orang-orang di media saya. Pun, bagi saya pribadi, semakin percaya dengan tulisan sendiri. Tak ada salahnya menulis dengan menjadi apa adanya. Tujuan saya menulis di tempat ini (blog) juga agar tak kehilangan jiwa saya.

Yah, sebenar-benarnya saya ada di "rumah" ini. Saya banyak belajar menuangkan pikiran bebas disini. Sebebas-bebas dan selepas-lepasnya. 

"Ndak berniat mau buat buku begitu?" tanya teman, yang pernah membaca sedikit tulisan di "rumah" ini.

Sudah dan selalu (berharap).

Sebenarnya sempat terpikirkan untuk membuat buku dari kumpulan pelarian di "rumah" ini. Bahkan, puluhan lembar draft-nya sudah di-printout. Lengkap beserta judul buku di sampulnya. Sayang, proses revisi dan corat-coretnya berhenti di tengah jalan. Baru beberapa naskah awal saja yang sudah saya coreti ala skripsi. Jilidan naskah itu kini teronggok saja di kamar, dipandangi selintas, tanpa disentuh penulisnya. Kasihan...

Sampai hari ini, naskah itu masih menumpuk di salah satu sudut kamar. Barangkali, memang, menunggu penilaian yang sebaiknya bukan dari saya. Mungkin saja, memang sudah waktunya meyerahkan "ujian-revisi" naskah pada orang lain.

"Payung Hujan..."

"Itu judulnya?"

"Ya, isinya cuma tulisan atau catatan ndak jelas begitu," terang saya malu-malu.

"Judulnya saja saya kusuka. Unik,"

...

Sial! Saya dipaksa memikirkan keinginan itu kembali.



--Imam Rahmanto-

Jumat, 20 Oktober 2017

Menanjak (5)

Oktober 20, 2017
"Masih jauh, ndak?"

Napas kami sudah mulai ngos-ngosan. Baru saja beristirahat beberapa menit, kami sudah kembali dihadapkan dengan jalur "tak-normal".

Kami terpaksa meninggalkan tiga orang teman lainnya di Pos II. Rombongan terbagi dua. Hanya saya dan Ohe yang berminat menyambangi lokasi air terjun yang disebut-sebut paling tinggi itu. Tiga teman dari Karangan membantu menuntun arah ke air terjun itu.

"Jangan lama-lama. 30 menit saja disana, karena kita masih harus lanjut perjalanan," pesan Rahim, yang menyiapkan packing untuk perjalanan berikutnya.

Saya terpaksa hanya bisa mengandalkan jepretan smartphone di momen menempuh perjalanan ini. (Imam Rahmanto)

Bukan hal mudah melintasi jalur di tengah-tengah hutan itu. Arahnya berseberangan dengan jalur menuju pos pemberhentian selanjutnya. Wajar jika tak banyak pendaki yang mengetahui (atau menyempatkan) lokasi Air Terjun Sarung Pakpak.

Beberapa kali, kami mesti menyilang arus sungai. Memanjat dataran yang lebih tinggi sembari terus mengikuti aliran sungai. Di bagian lain, menyeberangi batang pohon yang tumbang di atas bebatuan dan sungai. Sebenarnya, prioritas keselamatan utama: kamera.

"Makanya saya suruh mereka yang bawa kameraku," kata Ohe, tanpa raut wajah berdosa.

Beban tas punggung dengan tripod itu digendong dengan santainya oleh teman porter kami, Samrin. Lincah saja ia memanjat dan melompat dari satu batu hingga berpindah ke dahan yang lain.

Aktivitas panjat-memanjat menjadi pemandangan lazim dalam perjalanan kami. Parahnya, tak ada pegangan akar-akar pohon. Adanya cuma akar rumput yang bisa putus sekali tarik. Kami seolah berlatih memanjat tebing dari ketinggian tiga meter di atas permukaan sungai. Meskipun jaraknya hanya sepanjang 5 meter. Satu-satunya pegangan (hidup) ada di celah-celah batu. Beruntunng kaki saya masih mudah bertumpu karena mengenakan sendal.

Meski begitu, yakinlah, usaha berkeringat dan berdarah-darah pegal-pegal akan berbuah manis jika sudah melihat wujud Air Terjun Sarung Pakpak. Gemuruh air terjun begitu jelas terdengar. Tak heran jika suaranya begitu memecah keheningan, karena ketinggian yang mencapai kisaran 70 meter. Dalam jarak sepuluh meter, tempias air juga sudah mengenai wajah.

"Waaahhhh....kerenn!!"

Kami langsung mengambil jarak dan "jurus" untuk momen spesial itu. Tiga orang pemandu kami tak ketinggalan memasang "kuda-kuda" dengan kamera handphone seadanya. Momen seperti itu, kurang afdol jika tidak bergaya selfie. 
JELAJAH - AIR TERJUN SARUNG PAKPAK
Klik atau tunggu sejenak untuk gambar lainnya. (by Flickr)

Saya sendiri benar-benar menikmati kejernihan aliran air terjun itu. Dinginnya tak menghalangi kaki saya untuk menembus permukaannya. Mencari langkah diantara cipratan air. Menciptakan momen-momen terbaik untuk belajar memotret alam. Air terjun itu begitu menggoda. Yah, menggoda kami untuk berlama-lama mengabadikannya.

Pemandangan di sekitar air terjun juga masih teramat asri. Tak ada sampah-sampah bekas peninggalan manusia. Memang, air terjun ini belum banyak terjamah. Hal itu yang membuatnya istimewa dan masih nampak perawan. Apalagi, dibungkus dengan lumut-lumut bebatuan dan batang pohon yang rebah.

Kelak, jika jalan menuju air terjun ini bakal dirintis, barangkali keindahannya taakkan sama lagi. Tak ada jaminan kunjungan para pelancong bisa menjaga keindahan di sekitar air terjun ini. Karena kita adalah manusia, sumber lebih banyak salah dan kelalaian.

***

Kami tak bisa berlama-lama di tempat yang menawan itu. Kami harus memangkas waktu perjalanan untuk tiba di pos camp yaitu Pos V. Kami berencana bakal bermalam disana, sebelum melanjutkan perjalanan ke puncak tertinggi.

Sayangnya, perjalanan pulang ke Pos II tidak semudah menyusur jalan semula. Kegiatan "panjat-memanjat" jauh lebih sulit karena diputar mundur. Saat memanjat "turun", tentu saja agak sulit menjangkau ruang pijakan diantara dinding batu. Salah seorang teman kami, Arman, tercebur lantaran terpeleset dari pijakannya. Beruntung saja, ia tercebur di aliran air sungai yang tidak begitu dalam. Kami yang hendak menolong, justru hanya bisa menertawainya.

"Sedangkan yang sudah biasa bolak-balik saja kesana bisa jatuh begitu, apalagi kita yang baru-baru ini," ujar Ohe, yang selalu menghitung langkahnya dalam perjalanan dengan sangat-teramat-sangat hati-hati.

Kami tertawa saja melihat Arman yang bangkit dari tenggelamnya. Pakaiannya kuyup. Meski begitu, kulitnya sudah telanjur tebal menahan dingin untuk ukuran penduduk Dusun Karangan.

Mereka tak butuh pakaian tebal untuk menahan dinginnya alam Latimojong. (Imam Rahmanto)
Dalam perjalanan berat semacam itu, tak ada hiburan yang bisa mengalihkan pikiran selain menertawakan segala hal. Yah, bagi saya, apa pun bisa ditertawakan. Hal-hal lucu bisa ditemui di sepanjang perjalanan.

Di kala teman-teman mengalihkan tenaganya pada kedua ujung tungkai dan bahu, saya biasanya lebih banyak berbual. Bercerita apa saja. Dasarnya memang saya orang yang cerewet. Setidaknya, hanya ingin mengundang wajah-wajah yang merekah dalam perjalanan ini. Tak elok rasanya wajah ditekuk selama perjalanan. Beban sudah berat, masih ditambahi pula dengan muka yang ingin bersungut-sungut. Belum lagi beban hidup.

Seperti halnya hidup, beban yang berat tak semestinya mengurangi esensi perjalanan itu sendiri. Kita seharusnya menikmatinya. Meresapi setiap lelah yang mendera. Pun, meresapi adrenalin dan emosi yang berkelebat dalam bahayanya perjalanan. Adrenalin itu bukan untuk ditakuti, melainkan ditaklukkan. Bukankah setiap perjalanan seharusnya mengajari kita cara untuk tersenyum?

"Everything that drowns me makes me wanna fly..."[Counting Stars, One Republic; lagu]

Sepertinya begitu. Perjalanan kami bertambah berat setiap langkahnya. Kami yang baru saja tiba di Pos II, harus segera berkemas. Waktu sudah menunjukkan angka tiga. Kata Rahim, waktu perjalanan hingga Pos V masih cukup lama. Jaraknya memang tak begitu jauh, namun berbanding terbalik dengan medan yang harus kami tempuh.

"Kita harus cepat kalau mau sampai di Pos V tidak kemalaman," ucapnya berkemas-kemas saat melihat kami baru saja kembali tiba di Pos II.

Padahal, lelah masih belum sepenuhnya pudar. Menyaksikan keindahan air terjun Sarung Pakpak memang menjadi bonus tersendiri bagi saya dan Ohe. Malangnya, bonus itu juga berlaku kelipatan untuk tenaga kami yang dihabiskan dalam perjalanan. Terkuras dua kali. Perut yang baru saja terisi kalori dari nasi, sayur, mie, telur seolah langsung terbakar setengahnya. Dampaknya, kelak, baru terasa belakangan. Bikin meringis.

"Ini mau langsung pergi? Wah, baru ki juga mau istirahat," ucap saya setengah bercanda. "Tunggu pale. Shalat dulu sekalian."

Tak butuh waktu lama untuk mengepak kembali perlengkapan. Sebentar lagi, gemuruh air akan menghilang dan semakin tenggelam. Gua kecil itu akan dibalut keheningan kembali, sebelum pendaki lainnya tiba disana.

Kata orang, kekuatan sejati perjalanan ke Puncak Rante Mario bakal diuji diantara jalur pendakian menuju Pos III. Tantangan sesungguhnya ada di jalur berkemiringan nyaris 90 derajat itu. Butuh mengencangkan tekad lebih kuat. Butuh kaki dan tangan yang lebih cekatan.

Menyaksikan rute tanjakan dari Pos II, membuat saya terhenyak dan berpikir ulang, "Apakah kami bisa pulang dalam keadaan hidup-hidup?" Ternyata, toh, kami juga butuh doa yang dirapalkan terus-menerus.

[bersambung]


***

"Butuh berapa episode lagi supaya ceritamu itu berakhir?" tanya seorang teman, suatu ketika.

Sejujurnya, saya sendiri kebingungan bagaimana mengakhiri cerita ini. Bagi saya, banyak hal yang seharusnya terekam dalam perjalanan ini. Mengakhirinya sekaligus, seolah memaksa saya untuk melupakan detail perjalanannya sekaligus. Saya tak ingin, menganggap perjalanan itu sekadar angin lalu, yang tak punya detail menarik untuk dikisahkan bagi anak-cucu kelak. Sebagaimana cara terbaik mengabadikan kenangan adalah dengan menuliskannya.

"Pernah ki naik mendaki Latimojong, Pak?" tanya salah seorang anak saya, di suatu masa, beberapa tahun mengulur jauh ke depan.

"Pernah," jawab saya tersenyum bangga. "Duduklah disini. Maka akan kuceritakan padamu, bagaimana bapakmu dulu memulainya dengan sangat keren."


--Imam Rahmanto--


Senin, 16 Oktober 2017

Revolusi ala Binatang

Oktober 16, 2017
Target bacaan kian menipis. Dalam sepuluh bulan terakhir, saya baru bisa menamatkan hingga 18 buku dari target bacaan tahunan sekitar 30 buku. Saya semakin sadar, kesempatan untuk bisa leluasa membaca buku bukanlah hal mudah. Semakin usia bertambah, prioritas lain juga kian menumpuk.

Dalam sebulan belakangan ini, saya coba mengejar target itu. Salah satunya dengan menamatkan beberapa buku bacaan yang lebih tipis. Curang. Eh, jangan salah. Buku yang tipis tidak menjadi jaminan saya akan menamatkannya hanya dalam sekali duduk. Buktinya, beberapa buku justru terkapar tak berdaya di lantai kamar. Sisanya, diselesaikan sekadar kewajiban untuk "menuntaskan-apa-yang-sudah-saya-mulai."

(Foto: Imam Rahmanto)

Diantara beberapa bacaan itu, buku Animal Farm karya George Orwell (nama assli Eric Arthur Blair) menjadi bahan paling ciamik bagi saya. Yah, saya menyukai segala kesederhanannya. Mulai dari jumlah halaman, jalan cerita, cara berpikir, hingga alur yang menghubungkannya satu sama lain. Meskipun, jujur, saya tak menyukai ending-nya.

Kisahnya tentang Peternakan Manor yang dimiliki dan dikelola oleh keluarga Tuan Jones. Berbagai hewan ternak hidup di dalamnya sebagai peliharaan keluarga itu. Kedamaian kehidupan peternakan sebenarnya berlangsungsebagaimana lazimnya. 

Hingga salah satu babi tua yang paling dihormati hewan lainnya, Mayor tua, menceritakan mimpinya kepada para penghuni peternakan itu. Dari sanalah akar pemberontakan binatang dimulai dan dipelopori oleh dua babi cerdas, Snowball dan Napoleon. Mereka berdua menggerakkan pemberontakan terhadap Tuan Jones dan keluarganya. Itu hanyalah awal pemberontakan para hewan-hewan itu terhadap manusia.

"Manusia adalah satu-satunya makhluk yang mengonsumsi tanpa menghasilkan. Ia tidak memberi susu, ia tidak bertelur, ia terlalu lemah menarik bajak, ia tidak bisa lari cepat untuk menangkap terwelu. Namun, ia adalah penguasa atas semua binatang. Manusia menyuruh binatang bekerja, manusia mengembalikan seminimal mungkin hanya untuk menjaga supaya binatang tidak kelaparan, sisanya untuk manusia sendiri. Tenaga kami untuk membajak tanah, kotoran kami untuk menyuburkan tanah, tetapi tak satu pun dari kami memiliki tanah seluas kulit kami." [hal.6]

Revolusi adalah salah satu hal utama yang ingin disampaikan dalam buku ini. Sebenarnya, kalau ingin dicerna lebih jauh, isi cerita ini justru lebih berat dan rumit. Politik kekuasaan diceritakan dengan gaya-gaya alegori. Bagaimana Snowball dan Napoleon bekerja sama untuk menggulingkan kekuasaan Tuan Jones. Namun, pada akhirnya, kedua pemimpin kawanan hewan itu justru berseteru dalam perbedaan pendapat. Napoleon mengambil alih kekuassaan dengan cara menyingkirkan Snowball.

Barangkali, hewan-hewan Animal Farm bisa mengajarkan kita tentang namanya berdemokrasi. Perputaran kekuasaan yang berlandaskan pada kekuatan dan kecerdikan. Babi-babi ini menunjukkan "cara main" politik yang begitu elegan. Revolusi, meski diawali dengan niat yang baik, tetap saja akan memudar pada perjalanannya. 

Babi-babi ini memulai pemberontakan dengan begitu epik. Menciptakan tujuh peraturan "kehidupan hewan" animalisme setelah kemenangannya. Seiring waktu, aturan itu dilanggar demi kepentingan kekuasaan. 

Membaca Animal Farm memang lekat jika dikaitkan dengan kehidupan manusia itu sendiri. Berbagai intrik dan sifat-sifat binatang ada pada diri manusia. Malah, George Orwell nampaknya memang ingin menunjukkan bagaimana "politik" manusia yang sebenarnya. Wajar jika buku ini diganjar beberapa penghargaan dan masuk sebagai 100 best books di Inggris versi BBC. Tak peduli jika buku ini diterbitka tahun 1945.

Sayangnya, saya masih dibuat penasaran dengan ending kisah pemberontakan hewan-hewan ini. Khususnya nasib si cerdik Snowball yang disingkirkan oleh Napoleon. Dan lagi, hewan-hewan yang akhirnya sadar kehidupan mereka tak jauh lebih dibanding sebelumnya. (*)

“The only good human being is a dead one.” Animal Farm, George Orwell

 
--Imam Rahmanto--

Jumat, 06 Oktober 2017

Menanjak (4)

Oktober 06, 2017
(Foto: Ohe Syam Suharso)

Pekerjaan mendaki gunung selalu diasosiasikan dengan hal-hal berat dan sangat melelahkan. Tak jarang, para calon pendaki harus dibekali dengan olah tubuh atau pemanasan, jauh hari sebelumnya. Minimal, kaki dibuat terbiasa bergerak dengan aktivitas fisik. Lari, misalnya.

Hanya saja, kata teman, sebenarnya pendakian perdana tak mesti diiming-imingi ketakutan. Kekuatan hanya menjadi nomor sekian dari persiapan menghadapi segala tantangan di atas gunung. Tubuh kekar, bodi besar, muka sangar bukan jaminan agar tetap tegar. Satu-satunya hal utama yang dibutuhkan hanyalah tekad... yang membara.

Pada awalnya, itu memang hanya semacam "bualan" atau "omong kosong" agar kita mau ikut menanjak mempertaruhkan segala kekurangsiapan. Semacam pembenaran untuk memuluskan ajakan mendaki bersama teman-teman yang lainnya. Akan tetapi, saya merasakan sendiri, tak ada yang lebih dibutuhkan seorang pendaki selain tekad. Yah, tekad. Bertransformasi jadi semangat. Diiringi dengan niat yang baik, tentunya.

Toh, sebagian orang bisa menuntaskan impian terpendamnya untuk memeluk puncak tertinggi tanpa perlu persiapan berbulan-bulan lamanya. Modal nekat. Ketakutan jangan pernah menggerogoti kemauan. Kalau tak mencoba, bagaimana bisa tahu hasilnya? Tekad kuat semestinya sudah cukup untuk menjadi bahan bakar mewujudkan impian apa pun.

Di samping itu, yakinlah, hal-hal baru selalu menyimpan ke(se)nangan berharga.

"Gagal itu urusan nanti, yang terpenting kita berani untuk mencoba dan mencoba!" -- 5cm, The Movies

***

Perjalanan menuju Puncak Rante Mario baru terlihat agak "menyeramkan" saat memasuki Pintu Rimba. Warga menyebutnya demikian, karena lahan yang tak jauh dari Pos I itu menjadi pembatas antara hutan dan lahan perkebunan warga. Dari situ pula pohon-pohon rindang mulai menyapa dan menawarkan kesejukan "semu".

Tak ada yang benar-benar menyejukkan dalam perjalanan mendaki semacam itu. Rindang pepohonan dan semak belukar hanya menjadi kilasan asal lewat. Pakaian dibuat basah sepanjang waktu. Peluh mengucur diantara pelipis. Gaya rambut juga dibuat kusut masai. Keinginan untuk memperbaikinya sudah hilang karena didera lelah.

"Tidak bisa berhenti dulu kah?" ucapan yang hanya berhenti di batas kerongkongan. Meski pengalaman pertama, namun gengsi kalau harus terlihat "kalah" dalam perjalanan.

Saban hari, masa kecil saya sudah berlari-larian di jejeran kebun pegunungan. Seharusnya saya bangga sebagai anak kampung.

Harus tetap kelihatan setroong diantara kaki yang hampir patah. (Ohe Syam Suharso)

Setengah perjalanan, kami terpaksa harus berhenti. Menurut Rahim, tempat kami berhenti merupakan salah satu percabangan menuju puncak pegunungan yang lainnya, yakni Nene Mori. Sayangnya, jalur tersebut belum terlihat bersahabat seperti yang lainnya.

"Oh...Nene Mori ya? Itu neneknya Mori yang sakti sekali..."

"Hush....jangan sembarang bicara kalau di hutan," potong Ohe, sembari memasang tampang serius.

Saya sempat terkesiap. Sambil meringis, tak ada lagi suara membahas bualan. Saya langsung teringat, perjalanan di tempat-tempat semacam ini memang harus dilalui dengan sikap mawas diri. Satu hal yang harus diperhatikan para pendaki: tak boleh takabur.

"Dulu toh pernah ada temanku yang bercanda bilang enak sekali tinggal disini, saya juga langsung dimarahi teman yang orang asli sini," ujar teman yang lain, Pandi, saat kami melanjutkan perjalanan.

"Katanya, jangan sembarang bicara kalau di tengah hutan. Tidak baik," lanjutnya lagi.

Barangkali, dengan kekuatan semesta, Tuhan akan mengabulkan omongan yang dianggap takabur. Bukankah lisan adalah penjabaran doa?

Meskipun begitu, saya sebenarnya tidak sedang bercanda atau berbual tentang kisah Nene Mori. Saya sempat membaca referensi terbatas tentang puncak Nene Mori. Alasan di balik pemberian namanya memang bermula dari cerita-cerita rakyat atau folklor.

Tidak ada alur cerita yang jelas tentang salah satu tokoh sakral tersebut. Keberadaannya pun masih dipercaya menghuni pegunungan. Hanya saja, cerita-cerita menyebutkan bahwa Mori merupakan cucu dari nenek yang saban hari berburu di hutan Pegunungan Latimojong. Untuk itulah ia dipanggil dengan sebutan Nene Mori (neneknya Mori).

Kesaktian Nene Mori juga bukan sekadar pepesan kosong diantara penduduk pada masa itu. Ia tak pernah gagal berburu anoa. Konon kabarnya, Nene Mori tak butuh berlelah-lelah jika ingin makan daging anoa. Para anoa sendiri yang datang ke hadapannya untuk disembelih. Di puncak ketiga tertinggi pegunungan itu, ada sebuah batu yang kerap menjadi tempat bersemedi Nene Mori.

Dalam versi yang terbatas, kisah Nene Mori masih ambigu. Saya sendiri menyesal tak sempat menanyakan kisahnya kepada para tetua penduduk di sekitar Punggung Latimojong. Hanya saja, membicarakan hal-hal mistis diantara lebat rimba sudah bisa mengundang bulu kuduk merinding. Kami tak perlu lebih jauh membahasnya. Meski begitu, kelak, kami dibuat kembali bersemangat untuk menanjak ke puncak tersebut.

Berbagai jalur lekukan bisa dijumpai selama menempuh perjalanan menuju Pos II. Sekali waktu kami harus mengangkat lutut tinggi-tinggi. Di lain waktu kami harus menahan tumit agar tidak terjerembab. Pegangan yang tersedia lebih banyak belukar di kiri dan kanan. Beruntung, sendal butut saya masih sangat keren untuk mengatasinya. Sendal merek Consi** memang is the best

***

Peristirahatan di Pos II. (Imam Rahmanto)

"Nah, itu sudah kedengaran suara air. Artinya, kita sudah dekat dari Pos II," ujar Rahim dari depan.

Pos II memang seolah menjadi oase bagi pendaki yang sudah kelelahan. Air sungai mengalir tak jauh dari tempat pemberhentian kami. Bening. Hanya jembatan kayu kecil yang membelahnya.

Sebagian pendaki memanfaatkan Pos II sebagai tempat mendirikan tenda. Lokasinya tepat berada di bawah bongkahan batu besar. Aman dari hujan maupun angin kencang. Orang-orang biasa menyebutnya gua Sarung Pakpak.

Bisa dibilang, sumber air juga tak terbatas, kapan pun mereka membutuhkannya. Untuk urusan minum, cukup tangkupkan saja kedua telapak tangan mengadang aliran air. Kesegarannya bahkan melebihi air galon isi ulang yang selama ini kita konsumsi di kota. Tak butuh dimasak. Tak butuh alat isi ulang yang menggunakan sinar ultraviolet.

JELAJAH - SUNGAI POS II LATIMOJONG
Klik atau tunggu sejenak untuk gambar lainnya. (by flickr)

Kami langsung bergabung dengan tiga teman porter yang sudah lebih dulu menanti. Segala perlengkapan dapur mulai dibongkar sedikit. Jam makan siang sudah lewat. Perut yang keroncongan harus diisi ulang. Butuh tenaga lebih banyak untuk melanjutkan perjalanan.

"Satu-satunya momen yang bikin saya makan tiga kali sehari, ya pendakian ini. Biasanya, saya cuma makan sekali dalam sehari kalau di kota," seloroh saya.

"Kalau mau mendaki butuh kalori ekstra dong. Cuma yang susahnya nanti kalau mau buang air besar," jawab teman yang lain. Haha..

Nasi hangat membuat kami lupa sejenak dengan kelelahan selama perjalanan. Suara arus sungai menjadi orkestra hiburan bagi kami. Musik alam. Tak ada yang lebih nikmat dari makan bersama di tengah rimba. Segalanya terasa lebih nikmat dan membuat kami banyak bersyukur.

Sayangnya, agak miris juga melihat coret-coretan dinding batu di hadapan kami. Ada banyak aksi vandalisme yang dilakukan oleh para pendaki tak bertanggung jawab. Seolah-olah, dengan menuliskan nama di dinding batu bisa menjadi rekor terhebat.

Meski sebagai pendaki pemula, saya tahu bahwa sejatinya para pendaki punya semboyan epik yang salah satunya, "tak boleh meninggalkan apa-apa kecuali jejak". Coretan atau sampah di alam terbuka sama sekali bukan jejak. Kalau sampai meninggalkan sampah, barangkali kita lebih pantas disebut sebagai "sampah" itu sendiri.

"Jangan pernah mengambil sesuatu selain gambar. Jangan pernah meninggalkan apa pun selain jejak. Jangan pernah membunuh sesuatu selain waktu." --semboyan pendaki

"Itulah, saya minta sama anak-anak (Karangan) untuk bersihkan kalau mereka lewat sini," ujar Rahim.

Bisa saja, pemuda-pemuda dari dusun Karangan dibuat jengkel dengan ulah para pendaki. Sebagian besar hanya ingin menunjukkan prestise sampai di puncak, tanpa sadar esensi sesungguhnya dari mencintai alam. Bukan hanya perempuan yang butuh kasih sayang. Alam pun demikian.

Apa perlu saya juga mengukirkan namamu, sayang? (Ohe Syam Suharso)

***

Pemberhentian di Pos II tak sekadar membunuh waktu bagi kami. Selain melintasi jalur reguler menuju puncak, kami masih punya misi lain untuk menyingkap keindahan kawasan Latimojong. Ada surga tersembunyi yang tak pernah disadari para pendaki saat melintasi Pos II.

"Cuma sedikit yang pernah kesana. Pokoknya bagus itu air terjun. Paling tinggi diantara semua yang pernah saya datangi," cetus Ohe, yang menggenapkan kesempatan keduanya mendaki pegunungan inni.

Untuk alasan itu pula, kami harus membagi rombongan dalam dua tim. 


[bersambung]


--Imam Rahmanto--