Minggu, 31 Desember 2017

Paket yang Tiba di 2017

Desember 31, 2017

Liburan akhir tahun?

Akh, saya tak tahu mau liburan dimana. Belum ada agenda. Lagipula, merayakan tahun baru sudah terlalu mainstream. Hampir semua orang sudah mulai mencari-cari kegiatan untuk menghabiskan detik-detik pergantian tahun. Penting gak sih?

Seandainya sudah punya tenda buat nge-camp, saya lebih suka menghabiskan waktu-waktu pergantian itu dengan hening malam. Menikmati waktu bersama satu atau dua orang teman, tanpa kebisingan petasan atau teompet. Berada di bawah jutaan kerlip bintang bakal lebih keren disini. Apalagi ada banyak pilihan bukit atau ketinggian di daerah ini. Sayang, musim hujan sedang tak berbaik hati memperlihatkan jalur milky way. 

Sejatinya, tahun baru tak mesti dirayakan dengan gegap gempita. Perayaan itu hanya kilasan-kilasan fisik, yang belum tentu bakal dikenang dan jadi pelajaran pada tahun berikutnya. Bukankah lebih baik kita mencerna dan meresapi;

Apa saja yang sudah dilalui selama setahun terakhir?

Foto dan desain kalender mini by Maulianna Camda. Manis, bukan?


#Pindah Tugas

Tahun ini menjadi momen perdana saya "dilemparkan" ke daerah, tepatnya Kabupaten Enrekang, oleh media-tempat-saya-bekerja. Tak ada unsur penolakan. Lagipula, saya menganggap itu sebagai bagian dari "setengah-pulang kampung". Karena sejarah lahir dan kenangan saya memang berasal dari sini meski kedua orang tua sudah tak lagi bermukim.

Awalnya, saya menyelipkan sedikit resah dalam pengalihan tugas itu. Wajar, saya yang sudah lama bersentuhan dengan suasana perkotaan merasa sedikit terkucilkan. Hanya saja, segalanya tentu berputar pada proses pembelajaran dan kebiasaan. Berjalannya waktu, saya sudah punya banyak alasan untuk bersyukur karena berada di daerah 1001 pegunungan ini.

Teman-teman baru, yang menawarkan ragam perspektif hidup. Penjelajahan baru, yang selalu kaya dengan pengalaman memandang hidup. Kebiasaan-kebiasaan baru, yang sedikit diantaranya juga (perlu disesali) menjadi kebiasaan buruk. Waktu-waktu, yang tentu jauh lebih berkualitas.

Selain itu, momen bertugas di daerah ternyata membawa keterampilan baru bagi saya. Buktinya, dua kali berturut-turut, grup nasional mendapuk buah penjelajahan saya disini sebagai naskah terbaik. Ini termasuk bagian terkerennya.

Pada hakikatnya, jika ada sepuluh alasan yang membuat saya tidak betah berada disini, saya selalu mengantongi seribu alasan untuk tetap bertahan di tempat ini. Wajar ketika saya "mengenyahkan" secara halus keinginan orang-orang kantor yang hendak mengembalikan posisi di perkotaan. Masih terlalu dini, menurut saya.

"Ya sudah, sekalian cari jodoh disana, Mam," cetus seorang teman.

Saya kurang yakin jika pencarian soal teman-hidup akan berakhir di tempat seperti ini. Jodoh, siapa yang tahu?
Kolase pekerjaan. (kolase by Imam Rahmanto)  


#Menggapai Atap Sulawesi


Ini salah satu pengalaman paling menakjubkan setahun terakhir ini. Sebenarnya, kota-kota atau tempat di Indonesia yang saya kunjungi semakin berkurang. Bisa dibilang, saya tak kemana-mana dalam rentang 2017 ini. Sungguh mengesalkan. Lha wong, saya harus standby di tempat yang berjarak tujuh jam perjalanan dari Makassar ini.

Okelah, saya tak bisa lagi berkunjung ke kota-kota lain di Indonesia. Padahal ada banyak tujuan dalam itinerary list saya. Sebagai gantinya, saya ditawari tempat-tempat memikat di Kabupaten Enrekang ini. Tempat-tempat yang hanya bisa dinikmati dari bawah atap langit, dengan seribu kerlip bintang di atasnya. Tak ada temaram cahaya kota yang menghalangi. Hanya ada alam yang selalu beresonansi.

Momen-tak-kemana-mana-di-Indonesia itu terbayar lunas oleh pendakian ke puncak tertinggi Sulawesi, Pegunungan Latimojong, Puncak Rante Mario. Apalagi Rante Mario adalah salah satu dari 7 Summits of Indonesia. Tak sia-sia rasanya memutarbalikkan otak demi memuluskan keinginan mendaki di kampung sendiri. Saya membuktikan pepatah lama di buku tulis usang, "Where there is a will, there is a way." Absolutely!

Ketika orang-orang bertanya,

"Sudah pernah mendaki Latimojong?"

saya dengan bangganya akan menjawab,

"Sungguh menyesal kiranya hidup di Enrekang dan seumur hidup belum pernah menyentuh triangulasi (patok) dari atas ketinggian 3430 mdpl!" #sombongg

Pendakian Latimojong juga mengantarkan saya pada beberapa keinginan lain. Barangkali, besok-besok, saya bisa menjejakkan kaki di puncak Rinjani atau Mahameru!!

Itu sebenarnya pose-pose menahan kedinginan. (Foto: Ohe Syam Suharso)


#Barang dan kegemaran baru

Pemenuhan kebutuhan tentu menjadi hal krusial bagi orang-orang yang telah menjalani masa kerja seperti saya. Meski jauh dari kehidupan kota dengan tawaran gelimang penghasilan, saya justru bisa memenuhi "keinginan-keinginan" bebas disini. Barang-barang idaman sudah ada dalam genggaman.

Mulai dari buku-buku yang masih bisa terpenuhi koleksinya, meskipun di Enrekang sama sekali tak punya toko buku, notebook (laptop) hingga kebutuhan (hobi) lainnya. 

Paling menarik, bagi saya, bisa memenuhi hasrat fotografi. Saya akhirnya bisa menggandeng kamera DSLR dalam setiap perjalanan melintas daerah. Saya mendapatkannya dari seorang teman, yang rela melepaskan Canon EOS 7D miliknya karena sudah memiliki koleksi teranyar. Entah bagaimana caranya, semesta berkonspirasi menyediakan barang itu untuk saya. Lebay!

Serius loh. Soalnya, tawaran pertama sempat terlepas dari genggaman saya. Karena waktu itu saya berpikir menyisihkan uang untuk keperluan adik saya yang baru saja mendaftarkan diri di sebuah perguruan tinggi di Jawa. Sebulan berikutnya, saya tak menyangka jika kamera miliknya itu masih available. 

"Tapi, Kak, kalau mauki, setengahnya mo dulu dih? Bulan depanpi kukasih ki sisanya," tawar saya sembari menyebutkan alasan kuliah itu.

"Janganmi deh. Karena kalau sedikit-sedikit kuambil, nanti malah habis duluan ki uang dipake,"

"Mending kau pake mi saja dulu itu kamera. Ndak apa-apa. Kumpul mi itu uang sampai bulan depan,"

Voila!! Tentu saja kesepakatan itu membuat mata saya berbinar-binar. Saya langsung mengiyakan dan tak lagi mengabaikan kesempatan kedua. Beruntung sekali saya dikelilingi orang-orang baik.

Selain itu, saya juga sudah punya alat-alat mengolah kopi. Meski tahun ini baru terpenuhi dua barang; Moka Pot dan Grinder. Paling tidak, saya sudah belajar menikmati olahan kopi tanpa mengandalkan sasetan. Dengan begini, saya juga belajar untuk menghargai jerih payah para petani kopi. Kalau kamu hidup di Enrekang, tentu paham bagaimana susahnya mengolah kopi yang berkualitas.

Gara-gara pendakian ke puncak Pegunungan Latimojong, saya juga semakin kalap memenuhi perlengkapan outdoor. Beberapa kali saya sudah melengkapinya via belanja online. Sampai-sampai warkop yang menjadi tempat landing barang-barang pesanan sudah mafhum.

"Itu kurirnya toh tidak bertanya-tanya mi lagi namamu kalau bawa barang kesini. Dia langsung bilang: ini kirimannya Imam lagi," ungkap barista, yang warkopnya seumur dengan waktu penugasan saya di Enrekang.

Ini namanya foto & kopi. (Imam Rahmanto)


#Beban yang bergerak

Barang-barang yang diidamkan itu tidak serta-merta membuat kebutuhan lain terbengkalai. Tanggung jawab sebagai anak tertua juga tetap menjadi alasan utama untuk fokus pada kebutuhan keluarga. Bahkan, tahun ini menjadi momen yang tak disangka-sangka bagi saya: bisa memenuhi pendaftaran kuliah adik saya.

Padahal, dalam hitungan saya di kala menginjak masa mahasiswa baru, biaya pendaftaran adik saya sangat-sangat-bukan-main-mahalnya. Status sebagai perguruan tinggi kesehatan memang kelihatan wajar. Ditambah, statusnya yang merupakan swasta.

"Nak, kalau kamu memang niat menyekolahkan adikmu, yakin saja, rejekimu tidak akan berkurang, kok. Begitu prinsip dasarnya orang tua menyekolahkan anak-anaknya," kata Bunda Baroroh.

Dan memang, saya justru tak merasa kekurangan dalam setahun terakhir ini. Sejujurnya, ada masa ketika saya harus bernapas dengan sesak dan mengelus dada. Akan tetapi, selalu ada pertolongan yang menjadi jalan keluarnya. Termasuk teman kantor yang selalu saya susahkan.

Sedikit demi sedikit, saya mulai paham bagaimana rasanya menjadi "orang tua". Keinginan adik saya untuk bisa bersekolah menjadi semacam bahan bakar tersendiri. Saya tak peduli lagi jika harus mengurangi porsi makan sehari-hari (padahal saya memang orangnya malas makan), menutupi kebutuhan pribadi dengan pinjaman teman (akhirnya bisa lunas kok), hingga menunda waktu pernikahan (lah, kalau ini kan memang belum ketemu jodohnya saja).

Pada akhirnya, hanya dengan melihat foto adik yang berseragam kuliah, dengan lagak centil bersama teman sejurusan, ternyata sudah bisa mengirimkan lengkungan senyum di bibir saya. *oke, mata saya berkaca-kaca pada bagian ini.

Beberapa hal juga sengaja saya lakukan untuk membuat orang tua berbahagia. Hal-hal sederhana seperti mengirimkan barang "surprise" yang sebenarnya jadi kebutuhan mereka. Harganya tak mahal, tapi nilainya yang jauh lebih penting. Saya memanfaatkan sistem belanja online, jadi tinggal mencantumkan alamat di Jawa. 

Saya semakin paham, senyum-senyum dari keluarga memang selalu menjadi doa tak kasat mata dalam kehidupan kita. Pun, apa yang saya peroleh hingga sekarang merupakan kombinasi dari doa mamak yang tak pernah berhenti berdenyut. *mata saya semakin sembap pada bagian ini.


#Rindu

Karena saya "mengasingkan" diri, tentu ada banyak rindu yang "ditabung" dalam setahun terakhir. Temu-temu mengurai benang rindu biasanya akan berakhir di kota Makassar. Sayangnya, saya masih belum rutin menyambangi kota yang menawarkan aroma rindu lebih pekat dari hujan itu.

Yah, selama 2017, ada banyak rindu yang harus terkubur dan tumbuh meninggi. Kawan-kawan lama, sahabat #Ben10, tempat-tempat favorit, kampus, hingga kisah-kisah usang yang hanya bisa menjadi kenangan...


***

Beberapa hal itu jadi bagian penting dalam pengalaman saya menjalani tahun 2017. Momennya memang lebih banyak saya lalui dari daerah yang masih teramat damai ini. Selebihnya, hal berulang yang pernah saya dapati pada tahun-tahun sebelumnya.

Apa yang saya inginkan tahun depan? Tentu saja saya masih punya beberapa keinginan sederhana hingga impian besar yang belum terpenuhi. Mengenai impian, tak ada salahnya memancang setingi-tinggi atmosfer. Yang menjadi kesalahan itu, belum apa-apa, kita sudah gamang dan mengkhawatirkan segala hal yang akan merintangi tujuan itu. That's LIFE, dude!

Dimana saya berada, nampaknya masih akan berputar sepanjang pegunungan menjulang ini. Penjelajahan lainnya menunggu dengan alam yang memanggil-manggil. Ketika tenda sudah siap, saya akan lebih sering menyapa dengan alam terbuka.

Untuk itu, saya tak ingin beresolusi terlalu muluk-muluk. Cukup dengan menjalani hidup apa adanya tanpa tersandera kekhawatiran-kekhawatiran tentang masa depan (dan kesibukan).

"Yesterday is history, tomorrow is a mistery. Today is a gift. That's why it's called the present." [Kungfu Panda, movie]

Selamat tinggal, 2017! ^^,


Pemandangan diambil dari atas situs batu dan masjid tua Tondon, Desa Tokkonan, Enrekang. (Imam Rahmanto)


--Imam Rahmanto--

Sabtu, 30 Desember 2017

Sosial(isasi)

Desember 30, 2017
(Foto: Imam Rahmanto)

Seorang teman tiba-tiba mengajukan pertanyaan menarik dalam perbincangan di grup WhatsApp (WA), 

"Motivasi kalian mengelola media sosial apa ya dan harus spesifik per media sosialnya?" sambil mencantumkan beberapa media sosial yang kini dimiliki semua orang.

Meski pertanyaan biasa, saya cukup tertarik menjabarkannya. Dewasa ini, media sosial memang sudah menjadi semacam "identitas" tersendiri bagi kebanyakan orang. Bahkan ada orang-orang yang menjadikan media sosial sebagai tempat mengeruk keuntungan, baik sebagai jembatan, maupun langsung mendapatkannya.

Facebook, sebenarnya bukan akun media sosial yang pertama kali saya kenal. Beberapa minggu sebelum berkenalan dengan media sosial berlatar biru itu, saya pernah punya Friendster. Bahkan sempat menikmati media sosial jaman old itu dengan memajang-majang foto. Eh, tapi, di jaman kami itu belum banyak ponsel yang bisa dipakai untuk mengambil gambar keren. Makanya, fotonya hanya satu atau dua saja. Sisanya, gambar-gambar yang dicari dari Google.

Saya menjadikan facebook sebagai salah satu wadah untuk bersosialisasi di dunia maya. Apalagi, penggunanya yang paling banyak diantara lingkungan saya. Semenjak "dipindahtugaskan" di Enrekang, saya melihat orang-orang lebih akrab dengan media sosial besutan Mark Zuckerberg ini. Bahkan, baru-baru ini, saya membantu seorang petani dari daerah pedalaman untuk membuat akun facebook miliknya.

Sayangnya, bagi saya, facebook sudah jadi ladang hoax belakangan ini. Saya jadi semakin malas berselancar di dalamnya jika bukan karena mengecek notifikasi dan informasi dari orang-orang di daerah.

Twitter, menjadi tempat saya mencurahkan uneg-uneg. Semacam tjurhat tjolongan lah. Maklum, sangat sedikit teman saya yang aktif di dunia kicau-kicau burung itu. Saya justru menemukan sedikit "ketenangan" dari media sosial dengan karakter terbatas itu. Dibandingkan facebook, Twitter jauh lebih aman. Meski begitu, informasi-informasi yang diperoleh dari sana justru lebih banyak.

Saya juga bisa lebih terhibur di Twitter. Biasanya dengan mengecek reply-an status yang jadi trending. Ada juga akun anonim yang bekerja membagikan hal-hal lucu semacam twitwar. Membacanya, jadi hiburan tersendiri. Apalagi kalau sudah soal "pepet-pepetan teroooss!!!". Hahahaha..... Makanya saya lebih memilih menginstal aplikasi Twitter di smartphone daripada facebook. 

Instagram, ini media sosial yang paling trending di kalangan anak-anak remaja hingga orang dewasa. Saya juga punya, dengan jumlah followers yang tak seberapa. Soalnya, jarang banget gue ngeksis disana. Saya hanya menjadikan IG sebagai akun untuk memamerkan hasil jepretan foto. Semacam galeri foto. Kalau twiter jadi tempat nyampah, termasuk nyampah foto, maka Instagram hanya untuk foto-foto pilihan saja.

Selama bertugas di Enrekang, saya lebih banyak belajar menggunakan kamera. Sekadar hobi. Apalagi, tulisan-tulisan saya akan lebih menarik jika bisa dijabarkan melalui beberapa gambar. Meski baru dalam tahap belajar, saya suka dengan perjalanan-perjalanan itu. Itulah mengapa saya lebih banyak mengikuti akun-akun fotografi lewat Instagram, mulai dari NatGeo hingga akun fotografernya sendiri.

Dulu, saya memulai Instagram untuk membagikan buku-buku yang menjadi koleksi saya. Sesekali, narsis dengan doodle. Tetapi, makin kesini, saya makin memilah apa yang ingin saya bagikan lewat Instagram. Sesekali (lagi), foto narsis tak mengapa. Asalkan tak banyak-banyak, soalnya bisa menyebabkan orang mual-mual.

Ada Goodreads, yang sebenarnya menjadi tempat membagikan ulasan-ulasan buku. Saya lebih sering menandai buku-buku bacaan dari sana.

Diantara teman-teman saya, nampaknya akun satu ini yang sangat jarang digunakan. Sesekali, saya mendapati buku-buku rekomendasi dari media sosial satu ini. Bagi para penggila buku, biasanya pasti gandrung dengan media sosial satu ini. Tiap tahun, ada nominasi buku-buku terbaik dengan berbagai genre-nya masing-masing. Bahkan, kita bisa "memaksa" diri sendiri untuk memasang target bacaan selama setahun terakhir.

Nah, tak ketinggalan, Pinterest, juga menjadi salah satu teman hiburan saya. Sesekali, saya membuka media sosial itu jika butuh ide. Toh, di dalamnya ada banyak ide-ide menarik yang menyegarkan kepala sekaligus mata. Apalagi tampilannya berupa grafis-grafis keren. Bagi yang suka dengan dunia desain grafis, sepertinya takkkan ketinggalan mengawasi laju timeline-nya.

Terlepas dari itu...

Semua akun-akun itu menjadi bagian individual saya. Tak ada urusannya dengan pekerjaan yang saya geluti. Saya acuh mencantumkan label perusahaan atau tempat bekerja saya disana. Biasanya kan orang-orang dengan bangganya mencantumkan tempatnya bekerja di Bio beberapa media sosial. Saya justru tak ingin dikenal melalui media sosial itu. Kalau mau kenalan lebih jauh, bisa kok duduk-duduk sambil ngopi-lah.

Karena tak semua yang kamu lihat di media sosial itu adalah benar adanya.

Saya juga agak enggan membagikan berita-berita dari media tempat saya bekerja. Sharing postingan dari blog saya justru bisa dibilang lebih banyak. Itu karena blog sudah menjadi "rumah" pribadi saya di dunia maya. Barangkali, orang-orang akan lebih mengenal saya dengan menyelami isi blog ini. Sementara media sosialnya, ya, seumpama hanya tempat bersosialisasi dengan kenalan-kenalan di dunia maya. Masa iya semua kehidupan kita harus dihubung-hubungkan dengan pekerjaan?

Yah, barangkali kegunaan media sosial bagi masing-masing orang memang berbeda. Anehnya, semakin tahun berganti, kita juga semakin lupa cara bersosialisasi yang sebenarnya di dunia nyata...

Seharusnya masa kanak-kanak dihabiskan dengan kepolosan seperti ini. (Imam Rahmanto)


--Imam Rahmanto--

Sabtu, 23 Desember 2017

Dua Buku yang Ditamatkan Sekaligus

Desember 23, 2017
Saya punya dua buku yang ditamatkan sekaligus pada akhir tahun ini. Padahal sudah penghujung tahun, dan target baca saya masih tidak banyak berubah. Baru 2/3 dari 30 jumlah buku yang berhasil rampung. Sementara stok-stok buku di kamar masih numpuk dan sebagian masih dibiarkan terbungkus plastik. Biar aromanya bertahan lama. Haha...

Tapi, sudahlah. Saya tak hendak membenarkan segala hal yang membuat saya lupa bagaimana cara membaca buku yang keren dan nyaman. Semakin dewasa, saya semakin sadar, ada banyak "alasan" yang bisa dibuat-buat agar tak membaca buku. Sementara alasan untuk membaca buku, meski barang 30 menit, bisa dihitung jari. Kalah banyak.

Dua buku yang saya tamatkan dalam rentang seminggu ini merupakan tumpukan yang sudah lama tertunda. Keduanya juga terbilang kontras. Baik dari segi cerita, maupun ketebalannya.

Salah satunya, Biografi Gusdur, sudah lama menjadi koleksi buku-buku tebal di rak. Kesempatan membaca buku karya penulis dari Australia, Greg Barton, justru saat saya berada di daerah ini. Ditambah, terlalu maraknya isu-isu tak sedap mengenai perpecahan agama membuat saya ingin menyelami seorang mantan Presiden RI ini.

Saya sungguh menyesal, di masa kecil dulu pernah mengolok-ngolok kondisi Gusdur saat memimpin partainya. "PKB, Pemimpin Kami Buta," lelucon yang kerap digembar-gemborkan dan terbawa-bawa pada keseharian kami. Sementara, kami tak pernah tahu dan paham betul urusan politik dan pemerintahan yang selalu branding di televisi. Kami lebih suka menunggui kartun-kartun minggu, yang masih lebih masuk akal bagi kesehatan mental kami.

Seiring waktu, saya baru menyadari, seorang Gusdur adalah guru bangsa. Pemikiran-pemikirannya tak lekang oleh waktu. Meskipun cara bersikapnya biasa tidak cukup dimengerti oleh kebanyakan orang, namun ia tetap punya jiwa yang tulus dalam setiap tindak-tanduknya. Wajar jika Gusdur begitu dihormati oleh semua pemuka agama, tak hanya dari seagama.

Saya sebenarnya berharap menemukan lebih banyak kisah dan "kelucuan" hidup ala Gusdur dalam buku yang ditulis Greg Barton ini. Sayangnya, sebagian besar isi buku ini justru menceritakan kisah Gusdur dalam tampuk kemepimpinannya. Beberapa cerita yang digabungkan memang fokusnya dengan segala hal yang berhubungan dengan masa-masa kepemimpinan Gusdur menjadi Presiden keempat RI.

Padahal, jika biografi Gusdur dibuatkan menjadi semacam novel, akan lebih baik membacanya. Barangkali untuk saya, karena kecenderungan saya dalam mencerna cerita. Buku ini semacam referensi tambahan bagi siapa saja yang ingin menyelami sejarah Indonesia. Bisa menjadi rujukan untuk penelitian-penelitian. Hal itu yang membuat pembahasan agak berat.

Butuh hampir sebulan untuk menamatkan buku bersampul putih ini. Jumlah sekira 500 halaman dicicil dalam beberapa hari. Saya lebih sering meluangkan 30-60 menit untuk membaca beberapa lembar. Setelah itu, tak boleh dipaksa. Kalau capek, ya, berhenti.

Gara-gara sering kedapatan baca buku ini, seorang teman pernah nyeletuk, "Wah, sekarang kamu jadi NU, ya?". Padahal, saya tak pernah mengkhususkan diri saya dalam Muhammadiyah atau NU. Buktinya, tempat saya dilahirkan di Enrekang adalah basis Muhammadiyah, sedangkan keluarga besar dan kampung halaman di Jawa merupakan basis NU.

Tetapi, buku ini berbeda dengan buku membosankan lain yang pernah saya baca. Bagaimana pun beratnya pembahasan dalam buku ini, saya tetap berusaha menamatkannya. Saya tidak meninggalkannya begitu saja. Seperti makan kacang goreng, yang rasanya tak lezat-lezat-amat, tapi mulut tak ingin berhenti untuk terus mengunyahnya. Itu!

"Tidak penting apa pun agama atau sukumu. Kalau kamu bisa melakukan sesuatu yang baik untuk semua orang, orang tidak pernah tanya apa agamamu." --Gusdur

Intinya, buku ini bukan rekomendasi yang baik bagi pecinta novel atau cerita-cerita semacamnya. Namun, bagi siapa saja yang ingin belajar memahami sejarah Indonesia rentang orba-reformasi, biografi ini bisa menjadi referensi tambahan.

Tipis-tipis gini, bukunya keren lho. (Imam Rahmanto)

Ohya, buku kedua yang saya tamatkan tergolong buku yang baru-baru saja saya beli di Makassar. Hanya karena tertarik melihat penulisnya (yang legendaris), Ernest Hemingway, maka saya tak perlu berpikir dua kali memboyongnya. Saya punya dua koleksi baru dari Ernest. Ketebalannya tak seberapa, karena bisa ditamatkan sekali duduk. Makanya disebut novella.

Tapi jangan salah, buku berjudul The Old Man and The Sea ini merupakan karya yang membawa Ernest meraih penghargaan Pulitzer dan Nobel. Novel klasik ini sudah melalui berbagai zaman dan masih tetap dicetak sampai sekarang. Pun, saya tertarik membelinya karena beberapa kali menjumpai penyebutan judul bukunya itu di film-film ataupun novel terjemahan lain. Saya lupa buku atau film apa saja yang menyebutnya.

Seperti ulasannya, gaya bercerita Ernest memang cukup gurih. Saya menikmati caranya bercerita yang tidak terkesan mendayu-dayu. Bahkan, sebagaimana gaya para jurnalis, ia "lurus-lurus" saja menceritakan kisah nelayan tua yang melaut di hari ke-85. Setelah 84 hari melaut tanpa tangkapan ikan, ia akhirnya bisa bertarung dengan ikan besar dan membawanya pulang ke rumah. Sayang, prestasinya itu sirna dalam perjalanan pulang ke rumah.

Ah, rasa-rasanya tak elok jika saya harus menceritakan kisah buku yang hanya setebal seratusan halaman itu. Apalagi buku itu juga bisa habis dibaca dalam sekali lahap. Seolah menonton drama panggung monolog, kita akan dibawa berpetualang di lautan lepa oleh nelayan tua, Santiago.

"Tetapi siapa tahu? Setiap hari adalah hari baru. Memang lebih baik kalau ada keberuntungan. Tetapi aku lebih suka berusaha dengan tepat. Lalu kalau keberuntungan itu, datang kita sudah sepenuhnya siap." The Old Man and The Sea, Ernest Hemingway

Pada akhirnya, saya hanya bisa menutup penghujung tahun 2017 dengan dua buku terakhir itu. Saya harus menerima bahwa belum bisa menuntaskan target baca selama tiga tahun belakangan. Setiap kali menurunkan target bukunya, tetap saja tak kesampaian. Nasib, nasib! Sementara koleksi buku harus bertambah setiap tahun. []

Stok di daerah. (Imam Rahmanto)


--Imam Rahmanto--


Kamis, 14 Desember 2017

Auto Pilot

Desember 14, 2017
"Eh, seharusnya kan tidak lewat sini?" tanya seorang kawan.

Kami berboncengan mengendarai motor diantara padatnya jalanan kota Makassar. Sebenarnya, malam sudah nyaris larut dan mengantarkan orang-orang terlelap dan lepas dari kesibukannya. Hanya saja, saya punya satu janji temu yang mesti dituntaskan dengannya malam itu.

Saya hampir saja lupa dengan lekuk dan kelok jalan kota. Sudah genap sebelas bulan saya menghabiskan waktu liputan di kampung halaman. Kesempatan berbaur dengan aroma kota hanya sesekali mampir dan dituntaskan. Saya masih terlalu bahagia dengan kehidupan ala "anak kampung". Selebar-lebarnya jalanan di kota, masih lebih lapang lintasan jalan di kampung. Bagaimana tidak, lebar jalanan di kota berbanding lurus dengan membeludaknya kendaraan bermesin para pekerja kantoran.

Jalan yang saya tempuh sebenarnya tak sepenuhnya salah. Ingatan-ingatan yang tersisa di kepala mengambil alih kendali. Seolah sudah terprogram otomatis di kepala. Barangkali karena sudah terbiasa melalui jalan yang sama, selama berminggu-minggu, atau bertahun-tahun silam. 

"Eh, alamatnya lewat!"

"Waduh, kejauhan. Harusnya bisa lebih dekat lewat sana,"

Tak jarang, hal yang sama juga berlaku dalam perjalanan-perjalanan menuju tempat lain. Sistem "auto pilot" biasanya menjadi panduan. Pokoknya, jika sudah terbiasa melalui jalan yang sama, berulang-ulang, berkali-kali, kita bisa mengendalikan motor tanpa kesadaran penuh. Biasanya ya, karena kita memang sedang memikirkan hal lainnya di waktu mengendarai motor. Jadinya, kesadaranlain mengambil alih.

Itu loh, biasanya dalam dunia penerbangan, sistem kendali otomatis semacam itu menjadi urusan komputer tanpa campur tangan manusia. Padahal, tanpa kita sadari, sebenarnya sistem itu juga berlaku dalam kepala kita dalam mengendalikan apa pun. 

(Foto: Imam Rahmanto)

Dalam kehidupan sehari-hari, sistem mengendarai motor pun hampir sama. Bagi saya, autopilot tetap bisa berlaku dalam kehidupan dan semesta. Semesta masing-masing juga punya sistem auto pilot-nya. Semesta manusia, bukan sekadar semesta antariksa, yang memang sudah berputar dan berjalan otomatis pada porosnya masing-masing. 

Ini hanya soal kebiasaan saja. Kebiasaan kita dalam menjalani kehidupan seharusnya sudah dipancang jauh-jauh hari. Tak sekadar "biarkan hidup mengalir seperti air." Sistem manual seperti ini sama sekali tak menunjukkan "kecanggihan" hidup. *tsahh.

Asalkan kita sudah menanamkan tujuan-tujuan itu dari awal, sistem auto pilot akan terbentuk seiring hal-hal yang diperbuat untuk meraih tujuan itu. Kadang-kadang ia bekerja tanpa disadari. 

Semisal mencanangkan tujuan hidup, cita-cita, impian-impian yang ingin diraih, barang-barang yang ingin dikoleksi, dicanangkan dengan cukup ketat. Tetapi bukan sekadar berimajinasi terhadap hal-hal itu. Seperti kata para pakar motivasi dan inspirasi, tak ada salahnya menuliskan di secarik kertas atau buku yang menjadi jurnal. Menuliskannya, pertanda kita benar-benar serius menginginkannya. Seperti kata gombalan, "kuukir namamu dalam hati agar benar-benar abadi dan tak terlupa oleh ingatan." 

Ketika benih "tujuan" itu sudah tertanam, apa pun yang dilakukan arahnya akan menuju kesana. 

Kendali otomatis itu juga sangat dibutuhkan loh. Semangat yang fluktuatif menunjukkan bahwa kita hanya manusia biasa. Di kala semangat sedang turun-turunnya atau jeblok sekaligus, mekanisme auto pilot bisa saja mengambil alih. Ia akan bekerja sampai kita kembali siap memegang kendali. 

Setidaknya, saya mengalami banyak hal dengan kendali otomatis itu. Betapa Tuhan punya kendali dalam mewujudkan apa yang bergaung dari alam bawah sadar... :) []


--Imam Rahmanto--

Minggu, 03 Desember 2017

Pelukan

Desember 03, 2017
Puncak Rante Mario begini, kapan lagi ya? (Imam Rahmanto)
"Kalau saya di Enrekang, ajak ke Latimojong nah," komentar seorang teman, yang berlanjut dalam pesan pribadi.

Teman lelaki saya itu baru saja mengomentari sebuah unggahan di Instagram, yang sebenarnya tak berkaitan dengan sesuatu yang dikomentarinya itu. Barangkali, hanya karena merasa momennya, setidaknya mengingatkan saya yang tidak begitu aktif dijumpai di dunia maya. 

Saya menganggap ajakan itu sebagai isyarat, bahwa sudah saatnya saya harus kembali mengepak ransel, menikmati alam. Meskipun saya ragu bisa menjadi penunjuk jalan baginya, setidaknya ada kenalan di sekitar pendakian itu kok. Momen dadakan semacam itu kerap kali lebih bernilai pahala dibanding hal-hal terencana dan sistematis.

Banyak hal yang kemudian saya pelajari sepulang dari proses pendakian itu. Saya dipaksa untuk melengkapi atribut travelling atau perjalanan yang bersifat pribadi atau individual. Sepulang dari gunung, langsung mengencangkan tekad untuk melengkapinya satu demi satu. Kalau sebelumnya saya menginvestasikan gaji bulanan dengan aroma buku, maka berbelok sedikit dengan investasi perlengkapan travelling. Lagipula, nyari toko buku di Enrekang teramat-sangat-amat-susah-sekali-banget.

"Jadi, ceritanya ini ketagihanko mau naik gunung terus?"

Meski bukan pecinta kegiatan mendaki, saya tetap menganggapnya hal yang perlu. Terkadang, kita butuh tempat-tempat maha luas untuk menghilangkan kejenuhan. Sementara alam sudah menyediakan banyak tempat untuk bisa merenung atau berkontemplasi. Siapa yang bisa menyangka saya akan lebih sering menjelajahi tempat-tempat serupa, meski di daerah yang berbeda?

Bukan naik gunungnya yang membuat saya begitu tertarik. Sebaliknya, saya justru menikmati alam yang begitu memukau dalam proses perjalanannya. Pemandangan baru selalu menawarkan sensasi baru. 

Barangkali, kehidupan saya akan diwarnai dengan banyak perjalanan. Entah bagaimana caranya, seolah ada yang membisiki untuk terus bergerak. Ayo, ayo, berjalanlah. Kuy! Bisikan-bisikan itu menjelma dalam bentuk paling dramatis yang bisa saya bayangkan. Bagi manusia, itu sudah terencana. Namun jauh di balik sepengetahuan akal kita, hal semacam itu semata-mata merupakan skenario yang dijalankan semesta.

Serius. Beberapa ajakan berpetualang sempat mendarat dalam lini harian saya. Beberapa hari yang lalu, ada tim pendakian difabel yang hendak menapaki puncak Gunung Sesean, di kabupaten tetangga. Saya cukup familiar dengan puncak itu. Beberapa anggota tim juga merupakan kenalan saya. Sayangnya, saya mengabaikan karena berada di luar wilayah "hukum" tugas peliputan sehari-hari.

"Imam, kau buatkan naskahnya ya," pesan redaktur keesokan harinya. 

Lantaran teman (senior) yang berada di daerah bersangkutan sedang keluar daerah. Lah, kalau tahu begitu, saya lebih baik ikut bersama rombongan itu sejak awal. Penyesalan yang mendalam. #jlebb

Kepolosan seperti ini masih cukup meneduhkan kepala diantara terik tugas-tugas menembus jarak. (Imam Rahmanto)

Kukuhnya pertahanan saya untuk tetap berada di Enrekang juga dilatari oleh keinginan untuk menjelajahi lebih banyak tempat keren. Saya sudah terlalu blenger dengan suasana perkotaan yang hanya bisa memamerkan kebahagiaan-kebahagiaan semu. 

"Yah, teman-teman saya juga lebih banyak bertanya dengan kehidupan saya disini. Mereka kabanyakan iri dengan aktivitas saya, yang kelihatan seolah banyak jalan," cerita seorang teman, yang pernah 18 tahun menghabiskan hidupnya di Jakarta.

Baginya, hidup di perkampungan jauh menawarkan kedamaian. Tak ada kepura-puraan. Meski tak dilumuri banyak kemewahan, ia masih bisa hidup dengan kepuasan. Masih bisa mengangkat tripod dan lensa kameranya ke tempat-tempat tinggi. Masih bisa tertawa-tawa menyiasati masalah percetakan sablonnya yang biasa ketiban listrik padam dadakan. Pun, kemewahan masih bisa dipesan sekali-dua kali melalui jaringan belanja online. Saya juga sudah terpapar "virus" belanja modern semacam itu.

Saya beruntung berkenalan dengan teman-teman yang suka-jalan dan photography enthusiast. Kadangkala, ajakan juga mendarat di pesan-pesan gawai. Tak jarang pula, mereka berpetualang hanya dengan mengajak anggota komunitasnya. 

Saya sendiri berpikir, ada masanya kejenuhan bakal menghampiri kehidupan disini. Sekuat-kuatnya saya bertahan agar tidak beranjak, perasaan itu akan tiba. Kejenuhan bukan hal yang bisa ditolak mentah-mentah. Setiap orang punya titik jenuhnya. Bahkan untuk ukuran orang-orang yang selalu punya waktu luang, tak melakukan apa-apa, bisa juga dihinggapi rasa bosan-tak-melakukan-apa-apa.  

Akan tetapi, sejenuh-jenuhnya kehidupan manusia, alam selalu punya cara terbaik untuk menghadiahkan pelukan. Kehidupan terakhir manusia, juga, semata-mata jatuh ke haribaan alam.

Setidaknya, saya mesti bersiap-siap saja dengan segala kemungkinan (kejenuhan) itu. Tak perlu kecewa dengan risiko terburuk. "Jangan karena takut gelombang, maka kamu takut berlayar. Jangan karena takut patah hati, kamu takut jatuh hati. Dan jangan karena takut hujan, maka kamu takut cuci motor." #ladalah

***

Beberapa hari ini, saya sedang  merancang perjalanan ke Makassar. Banyak janji temu yang mesti ditunaikan. Sayangnya, cuaca kota yang sedang tak bersahabat membuat saya tak ingin begitu tergesa-gesa. Hujan kian menyiratkan lebih banyak genangan di kota ribuan beton itu. Frasa genangan selalu karib dengan kenangan.

Sebenarnya beberapa kenangan memang patut disambangi. Mengutip status teman dari jauh, Apa persamaan mangga dan rindu? Bila sudah matang, segeralah dipanen. 

Jangan biarkan perasaan rindu terlalu lama dipendam. Rindu jalan. Rindu teman. Rindu keramaian. Padahal, sebenar-benarnya rindu saya berputar pada aroma buku-buku baru dari Gramed**. Hahaha...menghabiskan "nafsu" buku. Oiya, bisa sekalian nengok toko-toko perlengkapan outdoor sih.


--Imam Rahmanto--  

Minggu, 26 November 2017

Mandek

November 26, 2017
Hujan baru saja berhenti. Beberapa jam yang lalu, mengguyur tanpa aba-aba. Saya  tak bisa memastikan langit mendung karena tertutup gulita. Kecuali, tak ada gemerlap bintang menjadi penandanya. Toh, samar-samar cahaya sabit masih setia bersinar. Beberapa hari ke depan katanya bakal ada purnama supermoon.

Seperti biasa, senyap menyergap diantara bangku-bangku warkop tongkrongan saya. Meskipun di kosan sudah tersedia Moka Pot untuk mengolah kopi jadi espresso, saya tetap rutin menyesap kopi dari tempat ini. Barangkali sekadar melepas perbincangan ringan dengan pemilik warkop atau teman tongkrongan rutin. Atau hanya menatapi layar notebook yang makin membuat mata saya minus.

Salah satu alat coffee-maker itu baru saja tiba beberapa hari yang lalu di kamar saya. Sebagaimana keinginan untuk mengolah kopi (tanpa instan) secara manual. Sayangnya, masih kurang grinder kopi. Terpaksa, saya memesan kopi setelah digrinder langsung. Tenang saja, saya juga akan melengkapi kosan dengan grinder kopi itu.

Beruntungnya lagi, seorang teman dari Jawa juga berniat mengirimkan biji kopi roasting-nya untuk saya. Malah, biji kopi dari Papua. Katanya sih, coffee-bean itu dari sisa pameran timnya di Jakarta. Lumayan kan buat eksperimen seduhan kopi. 

"Tapi situ yang tanggung ongkir ya," todong teman saya. Pastilah.

Saya memang butuh sesuatu yang baru untuk mengatasi kejenuhan dalam beberapa hari ini. Bahkan, urusan kirim-mengirim berita, saya jadi agak ogah-ogahan atau seadanya. Saya tidak begitu memaksakan diri lagi dalam hal pekerjaan. Bagi saya, bekerja ya secukupnya saja. Mau memaksakan diri juga tidak begitu bermanfaat karena keterbatasan "kuota" atau jatah berita bagi anak-anak daerah. Saya justru harus mengakalinya dari medium lain.

Semenjak "badai" kemarin, saya belum merasakan perubahan berarti di tubuh perusahaan media kami. Saya justru semakin melihat sesuatu yang memang dicemaskan petinggi-petinggi yang hengkang. Keberpihakannya semakin terasa sih. Barangkali hanya karena saya jauh berada di daerah, maka nuansanya tidak terasa. 

Itulah kerennya berada di daerah. Gonjang-ganjing di kota hanya sebatas kabar-kabar yang kabur. Seperti sinyal telepon yang juga agak lemah di perkampungan, informasinya juga tak begitu jelas. Tetapi, itu justru membuat kepala saya terasa tenang dan ringan.

Beberapa hari ini, saya sebenarnya ingin mencari tempat-tempat untuk berkemah atau menjelajah alam. Sayang sekali kalau Sleeping Bag (SB) anyar saya tergeletak saja di dalam kamar. Apalah daya, tak ada ajakan. Atau sebenarnya, saya saja yang tak ada inisiatif. Terlalu banyak pilihan mau kemana. Akhirnya, tergeletak dan tak ada yang terealisasi. Hahaha.....

Menggantikan perjalanan outdoor dengan membaca buku juga masih itu-itu saja. Toh, bacaan saya belum kelar-kelar. Selalu saja ada yang menyela atau mengganggu, termasuk keinginan membuka-buka media sosial. Ckckck... wajar kalau target bacaan tahun ini kembali mandek. 

Ini semua nyambung-nyambung saja ya? Iya. Gitu doang. 

Yang namanya Moka Pot itu tuh. (Imam Rahmanto)


--Imam Rahmanto--

Sabtu, 18 November 2017

Bayang-bayang di Kepala

November 18, 2017
"Piye kabare, Pak?"

Saya mengawali perbincangan malam itu dengan pertanyaan basa-basi. Tak biasanya saya yang menelepon langsung ke orang tua. Mimpi malam sebelumnya benar-benar membuat pikiran saya agak was-was. Sedikitnya disusupi pula rasa takut.

Mimpi itu tak begitu menakutkan secara realitas. Hanya saja, berbagai tafsir mimpi yang saya jelajahi di Google menyebutkan itu sebagai hal yang sangat menakutkan. Primbon Jawa juga berkata hal yang sama. Gigi tanggal atau copot dalam adegan berdurasi relatif itu sama sekali tak bisa dikatakan bunga tidur. Tanpa sebab, dan tanpa ada adegan seperti yang selalu dibintangi Jackie Chan. 

Ditambah lagi, saya terbiasa tidur tanpa ekspektasi atau drama mimpi apa pun. Bangun tidur, plong, hanya sedikit kesiangan. Namun, entah bagaimana, mimpi itu baru saja muncul dan memaksa saya harus menekan tombol panggilan untuk adik saya, sebelum melanjutkan ke Bapak.

Saya awalnya menyangka, adegan packing dadakan - meninggalkan pekerjaan - menggeser prioritas di kepala, akan terjadi pada waktu itu. 

(Foto: Imam Rahmanto)

***

Belum genap setahun semenjak saya terbang sendirian ke kampung halaman keluarga. Bukan urusan besar, lantaran hanya sekadar menyambangi acara pernikahan saudara sepupu. Hanya saja, saya mesti memangkas jarak Enrekang - Lamongan demi meneguhkan kepercayaan bapak. Bagi bapak, anak sulungnya ini masih belum bisa dipercaya menyediakan prioritas keluarga di segala kerumitan kepala. Apalagi insiden kecil pernah membuat kami "berseteru".

Meski begitu, saya belajar banyak hal dari kejadian masa lampau itu. Bahwa keluarga selalu punya tempat khusus dalam kehidupan siapapun. Sekecil-kecilnya permintaan mereka, saya harus menyanggupi semampu-mampunya. Hal itu seiring peran saya yang semakin bertambah. Bapak sudah lama mengidap penyakit, yang memaksanya hanya bisa berbaring meski masih bisa jelas tertawa dan bercanda.

Saya belajar, pekerjaan dan keluarga tentu menjadi hal yang harus tetap terhubung. Hal itu pula yang memaksa saya harus tetap menghubungkan keduanya dengan berbagai jenis penerbangan lintas pulau. 

Saya pernah menjajal perjalanan laut karena biaya yang lebih murah. Hanya saja, waktu untuk bertemu keluarga jauh lebih lambat. Perjalanan melintas pulau tak ada harganya jika dibandingkan momen menatap senyum sumringah bapak dan mamak. Selain itu, saya sudah mulai harus membiasakan diri melakukan perjalanan udara, kelak.

Toh, teknologi sudah menawarkan banyak kemudahan bagi siapa saja yang ingin mencoba. Traveloka ternyata menjadi "kelinci percobaan" pertama saya dalam membandingkan harga dan jadwal tiket pesawat. Saya bisa lebih mudah memilih jadwal dan jenis penerbangan terbaik versi saya. 

Seusang-usangnya hape, harus selalu standby dengan perjalanan kemanapun. (Imam Rahmanto)

Pengalaman terbang beberapa kali membuat saya lebih condong pada maskapai tertentu. Bahkan, saya juga baru paham bahwa tiket melonjak di waktu-waktu tertentu. Itulah gunanya mengecek jadwal penerbangan jauh hari sebelumnya. 

"Serius, sudah pesan tiket? Trus piye cara mbayar? Lewat apa?" tanya bapak, suatu ketika.

Belum genap seminggu putranya melepas rindu di rumah, sudah ujug-ujug ingin kembali lagi berkutat dengan pekerjaannya. Baik masa lowong maupun Idul Fitri tak pernah bisa habis dinikmati di kampung pinggiran Bengawan Solo itu. Maklum, waktu libur pekerja media memang sangat minim. Bahkan, kami harus mencuri-curi waktu demi mengakali cuti.

"Sudah. Kan, tadi aku dari ATM di Pasar Babat. Ngirime ya lewat transfer. Kalau tiket sekarang ndak mesti nyetak. Sudah ada di dalam hape," jawab saya seadanya, menyesuaikan pengetahuan bapak soal smartphone dan tetek-bengeknya.

"Jadi, berangkat jam berapa?" 

Saya cukup menggeser jari diantara menu sederhana yang sudah disediakan Traveloka. Tiket elektronik biasanya sudah dikirimkan hanya dalam rentang perjalanan saya dari pasar kota ke rumah. Segalanya sudah terangkum jadi satu. Bahkan, fitur untuk menjadwal ulang penerbangan sudah tersedia begitu apik. Memesan tiket tak perlu ribet, kan?

Nampaknya saya memang sangat sulit berpisah dengan aplikasi travelling itu. Saya sengaja menyisakannya diantara beberapa aplikasi lain yang memberatkan memori. Alasannya tentu karena saya selalu berpedoman pada aplikasi berlogo burung biru itu untuk urusan tiket penerbangan, kemana pun. Meski pada kenyataannya, history saya masih berputar antara Surabaya dan Makassar. 

Oleh karena itu, jikalau pun kemarin bakal ada skenario packing dadakan - meninggalkan pekerjaan - menggeser prioritas di kepala, saya sudah percaya diri terbang dengan satu-dua ketukan lewat aplikasi tersebut

***

"Seger waras kok, Im..." jawaban Bapak yang tegas terasa melegakan.

Ia juga sedikit bercerita tentang keadaan rumah. Berganti dengan sedikit kabar saya tentang pekerjaan. Meski bukan pekerjaan yang diingini Bapak, lambat laun ia sudah mulai memahami dan nrimo bahwa PNS bukan satu-satunya pekerjaan keren buat anaknya. Ia mengerti, anaknya lebih suka bertualang di luar ruangan kedap udara dan ber-AC.

"Sudahlah, rausah dipikir. Anggap saja sebagai bunga tidur. Yang penting berdoa saja supaya ndak ada apa-apa," pesan Bapak dari ujung telepon. Saya mengangguk pelan. 

Tempat dimana rindu akan selalu berlabuh. (Imam Rahmanto)

--Imam Rahmanto--

Sabtu, 11 November 2017

Melambat Sederhana

November 11, 2017

Udara berhembus begitu lembut. Matahari masih sementara dalam perjalanannya menuju senja. Pohon-pohon yang rindang, membayang ke atas permukaan jalan beraspal. Tak peduli debu-debu berebutan mengganggui angin.

Saya mengayuh pedal sepeda pelan saja. Semilir lembutnya semakin meneduhkan diantara pemandangan permukaan sungai. Hujan kemarin, membuat permukaannya tak bisa memantulkan lebih banyak bayangan. Hanya arusnya saja yang terus mengikis pinggiran.

Untuk pertama kalinya kembali, saya menikmati senja dengan menggowes sepeda. Barangkali sudah hampir setahun saya tidak menatap bebas kilasan sore dengan kegiatan ringan semacam ini. Terakhir kali, saya bersepeda di jalan-jalan kota Makassar. Tentu suasananya jauh berbeda dengan perkampungan yang lebih menawarkan aroma udara bebas polusi.

Seorang teman mengawalinya dengan ajakan di sela-sela waktu ngopi.

"Betulan? Ayo pale. Ada ji sepedaku juga di rumah. Sudah lama tidak olahraga begitu," ujarnya, "Adakah sepedamu?"

Saya menggeleng. Sebenarnya, sejak berada di Makassar, saya sudah lama mengidamkan memiliki sepeda untuk kegiatan-kegiatan santai berkeliling kota. Hanya saja, kesibukan menyita lebih banyak waktu dan perhatian.

"Gampang ji itu, Kak. Sudah lama mi saya minta (pinjam) sepedanya Pak Ulla kalau mau ka pakai. Dari kemarin ji sebenarnya dia bilang," jawab saya, memantapkan diri.

Seorang kenalan di salah satu dinas memang pernah menawarkan sepedanya untuk dipakai. Ketimbang sepedanya hanya tinggal di rumah dan berkarat. Hanya saja, saya baru punya waktu dan betul-betul bersemangat, beberapa hari yang lalu. Apalagi ada ajakan teman yang juga ingin menurunkan berat badannya. Barangkali lemak di sekitar perutnya jadi target prioritas.

Berbeda halnya dengan saya, yang hanya ingin menikmati suasana bersepeda. Saya tak perlu ribet menyiapkan banyak hal, sampai pada tataran perlengkapan ala berpakaian olahraga. Intinya, saya bersepeda.

Saya rindu menikmati waktu seperti itu. Seolah waktu melambat dengan begitu sistematis. Bersepeda bisa membawa kita pada pandangan yang lebih banyak. Bukan sekadar kilasan-kilasan asal lewat seperti yang dialami dalam kecepatan tinggi. Semakin lambat, hawa udara terasa semakin bersahabat.

Mata bisa lebih santai ke segala arah. Memandangi keadaan di sekitar lorong atau jalan-jalan kota. Bertemu lebih banyak orang. Membalas senyum dan sapaan ramah dari kenalan. Ditambah earphone di telinga, bersepeda semakin melankolis. Merasa damai bisa sesederhana itu.

Kok sendirian? Aduh, itu pertanyaan memancing deh. (Foto: Jufriadi)

***

Beberapa waktu lalu, pimpinan di Makassar bertanya tentang kondisi saya di Enrekang. Pertanyaannya juga secara halus meminta untuk saya kembali bertugas di Makassar, mengingat kondisi perusahaan yang sempat dihempas "badai". Sayangnya, saya masih belum bisa mengemas barang-barang. Saya lebih memilih bertahan agak lebih lama.

Sementara itu, buntut "badai" itu membuat beberapa teman saya ditarik dengan alasan memperkuat desk di perkotaan. Tawaran jadi redaktur tentu cukup menggiurkan. Saya mah apa atuh, masih betah jadi orang desa.

Jauh dari hiruk-pikuk perkotaan membuat saya lebih banyak berpikir. Huru-hara di kantor tidak begitu signifikan berpengaruh "aromanya" pada kami, yang berada ratusan kilometer jauhnya. Hanya sebatas informasi, yang dibungkus prasangka satu sama lain. Meski begitu, saya tak pernah ingin terlalu jauh menanggapinya. 

Di luar dari itu, saya masih tetap aktif menjalin hubungan dengan teman dan senior yang memilih pergi. Mereka sebenarnya masih belum menyerah mengajak saya menjadi salah satu bagiannya. Hanya saja, beberapa pertimbangan membuat saya masih kukuh untuk berada disini. 

"Kapan-kapan kalau saya di Makassar, nantilah kita ketemu ngobrol sambil ngopi-ngopi, Kak," ujar saya.

Mereka juga nampaknya paham bahwa, untuk saat ini, saya takk begitu tertarik kembali beradu kesibukan di tengah kota. Tawaran mereka juga sekaligus untuk saling bertanya kabar. Tak boleh ada kebencian diantara pilihan-pilihan yang dijalani.

Kehidupan di perkotaan itu ibarat mengendarai motor, yang melaju kencang tanpa permisi. Tujuan lebih cepat tercapai, apalagi dengan sedikit menarik gas. Sayang, kesibukan bercampur aduk. Meski dihujani denga berbagai fasilitas ala orang-orang kota, tetap saja ada nuansa kedamaian yang terenggut. Seolah-olah, kita hidup hanya untuk bekerja dan terus bekerja.

Untuk kali ini, saya lebih senang mengendarai sepeda. Iramanya memang lebih pelan dan menggambarkan kesederhanaan. Akan tetapi, saya lebih punya waktu untuk sekadar melemparkan senyum, sapaan, atau lambaian tangan ke arah orang-orang yang melintas dalam kehidupan saya. Saya lebih leluasa melalui jalan yang sempit. Tak perlu khawatir pula bakal kehabisan bahan bakar.

"Kenapa tidak mau lagi kembali?" tanya salah seorang teman.

Bukannya tak mau. Hanya saja, untuk saat ini, nampaknya saya belum mengukuhkan minat. Apalagi ada banyak hal yang belum saya tuntaskan di kabupaten kelahiran saya ini. Salah satu misi saya memuncaki Pegunungan Latimojong memang sudah terbayar lunas. Tetapi masih ada banyak keindahan lain lagi yang mesti ditelusuri dan tak bisa dijalani terburu-buru.

Barangkali, kelak, saya akan kembali ke kota kok. Karena siapa yang bisa menebak ke arah mana kita akan berlabuh dan berhenti? Selama pedal tetap digowes, roda berputar lancar, kehidupan akan terus berjalan, bukan?. []



--Imam Rahmanto--

Sabtu, 04 November 2017

Prahara

November 04, 2017

"Roger, capt. Roger," katanya, "Kapal kita sedang dihantam badai besar. Badai itu nampak sangat besar dan bergulung-gulung, capt,"

Sang kapten terdiam. Dalam hatinya, ia sempat berharap digulung saja bersama kapal kesayangannya. Apalagi, badai besar baru pertama kali mengadang kapal besarnya. Selama ini, tak ada ombak yang mampu menggores geladak kapalnya. Kini, badan kapal terombang-ambing nyaris terhempas. Beberapa menit lagi, barangkali, tubuh-butuh merekan akan ditemukan mengapung-apung di tengah lautan.

"Roger, capt. Apa yang harus kita lakukan sekarang?" kru kapal terlihat panik. Tali kekang dan layar sudah tercabik-cabik setengahnya. Retakan di lantai geladak.

Suara badai teramat bising. Kru kapal terlempar kesana-kemari. Letupan-letupan kecil bergantian menghabisi kapal. Petir menggelegar dari arah utara. Langit menunjukkan kemarahannya yang telah lama menguap di atas awan. 

Akan tetapi, jauh dalam dimensi yang berbeda, suara-suara itu menghilang ditelan sunyi. Senyap. Tak ada suara. Ombak hanya terlihat seperti slow-motion yang dikendalikan dari ujung remote tivi. Air mata mengucur tak tertahankan.


***

Saya tak tahu lagi bagaimana menggambarkan "kekacauan" yang sedang terjadi pada media tempat saya bernaung. Setelah lama berlayar, media besar itu akhirnya dihantam "ombak". Benar-benar memilukan. Kekacauan itu justru berasal dari dalam.

Beberapa orang memilih pergi. Akh, bisa dibilang, banyak orang. Tanpa ragu, mereka menanggalkan identitas sebagai pelaku media yang selama ini pernah disandangnya. Ditambah, mereka bukan orang-orang yang awam. Sebagian besar justru telah lama berkiprah dan membesarkan nama media itu selama belasan atau bahkan puluhan tahun.

Sebenarnya, saya tak heran. Hanya sedikit terkejut, ternyata bisa sebanyak itu yang memilih untuk meledakkan kekecewaannya.

"And no one's really sure who's lettin' go today, Walking away," [November Rain, Guns N Roses, song]

Apa yang pernah saya katakan pada teman, sepertinya benar-benar terjadi belakangan ini. Ketika kami masih jadi "anak baru", dua tahun silam. Kekhawatiran saya atas pimpinan tertinggi perusahaan media yang tak berasal dari latar belakang jurnalistik menguatkan hal itu. Toh, kepentingan pribadi bisnisnya lebih tinggi dibanding hitung-hitungan bawahannya yang sebagian besar merupakan pelaku jurnalistik.

"Seorang pemimpin yang baik seharusnya pernah merasakan sebagai apa yang dipimpinnya. Jika tidak, bagaimana cara ia memahami keinginan orang-orang yang dipimpinnya?" 

Gejala badai itu sebenarnya sudah kelihatan sejak kami masih baru. Sayangnya, pikiran kami sebagai wartawan baru tidak pernah mau memusingi urusan para petinggi redaksi itu. Selama kami bisa menjalani pekerjaan dengan baik, itu sudah cukup. Kepala kami sudah terlampau berat jika harus dijejali pertentangan antara petinggi-petinggi redaksi di meja rapatnya.

Mereka yang terbaik di bidangnya lantas pergi hanya dengan mengucap sepatah-dua patah kata di grup kantor. Menyisakan tanya bagi kami, wartawan yang masih seumur jagung. Menyisakan suntikan semangat dari mereka yang masih bertahan. Dari jauh, saya hanya bisa menduga-duga.

"Apa yang sebenarnya terjadi?"

(Imam Rahmanto)

***

Kepergian mereka memang tak bisa dihalang-halangi. Pun, saya hanya bisa manggut-manggut menatap kabar-kabar yang bagai bom waktu itu. Saya percaya, mereka sudah punya pertimbangan tersendiri untuk melepas "kenyamanan" yang selama ini mereka dapatkan.

Kita tidak bisa menghakimi orang-orang yang pergi sebagai orang yang tak ingin bertahan. Kadang kala, orang pergi karena memang ingin melakukan hal yang lebih baik. Mereka menganggap tak ada lagi ruang lebih baik jika harus tetap tinggal. Mereka tak sanggup melihat tempat yang disayanginya harus terus terluka. Cara mati seperti apa lagi yang lebih kejam dibanding penyiksaan dengan luka, sedikit demi sedikit?

Mungkin, kepergian itu sebagai cara untuk terus bertahan. Seberapa gigih idealisme yang ingin mereka pertahankan. Sudah saya katakan, kepentingan bisnis benar-benar menggerus idealisme dari dalam.

"Kalau mereka saja yang senior sekali dan sudah lama bersentuhan dengan media sudah tak tahan lagi dan memilih keluar, bagaimana dengan kita yang masih junior?" ucap seorang teman yang bertugas di daerah berbeda.

Apa yang mereka alami, sungguh jauh berbeda dibanding kami, yang lebih banyak berada di lapangan. Kebijakan kantor hanya serangkaian informasi dan perintah bagi kami. 

Penderitaan mereka, tentu jauh lebih pedih karena berhadapan langsung dengan kebijakan kantor. Saban hari, bertemu dalam ruang rapat dan pembahasan, yang barangkali membuat mata mereka berkaca-kaca. Bisa saja, cemoohan dirasakan langsung oleh mereka yang benar-benar pasang badan. Tentu saja, mereka jauh lebih merasakan bagaimana "sakit"nya. Saya menebaknya demikian.

Yah, kami hanya bisa menyimak perkembangan dari jauh. Bahkan, berjaga-jaga jika ada kemungkinan lain dari persoalan ini. Apalagi, tentu akan ada perubahan besar-besaran dari manajemen redaksi terkait prahara ini. 

"Apa kau juga akan berbuat hal yang sama?" tanya teman.

Sejujurnya, saya masih belum berpikir sejauh itu. Meski terkadang kekecewaan yang sama juga sempat saya rasakan, namun saya memilih untuk menjadi "penonton" sementara waktu. Beberapa kesempatan mesti dipertimbangkan matang-matang. Termasuk seberapa besar kemungkinan kami akan bertahan pada badai yang sama. 

Kenyataannya, saya memang tidak menyukai pimpinan perusahaan yang sama sekali tak punya latar belakang seperti kami, yang bersusah-payah menjalani tugas di lapangan. Ia tak pernah paham, sejauh mana menghargai jerih-payah kami yang berusaha melambungkan nama media yang sudah besar itu. Kehidupannya, bagi saya, terlihat benar-benar seperti anak-manja-yang-hanya-bisa-mewarisi-apa-yang-dimiliki-keluarganya. Memuakkan, bukan?

Namun di sisi lain, saya mencoba untuk mengamati saja. Entah, belakangan apakah kami masih kuat? Kami ini hanya "petarung" lapangan. Kalau pun harapan terakhir bertumpu pada kami, semoga saja esok lebih cerah. Setidaknya, pimpinan kami patut berbenah. Lebih baik lagi, jika sang ayah, yang lebih paham dunia jurnalistik, turun gunung dan mengatasi kekacauan ini. Dengan begitu, semua orang bisa saling memahami.

Saya tetap menghargai mereka yang memilih pergi. Seharusnya, kami angkat topi buat mereka karena berani memulai hal-hal baru. Tegap melangkahkan kaki dari hal-hal yang menyamankan kebanyakan orang. Bukan berarti mereka tumbang di tengah jalan. Tidak. Sama sekali tidak. Mereka justru menunjukkan betapa kuatnya tekad untuk bisa tumbuh dimana saja.

Orang-orang yang bertahan, tidak selamanya karena memegang teguh pendiriannya. Alih-alih karena ingin setia, sebagian hanya karena ragu, kan. Yah, ragu, apakah di tempat lain masih bisa lebih baik dari yang dimilikinya sekarang. Zona nyaman memang sering kali mengikat begitu nikmat.

Manusia memang punya kecenderungan memilih sesuatu yang sudah "jelas", ketimbang bertaruh pada hal-hal yang belum nampak oleh mata. 

Terlepas dari itu, semoga prahara semacam ini lebih membelajarkan pimpinan yang lain. Bahwa manusia juga punya hati, tempatnya kecewa atau bahagia. 

***

"Pelaut ulung tidak akan lahir dari ombak yang tenang," pepatah yang sering dilontarkan teman-teman, yang membenarkan kami bertahan.

Saya hanya skeptis. Bergantung pelaut seperti apa yang kita ingin lahirkan. Perompak, Marinir, Sichibukai, atau Yonkou.

"Tidak peduli yang datang dalam hidup, tetap ikuti jalan yang kau percaya. Inilah yang disebut dengan kebebasan." [Diego, One Piece, anime]




--Imam Rahmanto--

Selasa, 31 Oktober 2017

Menanjak (7-end)

Oktober 31, 2017
"Apa yang membuatmu terus melangkah?"

"Tujuan akhir,"

"Bagaimana jika kamu ujung-ujungnya kecewa, karena tak sesuai harapan?"

"Setidaknya, aku sudah mencoba,"

Bunga yang indah, bukan? (Imam Rahmanto)
***

Istirahat memang menjadi kunci utama bagi pendaki jika ingin kembali fit dan bertenaga dalam setiap langkahnya. Buktinya, kami sudah merasa lebih baik setelah beristirahat di Pos V. Perjalanan mendaki ke puncak sudah semakin dekat dan membuat kami lebih bersemangat.

Saya pun sudah leluasa membuka kamera dari tas yang tersangkut di sebelah bahu. Di tengah-tengah perjalanan, kami akan berhenti sejenak. Sembari melepas lelah, Rahim tak jarang menunjukkan beberapa jenis bunga endemik Pegunungan Latimojong, Rhododendron. Bunga-bunga itu pula yang "menarik" perjalanan saya kemari.

"Bunga-bunga itu sudah pernah didatangi peneliti dari LIPI, khusus hanya untuk mendata bunga-bunga itu," ungkap Rahim, suatu ketika, yang menjadi bonus keinginan saya menjalani ekspedisi ini.

"Makanya kita dulu, sedikit-sedikit berhenti. Belum 10 meter, berhenti lagi. Karena murni memang untuk penelitian. Kami dulu yang temani," paparnya lagi.

Ukurannya cukup kecil. Semula, saya menyangka bentuknya seperti anggrek. Ternyata, bunga-bunga itu jauh lebih mungil. Pada musim tertentu, jalur pendakian akan lebih ramai bunga-bunga langka Rhododendron.

Bunga ini lebih mirip bunga semak biasanya. Orang-orang yang lewat biasanya hanya akan menyangkanya sebagai bunga liar. Padahal, bunga ini termasuk salah satu varitas yang terancam punah di dunia. Ditambah, hanya bisa tumbuh di atas ketinggian pegunungan. Bisa jadi, lebih mudah mendapatkan bunga edelweis ketimbang Rhododendron di jalur pegunungan semacam ini.

Kami juga sempat berpapasan dengan rombongan pendaki lain di Pos VI, sebelum tengah hari. Sudah saya katakan, Latimojong ini tak pernah sepi pendaki setiap hari. Ada sekira 6 pendaki baru saja turun dari puncak Rante Mario. Mereka merupakan mahasiswa dari salah satu UKM kampus UNM. Saya mengenal unit kegiatan mahasiswa itu, lantaran pernah aktif di unit lainnya, LPM Profesi.

Meski dikenal sebagai "tangga seribu", namun pendakian selepas Pos V bisa dijalani dengan sedikit lebih santai. Tanahnya tak lagi securam dari Pos III. Konsekuensinya, kami masih harus menanjak melewati tangga-tangga alami dari paduan akar pohon dan tanah lembap.

Kelembapan udara semakin mendekatkan kami pada habitat lumut yang sesungguhnya. Tumbuhan epifit itu mulai nampak merambati beberapa pohon dan permukaan tanah. Semakin mendaki, semakin terlihatlah habitatnya yang membentuk ekosistem hutan.

EKSPEDISI LATIMOJONG - HUTAN LUMUT
Klik atau geser untuk gambar lainnya. (by Flickr)


Hutan lumut, yang berada diantara jalur Pos VI dan Pos VII memang sangat istimewa. Tak ada yang menyangkal keindahannya. Bagi saya, ini lebih terlihat seperti hutan-hutan di negeri dongeng. Sebut saja film-film Alice in Wonderland, Lord of The Rings, atau Narnia.

Pendaki mana pun pasti selalu menyempatkan untuk berhenti dan mengambil gambar di tempat ini. Kapan lagi bisa mendapati lumut-lumut yang menjadi selimut pohon. Hijau dimana-mana. Lembap dan lembut udara berpadu jadi satu. Pun, kami seperti tersihir untuk duduk lebih lama disini. Jepretan paling banyak juga salah satunya berasal dari tempat kece ini.

"Bagaimana seandainya ada sutradara yang ambil film disini juga dih," celetuk teman.

Saya sendiri tak bisa membayangkan bagaimana perjuangan mereka bakal membawa alat-alat sekaligus artisnya. Kami saja, yang orang kampung, benar-benar dibuat menguras perasaan.

Kendala lainnya hanya ada ketika mencapai Pos VII. Hujan deras langsung mengguyur dan memaksa kami berteduh dengan memasang flysheet. Sebelum tiba disana, gerimis yang menyertai pendakian memang sudah mulai menyapa. Kami terpaksa mengencangkan raincoat dan pelindung lain pada barang bawaan. Kami menyangka itu hanya tetesan kabut karena ketingian kami yang semakin jauh dari permukaan laut.

Berkerumun seadanya menanti hujan reda. (Imam Rahmanto)

Sejam lamanya kami terjebak berkerumun di bawah flysheet. Bahkan, tiga pendaki dari Palopo juga ikut menghangatkan diri. Saat kami tiba, mereka baru saja ingin menuju puncak. Sayangnya, hujan mengadang perjalanan.

Yah, dinginnya hujan hanya bisa dinikmati lewat hangat aroma kopi.

***

"Mudah-mudahan di atas nanti kita tidak kena badai," Rahim berharap, yang tentu saja diamini oleh kami.

Tuhan ternyata ikut mendengar keinginan itu. Apalagi kami memang berencana mendirikan tenda di puncak triangulasi. Selama perjalanan menuju Rante Mario, hanya kabut-kabut tipis yang menyertai. Hujan sepertinya sudah telanjur amblas di Pos VII tadi.

Saat ingin bermalam di pos triangulasi, hal yang paling penting adalah persediaan air. Kalau tak membawa persediaan sedari awal, bisa dipastikan kami takkan bisa minum ataupun memasak. Beruntungnya, kami mendapati telaga atau danau kecil, selepas Pos VII, yang terisi air. Barangkali, karena hujan deras yang sempat melanda pegunungan.

Sesuatu yang khas juga akan menjadi pemandangan lazim dalam perjalanan mencapai puncak. Batu-batu ditumpuk di sekitar jalur menuju pos tertinggi. Sepanjang jalan, kami bisa mendapati tumpukan itu. Ada yang tinggi. Ada pula yang agak rendah. Bergantung jenis batu yang ingin ditumpuk.

"Itu permainannya anak-anak pendaki kalau disini," ungkap Rahim.

Nyatanya, tumpukan batu itu sekaligus bisa menjadi penanda jalan bagi para pendaki bahwa "anda sudah berada di jalan yang benar!" Kalau tersesat, maka carilah batu-batu bertumpuk itu. Kondisi berkabut akan semakin menghalangi pandangan dalam perjalanan menuju pos tertinggi.

Mendekati puncak, suasana lebih terbuka. Pijakan lebih didominasi oleh bebatuan cadas dan kehiitam-hitaman. Nampaknya pengaruh lumut yang membuatnya menghitam.

Mengisi persediaan air untuk dibawa ke puncak. (Imam Rahmanto)

***

Sebenarnya, kami sangat beruntung bisa tiba sebelum petang. Sayang, tak ada sunset yang terlihat dari sekeliling triangulasi. Cuaca agak mendung dan tertutup kabut. Hanya awan putih menggelayut dengan posisi sejajar permukaan puncak Rante Mario.

Menikmati petang dari atas puncak gunung benar-benar lengang. Kami hanya berdelapan. Sedikit pohon. Dua tenda. Perlengkapan seadanya. Sunyi. Kecuali celetukan untuk mengusir sepi.

Saya justru menikmati momen semacam itu. Sebenar-benarnya merenung. Saya bisa bersujud tanpa perlu memikirkan apa-apa. Hening diantara semak puncak gunung. Hanya bersyukur. Merenung. Menekuri alam dari atas ketinggian 3430 mdpl. Dari puncak tertinggi dengan pemandangan lautan awan, ada lebih banyak syukur yang mesti dihaturkan. Tak terkecuali kami yang berhasil mencapai puncak Rante Mario.

Ketika berada di alam luas seperti ini, kepala bakal disusupi pemikiran, "Ternyata alam selalu lebih lapang dan luas dibanding segala masalah yang kami anggap ruwet." Kita, manusia, hanya debu di alam semesta. Maka apa yang pantas kita sombongkan?

Langit di atas sana begitu lapang, kenapa kita tak pernah bersyukur? 

Semakin jauh kita berjalan, semakin luas kita melihat, semakin lapang perasaan yang diperoleh. Akar dari syukur yang seharusnya terus dipelihara oleh setiap manusia.

Saya bisa saja berlama-lama memandangi lautan awan di sekeliling triangulasi Rante Mario. Apalagi momen langka. Sayang, udara dingin memaksa kami agar berlindung di dalam tenda atau sleeping bag. 

Milky Way dari Puncak Rante Mario. (Imam Rahmanto)

Saya bisa merasakan dinginnya udara menunggui milky way di malam hari. Hawanya nyaris membekukan jari-jari kaki. Biasa, saya hanya berbekal sendal keluar malam-malam di puncak triangulasi. Sementara hembusan angin malam bisa mencapai suhu 5 derajat. Saking dinginnya, saya sempat membakar jari-jari kaki di atas kompor. Nyaris melepuh, tanpa terasa.

Saking nyamannya pula dengan momen puncak Rante Mario, kami juga nyaris bangun kesiangan. Kalang-kabut lah kami dibuat pagi-pagi karena baru sadar matahari sudah agak naik dan melewati batas cakrawala paginya.

"Padahal bangun ja subuh-subuh. Itu kamera kubiarkan saja ambil time-elapse," ucap Ohe, yang ikut terburu-buru keluar tenda menyambut pagi.

Latimojong, kami menjumpai pagimu.

***

Lelah? Jelas yang namanya pendakian pasti akan membuat kita mandi keringat. Akan tetapi, rasanya tetap menyenangkan. Susah atau senangnya, kami nikmati seadanya. Kalau bisa, tertawa-tawa saja kami dibawanya. Apa pun yang bisa menjadi pengobat lelah, kami nikmati. Selama masih bisa pulang sama-sama dan tak kekurangan apa pun, (kecuali tenaga) hayuk lah!

Terima kasih untuk teman-teman yang menyertai perjalanan keren itu. Betapa perjalanan semacam ini menjadi bukti bahwa apa pun bisa dilalui selama punya tekad dan keinginan yang berapi-api. Barangkali ini memang agak lebay, tetapi pada kenyataannya saya sungguh meresapinya.

Saya sangat menghargai keinginan yang tetiba diamini malam itu. Rencana-rencana yang diulur jauh dan sampai terlunta-lunta. Tak ada waktu yang bisa diseragamkan, namun selalu ada waktu untuk duduk bersama membicarakan segala hal. Buktinya, tujuan kita seragam untuk meraih puncak tertinggi.

Saya memang seharusnya berterima kasih kepada kalian yang bersedia menyisipkan waktu. Rahim yang sudah kesekian kalinya menasbihkan sebagian hidupnya untuk gunung dan kopi. Ohe, yang kali kedua muncak, demi menuntaskan dahaga imajinasi fotonya. Pandi, yang menjadi momen ketiga menapaki alam liar Latimojong. Beruntung pula, sukses menambahkan satu srikandi dalam tim kami, Icha.

Pengalaman baru dan pertama memang selalu meninggalkan kesan paling dalam di ruang-ruang hati saya. Wajar jika saya sulit move on. #uhuk. Dan takkan pernah move on dari kisah-kisah perjalanan itu. Saya sudah menempeli label kenangan di salah satu sudutnya.

Kelak, jangan sekali-kali mengajukan tanya soal Latimojong. Jika tidak, cerita yang tak putus-putus akan meluncur dengan irama yang paling indah. [end]

Kurang gaya sih. (timer)

Momen edisi terbatas. Minus saya. (Imam Rahmanto/ timer)



--Imam Rahmanto--

Sabtu, 28 Oktober 2017

Menanjak (6)

Oktober 28, 2017


Adrenalin baru dimulai. Siapa saja pasti setuju, jika tanjakan menuju Pos III merupakan jalur terberat yang harus dilalui para pendaki Latimojong. Ekspektasi saya pun berguguran setelah melintasi jalur tersebut.

Speechless. 

"Kenapa na tidak adami suaranya Imam?" gurau salah seorang teman.

"Iya, tadi dia mi yang paling banyak bicaranya," sambut yang lainnya.

Yah, selepas beristirahat, saya kehabisan tenaga. Lelucon saya sudah habis tertelan di kerongkongan. Bahkan, kata teman, wajah saya begitu pucat selama pendakian. Jalur tanjakan yang nyaris membentuk sudut 90 derajat itu betul-betul menguras tenaga. Bagi saya yang pertama kali mendaki pegunungan Latimojong, ini namanya super-extreme.

Pegangan kami hanya akar-akar pohon atau tali rotan yang sengaja diikatkan pada puncak pendakian. Entah siapa yang berinisiatif mengikatkan rotan yang dimaksudkan sebagai safety itu. Tanpa juluran rotan, barangkali kami harus merayap layaknya pendaki tebing. Bayangkan saja bagaimana sulitnya memanjat tanah berkerikil, licin, dan kerap terhambur dari genggaman.

Momen pertama, saya bisa menjadikan tanjakan Pos III itu sebagai tantangan. Tak jarang, saya akan membayangkannya sebagai permainan masa kecil kami di kampung halaman. Bagaimana kami berlari-larian di dalam kebun. Memanjat satu-dua pohon. Hingga mencari sulur terkuat agar bisa bergelantungan.

Sayangnya, bayangan masa kecil itu pudar seiring peluh yang terus mengucur dari pelipis. Wajah juga semakin memucat karena kehabisan tenaga. Tungkai saya, seolah dibebani batu diantara tulang dan persendiannya. Untuk melangkah pun, saya harus mengambil jeda. Melangkah beberapa menit. Berhenti beberapa detik. Melangkah lagi. Berhenti lagi. Begitu seterusnya. Tanpa sadar, saya ada di bagian paling belakang.

Hal yang sama juga terjadi pada teman lainnya. Tentu, masing-masing punya cara tersendiri untuk mengatasinya. Selain itu, gengsi juga mau melambaikan tangan ke kamera. Terpaksa, saya memutar musik dari gawai di saku jaket.

"Jangan dipaksakan kalau capek. Berhenti saja," saran Rahim, yang masih melangkah dengan santainya. Padahal bebannya juga bertambah, karena membawa tas Icha.

Sesekali pula kami harus mengemut cokelat. Katanya, makanan seperti itu bisa menambah kalori selama pendakian. Saran juga sih, jangan terlalu banyak minum air putih untuk mengatasi kelelahan.

Sepertinya, cuma saya dan Ohe yang terlihat paling menderita. Bagaimana tidak, tenaga kami juga sudah terkuras dari perjalanan sebelumnya menuju air terjun. Sepulangnya dari sana, kami hanya berhenti untuk packing di Pos II, lantaran teman-teman lain sudah siap berangkat.

"Kayaknya beban kita memang yang paling berat. Seolah-seolah, dua kali lipat perjalanan. Soalnya kan tadi dari air terjun," gerutu saya, yang hanya dibalas muka datar (kelelahan) oleh Ohe.

Saya akan selalu mengingat tanjakan-tanjakan itu. Kalau boleh dibilang lagu, jalur itu menggambarkan lagunya Peterpan - Di Atas Normal. Sebenar-benarnya, kaki di kepala, kepala di kaki. Untuk bisa mencapai puncak, kaki harus diangkat tinggi-tinggi. Sering kali lutut sampai menyentuh dagu. Napas jugaa sudah tersengal-sengal.

Meski begitu, kalau sudah bertekad, ya tetap saja semua bisa dilalui. Jalurnya memang terasa sangat menegangkan. Seram. Ngeri. Wass-was. Tetapi, yakinlah, tak ada kata berhenti kalau sudah telanjur mendaki. Selama kaki masih kuat dipakai melangkah, puncak pasti bisa tersentuh.

Satu-satunya yang bisa membuat kami terus melangkah barangkali keinginan untuk tiba di puncak tertinggi. Bagi yang sudah pernah merasakannya, barangkali sudah agak terasa ringan. Beda soal bagi kami yang benar-benar pertama kali "bertaruh". Lelahnya juga bakal terasa lebih sulit di awal-awal pengalaman itu.

***

Karena efek kelelahan, kami tak bisa memaksakan diri dalam mendaki. Pada akhirnya, kami disambut malam saat tiba di Pos V. Suasana sudah cukup gelap. Saya lupa persisnya, waktu menunjukkan pukul berapa. Beruntung, kemah kami sudah lebih dulu berdiri oleh teman-teman porter.

Kami juga harus segera berlindung di dalam kemah, sembari menyiapkan makan malam. Di luar sana, hujan sedang menggebu-gebu. Beberapa jam kemudian, badai terdengar begitu jelas menganggu waktu tidur. Saya sendiri beberapa kali harus terbangun karena suara badai.

Di tengah-tengah badai, kami masih sempat mendengarkan percakapan penghuni Pos V. Sebelum kami tiba, dua-tiga tenda memang sudah berdiri. Mereka juga merupakan para pendaki yang ingin mencapai Puncak Rante Mario. Sebelumnya, di Dusun Karangan, kami tahu kalau mereka adalah mahasiswa berasal dari Palopo.

Mereka yang sudah mulai segar. (Imam Rahmanto)

"Banyak kayaknya juga suara cewek tadi malam kudengar. Kayaknya ada dari Unhas juga datang malam-malanya," celetuk kami, saat pagi menjelang.

"Ada juga yang laki-laki, subuh-subuh kudengar mengaji," timpal yang lain. Saya pun sempat mendengarkannya.

Badai sudah mereda. Kami menyambut pagi dengan kondisi yang lebih segar. Meskipun, sejujurnya, bahu saya masih terasa sangat pegal. Beban tas punggung selama perjalanan mendaki masih terasa nempel.

Tim pendaki yang lain juga sudah lebih dulu menghilang dari Pos V. Mereka nampaknya memutuskan mendaki lebih pagi. Tenda dan seluruh perlengkapannya ditinggal di pos ini. Biasanya, para pendaki mengambil kesempatan semacam itu jika tak ingin bermalam di puncak. Berangkat pagi-pagi, langsung pulang setelah mengambil foto sebanyak-banyaknya di sekitar triangulasi Rante Mario.

Apalagi, ada sumber air bersih di Pos V. Hanya berjarak 10 menit berjalan kaki, melintasi batang-batang pohon. Para pendaki biasanya akan mandi atau mengambil kebutuhan minum di sungai kecil itu.

Saya sempat mencoba mandi di sungai kecil itu. Sayangnya, tak tahan untuk berlama-lama merendam seluruh badan. Putra asli Karangan seperti Samrin justru lebih kebal terhadap dinginnya air di ketinggian lebih 2000 mdpl itu.

Suhunya barangkali bisa saja mencapai 10 derajat celcius. Kulit serasa ditusuk-tusuk jarum saat menyentuh permukaan air. Sementara Samrin dengan santainya menenggelamkan dirinya untuk membersihkan busa shampo di kepalanya.

Harus tetap ceria di hadapan alam liar. (Imam Rahmanto/ timer)

Kami hanya menghabiskan beberapa jam di pos V. Sembari menyiapkan sarapan, momen berkemah di Pos V memang tak bisa dilewatkan. Maka meluncurlah beberapa jepretan dari kamera masing-masing. Wajar, itu sebagai "pelampiasan" karena dalam perjalanan kemarin kami sangat kelelahan sampai tidak kepikiran untuk mengeluarkan kamera.

Suasana di Pos V memang sangat kondusif untuk menjadi tempat berkemah. Luasnya sangat memadai dengan pohon-pohon besar di sekelilingnya. Jika beruntung, tupai-tupai kecil akan menjumpai pagi-pagi. Mereka biasanya tertarik dengan makanan atau cemilan para pendaki.

Kami sempat bermain-main dengan beberapa tupai kecil yang melintas. Berupaya mengambil momen kala tupai itu memanjat dari pohon yang satu ke pohon lainnya.

Kalau dijepret pakai lensa tele, pasti lebih menggemaskan. (Imam Rahmanto) 

***

Sesuai rencana awal, kami akan mendirikan tenda di pos puncak Rante Mario. Oleh karena itu, setelah sarapan, kami bergegas packing dan membongkar tenda. Padahal "strategi" semacam itu tak biasa dilakukan oleh para pendaki.

"Mudah-mudahan dapat ji milky way nanti malam. Bagus juga kalau kita dapat sunset nanti sore," kata Ohe.

Sebenarnya, kami memang punya banyak "misi" dalam pendakian kali ini. Ceritanya agak panjang karena dimulai dari kebutuhan naskah berita saya. Meski begitu, cerita ekspedisi ini sekaligus akan ditutup pada langkah kaki selanjutnya.

....

[bersambung]



--Imam Rahmanto--