Minggu, 11 Desember 2016

Menyimak Hidup dari Beranda


Beranda. Buku hangat ini menjadi salah satu daftar buku yang sempat saya tamatkan di penghujung tahun ini. Meskipun sebenarnya, baru separuh dari target menamatkan 30 buku selama rentang tahun 2016 ini. Lagi-lagi, prioritas baca buku memang belum bisa mengalahkan rutinitas pekerjaan sehari-hari. Padahal kan saya bukan orang kantoran

Pun, buku bersampul sederhana ini bukan tergolong buku tebal yang kerap menyesaki rak-rak dinding kamar saya. Bisa dituntaskan hanya dengan sekali duduk. Dua cangkir cappuccino (atau kopi susu) sudah cukup untuk menemani waktu santai diantara cuaca yang sedang sendu-sendunya.

Sebenarnya, saya lebih tertarik menghabiskan waktu luang dengan buku-buku bergenre novel. Tak peduli ratusan halaman, asalkan mampu menjauhkan saya dari pengaruh media sosial atau rutinitas harian. Toh, setebal-tebalnya Harry Potter, selalu menjadi bacaan yang mengagumkan sepanjang masa.

Tetapi, untuk buku satu ini, endorfin saya bisa sedikit dikompromikan. Penulisnya, Imam Dzulkifli, bukan orang asing lagi bagi saya. Apalagi buku ini lahir belum genap sebulan. Akh, bukan juga karena namanya yang punya kesamaan dengan saya loh.

Saya menjumpainya di kantor hampir setiap hari. Beberapa kali, tulisan saya menjadi bahan eksplorasinya jika sudah berkenaan dengan klub PSM atau Teknologi. Yah, kebetulan garapan sehari-hari saya tak jarang jatuh di editing tangan sastranya. Meskipun dia sebenarnya lebih sering membawahi desk Ekonomi.

Saya mengaguminya sebagai salah satu redaktur yang masih meluangkan waktu untuk passionnya: menulis. Serutin-rutinnya wartawan menulis berita, sungguh jauh berbeda jika menuangkan idenya lewat tulisan lepas.

Timeline facebook pun dibanjiri oleh paragraf-paragraf ringkas miliknya. Bernada satire. Lucu. Tegas. Nyinyir. Atau menyindir. Tetapi, selalu pasti, menarik perhatian banyak orang yang melintas di beranda. Saya yakin, Kak Dzul punya banyak penggemar di luar sana yang tak henti menantikan tulisan terbarunya. Saya juga mesti menaruh curiga, Beranda ini lahir dari dorongan dan motivasi para fans.

Kumpulan tulisan di facebook itulah yang kemudian dirangkum dalam buku setebal 164 halaman ini. Maka tak perlu heran jika beberapa isinya ada yang masih menyebutkan nama orang dengan agak "alay".

Nama yang dimaksud sebenarnya disebutkan sebagai mention (tag) bagi facebook. Termasuk beberapa isi tulisan lainnya juga masih menggunakan konteks facebook. Barangkali, penulis agak terburu-buru menuangkan seluruh isi facebook tanpa menyesuaikan konteks bacaan digital itu beralih sebagai buku.

Terlepas dari itu, tulisan-tulisan singkat di buku ini patut diacungi jempol. Sebagian hal, saya belajar darinya. Tak hanya mengajarkan cara hidup, namun mengajak untuk bercermin memandangi segala hal yang mungkin terlewat dari kehidupan sehari-hari.

"Selalu ada pesan tak kasat mata yang dibawa oleh segala rupa peristiwa di kehidupan sehari-hari," begitu kira-kira penulis ingin menyampaikan khittah tulisannya.

Banyak hal yang diimprovisasikan dalam buku ini. Bahkan beberapa nama tetangga bisa jadi bahan introspeksi secara unik. Nama-nama yang sangat jarang kita dengar, namun berubah jadi tokoh mengagumkan bagi penulis. Kita dibuat tergelitik, bahwa mereka begitu menghargai bagaimana cara hidup yang sesungguhnya.

"Tidak pula seperti Pak Ucu, lelaki baik yang dapat amanah membuat kopi susu di lantai empat Graha Pena Makassar. Dia juga menjadikan senyum sebagai satu-satunya ekspresi yang ditunjukkan kepada siapa pun yang dilayaninya." --hal.20

Tak heran jika saya pun harus mengucap terima kasih kepada Pak Ucu yang setiap malam mengangsurkan nasi bungkus pada saya.

Apa yang dilukiskan Kak Dzul dalam 50 artikel itu mengingatkan tentang tujuan awal saya menulis segala hal di "rumah" ini. Nyaris sama. Hanya saja, bahasa dan pembawaan redaktur saya ini jauh lebih renyah dan bersahaja. Kita sampai berharap tak diracuni candu usai menyusur setiap alur pengalamannya.

"Betul kan, teh tak sesederhana yang orang-orang itu kira. Maka sajikanlah dengan nilai lebih," --hal.4

Saya sangat menikmati bersantai di hadapan Beranda. Walau singkat, buku ini tetap menampar separuh kesadaran saya; kapan pula menerbitkan buku?

Seperti kata Pramoedya Ananta Toer, "Orang boleh pandai setinggi langit, tapi selama ia tidak menulis, ia akan hilang di dalam masyarakat dan dari sejarah. Menulis adalah bekerja untuk keabadian."

Imam Dzulkifli, paling tidak, telah menjalankan nasehat simbah Pramoedya Ananta Toer untuk mengabadikan namanya pada sebuah buku yang berjudul Beranda. Kelak, senior saya ini tak perlu khawatir lagi jika orang-orang hanya mengenalnya sebagai karyawan di perusahaan media. Toh, apa yang dia tuangkan sudah menunjukkan tekad untuk dikenang sebagai penulis. Bukan sebatas juru ketik atau juru tulis.

***

Dan memandangi segala hal, tentang keseharian, memang cukup elok dari beranda. Kita bisa menikmati secangkir minuman hangat dengan harapan menatap separuh mentari di pagi hari. Kelak, ada yang mengiring secangkir minuman itu; senyum tulus dari orang tercinta.



--Imam Rahmanto--

Tidak ada komentar:

Posting Komentar