Jumat, 30 Desember 2016

Kolase Akhir Tahun (1)



Saya sebenarnya punya banyak hal yang istimewa di tahun 2016. Akan tetapi, menuliskan semuanya serupa menumpahkan cerita-cerita (dan uneg-uneg) yang tak ada habisnya. Sementara waktu saya sangatlah terbatas.

Hujan juga tak pernah berhenti meneror dari luar bingkai jendela kantor. Maklum, bulan ini memang musimnya cuaca gelap dan berangin. Saya baru saja mendengar kabar kalau satu pohon tumbang dan menutup lorong yang biasanya kami lalui untuk parkir kendaaran di kantor.

Seberapa banyak momen spesial yang saya lalui bulan ini ya? Saya juga tak begitu menghitung atau teliti mengejanya. Kesibukan sebagai jurnalis membawa saya pada kenyataan lebih banyak kehilangan waktu. Sementara usia yang sudah berjalan seperempat abad perlu lebih banyak quality time, bersama keluarga atau sahabat-sahabat terdekat.

Anggap saja saya tak pandai memilahnya satu-satu. Momen-momen berikut ini sekadar penting untuk dibekukan ketimbang menganggapnya spesial atau istimewa. Karena spesial dan istimewa itu harganya jauh lebih mahal dibanding biasa, rasa cokelat, atau lumuran keju. Martabak??


#1
Saya pertama kalinya mantap mengemban tugas sebagai jurnalis. Memilin semangat yang cukup kuat. Bukan sekadar pekerjaan, melainkan passion. Mengesampingkan segala harapan orang tua yang berputar untuk PNS.

Pertama kalinya pula saya berkenalan dengan dunia olahraga. Awam di dunia olahraga, khususnya sepak bola membuat saya banyak belajar. Bisa juga ini tahun-tahun belajar saya. Kepala saya penuh sesak dengan informasi yang masih segar, sekaligus menantang. Kontak hape selalu bertambah saban hari. Orang-orang baru selalu berganti tiap hari.

Meski demikian, di awal-awal perkenalan itu pula saya harus mendapati sanksi redaksi. Karena kesalahan kecil, saya sampai tahu bagaimana rasanya diskorsing selama seminggu.

Hanya saja, saya justru bangga mengingat pengalaman diskorsing itu. Pengalaman yang sungguh berharga karena membuktikan tulisan saya bisa begitu bernyawa. Hal itu pula yang mungkin membuat "nilai" saya agak lebih waspada di mata beberapa atasan. Barangkali lebih istimewa, tanpa perlu keju atau cokelat.

Akh, kamera dan notebook masih dalam rating pinjaman kok. (Imam Rahmanto)

#2
Saya harus tersenyum-senyum sendiri jika merangkum satu bagian ini. Perjalanan yang cukup lucu perihal kisah asmara saya. Sebenarnya, bukan pertama kalinya merasai momen seindah itu. Akan tetapi, menjadi bagian yang epik lantaran benar-benar membuat saya terlihat "bodoh".

Momen seindah itu memang tak pantas dilupakan. Patah hati? Barangkali iya, tapi tak butuh waktu lama. Toh, saya juga telah dihapusnya dari kontak BBM hingga pertemanan facebook. Padahal saya tetap berusaha menjalin komunikasi. Watak perempuan memang lebih sering susah ditebak. Karena kenyataannya, perempuan itu kini sudah bisa tertawa-tawa lagi oleh lelucon lelaki lain.

Beberapa hal memang pantas untuk dikenang, bukan? Tak perlu merajut benang benci agar bisa menghapusnya dari kepala. Semua kenangan memang diciptakan agar terus diingat. Tanpa perlu melukai isi kepala, kita hanya perlu merelakan dengan memaafkan. Cara yang paling sederhana untuk merelakan, ya, dengan menumpahkan cerita. Oke,biarkan saya tersenyum lebar.

#3
Tahun ini pula yang menerjunkan waktu pagi saya. Entah kenapa, saya terbiasa bangun di atas pukul delapan pagi. Ah tidak. Tepatnya di atas pukul delapan pagi. Jangan tanya kapan waktu untuk shalat Subuh. Momen tahun ini, sudah tak terhitung lagi jumlahnya saya mangkir di hadapan Tuhan.

"Kalau alarm sudah tak mempan, itu artinya sudah saatnya butuh alarm hidup,"

Sayangnya, hingga tahun depan, saya belum menyusun itinerary untuk melapas masa lajang. Kalau "alarm hidup" boleh dialihbahasakan menjadi teman, sahabat, kekasih, keluarga, saya mau unjuk jari untuk dipersiapkan tahun depan.

Di satu sisi, saya terkadang kesal dengan diri sendiri. Saya jadi kehilangan banyak momen penting di pagi hari. Tak pernah lagi merasai tawa-tawa udara pagi yang ramah. Keheningan jalan-jalan beraspal. Atau kesibukan lain yang sebenarnya bisa dikerjakan di pagi hari. Bahkan untuk menikmati lantunan khas penyiar radio pagi dengan segelas cappuccino di tangan. Keduanya harus saya ganti dengan duduk-duduk di warung kopi, tengah hari.

Ngerinya, jika kebiasaan ini terus berlanjut, bisa-bisa banyak perempuan akan berujar pada saya: "Bangun pagi saja kamu susah, apalagi mau bangun rumah tangga bersama saya?"

Eh, saya punya jawabannya. "Maka ajarkan aku cara bangun pagi yang benar, agar kita bisa membangun rumah tangga bersama-sama." #gombal#

#4
Saya harus mengakui (dan membanggakan), tahun ini juga menjadi momen terbaik saya mengumpulkan lebih banyak buku. Untuk mengoleksi buku, saya tak pernah mau kompromi. Apalagi saya sudah punya penghasilan tetap, yang sudah lebih dari cukup untuk dua atau tiga buah buku saja. Prinsipnya, saya lebih baik menahan lapar ketimbang harus menahan hasrat untuk membeli buku setiap bulan. Beruntung, saya belum pernah kelaparan hanya gara-gara keinginan membeli buku itu.

Kamar saya dipenuhi tumpukan buku yang sebagian besar belum saya tamatkan. Rak-rak dinding buatan tangan semakin panjang dan bertingkat. Tak setiap malam pula saya membacai buku-buku itu. Bahkan saya baru menamatkan 16 dari 30 buku yang ditargetkan tahun ini. Meski begitu, target banjir buku harus tetap jalan.

Saya ingin merancang dimana rumah saya kelak menjadi tempat yang nyaman untuk keluarga menumpuk buku. Tempat dimana saya akan menjadi pencerita yang baik bagi anak-anak saya... 

Saya menyebutnya, Kamar Imaji. (Imam Rahmanto)

Next

--Imam Rahmanto--

2 komentar: