Senin, 14 November 2016

Mencari Kebahagiaan di Tanah Lada

Akhir-akhir ini, buku bersampul putih polos lebih menarik perhatian ketimbang beberapa novel yang penulisnya sudah punya nama. Di toko buku sekalipun, sampul-sampul polos semacam itu justru membuat saya penasaran. Apalagi jika sudah dibumbui sinopsis yang cukup mengena dan dekat dengan kehidupan sehari-hari. Saya sedang mencari bacaan variatif lainnya, meski tetap dalam jenis (novel) yang sama.

(Foto: Imam Rahmanto)

Beberapa waktu lalu, saya mengkhatamkan buku Di Tanah Lada. Saya menjumpai buku ini di toko buku dengan gambar anak kecil di depan sampulnya. Dan lagi, buku ini berlabel runner up sayembera novel Dewan Kesenian Jakarta (DKJ). Label itu semacam penguat bagi saya untuk menyimpannya sebagai salah satu koleksi di antara jejeran buku #KamarImaji.

"Tanah Lada [kb.] : Tanah yang menumbuhkan kebahagiaan." --hal.217

Nama penulisnya juga bukan sebagai sesuatu yang mudah dilafalkan, Ziggy Zesyazeoviennazabrizkie. Butuh waktu agak lama agar bisa menghafal nama yang agak tak lazim ini. Akan tetapi, karyanya ternyata cukup mudah melekat dalam ingatan.

Oke. Saya menyukai cerita dalam buku ini. Kisahnya dibangun dari tokoh utama seorang anak perempuan berusia 6 tahun, Salva, yang gemar membawa kamus Bahasa Indonesia pemberian kakeknya kemana-mana. Meski usianya belum menginjak bangku SD, namun ia sudah paham banyak kata-kata baku dalam berbahasa Indonesia. Jika ada percakapan (dengan orang tua) yang tak diketahuinya, ia dengan tekun bakal mencarinya sendiri dalam kamus.

Sayangnya, Ava (panggilannya) tetap saja anak-anak. Apa yang diketahuinya hanya bisa dilihat dari sisi pengetahuannya yang masih teramat polos. Ia bahkan hidup di bawah bayang-bayang ayahnya yang tak menyayangi dirinya. Ayahnya juga sering berjudi dan memukul ibunya, yang sangat menyayangi dirinya.

Perlahan, ia melabeli orang yang menyandang gelar "Papa" sebagai orang jahat. Hingga takdir mempertemukannya dengan seorang anak kecil lainnya, bernama P.

Tak usah heran, namanya memang hanya satu huruf. Seperti itulah yang diketahui P semenjak hidup bersama ayah, yang juga kerap memukulinya. Ibunya sendiri telah lama pergi dan tak tahu kemana rimbanya. Beruntung, ia masih punya tetangga rumah susun (rusun), Mas Alri dan Kak Suri yang sayang padanya.

Keduanya pun bertemu dalam kepolosan seorang anak kecil memandang hidup. Bagaimana mereka melihat orang-orang dari kacamata anak-anak.

"Dan, kata Kakek Kia, sekali sayang pada seseorang, sebenarnya, kita nggak akan bisa berhenti menyayangi mereka. Mungkin, hanya berkurang sedikit. Dan, kalau berkurang, rumah Mas Alri dalam sini hanya jadi semakin kecil saja, tapi bukannya digusur." --hal.198

Ava dan P membuat saya penasaran untuk menamatkan buku setebal 244 halaman ini. Meski bercerita tentang anak-anak dan kepolosannya, nuansa yang disajikan novel ini agak "suram". Dark and blue. Tak banyak hal yang bisa membuat kita tertawa usai membaca buku ini. Kalaupun ada, itu karena celotehan Ava yang khas anak kecil. Hanya saja, sebagian hal itu membawa kita pada perenungan yang dalam.

Nampaknya, novel ini ingin memberikan pesan tersirat bahwa anak kecil pun akan mencontoh dan merekam apapun yang dialaminya. Pemikiran mereka saat beranjak dewasa itu bergantung pada apa yang mereka pernah alami selama masih kanak-kanak. Segala kejadian akan meresap ke alam bawah sadar dan membentuk kepribadian mereka di kemudian hari.

Wajar jikalau di usia yang masih teramat muda itu, Ava dan P sudah mulai membangun tembok pesimisme terhadap hidup. Lingkungan menjadi pengaruh utama bagi mereka. Apalagi dengan pandangan polos mereka, yang masih belum mampu memaknai secara utuh, hitam atau putih.

Perjalanan Ava dan P juga sesekali mengundang rasa penasaran saya. Ada rahasia yang terkuak satu-satu. Dalam hati, terkadang saya harus bergumam sendiri, "Loh, jangan. Jangan begitu," atau, "Aduh, ini bagaimana sih? Kenapa tidak diawasi," hingga perasaan lega setelah apa yang tak dikehendaki bisa dicegah.

Sejujurnya saya tak senang dengan ending yang dipilih oleh Ziggy. Agak mengesalkan dan membuat saya ingin menulis ulang ending versi sendiri. Perasaan saya agak menggantung kala menamatkan buku ini. Menghela napas karena tak begitu saja menerimanya.

Hal menarik lainnya ada pada referensi sisipan di cerita ini. Ziggy menyematkan novel anak-anak Prancis, Le Petit Prince sebagai bumbu jalinan ceritanya. Beruntung, saya sudah pernah menamatkan dan sekaligus menonton film animasinya.

Di Tanah Lada ini betul-betul menawan. Caranya bercerita dari sudut pandang anak-anak juga sangat memukau. Sebagaimana anak-anak, bercerita dengan kecerewetannya yang penuh ingin tahu. Meski sebenarnya ada beberapa bagian percakapan atau pemikiran Ava yang kelewat dewasa. Keberaniannya dalam bertindak juga malah teramat jarang saya temukan pada anak-anak seusianya.

Yah, bagaimanapun, saya tetap dibuat penasaran dengan karya Ziggy yang lain.

"Jadilah anak kecil barang sebentar lagi. Lebih lama lagi. Bacalah banyak buku tanpa mengerti artinya. Bermainlah tanpa takut sakit. Tonton televisi tanpa takut jadi bodoh. Bermanja-manjalah tanpa takut dibenci. Makanlah tanpa takut gendut. Percayalah tanpa takut kecewa. Sayangilah orang tanpa takut dikhianati. Hanya sekarang (di masa anak-anak) kamu bisa mendapatkan semua itu. Rugi, kalau kamu tidak memanfaatkan saat-saat ini untuk hidup tanpa rasa takut." --hal.197

Dan ternyata, saya tak sadar jika salah satu koleksi buku yang saya pernah beli karena tanpa melihat penulisnya, juga merupakan karya Ziggy; Jakarta Sebelum Pagi.


--Imam Rahmanto--

Tidak ada komentar:

Posting Komentar