Kamis, 10 November 2016

Masa Kecil yang Sirna

Hujan mengguyur pelan di sepanjang jalan. Jatuhnya berlompatan di atas dedaunan. Menyumbangkan nyanyian alam dari atap-atap gedung perkotaan. Iramanya tak semerdu pedesaan yang bertutupkan seng atau genteng.

Seorang anak kecil melintas tak beralas kaki. Diikuti temannya, berkejaran di bawah hujan. Tak ada yang mereka takutkan. Basah kuyup di sekujur badan. Toh, sudah kepalang tanggung, mereka justru berlomba saling ciprat dengan kaki yang telanjang diantara genangan air.

Saya tersenyum dibuatnya. Momen demikian sudah teramat langka di kehidupan kota seperti ini. Saya rindu dibuatnya. Ketakpedulian mereka terhadap hujan seolah mengingatkan saya pada masa-masa yang sama 18 tahun silam. Sebelum anak-anak berkenalan dengan gempita teknologi.

(Sumber: Google Search)

Saya pernah mengobrol dengan seorang narasumber. Katanya, ia agak hati-hati menyediakan gadget bagi anaknya. Gadget yang berupa tablet hanya dipakai anaknya untuk bermain game.

"Saya cuma instalkan game-game asah otak, atau kuis-kuis begitu untuk mengasah kecerdasannya. Supaya dia tidak terpengaruh lebih cepat dengan kehadiran gadget," jelasnya.

Akan tetapi, bagi saya, apa yang dilakukannya itu sama saja. Bukankah sudah seharusnya tugas orang tua untuk menemani anaknya belajar? Di rumah, sang bapak seyogyanya jadi teman bagi anaknya. Tanpa sekat gadget.

Anaknya justru tetap dibiarkan menerima serbuan teknologi. Sedari kecil, diperkenalkan kepada permainan yang tak butuh bergerak kemana-mana. Hanya duduk-duduk di depan sinetron, sambil menggerakkan jemari di atas layar gadget. Mereka jadi tak pernah bersentuhan dengan dunia luar. Barangkali, kelak, cara anak-anak itu bersosialisasi juga hanya melalui instagram, twitter, facebook, atau path.

Saya justru merindukan kembali ke masa kanak-kanak dimana segalanya masih ingin dilakukan di luar rumah.

"Imam! Main yuk!" seruan dari luar rumah yang selalu disambut antusias. Bukan sekadar Ping! atau Buzz! yang bisa diabaikan.

Membayangkan berlarian di tengah sawah mengejar burung-burung pemakan padi. Memanjat pohon hanya untuk mencicipi buah mangga. Kalau tak mampu, ada banyak batu yang bisa dilempar dari tengah kebun. Anak kekinian justru lebih paham bagaimana melempar para babi atau kera dengan burung-burung yang marah, Angry Bird. Barangkali, mereka belum sadar bahwa di dunia nyata juga ada ketapel rakitan sendiri untuk membidik target burung di atas pohon.

Pun, menangis bukan soal kehabisan daya gadget. Atau karena merengek minta dibelikan gadget keluaran terbaru. Kami malah menangis jika lutut berdarah karena terjatuh di sawah, dipukul teman, atau ditinggalkan sendirian di tengah gulita. Selepasnya, kami lupa kenapa bisa menangis. Lagi-lagi menertawakan kepolosan kami dan melanjutkan permainan keesokan harinya.

Kami libur bermain jika Minggu pagi tiba. Terkadang, tak ada anak-anak yang keluar dari rumah. Kami lebih senang menantikan episode lanjutan dari P-Man, Doraemon, Dragon Ball, Chibi Maruko-Chan, Inuyasha, Power Ranger, Satria Baja Hitam, Ninja Hattori, dan kawan-kawannya. Tontonan-tontonan itu jadi referensi kami untuk beradu peran dengan teman lain di pematang sawah.

Serius. Secanggih-canggihnya game masa kini, takkan ada yang mengalahkan ritual bermain di luar rumah.

Sayangnya, karena sudah beranjak dewasa, dengan batas-batas norma atau etika tertentu, saya jadi tak bisa bebas mengembalikan pengalaman masa kecil dulu. Kini, masa berbahagia itu saya lampiaskan pada bacaan komik atau Manga, seperti One Piece, Naruto, atau Bleach sebagai penyambung masa.

Bekal gadget bagi anak-anak justru menjadi hal yang cukup riskan. Sebenarnya, semua orang menyadari jika pengaruh gadget teramat kuat bagi perkembangan anak-anak. Akan tetapi, entah bagaimana caranya, orang-orang tua justru menutup diri. Sebagiannya lagi menganggap enteng soal moral dan perilaku anak-anak. Katanya, mudah diperbaiki (atau justru dimaklumi?)

Saya belum jadi seorang ayah. Tentu, tak begitu paham pula bagaimana mendidik anak dengan baik. Akan tetapi, dari lubuk hati terdalam, saya bertekad takkan pernah mencemari kebahagiaan masa kecil anak saya dengan sekat gadget. Saya punya segudang novel untuk bahan mereka berpetualang di dalam rumah. Koleksi majalah Bobo juga masih saya simpan untuk bekal cerita-cerita pengantar tidur mereka. Suatu waktu, anak-anak saya juga akan membaca cerita yang ditulis ayahnya sendiri.

Nyanyian hujan tak begitu berisik lagi. Akh, saya masih harus melanjutkan perjalanan ke kantor. Deadline sudah memanggil-manggil. Hujan kini sudah berganti gerimis. Jika diterobos dari sini, takkan membuat pakaian saya kuyup...


-- Imam Rahmanto --


PS: Tulisan ini diikutkan dalam Baku Tantang Ngeblog yang merupakan rangkaian acara 10 Tahun komunitas Blogger Anging Mammiri.

2 komentar:

  1. syahdu sekali yah kalau tulisan latarnya hujan.. thanks for share kak :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Mungkin itulah sebabnya hujan dianggap sebagai berkah. :)

      Hapus