Minggu, 27 November 2016

Telusur

November 27, 2016
(Imam Rahmanto)

Maaf, ini bukan kelanjutan perjalanan #OnedaytripJogja saya tempo hari. Saya justru belum punya kesempatan lagi melanjutkan cerita itu. Sementara, tangan Tuhan kembali mendorong saya untuk menyambangi kota cagar budaya itu, beberapa hari lalu. Tepat ketika petualangan offroad saya baru saja berakhir. Akh, entahlah, Tuhan selalu punya cara untuk membuat hati saya takjub dan terkejut secara bersamaan.

Itu semacam kejutan bagi saya. Saat menutup perjalanan di Jogja, dua bulan lalu, saya pernah bertekad bakal menghirup udara di kota tersebut. Bahkan, itu bukan sekadar tekad. Melainkan keyakinan bahwa saya tidak hanya sekali menginjakkan kaki di kota istimewa tersebut. Dan…. Lumos! Hal itu terwujud tanpa terduga.

“Kamu kan orang Jawa,” tutur salah seorang redaktur dari desk bersangkutan. Hal tersebut menjadi salah satu alasan penugasan "menjelajah". Padahal saya sebenarnya lebih mendalami peliputan olahraga, sebagaimana keseharian tugas saya di Makassar.

Sayangnya, kali ini, saya tak bisa menikmati keindahan Jogja secara mendetail. Nuansa Jogja hanya lamat-lamat saya rasakan lewat perjalanan “asal lewat”. Tak ada acara duduk-duduk, santai, jepret-jepret demi memenuhi memory di dalam kamera DSLR.

Satu-satunya hal yang membuat saya mendalami Jogja adalah perihal sejarah masa lalunya. Saya dipaksa belajar sejarah untuk mengungkap salah satu puzzle yang seharusnya saya temukan dalam rentang empat hari tersebut. Satu kepingan sejarah, menyebar menjadi sejarah lainnya. Cerita yang bercabang-cabang itu saya jumpai dari beberapa orang yang saya temui. Ck…padahal masa lalu untuk diikhlaskan ya? Tidak untuk dirangkai-rangkai kembali. Seharusnya kan kita move on. #ehh

Bagi saya, ini seperti skripsi dengan penelitian yang teramat mendalam. Apa yang saya lakukan selama rentang empat hari demi menguak sejarah masa lalu itu seperti seorang mahasiswa yang memecahkan hipotesis. Saya ingat, pernah juga menjadi mahasiswa berbekal penelitian untuk skripsi. Hanya saja, tidak sesulit mencari jarum di atas tumpukan jerami (milik orang lain) seperti ini.

Di kota orang, segalanya teramat terbatas. Pengetahuan terbatas. Kenalan dan jaringan yang terbatas. Pergerakan yang terbatas. Dana yang terbatas. Bahasa Jawa yang juga ikut terbata-bata. Ehem

Kesemuanya itu jadi berbeda jika saya mengunjungi Jogja semata-mata untuk liburan. Tak ada yang mesti dikhawatirkan dari segala keterbatasan itu. Kata teman saya, "Let’s get lost!" Keterbatasan justru membuat saya semakin bersemangat menjelajahi banyak tempat.

Sayangnya, dari sisi liputan, saya dipaksa menerapkan deadline. Yah, sebut saja efisiensi waktu. Beberapa keterbatasan itu memaksa saya untuk berpikir keras dan membuatnya lebih terang. Di balik semua tuntutan wajib dari kawalan redaktur.

Jogja itu termasuk tempat yang istimewa. Dibanding kampung kami, nun jauh di seberang Bengawan Solo, mereka punya adat yang agak berbeda. Hal semacam itu pula yang membuat saya agak kikuk berinteraksi dengan para petinggi keraton. Ada kromo (tata krama) khusus dalam menghadapi orang-orang yang masih lekat dengan keturunan pemerintahan monarki atau kerajaan. Untuk bisa menembus sisi istana, tak bisa asal njeplak sebagaimana penugasan umumnya. *garuk-garuk kepala

Terlepas dari semua itu, saya masih tetap menikmati segala pengalaman baru. Perjalanan kali ini membuat saya menyadari, menyusun kepingan sejarah tidaklah semudah satu halaman di buku-buku pelajaran sekolah menengah. Bahkan, semakin saya tenggelam dan memahami kenangan-sejarah, kesimpulan dari arahan guru sekolah kian berujung bias.

Saya semakin kagum dengan beberapa penulis novel, yang memperkaya ceritanya dengan nuansa alur sejarah dan budaya. Meski fiktif, sebagian alur cerita hingga backgroundnya dibuat menyerupai hasil observasinya terhadap kebudayaan atau kepingan sejarah tertentu. Setidaknya, mereka membaca banyak referensi sebelum menentukan kisah tokoh-tokoh di dalam novel panjangnya.

Jangankan novel, para komikus Jepang pun sering kali melakukan observasi terhadap cerita-cerita yang akan dituangkannya. Mulai dari tokoh, nama, tempat, hingga jalan cerita.

Tentu saja, usaha itu bakal berbeda dengan para penulis yang sekadar menuangkan kisah fiksi berdasarkan pengalaman semata. Tak jarang, lebih mudah membuat cerita yang termehek-mehek dari hasil curhatan pribadi atau orang lain. Pun saya, sebenarnya punya ketertarikan dengan segala jenis cerita orang lain. Kepingan sejarah (berupa fakta) punya garis yang lebih tegas.

Duh. Saya harus berhenti sebentar.

Saya masih harus mengumpulkan kepingan “kenangan” Jogja yang terserak. Dua cappuccino di depan saya sudah ludes mala mini. Tak bersisa hanya untuk menemani mata saya tetap terjaga di antara keramaian mahasiswa di kafe pinggir jalan ini. Angka digital di pergelangan tangan menampilkan angka 22: 15. Dan sebenarnya masih ingin memesan segelas lagi, sayangnya….. ini masih tanggal tua.

Wajar saya semakin sulit untuk menggemukkan diri. (Imam Rahmanto)


--Imam Rahmanto--

Senin, 21 November 2016

Berteman dengan Tantangan

November 21, 2016
(Foto: Imam Rahmanto)

Sumpek dengan suasana perkotaan, saya akhirnya bisa menemukan hiburan baru. Sedikit liburan meski kenyataannya masih dalam lingkaran pekerjaan sebagai wartawan. Saya mendapatkan tugas untuk mengikuti agenda kegiatan Indonesia Offroad Expedition (IOX). Rutenya tak begitu jauh, lantaran hanya menyusuri kawasan Makassar, Gowa, hingga Maros.

Setidaknya, saya tetap menikmatinya sebagai liburan karena menjauh dari perkotaan selama tiga hari. Dari hutan beton ke hutan yang sesungguhnya. Lagipula, yang namanya offroad selalu memberikan debar kesenangan tersendiri. Meski sudah sering membuat naskah terkait salah satu olahraga hobi ratusan juta itu, saya baru pertama berjibaku dengan lumpur, pedalaman hutan, dan suasana nge-trek asli ala-ala para offroader profesional. #aseek.

"Jangan telat bangun lagi ya," pesan redaktur. Saya menyisakan "dosa" karena lalai dari penugasan keluar kota lainnya, seminggusebelumya.

Saya terpaksa masih menahan kantuk di pagi hari. Demi tak telat lagi, saya memaksa diri untuk tetap terjaga hingga pagi. Tak ada cara lain. Selain itu, saya juga kadung bersemangat ingin menjajal perjalanan menembus hutan itu dengan bayang-bayang berkemah diantara gelapnya rimba. Ingin menjajal perjalanan ekstrem. Saya juga kan orangnya anti-mainstream.

Ada 33 kendaraan peserta offroader dalam ajang IOX tersebut. Mereka terbagi dalam tujuh tim, yang diberi nama binatang. Ada Anoa, Kancil, Anaconda, Belibis, Kijang, Lebah, dan sebagainya. Sementara, beberapa kendaraan milik panitia atau official yang jumlahnya tak sampai 10 jip menjadi tumpangan saya (bersama media lain) untuk menuntaskan misi liputan.

Percaya atau tidak, saya seperti kembali ke masa kanak-kanak dengan susuran jalan offroad tersebut.

Sesuai agenda, kami dibawa untuk meliput berbagai rintangan dan tantangan buat peserta. Selama perjalanan, kami hanya melewati jalan-jalan kecil, yang kelihatan hanya bisa dilalui jalan setapak. Jalan beraspal hanya sebagai pembuka perjalanan ekstrem sebenarnya. Bentangan itu mengingatkan saya dengan nuansa perkampungan saat masih kecil.

Hijau persawahan dan ladang di kiri kanan menyambut proses penaklukkan kecil-kecilan kami. Yah, tentu saja tak se-ekstrem trek para peserta sesungguhnya.

"Kalau kita ikut 'main' juga, bisa-bisa kita yang diurus. Bukan kita (panitia) yang mengurus mereka," ujar Rio, panitia yang mengemudikan Land Cruiser dan mengantarkan kami ke setiap titik atau trek peserta.

Akan tetapi, perjalanan mendaki gunung bukan hal yang mudah. Di atas mobil, kami tak pernah bisa tenang. Goncangan seolah jadi teman yang mesti kami rangkul selama perjalanan. Tetapi, justru hal semacam itu yang membuat kami tertawa-tawa sepanjang perjalanan. Apalagi saat kami baru saja menyeduh cappuccino sachet, yang tumpah-tumpah dari dalam bekas gelas aqua sepanjang perjalanan.

Hal begini sudah biasa. (Foto: Imam Rahmanto)
Menyenangkan pula merasakan kendaraan "monster" itu menembus medan berat. Saya sampai harus bermandikan lumpur karena nekat ikut bersama panitia yang ingin melintasi jalur berlumpur. Tetapi, tetap seru. Mana pernah lagi kita yang sudah se-gede begini pernah bermain lumpur di tengah sawah? #alibi

Saya harus akui, para penunggang mobil monster ini merupakan orang-orang yang nekat dan punya nyali. Bayangkan saja, permukaan tanah becek, berlumpur, pasir, berbatu cadas, hingga landai mampu diterobos tanpa pandang bulu.

Bagi orang awam, kondisi medan itu teramat mustahil bisa dilalui. Akan tetapi, para pengemudi offroad ini membuktikan bahwa batu-batu cadas di hadapan mobil tak mampu menghentikan kekuatan empat rodanya terus berputar. Mesin tak henti bergerung. Berbekal kerja sama para navigator maupun kru, kendaraan tetap melaju perlahan.

Mobil-mobil ban besar itu dipaksa menembus medan berat. Bahkan lintasan berlumpur juga dengan mudah diterobos. Tak jarang mobil dibuat kehilangan keseimbangan dan harus bertumpu pada salah satu sisinya. Kami, sebenarnya malah menyukai momen seperti itu. Pun, jika terbalik karena mendaki bukit terjal dengan kemiringan yang hampir mencapai 80 derajat, ada harapan di hati kecil kami agar melihatnya secara langsung. #ehh

"Kalau terbalik begitu, sudah biasa. Karena setiap mobil kan sudah dilengkapi safety memadai. Orangnya malah ketawa-ketawa dan tidak kapok mencoba lagi," cerita Rio, salah satu panitia yang selalu mengantarkan kami dengan Land Cruiser cokelatnya.

Oh ya, ada yang khas dari mobil semacam ini. Pernah dengar whinch? Semacam tali penarik bermotor yang dipasang pada setiap mobil offroad. Gunanya memang untuk menarik mobil dari jalur-jalur ekstrem. Kalau pernah menonton film Batman atau superhero lainnya, tali baja itu mirip dengan senjata yang kerap dipasang pada bumper depan kendaraan mereka. Ditembakkan, lalu mengait pada landasan atau tiang target. Sayangnya, khusus mobil offroad di dunia nyata tak punya kekuatan menembakkan semacam itu. Whinch aktif hanya bisa dikaitkan manual ke arah target yang biasanya berupa pohon besar.

Berapa harganya? Sudah saya katakan, olahraga hobi ini memakan total pengeluaran hingga ratusan juta rupiah. Untuk whinch standar saja, para offroader mesti merogoh kocek yang setara dengan harga satu motor ninja.

Mobil yang mendaki seperti itu butuh whinch untuk membantu tarikan. (Foto: Imam Rahmanto)
Di beberapa trek, saya menjumpai para offroader yang terjun langsung menghadapi tantangan lintasannya. Paling menyeramkan, menurut saya, jalur berbentuk huruf abjad "V". Jangan bayangkan lintasannya turun mulus dan kemudian menukik mulus lagi. Permukaannya justru bergelombang dan cenderung tak teratur. Permukaannya itu dipengaruhi akar-akar pepohonan di sekitarnya. Belum lagi dengan sungai kecil yang berada di bawahnya, memisahkan dua ketinggian tersebut. Dibutuhkan bantuan whinch untuk mempertahankan agar mobil tak kebablasan terjun.

Di hari berikutnya, kami pun dibawa ke jalur yang lebih ekstrem. Lokasinya di tengah hutan. Tanah landai dengan batu-batu cadas yang mencuat dari permukaan. Kemiringan pun sampai 80 derajat. Di lokasi lain, kami diperlihatkan usaha mobil yang hendak melintasi sungai yang lebarnya tak sampai 10 meter. Hanya saja, mobil harus menukik beberapa meter untuk bisa masuk ke dalam air. Jika tak beruntung, sisi depan mobil bisa menghantam dasar sungai dan membawa drivernya terbalik sama-sama.

***

Saya benar-benar menikmati damainya pegunungan tanpa beton menjulang. Semak belukar. Rumput. Sungai. Pohon. Tanah lapang. Becek. Lumpur. Seandainya langit tak mendung, ada banyak cahaya bintang yang bisa menemani perjalanan malam hari. Padahal, itu hal utama yang saya harapkan. Kota sedang tak ramah dengan sajian polusi cahayanya.

Kami juga dibawa menerobos belukar hutan dengan kendaraan 4WD. Tak ada jalur lain yang bisa dilalui untuk sampai ke tujuan. Sebagaimana jalanan itu hanya muat untuk kaki-kaki setapak.

Saat menghadapi berbagai macam rintangan pun, saya cukup dibuat kagum dengan para offroader. Mereka masih punya banyak hal untuk ditertawakan. Sekali-kali, teriakan para navigator diantara derasnya sungai mengundang tawa. Pun, di tengah keterbatasan hutan, mereka mampu bekerja sama tanpa ada prasangka satu sama lain.

Sayangnya, yang paling mengesalkan adalah terbatasnya sambungan jaringan data. Saya jadi tak berdaya tanpa GPS yang bisa dioptimalkan menjelajah kemana-mana. Sesuatu yang ingin saya tanyakan ke "mesin pencari" akhirnya menumpuk satu per satu di kepala.

"Kalau ada agenda seperti ini lagi, saya mau ikut lagi," ungkap fotografer saya.

Yah, segala hal yang mendebarkan, ternyata justru bisa menjadi candu yang menguatkan.



--Imam Rahmanto--

Senin, 14 November 2016

Mencari Kebahagiaan di Tanah Lada

November 14, 2016
Akhir-akhir ini, buku bersampul putih polos lebih menarik perhatian ketimbang beberapa novel yang penulisnya sudah punya nama. Di toko buku sekalipun, sampul-sampul polos semacam itu justru membuat saya penasaran. Apalagi jika sudah dibumbui sinopsis yang cukup mengena dan dekat dengan kehidupan sehari-hari. Saya sedang mencari bacaan variatif lainnya, meski tetap dalam jenis (novel) yang sama.

(Foto: Imam Rahmanto)

Beberapa waktu lalu, saya mengkhatamkan buku Di Tanah Lada. Saya menjumpai buku ini di toko buku dengan gambar anak kecil di depan sampulnya. Dan lagi, buku ini berlabel runner up sayembera novel Dewan Kesenian Jakarta (DKJ). Label itu semacam penguat bagi saya untuk menyimpannya sebagai salah satu koleksi di antara jejeran buku #KamarImaji.

"Tanah Lada [kb.] : Tanah yang menumbuhkan kebahagiaan." --hal.217

Nama penulisnya juga bukan sebagai sesuatu yang mudah dilafalkan, Ziggy Zesyazeoviennazabrizkie. Butuh waktu agak lama agar bisa menghafal nama yang agak tak lazim ini. Akan tetapi, karyanya ternyata cukup mudah melekat dalam ingatan.

Oke. Saya menyukai cerita dalam buku ini. Kisahnya dibangun dari tokoh utama seorang anak perempuan berusia 6 tahun, Salva, yang gemar membawa kamus Bahasa Indonesia pemberian kakeknya kemana-mana. Meski usianya belum menginjak bangku SD, namun ia sudah paham banyak kata-kata baku dalam berbahasa Indonesia. Jika ada percakapan (dengan orang tua) yang tak diketahuinya, ia dengan tekun bakal mencarinya sendiri dalam kamus.

Sayangnya, Ava (panggilannya) tetap saja anak-anak. Apa yang diketahuinya hanya bisa dilihat dari sisi pengetahuannya yang masih teramat polos. Ia bahkan hidup di bawah bayang-bayang ayahnya yang tak menyayangi dirinya. Ayahnya juga sering berjudi dan memukul ibunya, yang sangat menyayangi dirinya.

Perlahan, ia melabeli orang yang menyandang gelar "Papa" sebagai orang jahat. Hingga takdir mempertemukannya dengan seorang anak kecil lainnya, bernama P.

Tak usah heran, namanya memang hanya satu huruf. Seperti itulah yang diketahui P semenjak hidup bersama ayah, yang juga kerap memukulinya. Ibunya sendiri telah lama pergi dan tak tahu kemana rimbanya. Beruntung, ia masih punya tetangga rumah susun (rusun), Mas Alri dan Kak Suri yang sayang padanya.

Keduanya pun bertemu dalam kepolosan seorang anak kecil memandang hidup. Bagaimana mereka melihat orang-orang dari kacamata anak-anak.

"Dan, kata Kakek Kia, sekali sayang pada seseorang, sebenarnya, kita nggak akan bisa berhenti menyayangi mereka. Mungkin, hanya berkurang sedikit. Dan, kalau berkurang, rumah Mas Alri dalam sini hanya jadi semakin kecil saja, tapi bukannya digusur." --hal.198

Ava dan P membuat saya penasaran untuk menamatkan buku setebal 244 halaman ini. Meski bercerita tentang anak-anak dan kepolosannya, nuansa yang disajikan novel ini agak "suram". Dark and blue. Tak banyak hal yang bisa membuat kita tertawa usai membaca buku ini. Kalaupun ada, itu karena celotehan Ava yang khas anak kecil. Hanya saja, sebagian hal itu membawa kita pada perenungan yang dalam.

Nampaknya, novel ini ingin memberikan pesan tersirat bahwa anak kecil pun akan mencontoh dan merekam apapun yang dialaminya. Pemikiran mereka saat beranjak dewasa itu bergantung pada apa yang mereka pernah alami selama masih kanak-kanak. Segala kejadian akan meresap ke alam bawah sadar dan membentuk kepribadian mereka di kemudian hari.

Wajar jikalau di usia yang masih teramat muda itu, Ava dan P sudah mulai membangun tembok pesimisme terhadap hidup. Lingkungan menjadi pengaruh utama bagi mereka. Apalagi dengan pandangan polos mereka, yang masih belum mampu memaknai secara utuh, hitam atau putih.

Perjalanan Ava dan P juga sesekali mengundang rasa penasaran saya. Ada rahasia yang terkuak satu-satu. Dalam hati, terkadang saya harus bergumam sendiri, "Loh, jangan. Jangan begitu," atau, "Aduh, ini bagaimana sih? Kenapa tidak diawasi," hingga perasaan lega setelah apa yang tak dikehendaki bisa dicegah.

Sejujurnya saya tak senang dengan ending yang dipilih oleh Ziggy. Agak mengesalkan dan membuat saya ingin menulis ulang ending versi sendiri. Perasaan saya agak menggantung kala menamatkan buku ini. Menghela napas karena tak begitu saja menerimanya.

Hal menarik lainnya ada pada referensi sisipan di cerita ini. Ziggy menyematkan novel anak-anak Prancis, Le Petit Prince sebagai bumbu jalinan ceritanya. Beruntung, saya sudah pernah menamatkan dan sekaligus menonton film animasinya.

Di Tanah Lada ini betul-betul menawan. Caranya bercerita dari sudut pandang anak-anak juga sangat memukau. Sebagaimana anak-anak, bercerita dengan kecerewetannya yang penuh ingin tahu. Meski sebenarnya ada beberapa bagian percakapan atau pemikiran Ava yang kelewat dewasa. Keberaniannya dalam bertindak juga malah teramat jarang saya temukan pada anak-anak seusianya.

Yah, bagaimanapun, saya tetap dibuat penasaran dengan karya Ziggy yang lain.

"Jadilah anak kecil barang sebentar lagi. Lebih lama lagi. Bacalah banyak buku tanpa mengerti artinya. Bermainlah tanpa takut sakit. Tonton televisi tanpa takut jadi bodoh. Bermanja-manjalah tanpa takut dibenci. Makanlah tanpa takut gendut. Percayalah tanpa takut kecewa. Sayangilah orang tanpa takut dikhianati. Hanya sekarang (di masa anak-anak) kamu bisa mendapatkan semua itu. Rugi, kalau kamu tidak memanfaatkan saat-saat ini untuk hidup tanpa rasa takut." --hal.197

Dan ternyata, saya tak sadar jika salah satu koleksi buku yang saya pernah beli karena tanpa melihat penulisnya, juga merupakan karya Ziggy; Jakarta Sebelum Pagi.


--Imam Rahmanto--

Kamis, 10 November 2016

Masa Kecil yang Sirna

November 10, 2016
Hujan mengguyur pelan di sepanjang jalan. Jatuhnya berlompatan di atas dedaunan. Menyumbangkan nyanyian alam dari atap-atap gedung perkotaan. Iramanya tak semerdu pedesaan yang bertutupkan seng atau genteng.

Seorang anak kecil melintas tak beralas kaki. Diikuti temannya, berkejaran di bawah hujan. Tak ada yang mereka takutkan. Basah kuyup di sekujur badan. Toh, sudah kepalang tanggung, mereka justru berlomba saling ciprat dengan kaki yang telanjang diantara genangan air.

Saya tersenyum dibuatnya. Momen demikian sudah teramat langka di kehidupan kota seperti ini. Saya rindu dibuatnya. Ketakpedulian mereka terhadap hujan seolah mengingatkan saya pada masa-masa yang sama 18 tahun silam. Sebelum anak-anak berkenalan dengan gempita teknologi.

(Sumber: Google Search)

Saya pernah mengobrol dengan seorang narasumber. Katanya, ia agak hati-hati menyediakan gadget bagi anaknya. Gadget yang berupa tablet hanya dipakai anaknya untuk bermain game.

"Saya cuma instalkan game-game asah otak, atau kuis-kuis begitu untuk mengasah kecerdasannya. Supaya dia tidak terpengaruh lebih cepat dengan kehadiran gadget," jelasnya.

Akan tetapi, bagi saya, apa yang dilakukannya itu sama saja. Bukankah sudah seharusnya tugas orang tua untuk menemani anaknya belajar? Di rumah, sang bapak seyogyanya jadi teman bagi anaknya. Tanpa sekat gadget.

Anaknya justru tetap dibiarkan menerima serbuan teknologi. Sedari kecil, diperkenalkan kepada permainan yang tak butuh bergerak kemana-mana. Hanya duduk-duduk di depan sinetron, sambil menggerakkan jemari di atas layar gadget. Mereka jadi tak pernah bersentuhan dengan dunia luar. Barangkali, kelak, cara anak-anak itu bersosialisasi juga hanya melalui instagram, twitter, facebook, atau path.

Saya justru merindukan kembali ke masa kanak-kanak dimana segalanya masih ingin dilakukan di luar rumah.

"Imam! Main yuk!" seruan dari luar rumah yang selalu disambut antusias. Bukan sekadar Ping! atau Buzz! yang bisa diabaikan.

Membayangkan berlarian di tengah sawah mengejar burung-burung pemakan padi. Memanjat pohon hanya untuk mencicipi buah mangga. Kalau tak mampu, ada banyak batu yang bisa dilempar dari tengah kebun. Anak kekinian justru lebih paham bagaimana melempar para babi atau kera dengan burung-burung yang marah, Angry Bird. Barangkali, mereka belum sadar bahwa di dunia nyata juga ada ketapel rakitan sendiri untuk membidik target burung di atas pohon.

Pun, menangis bukan soal kehabisan daya gadget. Atau karena merengek minta dibelikan gadget keluaran terbaru. Kami malah menangis jika lutut berdarah karena terjatuh di sawah, dipukul teman, atau ditinggalkan sendirian di tengah gulita. Selepasnya, kami lupa kenapa bisa menangis. Lagi-lagi menertawakan kepolosan kami dan melanjutkan permainan keesokan harinya.

Kami libur bermain jika Minggu pagi tiba. Terkadang, tak ada anak-anak yang keluar dari rumah. Kami lebih senang menantikan episode lanjutan dari P-Man, Doraemon, Dragon Ball, Chibi Maruko-Chan, Inuyasha, Power Ranger, Satria Baja Hitam, Ninja Hattori, dan kawan-kawannya. Tontonan-tontonan itu jadi referensi kami untuk beradu peran dengan teman lain di pematang sawah.

Serius. Secanggih-canggihnya game masa kini, takkan ada yang mengalahkan ritual bermain di luar rumah.

Sayangnya, karena sudah beranjak dewasa, dengan batas-batas norma atau etika tertentu, saya jadi tak bisa bebas mengembalikan pengalaman masa kecil dulu. Kini, masa berbahagia itu saya lampiaskan pada bacaan komik atau Manga, seperti One Piece, Naruto, atau Bleach sebagai penyambung masa.

Bekal gadget bagi anak-anak justru menjadi hal yang cukup riskan. Sebenarnya, semua orang menyadari jika pengaruh gadget teramat kuat bagi perkembangan anak-anak. Akan tetapi, entah bagaimana caranya, orang-orang tua justru menutup diri. Sebagiannya lagi menganggap enteng soal moral dan perilaku anak-anak. Katanya, mudah diperbaiki (atau justru dimaklumi?)

Saya belum jadi seorang ayah. Tentu, tak begitu paham pula bagaimana mendidik anak dengan baik. Akan tetapi, dari lubuk hati terdalam, saya bertekad takkan pernah mencemari kebahagiaan masa kecil anak saya dengan sekat gadget. Saya punya segudang novel untuk bahan mereka berpetualang di dalam rumah. Koleksi majalah Bobo juga masih saya simpan untuk bekal cerita-cerita pengantar tidur mereka. Suatu waktu, anak-anak saya juga akan membaca cerita yang ditulis ayahnya sendiri.

Nyanyian hujan tak begitu berisik lagi. Akh, saya masih harus melanjutkan perjalanan ke kantor. Deadline sudah memanggil-manggil. Hujan kini sudah berganti gerimis. Jika diterobos dari sini, takkan membuat pakaian saya kuyup...


-- Imam Rahmanto --


PS: Tulisan ini diikutkan dalam Baku Tantang Ngeblog yang merupakan rangkaian acara 10 Tahun komunitas Blogger Anging Mammiri.

Selasa, 08 November 2016

Pulang ke Halaman

November 08, 2016
Seperti biasa, pesawat mendarat sempurna. Guncangan dari dalam kabin menyadarkan beberapa penumpang yang tengah tertidur. Padahal perjalanan sejam tidak cukup untuk mengkhatamkan satu episode mimpi indah. Hanya saja, faktor nothing to do jadi pemicu utama kantuk secara otomatis.

Dewi, adik perempuan saya, berada tepat di kursi sebelah. Di sebelahnya juga kosong melompong sejak meninggalkan landasan di Bandara Sultan Hasanuddin. Tanpa pemilik. Jadinya, kami bisa mengobrol sesukanya meski hanya berbau bualan dan kabar terbaru (yang lama tak terdengar di telinga saya) dari kampung halaman.

Kampung halaman? Entahlah. Saya juga bingung mau menyebutnya apa.

Kata kamus, kampung halaman adalah tanah dimana kita pernah meneriakkan rasa sakit untuk pertama kalinya. Tentu saja, bersamaan dengan bahagia dan haru sang lelaki yang berujar, "Akhirnya aku jadi ayah."

Akan tetapi, bukankah kampung halaman juga menjadi tanah dimana kita pulang meluluskan segala tumpuk kerinduan kepada keluarga? Barangkali sekadar memeluk tawa bapak dan mamak di rumah. Atau menjahili adik yang sudah mulai bertumbuh sejak pertama kita meninggalkannya. Hingga meniti satu-satu bauran warna dinding rumah yang memudar karena dituakan waktu.

Saya dilahirkan di pelosok pegunungan Kabupaten Enrekang. Sekali waktu, jika punya kesempatan berkunjunglah kesana. Kamu akan menemukan ratusan kelokan jadi pemanis bagi lembah dan pegunungan di sisi jalan. Besar dan bersekolah disana. Meramu kenangan dari santapan hasil bumi Tanah Massenrempulu. Bisa dibilang, dalam darah saya sudah mengalir berbagai jenis santapan dari hasil agronya yang melimpah. Saya sudah hafal betul kelak-keloknya jika ingin pulang dari kesibukan menata hidup di Makassar.

Sampai jumpa, kelak, dengan rindu yang menggunung. (Imam Rahmanto)

Sayangnya, itu dulu...

Bapak dan mamak telah menuntaskan kisahnya bersama tetangga-tetangga yang menyayanginya disana. Tiga hari lalu, bapak mencukupkan 27 tahun perantauannya di tanah Sulawesi. Itu hanya berselisih dua tahun dari usia putra sulungnya. Berselisih 9 tahun dari putri bungsunya. Keduanya pulang menyemai rindu di kampung halaman kepada keluaraga dan sanak saudara yang telah lama menanti. Tentu saja, dengan hadiah kedua anaknya yang kian memasuki usia dewasa.

"Anakmu sudah besar begini, dulu masih kecil sekali," sambutan para tetangga tak berhenti menyambangi rumah. Apalagi kabar tentang bapak yang pulang dengan kondisi penyakit paraplegia-nya telah menyebar ke seanterro desa.

"Lah, kok yang ini pinter bahasa Jawa?"

Nyaris seumur hidup tak pernah merasai keramahan penduduk desa, tak membuat saya lupa dengan bahasa Ibu. Toh, di rumah, bapak dan mamak selalu menodong dengan bahasa keluarganya. Meskipun masih kagok. Berbeda dengan adik saya, yang hanya paham secara pasif.

Dengan begitu, tempat saya menyemai rindu pun berganti. Sebutan kampung halaman juga akan bergeser bagi saya. Tak lagi ke pelukan tanah kelahiran, melainkan berlabuh ke pelukan keluarga yang sebenanrya. Dimana lagi muara rindu anak perantauan jika tak pada keluarga?

"Syukurlah, Cung. Bapakmu sudah pulang disini. Tak kemana-mana lagi. Rumahnya ya disini. Lha wong, semua keluarganya disini. Kalau ada apa-apa kan, tidak susah," ungkap simbah. Selain itu, kelak, saya masih harus belajar menghafal setiap nama dan raut wajah yang menjadi silsilah keluarga besar kami.

Bagi saya, menilas kampung halaman sebenarnya hal yang membingungkan. Tidak sesimpel mengikuti tafsiran kamus berbahasa Indonesia yang baik dan benar. Tak sekadar menuntaskan rindu pada keluarga.

Lahir dari rahim keluarga bergaris Jawa, sementara alam bersekongkol mengajarkan saya segala adat dan perilaku masyarakat Duri (sebutan kesatuan suku di Enrekang, bukan Bugis ataupun Toraja). Saya memahami dua bahasa, namun tak berdialek (logat) membahasakan keduanya.

Jika ada yang bertanya tentang asal daerah, saya akan menyebut dua tempat itu dengan penjelasan sedetailnya. Saya takkan pernah lepas dari bayang-bayang tempat lahir. Kami, sekeluarga juga punya ladang kenangan disana. Bahkan, kelak, bisa saja tanpa segan menyebut rindu sebagai hal yang pantas dituntaskan dengan temu. Itu karena di sekeliling kami, ada banyak orang baik. Tak pantas rasanya jika saya tak mengirim ucapan terima kasih atas seluruh keakraban seumur hidup itu.

Jika ada yang bertanya padaku, kemanakah akan pulang? Aku hanya perlu menjawab, kemana saja rindu memenangi hatiku.

Terima kasih, yang tak terkira. Yakinlah, saya akan selalu rindu..


--Imam Rahmanto--

Jumat, 04 November 2016

Optimisme (2)

November 04, 2016
"Kita dapat menjadi orang yang merasa tidak beruntung karena lahir di tengah2 keluarga miskin, bermimpi ketiban rezeki semacam "durian runtuh" agar bisa membeli benda2 idaman, atau membayangkan hal2 lain yang menggiurkan seperti nasib baik anak2 orang kaya. Tapi, kita juga dapat memilih menjalani hidup dengan wajar dan penuh keriangan, berusaha membantu orang tua sedapat mungkin, meraih segala yang didamba dengan keringat sendiri, dan tetap antusias memandang masa depan." --Sepatu Dahlan, Khrisna Pabichara

Kita harusnya selalu percaya bahwa ada hal-hal baik yang terus berputar di sekeliling kita. Tak terkecuali bagi orang-orang yang memang senantiasa menabur benih kebaikan setiap hari. Sekadar mengembangkan pangkal bibir pun sudah termasuk cara yang paling tulus untuk menebar kebaikan.

Berbicara soal senyum, saya banyak belajar dari bapak tua bernama Dahlan Iskan. Teramat jarang saya menemukan wajah kecut lelaki berusia 65 tahun itu. Lihat saja, kasus yang menjeratnya kini justru jadi bahan senyuman (dan perenungan) buatnya. Jauh hari, barangkali mantan menteri itu telah menduga kebaikan-kebaikan yang selalu ditebarnya bakal mengundang buah simalakama. Akh, saya sendiri tak pernah tahu bagaimana model buah yang selalu jadi metafora hal-hal sial itu.

"Kalau mau tersenyum, jangan bilang 'cheese'. Itu budaya barat. Coba saja bilang 'tempe', kita juga akan tersenyum lebar pas bilang kata itu," salah satu saran Pak Dahlan yang membekas di dalam ingatan saya.

(Foto: Idham Ama - FAJAR)

Sejujurnya, saya belum pernah bertemu beliau. Meski bekerja di bawah payung perusahaan media yang kini dinakhodai anaknya, Azrul Ananda, saya belum pernah merekam senyum beliau dari dekat. Sekali pun. Jangankan berjabat tangan, mendengar suara tawanya dari jarak sepuluh meter, saya belum pernah.

Padahal, Pak Dahlan sudah bolak-balik menikmati Coto dan keindahan panorama senja Losari. Berulang kali mengundang kegaduhan di ruang redaksi lantai 4 Graha Pena. Dalam kesempatan menebar senyumannya itu, teman-teman seangkatan saya malah lebih unggul mengabadikan foto selfie bersama beliau. Saya hanya bisa mengikutinya dari recent update BBM atau timeline Facebook. Mereka ramai memamerkan kebersamaan dengan beliau.

Bisa dibilang, pertemuan saya dengan Pak Dahlan Iskan hanya sebatas temu dimensi paralel. Maksudnya, saya mengenal sosok Dahlan Iskan hanya dari membaca dan mengamati aksinya di berbagai lini media massa. Mulai dari aksi heroiknya membuka pintu tol, nginap di rumah-rumah penduduk, hingga belakangan (dulu) saya tahu beliau mengepalai salah satu perusahaan grup media terbesar di Pulau Jawa.

Saya kagum dengan sosoknya. Jabatannya menjulang ke langit, namun jiwanya tetap membumi. Bolehlah saya berharap, kelak bisa ngobrol di warung kopi sembari menyeruput kopi-susu bersama beliau. (Karena mungkin orang sesederhana Pak Dahlan tak begitu doyan dengan minuman saya, cappuccino)

Bagi saya, mengenal lelaki yang pernah mengganti organ hatinya itu ibarat mengenal Bus Rapid Trans (BRT) di kota Makassar. Saya tahu kemana jalurnya, namun saya belum pernah mencoba bepergian dengannya, sembari duduk terkantuk-kantuk di atas kursi empuknya.

Sebelum namanya kerap dipuji-puji redaktur dan pemimpin redaksi dalam perbincangan rapat mingguan kami, saya sudah mengkhatamkan banyak cerita tentangnya. Beberapa buku yang menceritakan tentang sepak-terjang beliau tak jarang jadi pedoman bagi kami, para wartawan (kampus) untuk belajar sebagai pekerja media.

Sebut saja, biografi, kumpulan esai, hingga kumpulan tulisan ringan Pak Dahlan yang kerap diposting di situs pribadinya. Saya jadi pengunjung setianya, diantara ratusan pengagum yang meninggalkan komentar sapa atau puji.

Dua novel yang ditulis Khrisna Pabichara, Sepatu Dahlan dan Surat Dahlan, juga telah saya tamatkan. Keduanya berbekal dari buku pinjaman teman. Seri terakhirnya, Senyum Dahlan, masih sementara dalam genggaman saya. Seri penutup ini dirangkum oleh penulis yang berbeda, Tasaro GK. Meski fiksi, kisahnya terinspirasi dari perjalanan hidup seorang Dahlan Iskan.

Meski tak pernah duduk di hadapannya, saya merangkum banyak pelajaran dari beliau. Bukan soal pelajaran menulis berita yang baik dan benar. Melainkan soal jadi wartawan yang baik, meski terkadang kita tak selalu benar.

"Apa yang kita yakini benar belum tentu dianggap benar oleh orang lain," --Surat Dahlan, Khrisna Pabichara

Bagi kebanyakan orang tua, jadi kuli tinta itu bukan pekerjaan yang prestisius. Tak terkecuali bagi kedua orang tua saya. Apalagi, saya lahir dan dibesarkan di daerah pelosok pegunungan yang jauh dari asupan informasi. Apalah arti wartawan, yang sebagian besar penduduk pedesaan mencapnya sebagai pekerjaan "tercela". Yah, itu karena beberapa orang memanfaatkan profesi itu demi meraup keuntungan dengan cara mengintimidasi, hingga memeras. Wajar jika orang daerah merekam paradigma buruk terkait profesi itu.

Ah, sudahlah. Toh, kenyataannya, Pak Dahlan bisa menjadi figur yang disegani di Jawa Timur. Dikenal baik masyarakat-masyarakat setempat. Entah saat ia telah menjabat sebagai seorang menteri, atau justru saat masih mengepalai ratusan bawahan wartawan. Beliau memulai semuanya dari profesi wartawan itu.

Sejatinya, bagi masyarakat, seorang Dahlan Iskan selalu menjadi pusat perhatian dengan beberapa "keunikan"nya. Ciri khas - tak pernah jaim - beliau itu selalu memaksa saya langsung mengacungkan jempol.

"Kita hidup dari apa yang kita dapatkan dan kita bahagia dari apa yang kita berikan." --Surat Dahlan, Khrisna Pabichara

Untung tak dapat diraih, malang tak dapat ditolak. Malangnya, Pak Dahlan mulai menjadi bulan-bulanan di penghujung tahun ini. Sebenarnya, saya tak banyak paham dengan kasus yang biasanya jadi gorengan wartawan kriminal itu. Kalau soal perkembangan liga sepak bola dan perkembangan olahraga lain, saya lebih paham. Saya miris saja mendapati orang-orang baik seperti Pak Dahlan mulai (berusaha) dikikis dari peredaran masyarakat.

Saya tak pernah berniat mementahkan segala perkara yang memojokkan Pak Dahlan. Ilmu saya masih cetek untuk berdebat soal aset dan penggelapan yang dituduhkan para rivalnya sebagai tindak korupsi. Nurani saya justru bertanya berulang-ulang, "Korupsikah orang sebaik Pak Dahlan?" Saya justru harus berputar haluan, dengan tegas dan polos mengatakan, "Pak Dahlan itu tulus kok (dan keren)." Entah darimana, namun saya meyakininya.

Dahlan Iskan adalah guru saya. Meski tak pernah bertemu, saya banyak menimba ilmu dari beliau. Saya tak memandangnya sebagai pemilik salah satu koorporasi media tempat saya mencari sesuap nasi. Seandainya pun saya berkiprah di perusahaan lain, saya telanjur menganggap Pak Dahlan sebagai gurunya wartawan. Tak pula sebagai seorang mantan menteri yang kini menikmati masa tuanya dengan jalan-jalan ke luar negeri. Melainkan sebagai seorang wartawan senior, yang darinya, saya menimba banyak optimisme dalam menjalani hidup.

Cara menulis berita yang benar, sejatinya bisa dipelajari dari kebiasaan mengolah bahan berita. Sementara, cara memperlakukan orang lain, tak pernah dinaskahkan dalam rentetan pelatihan jurnalistik. Kita belajar dari perjalanan sendiri dan pengalaman orang lain.

Sosok yang suka membaur dan blusukan. (Foto: Idham Ama - FAJAR)

Sayangnya, di tengah gonjang-ganjing kasus lama itu, beberapa petinggi media (yang mungkin tak pernah merasakan suka-duka sebagai seorang wartawan), justru memanfaatkan momen itu sebagai kekuatan rival perusahaan medianya. Maklum, jika petinggi perusahaan media tak pernah merasai suka-duka jurnalis di lapangan, ia takkan pernah paham bagaimana menghargai pekerjaan seorang wartawan. Segalanya hanya dinilai dari sisi untung-rugi. Sungguh mengesalkan, memang, dipimpin orang yang tak pernah menjadi apa yang dipimpinnya.

Padahal, saya berharap, gurunya para wartawan seperti Pak Dahlan punya banyak murid yang sigap bahu-membahu meredakan kemalangannya.

Saya percaya, guru para wartawan seperti Pak Dahlan selalu berusaha menebar kebaikan dimana pun. Meski terkesan "asal tabrak", namun itu semata-mata untuk berbuat hal benar. Apalagi untuk kemaslahatan banyak orang.

Terkadang, untuk menegakkan keadilan sejati, kita memang perlu mengiringinya dengan simpati dan empati. Di samping, saya tetap mencoba percaya bahwa di negara ini masih banyak orang baik...


--Imam Rahmanto--

Kamis, 03 November 2016

Dari Nol Kilometer

November 03, 2016
Kedatangan saya di Jogja langsung disambut cukup hangat oleh kedua teman tersebut. Padahal Jogja membukakan pintunya sedemikian lembapnya. Hujan baru saja berhenti. Tersisa genangan air di beberapa ruas jalan. Hawa dingin tentu masih enggan melepas pelukannya.

"Jadi, akan kemanakah kita?" pertanyaan wajib dari siapapun pengembara yang ingin menjajal banyak tempat baru.

Kami masih berada di atas motor yang melaju saat saya sudah tak sabaran ingin merasai aroma kota ini. Sebagai teman yang lama tak berjumpa, saya juga berbincang banyak. Bertanya kabar. Bertanya waktu. Bertanya aktivitas terakhir. Tak lupa menuntaskan rindu yang telah lama dipendam. Tsaahhh...padahal kami bukan pasangan yang sedang memadu kasih. Teman perempuan saya itu, Anti, juga sudah punya pasangan, dari mantan junior saya di lembaga pers kampus yang sama.

Kami berdua membelah malam dengan mengendarai matic miliknya. Sementara teman satunya, Fathir, berkendara sendirian diantara remang-remang Jogja.

"Entahlah. Saya juga baru berapa hari disini, tidak banyak tahu tempat bagus. Tunggu Kak Fathir saja, mungkin dia punya rekomendasi," jawab Anti yang berada tepat di belakang boncengan.

Saya agak kesulitan mengejar laju kendaraan Fathir. Sebagai orang baru, saya mesti berhati-hati membelah malam di jalan-jalan protokol kota ini. Penglihatan saya juga sudah lama dikategorikan miopi. Hanya saya yang masih keras kepala tak ingin mengenakan kaca mata.

"Oh ya, nanti Kak Imam tinggal di kostnya Kak Aprisal saja nah? Karena Kak Fathir belum dapat kost-kostan juga. Masa tidak kenal dengan Aprisal?" lanjut Anti.

Agenda perjalanan saya di kota Gudeg sebenarnya sudah terencana lewat komunikasi dengannya. Urusan tempat tinggal sebenarnya bukan prioritas bagi saya. Tekad sudah bulat, tinggal dimanapun tak masalah. Malah, ketika tak ada alternatif untuk menghabiskan waktu istirahat, saya masih punya cukup persedian untuk membayar penginapan. Maklum, penginapan di Jogja tergolong bersahabat, seperti hasil browsing di internet.

Meski begitu, tak ada salahnya menumpang di salah satu kamar teman saya. Nama yang dimaksudkan Anti juga cukup familiar. Karena lama tak bersua, saya agak lupa-lupa-ingat seperti apa wajahnya. Saya memang banyak mengenal teman (junior) di kampus meski tak hafal betul namanya.

"Tapi, katanya Kak Aprisal, dia kenal sekali. Sering ketemu waktu di jurusan, apalagi di masa-masa Kak Imam pernah mengulang di kelasnya," jelas Anti lewat pesan chatting beberapa hari sebelum saya menginjakkan kaki di Jogja. Duh, bagian "mengulang"nya tidak perlu dipertegas.

Kami menyusul Fathir yang sengaja memelankan laju motor. "Bagaimana kalau kita ke Nol Kilometer-nya Jogja?" tanya Fathir di sela-sela fokus kamu yang teralih pada keramaian lalu lintas.

"Terserah kalian lah. Pokoknya saya mau menikmati kesempatan yang ada," saya menegaskan kepada mereka. Tujuan saya memang untuk menikmati keindahan kota ini.

Setahu saya, Jogja juga dikenal dengan keramaian pada malam hari. Suasananya juga kondusif. Sebagain besar tempat nongkrong justru sesak jelang tengah malam. Teramat berbeda dengan Makassar, yang berubah mengerikan jika jarum jam sudah menunjuk dia atas angka 10. Begal dimana-mana.

*** 
Dua kawan yang berbaik hati jadi guide di waktu mereka seharusnya beristirahat. (Imam Rahmanto)

Kota ini justru menggeliat di kala malam menyapa. Anak-anak muda berjalan rombongan di beberapa ruas jalan. Sebagian lagi berkendara sesukanya. Meski begitu, tak sampai ugal-ugalan. Barangkali, bagi mereka, persahabatan justru lebih rekat dari malam yang pekat.

Di tengah perjalanan, Fathir berhenti di sebuah lokasi yang cukup ramai anak-anak muda. Tugu Jogja. Lokasi tugu ini berada sebagai bundaran dari jalan protokol. Beruntung, kami tiba disana pada malam hari. Belakangan, saya baru tahu jika siang hari kendaraan jauh lebih padat melalui bundaran perempatan jalan itu. Tentu, tak ada kesempatan bisa sekadar berfoto di bawah tugu setinggi 15 meter itu.

"Kata orang Jogja, tidak afdol kalau ke kota ini dan tidak berfoto disini," ucap Fathir, yang juga baru sekali ke tempat itu. Ia baru saja menyelesaikan segala persiapannya untuk lanjut studi S2 di Universitas Negeri Yogyakarta (UNY). Keberadaannya di Jogja juga belum genap sebulan.

Tugu itu merupakan ikon simbolis kota Jogja. Menurut cerita, Tugu Jogja dulunya menjulang setinggi 25 meter dan didirikan setahun setelah Keraton. Sayangnya, monumen yang telah berusia 3 abad itu runtuh saat gempa mengguncang Yogyakarta di tahun 1867. Kaum penjajah Belanda membangunnya kembali, namun tak lagi setinggi muasalnya.

Di tugu ini ada banyak orang yang menghabiskan waktu, sekadar duduk-duduk atau mencari penghidupan. Meski sesekali masih ditingkahi kendaraan yang lewat jalur perempatan itu, namun tak sepadat siang hari.

Keramaian di tengah malam Nol Kilometer. (Imam Rahmanto)

Komunitas tertentu ikut unjuk gigi. Ini saat masa-masa Valak sedang berjaya. (Imam Rahmanto)

Tak perlu beranjak terlalu jauh, pencarian kami sampai ke titik Nol Kilometer. Di kawasan ini, lebih ramai lagi dengan anak muda. Bahkan, di sela-selanya ramai dengan berbagai dagangan barang kesenian. Selain itu, beberapa anak muda nampaknya memilih berkumpul dengan komunitasnya. Tak jarang, mereka menampilkan performance art. Kalau di Makassar, suasana semacam ini bisa ditemui di sekitar Gedung Kesenian.

Perihal dagangan, tentu saja ada banyak karya kerajinan tangan yang terpampang di hadapan kami. Bahkan, jika sudah kebelet ingin membawa pulang oleh-oleh khas Jogja, di kawasan Nol Kilometer bisa jadi alternatifnya. Kaos-kaos "mainstream" sebagai buah tangan juga banyak bertebaran di sepanjang kawasan ini.

Saya selalu tergiur dengan karya kerajinan tangan gelang. Di beberapa tempat yang saya kunjungi, tak lupa saya akan berburu gelang-gelang unik dan kreatif. Sekadar koleksi, sekaligus menambah estetika. Kalau tak mampu mengoleksi sepatu atau barang mewah lainnya, gelang juga tak mengapa.


Jangan hadapkan saya pada dagangan semacam ini. Saya bingung memilih. (Imam Rahmanto)

Hal itu yang membuat saya agak lama disana. Tak enak hati juga dengan kedua teman yang sedang menunggui penjelajahan saya. Tak lupa, saya tetap melepaskan tembakan kamera ke beberapa pengunjung. Saya lebih suka memotret ketimbang harus narsis di tempat yang saya kunjungi. Oleh karena itu, saya tak berlama-lama disana. Suasananya memang cukup keren, namun saya tak sekadar mencari keramaian seperti itu.

Bagi saya, berkunjung ke suatu tempat harus mendapatkan sesuatu yang menjadi ciri khasnya. Biasanya condong pada wisata budaya atau kultural. Kalau soal keramaian, belanja, atau mal, tak perlu jauh-jauh dari kota Makassar.

"Pulang yuk," ajak saya. "Sepertinya sudah capek." Tak enak juga melihat keduanya hanya menonton saya berjalan kiri-kanan di sepanjang Kawasan Nol Kilometer. Beberapa gelang juga sudah sempat saya amankan.

"Besok mau kemana lagi?" tanya Fathir.

"Entahlah. Nanti saya tanyakan Google dulu, baru susun jadwal sepagi-paginya," canda saya.

"Tapi, kami berdua besok pagi harus masuk kuliah perdana," lanjut Fathir.

Tak mengapa, kata saya. Tak ada yang bisa menjegal tekad saya menjelajahi kota Jogja meski hanya berbekal Google Map di tangan. Di zaman secanggih ini, masih takut kesasar? Kalau pun tanpa teman, saya tak perlu khawatir merepotkan mereka. Toh, perjalanan saya telah dimulai dari nol kilometer kota ini.

Nah, kemana lagi? (Imam Rahmanto)

...to be continued

--------

--Imam Rahmanto--